Banjir Akibat Hujan Rendam Permukiman di Jati Kudus

banjir jati

Warga membersihkan rumahnya yang didera banjir di Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Hujan lebat yang melanda Kudus semalam Minggu (22/1/2017), mengakibatkan banjir di sejumlah tempat di Kudus, Senin (23/1/2017). Genangan juga berasal dari sejumlah limpasan sungai yang meluap. Limpasan tersebut sampai merendam rumah warga.

Seperti halnya di Kecamatan Jati, Kudus. Sejumlah tempat terendam banjir. Pemandangan tersebut nampak pada di Dukuh Kencing, Desa Jati Wetan.

A Kusuma, warga setempat mengatakan warga sudah waspada sejak semalam. Saat itu hujan cukup tinggi di kawasan Jati. “Tidak semua daerah kena banjir, paling yang kena banjir bagian tengah ke timur saja. Sementara bagian barat masih cukup aman lantaran kondisi tanahnya cukup tinggi,” kata Kusuma kepada MuriaNewsCom di lokasi.

Warga masih siaga. Melihat cuaca yang masih mendung serta air di Sungai Gelis yang nyaris meluap, membuat warga siaga. Banjir di kawasan tersebut memang beberapa kali terjadi di musim hujan. Namun setelah dibangunkan talut di bantaran sungai Gelis, banjir jarang dijumpai lagi. Hal itu karena air melimpas ke bagian barat sungai ketimbang ke timur.

Sementara, Camat Jati Andreas Wahyu mengatakan jika hujan lebat yang terjadi semalam membuat sejumlah kawasan mengalami genangan. Seperti halnya di desa Jati Wetan dan Tanjung karang. “Kedua daerah di Jati itu memang sering terjadi banjir. Bahkan beberapa kali sampai masuk kedalam rumah, saat hujan tiba sangat lebat,” ungkap dia.

Dikatakan Andreas, ketika hujan semalam langsung dilakukan pemantauan oleh pihak kecamatan. Beberapa ruas jalan dan gang terendam oleh air. Bahkan diakuinya kalau genangan sampai memasuki kawasan rumah.”Jumlahnya hanya sedikit yang sampai masuk rumah. Ada tapi hanya beberapa saja dan jumlahnya sangat kecil,” ungkap dia. 

Ditambahkan, banjir terjadi karena limpasan air dari sungai Wulan. Terlebih, semenjak kemarin terjadi perbaikan tanggul di wilayah perbatasan Kudus Purwodadi, yang menyebabkan air melimpas ke permukiman.

Editor : Akrom Hazami

FOTO-FOTO : Kerennya Aksi Heroik Polisi Grobogan Tolong Warga saat Banjir

Polisi berdiri di bak truk untuk mengatur lalu lintas di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Polisi berdiri di bak truk untuk mengatur lalu lintas di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bagi pengendara dari Purwodadi yang mau menuju Pati dan Kudus sebaiknya berhati-hati. Sebab Jumat (20/1/2017) mulai sekitar pukul 16.00 WIB tadi, arus lalu lintas jalur tersebut tersendat karena kondisi jalan raya banjir.

Berikut foto-foto yang berhasil dibidik wartawan MuriaNewsCom saat terjadi banjir di Kabupaten Grobogan, Jumat (20/1/2017).

Polisi mengatur arus lalu lintas saat banjir menerjang di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Polisi mengatur arus lalu lintas saat banjir menerjang di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Informasi yang didapat menyebutkan, jalan yang tergenang berada di sekitar di pertigaan Ketapang. Mulai depan Kantor Kecamatan Grobogan ke selatan hingga bekas TPK Demangan. Ruas jalan yang tergenang air sekitar satu kilometer panjangnya.

Polisi mendorong sepeda motor warga yang mogok saat banjir di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Polisi mendorong sepeda motor warga yang mogok saat banjir di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Editor : Akrom Hazami

Foto-Foto MuriaNewsCom/Dani Agus

Kantor Camat Karangrayung Grobogan Kebanjiran

Mobil menerobos banjir di Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Sabtu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Mobil menerobos banjir di Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Sabtu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Penataan saluran drainase di sekitar. kantor Kecamatan Karangrayung tampaknya mendesak dilakukan. Sebabnya, tiap hujan deras mengguyur kawasan tersebut selalu kebanjiran. Seperti ketika hujan deras mengguyur pada Sabtu (14/1/2017) dari siang hingga petang.

Informasi yang didapat menyebutkan, akibat hujan selama hampir lima jam, kawasan sekitar kantor kecamatan mulai kebanjiran. Bahkan, halaman kantor penuh air hingga di atas mata kaki orang dewasa. Namun, air dilaporkan tidak sampai masuk ruangan kantor.

Kemudian, ruas jalan raya Karangrayung-Juwangi depan kecamatan juga tergenang sepanjang 500 meter dengan ketinggian air sekitar 30 cm. Akibatnya, arus kendaraan sempat tersendat karena harus berjalan pelan-pelan. Selain itu, air luapan dari saluran drainase dikabarkan sempat pula masuk ke rumah penduduk yang lokasinya agak rendah. Jumlah rumah yang sempat kemasukan air ini tidak banyak, sekitar belasan saja.

Camat Karangrayung Hardimin ketika dimintai komentarnya menyatakan, banjir dadakan itu sudah rutin terjadi saat hujan deras mengguyur dalam waktu lama. Seperti yang terjadi pada hari ini. “Kalau hujan deras pasti kayak gini. Tapi, banjirnya hanya sebentar. Paling dua jam setelah hujan reda, airnnya sudah hilang. Ini, kondisi air sudah mulai turun,” katanya.

Menurutnya, banjir dadakan disebabkan banyaknya jembatan kecil diatas saluran drainase yang posisinya tidak terlalu tinggi. Kondisi itu menjadikan sampah yang terbawa air nyangkut di jembatan, sehingga airnya meluber keluar drainase.

“Di samping itu, kondiai drainase memang kurang lebar sehingga tidak bisa menampung banyak volume air. Kita harapkan ada penataan saluran drainase untuk mengatasi banjir dadakan ini,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Ratusan Rumah di Sunggingwarno Pati Terendam Banjir

 Kondisi banjir di Desa Sunggingwarno, Gabus, Pati, Jumat (6/1/2017) siang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kondisi banjir di Desa Sunggingwarno, Gabus, Pati, Jumat (6/1/2017) siang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan rumah di Desa Sunggingwarno, Kecamatan Gabus, Pati terendam banjir, Jumat (6/1/2017). Banjir disebabkan hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur kawasan tersebut.

Di jalan utama desa tersebut, air banjir menggenang setinggi betis orang dewasa atau 30-40 cm. Banjir sendiri sudah mulai masuk ke pemukiman warga sekitar pukul 04.00 WIB pagi.

Sementara itu, tanggul darurat yang dipasang warga pada bagian sungai tidak mampu menampung debit air sungai. Akibatnya, luapan air sungai yang masuk ke pemukiman warga tidak kunjung surut hingga Jumat siang.

Tambah (52), warga setempat menuturkan, banjir mulai masuk pada saat dia sedang melaksanakan Salat Subuh. Tambah langsung berupaya mengamankan barang-barang berharga untuk mengantisipasi kemungkinan debit air bertambah tinggi.

“Ini mulai bersih-bersih lumpur dan sampah yang terbawa arus banjir. Kalau bersih-bersihnya menunggu air surut, malah susah dibersihkan,” ujar Tambah.

Dia menambahkan, desanya memang menjadi langganan banjir setiap tahun. Tahun ini saja, banjir yang melanda desa tersebut sudah tiga kali terjadi. Biasanya, air akan surut satu hingga dua hari berikutnya pascabanjir. Itu pun bila tidak ada banjir susulan.

Banjir juga menggenangi SD Sunggingwarno 02 Gabus, sehingga siswa dipulangkan lebih awal. Kendati banjir hanya sedikit yang masuk kelas, tetapi halaman sekolah dipenuhi banjir sehingga aktivitas belajar terganggu.

Editor : Kholistiono

Jalan Kedungwinong Pati Dilanda Banjir

Sejumlah pengendara tampak melewati Jalan Kedungwinong, Sukolilo yang dilanda banjir akibat hujan deras yang mengguyur selama dua jam, Selasa (3/1/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah pengendara tampak melewati Jalan Kedungwinong, Sukolilo yang dilanda banjir akibat hujan deras yang mengguyur selama dua jam, Selasa (3/1/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Hujan deras yang melanda kawasan Kecamatan Sukolilo dan sekitarnya membuat jalan utama Desa Kedungwinong, Kecamatan Sukolilo dilanda banjir, Selasa (3/1/2017).

Banjir setinggi 30 cm tersebut membuat arus lalu lintas sempat tersendat. Beberapa pengendara yang lewat tampak berhati-hati, karena medan jalan yang menanjak disertai arus banjir yang sangat deras.

Jalan tersebut biasa dilalui pengendara, karena menghubungkan Desa Sukolilo, Desa Baleadi, Desa Prawoto, dan menjadi jalan alternatif menuju Kabupaten Kudus. Selain hujan yang deras, banjir disebabkan air di sungai sekitar jalan yang meluap.

“Saya mau pulang ke Cengkalsewu, sehabis dari Kudus. Memang sudah tidak hujan, tetapi jalan di Kedungwinong dilanda banjir sekitar 30 cm. Namun, arus cukup lancar dan tidak berbahaya,” ujar Siswanto, warga Desa Cengkalsewu.

Sejumlah penduduk setempat sempat berhamburan keluar untuk memantau kondisi jalan yang tergenang banjir. Kekhawatiran sempat dirasakan pengendara yang lewat, lantaran kondisi jalannya yang menanjak disertai banjir.

Editor : Kholistiono

Banjir Grobogan juga Dipicu Akibat Luapan Sungai Lusi

Salah satu rumah warga yang terendam banjir di Kabupaten Grobogan, Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Salah satu rumah warga yang terendam banjir di Kabupaten Grobogan, Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Camat Grobogan Amir Syarifuddin ketika dimintai komentarnya soal banjir menyatakan, beberapa desa di wilayahnya memang selalu langganan banjir setiap hujan deras datang. Namun, banjir yang menerjang biasanya tidak belangsung lama. Sekitar 1-3 jam sudah mulai surut seiring menurunnya debit Sungai Lusi.

“Seperti diketahui, aliran air Kali Senthe ini masuknya ke Sungai Lusi. Kalau Sungai Lusi penuh maka airnya meluap ke perkampungan. Nanti kalau debit Sungai Lusi turun maka airnya langsung menghilang,” katanya.

Selain di wilayah Grobogan, banjir juga terjadi di Kecamatan Geyer. Tepatnya, di seberang jembatan gantung yang menghubungkan Desa Suru dan Sobo.

Akibat banjir ini, akses menuju dua desa menjadi terganggu. Terutama bagi pengendara sepeda motor.

“Banjir di sekitar jembatan gantung hanya menggenangi jalan dan areal yang rendah saja. Untuk sementara tidak ada rumah warga yang kemasukan air,” terang Camat Geyer Aries Ponco.

Selanjutnya, bencana banjir juga sempat melanda dua desa di wilayah Kecamatan Brati. Masing-masing, Desa Tirem dan Lemahputih.

Di kedua desa ini, sekitar 100 rumah yang kebanjiran dengan ketinggian 20-40 cm. Kemudian, areal perawahan yang ada tanaman padi juga banyak yang tergenang.

“Pendataan bencana banjir masih kita lakukan. Namun, saat ini, air sudah mulai surut,” kata Camat Brati Bambang Lunto.

Diketahui, hujan yang mengguyur wilayah Grobogan sejak Kamis (29/12/2016) malam hingga Jumat (30/12/2016) siang menyebabkan bencana banjir di berbagai tempat. Meski tidak berlangsung lama, namun banjir yang melanda ini sempat bikin panik warga.

Dari pantauan lapangan, bencana banjir paling parah berada di Kecamatan Grobogan. Di wilayah ini sedikitnya ada empat desa yang dilanda bancana banjir. Yakni, Desa Tanggungharjo, Teguhan, Lebak dan Putatsari.

Kemudian, wilayah yang terkena banjir juga berada di Kelurahan Grobogan. Terutama di Kampung Pucang.

Dalam musibah ini, ada ratusan rumah yang sempat kemasukan air setinggi 10 cm sampai satu meter. Selain itu, air yang meluap dari Kali Senthe juga menerjang areal pertanian.

Editor : Akrom Hazami

Hujan Sehari Semalam, Grobogan Banjir

Salah satu rumah warga yang terendam banjir di Kabupaten Grobogan, Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Salah satu rumah warga yang terendam banjir di Kabupaten Grobogan, Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Hujan yang mengguyur wilayah Grobogan sejak Kamis (29/12/2016) malam hingga Jumat (30/12/2016) siang menyebabkan bencana banjir di berbagai tempat. Meski tidak berlangsung lama, namun banjir yang melanda ini sempat bikin panik warga.

Dari pantauan lapangan, bencana banjir paling parah berada di Kecamatan Grobogan. Di wilayah ini sedikitnya ada empat desa yang dilanda bancana banjir. Yakni, Desa Tanggungharjo, Teguhan, Lebak dan Putatsari.

Kemudian, wilayah yang terkena banjir juga berada di Kelurahan Grobogan. Terutama di Kampung Pucang.

Dalam musibah ini, ada ratusan rumah yang sempat kemasukan air setinggi 10 cm sampai satu meter. Selain itu, air yang meluap dari Kali Senthe juga menerjang areal pertanian.

Banjir yang melanda beberapa desa tersebut mulai datang menjelang waktu Subuh. Namun, mulai pukul 10.00 WIB, banjir sudah mulai surut.

Tingginya curah hujan juga menyebabkan jalan di depan kantor Kecamatan Grobogan sempat tergenang. Akibatnya, arus kendaraan dari Purwodadi menuju Kudus dan Pati sempat tersendat di sekitar pertigaan Ketapang, depan kantor kecamatan.

Editor : Akrom Hazami

Banjir Bandang Terjang Desa Monggot Geyer Grobogan

Salah satu rumah warga yang terendam banjir di Desa Monggot, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Selasa sore. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Salah satu rumah warga yang terendam banjir di Desa Monggot, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Selasa sore. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Warga Desa Monggot, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, sempat dilanda kepanikan, Selasa (20/12/2016). Hal ini menyusul datangnya banjir bandang yang melanda perkampungan penduduk sekitar pukul 17.00 WIB.

Akibat banjir yang datang, ada puluhan rumah warga yang kemasukkan air. Ketinggian air yang sempat masuk rumah berkisar 10 cm hingga 1 meter.

Rumah warga yang terkena dampak banjir berada di tiga dusun. Yakni, Dusun Jeruk, Gaji dan Nangkas. Rumah yang dilalui banjir bandang ini berada di pinggiran sungai.

Beberapa warga menyatakan, sebelum banjir datang, kawasan tersebut sempat diguyur hujan deras selama beberapa jam. Sekitar dua jam setelah hujan reda, aliran air mulai masuk jalan kampung dan masuk ke rumah penduduk.

“Air dari atas datangnya cepat sekali. Sebagian warga, langsung menaikkan barang-barang berharga ketempat yang agak tinggi karena khawatir kena air,” kata Ketua Pramuka Peduli Kwarcab Grobogan Lulun Surono yang langsung meluncur ke lokasi setelah mendapat informasi adanya bencana itu.

Salah satu rumah warga yang terendam banjir di Desa Monggot, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Selasa sore. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Salah satu rumah warga yang terendam banjir di Desa Monggot, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Selasa sore. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sementara itu, Camat Geyer Aries Ponco menyatakan, meski airnya cukup besar tetapi banjir bandang tadi hanya berlangsung sebentar. Selepas magrib, air mulai menyusut dan menjelang Isyak sudah tidak ada rumah yang kebanjiran.

“Total rumah yang sempat kemasukan air dari data sementara ada 60 unit. Tetapi sekarang kondisinya sudah surut. Pendataan masih kita lakukan untuk mengetahui sejauh mana tingkat kerusakan dan kerugian akibat banjir bandang ini,” katanya. 

Editor : Akrom Hazami

Sungai Bengawan Solo di Blora Meluap, Warga Harus Waspada

Sungai Bengawan Solo di Blora terlihat meluap di wilayah Blora. (ISTIMEWA

Sungai Bengawan Solo di Blora terlihat meluap di wilayah Blora. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Blora – Hujan deras terus mengguyur berbagai dareh di wilayah Kabupaten Blora. Seperti di Blora wilayah timur yakni, Kecamatan Cepu dan Kecamatan Kedungtuban. Terutama mereka yang rumahnya berada di pinggiran sungai Bengawan Solo.

Danramil Kedungtuban Kapten Inf Darmanto bersama Camat dan Mantri Polisi Kedungtuban, bersinergi lakukan peninjauan di wilayah Dukuh Wantah, Desa Jimbung, Kecamatan Kedungtuban. Mereka melihat debit air luapan sungai bengawan solo sudah beranjak naik. “Air sudah menggenangi sekitar lahan pekarangan rumah,” katanya di rilis persnya.

Darmanto mengimbau warganya supaya waspada menjelang luapan air Sungai Bengawan Solo. Danramil meminta kepada warga selalu memberikan infomasi pada petugas setiap ada perkembangan. “Kami bersama unsur forkopimcam siaga 1 x 24 jam monitor perkembangan,” kata Darmanto.

Editor : Akrom Hazami

Ratusan Hektare Sawah di Undaan Alami Puso, Petani Merugi

Petani mengendarai sepeda di kawasan Undaan, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petani mengendarai sepeda di kawasan Undaan, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Banjir yang menggenang di wilayah Undaan Kudus membuat tanaman padi yang baru di tanam mengalami puso. Kondisi tersebut membuat petani merugi lantaran sudah banyak yang dikeluarkan untuk biaya tanam.

Sunarto, penyuluh pertanian wilayah Undaan mengatakan, puso menimpa di semua wilayah pertanian yang terendam air. Jumlahnya bervariasi, tergantung kedalaman air yang menggenangi areal persawahan. “Ada tiga desa yang terkena puso. Untuk Berugenjang ada 75 hektare lahan sawah yang tenggelam, sedangakan yang puso sejumlah 45 hektare,” katanya kepada MuriaNewsCom

Sementara untuk wilayah Wonosoco, hampir secara keseluruhan mengalami genangan air. Totalnya sejumlah 250 hektare. Dari jumlah tersebut, hampir dapat dipastikan semuanya mengalami puso, akibat tergenang air dalam waktu yang cukup lama. Lambangan, ada 65 hektare lahan pertanian warga yang juga tenggelam akibat banjir. Dari jumlah tersebut, 50 hektare tanaman padi sudah dipastikan puso karena mati tenggelam.

Sukiran, kelompok tani Lambangan menambahkan, warga berharap adanya bantuan dari pemkab untuk para petani. Terlebih, warga yang mayoritas petani sudah mengalami kerugian dalam jumlah yang cukup besar. “Kami menantikan bantun pemerintah. Kami hanya rakyat kecil saja yang membutuhkan bantuan,,” ungkapnya

Setiyo Budi, Kades Wonosoco menambahkan, debit air di kawasan Wonosoco Undaan perlahan sudah mulai surut . Meski demikian, tanaman petani masih tenggelam dan tak terselamatkan

Editor : Akrom Hazami

Banjir Rendam Sawah di Undaan, Kerugian Capai Miliaran Rupiah

Warga menerebos jalan yang digenangni banjir di Desa Wonosoco, Undaan, Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga menerebos jalan yang digenangni banjir di Desa Wonosoco, Undaan, Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah petani di Undaan, Kudus, hanya bisa gigit jari meelihat lahan sawahnya terendam air banjir. Mereka pasrah karena tidak tahu apa yang akan diperbuat guna menyurutkan air yang menggenangi sawah. Akibat hal itu, para petani mengalami kerugian mencapai miliaran rupiah

Seperti halnya diungkapkan Sujono, warga Desa Berugenjang saat melihat sawahnya terendam. Modal yang dikeluarkan juga jutaan rupiah untuk satu hectare. Dia baru melakukan penanaman sekitar dua pekan. “Sudah dipupuk padahal. Ini jelas membuat kerugian bertambah. Kira-kira untuk satu hektare sawah sekitar Rp 3,5 juta kerugian yang saya rasakan,” katanya kepada MuriaNewsCom di lokasi sawahnya, Senin (28/11/2016).

Ketua Kelompok Tani Sidorekso Desa Berugenjang, Jamal mengatakan sebenarnya airnya bisa dikurangi dengan cara menyedot dan membuangnya ke sungai lainnya. Hanya untuk melakukan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. “Selain itu juga agak percuma, sebab melihat kondisi cuaca yang masih mendung, potensi hujan juga masih turun. Jadi ibaratnya disedot satu hari penuh masih kalah dengan hujan satu jam,” ujarnya pasrah.

Dijelaskan, kalau tanah pertanian yang terendam menimpa sejumlah desa. Seperti di Berugenjang sekitar 50 hektare, Lambangan sekitar 65 hektare dan paling banyak Wonosoco yang sampai ratusan hektare.

Kades Wonosoco Setya Budi mengatakan, akibat dari banjir tersebut menggenangi area persawahan mencapai 250 hektare. Jumlah tersebut sangatlah banyak dan mengalami kerugian sekitar Rp 1 miliar. “Rata-rata setiap 1 hektare sawah yang terendam, mengakibatkan kerugian sekitar Rp 4 juta. Jadi kerugian total petani sekitar Rp 1 miliar,” ungkapnya.

Menurutnya, jika melihat kondisi butuh waktu  hingga satu pekan sampai banjir surut. Namun kondisi tersebut dapat berlaku jika tidak ada hujan lagi di kawasan Undaan dan sekitarnya.

Editor : Akrom Hazami

DPRD Kudus Kritisi Soal Antisipasi Banjir

Salah satu sudut di Kabupaten Kudus yang terendam banjir, beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom)

Salah satu sudut di Kabupaten Kudus yang terendam banjir, beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Anggota DPRD Kudus yang juga Sekretaris Komisi B Aris Suliyono mengatakan, pemkab tidak bisa berbuat terlalu banyak untuk antisipasi banjir di sejumlah titik. Sebab, kawasan yang banyak potensi banjir, menjadi wewenang dari Pengelolaan sumber daya air (PSDA) provinsi.

Satu dari lokasi yang mengancam adanya potensi banjir menimpa tanggul kanan Sungai Gelis Dukuh Goleng, Desa Pasuruan Lor, Kecamatan Jati. Tanggul di sana bocor karena digerogoti tikus. Akibatnya mengancam ribuan permukiman dan  sawah.

“Hal semacam ini sudah dapat dideteksi semenjak jauh hari. Jadi harusnya dapat diatasi sejak awal supaya hal semacam ini tidak terjadi,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Penanganan dini juga diharapkan tidak hanya dilakukan untuk satu titik saja. Sebab di Kudus banyak tanggul yang berpotensi menjadi limpasan air, sehingga harapannya untuk pembenahan juga dilakukan secara rutin dan teratur.

Selain itu, dia juga meminta SKPD terkait dapat lebih merutinkan komunikasi dengan PSDA. Dengan demikian maka akan timbul kerja sama yang baik antara Pemkab Kudus dengan PSDA selaku instansi yang menanganinya.

“Kewenangan ada di mereka, bukan di kami dan Pemkab Kudus. Jadi bisanya hanya melakukan komunikasi dan membantu saja,” ujarnya.

Lain halnya jika itu kewenangan pemkab, lanjutnya. Pemkab akan mampu mengalokasikan dana untuk penanganan tanggul serta lokasi lainnya yang berpotensi meresahkan masyarakat.

Dia mencontohkan, jika dianggarkan maka dikhawatirkan akan ada sejumlah pihak yang protes. Selain itu juga tanahnya adalah kewenangan PSDA. Hanya jika diperbolehkan maka pembangunan akan diprioritaskan.

“Buktinya untuk Jalan dan juga jembatan juga sudah bagus. Karena dalam aturan memang diperbolehkan demikian,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

MA NU TBS di Kudus Terendam Air

Petugas sekolah dari MA NU TBS membersihkan ruang kelas usai terendam air, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas sekolah dari MA NU TBS membersihkan ruang usai terendam air, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Hujan deras yang mengguyur Kudus, membuat beberapa wilayah mengalami genangan air, Senin (14/11/2016). Seperti halnya di MA NU TBS Kudus. Ada sekitar empat ruang kelas terendam air. Serta beberapa sudut di sekolah juga tak luput dari air.

M Abdul Goni, siswa kelas 11 MA NU TBS mengatakan, sekolahnya terendam banjir, Senin siang.  “Kurang tahu persis kejadiannya jam berapa, tapi memang ada banjir yang merendam kelas di sini. Semuanya empat kelas,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, banjir tidak bertahan lama karena hanya air lewat saja. Ketinggian genangan banjir, diperkirakan mencapai kisaran 10 cm. “Kalau di jalan malah bisa lebih tinggi lagi. Mungkin mencapai setengah meter jika diukur saat hujan tadi,” ungkapnya.

Tak lama kemudian, banjir yang merendam kelas pun surut setelah hujan berhenti. Meski demikian, kegiatan belajar tetap terganggu. Sebab, ruang kelas menjadi berlumpur.

Berdasarkan pantauan, sejumlah pelajar sudah mulai melanjutkan aktivitas pembelajaran seperti semula usai banjir. Kelas juga sudah bersih setelah dilakukan kerja bakti dengan membersihkannya.

Tak hanya di TBS, sejumlah tempat juga mengalami genangan air yang cukup dalam. Seperti di belakang Ramayana. Bahkan di depan Pendapa Kudus juga mengalami kondisi yang sama.

Editor : Akrom Hazami

Musibah Banjir yang Tak Pernah Dianggap Serius

Ali Muntoha muntohafadhil@gmail.com

Ali Muntoha
muntohafadhil@gmail.com

BENCANA banjir yang melanda wilayah Kabupaten Grobogan sejak akhir pekan kemarin, membuat banyak orang terkaget-kaget. Bagaimana tidak, hujan baru turun sebentar saja, 16 desa di tiga kecamatan di kabupaten itu tergenang banjir, bahkan hingga saat ini banjir belum juga surut. Hujan yang terus turun, masih menjadi ancaman banjir yang lebih besar.

Ratusan kepala keluarga (KK) harus mengungsi, kehilangan harta benda, dan harus pontang-panting menyelamatkan diri. Ribuan hektare sawah yang menjadi gantungan hidup warga, porak poranda tak bersisa disapu air bah. Padahal beberapa tanaman petani belum sempat dipanen.

Banjir yang datang secara tiba-tiba ini juga seolah menjadi tanda kegetiran dan keraguan, apakah manusia-manusia yang hidup di Grobogan itu bakal bisa terbebas dari banjir. Bagimana tidak, bencana banjir yang menjadi bencana rutin tahunan ini seolah tanpa ada penanganan serius.

Meski setiap tahun Grobogan selalu dilanda banjir, namun upaya-upaya yang dilakukan pemerintah untuk penanganan bencana ini hanya seolah sekadarnya saja. Pemerintah baru gagap ketika banjir sudah datang. Seluruh unsur dikerahkan, para pejabat berdatangan meninjau, menjenguk dan menenangkan para korban banjir. Tapi kemana mereka sebelum banjir datang?

Padahal bencana banjir datang bukan tanpa sebab. Banjir yang melanda wilayah Grobogan, dan meluas hingga beberapa desa di Kabupaten Demak, disebabkan jebolnya tanggul-tanggul sungai yang ada di kabupaten tersebut. Ini harusnya sudah bisa dideteksi dan diperkirakan sebelumnya.

Tanggul-tanggul yang jebol ini, saat sebelum banjir datang merupakan tanggul yang sudah kritis, yang sudah seharusnya dilakukan perbaikan jauh-jauh hari sebelum musim hujan datang.

Di sepanjang Sungai Tuntang saja setidaknya ada tiga tanggul sungai yang jebol, yakni di Desa Ngroto,  Desa Papanrejo, dan di Desa Kemiri. Belum lagi tanggul Sungai Renggong dan Sungai Kliteh yang jebol, juga memperparah banjir di daerah ini. Sepekan sebelumnya, tanggul Sungai Renggong sudah jebol, dan menggenangi ratusan hektare sawah. Belum sempat ada perbaikan banjir kembali menghantam.

Setelah adanya tanggul yang jebol ini, sebenarnya pemerintah kabupaten setempat mulai bertindak. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bahkan ikut menerjunkan personelnya untuk melakukan pemantauan dan monitoring tanggul-tanggul sungai di Grobogan yang rawan jebol. Namun upaya ini sebenarnya sangat terlambat, karena seharusnya monitoring ini sudah harus dilakukan jauh-jauh hari sebelum musim hujan datang.

Setelah didata tanggul mana yang rawan pun, urusannya tak langsung selesai. Apalagi birokrasi di Indonesia itu terkenal cukup ribet. Ketika ditemukan ada tanggul yang bermasalah, pemerintah setempat tak bisa langsung melakukan penanganan. Bukan hanya karena masalah dana, tapi mereka tak punya kewenangan. Penanganan sungai-sungai itu berada di wilayah Pemprov Jateng, yakni melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juwana. Sehingga sudah bisa dibayangkan sendiri apa yang terjadi.

Bencana keburu datang sebelum perbaikan sempat dilakukan. Kini ribuan orang di Grobogan yang akhirnya terkena dampak. Ribuan siswa tak bisa belajar, karena jalan-jalan tertutup banjir, bahkan gedung-gedung sekolah juga terendam. Di saat ini seperti ini memang langkah yang dilakukan pemerintah sudah tepat, yakni mengutamakan keselamatan rakyatnya dahulu, dengan melakukan evakuasi, mendirikan pos-pos pengungsian dan dapur umum.

Namun setelah bencana ini dampak yang lebih panjang lagi juga tengah menunggu. Warga yang kehilangan harta benda, area persawahan yang hancur ditelan banjir, dan lainnya. Warga harus memulai dari awal lagi, untuk membangun kehidupannya. Bantuan dari pemerintah tak akan cukup untuk membuat warganya kembali seperti kehidupan semula lagi.

Sudah seharusnya, segala macam bencana yang datang menjadi pelajaran serius bagi pemerintah untuk melakukan penanganan ke depan. Jangan jadikan bencana sebagai sebuah kejadian rutin, dan melakukan pembiaran saja dengan menyiapkan langkah yang seadanya. Karena di Jawa Tengah ini merupakan gudangnya bencana alam, mulai dari banjir, longsor, puting beliung dan lainnya.

Sumber-sumber yang menjadi kerawanan bencana harus terus mendapat pengawasan serius. Jangan lagi muncul kejadian seperti ini lagi, banjir datang disaat penataan dan perbaikan tanggul baru akan dilakukan. Selain itu, yang paling penting adalah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan.

Peran serta masyarakat ini sangat penting. Karena diakui atau tidak, munculnya bencana ini juga karena keserakahan dan keteledoran warga yang melakukan perusakan terhadap alam. Hutan-hutan sebagai pelindung dari bencana sudah gundul, wilayah-wilayah resapan air sudah beralih fungsi jadi perumahan dan gedung-gedung. Ini harus sudah diakhiri, karena jika terus berlanjut, maka kelak yang akan kita wariskan kepada anak cucu bukanlah alam yang indah melainkan hanyalah bencana yang datang bertubi-tubi. (*)

Ratusan Sawah di Undaan Kudus Terendam Banjir

Warga melintasi jalan sawah yang tergenang banjir di Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga melintasi jalan sawah yang tergenang banjir di Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan hektare (Ha) sawah di tiga desa di Undaan, Kudus, terendam banjir. Ketinggian air yang merendam sawah sekitar 1 meter.

Ketiga desa adalah Desa Wonosoco, Berugenjang dan Desa Lambangan. Ketiga desa tersebut lokasinya, berdekatan.

Kades Wonosoco Setya Budi mengatakan, banjir merendam sekitar 250 Ha sawah di desanya. “Petani di sini kebetulan masih belum tanam. Hanya, dengan adanya banjir ini membuat tanam pertama harus mundur lantaran genangan yang banyak,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, jika melihat kondisi butuh waktu  hingga lima hari sampai banjir surut. Namun kondisi tersebut dapat berlaku jika tidak ada hujan lagi di kawasan Undaan dan sekitarnya.

Dia menyebutkan kalau banjir tersebut selain dipicu hujan deras di Undaan, juga kiriman dari Pati dan Grobogan. Luapan sungai londo, tumpah hingga menggenangi persawahan.

Sementara, Kiswo, Kades Berugenjang mengatakan kalau lahan pertanian di desanya yang tergenang mencapai 100 Ha. Dengan jumlah lahan pertanian  230 Ha.

“Di sini juga masih belum tanam, jadi nanti musim.tanam akan mundur akibat genangan air,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Solusi Pemkab Kudus Atasi Genangan Air di Jalan

genangan

Pengguna jalan hendak melintasi genangan air di salah satu ruas di Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus akan menambah pembangunan jalan masuk air alias inlet . Gunanya untuk mengurangi genangan air yang menggenangi permukaan jalan.

Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (Cipkataru) Kudus Sumiyatun mengatakan, dalam waktu dekat ini akan dibangun inlet. Nantinya pembangunan itu akan dilakukan di sisi kanan dan kiri jalan.

“Kami sudah siapkan Rp 190 juta untuk penambahan ratusan inlet. Kami utamakan di lingkup perkotaan dulu, lantaran banyak genangan di daerah perkotaan saat hujan,” katanya kepada MuriaNewsCom, Kamis (29/9/2016).

Menurutnya, inlet yang bakal dibuat nanti, berukuran 30 centimeter. Lokasi pemasangan berada di tanah tepi trotoar, sehingga mempermudah air masuk ke saluran dengan jumlah yang lebih banyak. Sementara, jarak antara satu inlet dengan lainnya, berjarak sekitar lima meter.

Beberapa titik yang dipasang, di antaranya jalan Jenderal Sudirman 22 inlet, jalan A Yani 32 unit, di jalan Loekmono Hadi 30 unit dan jalan Ramelan 31 unit. Serta daerah lain yang dianggap perlu segera ditangani.

Untuk inlet yang sudah terpasang kini, juga mencapai ratusan. Namun jumlah itu masih dianggap kurang dengan bukti banyaknya genangan air yang masih terjadi di perkotaan. Meski tidak dalam waktu yang lama, namun dengan inlet yang ditambah nanti, bakal memperbanyak dan mempercepat air yang masuk.

“Kami juga akan melakukan normalisasi gorong-gorong. Sebab saya datang langsung saat hujan, ada banyak sampah yang menghambat saluran di dalamnya. Jadi butuh dibersihkan,” ujarnya.

Sementara untuk daerah Prambatan, kata dia ada yang kurang pas untuk perencanaannya. Air di lokasi itu seharusnya dialirkan ke sisi barat dan timur menuju sungai.

Editor : Akrom Hazami

Hujan, Depan Perum Muria Asri Kudus Terendam Air

Warga melintasi jalan Kudus-Jepara di depan perumahan Muria Asri Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga melintasi jalan Kudus-Jepara di depan perumahan Muria Asri Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Hujan lebat turun di Kudus, Senin (19/9/2016).  membuat beberapa wilayah terendam air. Seperti halnya di jalan Kudus-Jepara depan Perumahan Muria Asri, terjadi genangan air.

Ma’ruf, pengguna jalan di lokasi mengatakan, kedalaman genangan air hujan mencapai ketinggian 30 sentimeter. Padahal hujan yang mengguyur sekitar 20 menit saja

“Hujannya memang deras, meski hanya sebentar namun sangat lebat,” katanya saat melintasi genangan banjir.

Dia terpaksa harus hati-hati saat melintasi wilayah tersebut. Sebab jika tidak, maka bisa terjatuh dalam kubangan yang permukaannya tertutup air.

Berdasarkan pantauan, genangan membuat kendaraan tersendat. Sebab tingginya air berakibat kendaraan lebih berhati hati dalam melintasi wilayah tersebut, akibatnya, antrean kendaraan juga mengular pada ke barat dan timur jalan.

Beberapa kendaraan juga lebih memilih memutar kendaraan melintasi perkampungan di Desa Mijen. Itu dilakukan untuk menghindari ketersendatan.

Jalan lain yang juga mengalami genangan yakni kawasan Prambanan. Pada sisi bagian utara terjadi genangan air yang patut diwaspadai warga.

Editor : Akrom Hazami

Gara-gara Banjir, Aktivitas Warga Karangturi Kudus Belum Maksimal

Warga melintasi jalan yang tergenang banjir di Desa Setrokalangan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Warga melintasi jalan yang tergenang banjir di Desa Setrokalangan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Warga Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, masih belum bisa beraktivitas dengan maksimal meski banjir sudah agak surut.

Seperti halnya, warga belum bisa menggunakan kendaraannnya untuk aktivitas. Mereka terpaksa berjalan kaki hampir 1 km menuju jalan raya.

Salah satu warga Dukuh Karangturi RT 5 RW 3 Desa Setrokalangan Purwanto mengatakan, air masih menggenangi jalan Dukuh Karangturi menuju Jalan lingkar Kudus-Jepara ini.

“Tinggi air masih selutut orang dewasa. Sehingga jarang warga yang beraktivitas menggunkan kendaraan,” kata Purwanto.

Dari pantauan MuriaNewsCom, banjir menggenangi jalan dukuh itu sedikit berkurang.
Kepala Desa Setrokalangan Edi Siswanto berharap warga Karangturi tidak terus-menerus mengalami hambatan akibat dampak banjir.

“Mudah-mudahan saja, warga kami bisa beraktivitas dengan baik. Baik itu sekolah dan bekerja di pabrik atau sejenisnya,” kata Edi.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga :

Meski Rumahnya Nyaris Roboh dan Dikepung Banjir, Maji Enggan Mengungsi

5 Rumah di Banget Kaliwungu Kudus Masih Terendam Banjir

Dikepung Banjir, Warga Karangturi Kaliwungu Kudus Pasrah

Pasutri Jompo di Kayen Pati Selamat dari Rumahnya yang Ambruk Diterjang Banjir

Kondisi dinding rumah milik pasutri jompo yang berhasil dievakuasi warga setempat dan relawan, setelah roboh diterjang banjir. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kondisi dinding rumah milik pasutri jompo yang berhasil dievakuasi warga setempat dan relawan, setelah roboh diterjang banjir. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Dua pasangan suami istri yang sudah berusia lanjut diketahui masih selamat, kendati rumah yang menjadi tempat tinggal keduanya di Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Pati roboh karena diterjang banjir yang disertai angin kencang pada Senin (11/1/2016) malam sekitar pukul 22.30 WIB.

Kedua pasutri tersebut diketahui bernama Sukiman dengan usia 85 tahun dan Sujani yang sudah berusia 70 tahun. Keduanya selamat, setelah warga setempat melakukan evakuasi dari reruntuhan.
Eko Yusanto, warga setempat kepada MuriaNewsCom, Selasa (12/1/2016) mengatakan, rumah kedua pasutri yang roboh tersebut terbilang sudah sangat tua. Sementara itu, daerah tersebut memang acapkali dilanda banjir.

“Penahan beban rumah tidak kuat, karena kondisinya sudah lapuk. Selain rumah itu sudah cukup tua, kawasan ini memang seringkali dilanda banjir,” imbuhnya.

Meski rumah satu-satunya milik pasutri itu roboh, ia mengaku masih bisa bernapas lega karena keduanya selamat. “Kami sebagai tetangga masih bersyukur karena penghuninya masih selamat,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Jalan Tayu-Jepara Lumpuh 2 Km Akibat Banjir Bandang

Kondisi banjir bandang di kawasan Pasar Ngablak, Kecamatan Cluwak, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kondisi banjir bandang di kawasan Pasar Ngablak, Kecamatan Cluwak, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Hujan lebat yang mengguyur sejumlah daerah di Kecamatan Tayu dan Cluwak menyebabkan jalan Tayu-Jepara lumpuh sekitar 2 kilometer. Hal itu disebabkan kedalaman arus air yang mengalir mencapai 60 cm.

Edi Setiono, pengguna jalan asal Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti yang hendak berkunjung ke Jepara mengatakan, kondisi tersebut membuatnya harus berhenti di pinggiran jalan hingga satu jam.

“Kondisi paling parah terjadi di kawasan Pasar Ngablak. Luapan air yang mengalir deras mencapai 60 cm pada bagian selatan jalan. Jadi, pengendara hanya bisa lewat jalan pada sisi utara saja,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Rabu (30/12/2015).

Akibatnya, pengguna jalan harus mengikuti buka tutup jalan. “Kami bersama keluarga membawa mobil dan harus mengikuti buka tutup jalan, karena separuh jalan tidak bisa dilewati,” tuturnya.

Ia memperkirakan, banjir bandang disebabkan akibat wilayah lereng Pegunungan Muria bagian utara diguyur hujan hingga menggelontor ke bawah. Bersamaan dengan itu, wilayah Tayu dan Cluwak juga diguyur hujan lebat.

“Banjir bandang berlangsung sekitar satu jam yang menggenangi jalanan. Setelah itu, airnya surut,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Tanggul Rawan Retak, Camat Jati Siapkan Sak Pasir

Pengguna kendaraan melintasi banjir beberapa waktu lalu di jalan sekitar Kecamatan Jati. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pengguna kendaraan melintasi banjir beberapa waktu lalu di jalan sekitar Kecamatan Jati. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Sebagai daerah yang rawan terjadi banjir, Kecamatan Jati juga harus bersiap dalam menghadapi risiko yang ditimbulkan. Seperti halnya adanya tanggul yang rawan retak, pihak Camat Jati menyiapkan sak berisi pasir untuk membendungnya.

Camat Jati Harso Widodo mengatakan, pihak kecamatan sudah menyiapkan sak pasir untuk menanggulangi bencana yang mungkin terjadi di Jati. Sebagai daerah bawah, potensi banjir dan genangan lebih mudah terjadi.

”Kita antisipasi adanya tanggul yang retak, sehingga membahayakan para warga. Untuk itu kami juga sudah menyiapkan sak guna membendung tanggul yang berpotensi retak,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya sosialisasi dengan pihak desa juga sudah dilakukan, sebab pihak desa yang lebih tahu tentang bencana yang mungkin terjadi di Kecamatan Jati. Sehingga, komunikasi juga terus dibuatkan.
Beberapa daerah yang rawan adanya banjir, kata dia, tercapai di beberapa titik. Seperti di sekitar Proliman Tanjung, Pasuruan Lor, Megawon, Ngembal, jati Kulon, Jati Wetan, dan juga sekitar Ngembal.
Untuk antisipasi, pihak kecamatan mengajak masyarakat melakukan kerja bakti berupa membersihkan lokasi sekitar dari sampah yang dapat mengganggu arus air.

”Bahkan untuk pernahkah desa, juga dilakukan antisipasi bencana. Sehingga Jika ada bencana dapat segera diungsikan,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Duh, Banjir Kudus Rusak Tanggul Kali Gelis

Banjir yang terjadi di salah satu titik di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Banjir yang terjadi di salah satu titik di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Akibat banjir yang menerjang Kudus kemarin, mengakibatkan beberapa fasiltas umum terganggu. Seperti halnya tanggul yang berada di kawasan Kali Gelis, juga mengalami retak-retak.

Hal itu diketahui setelah Camat Kota Kholid Seif mengelilingi daerah perkotaan. Saat banjir menyerang Kudus ketika hujan, kecamatan melakukan keliling ke daerah yang diduga berpotensi bencana. Benar saja, sesampainya di bantaran Kaligelis dikejutkan dengan beberapa tanggul yang retak.

“Kami melihat sepanjang bantaran Kali Gelis yang saat itu mengalami retak retak,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Kondisi retak itu ada di beberapa titik. Seperti di sekitar Taman Baru bagian timur Kali Gelis dekat jembatan. Beberapa retakan itu terjadi akibat arus yang sangat deras. Padahal, kata dia, tanggul penyangga itu tergolong baru dibuat.

Selain itu, beberapa tanggul lain di bagian utara juga mengalami kondisi yang sama. Parahnya lagi, daerah tanggul dekat dengan rumah warga. Sehingga semakin bahaya jika terkena banjir keras hingga tanggul jebol.

“Kalau parah nya tidak. Hanya retak di beberapa bagian saja. Mungkin karena panas yang panjang sebelumnya dan terkena air dengan arus yang sangat banyak. Akhirnya tanahnya kaget dan terjadilah retak,” ujarnya.

Di pasar Kaliputu ke barat arah Krandon. Lokasi tersebut selain rendah, juga sangat dekat dengan sungai. Untuk itu daerah itu juga berpotensi banjir.

“Kemarin kami cek masih aman. Mudah mudahan akan aman terus,” jelasnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Ini Bukti Grobogan bagian Barat Aman dari Banjir

Kondisi Sungai Tuntang belum membahayakan karena debit airnya sudah menyusut. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kondisi Sungai Tuntang belum membahayakan karena debit airnya sudah menyusut. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Tidak turunnya hujan dalam dua hari terakhir menyebabkan debit sungai yang ada di wilayah Grobogan turun drastis. Terutama, sungai yang ada di wilayah Grobogan bagian barat. Seperti Sungai Tutang yang melintasi wilayah Kecamatan Kedungjati dan Gubug serta Sungai Jragung dan KB1 di Kecamatan Tegowanu.

Dari pantauan di lapangan, kondisi sungai Tuntang boleh dibilang masih belum membahayakan. Karena debit airnya tinggal sedikit. Bahkan, sebagian dasar sungai bisa terlihat dari kejauhan lantaran airnya tidak begitu banyak.

“Sekitar satu minggu lalu, kondisi sungai Tuntang penuh air lantaran hujan terus selama dua hari. Saat ini, warga sempat was-was akan timbul bencana banjir. Namun, sejak dua hari lalu, airnya sudah menyusut jauh,” kata Sudiro, warga Kedungjati.

Sekadar diketahui, wilayah Grobogogan bagian barat, yakni Kedungjati, Tegowanu, dan Gubug selama ini cukup rentan bencana banjir. Tahun lalu, banjir cukup parah bahkan sempat melanda beberapa desa di Kecamatan Tegowanu hampir satu bulan lamanya.

Kondisi aman dari bahaya banjir juga terlihat di kawasan kota. Yang mana, sungai-sungai besar, seperti Sungai Lusi, Glugu, dan Serang juga mulai berkurang debit airnya dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Meski begitu, berkurangnya elevasi ini tidak sebanyak sungai di wilayah barat. Pasalnya, di daerah hulu ketiga sungai itu dilaporkan masih turun hujan meski intensitasnya cukup kecil.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan Agus Sulaksono ketika dimintai komentarnya menyatakan, saat ini kondisi sejumlah sungai memang relatif normal. Meski demikian, pihaknya tetap menaruh perhatian serius. Yakni anggota penanganan bencana sudah diminta siaga serta memonitor elevasi sungai secara rutin.

“Datangnya bencana alam tidak bisa diprediksi waktunya. Untuk itu, kami sudah instruksikan petugas agar selalu siaga 24 jam penuh,” katanya. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

Siswa di Jati Pulang Gasik, Guru Bertahan di Sekolah

Seluruh siswa SMP 2 Jati pagi tadi dipulangkan karena kelasnya terendam banjir dan tidak memungkinkan dilaksanakan KBM. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Seluruh siswa SMP 2 Jati pagi tadi dipulangkan karena kelasnya terendam banjir dan tidak memungkinkan dilaksanakan KBM. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Kejadian banjir yang berdampak pada siswa yang dipulangkan lebih awal, nampaknya tidak berlaku bagi gurunya. Sebab meski sekolahnya kosong tanpa siswa, para guru lebih memilih bertahan di sekolah tersebut.

Hal itu diungkapkan Kepala UPT Kecamatan Jati Sulardi. Menurutnya, meski para siswa dipulangkan, namun para pendidik dan penjaga sekolah masih bertahan di sekolah.

”Mereka menunggu banjir surut. Kemudian bersama-sama membersihkan sekolah dari sampah dan lumpur yang terbawa banjir,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Kegiatan bersih sekolah itu dilaksanakan secara gotong royong. Dengan cara itu, maka dalam membersihkan sekolah terselesaikan dengan cepat.

Alasan lain juga, lanjutnya karena PNS harus disertai dengan absensi. Bukan hanya absen berangkat saja, melainkan absen pulang. Hal itu juga membuat pendidik PNS bertahan disekolah.

Jumlah sekolah yang terendam tergolong banyak. Sebab dari 47 SD yang ada, 5 sekolah terendam air. Jumlah itu menjadi langganan setiap tahunnya.

”Hampir setiap musim hujan semacam ini. Jadi butuh kerja sama semua pihak untuk menanganinya,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Berikut Daftar Sekolah di Jati yang Terendam Banjir

Seluruh siswa SMP 2 Jati pagi tadi dipulangkan karena kelasnya terendam banjir dan tidak memungkinkan dilaksanakan KBM. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Seluruh siswa SMP 2 Jati pagi tadi dipulangkan karena kelasnya terendam banjir dan tidak memungkinkan dilaksanakan KBM. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Ratusan siswa yang terdapat di enam sekolah di Kecamatan Jati, terpaksa dipulangkan lebih awal. Hal itu terjadi lantaran sekolah terendam air sehingga proses Kegiatan Belajar Mengajar tidak dapat dilaksanakan.

Sulardi, kepala UPT Kecamatan Jati mengatakan, dalam Kecamatan Jati terdapat setidaknya enam sekolah yang harus dipulangkan siswanya. Pihak UPT terpaksa menyetujui kebijakan itu lantaran kondisi yang tidak memungkinkan untuk kegiatan KBM.

”Air sampai masuk kedalam kelas. Jadi bagaimana siswa mau nyaman belajar jika kondisinya semacam itu,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dampaknya, ratusan siswa menjadi korban banjir. Hak mereka untuk menimba ilmu harus tertunda sampai kelas kembali aman untuk digunakan aktivitas belajar.

Beberapa sekolah yang menjadi korban, lanjutnya, seperti di SD 1, 3 dan 4 Jati Wetan. SD tersebut terkena air hingga masuk ke dalam kelas. Bahkan, SD 1 Jati Wetan sampai terkepung air banjir, sehingga bukan hanya sekolahnya namun juga aksesnya juga terkendala.

Kemudian SD lain yang terkepung banjir adalah SD 1 Tanjung Karang. Sama dengan SD 1 Jati Wetan, di SD tersebut juga memiliki akses yang tergenang air. Berikutnya adalah SD 1 Jati Kulon dan SD 4 Loram Wetan. Sedangkan untuk tingkat SMP, SMP 2 Jati siswanya juga pulang terlebih dahulu lantaran terkena banjir.

”Saya sudah komunikasi dengan pihak sekolah, mereka menyatakan akibat banjir jadi tidak dapat dilanjutkan KBM,” imbuhnya. (FAISOL HADI/TITIS W)