Sambil Gowes Ganjar Tinjau dan Selfie di Proyek Penanggulanan Banjir dan Rob

MuriaNewsCom, Semarang – Penanganan banjir dan rob di Kota Semarang menjadi salah satu prioritas Ganjar Pranowo jika kembali menjadi gubernur Jateng di periode kedua. Kamis (8/3/2018) pagi Ganjar gowes sambil memantau progres pekerjaan normalisasi Kanal Banjir Timur (KBT) dan Kolam Retensi Kaligawe (KRK).

Bersama istrinya Siti Atikoh dan Komunitas Sepeda Samba. Ia juga beberapa kali mengambil foto dan selfie dan mengambil video di lokasi yang dikunjungi. Ia menyambangi Jalan Sawah Besar dan berhenti di pertigaan menuju Pasar Waru.

Nampak persiapan normalisasi KBT sudah dimulai dengan pembebasan bantaran sungai dari bangunan. Sebagian kios-kios pedagang kaki lima dan rumah mulai kosong. Jembatan kayu yang menghubungkan Jalan Sawah Besar dan Jalan Barito sudah ditutup.

Melihat Ganjar, beberapa warga setempat mendekat. “Kios PKL dan rumah-rumah di Kelurahan Sawah Besar sudah mulai pindah. Tapi yang Kelurahan Kaligawe belum,” tutur Slamet Untung (61) warga setempat kepada Ganjar.

Sedangkan proyek kolam retensi di area Rusunawa Kaligawe sudah hampir selesai. Menurut Agung Pusmargiono, Mandor Proyek, saat ini pekerjaan sedang dikebut dengan target Agustus tahun ini.

“Sekarang ini penyelesaian pintu air, kolam retensi ini akan membantu menyedot air yang biasanya bikin banjir di Kaligawe. Air kaligawe akan disedot lalu dialirkan ke KBT,” kata Agung.

Satu lagi kolam retensi yang sedang dibangun di Banjardowo, Genuk. Kolam ini akan menyedot air rob dan banjir di sekitar Genuk untuk dialirkan ke Kali Babon.

Dari KRK, gowes berlanjut ke Jalan Kaligawe Raya dan Genuk. Ganjar mengaku puas genangan air sudah surut. Sebelumnya banjir di Kaligawe dan Genuk berlangsung lebih dari sebulan. Genangan dan jalan rusak membuat macet menjadi santapan sehari-hari pengguna jalan.

Sebelumnya Ganjar telah meminta bantuan lima pompa air dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk menyelesaikan banjir di kawasan ini.

“Saya menerima banyak aduan terkait banjir di Kaligawe. Dan saya sudah ngomong ke Kementerian PUPR dan direspon cepat dengan mengirim lima pompa berkapasitas besar sebagai solusi jangka pendek,” ujarnya.

Masing-masing pompa air itu mampu menyedot 160 liter per detik hingga 250 liter per detik. Kelimanya sudah dipasang di hilir Sungai Sringin, Sungai Babon, Terminal Terboyo, dan sekitar Mapolsek Genuk.

Dalam tinjauan, Ganjar sempat mengunjungi beberapa rumah yang rusak parah akibat terendam air di RT 4 RW 1 Kampung Kisiksari Kelurahan Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara.

Menurut Ganjar, penanggulangan rob dan banjir di Semarang butuh waktu, karena saat ini satu persatu proyek sedang dikerjakan. Selain normalisasi KBT dan kolam retensi, akan dibangun tanggul laut di sepanjang pesisir Semarang hingga Demak.

Tanggul yang difungsikan juga sebagai jalan tol tersebut akan membendung air rob agar tidak masuk ke daratan.

“Jika semua perangkat sudah bekerja, mulai dari tanggul, pompa, dan kolam retensi, Insya Allah kalau hujan besar genangan air cepat surutnya, tidak sempat jadi banjir,” ujarnya.

Editor : Ali Muntoha

Diserang Banjir Rob, Pelayanan di Kantor Ditpolairud Semarang Tetap Jalan

Kondisi Kantor Ditpolairud Polda Jateng yang digenangi air rob. Meski banjir pelayanan di kantor ini tetap berjalan. (Tribratanews Polda Jateng)

MuriaNewsCom, Semarang – Sejak beberapa hari terakhir, Kantor Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Jateng terkena air pasang (Rob). Bukan hanya di kantor saja namun sekitar kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang juga terkena banjir rob.

Air laut masuk ke dalam halaman kantor, hingga membuat kompleks Ditpolairud terendam. Meski demikian, aktivitas pelayanan dan kedinasan tidak dihentikan.

Meski terganggu dengan keberadaan banjir ini, namun polisi berusaha agar genangan yang masuk ke dalam kantor menyusut. Dirpolairud Polda Jateng, Kombes Pol Andreas Kusmaedi, Selasa (12/12/2017) mengunjungi kantor yang terendam banjir rob tersebut.

Ia memerintahkan pada setiap anggotanya untuk tetap menjalankan tugas seperti biasa. Ia mengatakan, apapun kondisi kantor pelayanan kepada masyarakat harus tetap berjalan.“Berikan pelayanan yang terbaik walaupun kondisi kantor kita dipenuhi air laut,” katanya.

Agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan, personel Ditpolairud mengerahkan tiga pompa untuk menyedot air pasang sehingga debit air laut di dalam kantir dapat berkurang. Sehingga aktivitas kedinasan dan pelayanan dapat berjalan dengan baik.

Editor : Ali Muntoha

Rel Kaligawe Digenangi Banjir, 3 KA Tertahan di Stasiun Tawang

Banjir menggenangi jalan di sekitar rel Kaligawe Semarang. (dokumen)

MuriaNewsCom, Semarang – Banjir yang melanda wilayah Semarang, membuat perjalananan kereta api (KA) terganggu. Sebanyak tiga kereta api harus tertahan di Statsiun Tawang, karena tak bisa melewati jalur rel di Kaligawe yang tergenang banjir.

Tiga KA yang sempat tertahan itu yakni  KA 74 (Harina) Relasi Bandung, Semarang Tawang, Surabaya Pasar Turi dengan jumlah penumpang 428, Kemudian KA 162A (Ambarawa Ekspres) relasi Semarang Tawang ke Surabaya Pasar Turi dengan 636 penumpang, dan KA 246 (Kedung Sepur) relasi Semarang Tawang ke Ngerombo Grobogan dengan 206 penumpang.

Ketiga rangkaian KA tersebut sempat tertahan antara satu hingga tiga jam, sebelum akhirnya ditarik menggunakan lokomotif kereta rel diesel (KRD) ke Stasiun Alastuwa. Jenis kereta ini lebih aman dibanding kereta elektrik.

Humas PT KAI Daop 4 Semarang, Edy Koeswoyo mengatakan genangan air mencapai ketinggian 13 cm. Sementara lokomotif elektrik hanya mampu melewati banjir dengan ketinggian 12 cm, sehingga terlalu berisiko jika diteruskan.

”Penumpang KA Harina dinaikan dgn rangkaian KRD sampai di stasiun Alastua. Selanjutnya di Stasiun Alastua sudah ada rangkaian KA yang siap mengantarkan penumpang Harina sampai di tujuan,” kata  Edy.

Ia menjelaskan, pada pukul 09.20 WIB jalur hulu dan hilir Km 2+8/9 ketinggian air mencapai 13 cm. Di Km 3+9/4+2 jalur hulu dan hilir ketinggian air 2,5 cm. Kemudian di Km 2+5/6 jalur hulu ketinggian air 12 cm.

Saat ini menurut dia, titik yang digenangi banjir sudah bisa dilewati kereta, karena ketinggian air sudah mulai menyusut.

”Kondisi sudah kembali normal pada pukul 11.15 WIB.  Lokasi banjir sudah normal dan bisa dilewati KA dengan kecepatan 5 km/jam,” ujarnya.

Pihaknya atas nama PT KAI DAOP IV/Semarang menyatakan minta maaf atas peristiwa tersebut, karena membuat perjalanan penumpang menjadi terganggu.

Editor : Ali Muntoha

Mako Ditpolair Kebanjiran, Puluhan Aset dan Berkas Negara Dievakuasi

Mako Ditpolair Polda Jateng di Pelabuhan Tg Emas Semarang kebanjiran setinggi 50 cm. (Tribratanews Polda Jateng)

MuriaNewsCom, Kota Semarang – Cuaca ekstrem yang melanda Semarang beberapa hari ini membuat banjir di Kota Lumpia semakin meninggi. Salah satunya adalah Markas Komando Direktorat Kepolisian Perairan (Mako Ditpolair) Polda Jateng di Pelabuhan Tg Emas Semarang.

Kondisi Mako Ditpolair yang berada pada posisi di bawah permukaan air laut menambah parahnya banjir. Bukan hanya banjir karena hujan tetapi sering kali Mako Ditpolairud terkena air pasang. Akibatnya Mako Ditpolair kebanjiran setinggi 50 cm.

Dikutip dari Tribratanews Polda Jateng, Direktur Kepolisian Perairan Polda Jateng Kombes Pol Drs Andreas Kusmaedi melalui Kasubag Renmin Kompol Setiyo Riyono selaku penggerak evakuasi mengatakan, ini merupakan bencana yang sering kita alami.

”Setiap musim penghujan, mako kita selalu tergenang air, baik karena hujan maupun karena air pasang. Sebab bangunan kantor Ditpolair berada di bawah permukaan air,” kata Kompol Setiyo Riyono.

Petugas Ditpolair Polda Jateng mengevakuasi barang-barang sebelum air semakin meninggi. (Tribratanews Polda Jateng)

Kompol Setiyo Riyono menambahkan bahwa proses evakuasi ini harus sesegera mungkin untuk menyelamatkan aset dan berkas sebelum mengalami kerusakan.

”Banyak berkas dan aset-aset Ditpolair yang akan mengalami kerusakan akibat terendam banjir ini, untuk itu kami harus bergerak cepat,” tandas Kompol Setiyo Riyono.

Sementara itu, Dirpolair Polda Jateng Kombes Pol Drs Andreas Kusmaedi menegaskan bahwa pelayanan Kepolisian oleh Ditpolair tetap berjalan.

”Meskipun bangunan kantor Ditpolair Polda Jateng terendam banjir, namun pelayanan terhadap masyarakat  tetap berjalan,” tegas Kombes Pol Andreas Kusmaedi.

Editor: Supriyadi

Sekda Jateng Akui Sulit Gerakkan Warga untuk Kelola Sampah

Petugas kebersihan memindahkan sampah ke gerobak pengangkut sampah, di salah satu sudut di Purwodadi, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah Sri Puryono menyebut masalah sampah di provinsi ini cukup kompleks. Penyebabnya, sulit untuk mengajak masyarakat untuk mengelola sampah.

Ia menyebut, pengelolaan sampah merupakan masalah turun-temurun yang belum sepenuhnya tuntas. Seiring bertambahnya jumlah penduduk, kompleksitas pengelolaan sampah pun meningkat.  

“Pengelolaan sampah menjadi masalah sejak kita lahir. Orang-orang pendahulu kita sudah dihadapkan dengan masalah sampah, meski tidak serumit sekarang. Saat ini manusia makin banyak frekuensi aktivitasnya, makin banyak persoalan sampah yang muncul,” katanya.

Mantan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah itu mencontohkan, banjir di perkotaan yang terjadi tak semata-mata karena buruknya sistem drainase. Namun juga disebabkan masalah sampah yang belum ditangani dengan baik.

Menurutnya, cara yang jitu yakni, pengelolaan sampah berbasis masyarakat merupakan hal penting yang harus diterapkan.

“Pengelolaan sampah berbasis masyarakat itu penting. Tapi menggerakkan masyarakat itu tidak mudah. Perlu menciptakan mindset,” ujarnya.

Sri Puryono menuturkan, pihaknya bercita-cita menggagas program clean and green city. Melalui program tersebut, dia berharap, budaya untuk memilah, mengolah, dan memanfaatkan kembali daur ulang sampah dapat diterapkan secara kontinyu.

“Untuk kita yang di Jawa Tengah, saya punya angan-angan bagaimana menciptakan clear and green city. Kalau kota bersih dan hijau, maka nyamanlah sudah kota itu. Ini hendaknya dilakukan pula di tingkat kecamatan, kelurahan atau desa. Untuk mengelola sampah dengan baik, perlu memilah, memilih, mengolah, dan memanfaatkan kembali daur ulang sampah,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Tahun Depan Ibu Kota Jateng Bakal Bebas dari Banjir Rob, Benarkah?

Aparat kepolisian melintas di Jalan Kaligawe Semarang, yang sering diterjang rob. Pemkot Semarang yakin tahun 2018 sudah tidak ada rob di kota ini. (Foto : Tribratanews)

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang Hendrar Prihadi memastikan tahun 2018 mendatang, Semarang akan bebas dari banjir rob. Langkah-langkah penanganan banjir dan rob di ibu kota Jateng saat ini dinilai sudah menunjukkan perkembangan positif.

Bahkan ia mengklaim, dengan melihat progres pembangunan saat ini sudah bisa untuk menanggulangi rob, terutama di wilayah timur Semarang. Namun untuk lebih maksimal harus menunggu rampungnya seluruh proyek pembangunan.

Proyek itu di antaranya pembangunan kolam retensi Kaligawe dan pemasangan sheet pile di sungai Tenggang.

“Kalau yang rob sudah bisa kita atasi, sedangkan untuk hujan kita masih menunggu seluruh project selesai,” katanya.

Walikota yang akrab dipanggil Hendi itu menyebut, pemasangan sheet pile di sungai Tenggang merupakan bagian dari upaya normalisasi sungai tersebut.

Nantinya untuk menanggulangi rob dan banjir di wilayah timur Kota Semarang, aliran air dari sungai Tenggang sebagian akan dialirkan ke kolam retensi dan sebagian lagi akan dialirkan ke Banjir Kanal Timur.

Untuk skema pengaliran tersebut sendiri direncanakan akan mulai berjalan pada akhir tahun 2017 dengan dibantu dengan pompa portable. Penggunaan pompa portable tersebut dilakukan sembari menunggu pengadaan pompa utama yang akan dilakukan sekitar bulan Februari 2018.

Selain itu, kolam retensi Kaligawe selain dibangun untuk menanggulangi rob dan banjir di wilayah timur Semarang, juga akan digunakan sebagai ruang terbuka untuk aktifitas masyarakat.

“Nanti di kolam retensi ini juga akan dibangun taman dan jogging track untuk aktifitas warga”, tambah Walikota Hendi.

Editor : Ali Muntoha