Ditunda, Progam BPNT di Grobogan Akan Diluncurkan Bulan Mei

MuriaNewsCom, GroboganPelaksanaan program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dari Kementerian Sosial yang dijadwalkan pada Maret ini, akhirnya ditunda pelaksanaannya. Rencananya, program tersebut akan dilaksanakan mulai bulan Mei nanti. Hal itu disampaikan Sekda Grobogan Moh Sumarsono saat membuka sosialisasi BPNT di pendapa kabupaten, Sabtu (24/3/2018).

Menurutnya, penundaan program BPNT disebabkan beberapa hal. Antara lain, masih adanya persoalan pada data keluarga penerima manfaat (KPM) yang menjadi sasaran BPNT.

Terkait kondisi ini, pihaknya meminta pada para kepala desa, camat serta tim koordinasi bansos pangan agar segera mendukung upaya pemutakhiran data KPM. Dengan adanya pemutakhiran tersebut maka penerima BPNT diharapkan benar-benar tepat pada sasarannya.

“Kemudian, penundaan BPNT dilakukan karena di tingkat pusat hingga daerah masih dalam tahap persiapan pelaksaan program tersebut. Yakni terkait mekanisme penyaluran, pendataan, serta infrastruktur penunjang program,” jelas Sumarsono.

Dijelaskan, BPNT adalah bantuan pangan dari pemerintah yang diberikan kepada KPM setiap bulannya. Mekanisme penggunaan BPNT melalui akun elektronik yang digunakan hanya untuk membeli pangan di e-Warong atau pedagang bahan pangan yang bekerjasama dengan Bank yang ditunjuk. Program ini bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran serta memberikan nutrisi yang lebih seimbang kepada KPM secara tepat sasaran dan tepat waktu.

Jumlah penerima BPNT tercatat ada 124.178 KPM. Meski ada penundaan ini, para KPM tetap akan mendapat bantuan Beras Sejahtera (Rastra) untuk bulan April nanti. Sebelumnya, para KPM sudah menerima bantuan rastra dari Januari-Maret.

Editor: Supriyadi

Digerojok Bantuan Peralatan, Petani di Blora Diminta Tingkatkan Hasil Panen

MuriaNewsCom, BloraPara petani diminta untuk membantu program pemerintah dalam menciptakan swasembada pangan nasional. Caranya, dengan berupaya untuk terus meningkatkan produksi atau hasil panen. Hal itu disampaikan Bupati Blora Djoko Nugroho saat menyerahkan bantuan peralatan dan mesin pertanian (Alsintan) pada petani di Kantor Dinas Pertanian.

Dalam acara itu Djoko mengatakan, adanya bantuan peralatan tersebut akan mempercepat pengolahan tanah buat persiapan musim tanam. Dengan demikian, waktu yang diperlukan untuk persiapan bisa lebih singkat dibandingkan dengan memakai alat pengolah sawah tradisional.

“Saya harapkan dengan adanya bantuan peralatan ini, secara tidak langsung bisa meningkatkan produksi hasil pertanian. Tolong bantuan peralatan ini dimanfaatkan dan dirawat dengan baik. Khusus bantuan traktor, jangan ditinggal disawah karena rawan pencurian,” pesannya.

Menurut Djoko, bantuan alsintan itu diperuntukkan bagi kelompok tani. Artinya bantuan itu merupakan milik bersama dan digunakan bersama-sama secara bergantian, bukan milik pribadi.

“Boleh disewakan kepada petani lain di luar kelompok tani tetapi jangan mahal-mahal. Ojo didol, nek konangan ngko ra tak wek i bantuan neh (Jangan dijual, kalau ketahuan dijual nanti tidak akan diberikan bantuan lagi-red),” tegasnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Blora Reni Miharti menyatakan, jumlah alsintan yang dibagikan kali ini sebanyak 99 unit. Yakni, dari APBN meliputi bantuan traktor roda dua sebanyak 15 unit, rice transplanter 2 unit, cultivator 3 unit dan rota tanam 1 unit.

Kemudian dari APBD Provinsi ada bantuan power thresser 5 unit, dan corn sheller 3 unit. Sedangkan lewat APBD Kabupaten Blora bantuan alsintan berwujud traktor roda dua sebanyak 70 unit.

“Jumlahnya penerima ada 99 kelompok tani. Masing-masing kelompok tani mendapatkan satu unit alsintan. Penerima adalah kelompok tani yang sebelumnya mengajukan bantuan dan sudah terverifikasi oleh tim Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan sehingga dinyatakan layak menerima alsintan,” jelas Reni.

Editor: Supriyadi

Belasan Warga Terdampak Longsor di Kalirejo Grobogan Terima Bantuan Dinsos

MuriaNewsCom, GroboganBelasan warga Desa Kalirejo, Kecamatan Wirosari yang terkena dampak longsor akhirnya mendapat perhatian. Hal ini menyusul adanya penyaluran bantuan beras, lauk-pauk dan tikar yang dilakukan oleh Dinas Sosial Grobogan.

Jumlah penerima bantuan sebanyak 18 orang yang tempat tinggalnya terkena dampak langsung terjadinya longsoran talud sungai Lusi. Penyerahan bantuan dilakukan secara langsung pada warga di Balaidesa Kalirejo.

”Musibah longsor di Desa Kalirejo sudah kita tindaklanjuti dengan menyerahkan bantuan. Semoga bantuan yang kita berikan bisa sedikit meringankan beban warga,” kata Kepala Dinsos Grobogan Andung Sutiyoso, Sabtu (10/3/2018).

Seperti diberitakan, belasan warga di Desa Kalirejo terancam kehilangan tempat tinggal. Kondisi ini terjadi menyusul adanya musibah longsor yang menggerus talud sungai Lusi di belakang pemukiman warga.

Musibah longsor itu sebenarnya sudah terjadi sekitar delapan bulan lalu. Namun, hingga saat ini, belum ada upaya penanganan dari instansi terkait.

Lambannya penanganan menyebabkan longsornya talud makin bertambah parah. Akibatnya, sudah ada sembilan rumah warga rusak parah. Bahkan, diantaranya ada yang sudah roboh separuh bangunan rumahnya.

Beberapa warga ada yang menggeser maju bangunan rumahnya karena khawatir roboh kena longsor. Kemudian, ada warga yang sudah membangun rumah lagi di lokasi lainnya.

Kepala Dusun Kalirejo Darno menyatakan, selain bantuan untuk warga, pihaknya juga mengharapkan penanganan longsoran karena kondisinya sangat mengkhawatirkan. Talud yang longsor itu panjangnya mencapai 70 meter dengan lebar dari pinggir sungai berkisar 50 meter. Tanah yang longsor punya kedalaman hampir 3 meter.

”Kondisi longsoran yang ada di Dusun Kalirejo ini sudah sangat parah. Kami berharap, ada upaya penanganan longsoran karena sudah mengancam bangunan rumah warga. Sebelumnya, longsoran sempat ditinjau dari beberapa instansi tetapi belum kunjung ada penanganan,” kata Darno yang lebih dikenal dengan nama Mbah Who itu.

Terkait kondisi tersebut, pihaknya telah mengimbau warga terdampak longsor agar selalu waspada. Terutama, mewaspadai pergerakan tanah ketika turun hujan deras.

Editor: Supriyadi

Komunitas Difabel Blora Mustika dapat Bantuan Alat Produksi Batik

MuriaNwsCom, BloraAnggota komunitas Difabel Blora Mustika (DBM) mendapat bantuan beragam peralatan produksi batik dari  NU Care-LAZISNU, salah satu organisasi NU yang bergerak di bidang sosial dan kesehatan pada hari Rabu (21/2/2018).

Selain menyalurkan bantuan peralatan NU Care-LAZISNU juga memberikan pelatihan pewarnaan dan pemasaran pada anggota komunitas difabel yang selama ini menggeluti usaha pembuatan batik.

”Untuk pewarnaan batik kita gunakan dari bahan alami yang berasal dari getah daun dan kulit tumbuhan. Ada daun tom atau nilla, kulit kayu tingi, dan biji jolawe. Keunggulan cat warna alami ini selain ramah lingkungan juga memiliki warna yang khas,” ujar Solihin, seorang pengusaha dan perajin batik dari Pekalongan yang memberikan pelatihan tersebut.

Sementara itu, Wakil Bupati Blora Arief Rohman mengapresiasi langkah NU Care- Lazisnu dalam membantu pengembangan usaha komunitas difabel tersebut. “

Pemkab sangat mendukung kegiatan ini demi kemajuan Difabel Blora Mustika. Semoga hasilnya nanti bisa menginspirasi banyak kalangan untuk bisa terus maju di tengah keterbatasan yang dimiliki,” ungkap Arief yang hadir dalam penyerahan bantuan tersebut.

Menurutnya, Pemkab Blora sangat mendukung pengembangan batik yang dibuat komunitas difabel tersebut. Salah satunya, dalam pelaksanaan Musrenbang Kabupaten Blora mendatang, akan mengenakan pakaian batik yang diproduksi komunitas DBM tersebut.

Untuk diketahui, Difabel Blora Mustika (DBM) adalah sebuah kelompok yang anggotanya menyandang disabilitas dan kusta. UMK yang berdiri pada tahun 2011 ini dipimpin oleh Ghofur dan Kandar.

Ghofur (33) adalah warga Kamolan, Kabupaten Blora. Kedua kakinya diamputasi karena tertimpa musibah sengatan listrik. Sementara Kandar (58) diamputasi pada kedua tangannya.

Bermodal tekad dan keyakinan Ghofur bersama para difabel di Blora merintis UKM batik yang kemudian diberi nama DBM. Tercatat ada 786 orang difabel tergabung dalam UKM ini.

Beranjak dari pengelolaan yang serba sederhana, kini batik DBM memproduksi sekitar 20 motif batik tulis dan 25 motif batik cap.

”Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada para donatur melalui NU Care-LAZISNU. Semoga bantuan ini dan kegiatan ini bisa membantu kemajuan DBM,” ujar Ghofur didampingi Kandar, saat penyerahan bantuan.

Editor: Supriyadi

Salurkan Bansos Beras, Bupati Grobogan: Jangan Ada Beras Berkutu!

MuriaNewsCom, GroboganPemkab Grobogan mulai menyalurkan bantuan sosial beras sejahtera (Bansos Rastra) kepada warga yang berhak menerima. Peluncuran bantuan perdana dilakukan langsung oleh Bupati Grobogan Sri Sumarni di ruang rapat wakil bupati, Selasa (30/1/2018).

Acara ini juga dihadiri sejumlah pejabat terkait. Antara lain, Sekda Grobogan Moh Sumarsono, Kepala Bappeda Anang Armunanto, Kepala Dinsos Andung Sutiyoso, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Muhammad Hidayat, perwakilan dari Polres Grobogan dan Perum Bulog Sub Divre Semarang.

Dalam kesempatan itu, Bupati Grobogan Sri Sumarni meminta agar bantuan bansos rastra benar-benar disalurkan tepat sasaran. Artinya, penerima bantuan adalah kepala keluarga yang memang berhak menerima, alias keluarga kurang mampu. Ia juga menekankan agar bantuan beras yang diberikan diperhatikan kualitasnya.

”Saya minta beras yang disalurkan diperhatikan kualitasnya. Jangan sampai ada beras berkutu yang diberikan dalam program Bansos Rastra ini,” tegasnya.

Sekeretaris Daerah Grobogan Moh Sumarsono menyatakan, jumlah penerima Bansos rastra se-kabupaten ada 124.178 keluarga penerima manfaat (KPM). Program ini akan disalurkan pada kurun waktu Januari dan Februari.

”Bansos Rastra hanya disalurkan dalam dua bulan ini. Mulai Maret bentuknya jadi bantuan pangan non tunai,” jelasnya.

Porgram bansos rastra merupakan peralihan dari bantuan Raskin. Selain perubahan nama, jumlah beras yang diterima KPM juga berubah. Yakni, dari semula 15 Kg beras dengan harga penebusan Rp 1.600 per kilo, menjadi 10 kg per KPM secara gratis.

Editor: Supriyadi

Orangtua Penderita Hydrocephalus di Rejosari Grobogan Berharap Anaknya Dapat Mukjizat

MuriaNewsCom, Grobogan – Simpati berbagai pihak terus mengalir pada Siti Aisyiah, warga Desa Dusun Plosonambangan, Desa Rejosari, Kecamatan Grobogan yang menderita penyakit Hydrocephalus. Banyaknya bantuan ini terjadi setelah kondisi bocah berusia 12 tahun itu diunggah melalui media sosial.

Selain perorangan dan organisasi, bantuan dari instansi juga diterima pihak keluarganya. Salah satunya adalah bantuan dari Dinas Sosial Grobogan yang disalurkan langsung ke rumah orang tuanya, Selasa (23/1/2018).

“Kami prihatin dengan kondisi yang dialami Siti Aisyiah. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban. Kami akan berupaya untuk membantu keluarga ini,’’ Kata Kepala Dinsos Grobogan Andung Sutiyoso saat menyerahkan bantuan didampingi Camat Grobogan Nur Nawanta itu.

Siti Aisyiah merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Kedua orang tuanya, Sukarmin (58) dan Siti Kusmiati (48) hanya berprofesi sebagai buruh tani.

Saat menerima bantuan, Siti Kusmiati tampak terharu. Ia pun mengucapkan terimakasih atas bantuan yang diberikan berbagai pihak.

“Bantuan yang saya terima sudah mencukupi kebutuhan. Kami hanya berharap keajaiban untuk kesembuhan Siti Aisyiah,” katanya.

Siti menyatakan, saat anaknya masih berusia dua tahun Siti Aisyah diperiksakan ke dokter anak di Rumah Sakit yang ada Purwodadi. Namun, pihak rumah sakit tidak sanggup menangani, sehingga Siti Aisyah dirujuk ke Rumah Sakit di Semarang.

“Saat dibawa ke Semarang, anak saya divonis tidak akan memiliki umur panjang. Dari keterangan dokter, otaknya sudah penuh cairan bahkan jaringan otaknya sudah rusak, dan tidak bisa diobati lagi,” imbuhnya.

Sejak itu, dia bersama istrinya memutuskan untuk tidak membawanya berbobat lagi. Mereka sudah pasarah dan menyerahkan segalanya pada Yang Maha Kuasa. Meski demikian, perhatian terhadap anak bungsunya tetap dilakukan semaksimal mungkin.

Keluarga tersebut, saat ini belum memiliki kartu BPJS untuk menunjang pengobatan Siti Aisyiah. Mereka selama ini hanya mengharapkan bantuan dari para dermawan.

“Setelah dengar penjelasan dokter, saya hanya bisa pasrah pada Allah. Kami berharap masih ada mukjizat,’’ imbuh Sukarmin.

Editor: Supriyadi

Tak Sesuai Medan Sawah, Bantuan Alsintan di Undaan Lor Kudus Mangkrak

MuriaNewsCom, Kudus – Alat Mesin Pertanian (Alsintan) berupa mesin pemanen (combine harvester) dan mesin tanam padi di Desa Undaan Lor mangkrak. Hal itu karena, alat bantuan pemerintah tersebut tidak cocok dengan medan sawah di wilayah tersebut.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Mulyo Desa Undaan Lor Rohwan. Menurutnya, bantuan tersebut kini hanya diparkir di gudang milik kelompok tani.

Ia menyebut, bantuan alsintan yang diperoleh pada 2015 silam hanya sekali digunakan. “Itu saja keblebek lumpur dan tak bisa jalan untuk yang combine harvester. Soalnya tanah di sini sangat berlumpur,” ucapnya, Selasa (16/1/2018).

Selain ketidakmampuan berjalan di sawah yang terlalu berlumpur, alat pemanen itu juga tidak efektif. Hal itu karena ketika diujicoba banyak padi yang tidak terpanen dengan baik, sehingga menyebabkan kerugian.

Hal itu terjadi pula pada alat penanam benih padi. Meskipun dinilai sangat membantu petani, alat tersebut tidak cocok untuk lahan di Desa Undaan Lor.

“Kalau untuk daerah lain mungkin cocok, tapi disini tidak. Mengingat ukurannya yang kecil. Untuk panen, kami menggunakan harvester‎ dengan cara menyewa milik swasta. Sementara bantuan kami tidak dipergunakan. Untuk harvester bantuan sering lose tingkat panennya karena itu kami banyak merugi,” urainya.

Ia mengatakan, sebelum ada bantuan tersebut belum ada studi kelayakan antara alat dengan sawah di lokasi tersebut.

“Kalau bisa kita dari gapoktan mendapatkan ganti bantuan yang sesuai dengan medan yang ada di Desa kami. Beberapa bantuan seperti pompa air maupun traktor bisa kami gunakan dengan baik,” pungkas Rohwan.

Editor: Supriyadi

Digerojok Bantuan Peralatan, Petani di Grobogan Diminta Tingkatkan Hasil Panen

Bupati Grobogan Sri Sumarni menyerahkan bantuan peralatan pertanian secara simbolis pada petani di Kantor Dinas Pertanian, Rabu (27/12/2012). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganPara petani diminta untuk membantu program pemerintah dalam menciptakan swasembada pangan nasional. Caranya, dengan berupaya untuk terus meningkatkan produksi atau hasil panen. Hal itu disampaikan Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menyerahkan bantuan peralatan pertanian pada petani di Kantor Dinas Pertanian, Rabu (27/12/2012).

Sebelum menyerahkan bantuan secara simbolis, Sri Sumarni melangsungkan pengukuhan 73 penyuluh pertanian swadaya di tempat yang sama. Hadir dalam acara tersebut, Dandim 0717 Purwodadi Letkol Teguh Cahyadi, Asisten II Ahmadi Widodo dan Kepala Dinas Pertanian Edhie Sudaryanto.

Menurut Sri, selama ini, sudah banyak prestasi yang diraih Kabupaten Grobogan pada bidang pertanian. Antara lain, tahun 2015 Grobogan dapat prestasi juara nasional dalam bidang upaya khusus ketahanan pangan dan juara nasional kelompok tani kedelai tahun 2017 ini.

Atas prestasi ini, para petani mendapatkan banyak bantuan peralatan pertanian dari kementerian pertanian agar hasil panen bisa terus ditingkatkan. Seperti hand traktor,  traktor roda empat, pompa air, sprayer, dan mesin tanam padi.

“Selain itu, bantuan pembuatan sarana dan prasarana pertanian juga banyak kita dapat. Antara lain, pembangunan jaringan irigasi maupun jalan usaha pertanian,” ungkap Sri.

Sri menyatakan, adanya bantuan peralatan tersebut akan mempercepat pengolahan tanah buat persiapan musim tanam. Dengan demikian, waktu yang diperlukan untuk persiapan bisa lebih singkat dibandingkan dengan memakai alat pengolah sawah saat ini.

“Saya harapkan dengan adanya bantuan peralatan ini, secara tidak langsung bisa meningkatkan produksi hasil pertanian. Tolong bantuan peralatan ini dimanfaatkan dan dirawat dengan baik. Khusus bantuan traktor, jangan ditinggal disawah karena rawan pencurian,” pesannya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Edhie Sudaryanto menambahkan, bantuan

 peralatan yang disalurkan pada petani ini berasal dari Kementerian Pertanian. Wujudnya berupa, 27 unit pompa air, 31 hand traktor, 4 traktor roda empat, 4 unit cultivator, 5 unit rice transplanter, dan 40 power threaser.

“Disamping itu, kita juga dapat bantuan benih pada sebanyak 110.350 ton. Bantuan benih disalurkan untuk petani yang tanamannya puso akibat banjir dan kekeringan,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Bantuan Benih Berkurang, Hasil Panen Jagung di Jepara Justru Meningkat 12 Ribu Ton

Suasana panen jagung di Desa Kaliaman, Kecamatan Kembang-Jepara, beberapa saat lalu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Bantuan benih jagung hibrida  dari pemerintah pusat kepada petani di Jepara menurun. Dibanding tahun lalu, kini hanya ada bantuan untuk 3.000 hektare lahan ladang jagung. 

Hal itu diakui oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jepara, Achid Setiawan, Kamis (9/11/2017). 

“Tahun lalu ada bantuan benih jagung hibrida dari pemerintah pusat untuk lahan seluas 5.386. Namun kini ada pengurangan sekitar 2.386 hektare menjadi hanya 3.000 hektare lahan yang dibantu pada tahun ini,” ujarnya. 

Meski begitu, hal tersebut tidak mengendurkan semangat berladang petani. Ia mengklaim, panen jagung di Jepara justru meningkat bulan-bulan akhir 2017. Hingga Oktober, produksi jagung pipilan kering telah mencapai 70 ribu ton. 

Hal itu menurutnya adalah suatu peningkatan yang sangat signifikan, dibanding tahun lalu yang hanya 58 ribu ton. Sedangkan pada tahun 2015 produksi jagung pipilan kering hanya sebanyak 55 ribu ton. 

“Itu artinya ada kenaikan sekitar 12 ribu ton, bila dibandingkan produksi jagung pipilan kering tahun 2016,” ucapnya. 

Kenaikan itu, menurut Achid, lebih disebabkan meningkatnya luas tanam jagung. Hingga bulan ke 10, luas tanam jagung mencapai 10.760 hektare. Jika dibandingkan tahun 2016, maka peningkatan luas tanam mencapai 2.086 hektare, karena pada masa itu luasan lahan hanya 8.675 hektare. 

Adapun, rerata produksi jagung di Jepara mencapai 8.08 ton pipilan kering per hektare. 

“Meskipun bantuan bibit benih jagung hibrida  dari pemerintah pusat menurun, namun produksi kita meningkat. Tahun depan, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jateng telah memberi kabar, tahun depan petani Jagung Jepara akan memberikan bantuan benih untuk lahan seluas 8.300 hektare,” katanya. 

Editor: Supriyadi

Kelompok Tani di Lengkong Pati Digelontor Bantuan 15 Ekor Sapi Indukan Betina

Wakil Ketua Badan Legislasi DPR RI Firman Soebagyo (kanan) saat mengunjungi peternakan sapi di Desa Lekong, Batangan, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kelompok tani Sidomukti Lengkong, Batangan, Pati mendapatkan bantuan sebanyak 15 ekor sapi indukan betina. Bantuan itu diberikan Wakil Ketua Badan Legislasi DPR RI Firman Soebagyo.

“Bantuan ternak akan jauh lebih bermanfaat, karena bisa berkembang biak. Dari 15 ekor sapi Jawa yang saya serahkan diharapkan bisa dikembangkan untuk kesejahteraan peternak secara berkelanjutan,” ujar Firman, Senin (6/11/2017).

Menurutnya, Pati selain dikenal dengan dunia pertaniannya, juga dikenal dengan potensi peternakan yang saat ini mulai berkembang. Salah satu yang paling banyak dikembangkan adalah sapi Jawa.

Karena itu, Ketua Ikatan Keluarga Kabupaten Pati (IKKP) ini akan mendukung upaya peternak untuk mengembangkan potensi peternakan sapi di Kabupaten Pati. Hal tersebut untuk menopang kebutuhan pangan nasional melalui daging sapi, sekaligus menyejahterakan kelompok tani yang konsen di bidang peternakan.

“Kami ingin Kabupaten Pati menjadi daerah penyokong ketahanan pangan nasional. Tidak hanya dari sektor pertanian saja, tetapi juga bidang peternakan. Di samping itu, bantuan sapi juga bisa memberdayakan peternak sendiri,” jelas Firman.

Sementara itu, Ketua Poktan Sidomukti, Rukin yang menerima bantuan sapi akan mengoptimalkan pengembangan sapi di Desa Lengkong. Bahkan, dia memiliki proyeksi untuk menjadikan Lengkong sebagai desa peternak sapi.

Ia memperkirakan, indukan sapi itu akan beranak dalam waktu dekat. Anakan sapi bakal dikembangkan sebagai indukan generasi kedua atau dijual sesuai kebutuhan kelompok tani Sidomukti.

Adapun penghasilan dari pengembangan sapi akan digunakan untuk keberlanjutan kelompok tani. “Kami ucapkan terima kasih kepada Pak Firman karena sudah peduli dengan kelompok tani. Jika semua anggota DPR seperti Pak Firman, kami kira Indonesia akan maju,” pungkas Rukin.

Editor: Supriyadi

7 Mitra Binaan Perhutani KPH Purwodadi Digelontor Dana PKBL Senilai Rp 110 Juta

Wakil Administratur Perhutani KPH Purwodadi Teguh Waluyo menyalurkan bantuan pinjaman dana PKBL pada mitra binaan, Sabtu (4/11/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Alokasi dana sebesar Rp 110 juta disiapkan Perum Perhutani KPH Purwodadi dalam Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) tahun 2017. Dana sebanyak itu selanjutkan kepada 7 mitra binaan Perhutani KPH Purwodadi dalam bentuk pinjaman dengan bunga sangat lunak dengan jangka pengembalian tiga tahun.

“Besarnya dana PKBL yang diterima tiap mitra binaan ini bervariasi, antara Rp 10-20 juta. Mitra yang dapat kucuran dana PKBL ini sudah terseleksi dan sebelumnya sudah dilakukan uji kelayakan,” ungkap Wakil Administratur Perhutani KPH Purwodadi Teguh Waluyo, usai menyalurkan bantuan pinjaman dana PKBL, Sabtu (4/11/2017).

Dijelaskan, mitra yang dapat penyaluran dana PKBL ini adalah pelaku usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) dan jenis usahanya cukup beragam. Antara lain, pada bidang peternakan, perdagangan dan pembuatan makanan.

Sementara itu, Administratur KPH Purwodadi Dewanto menegaskan, maksud dan tujuan pendirian BUMN tidak hanya mengejar keuntungan melainkan turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi dan masyarakat. Salah satunya diwudujkan melalui PKBL tersebut.

Menurut Dewanto, PKBL ini merupakan salah satu kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) yang bertujuan untuk menumbuhkembangkan usaha kecil dan koperasi secara mandiri dan tangguh sebagai bagian dari pembangunan ekonomi nasional dan menjadi landasan pengembangan ekonomi pedesaan. Program tersebut telah dilaksanakan sejak tahun 1993.

Editor: Supriyadi

Jepara Dapat Jatah Rehab RTLH Dari Pemprov Sebanyak 568 Unit

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo saat menyerahkan bantuan di BBPBAP Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Tahun ini, Kabupaten Jepara mendapatkan jatah rehab  Rumah Tak Layak Huni dari Pemprov Jateng  sebanyak 568 unit. Untuk setiap unitnya, pemerintah memberikan bantuan stimulan sebesar Rp 10 juta. 

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, RTLH di wilayahnya masih sangat banyak. Oleh karenanya, pada tahun ini pihaknya mempercepat langkah dengan memperbaiki rumah-rumah tak layak huni sebanyak 20.027 unit.

“Di Jateng masih sangat banyak RTLH, jika ditangani biasa saja akan sangat sulit. Maka dari itu saya minta untuk mengakselerasi. Tahun ini 20 ribu lebih (RTLH) kita bangun,” kata dia, saat melakukan kunjungan ke Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Senin (16/201/2017). 

Ganjar berjanji tahun depan, anggaran untuk perbaikan RTLH akan lebih besar. Dengan demikian, sasaran rumah yang bisa diperbaiki menjadi lebih banyak. 

Seorang penerima bantuan RTLH Sahlan (85) mengaku senang saat menerima kucuran dana dari pemprov Jateng. Rumahnya yang terletak di Desa Mayong Lor RT/RW : 04/03 memang membutuhkan bantuan, karena atap yang bolong dan dinding dari anyaman bambu yang serupa keadaannya. 

Dengan uang bantuan yang ia terima, dimanfaatkan oleh Sahlan untuk memperbaiki rumahnya. Untuk pengerjaannya ia kemudian nyambat dengan tangga sekitar yang kemudian dikerjakan secara gotong royong. 

Editor: Supriyadi

Rumah Ambruk Diterjang Angin, Warga Jepara Ini Dapat Bantuan Rp 10 Juta dari Pemkab


Sriyati berdiri disamping bekas rumahnya yang telah rata dengan tanah karena dihporak-porandakan angin ribut. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemkab Jepara memberi bantuan stimulan kepada keluarga Amin Riyanto (60), Kamis (14/9/2017). Bantuan tersebut diberikan lantaran rumah yang ditempatinya bersama anak istri ambruk dihempas angin ribut. 

Pemberian bantuan diserahkan oleh Wakil Bupati Jepara Dian Kristiandi. Meski jumlahnya tak banyak, Wabup berharap, bantuan uang senlai Rp 10 juta itu bisa membantu keluarga tersebut mendirikan rumah yang baru. 

“Harapannya dapat memberikan manfaat pada keluarga yang mengalami musibah untuk membangun rumah. Kalaupun masih kurang, masih bisa disuport dari APBD pada tahun 2018 nanti,” katanya. 

Sementara itu Amin mengatakan, saat itu pada hari Sabtu (6/9/2017) ada angin kencang yang berpusar di atas rumahnya. “Lalu tidak lama rumah yang saya huni ambruk diterpa angin,” kenang sang empu rumah, yang ada di Kelurahan Bulu, Kecamatan Jepara RT/RW : 3/2. 

Sriyati (60) istri Amin menjelaskan, kini setelah rumahnya ambruk ia tidur di rumah tetangga. Adapun pekerjaannya sebagai penjual bakwan goreng tak dapat ia lanjutkan karena kehabisan modal. Sementara anaknya Sholikatun (28) tiap bulan harus menjalani transfusi darah, karena menderita penyakit Thalasemia. 

“Saya kalau tidur di tetangga depan rumah, suami saya di tetangga belakang, sementara anak saya di tetangga yang lain. Hal itu karena saya merasa ewuh (sungkan) kalau menumpang jadi satu di rumah tetangga,” tuturnya. 

Menerima bantuan dari Pemkab Jepara, ia mengatakan akan menyimpan uang tersebut sebelum nantinya digunakan untuk membangun kembali rumahnya. 

Editor: Supriyadi

Bantuan Terpotong Rp 3 Juta, 11 Warga Pati Tolak Bantuan Rumah Tak Layak Huni

Kabid Pemukiman Disperkim Pati Febes Mulyono menjelaskan persoalan bantuan RTLH yang semula bernilai Rp 15 juta menjadi barang material yang nilai Rp 12 juta. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebanyak sebelas warga Pati menolak bantuan rumah tak layak huni (RTLH). Salah satu penyebabnya, bantuan yang mestinya bernilai Rp 15 juta ternyata terpotong Rp 3 juta saat diterimapenerima.

Selain itu, bantuan tersebut, penerima bantuan tidak menerima uang tunai, tetapi berupa material yang akan digunakan untuk membenahi rumah agar menjadi layak huni. Jika dihitung-hitung, material yang diterima nilainya hanya Rp 12 juta.

Kepala Bidang Pemukiman Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disperkim) Kabupaten Pati Febes Mulyono membenarkan adanya sebelas warga yang mengundurkan diri dari program bantuan RTLH. Mereka beralasan tidak mampu melakukan swadaya untuk membenahi rumah menggunakan material yang diberikan dari program RTLH.

Febes menjelaskan, nilai bantuan RTLH dari APBN memang senilai Rp 15 juta. Namun, bantuan itu harus diberikan kepada penerima bantuan berupa material, sehingga kena pajak dan keuntungan dari pemborong.

“Kenapa bantuan yang nilai Rp 15 juta, material yang disalurkan jadi sekitar Rp 12 juta? Kan ada pajak dan keuntungan pemborong, sehingga barangnya tidak bernilai Rp 15 juta,” ucap Febes kepada MuriaNewsCom, Kamis (24/8/2017).

Masalah itu, kata Febes, sebetulnya sudah disampaikan dalam sosialisasi kepada masyarakat. Hanya saja, sebagian masyarakat ada yang masih belum memahami sehingga sosialisasi dilakukan hingga dua kali.

Sampai saat ini, masih ada empat warga yang mempertanyakan persoalan tersebut. Keempatnya memutuskan untuk mengambil atau menolak program RTLH, setelah sosialisasi yang dilakukan untuk ketiga kalinya.

Sementara sebelas warga yang sudah menolak program bantuan RTLH, antara lain dua warga di Semampir, empat warga Puri, satu orang di Bajomulyo, dua orang di Bulumanis, satu orang di Margomulyo dan Sambiroto. Dengan demikian, hanya ada 420 warga Pati yang akan menerima bantuan tersebut dari jatah 431 orang.

Editor: Supriyadi

Dinilai Minim, Bantuan Korban Kebakaran di Grobogan Perlu Dinaikkan

Warga saat berada di lokasi kebakaran di Kabupaten Grobogan, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah pihak meminta agar Pemkab Grobogan menaikkan besarnya bantuan bagi warga yang menjadi korban kebakaran. Hal itu dilontarkan karena bantuan yang diterima saat ini dinilai masih minim.

“Bantuan dari pemkab untuk korban kebakaran maksimal nilainya Rp 2,5 juta. Itupun diberikan untuk rumah yang terbakar habis,” ungkap Ahmadi, warga Purwodadi.

Dengan alokasi dana sebesar itu dirasa belum bisa maksimal meringankan korban kebakaran. Sebab, kerugian material yang akibat kebakaran itu nilainya terkadang bisa mencapai ratusan juta.

“Di daerah lain, bantuan untuk korban bencana nilainya ada yang jauh lebih besar. Saya berharap, kedepan nilai bantuan bisa dinaikkan,” katanya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan Agus Sulaksono ketika dimintai komentarnya mengakui jika alokasi bantuan untuk korban bencana memang tidak begitu besar. Besarnya bantuan yang diserahkan juga disesuaikan dengan tingkat kerusakan akibat kebakaran tersebut.

“Kalau rumahnya terbakar habis, bantuan bisa sampai Rp 2,5 juta. Tetapi kalau hanya sebagian, nilai bantuannya juga lebih kecil. Selain uang, kita juga kasih bantuan paket makanan untuk korban kebakaran,” jelasnya.

Untuk memberikan bantuan pada korban kebakaran, pihaknya juga mengajukan ke Pemprov Jateng. Biasanya, bantuan itu diajukan untuk kasus kebakaran luar biasa. Yakni, minimal ada 5 unit rumah yang terbakar habis.

“Untuk kasus kebakaran seperti ini biasanya dapat bantuan dari provinsi Rp 20 juta. Selama ini, ada beberapa kejadian kebakaran yang menimpa banyak rumah,” terangnya.

Agus menyatakan, jika dibandingkan dengan daerah lain, frekuensi kebakaran di wilayah Grobogan boleh dibilang memang jauh lebih tinggi. Khususnya, ketika sudah memasuki musim kemarau.

Setiap tahun intensitas kebakaran ini berkisar 80 hingga 100 kali. Artinya, rata-rata setiap pekan atau empat hari sekali terjadi bencana kebakaran di kabupaten terluas kedua di Jawa Tengah ini.

Editor : Akrom Hazami

 

Sumringah, Warga Miskin yang Bantuannya Cair

bantuan miskin (e)

Para peserta Program Keluarga Harapan sedang antri mengambil uang di Kantor Pos Purwodadi

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Rona ceria terlihat dari wajah para peserta Program Keluarga Harapan (PKH). Ini menyusul cairnya dana PKH dari pemerintah pusat mulai hari ini, Kamis (14/4/2016).

”Alhamdulillah, saya senang sekali bantuannya bisa cair. Uang ini akan saya pakai buat membeli seragam sekolah anak,” kata Siti Aminah, warga Purwodadi, usai mengambil dana PKH di Kantor Pos Purwodadi.

Kepala Dinsosnakertrans Andung Sutiyoso menyatakan, pembayaran PKH buat Keluarga Sangat Miskin (KSM) dijadwalkan mulai 14-23 April nanti. Pencairan PKH 2016 ini merupakan tahap I pada gelombang keenam. Tahapan pembayaran PKH ini dipercayakan pada PT Pos.

”Jumlah penerima dana seluruhnya ada 25.315 KSM yang tersebar di 19 kecamatan. Adapun dana yang disiapkan untuk membayarkan PKH ini sebanyak Rp 20,3 miliar lebih,” kata Andung melalui Kabid Sosial Kurniawan.

Dikatakannya, mulai tahun 2014 lalu ada PKH dari Kementerian Sosial. Program nasional ini berupa pemberian bantuan tunai langsung bersyarat untuk KSM, dengan tujuan untuk membantu menghindari kemiskinan dan memastikan generasi berikutnya dapat menyelesaikan pendidikan dasar.

Sementara itu, Kepala Kantor Pos Purwodadi Sugiastono menyatakan, pengambilan dana PKH dilakukan di Kantor Pos Purwodadi dan 12 kantor cabangnya di kecamatan.

Untuk wilayah kecamatan yang belum ada kantor PT Pos, pembayarannya akan dilakukan di salah satu balai desa atau lokasi yang sudah ditentukan. Karena memang ada beberapa kecamatan yang memang tidak ada kantor pos pembantu.

Kecamatan yang belum punya kantor pos itu adalah Kecamatan Penawangan, Tanggungharjo, Brati, Klambu, Tawangharjo dan Pulokulon. ”Hal ini sudah kita siapkan upaya pembayaran PKH biar lebih dekat dengan penerima. Yakni, di salah satu balai desa yang sudah kita tentukan,” katanya.

Editor: Merie

Ada Ratusan Fakir Miskin dan Puluhan Anak Yatim di Desa Jojo

f-desa jojo (2) (e)

Kaur Kesra Desa Jojo beserta Sekdes saat melakukan pendataan (MURIANEWS/EDY SUTRIYONO)

KUDUS – Pada Ramadan ini, perangkat Desa Jojo, Kecamatan Mejobo berencana akan memberikan santunan terhadap warga miskin dan anak yatim yang terdapat di desa tersebut. Dari data sementara, ada sekitar 180 warga miskin dan 35 anak yatim. Lanjutkan membaca

Bupati Serahkan Bantuan Kaki Palsu kepada Nur Usuf

KAB SEMARANG-Pemerintah Kabupaten Semarang menaruh perhatian kepada warganya yang mendapat musibah. Salah satu bentuk perhatian tersebut, ditujukan kepada Nur Usuf (26), warga RT 01, RW 03, Dusun Pancuran, Desa Piyanggan, Kecamatan Sumowono. Baru-baru ini, Bupati Mundjirin menyerahkan bantuan berupa kaki palsu kepada Nur Usuf.
Menurut bupati, bantuan terseut berasal dari perolehan zakat, infak, dan sedekah yang dikelola Badan Amil Zakat Infak dan Sedekah (Bazis) Kabupaten Semarang. Sehingga, dengan adanya bantuan tersebut, warga yang kesulitan bisa terkurangi beban penderitaannya.
”Perolehan zakat, infak, dan sedekah dari kalangan pegawai negeri sipil (PNS) serta masyarakat harus terus ditingkatkan. Untuk itu, diperlukan upaya sosialisasi hingga lapisan bawah,” ujarnya.
Selain menyerahkan bantuan berupa kaki palsu, bupati juga berkesempatan memberikan bantuan beasiswa kepada siswa SD di wilayah ini. ”Setiap harta yang didapat, pasti ada hak orang lain yang membutuhkan,” terang Mundjirin.
Sementara itu, Wakil Ketua II Bazis Kabupaten Semarang Munashir menambahkan, zakat dan sedekah yang diperoleh pada 2013 lalu mencapai Rp 1,67 miliar. ”Dari dana itu telah disalurkan sebesar Rp 1,273 miliar kepada warga yang membutuhkan,” jelasnya.

Lanjutkan membaca