Pegawai DLH Grobogan Tiap Pekan Wajib Bawa Sampah ke Kantor, Ini Tujuannya

 

MuriaNewsCom, GroboganPemandangan cukup aneh terlihat di kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Grobogan, Sabtu (24/2/2018). Hal ini terkait adanya pegawai yang semuanya membawa sampah dalam bungkusan dan dibawa ke pelataran kantor.

Setelah dipilah, sampah yang dibawa para pegawai ditimbang oleh penampung barang bekas. Pasca ditimbang dan dicatat, sampah milik pegawai itu kemudian dimasukkan dalam karung plastik dan diangkut menggunakan sepeda motor roda tiga.

Kepala DLH Grobogan Nugroho Agus Prastowo ketika dimintai komentarnya menyatakan, saat ini, dikantornya sudah memiliki Bank Sampah. Terkait adanya Bank Sampah itulah, semua pegawai diminta membawa sampah dari rumah ke kantor setiap hari Sabtu.

”Aktivitas bawa sampah dari rumah baru dimulai hari ini tadi. Selanjutnya, jadi agenda rutin tiap akhir pekan,” katanya.

Dijelaskan, sampah yang dibawa dari rumah adalah jenis an organik. Seperti plastik, logam, kertas, dan kaca.

Hal ini bertujuan agar sampah yang tertinggal dilingkungan rumah tangganya hanya sampah organik saja. Disisi lain, upaya itu adalah salah satu cara untuk memerangi sampah dari sumbernya dan mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA.

Sampah yang dibawa dari rumah itu kemudian dibeli oleh pengepul yang selama ini sudah jadi mitra DLH dalam pengelolaan Bank Sampah. Harga sampah bervariasi tergantung jenisnya. Harga sampah juga bisa berubah mengikuti kondisi pasar.

Menurut Agus, ada tiga pilihan yang diberikan pada pegawai dengan sampah yang dibawanya. Yakni, sampah itu bisa dihibahkan dalam arti, pembawanya tidak dapat uang.

Bisa juga diikutkan dalam sedekah sampah, yakni hasil penjualannya disalurkan untuk kegiatan sosial. Pilihan satu lagi adalah hasil penjualan sampah dimasukkan sebagai tabungan.

Editor: Supriyadi

Keren, Pengelola Bank Sampah Kedungsarimulyo Jepara Sulap Sampah Jadi Rupiah

Motor kaleng, kreasi dari bank sampah Desa Kedungsarimulyo, Kecamatan Welahan-Jepara, Rabu (1/11/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sampah memang selalu menjadi masalah. Bila tak ditangani, tak hanya bau, lalat pun meruah. Namun dengan kreativitas, sampah bisa jadi berkah bahkan menghasilkan rupiah. 

Contohnya sampah kaleng minuman ringan. Bila dibuang ke tempat sampah atau dijual ke pengepul, hanya dihargai Rp 8000 perkilogram. Namun, jika mau sedikit bersusah payah, kaleng rombeng pun bisa berkali lipat harganya. 

“Kalau bentuk yang ini harganya Rp 20 ribu.Sementara yang lain ada yang Rp 50 ribu,” ujar Siti Fitria, anggota Bank Sampah Desa Kedungsarimulyo, Kecamatan Welahan-Jepara, di stand pameran kreativitas sampah yang digelar di kompleks Pemkab Jepara, Rabu-Kamis (1-2/11/2017). 

Barang lain yang dapat dikreasikan adalah bungkus bekas kopi instan. Plastik tersebut menurut Fitria, tak ada nilainya jika dijual. Namun jika dikreasikan, harganya bisa menjadi mencapai Rp 40 ribu sampai Rp 80 ribu untuk ukuran besar. 

Dirinya mengakui, uang yang dihasilkan dari kreasi sampah memang tidak seberapa. Namun demikian, dengan upaya tersebut, dapat mengurangi jumlah sampah yang terbuang. 

“Namun kalau dihitung-hitung uangnya hanya cukup untuk mengganti tenaganya saja. Akan tetapi kami dari Bank Sampah Desa Kedungsarimulyo, kami dapat mengurangi sampah, dan mengkreasikannya. Jika bicara sampah, maka jangan membayangkan keuntungannya namun tanggungjawab kita terhadap lingkungan sekitar,” tutur dia. 

Selain berkreasi, sampah juga bisa ditabung. Menurutnya, saat ini sudah ada 46 nasabah dengan total dana terkumpul sebesar Rp 5 juta. Jika sudah terkumpul, saldo tersebut biasanya akan dibagi sesuai dengan kesepakatan sesuai dengan nilai tabungan nasabah. 

Bank sampah Kedungsarimulyo, bekerjasama dengan pengepul untuk menjual hasil tabungan sampah dari nasabah. Namun kedepan, paguyuban Bank Sampah Jepara rencananya akan menampung kreasi dan hasil sampah dari bank-bank sampah yang ada di desa. 

Editor: Supriyadi

Bank Sampah Kalidoro Pati Miliki 130 Nasabah

bank sampah e

Sejumlah pengelola bank sampah menunjukkan barang-barang kerajinan hasil pemanfaatan sampah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Tak sekadar nama, Bank Sampah yang berada di Hutan Kota Kelurahan Kalidoro, Kecamatan Pati memiliki konsep manajemen yang mirip perbankan pada umumnya. Ada istilah nasabah hingga tabungan.
Tabungan yang dimaksud bukan berupa uang sebagaimana nasabah menyimpan tabungan di bank. Namun, tabungan dalam konteks ini merupakan sampah yang disetorkan di bank sampah.

Bahkan, nasabah memiliki buku tabungan atau semacam catatan. Buku tabungan itu berisi banyaknya tabungan sampah yang disetorkan ke bank sampah.

“Saat ini, sudah ada sekitar 130 nasabah yang menabung sampah di bank sampah yang kami kelola. Tidak semua bisa menyetorkan sampah sebagai tabungan. Mereka harus mendaftarkan diri dulu sebagai nasabah,” ujar Ketua Ketua Bank Sampah Hutan Kota Kalidoro, Ambar Werdiningrum, Senin (16/5/2016).

Sesuai dengan rapat bersama, hasil tabungan biasanya dibagikan pada saat Lebaran. Namun, pengelola bank sampah saat ini tengah merencanakan bila hasil tabungan bisa digunakan untuk membayar tagihan listrik atau air PDAM bila nilai tabungannya memenuhi.

Sementara itu, laba dari hasil pengelolaan sampah akan dimanfaatkan untuk perkembangan bank sampah. Pasalnya, belum ada donatur yang berniat membantu mengembangkan bank sampah Hutan Kalidoro.

“Setiap ada yang setor, tentu kita sebagai pengelola ambil keuntungan sedikit untuk pengelolaan bank sampah. Sejauh ini, kami berdikari sendiri karena belum ada donatur yang ikut membantu perkembangan bank sampah,” tandasnya.

Editor : Akrom Hazami