Hebat!! Penyandang Difabel dari Banjarejo Grobogan Ini Berhasil Bikin Kaki Palsu dari Barang Bekas

Budi Santoso, penyadang difabel dari Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus yang berhasil membuat kaki palsu dari barang bekas. (MuriaNewCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganAlat bantu kaki atau kaki palsu buat penyandang difabel tidak harus dibuat dari bahan berharga mahal. Alat bantu jalan ini ternyata juga bisa dirangkai dari bahan bekas.

Seorang penyandang difabel dari Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus bernama Budi Santoso sudah berhasil membuktikan. Tidak hanya satu, tetapi kaki palsu yang dibuat Budi sudah mencapai 15 unit.

Selain dipakai sendiri, kaki palsu bikinan Budi juga dipakai penyadang difabel dari berbagai kota. Seperti Jepara, Blora, Jakarta, Semarang, dan Solo. Beberapa kaki palsu digunakan oleh penyandang difabel di sekitar tempat tinggalnya.

Bahan pembuatan kaki palsu didapat dari barang bekas. Mulai dari ember plastik bekas wadah cat tembok, spon, pipa, besi dan spare part motor.

“Terkadang ada bahan yang beli baru, tergantung permintaan. Misalnya, pipa stainless,” jelas lajang berusia 22 tahun itu.

Meski dibuat dari bahan bekas, namun Budi mengklaim produk buatannya tidak kalah dengan hasil pabrikan. Bahkan, dia menyatakan, produk bikinannya ada beberapa kelebihan lain.

Yakni, lebih ringan dibandingkan produk kaki palsu yang sudah pernah dijumpai. Produk kaki palsu yang banyak beredar saat ini beratnya bisa sampai 5 kg. Sedangkan, produk kaki palsu dari bahan bekas tidak sampai 3 kg sehingga membikin nyaman penggunanya.

Kelebihan lainnya, kaki palsu yang dibikin Budi dilengkapi engsel dibagian lutut dan di diatas tumit. Adanya engsel ini, membuat penggunanya serasa berjalan dengan kaki sempurna.

“Kaki palsu yang sudah saya lihat modelnya kaku. Alat yang saya buat ini, bisa digunakan untuk bersepeda. Ini bisa dilakukan dengan adanya engsel yang membuat kaki palsu ini elastis, mirip kaki asli,” terang anak tunggal pasangan Suwadi dan Karsini itu.

Untuk lebih meyakinkan, Budi kemudian mencoba menggunakan kaki palsu sebelah kiri yang biasa dipakai sehari-hari. Setelah terpasang, ia berjalan-jalan beberapa saat dengan kaki palsunya.

Saat berjalan memang tidak terlihat jika Budi adalah seorang penyandang difabel. Namun, sempat terdengar suara berderit ketika kaki palsu itu digunakan berjalan.

“Engselnya agak kering sehingga ada bunyi. Belum sempat saya kasih minyak goreng sebagai pelicin. Engselnya memang butuh ditetesi pelicin secara berkala biar tidak kering,” terang Budi.

Menurut Budi, dari sekitar 15 orang yang menggunakan kaki palsu buatannya, tidak ada yang komplain. Bahkan, mereka merasa nyaman dan tidak lagi menggunakan kaki palsu yang dipakai sebelumnya.

“Alhamdulillah, orang yang pakai kaki palsu buatan saya merasa puas. Saya juga merasa senang bisa membantu sesame penyandang difabel,” imbuhnya. 

Editor: Supriyadi

Wow! Bermodalkan Kaleng Bekas, Agustin Raup Tiga Juta Rupiah Tiap Bulan

Agustin Kumala Sari (kanan) dan rekannya bersama miniatur kendaraan olahan Komunitas Barbe (Barang Bekas) Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Agustin Kumala Sari (kanan) dan rekannya bersama miniatur kendaraan olahan Komunitas Barbe (Barang Bekas) Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Meski hanya bermodalkan kaleng bekas yang dengan mudah ditemukan di tempat sampah, namun Agustin Kumala Sari mampu meraup jutaan rupiah. Tak kurang dari tiga juta rupiah tiap bulan, untuk penghasilan dari kaleng bekas tersebut.

Kaleng bekas yang sudah tidak terpakai, diolah olehnya menjadi miniatur kendaraan yang bervariatif dan berharga jual tinggi. Ada yang dibentuk menjadi sepeda motor, mobil, vespa, becak, traktor, hingga drum band.

”Tiap bulan kira-kira kisaran tiga jutaan, dari hasil penjualan produk kerajinan olahan kaleng bekas yang menjadi miniatur kendaraan dan lainnya,” ungkap Mahasiswa STIE YPPI Rembang itu.

Namun, hasil penjualan miniatur kendaraan dari kaleng bekas itu tidak lantas masuk kantongnya sendiri. Sebab, pembuatan kerajinan itu dilakukan bersama dengan temannya yang tergabung dalam Komunitas Barang Bekas (Barbe) Rembang.

”Uang hasil hasil penjualan itu buat kas komunitas. Biasanya digunakan untuk keperluan dan kegiatan Komunitas Barbe,” ungkap salah satu anggota komunitas yang personelnya para gadis cantik ini.

Ide kreatif dan inspiratif itu muncul justru dilatarbelakangi oleh banyaknya sampah kaleng bekas di sekitarnya. Kepeduliannya terhadap kebersihan lingkungan, akhirnya membuatnya untuk memanfaatkan kaleng bekas tersebut menjadi barang berharga.

”Terinspirasi dari banyaknya kaleng bekas yang dibuang secara cuma-cuma dan menjadi tumpukan sampah di sekitar kita,” tandasnya.

Sejak tahun 2012, kata Agustin, Komunitas Barbe memproduksi ratusan miniatur kendaraan dari kaleng bekas. Ternyata, cukup banyak juga pembeli yang tertarik dengan olahan tangan mereka. ”Lumayan banyak yang beli, tapi sebagian besar masih teman-teman sendiri,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Ayo Sulap Barang Bekas jadi Kerajinan Berkualitas

Anggota Dharma Wanita Persatuan Grobogan saat berlatih memanfaatkan barang bekas menjadi kerajinan tangan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Anggota Dharma Wanita Persatuan Grobogan saat berlatih memanfaatkan barang bekas menjadi kerajinan tangan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Jika Anda punya banyak barang bekas di rumah, sebaiknya jangan dibiarkan saja atau dibuang ke tempat sampah. Soalnya, aneka barang bekas itu ternyata bisa diolah jadi sebuah produk yang berkualitas.

Banyaknya produk yang dibuat dari berbagai macam barang bekas ini setidaknya bisa dilihat dalam pelatihan daur ulang memanfaatkan barang bekas yang dilangsungkan di Ruang Riptaloka, Setda Grobogan siang tadi. Acara pelatihan sehari ini diikuti puluhan ibu-ibu anggota Dharma Wanita Persatuan Grobogan.

Dengan sedikit ketekunan, barang-barang bekas itu bisa disulap jadi beragam produk. Seperti, tempat tisu, vas bunga, hiasan dinding, tas, dan dompet. Para peserta terlihat dengan serius mengikuti pelatihan yang disampaikan oleh beberapa pembimbing.

Ketua Gabungan Organisasi Wanita Grobogan Suryati Icek Baskoro mengatakan, hasil karya yang terbuat dari barang bekas cukup bagus. Bahkan, kualitasnya dinilai tidak kalah dengan produk sejenis yang dibuat dari bahan pabrikan.

“Terus terang, saya sempat tidak percaya kalau barang-barang ini dibuat dari bahan bekas pakai. Hasil karya barang-barang ini cukup istimewa,” ujarnya usai membuka pelatihan.

Menurutnya, pembuatan aneka barang dari bahan bekas itu perlu lebih diberdayakan. Sebab, hal itu merupakan salah satu peluang baik untuk mendapatkan penghasilan dengan modal yang kecil. Soalnya, sebagian besar bahan baku tidak perlu beli dan peralatan yang digunakan juga sederhana. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)