Berbulan-bulan Diterjang Banjir, Warga Genuk Mulai Terserang Penyakit

MuriaNewsCom, Semarang – Banjir yang melanda wilayah Genuk, Kota Semarang, menyebabkan warga mulai terserang berbagai penyakit. Salah satunya di Kelurahan Trimulyo, di mana genangan air sudah muncul sejak berbulan-bulan.

Beberapa titik di kelurahan ini sering terendam air. Tidak hanya saat terjadi hujan saja, ketika tidak hujan pun banjir rob air laut juga menggenangi rumah-rumah di Kelurahan Trimulyo khususnya RT 1 RW 1.

“Sudah berbulan-bulan kami hidup di genangan banjir seperti ini. Tapi yang terparah mulai Rabu (14/2/2018) pekan lalu karena hujan deras sampai malam. Sampai sekarang banjir belum kering juga,” kata Astuti, warga Trimulyo.

Sebagian besar warga RW 1 Kelurahan Trimulyo mengungsi dan belum pulang sampai hari ini. Sebagian lainnya memilih bertahan di rumah. Setelah berhari-hari hidup di genangan banjir, Astuti dan beberapa warga lain mengeluhkan berbagai penyakit yang dialaminya.

Akibatnya, sejumlah warga mulai terserang berbagai penyakit. Yani salah satu warga Trimulyo menyebut, sejak beberapa hari terakhir keluarganya juga mulai terserang diare dan gatal-gatal.

“Anak-anak saya kena diare, hingga muntah dan demam. Sakit semua. Ya, terpaksa pakai obat seadanya. Mau ke rumah sakit saya takut karena tidak ada biaya,” kata ibu tiga anak tersebut.

Meski sudah 18 tahun tinggal di kawasan Trimulyo, buruh pabrik di Kawasan Industri Terboyo Semarang itu mengaku belum memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Kota Semarang. Ia juga mengaku belum ada bantuan pengobatan yang diberikan kepada korban banjir.

“Paling saya siapkan obat yang dibeli dari toko untuk jaga-jaga. Kalau untuk gatal-gatal sudah ada, cuma untuk diare, muntah, dan demam, ya, seadanya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agus Harmunanto mengakui telah menerima informasi mengenai dampak banjir di Genuk, yakni berbagai penyakit yang mulai menyerang warga.

“Peran saya hanya sebagai koordinator. Jika ada warga butuh bantuan atau kendala apa, saya teruskan. Seperti keluhan penyakit yang dialami warga, saya teruskan ke Dinas Kesehatan,” terangnya.

Ia mengatakan berbagai bantuan sudah diberikan kepada warga korban banjir. Ia mengakui bantuan yang diberikan hanya bersifat mendesak, seperti selimut, bantal, dapur umum yang dikelola oleh kelurahan atau kecamatan.

“Sudah ada pembagian tugas masing-masing. Untuk bantuan beras, misalnya, kami mintakan dari Dinas Ketahanan Pangan. Penanganan BPBD saat terjadi banjir dan kebutuhan yang sifatnya mendesak,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Kaligawe Masih Tergenang, Pemkot Diminta Bentuk Satgas Banjir

MuriaNewsCom, Semarang – Kalangan DPRD Kota Semarang mendesak pemkot membentuk satuan tugas (satgas) khusus yang menangani banjir. Ini disebabkan, tiap tahun banjir masih menjadi persoalan yang sulit terpecahkan.

Salah satunya banjir yang menggenangi wilayah Kaligawe, hingga menyebabkan jalur utama pantura menjadi tersendat dan macet.

Fraksi PKS Kota Semarang mendesak, satgas anti banjir itu segera dibentuk, agar banjir yang terjadi di kota ini bisa segera diatasi dengan cepat.

Suharsono, Ketua Fraksi PKS Kota Semarang, Senin (19/2/2018) mengatakan, satgas ini bisa ditugaskan untuk mendeteksi dan mengantisipasi terjadinya banjir, sekaligus mengumpulkan informasi dari warga masyarakat.

Ia mengatakan, banjir di kota ini sangat mengganggu aktivitas warga sehingga harus segera diatasi,  minimal dikurangi volumenya. Dengan adanya satgas yang bekerja setiap waktu, maka informasi dari masyarakat tentang gejala terjadinya banjir diharapkan dapat dideteksi dini dan segera teratasi.

“Satgas anti banjir ini akan bekerja sepanjang waktu 24 jam. Sehingga ketika ada informasi banjir dari warga masyarakat dapat segera terdeteksi, misalnya tanggul jebol, dan sebagainya,” katanya.

Suharsono juga meminta Pemkot Semarang untuk waspada adanya curah hujan tinggi, karena tingginya curah hujan ini seringkali berakibat jebolnya tanggul. Selain itu, karena curah hujan tinggi ini, mengakibatkan saluran tidak bisa menampung dan air melimpah ke jalan dan permukiman warga.

Untuk mengatasi ini, selain dibentuk Satgas Anti Banjir, Suharsono meminta pemkot untuk segera melakukan sejumlah langkah. Di antaranya pengerukan sedimentasi sungai, meninggikan parapet di sungai-sungai dengan aliran besar, dan menyediakan mobil pompa untuk ikut membantu penyedotan air yang melimpah ke jalan.

“Menurut saya selain membentuk Satgas, pemerintah juga harus segera melaksanakan langkah teknis lain untuk menyelesaikan persoalan banjir dalam jangka pendek, keruk sungai, tinggikan parapet dan kami berharap juga ada mobil pompa yang membantu menyedot air yang melimpah ke jalan,” ujarnya.

Suharsono berharap selain peran pemkot, pesoalan banjir juga menjadi perhatian warga masyarakat agar aktif dan waspada. Info dari masyarakat sangat dibutuhkan agar jika terjadi banjir penanganan bisa cepat ditangani. “Peran warga masyarakat penting, kami berharap warga juga aktif memberiak informasi kepada pemerintah,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Ganjar Sentil Banjir Rob Kaligawe yang Selalu Bikin Sebal

MuriaNewsCom, Semarang – Banjir dan rob yang sering merendam jalan di Kaligawe, Kota Semarang, disentil Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Pihak-pihak terkait pun diminta untuk bekerja keras untuk menyelesaikan masalah ini.

Ia menyebut, pemerintah sudah sangat serius menyelesaikan masalah tersebut. Hanya saja menurut dia, masyarakat sering menyalahkan pemerintah, karena kurang tersosialisasinya program-program untuk menyelesaikan amsalah rob dan banjir ini.

“Banyak mata yang selalu melihat pekerjaan kita. Pemerintah itu kurang sitik saja, catatannya banyak. Hujan seperti ini, robnya belum selesai. Orang akan marah-marah,” katanya, Rabu (14/2/2018).

Ganjar juga mengarahkan pihak Diskominfo Jawa Tengah beserta Humas lebih cepat memperbaharui dan memperbanyak publikasi informasi penanganan rob.

“Masyarakat tidak terlalu banyak yang tahu bahwa pemerintah sekarang sedang menyelesaikan rob. Baik yang di Kabupaten dan Kota Pekalongan yang sudah groundbreaking, maupun yang ada di sini (Kota Semarang) yang tahapannya sudah berjalan,” ujarnya.

Ia menyebut, ia telah meminta Sekda Jateng bertemu Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk membahas mengenai masalah banjir Kaligawe. Hasil pertemuan itu menurut dia, membuahkan hasil.

Kementerian PUPRS langsung merespon dengan mengirimkan pompa untuk meminimalisir banjir di jalur utama tersebut.

“Pemkot, Pemprov, PU pusat bekerja sama. Dikirim pompa lebih banyak lagi, Insyaallah ada enam. Kita ingin percepat penanganan,” tegasnya.

Kementerian PUPR sejak Minggu (11/2/2018) memang telah mengirimkan lima mobil pompa dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane, Jakarta. Sebelumnya telah dilakukan penambahan pompa submersible dengan kapasitas 200 liter per detik pada Sistem Sringin sebanyak tiga unit dan Tenggang sebanyak lima unit.

“Kita akan pasang dua pompa permanen berkapasitas 12 meter kubik per detik dan 10 meter kubik detik yang akan datang dan berfungsi bulan depan,” Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Senin (12/2/2018).

Selain itu menurut dia, jalan tol Semarang-Demak nantinya akan menjadi solusi penanganan banjir dan rob. Desain sebagian jalan tol Semarang-Demak berada di laut yang akan berfungsi sebagai tanggul penahan limpasan pasang air laut.

“Bila Tol Semarang-Demak sudah selesai dibangun, rob akan tertangani karena sekaligus berfungsi sebagai tanggul rob,” terangnya.

Saat ini pembangunan tol itu dalam tahap proses penetapan lokasi oleh pemda dan nantinya akan dilakukan pelelangan dengan nilai investasi yang dibutuhkan sekitar Rp 10 triliun.  “Kami targetkan pada Agustus 2018 sudah bisa dimulai konstruksinya,” kata Basuki.

Sementara itu, genangan yang terjadi di ruas Jalan Kaligawe terjadi sejak November 2017 hingga Februari 2018 ini bukan disebabkan banjir rob melainkan genangan air hujan. Karena dari uji rasa didapatkan hasil tidak ada kandungan garam dalam air.

Editor : Ali Muntoha

Banjir Kaligawe Capai Setengah Meter, Lewat Jalur Ini Biar Gak Kejebak Macet

MuriaNewsCom, Semarang – Banjir yang melanda wilayah Kaligawe, Kota Semarang, Sabtu (3/2/2018) pagi semakin meninggi. Ketinggian air di jalan utama mencapai 50 cm, hingga menyebabkan kemacetan yang sangat panjang.

Banyak kendaraan yang terjebak macet dan mogok, akibat air masuk ke dalam mesin. Banjir semakin meninggi sejak Senin (2/2/2018) kemarin, seiring hujan yang terus mengguyur Kota Semarang.

Sejumlah pengendara yang terjebak banjir mengeluhkan panjangannya kemacetan yang terjadi. Afif, warga Pati mengaku terjebak macet selama dua jam saat melintas di Jalan Kaligawe.

”Saya mau balik ke Pati. Dari bawah jembatan tol sampai ke pos polisi Genuk itu sampai dua jam. Banjir robnya tinggi, bahkan tadi ada beberapa motor yang mogok,” katanya.

Kanit Lantas Polsek Genuk, AKP Irianto dalam wawancara langsung dengan Radio Elshinta Semarang menyebut, ketinggian air di jalan utama itu berkisar antara 30-50 cm. Kondisi ini menurut dia, sudah terjadi hampir sepekan ini. ”Yang paling parah, atau puncaknya dua hari ini,” ujarnya.

Titik paling tinggi genangan menurut dia berada di depan Gang Macan, Genuk di mana ketinggian mencapai 50 sentimeter. Ia juga menyebut pemompaan belum bisa dilakukan, karena ketinggian banjir dengan saluran air masih sama.

Untuk mengatur lalu lintas, pihaknya telah mengerahkan personel di sejumlah titik. Pihaknya juga mengimbau agar pengendara menghindari jalur Kaligawe agar tak terjebak macet akibat banjir rob yang masih tinggi.

“Personel di lapangan juga mengarahkan pengendara agar menggunakan jalur alternatif agar tak terjebak macet,” terangnya.

Jalur alternatif yang bisa digunakan pengendara yakni melewati Jalan Woltermongensidi. Dari arah timur (Pati, Kudus, Demak) setelah sampai lampu merah (pertigaan) Genuk, ambil kiri ke Banget Ayu, dan tembus ke Jalan Majapahit Semarang.

Dari arah Jakarta dan Solo, untuk pengguna mobil pribadi bisa masuk ke tol dan keluar di pintu tol Gayamsari, lalu menuju Jalan Woltermongensidi, dan sampai ke Genuk. Sementara pengendara sepeda motor masuk dalam Kota Semarang, dan menuju Arteri Soekarno-Hatta, dan masuk ke Banget Ayu, maka akan sampai ke pertigaan Genuk, dan ambil kiri menuju Surabaya.

Editor : Ali Muntoha

Rel Kaligawe Digenangi Banjir, 3 KA Tertahan di Stasiun Tawang

Banjir menggenangi jalan di sekitar rel Kaligawe Semarang. (dokumen)

MuriaNewsCom, Semarang – Banjir yang melanda wilayah Semarang, membuat perjalananan kereta api (KA) terganggu. Sebanyak tiga kereta api harus tertahan di Statsiun Tawang, karena tak bisa melewati jalur rel di Kaligawe yang tergenang banjir.

Tiga KA yang sempat tertahan itu yakni  KA 74 (Harina) Relasi Bandung, Semarang Tawang, Surabaya Pasar Turi dengan jumlah penumpang 428, Kemudian KA 162A (Ambarawa Ekspres) relasi Semarang Tawang ke Surabaya Pasar Turi dengan 636 penumpang, dan KA 246 (Kedung Sepur) relasi Semarang Tawang ke Ngerombo Grobogan dengan 206 penumpang.

Ketiga rangkaian KA tersebut sempat tertahan antara satu hingga tiga jam, sebelum akhirnya ditarik menggunakan lokomotif kereta rel diesel (KRD) ke Stasiun Alastuwa. Jenis kereta ini lebih aman dibanding kereta elektrik.

Humas PT KAI Daop 4 Semarang, Edy Koeswoyo mengatakan genangan air mencapai ketinggian 13 cm. Sementara lokomotif elektrik hanya mampu melewati banjir dengan ketinggian 12 cm, sehingga terlalu berisiko jika diteruskan.

”Penumpang KA Harina dinaikan dgn rangkaian KRD sampai di stasiun Alastua. Selanjutnya di Stasiun Alastua sudah ada rangkaian KA yang siap mengantarkan penumpang Harina sampai di tujuan,” kata  Edy.

Ia menjelaskan, pada pukul 09.20 WIB jalur hulu dan hilir Km 2+8/9 ketinggian air mencapai 13 cm. Di Km 3+9/4+2 jalur hulu dan hilir ketinggian air 2,5 cm. Kemudian di Km 2+5/6 jalur hulu ketinggian air 12 cm.

Saat ini menurut dia, titik yang digenangi banjir sudah bisa dilewati kereta, karena ketinggian air sudah mulai menyusut.

”Kondisi sudah kembali normal pada pukul 11.15 WIB.  Lokasi banjir sudah normal dan bisa dilewati KA dengan kecepatan 5 km/jam,” ujarnya.

Pihaknya atas nama PT KAI DAOP IV/Semarang menyatakan minta maaf atas peristiwa tersebut, karena membuat perjalanan penumpang menjadi terganggu.

Editor : Ali Muntoha

Banjir Kaligawe Belum Surut, Bahkan Merendam Perkampungan

Kondisi banjir di jalan Kaligawe Semarang, yang membuat kendaraan terjebak kemacetan panjang. (Beritajateng.net)

MuriaNewsCom, Semarang – Banjir yang menggenangi jalan jalan raya Kaligawe sejak kemarin, hingga Selasa (3/10/2017) hari ini belum surut. Akibatnya kemancetan masih terjadi, sehingga pengendara dari arah Demak diimbau untuk melewati jalur alternatif.

Kemacetan terjadi baik dari arah barat maupun timur, karena banjir menggenangi seluruh badan jalan. Bahkan banjir membuat perkampungan di sekitar jalan itu ikut terendam.

Salah satunya beberapa wilayah di Kelurahan Trimulyo, Kecamatan Genuk, Kota Semarang. Lurah Trimulyo, Dyah Winarni mengatakan, salah satu pemicu banjir di daerahnya karena limpasan air dari jalan raya Kalihgawe.

”Air akan turun ke pemukiman, karena lokasi kami lebih rendah. Belum lagi kalau truk-truk besar melintas, air datang seperti gelombang,” katanya kepada wartawan.

Ketinggian banjir yang menggenangi wilayahnya rata-rata antara 20 cm- 40 cm. Kondisi ini sangat mengganggu aktivitas warga, karena sjeumlah rumah dan fasilitas umum menjadi terendam.

Pagi ini BPBD Kota Semarang juga mengirimkan bantuan kepada warga di kelurahan tersebut. Bantuan berupa sembako dan mie instan. BPBD juga memberikan bantuan ke sejumlah lokasi, seperti Kelurahan Krobokan dan Kelurahan Bendungan.

Editor : Ali Muntoha