Usai Ditinjau Bupati, Jalan Longsor di Sumberagung Grobogan Mulai Ditangani

MuriaNewsCom, GroboganPerbaikan jalan longsor pada tiga titik di Desa Sumberagung, Kecamatan Ngaringan, Grobogan akhirnya mulai dilakukan, Rabu (28/2/2018). Perbaikan jalan di bawah kendali Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Grobogan itu mendapat dukungan dari sejumlah pihak.

Selain warga setempat, sejumlah personil TNI dan Polri juga ikut mendukung perbaikan ruas jalan longsor akibat banjir bandang tersebut.

Sehari sebelumnya, Bupati Grobogan Sri Sumarni menyempatkan waktu untuk meninjau lokasi bencana. Saat itu, Sri langsung menjanjikan untuk secepatnya melakukan perbaikan insfrastruktur yang rusak. Baik jalan maupun talud sungai yang longsor dan mengancam rumah warga sekitar.

Banjir bandang yang menerjang Desa Sumberagung Senin (26/2/2018) mengakibatkan belasan rumah warga rusak. Selain rumah rusak, dampak banjir bandang juga menyebabkan akses jalan menuju Desa Karangasem, Kecamatan Wirosari longsor ditiga titik. Kemudian, banjir bandang juga mengakibatkan talud sungai di samping rumah warga longsor cukup parah.

Kepala DPUPR Grobogan Subiyono menyatakan, perbaikan infrastruktur yang rusak di Desa Sumberagung ditargetkan rampung dalam waktu dua hari. Untuk perbaikan kerusakan infrastruktur akibat banjir bandang itu, pihaknya menganggarkan dana sekitar Rp 400 juta.

”Biar penanganan bisa cepat, kita minta dukungan warga dan beberapa pihak untuk gotong royong. Jadi, penanganan kerusakan akibat banjir bandang kita lakukan bersama masyarakat,” katanya.

Subiyono menambahkan, setelah upaya perbaikan, dalam waktu dekat juga akan ada proyek perbaikan ruas jalan Wotgaleh-Sumberagung. Pada tahun ini sudah dialokasikan anggaran untuk perbaikan jalan senilai Rp 1 miliar.

”Seperti disampaikan Ibu Bupati kemarin, alokasi perbaikan jalan di Sumberagung akan jadi prioritas. Direncananakan, sampai tahun 2019, perbaikan ruas jalan rusak di Sumberagung hingga perbatasan Desa Karangasem, Kecamatan Wirosari bisa tuntas diselesaikan,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Ratusan Rumah Warga Lemahputih Grobogan Terendam Banjir

MuriaNewsCom, Grobogan – Bencana banjir terjadi lagi di wilayah Grobogan, Selasa (27/2/2018). Kali ini, bencana banjir melanda Desa Lemahputih, Kecamatan Brati. Sehari sebelumnya, bencana banjir bandang sempat menerjang beberapa desa di sejumlah kecamatan.

“Banjir mulai melanda Desa Lemahputih sejak pagi tadi sekitar pukul 10.00 WIB. Sampai saat ini, airnya belum surut, bahkan tambah naik,” kata Kades Lemahputih Hartoyo.

Banjir di Desa Lemahputih mulai terpantau sejak pukul 08.00 WIB. Saat itu, kondisi air sebagian besar masih menggenangi areal sawah.

Dalam beberapa jam, debit air terus bertambah hingga menggenangi jalan antar dusun maupun antar desa. Bahkan, hingga lewat tengah hari, luapan air mulai memasuki sejumlah rumah penduduk di Dusun Lemahputih dan Dusun Mlakas.

“Dari pendataan sementara, ada sekitar 150 rumah yang tergenang air. Ketinggian air yang masuk rumah sekitar 30-70 centimeter. Wilayah yang terdampak banjir ada di dua dusun,” jelasnya.

Ia menyatakan, banjir yang melanda Desa Lemahputih disebabkan limpahan air dari wilayah Kecamatan Grobogan. Selain itu, banjir juga dimungkinkan karena kondisi sungai Lusi saat ini penuh sehingga air dari anakan sungai tertahan.

“Ini, kami masih terus melakukan pemantauan lapangan. Kita juga sudah koordinasi dengan instansi terkait lainnya. Mudah-mudahan, hari ini tidak turun hujan,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Tinjau Lokasi Bencana di Desa Sumberagung, Bupati Grobogan Terkenang Masa Lalu

MuriaNewsCom, Grobogan – Kerusakan infrastruktur di Desa Sumberagung, Kecamatan Ngaringan akibat banjir bandang Senin kemarin bakal segera ditangani. Hal itu dijanjikan langsung Bupati Grobogan Sri Sumarni saat meninjau lokasi bencana, Selasa (27/2/2018).

”Musibah yang terjadi tidak bisa diprediksi datangnya. Nanti, kerusakan infrastruktur akan kita tangani. Besok, kita minta DPUPR untuk langsung melakukan penanganan. Tolong masyarakat juga ikut dikerahkan kerja bakti biar proses penanganan cepat rampung,” tegasnya.

Kepala DPUPR Grobogan Subiyono yang ikut mendampingi bupati saat melihat lokasi bencana, langsung menegaskan kesiapannya untuk segera memperbaiki kerusakan infrastruktur tersebut. Kemudian, jajaran Muspika Kecamatan Ngaringan dan Kades Sumberagung Rusno juga siap mendukung perbaikan infrastruktur yang rusak akibat banjir bandang yang terjadi sehari sebelumnya itu.

Banjir bandang yang menerjang Desa Sumberagung yang wilayahnya berbatasan dengan Kecamatan Todanan, Blora itu mengakibatkan belasan rumah warga rusak. Selain rumah rusak, dampak banjir bandang juga menyebabkan akses jalan menuju Desa Karangasem, Kecamatan Wirosari longsor ditiga titik. Kemudian, banjir bandang juga mengakibatkan talud sungai disamping rumah warga longsor cukup parah.

”Penanganan kerusakan yang terkait infrastruktur kita prioritaskan dulu. Untuk bantuan korban bencana, nanti dari BPBD dan Dinas Sosial,” sambung Sri.

Usai melihat lokasi bencana, Sri dan rombongan sempat mampir di Balaidesa Sumberagung. Di tempat itu kebetulan masih ada puluhan warga yang baru saja selesai melaksanakan musyawarah desa untuk perencanaan pembangunan tahun 2019.

Dalam kesempatan itu, Sri sempat bercerita jika kedatangannya ke Desa Sumberagung membuatnya terkenang masa lalu. Ceritanya, saat remaja dulu, Sri sering tinggal di rumah kakaknya yang waktu itu masih jadi guru di SD Sumberagung. Hampir setiap libur sekolah, Sri dan adik serta beberapa keponakannya selalu menginap di Sumberagung selama beberapa hari.

”Dulu kalau kesini saya jalan kaki dari jalan raya Purwodadi-Blora ke Sumberagung yang jauhnya sekitar 9 km. Waktu itu, jalannya masih jelek dan suasananya agak seram karena kawasan hutan sekitar sini pohonnya besar-besar,” katanya.

Selama tinggal di Sumberagung, Sri menyatakan, belum pernah terjadi banjir di desa tersebut. Oleh sebab itu, ia sempat merasa kaget ketika mendapat laporan adanya banjir bandang di Sumberagung yang menyebabkan banyak kerusakan infrastruktur.

”Saya belum pernah menjumpai banjir bandang di sini. Barangkali, lingkungan alam yang berubah, menjadi salah satu penyebab banjir di sini,” katanya.

Editor: Supriyadi

Puluhan Rumah di Desa Sumberagung Grobogan Diterjang Banjir Bandang

MuriaNewsCom, GroboganMusibah banjir bandang melanda Desa Sumberagung, Kecamatan Ngaringan, Grobogan, Senin (26/2/2018). Banjir yang menerjang sekitar pukul 16.30 WIB itu menyebabkan puluhan rumah di beberapa dusun terendam air selama beberapa jam.

Dari rumah yang terkena banjir bandang, sedikitnya ada lima rumah yang rusak parah. Hal ini terjadi karena air yang masuk rumah tingginya mencapai 1 meter.

Rumah yang terendam cukup tinggi mengakibatkan barang didalamnya sebagian hanyut terbawa air. Antara lain, jagung hasil panen, pakaian hingga uang tunai Rp 10 juta.

”Ada tiga dusun yang terkena dampak banjir bandang. Jumlah rumah yang sempat kemasukan air ada puluhan. Ini, saya masih dilapangan untuk melakukan pendataan. Banjir disebabkan turunnya hujan deras sejak siang hingga sore,” kata Kades Sumberagung Rusno.

Selain rumah rusak, dampak banjir bandang juga menyebabkan akses jalan menuju Desa Karangasem, Kecamatan Wirosari longsor. Jalan yang longsor ada tiga titik sehingga tidak bisa dilalui untuk akses kendaraan roda empat.

Editor: Supriyadi

Bantu Penanganan Banjir Brebes, 6 Personel BPBD Grobogan Dikirim ke Lokasi Bencana

MuriaNewsCom, Grobogan – Dukungan penanganan bencana alam yang melanda wilayah Brebes sejak beberapa hari lalu datang dari berbagai pihak. Termasuk diantaranya adalah dukungan personel Dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan.

Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono menyatakan, ada enam petugasnya yang dikirim ke Brebes untuk membantu menangani bencana dikabupaten tersebut. Tim pendukung diberangkatan Jumat (23/2/2018) malam.

“Enam petugas BPBD sudah berangkat ke Brebes, Jumat malam. Petugas yang mendukung penanganan bencana juga membawa peralatan cukup lengkap,” kata Agus, saat ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (24/2/2018).

Menurutnya, pengiriman personel ke Brebes dilakukan menyusul instruksi dari BPBD Jateng. Yakni, daerah-daerah yang kondisinya relatif aman diminta mengirimkan tim untuk membantu penanganan bencana di Brebes dan sekitarnya.

“Dari instruksi ini, kita kirimkan enam petugas kesana. Kebetulan, saat ini, intensitas bencana di wilayah Grobogan tidak begitu tinggi sehingga sebagian petugas bisa kita perbantukan ke Brebes,” sambungnya.

Sementara itu, Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrcihan menambahkan, tim pendukung sudah tiba di Brebes pagi tadi. Setelah itu, tim bergabung dengan personel lainnya untuk melakukan penanganan bencana.

“Ada dua jenis bencana yang terjadi di Brebes, yakni banjir dan longsor. Kita diminta mendukung penanganan bencana banjir. Khususnya, untuk membantu evakuasi warga,” kata Masrichan yang ikut bergabung ke Brebes itu.

Editor: Supriyadi

Dapat Kiriman Air dari Klambu, Korban Banjir Jati Wetan Kembali ke Pengungsian

MuriaNewsCom, Kudus – Pengungsi yang ada di Aula Balai Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati mulai pulang ke rumah masing-masing, Rabu (21/2/2018). Namun, beberapa pengungsi terpaksa kembali ke pengungsian karena adanya kiriman air dari Klambu.

Kepala Desa Jati Wetan Suyitno mengatakan, dari pantauan di lapangan beberapa dukuh yakni Tanggulangin, Barisan dan Gendok genangan sudah menyurut. Oleh karenanya, banyak warga yang memutuskan untuk pulang dan membersihkan rumah mereka.

“Namun ini ada kabar bahwa ada kiriman air dari Klambu, sebanyak 750 meter kubik. Sehingga akhirnya pintu air ditutup, sementara air dari Sungai Wulan melimpas, mencari tempat rendah. Sehingga kembali menggenang ke perkampungan,” tuturnya.

Hingga Rabu pagi, di pengungsian terdapat 122 jiwa dari 35 Kepala Keluarga. Hal itu jauh berkurang bila dibandingkan pada hari Selasa yang mencapai 234 jiwa. Namun demikian, dengan adanya air yang kembali masuk, dimungkinkan penduduk bisa kembali lagi ke pengungsian.

Mereka yang tak berada di pengungsian kebanyakan bekerja ataupun telah pulang untuk membersihkan rumah.

Yatini (33) warga Dukuh Tanggulangin membenarkan hal itu. Sebenarnya ia sudah pulang ke rumahnya di RT 4 RW 4, untuk membersihkan rumahnya. Namun baru setengah jam dibersihkan, air kembali menggenang.

“Tadi menggenangnya semata kaki. Padahal baru dibersihkan sekitar setengah jam, airnya datang lagi,” ungkapnya.

Warga lain, Sukarisih mengatakan, sedianya ia pulang pada Rabu sore. Karena kondisi air yang kembali menggenang, ia memikirkan ulang putusannya itu.

Editor: Supriyadi

Puluhan Rumah di Desa Gedangan Jepara Masih Terendam Banjir

MuriaNewsCom, Jepara – Puluhan rumah di Desa Gedangan, Kecamatan Welahan masih tergenang banjir, meskipun curah hujan cenderung berkurang, Selasa (20/2/2018). Pantauan terakhir, pada Senin (19/2/2018) malam, ketinggian air di tempat tersebut mencapai 70 sentimeter.

Pujo Prasetyo Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Jepara mengatakan, ada 49 rumah warga di RT 1 RW 2 dan RT 3 RW 1 terendam. Menurutnya, ketinggian air bervariasi, mulai 30 sentimeter, dan terdalam 70 sentimeter.

“Ini sudah mulai surut, mudah-mudahan banjir segera menyusut seiring cuaca yang cerah. Genangan air sudah terjadi sejak Minggu (11/2/2018),” ujarnya, Selasa siang.

Menurutnya, penyebab banjir diduga karena tak optimalnya pintu air Sungai Welahan Drainage (SWD) I. Pintu tersebut merupakan penyekat antara Sungai Serang dan SWD I.

Namun, karena adanya kerusakan di pintu air, sehingga air masih dapat menerobos di antara celah pintu air. “Pintunya masih berfungsi, namun karena pintunya keropos sehingga menyisakan lubang. Dari lubang tersebut air dapat masuk ke Sungai Serang dan akhirnya menggenangi pemukiman warga,” kata Pujo.

Ia menyebut, pemerintah desa setempat sebenarnya punya niatan memperbaiki kerusakan tersebut. Namun apa daya, mereka tak punya kewenangan, karena pintu air tersebut merupakan wewenang Pemkab Jepara.

“Sampai saat ini, penduduk masih bertahan di rumah masing-masing, tidak ada yang mengungsi,” terang Pujo.

Editor : Supriyadi

Banjir Tak Kunjung Surut, Ratusan Warga Desa Jati Wetan Mengungsi di Balai Desa

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan warga Desa Jati Wetan mengungsi ke balai desa setempat akibat banjir yang tak kunjung surut. Hingga Senin (19/2/2018) pagi terdapat 238 orang yang tak dapat pulang ke rumah karena banjir terus meninggi semenjak hari Jumat (16/2/2018).

Lamini (60) warga Desa Jati Wetan RT 1 RW 3 mengaku, banjir sudah melanda sejak 12 hari lalu. Namun, sejak Jumat lalu air yang masuk ke rumahnya kian meninggi.

Hal itu jelas mengganggu aktifitas kesehariannya. Belum lagi rasa gatal yang menyerang, akibat rendaman banjir yang tak kunjung surut.

“Di halaman rumah saya itu segini (sambil menunjuk perut) kalau di dalam rumah ya segini, sebetis,” ujarnya, ditemui di Aula Balai Desa Jati Wetan.

Menurutnya, sebelum mengungsi ke Aula balai desa, ia sebelumnya menumpang di rumah anak-anaknya. Namun karena mobilitasnya terganggu, ia akhirnya memilih mengungsi ke aula, bersama anaknya yang paling kecil.

Evi warga RT 4 RW 3 Dukuh Tanggul Angin, Desa Jati Wetan mengaku, rumahnya sudah tergenang sejak 15 hari belakangan. “Kalau ngungsinya baru hari Jumat kemarin, karena air terus meninggi dan tak kunjung surut,” tuturnya.

Menurut pengalamannya, air baru berangsur surut jika hujan tak mengguyur dan air di Sungai Wulan, telah surut. Hal itu karena, kondisi tanah yang ada di kampungnya memang cekung.

Data dari Pemerintah Desa Jati Wetan, ada 73 Kepala Keluarga yang menungsi. Jumlah itu terdiri dari 238 jiwa, yang tinggal di tiga Dukuh yakni Tanggulangin, Gendok dan Barisan meliputi RT 1,2,4,5 dan 6 RW 3.

Adapun, jumlah balita terdiri atas 24 jiwa, anak-anak 74 jiwa, Dewasa 135 jiwa, lanjut usia 5 jiwa. “Ada yang sudah pulang ke rumah mereka sebanyak satu Kepala Keluarga berjumlah 2 jiwa,” ujar Sekretaris Desa Jati Wetan Much. Yakub.

Menurutnya, banjir tak kunjung surut karena debit sungai Wulan tak kunjung berkurang. Selain itu, lokasi perkampungan memiliki kontur tanah yang cekung.

“Lokasi kita berdekatan dengan Sungai Wulan, sementara debit air di sungai itu masih banyak, air yang dari wilayah Kota Kudus, lewatnya di daerah kita. Alhasil air tak bisa langsung ke Wulan,” terangnya.

Di samping itu, gencarnya pembangunan perkampungan maupun pabrik disekitar desa juga turut andil. Ia berkata, pihaknya ingin agar di desa tersebut dibangun embung agar dapat menampung air sebelum akhirnya dibuang ke Sungai Wulan.

“Hingga kini kami mengajukan untuk merealisasikan hal itu belum bisa,” kata dia.

Terkait kebutuhan dasar pengungsi yang ada di Aula Desa Jati Wetan, pihaknya mengaku sudah terpenuhi. Setiap hari BPBD dan Tagana bersiaga untuk menyediakan konsumsi bagi pengungsi. Selain itu, dari dinas kesehatan juga menyiagakan petugas dari Puskesmas yang selalu di rolling untuk berjaga melayani warga‎.

Editor: Supriyadi

Debit Air Terus Naik, Warga di Sepanjang Aliran Sungai Lusi Grobogan Siaga Banjir

MuriaNewsCom, Grobogan – Kewaspadaan terhadap ancaman banjir saat ini harus lebih ditingkatkan. Khususnya bagi mereka yang tinggal di sepanjang aliran dua sungai besar di kota Purwodadi. Yakni, Sungai Lusi dan Glugu. Kondisi ini dipicu naiknya elevasi sungai itu seiring turunnya hujan deras didaerah hulu dalam beberapa hari terakhir.

Dari pantauan di lapangan, kondisi Sungai Lusi di utara kota Purwodadi sudah mulai penuh airnya. Kondisi elevasi atau ketinggian air sudah hampir sejajar dengan tanggul sungai.

Naiknya elevasi tersebut sudah menggenangi jalan dan menjangkau ke areal permukiman. Antara lain, di Desa Jono, dan Mayahan (Kecamatan Tawangharjo), Getasrejo dan Rejosari (Kecamatan Grobogan) dan Desa Menduran (Kecamatan Brati). Kemudian, diwilayah Kecamatan Purwodadi ancaman banjir sudah terlihat di Desa Karanganyar serta sebagian wilayah kota. Seperti kampung Jetis, Jajar dan Kemasan.

”Sejak tadi malam, kita sudah diminta waspada. Soalnya, ketinggian air sungai Lusi naik terus,” kata Agus Winarno, warga Kampung Jajar, Purwodadi.

Sejumlah anak kecil bermain ditengah banjir yang melanda Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan Agus Sulaksono menegaskan, dalam beberapa hari terakhir, memang terjadi kenaikan elevasi sungai-sungai diwilayahnya. Untuk itu, ia meminta masyarakat agar waspada terhadap ancaman banjir.

Meski meminta waspada, masyarakat diminta tidak perlu panik. Soalnya, pihak BPBD dan instansi terkait lainnya terus melakukan monitoring dan sudah menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan.

Menurut Agus, naiknya elevasi sungai, khususnya sungai Lusi itu memang sudah diantisipasi jauh hari sebelumnya. Semua petugas penanganan bencana sudah diminta siaga serta memonitor elevasi sungai secara rutin. Selain itu, anggota juga sudah menyiapkan peralatan penanganan banjir jika sewaktu-waktu diperlukan.

Dijelaskan, dari pengalaman banjir dua kali pada akhir tahun 2007 lalu memang bisa dipantau dari tingginya elevasi sungai Lusi. Jika elevasi sungai ini tinggi maka aliran air dari sungai Glugu maupun anakan sungai Lusi dari arah pegunungan akan tertahan. Akhirnya, air sungai yang tidak bisa masuk ke sungai Lusi ini akan meluap ke perkampungan penduduk.

Editor: Supriyadi

Alamak!! Puluhan Rumah di Desa Lemahputih Grobogan Terendam Banjir dalam Hitungan Jam

MuriaNewsCom, GroboganBencana banjir terjadi lagi di wilayah Grobogan, Sabtu (10/2/2018). Kali ini, bencana banjir melanda Desa Lemahputih, Kecamatan Brati. Sebelumnya, bencana banjir bandang sempat menerjang beberapa desa di Kecamatan Grobogan pada Jumat malam hingga Sabtu dinihari.

”Banjir di wilayah Kecamatan Grobogan sudah surut. Sekarang bencana banjir ada di Desa Lemahputih,” kata Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrichan.

Banjir di Desa Lemahputih mulai terpantau sejak pukul 08.00 WIB. Saat itu, kondisi air sebagian besar masih menggenangi areal sawah.

Baca: Banjir Bandang, Ribuan Rumah di Wilayah Kecamatan Grobogan Terendam Air

Dalam beberapa jam, debit air terus bertambah hingga menggenangi jalan antardusun maupun antardesa. Bahkan, hingga lewat tengah hari, luapan air mulai memasuki sejumlah rumah penduduk di Dusun Mlakas.

”Jumlah rumah yang tergenang masih dalam pendataan. Sementara ada puluhan rumah yang sudah tergenang air dengan ketinggian masih sekitar 10-20 sentimeter,” jelasnya.

Masrichan menyatakan, pihaknya masih terus melakukan pemantauan dan menyiagakan sejumlah personel di lokasi. Tindakan itu dilakukan karena dari pengamatan dilapangan, debit air diprediksi masih bisa naik lagi.

”Kita juga sudah koordinasi dengan pihak desa dan instansi terkait lainnya. Kami minta masyarakat agar tetap waspada,” sambungnya.

Editor: Supriyadi

Banjir Bandang, Ribuan Rumah di Wilayah Kecamatan Grobogan Terendam Air

MuriaNewsCom, Grobogan – Bencana banjir bandang melanda sejumlah desa di wilayah Kecamatan Grobogan, Jumat malam hingga Sabtu (10/2/2018) dinihari. Dampak banjir paling parah terjadi di Desa Lebak, dan Putatsari karena ada ratusan rumah yang sempat kemasukan air hingga 50 sentimeter.

Selain itu, ada banjir bandang juga sempat menjangkau wilayah Desa Teguhan, Karangrejo, dan Ngabenrejo. Banjir pada tiga desa ini terjadi akibat pergerakan air dari wilayah Desa Lebak dan Putatsari.

Banjir bandang terjadi akibat hujan deras di wilayah Desa Sumberjatipohon dan Lebengjumuk sejak sore hingga waktu isak. Hujan deras mengakibatkan sungai-sungai di kawasan itu tidak mampu menampung debit air sehingga meluap ke persawahan dan pemukiman penduduk.

Luapan air sungai mulai masuk ke rumah penduduk sekitar pukul 20.00 WIB. Banjir bandang berangsur-angsur surut mulai dinihari hingga menjelang Subuh.

Banjir bandang melanda sejumlah desa di wilayah Kecamatan Grobogan, Sabtu (10/2/2018) dinihari. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrichan menyatakan, dampak banjir bandang menyebabkan lebih dari 1.000 rumah warga tergenang dengan ketinggian air mulai 15-50 centimeter. Air yang menggenangi rumah hanya berlangsung beberapa jam dan kemudian berangsur surut karena bergeser ke kawasan yang lebih rendah.

”Tidak ada korban jiwa dalam musibah banjir bandang semalam. Banjir disebabkan tingginya curah hujan diwilayah atas selama beberapa jam,” katanya.

Selain banjir, tingginya curah hujan juga mengakibatkan bencana longsor di Desa Sedayu. Bencana longsor mengakibatkan akses jalan dari Dusun Sandi, Desa Sedayu menuju Dusun Pucung, Desa Lebak terputus. Kemudian, ada satu rumah yang dilaporkan rusak akibat dampak longsor.

Editor: Supriyadi

Tinggal 1,5 Meter, Tanggul Sungai Wulan di Medini Kudus Terancam Jebol

MuriaNewsCom, Kudus – Tergerus aliran air, tanggul Sungai Wulan di Desa Medini, Kecamatan Undaan kini hanya menyisakan luas 1,5 meter. Jika tak segera ditangani, bisa saja bangunan tersebut jebol.

Camat Undaan Rinardi Budiyanto mengatakan, kondisi tanggul sungai tersebut memang sudah sangat kritis. Lantaran gerusan air yang begitu deras. Sebelumnya, tanggul tersebut sudah menampakan tanda-tanda kerapuhan.

“Tanggul yang kritis memiliki panjang 100 meter, dari total panjang tanggul yang mencapai 200 meter dari gang 14 hingga 17. Bagian yang kritis kini tinggal menyisakan luas sekitar 1,5 meter dari mulanya 4 meter,” kata Rinardi.

Namun demikian, pihaknya tak lantas bisa mengambil tindakan. Hal itu karena kewenangan perbaikan tanggul berada di tangan BBWS Pemali Juwana. Menurut Rinardi, sudah ada petugas dari Balai Besar Wilayah Sungai yang turun ke lokasi tanggul kritis di Desa Medini.

Ia menuntut, perbaikan segera dilakukan mengingat musim hujan tengah mencapai puncaknya. Pihak Desa Medini mengaku telah mengirimkan surat terkait hal tersebut kepada BBWS Pemali Juwana jauh jauh hari.

“Pengalaman di tahun 2002 dan 2007 silam tanggul pernah jebol. Kini tanggul tengah dalam kondisi kritis, hal itu tentu mengancam ribuan warga Medini. Maka dari itu harus segera ditangani.” tegasnya.

Editor: Supriyadi

Ini 7 Kecamatan di Kudus yang Terkena Bencana Saat Hujan Tinggi Melanda

MuriaNewsCom, Kudus – Hujan intensitas tinggi menyebabkan bencana banjir dan longsor di Kabupaten Kudus, Senin (5/2/2018). Tercatat ada tujuh kecamatan, di Kota Kretek yang terdampak. Saat ini pemerintah kabupaten tengah melakukan pembenahan dan memberikan bantuan kepada warga.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kudus Bergas C. Penanggungan mengatakan, ada tujuh kecamatan yang terdampak. Lima di antaranya mengalami banjir, yakni Kecamatan Jekulo, Mejobo, Jati, Bae dan Kaliwungu. Sementara dua sisanya yakni Dawe dan Gebog mengalami bencana tanah longsor.

“Banjir di Kecamatan Jekulo merendam Desa Plajen, Padang, Sido Mulyo, Bulung Kulon dan Bulung Cangkring. Sementara di Kecamatan Bae, genangan air terjadi di satu desa yakni Ngembal Rejo dan di Mejobo tiga desa setidaknya terendam air yakni Desa Hadiwarno, Kirik dan Temulus,” ucapnya, Selasa (6/2/2018).

Dirinya mengungkapkan, hingga Selasa pagi desa-desa di kawasan Kecamatan Jati sudah surut. Di antaranya di Desa Tanjung Karang, Gamong dan Sido Rekso. Sementara itu di wilayah selatan masih terdapat beberapa titik yang tergenang banjir.

Bergas melanjutkan, saat ini warga tengah melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan rumah. Selain itu, pihaknya juga bergotong royong dengan TNI dan Polri serta PMI Kudus untuk menambal tanggul jebol, di Sungai Piji, Desa Hadiwarno mulai pagi ini.

“Warga (Desa Hadiwarno) yang mengungsi di Puskesmas Mejobo sudah pulang dan membersihkan rumahnya,” urainya.

Sedangkan, wilayah yang terdampak longsor berada di lereng Gunung Muria. Di antaranya Desa Japan di Kecamatan Dawe dan Desa Kedungsari serta Menawan di Kecamatan Gebog.

“Pada kejadian longsor, ada 17 rumah yang terdampak. Sementara sebanyak 15 kepala keluarga di Kecamatan Dawe mengungsi ke rumah saudaranya. Material longsoran menutupi jalan desa,” pungkas Bergas.

Editor: Supriyadi

Begini Kondisi Terkini Rumah Warga yang Terendam Banjir di Mejobo Kudus

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah desa di Kecamatan Mejobo masih tergenang banjir. Di antaranya Desa Mejobo dan Desa Temulus serta Kesambi. Air bahkan masuk ke rumah-rumah warga dan menggenangi areal persawahan, Selasa (6/2/2018).

Seperti di rumah Sukarmi (38), terletak di Dusun Mejobo Kidul air masih terlihat menggenangi teras depan. Sementara di bagian dalam, nampak masih basah karena baru saja dibersihkan.

“Kalau air sampai di rumah saya, itu tengah malam, sekitar pukul 24.00,” ucapnya.

Ia mengungkapkan, banjir terjadi karena tumpahan air dari sungai yang ada di Desa Mejobo dan Temulus. Selain itu, kiriman banjir juga disebabkan karena tanggul Sungai Piji di Desa Hadiwerno jebol, pada Senin (5/2/2018) sore.

“Ini nanti kalau surut ya bergantung cuaca, kalau hujan tak kunjung reda ya agak lama. Namun kalau cuaca panas sehari sampai dua hari bisa surut,” ungkapnya.

Hal serupa diungkapkan oleh Sulasih, warga Desa Mejobo. Menurutnya air sudah masuk ke rumahnya sejak pukul 18.00 WIB, Senin petang.

“Ini airnya dari sungai yang ada dibelakang rumah saya. Kemarin itu selutut, tapi sekarang sudah surut,” ucapnya.

Banjir, kata Sulasih, juga berasal dari luapan Sungai yang ada di Dekat Pasar Mbrayung. “Ini paling bisa surut satu dua hari, kalau daerah Kesambi mungkin tiga harian,” tuturnya.

Di Desa Temulus kondisi terbilang lebih parah. Pantauan MuriaNewsCom, banyak rumah yang kemasukan air. Selain itu, air juga masuk ke SD 5 Temulus, dan mengakibatkan sekolah diliburkan.

Air masih menggenang di beberapa desa yang ada di Kecamatan Mejobo, Kudus, Selasa (6/2/2018). (MuriaNewsCom/Padang Pranoto)

Selain itu, kondisi sungai yang membelah desa tersebut juga masih penuh dengan air. Air terlihat merangsek memasuki jalan-jalan kampung, mencari jalan menuju ke persawahan, yang lebih rendah.

Diberitakan sebelumnya, hujan intensitas tinggi mengguyur wilayah Kabupaten Kudus pada Senin pagi hingga sore. Hal itu menyebabkan debit air di sungai-sungai meningkat. Selain itu, arus lalulintas pada jalur Kudus-Pati sempat tergenang, sehingga menyebabkan kepadatan arus kendaraan.

Editor: Supriyadi

Banjir Rendam Sebagian Wilayah di Pati, Warga Diminta Waspada

MuriaNewsCom, Pati – Hujan lebat yang mengguyur Kabupaten Pati sejak Senin (5/2/2018) sore membuat sebagian wilayah Bumi Mina Tani terendam banjir. Salah satunya adalah di Desa Widorokandang, Kecamatan Kota yang masih direndam hingga pagi ini.

Kepala Pelaksana BPBD Pati, Sanusi mengatakan kondisi genangan air tetsebut merupakan imbas dari luapan sungai yang ada di Desa setempat. Curah hujan yang tinggi mengakibatkan debit air sungai meningkat. Terlebih di sekitar lokasi sungai dipenuhi sampah yang memicu penyumbatan.

“Info yang kami terima sampai pagi ini ketinggian air sekitar betis orang dewasa. Itu ada luapan air dari jembatan yang dekat Desa itu,” kata Sanusi seperti dikutip detikcom, Selasa (6/2/2018).

Sanusi mengakui pihaknya belum melakukan pendataan pasti berapa jumlah unit rumah warga yang terdampak banjir. Ia pun mengimbau agar warga bersiaga untuk evakuasi diri.

“Kalau sampai siang ini air masih menggenang, kami sarankan warga agar bisa evakuasi diri. Tapi sampai saat ini warga masih memilih untuk bertahan, hanya memindahkan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi,” jelasnya.

Sementara itu, dari informasi banjir juga melanda sebagian di wilayag Kecamatan Gabus. Salah satunya adalah desa Mintobasuki. Genangan air paling parah berada di RT 3/RW 1 lantaran sampai masuk rumah warga.

Selain di Gabus, genangan air juga terjadi di jalur pantura Pati-Juwana sejak semalam. Ketinggian air setinggi sekitar 10 sentimeter, mengakibatkan arus lalu lintas di sekitar lokasi padat merayap.

Editor: Supriyadi

Petugas melakukan pengamanan lalu lintas di jalan pantura Pati-Juwana sejak semalam. (Humas Polres Pati)

Banjir Kudus Tak Kunjung Surut, Ketinggian Air di Mejobo Masih Setengah Meter

MuriaNewsCom, Kudus – Banjir yang melanda Kabupaten Kudus sejak Senin (5/2/2018) sore masih belum surut hingga pagi ini. Bahkan, beberapa titik di Kecamatan Mejobo ketinggian air terbilang cukup tinggi, yakni berkisar 50-80 sentimeter.

Salah satunya adalah di depan Pasar Brayung. Di pasar tradisional ini ketinggian air mencapai 60 sentimeter atau selutut orang dewasa. Akibatnya, aktivitas di pasar tersebut mandek.

Sulatri, salah satu penjual daging di Pasar Brayung mengatakan, saat ini ketinggian air memang terbilang lebih rendah dari kemarin sore. Meski begitu, pihaknya tak bisa melakukan aktivitas dagang seperti biasanya.

”Kemarin memang lebih tinggi. Pas saya ke sana di bagian barat pasar sampai pinggang,” katanya.

Selain di depan Pasar Brayung, beberapa titik di Kecamatan Mejobo juga masih tinggi. Beberapa di antaranya berada di depan Balai Desa Mejobo, pertigaan Mejobo, depan SDN 3 Mejobo, dan depan SMP N 2 Mejobo.

Baca: Hujan Lebat Jebolkan Tanggul Sungai Piji, Kudus Terendam Banjir

Sementara itu, kondisi di Desa Hadiwarno, banjir sudah berkurang. Namun ada beberapa warga yang terpaksa harus dievakuasi untuk mengungsi, di mana evakusi dilakukan oleh BPBD dan satpol PP, TNI, Polri dan warga.

Sebanyak 11 orang mengungsi di Puskesmas Mejobo, dan 7 orang mengungsi di Balai Desa lama di Mejobo.

“Untuk kebutuhan logistik telah di-back up oleh UPT Puskesmas Mejobo dan Jepang, BPBD, kecamatan dan unsur terkait,” kata salah seorang relawan BPBD Kudus Arif Waluyo melalui pesan pendek kepada wartawan.

Sedangkan kondisi lalu lintas jalur pantura lancar, namun banyak berlubang. Wilayah lain yang terpantau masih tergenang antara lain Deas Golan Tepus, Kesambi, dan Temulus. Namun situasi masih relatif aman.

Dia berharap agar warga mewaspadai cuaca yang masih dimungkinkan hujan terutama di daerah Muria. Karena di sana terdapat Kali Juwana dan Waduk Kedungombo.

“Namun sampai saat ini kedua hal tersebut terpantau masih aman,” tuturnya.

Editor: Supriyadi

Hujan Lebat Jebolkan Tanggul Sungai Piji, Kudus Terendam Banjir

MuriaNewsCom, Kudus – Hujan lebat di Kota Kretek mengakibatkan sejumlah wilayah terendam air, Senin (5/2/2018) sore. Menurut data sementara BPBD Kudus, ada beberapa wilayah yang terimbas.

“Banjir melanda sejumlah titik seperti Pladen, Ngembalrejo dan Perum Barisan di Kudus. Ketinggian bervariasi antara 10 centimeter hingga 75 centimeter,” kata Bergas C Penanggungan, Kepala BPBD Kudus.

Selain itu, ia membenarkan adanya informasi terkait jebolnya tanggul di Sungai Piji, Hadiwarno, Kecamatan Mejobo.  Ia mengatakan saat ini sedang turun ke lapangan guna menentukan langkah selanjutnya.

Ia mengatakan, jebolan tanggul sepanjang 10 meter dan ketebalan sekitar dua meter. Dirinya memperkirakan jebolnya tanggul karena kondisinya yang telah retak-retak.

“Itu (tanggul) memang mulai retak-retak, sedangkan volume airnya meningkat. Kami saat ini belum bisa mengonfirmasi terkait warga yang terimbas dengan jebolnya tanggul tersebut,” tuturnya.

Bergas menuturkan, aliran sungai tersebut berasal dari pegunungan Muria. Dengan intensitas hujan yang turun sekitar 300 milimeter.

Editor Supriyadi

Hujan Deras, Sungai di Desa Sengon Bugel Jepara Meluap

MuriaNewsCom, Jepara – Hujan berdurasi lama menyebabkan aliran sungai di Desa Sengon Bugel, Kecamatan Mayong meluap hingga ke jalan raya, Senin (5/2/2018) sore. Praktis hal itu menyebabkan antrean kendaraan cukup panjang, sekitar satu kilometer lebih.

Sugiharto (30) warga Pecangaan Kulon mengaku lebih memilih berbalik arah ketimbang meneruskan perjalanan. Ia takut kalau-kalau motornya mati dan ia harus mendorong kendaraannya.

“Saya pilih balik saja, memutar lewat Rajegwesi kemudian ke Batealit dan ke Pecangaan, daripada mesinnya mati,” katanya.

Pantauan MuriaNewsCom, air dari Sungai Bugel meluap sekitar 30 centimeter lebih. Jika lebih mendekati sungai, maka kedalamannya pun semakin bertambah. Beberapa motorpun ada yang terlihat mati mesin karenanya.

Bagi yang nekat menyebrang, mereka sebenarnya bisa menyewa gethek yang disewakan oleh warga sekitar. Namun jumlahnya yang tak banyak, mengakibatkan mereka harus mengantre.

Para pengguna jalan terjebak macet akibat luapan air sungai saat hujan deras. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Satria (30) warga sekitar menyebut, genangan air di wilayah tersebut sudah lazim terjadi jika hujan dengan intensitas yang lama. Namun demikian, setelah hujan berhenti, air kemudian berangsur-angsur surut.

Dari pengamatan lapangan, jalanan yang tergenang air bukan hanya di satu titik. Dari sepanjang jalan Nalumsari hingga Sengon Bugel, setidaknya terdapat tiga titik genangan. Pertama di ruas sebelum Pasar Mayong, kedua di depan Polsek Mayong dan di sekitar jembatan kecil Sengon Bugel.

Untuk mengurai kemacetan, Satlantas Polres Jepara menurunkan personel. Iptu Suyitno KBO Lantas Jepara menyebut, di titik depan Mapolsek Mayong kemacetan dikarenakan sungai kecil di sekitar tempat itu tak mampu menampung air hujan.

“Hujan dari tadi pagi hingga kini, menyebabkan sungai meluap. Kebetulan lokasi ini adalah cekungan jadi menyebabkan genangan air. Ketinggiannya mencapai 20-30 centimeter,” ujarnya.

Selain karena banjir, kemacetan juga ditimbulkan oleh karyawan pabrik yang sedang pulang dari tempat kerja. Sementara itu, banjir juga sempat menggenangi RSU PKU Muhammadiyah Mayong. Namun tak lama setelahnya, air lantas surut.

Editor: Supriyadi

Januari Puncak Musim Hujan, Ancaman Banjir Meningkat

MuriaNewsCom, Semarang – Bulan Januari 2018 ini diperkirakan akan menjadi puncak musim hujan. Dengan demikian, ancaman terjadinya bencana banjir semakin meningkat. Terlebih hampir semua daerah di Jateng rawan terkena bencana ini.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng memastikan, telah melakukan pemetaan daerah mana saja yang berpotensi terjadi banjir. Pemetaan dilakukan di seluruh wilayah Jateng.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Jateng Sarwa Pramana mengatakan Januari 2018 ini diprediksi curah hujan akan sangat tinggi. Personel BPBD di sejumlah kabupaten/kota di Jateng diminta siaga dan warga juga waspada terhadap potensi luapan air sungai, yang bisa memicu banjir.

“Prediksinya curah hujan antara 300-500 milimeter. Sehingga temen-temen (personel BPBD) harus betul-betul siaga penuh,” katanya.

Ia menyebut, dalam beberapa waktu terakhis sudah banyak terjadi banjir akibat tanggul jebol. Di antaranya di Grobogan, Kebumen, Cilacap dan Brebes.

Ia menjelaskan pada November 2017 lalu terjadi perubahan cuaca ekstrem, yang diakibatkan lintasan badai siklon tropis Cempaka. Lintasan badai itu menyebabkan perubahan cuaca ekstrem, sehingga sejumlah daerah terdampak.

Wilayah di Jateng yang terdampak di antaranya Kabupaten Wonogiri, Klaten dan Solo Raya. Wilayah-wilayah tersebut dilaporkan terjadi angin kencang dan hujan lebat dengan intensitas tinggi, sehinga mengakibatkan bencana banjir melanda beberapa wilayah.

Lebih lanjut Sarwa menjelaskan, tim BPBD yang ada di kabupaten/kota di Jateng juga diminta menyebarkan nomor telepon posko bencana kepada masyarakat. Sehingga, ketika terjadi bencana masyarakat bisa melaporkan ke petugas BPBD setempat.

Editor : Ali Muntoha

Kerugian Materiil Bencana Banjir di SMKN I Batealit Jepara Capai Rp 400 Juta

MuriaNewsCom, Jepara – Selain membuat kegiatan belajar mengajar lumpuh, banjir yang melanda SMKN I Batealit juga menimbulkan kerugian materiil. Ini lantaran, ada empat laboratorium yang terendam dan membuat sebagian alat rusak.

Tak hanya itu, kuatnya terpaan air juga membuat beberapa bagian bangunan di ruang PKJ jebol. Bahkan pagar sekolah juga ikut ambrol karena tak bisa menahan arus air.

”Jika dihitung-hitung kerugian materiil mencapai Rp 400 juta lebih,” kata Purwandono, salah satu guru‎ SMKN 1 Batealit.

Baca: Sungai Dibendung Proyek Perumahan, SMKN 1 Batealit Jepara Kebanjiran

Ia menjelaskan, banjir kali ini memang bukan yang pertama. Sebelumnya, banjir sudah pernah menyambangi tempatnya mengajar tersebut. Akan tetapi tahun ini yang paling parah. Meski air cepat surut, namun genangannya masuk ke ruangan kelas dan laboratorium serta membuat pagar dan tembok ruangan ambrol.

Akibatnya, pihak sekolah terpaksa memulangkan siswa lebih awal karena kondisi sekolah yang tidak memungkinkan dibuat pembelajaran.

Baca: 9 Kelas Terendam Air, Aktivitas Belajar Mengajar di SMKN I Batealit Jepara Lumpuh

Sebelumnya, Purwandono menduga, banjir setinggi betis orang dewasa itu meluap dari Kali Mati yang ada disekitar lokasi yang dibendung karena ada pengerjaan proyek perumahan.

Disebut Kali Mati lantaran sungai yang berada tak jauh dari sekolah itu memang sudah tak berfungsi maksimal. Setiap harinya, terutama di musim kemarau sungai itu mati. Hanya, saat musim hujan tiba, sungai tersebut kembali berfungsi dan mengalirkan air dari daerah atas.

Namun karena sungainya dibendung, air tidak bisa lancar dan meluap. Ditambah lagi, hujan deras mengguyur Batealit sejak Kamis (11/1/2018) dini hari.

Editor: Supriyadi

9  Kelas Terendam Air, Aktivitas Belajar Mengajar di SMKN I Batealit Jepara Lumpuh

MuriaNewsCom, Jepara – Banjir yang melanda SMKN I Batealit membuat kegiatan belajar mengajar lumpuh. Itu terjadi lantaran sembilan kelas dan empat laboratorium yang terendam air membawa endapan lumpur, Kamis (11/1/2018).

Purwandono, seorang guru‎ di sekolah tersebut mengatakan, banjir yang melanda SMKN I Batealit terjadi sekitar pukul 05.00-06.00 WIB. Meski cepat surut, namun air yang membawa endapan lumpur membuat kelas tak bisa digunakan.

“Selain masuk ke ruang kelas dan laboratorium (Otomotif, Agribisnis, dan Tata Boga), terpaan air juga membuat tembok ruang PKJ jebol. Bahkan pagar juga roboh,” ujarnya.

Setelah banjir surut, ruangan tidak bisa digunakan untuk belajar mengajar karena dipenuhi dengan lumpur. Warga sekolah termasuk siswa terpaksa membersihkan ruangan kelas untuk dapat digunakan kembali.

Baca: Sungai Dibendung Proyek Perumahan, SMKN 1 Batealit Jepara Kebanjiran

“Kami terpaksa memulangkan siswa lebih awal karena kondisi sekolah yang tidak memungkinkan dibuat pembelajaran,” tambahnya.

Ia mengatakan akibat kejadian tersebut, pihak sekolah menderita kerugian materil sebesar Rp 400 juta, karena alat-alat di laboratorium yang terendam.

Sebelumnya, Purwandono menjelaskan, banjir setinggi betis orang dewasa itu meluap dari Kali Mati yang ada disekitar lokasi yang dibendung karena ada pengerjaan proyek perumahan.

Disebut Kali Mati lantaran sungai yang berada tak jauh dari sekolah itu memang sudah tak berfungsi maksimal. Setiap harinya, terutama di musim kemarau sungai itu mati. Hanya, saat musim hujan tiba, sungai tersebut kembali berfungsi dan mengalirkan air dari daerah atas.

Namun karena sungainya dibendung, air tidak bisa lancar dan meluap. Ditambah lagi, hujan deras mengguyur Batealit sejak Kamis (11/1/2018) dini hari.

Editor: Supriyadi

Sungai Dibendung Proyek Perumahan, SMKN 1 Batealit Jepara Kebanjiran

MuriaNewsCom, Jepara – Kegiatan belajar mengajar di SMKN 1 Batelait, Kamis (11/1/2018) pagi lumpuh. Ini lantaran air setinggi 50 sentimeter luapan sungai di sekitar sekolah menggenang hingga ruangan kelas.

Purwandono, seorang guru‎ di sekolah tersebut mengatakan, banjir yang melanda SMKN I Batealit terjadi sekitar pukul 05.00-06.00 WIB. Air setinggi betis orang dewasa itu meluap dari Kali (sungai) Mati yang ada disekitar lokasi yang dibendung karena ada pengerjaan proyek perumahan.

“Sungai itu (Kali Mati) jika musim kemarau sebenarnya tak ada air mengalir, cuma karena ini penghujan sehingga aliran air yang turun melewatinya. Namun karena sungainya dibendung, air tidak bisa lancar dan meluap. Ditambah lagi hujan yang cukup deras sejak tadi pagi,” katanya.

Ia mengaku, banjir sudah dua kali menyambangi sekolahan. Akan tetapi tahun ini yang paling parah. Meskipun air cepat surut, namun genangannya masuk ke sembilan ruangan kelas dan empat laboratorium dan membawa endapan lumpur.

“Selain masuk ke ruang kelas dan laboratorium (Otomotif, Agribisnis, dan Tata Boga) serta kelas, terpaan air juga membuat tembok ruang PKJ jebol dan tembok pagar roboh,” ujarnya.

Setelah banjir surut, ruangan tidak bisa digunakan untuk belajar mengajar karena dipenuhi dengan lumpur. Warga sekolah termasuk siswa terpaksa membersihkan ruangan kelas untuk dapat digunakan kembali.

Editor: Supriyadi

Baca: 9 Kelas Terendam Air, Aktivitas Belajar Mengajar di SMKN I Batealit Jepara Lumpuh

Waduh, Tanggul Sungai SWD II di dekat Bendung Bumpis Jepara Longsor

MuriaNewsCom, Jepara – ‎Tanggul Sungai Serang Welahan Drainage (SWD) II yang ada di dekat bendungan Bumpis, Desa Gerdu, Pecangaan longsor.  Untuk sementara, pemerintah desa setempat memasang tanggul darurat.

Adapun kondisi longsoran, memiliki panjang hingga empat meter dengan kedalaman sekitar setengah meter. Akibatnya, banyak warga yang memiliki sawah di sekitar longsoran ketar ketir saat hujan lebat tiba.

“Tanggul longsor sudah terjadi sejak November lalu. Namun belum mendapatkan perbaikan serius,” kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Jepara, Pujo Prasetyo Rabu (10/1/2018).

Agar langkah penanganan berlangsung cepat, ia menyarankan pemdes untuk melakukan pengajuan proposal kepada instansi terkait, yakni BBWS. Hal itu mengingat kondisi debit air di SWD II deras terutama saat musim penghujan seperti ini.

Ia menyebut, yang dibutuhkan untuk perbaikan sementara adalah karung plastik. Selain itu, untuk memperbaikinya, diperlukan alat berat.

“Jika tidak segera diperbaiki kami mengkhawatirkan tanggul ambrol dan air dari sungai tersebut tumpah ke area persawahan warga. Selain itu kandang ternak milik warga juga terancam,” tuturnya.

Editor: Supriyadi

10 Desa di Dua Kecamatan di Pati Terendam Banjir

MuriaNewsCom, Pati – Bencana banjir kembali menerjang Kabupaten Pati. Setidaknya ada 10 desa di dua kecamatan yang terendam banjir dan melumpuhkan aktivitas warga lantaran ketinggian air mencapai 30 hingga 60 sentimeter.

Berdasarkan data, dua kecamatan yang terendam banjir tersebut adalah Kecamatan Jaken dan Kecamatan Jakenan. Hanya banjir paling parah terdapat di Desa Trikoyo dan Mojoluhar, Kecamatan Jaken. Di dua desa tersebut, ketinggian air mencapai selutut orang dewasa.

Selain itu, di Desa Arumanis, Mantingan, Sumberagung, Sumberejo, Lundo, Tegalarum, Kebonturi, dan Sumberan ketinggian air masih berkisar 30 – 50 sentimeter.

Kapolsek Jaken AKP Heri Teguh Rusianto menjelaskan, terjadinya bencana alam banjir tersebut disebabkan karena adanya hujan lebat yang terjadi mulai siang sampai petang, pada hari Jumat kemarin.

”Sehingga air mulai menggenangi wilayah Jaken pada malam hari hingga Sabtu dini hari,” kata Heri dilansir dari detik.com, Sabtu (6/1/18).

Meski begitu, aa memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Hanya saja kerugian materi terbilang cukup banyak. Area persawahan di kawasan tersebut direndam banjir.

Sejumlah relawan menyiapkan perahu karet untuk melakukan aktivitas di tengah kepungan banjir. (Facebook)

Rumah warga yang terbuat dari gebyok/papan kayu, ada yang hanyut. Barang-barang milik warga juga ada yang rusak dan sampai saat ini masih didata.

Sementara itu, di Kecamatan Jakenan, Kapolsek Jakenan AKP Suyatno menambahkan banjir mulai menerjang sekitar pukul 22.00 WIB malam hingga Sabtu (6/1/18) dini hari. Ketinggian air rata-rata 10 sampai 40 sentimeter.

”Di Jakenan terdapat tiga titik tersebut yang terendam banjir,” tegasnya.

Tiga titik tersebut yakni, Jembatan Glonggong sampai pertigaan Glonggong sepanjang 200 meter, dengan ketinggian air kurang lebih 10-40 sentimeter. Pertigaan Glonggong sampai Gereja Glonggong sepanjang 100 meter, dengan ketinggian air kurang lebih 15 sentimeter.

”Yang terakhir di jalan Jakenan-Winong turut Dukuh Bangklean Desa Tambahmulyo juga tergenang,” ujar Suyatno.

Ia memperkirakan, kejadian tersebut akibat luapan sungai Desa Glonggong karena hujan deras yang mengguyur cukup lama. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

“Banjir di daerah tersebut sering terjadi dikarenakan meluapnya air dari sungai. Sungai yang bersebelahan dengan jalan raya Jakenan-Winong ketika meluap langsung memenuhi jalan. Hal itu juga diakibatkan sungai tidak mampu menampung debit air kiriman dari Kecamatan Pucakwangi maupun Kecamatan Winong,” paparnya.

Saat ini, para relawan dari BPBD, kepolisian, dan TNI masih melakukan evakuasi warga di lokasi banjir tersebut. Hingga Sabtu (6/1/2018) siang, para relawan masih bersiaga di sekitar lokasi banjir.

Editor: Supriyadi

Balai Desa Kebonagung Grobogan Terendam Banjir

MuriaNewsCom, Grobogan – Banjir dadakan melanda Desa Kebonagung, Kecamatan Tegowanu, Grobogan, Jumat (5/1/2017). Banjir terjadi akibat ada talud jebol di sebelah selatan Balai Desa Kebonagung, sekitar pukul 15.00 WIB.

Jebolnya talud selebar hampir 5 meter menyebabkan air dari Kali Avour meluap. Selain menggenangi sawah, luapan air juga menggenangi halaman balai desa hingga setinggi lutut. Sebagian air dilaporkan sempat masuk ke dalam ruangan.

Selain itu, ada sejumlah kios yang kebanjiran. Posisi kios ini berada di samping balai desa.

Banjir melanda Desa Kebonagung, Kecamatan Tegowanu, Grobogan, Jumat (5/1/2017).
(MuriaNewsCom/Dani Agus)

Luapan air juga menyebabkan arus lalu lintas dari Tegowanu-Tanggungharjo tersendat. Kendaraan terpaksa harus berjalan pelan ketika melewati arus air yang keluar dari jebolan talud. Posisi talud jebol kebetulan memang cukup dekat dengan jalan raya.

“Kendaraan masih bisa lewat tetapi harus pelan-pelan. Soalnya, arus airnya masih cukup deras,” kata Camat Tegowanu Kasan Anwar, petang tadi.

Dijelaskan, kondisi Sungai Avour saat ini sedang penuh air. Soalnya, di bagian hulu sedang hujan lebat.

“Sejauh ini belum ada laporan rumah yang terkena genangan karena posisi perkampungan agak jauh dari lokasi talud jebol. Kejadian ini sudah kita laporkan sama instansi terkait. Semoga bisa segera ditangani,” katanya.

Sementara itu, Kepala DPUPR Grobogan Subiyono menyatakan, pihaknya sudah mendapat laporan adanya talud atau parapet yang jebol di Desa Kebonagung tersebut. Untuk penanganan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana.

Editor : Ali Muntoha