Motif Batik Khas Grobogan Perlu Dipatenkan, Ini Alasannya

Sejumlah motif batik khas Grobogan dalam lomba desain batik di ruang rapat wakil bupati Grobogan, Sabtu (2/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kabag Perekonomian Pemkab Grobogan Pradana Setyawan menegaskan, untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, motif batik Grobogan yang ada saat ini perlu dipatenkan.

Hal itu perlu dilakukan agar ada legitimasi yang kuat terhadap motif batik tersebut, sehingga tidak bisa sembarangan dipalsukan orang. Selain itu, upaya mematenkan itu juga sebagai penghargaan terhadap mereka yang sudah bersusah payah menciptakan motif tersebut.

“Saya rasa upaya untuk mematenkan motif ini perlu segera dilakukan. Hal ini nantinya bisa melindungi keberadaan kerajinan batik Grobogan,” ujar Pradana saat menyaksikan penilaian lomba desain batik khas Grobogan di ruang rapat wakil bupati, Sabtu (2/12/2017).

Dalam lomba tersebut, ada 36 peserta yang ambil bagian. Tiap peserta menuangkan desain pada selembar kertas berukuran A3.

Motif yang ditampilkan diutamakan yang mengangkat potensi di Kabupaten Grobogan. Seperti potensi dari komoditas pertanian dan buah-buahan.

“Desain yang disertakan dalam lomba ini saya nilai bagus-bagus. Kalau nantinya dituangkan dalam kain pasti hasilnya sangat menarik,” jelas pejabat yang akrab dipanggil Danis itu.

Menurutnya, saat ini usaha kerajinan batik di Grobogan sudah berkembang pesat. Di mana, saat ini sudah ada sekitar 40 kelompok usaha bersama (KUB) kerajinan batik. KUB yang tersebar di beberapa kecamatan itu mampu menyerap cukup banyak tenaga kerja.

“Perkembangan kerajinan batik sampai saat ini memang cukup bagus. Dan yang menggembirakan, batik Grobogan ini kualitasnya tidak kalah dengan batik dari luar daerah,” ujarnya.

Danis menjelaskan, pada awalnya, kerajinan batik ini hanya ada di wilayah Kecamatan Purwodadi. Namun, saat ini di beberapa kecamatan yang cukup jauh dari kota juga terdapat pengrajin batik. Antara lain, Kecamatan Kradenan, Pulokulon, Tawangharjo, Geyer, Gabus, Tanggungharjo, Tegowanu, dan Gubug.

Secara umum, proses pembuatan batik di Grobogan tidak jauh berbeda dengan daerah lain. Hanya saja, ada ciri khas tersendiri yang terdapat pada batik Grobogan. Yakni, coraknya lebih banyak menggambarkan kekayaan pertanian dengan kombinasi warna yang cerah. Misalnya, batik dengan motif jagung, padi dan hasil pertanian lainnya.

“Corak batik kita memang lebih banyak mencerminkan karakter Grobogan sebagai daerah pertanian. Hal inilah barangkali yang membedakan dengan batik lainnya,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Ini Penjelasan Ketua Balegda DPRD Grobogan Terkait Pembuatan Perda Perlindungan Batik

Ketua Balegda DPRD Grobogan HM Misbah (kiri) menyampaikan penjelasan dua Raperda inisiatif dalam rapat paripurna, Sabtu (19/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ketua Balegda DPRD Grobogan HM Misbah (kiri) menyampaikan penjelasan dua Raperda inisiatif dalam rapat paripurna, Sabtu (19/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan-Melindungi dan melestarikan warisan bangsa. Itulah salah satu tujuan utama perlunya dibuat sebuah Peraturan Daerah (Perda) tentang perlindungan batik Grobogan.

Hal itu disampaikan Ketua Balegda DPRD Grobogan HM Misbah dalam rapat paripurna, Sabtu (19/11/2016) dengan agenda penjelasan Balegda atas dua raperda inisiatif yang diajukan. Yakni, Raperda mengenai Perlindungan dan Pengembangan Batik serta Raperda mengenai Tanggung Jawab Sosial Perusahaan.

“Raperda ini merupakan usulan atau inisiatif dari anggota legislatif. Tujuannya, untuk melindungi keberadaan usaha batik di Grobogan yang saat ini dinilai makin banyak dan punya prospek bagus,” kata Misbah.

Menurutnya, meski keberadaan usaha batik di Grobogan belum berlangsung lama, namun perkembangannya dinilai sangat menggembirakan. Oleh sebab itu, perkembangan usaha batik perlu disertai dengan pembuatan sebuah perda yang mengatur masalah ini supaya tersebut bisa dapat perlindungan hukum.

Terkait dengan pembuatan Raperda itu, sebelumnya sudah melibatkan banyak pihak untuk memberikan masukan. Antara lain, dari tokoh agama, tokoh masyarakat, perajin batik, dan SKPD terkait. Disamping itu, pembuatan Raperda juga melibatkan pihak Kemenkumham Kanwil Jawa Tengah sebagai tenaga ahlinya.

Diharapkan, setelah Raperda itu nantinya disahkan jadi sebuah Perda maka usaha batik di Grobogan bisa dibantu dari berbagai sisi. Seperti, permodalan, peralatan, hingga pemasaran produknya. Hal itu dimungkinkan lantaran aturannya sudah disediakan.

Sementara itu, Kepala Disperindagtamben Grobogan Muryanto menyatakan, pihaknya sangat mengapresiasi upaya anggota dewan dalam untuk membuat sebuah Perda Perlindungan Batik tersebut. Sebab, keberadaan usaha batik saat ini sudah berkembang pesat.

Dijelaskan, beberapa tahun lalu, jumlah kerajinan batik hanya segelintir saja. Namun, saat ini sudah ada 40 an usaha kerajinan batik yang tersebar di beberapa kecamatan. Kebanyakan kerajinan batik ini membentuk wadah kelompok usaha bersama.

“Perkembangan kerajinan batik sampai saat ini memang cukup bagus. Hal ini memang cukup menggembirakan dan membanggakan,” kata Muryanto.

Lebih lanjut Muryanto menjelaskan, secara umum, proses pembuatan batik di Grobogan tidak jauh berbeda dengan daerah lain. Hanya saja, ada ciri khas tersendiri yang terdapat pada batikGrobogan. Yakni, coraknya lebih banyak menggambarkan kekayaan pertanian dengan kombinasi warna yang cerah. Misalnya, batik dengan motif jagung, padi dan hasil pertanian lainnya.

Meski jumlah kerajinan sudah cukup banyak namun, imbuhnya, tidak sampai terjadi persaingan yang kurang sehat. Sebab, masing-masing pengrajin sudah punya pasar sendiri-sendiri. Di samping itu, pihaknya juga aktif membina para pengrajin baik dalam hal peningkatan kualitas, SDM dan pemasaran.

Editor : Kholistiono

Punya Corak Unik, Anggota DPR RI Ini Sering Promosikan Batik Khas Grobogan Hingga Mancanegara

Anggota DPR RI Firman Subagyo mencoba mengoperasikan traktor roda empat yang akan diserahkan buat petani.(MuriaNewsCom/Dani Agus)

Anggota DPR RI Firman Subagyo mencoba mengoperasikan traktor roda empat yang akan diserahkan buat petani.(MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Keberadaan batik khas Grobogan ternyata mendapat perhatian khusus dari anggota Komisi IV DPR RI Firman Subagyo. Wakil rakyat ini sering mempromosikan batik khas Grobogan ketika ada acara dinas ke luar negeri.

“Saat acara dinas di luar negeri, saya sering pakai batik dari Grobogan. Ternyata, banyak orang yang suka karena motifnya unik. Banyak pula, duta besar dari sejumlah negara yang tertarik sama batik Grobogan ini, lho,” kata Firman saat acara penyerahan bantuan peralatan pertanian pada petani yang dilangsungkan di Kelurahan Grobogan, Kecamatan Grobogan, Selasa (8/11/2016).

Hadir dalam kesempatan itu, Bupati Grobogan Sri Sumarni dan Dandim 0717 /Purwodadi Letkol Jan Piter Gurning. Terlihat pula, Ketua Komisi B DPRD Grobogan Budi Susilo, Asisten II Dasuki, Staf Ahli Sugeng, dan Kepala Dinas Pertanian TPH Edhie Sudaryanto.

Firman menyatakan, baju batik Grobogan juga sering dipakai saat acara yang berkaitan dengan masalah pertanian. Terutama, saat melangsungkan acara ke daerah-daerah.

“Seperti saat ini, saya hadir dengan pakai baju batik Grobogan. Saya punya banyak batik Grobogan ini dengan berbagai warna, ada kuning, merah, hijau. Kebetulan hari ini saya pakai batik warna kuning. Tetapi hal ini jangan dihubungkan dengan warna partai saya,” kata politisi Partai Golkar asal Pati itu.

Menurutnya, motif utama batik Grobogan lebih banyak menggambarkan hasil pertanian. Seperti jagung, padi, dan kedelai yang selama ini memang jadi komoditas unggulan di Grobogan.

“Melalui batik ini secara tidak langsung menjadi sarana buat mengenalkan potensi pertanian di sini. Selama ini, saya tahu persis kalau Grobogan merupakan salah satu wilayah penyangga pangan nasional,” jelasnya.

Usai berbicara masalah batik, Firman kemudian menyampaikan masalah pentingnya peralatan pertanian bagi petani. Selain memudahkan pengolahan lahan, adanya peralatan modern juga bisa menimbulkan semangat generasi muda untuk menekuni dunia pertanian.

“Minat generasi muda untuk terjun di bidang pertanian ini mulai menurun. Soalnya, mereka menganggap kerja di bidang ini selalu kotor karena bergelut dengan lumpur dan tanah. Nah, dengan alat modern ini kita harapkan anggapan itu bisa berubah,” kata Firman yang dalam acara itu sempat mencoba mengoperasikan traktor roda empat yang akan diserahkan buat petani itu.

 Editor : Kholistiono

Pejabat Kapuas Hulu Kaget saat Lihat Kain Tenun Produksi Warga Grobogan

Wakil Bupati Kapuas Hulu Antonius L Ain Pamero (baju ungu) melihat kain tenun motif Dayak produksi perajin Grobogan di ruang promotion center di RKG, Rabu (21/09/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Wakil Bupati Kapuas Hulu Antonius L Ain Pamero (baju ungu) melihat kain tenun motif Dayak produksi perajin Grobogan di ruang promotion center di RKG, Rabu (21/09/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Ada kejadian menarik di balik kunjungan kerja yang dilakukan pejabat dari Pemkab Kapuas Hulu, Kalimantan Barat ke Grobogan. Tepatnya, saat rombongan yang dipimpin Wakil Bupati Kapuas Hulu Antonius L Ain Pamero dan Wakil Ketua DPRD Wan Taufik melangsungkan makan malam di Rumah Kedelai Grobogan (RKG), Rabu (21/09/2016).

Usai makan, dua pejabat teras ini sempat melihat-lihat ruang promotion center di RKG yang berisi hasil produksi UMKM. Saat melihat koleksi kain tenun bikinan warga Desa Lajer, Kecamatan Sedadi, dua pejabat ini sontak kaget.

Kekagetan itu disebabkan setelah kedua orang ini melihat motif kain tenun tersebut. Beberapa kain tenun itu ternyata memiliki motif khas suku Dayak, Kalimantan.

Semula, kedua pejabat tersebut mengira jika kain tenun itu didatangkan dari kampung halamannya. Setelah dijelaskan kalau produk itu bikinan perajin dari Grobogan, keduanya tampak senang dan langsung memborong kain tenun yang bermotif suku Dayak tersebut.

“Terus terang hal ini memang cukup mengagetkan. Ternyata motif suku Dayak ini sudah sampai sini. Makanya, saya sengaja beli kain tenun khas Dayak tetapi made in orang Grobogan,” kata Antonius.

Selain kain tenun, para pejabat dari Kapuas Hulu juga mengagumi produk kain batik khas Grobogan. Sebab, kain batik itu punya motif khas dan unik. Yakni, motif utamanya adalah hasil pertanian, seperti jagung, padi, kedelai dan hortikultura.

Sebelum meninggalkan RKG, pejabat dari Kapuas Hulu sempat dapat oleh-oleh khusus dari Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Grobogan Edhie Sudaryanto. Yakni, berupa benih kedelai varietas Grobogan.

“Kedelai lokal ini merupakan salah satu varietas nasional. Kami berharap, benih kedelai ini bisa dikembangkan di Kapuas Hulu,” ungkap Edhie saat menyerahkan benih kedelai pada Wakil Bupati Kapuas Hulu Antonius L Ain Pamero.

Seperti diketahui, kedatangan rombongan dari Kalimantan ke Grobogan itu dalam rangka studi banding masalah pertanian. Rombongan berjumlah 35 orang ini melangsungkan kunjungan selama dua hari, dari Rabu kemarin hingga hari ini.

Tujuan utama datang ke Grobogan adalah untuk belajar pengembangan tanaman jagung. Dipilihnya Grobogan untuk tempat belajar karena wilayah ini merupakan salah satu penghasil jagung terbesar di Indonesia. Produksi jagung per tahun bisa mencapai 700 ribu ton.

Selain itu, produktivitas jagung di Grobogan juga dinilai fantastis. Tiap hektare bisa menghasilkan jagung hingga 5,5 ton. Hasil ini jauh di atas produktivitas jagung di Kapuas Hulu yang hanya berkisar 1,2 ton per hektar.

“Soal pengembangan jagung di Grobogan ini sudah dapat pengakuan nasional. Makanya, kita ke sini khusus untuk belajar pengembangan jagung. Nantinya, akan kita siapkan lahan penanaman jagung di Kapuas Hulu seluas 7.500 hektar,” sambung Antonius.

Di samping belajar penanaman jagung, lanjutnya, rombongan juga ingin studi banding masalah pengolahan jagung pascapanen. Hal itu dilakukan karena di Grobogan, sebagian jagung sudah berhasil diolah menjadi aneka produk makanan dan minuman. Bahkan, sudah banyak pula kelompok usaha yang memproduksi makanan dan minuman dari jagung serta bisa mendatangkan pendapatan menjanjikan.

“Jadi, pada prinsipnya kita mau belajar masalah jagung secara lengkap. Kebetulan di Grobogan sini sudah melakukan usaha dari hulu ke hilir. Dari pihak DPRD Kapuas Hulu juga sangat mendukung upaya pengembangan jagung tersebut. Makanya, para wakil rakyat juga kita ajak serta dalam kunjungan kerja ini,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Kerajinan Batik di Grobogan Bisa Berkembang Pesat, Ini Alasannya

Beberapa perajin tampak sedang menyelesaikan batik khas Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Beberapa perajin tampak sedang menyelesaikan batik khas Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Jika beberapa tahun lalu banyak orang Grobogan yang memburu batik dari luar daerah. Namun, kondisi seperti itu sudah jarang lagi terjadi. Pasalnya, saat ini di Grobogan punya banyak kerajinan batik yang kualitasnya tidak kalah dengan batik dari luar daerah.

Menurut Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Pertambangan dan Energi (Disperindagtamben) Grobogan Muryanto, beberapa tahun lalu, jumlah kerajinan batik hanya segelintir saja. Namun, saat ini sudah ada 40 an usaha kerajinan batik yang tersebar di beberapa kecamatan. Kebanyakan kerajinan batik ini membentuk wadah kelompok usaha bersama.

“Perkembangan kerajinan batik sampai saat ini memang cukup bagus. Hal ini memang cukup menggembirakan dan membanggakan,” kata Muryanto didampingi Kasi Bina Usaha dan Pemasaran Nani Rachmaniarti.

Dijelaskan, pada awalnya, kerajinan batik ini hanya ada di wilayah Kecamatan Purwodadi. Namun, saat ini di beberapa kecamatan yang cukup jauh dari kota juga terdapat perajin batik. Antara lain, Kecamatan Kradenan, Pulokulon, Tawangharjo, Geyer, Tanggungharjo, Tegowanu, dan Gubug.

Lebih lanjut Muryanto menjelaskan, secara umum, proses pembuatan batik di Grobogan tidak jauh berbeda dengan daerah lain. Hanya saja, ada ciri khas tersendiri yang terdapat pada batik Grobogan. Yakni, coraknya lebih banyak menggambarkan kekayaan pertanian dengan kombinasi warna yang cerah. Misalnya, batik dengan motif jagung, padi dan hasil pertanian lainnya.

Meski jumlah kerajinan sudah cukup banyak, namun katanya, tidak sampai terjadi persaingan yang kurang sehat. Sebab, masing-masing perajin sudah punya pasar sendiri-sendiri. Di samping itu, pihaknya juga aktif membina para perajin, baik dalam hal peningkatan kualitas, SDM dan pemasaran.

Editor : Kholistiono

 

Ramai-ramai Datangi Gedung DPRD Grobogan, Warga Kompak Pakai Baju Batik

Puluhan perajin batik di Grobogan mengikuti acara public hearing dengan Badan Legislasi Daerah DPRD Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Puluhan perajin batik di Grobogan mengikuti acara public hearing dengan Badan Legislasi Daerah DPRD Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Puluhan warga, mendatangi gedung DPRD Grobogan,Sabtu (23/7/2016). Uniknya, hampir semua warga ini mengenakan baju batik khas Grobogan.

Kedatangan puluhan warga ini bukan dalam rangka unjuk rasa. Tetapi, mereka datang untuk menghadiri acara public hearing atau dengar pendapat dengan Badan Legislasi Daerah (Balegda) DPRD Grobogan berkaitan dengan penyusunan draf Raperda tentang Perlindungan Batik.Warga yang datang ini sebagian besar adalah para perajin batik tulis. Selain itu, ada pula perwakilan dari tokoh agama, tokoh masyarakat serta dinas terkait lainnya.

Hadir pula dalam kesempatan itu, perwakilan dari Kantor Kanwil Kemenkumham Provinsi Jawa Tengah. Acara public hearing yang dilangsungkan di ruang rapat paripurna itu dibuka Ketua DPRD Grobogan Agus Siwanto.

Ketua Balegda DPRD Grobogan HM Misbah menegaskan, pembuatan Perda perlindungan batik itu merupakan usulan dari anggota lesgislatif. Tujuannya, untuk melindungi keberadaan usaha batik di Grobogan yang saat ini dinilai makin banyak dan punya prospek bagus.

“Meski keberadaan usaha batik di sini belum lama, namun perkembangannya sangat menggembirakan. Makanya, kita berinisiatif untuk membuat sebuah Perda yang mengatur tentang batik, supaya usaha batik bisa dapat perlindungan hukum,” jelasnya.

Terkait dengan masalah tersebut, lanjut Misbah, pihaknya perlu mendapatkan masukan sebanyak mungkin dari berbagai stake holder terkait. Diharapkan, masukan ini akan makin menyempurnakan draf raperda yang sudah disiapkan.

Meski demikian, semua masukan itu, katatnya, nantinya belum tentu bisa tertampung. Sebab, dalam pembuatan sebuah produk hukum (Perda) tidak boleh bertentangan dengan aturan perundang-undangan yang ada di atasnya.

Editor : Kholistiono 

 

Kerajinan Batik Grobogan Begitu Menawan, Buktinya Ini Lho

uplod jam 20 batik grob (e)

Salah satu kelompok usaha batik sedang mengerjakan pembuatan kain batik di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski belum lama dikembangkan, namun batik dengan corak khas Grobogan ini sudah jadi salah satu ikon kabupaten terluas kedua di Jawa Tengah tersebut. Kondisi ini dinilai Bupati Grobogan Sri Sumarni cukup membanggakan.

“Sebab, keberadaan batik kita saat ini sudah menjadi ikon tersendiri bagi Grobogan. Soalnya, corak batik yang dibuat para perajin memiliki ciri khas tersendiri. Yang mana, kebanyakan motifnya menonjolkan hasil pertanian dan warnanya cerah, beda dengan batik lainnya,” ungkap Sri saat dimintai tanggapannya soal batik Grobogan.

Terkait dengan kondisi ini, dia meminta agar warga juga ikut peduli supaya keberadaan kerajinan batik bisa tetap eksis. Caranya, dengan memakai produk buatan lokal.

“Kita harus bangga dengan keberadaan batik Grobogan ini. Oleh sebab itu, kita harus ikut membantu melestarikan kerajinan batik ini agar para pengrajinnya tetap bertahan,” katanya.

Ditambahkan, sejauh ini upaya pemkab untuk membantu mengangkat citra batik Grobogan sudah dilakukan. Salah satunya dengan meminta semua PNS mengenakan pakaian batik khas atau motif Grobogan pada saat hari kerja yang ditentukan.

Sementara itu, Kepala Disperindagtamben Grobogan Muryanto menyatakan, beberapa tahun lalu, jumlah pengusaha kerajinan batik hanya segelintir saja. Namun, saat ini sudah ada sekitar 40 tempat kerajinan batik yang tersebar di beberapa kecamatan. Kebanyakan kerajinan batik ini membentuk wadah kelompok usaha bersama.

“Perkembangan kerajinan batik sampai saat ini memang cukup bagus. Hal ini memang cukup menggembirakan dan membanggakan,” kata Muryanto didampingi Kasi Bina Usaha dan Pemasaran Nani Rachmaniarti.

Dijelaskan, pada awalnya, kerajinan batik ini hanya ada di wilayah Kecamatan Purwodadi. Namun, saat ini di beberapa kecamatan yang cukup jauh dari kota juga terdapat pengrajin batik. Antara lain, Kecamatan Kradenan, Pulokulon, Tawangharjo, Geyer, Tanggungharjo, Tegowanu, dan Gubug.

Lebih lanjut Muryanto menjelaskan, secara umum, proses pembuatan batik di Grobogan tidak jauh berbeda dengan daerah lain. Hanya, ada ciri khas tersendiri yang terdapat pada batikGrobogan. Yakni, coraknya lebih banyak menggambarkan kekayaan pertanian dengan kombinasi warna yang cerah. Misalnya, batik dengan motif jagung, padi dan hasil pertanian lainnya.

Meski jumlah kerajinan sudah cukup banyak namun, imbuhnya, tidak sampai terjadi persaingan yang kurang sehat. Sebab, masing-masing pengrajin sudah punya pasar sendiri-sendiri. Di samping itu, pihaknya juga aktif membina para pengrajin baik dalam hal peningkatan kualitas, SDM dan pemasaran.

Editor : Akrom Hazami

Unik, Angkot pun Turut Promosikan Batik Grobogan

Kasi Angkutan Trayek Hapi Nugrah Suspantara sedang mengawasi pemasangan stiker corak batik yang dilakukan awak angot. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kasi Angkutan Trayek Hapi Nugrah Suspantara sedang mengawasi pemasangan stiker corak batik yang dilakukan awak angot. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Tampilan angkot yang ada di Grobogan dalam waktu dekat akan jadi berbeda. Hal ini, seiring dengan dipasangnya stiker dengan motif batik khas Grobogan dalam badan angkot. Hari ini, sudah ada beberapa angkot yang mulai dipasangi stiker dengan corak batik tersebut.

Kepala Dihubkominfo Grobogan Agung Sutanto menyatakan, selain untuk lebih mengenalkan, pemasangan stiker bercorak batik itu dilakukan guna meningkatkan keselarasan antara operator atau awak kendaraan umum dengan pengguna jasa. Dengan stiker tersebut, mempermudah penumpang angkot membedakan rute atau jurusan kendaraan yang dinaiki.

Dikatakan, saat ini banyak angkot yang menghilangkan identitas pembeda rute yang ditulis berupa huruf. Hal ini mengakibatkan kebingungan bagi sebagian pengguna angkot.

”Dengan pemasangan stiker ini bisa meningkatkan kesadaran pemilik angkot untuk menghindari penyimpangan rute atau trayek. Kita harapkan, adanya stiker ini tidak menyebabkan tumpang tindih rute dan kebingungan masyarakat,” kata Agung melalui Kasi Angkutan Trayek Hapi Nugrah Suspantara.

Menurutnya, pemasangan corak batik di sisi lain meningkatkan kedisiplinan awak kendaraan melalui pemberian identitas angkutan umum yang lebih jelas. Dengan demikian, pelaksanaan pengawasan internal juga dapat dilakukan oleh masing-masing angkot. Dimana, mereka bisa menegur sesama awak angkot yang menyimpang dari rutenya.

Ia menambahkan, penempatan warna dan corak batik Grobogan pada angkot dapat mengurangi penggunaan untuk kepentingan lain yang tidak sesuai dengan ketentuannya. Satu hal lagi, kebijakan itu juga dijadikan sarana untuk mengenalkan beragam corak batik khas Grobogan pada masyarakat luas. (DANI AGUS/TITIS W)

Usai Lebaran, Perajin Batik di Grobogan Masih Panen Rezeki

 Perajin batik di Grobogan sedang menyelesaikan pesanan. (MuriaNewsCom / Dani Agus)


Perajin batik di Grobogan sedang menyelesaikan pesanan. (MuriaNewsCom / Dani Agus)

GROBOGAN – Selain penjual baju dan makanan, para perajin batik juga ikut menikmati hasil yang cukup bagus selama lebaran. Banyak pemudik yang membeli batik khas Grobogan sebagai oleh-oleh saat balik ke Jakarta atau kota besar lainnya. Lanjutkan membaca

Warga Diminta Ikut Melestarikan Kerajinan Batik

Istri Bupati Grobogan Ny Dyah Bambang Pudjiono saat meninjau stand batik (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Istri Bupati Grobogan Ny Dyah Bambang Pudjiono saat meninjau stand batik (MuriaNewsCom/Dani Agus)

GROBOGAN – Makin bertambahnya usaha kerajinan batik, membuat Bupati Grobogan Bambang Pudjiono bangga. Sebab, keberadaan batik saat ini sudah menjadi ikon tersendiri bagi Grobogan. Soalnya, corak batik yang dibuat para perajin memiliki ciri khas tersendiri. Lanjutkan membaca

Masyarakat Grobogan Ogah Berburu Batik di Luar Daerah

Istri Bupati Grobogan Ny Dyah Bambang Pudjiono saat meninjau stand batik (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Istri Bupati Grobogan Ny Dyah Bambang Pudjiono saat meninjau stand batik (MuriaNewsCom/Dani Agus)

GROBOGAN – Jika beberapa tahun lalu banyak orang Grobogan yang memburu batik dari luar daerah, namun, untuk sekarang ini sudah mulai berkurang. Karena, saat ini di Grobogan punya banyak kerajinan batik yang kualitasnya tidak kalah dengan batik dari luar daerah. Lanjutkan membaca