Dampak Hujan Deras Semalaman, 3 Desa di Kecamatan Godong Grobogan Siaga Banjir

MuriaNewsCom, GroboganMusibah banjir saat ini mengancam sebagian wilayah Kecamatan Godong. Kondisi ini terjadi akibat dampak hujan deras hampir semalaman yang merata di seluruh wilayah Grobogan pada Jumat (9/3/2018) malam.

Akibat hujan deras, debit air sungai Jajar yang berhulu di kawasan Pegunungan Kendeng Selatan langsung naik siginifikan. Kondisi sungai yang mulai mendangkal akibat sedimentasi mengakibatkan daya tampungnya tidak bisa maksimal.

Hal ini menyebabkan sebagian air meluap ke kawasan yang letaknya rendah, terutama di areal persawahan. Dampak luapan sungai Jajar mulai terlihat sejak Subuh.

Camat Godong Bambang Haryono menyatakan, jika kawasan atas turun hujan deras cukup lama, maka wilayahnya memang akan terkena dampak luapan air sungai Jajar.

Dari laporan sementara, sedikitnya ada tiga desa yang mulai terancam banjir. Yakni, Desa Werdoyo, Guyangan, dan Guci.

Menurutnya, luapan sungai Jajar, sebagian besar masih berdampak pada areal persawahan. Saat ini, kondisi sawah terdapat tanaman padi yang baru berumur sekitar 10 hari.

“Sawah yang tergenang mencapai puluhan hektar. Sebagian sudah ada tanaman padi dan lainnya baru persiapan tanam,” katanya, Sabtu (10/3/2018).

Bambang menambahkan, beberapa rumah warga dilaporkan sudah kemasukan air. Namun, jumlah rumah terendam belum bisa dipastikan karena pendataan masih dilakukan.

“Kondisi ini sudah kita laporkan pada bupati serta dinas terkait. Kita harapkan tidak turun hujan hari ini, sehingga air bisa surut,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Hujan Deras, 3 Desa di Kecamatan Grobogan Siaga Banjir

MuriaNewsCom, GroboganWarga yang ada di sejumlah desa di wilayah Kecamatan Grobogan saat ini tengah bersiap siaga terhadap kemungkinan terjadinya bencana banjir. Hal itu dilakukan seiring turunnya hujan deras di wilayah pegunungan Kendeng Utara, Senin (26/2/2018).

Hujan yang mengguyur sejak siang hingga sore menyebabkan sungai-sungai dikawasan itu mulai penuh air. Bahkan, sebagian sudah meluap, namun belum menjangkau ke pemukiman warga.

”Iya, ini kita minta warga untuk waspada banjir. Kondisi sungai sudah penuh akibat hujan deras,” kata Kades Lebak Kasman.

Selain Desa Lebak, ancaman banjir juga berpotensi terjadi di Desa Putatsari dan Tanggungharjo. Posisi kedua desa ini berada di bawah Desa Lebak.

Sebelumnya, bencana banjir bandang sempat melanda sejumlah desa di wilayah Kecamatan Grobogan, Jumat malam hingga Sabtu (10/2/2018) lalu. Dampak banjir paling parah terjadi di Desa Lebak, dan Putatsari karena ada ratusan rumah yang sempat kemasukan air hingga 50 centimeter.

Selain itu, ada banjir bandang juga sempat menjangkau wilayah Desa Teguhan, Karangrejo, dan Ngabenrejo. Banjir pada tiga desa ini terjadi akibat pergerakan air dari wilayah Desa Lebak dan Putatsari.

Banjir bandang terjadi akibat hujan deras di wilayah Desa Sumberjatipohon dan Lebengjumuk sejak sore hingga waktu isak. Hujan deras mengakibatkan sungai-sungai di kawasan itu tidak mampu menampung debit air sehingga meluap ke persawahan dan pemukiman penduduk.

Sementara itu, Camat Grobogan Nur Nawanta ketika dimintai komentarnya menyatakan, saat ini, kondisi sungai memang sudah penuh tetapi air masih bisa mengalir normal. Meski demikian, warga disejumlah desa langganan banjir diminta waspada karena debit sungai diprediksi masih bisa naik karena hujan belum berhenti.

”Saya ini sedang keliling ke lokasi. Beberapa ruas jalan sudah kena luapan air. Tapi, belum ada laporan banjir yang menggenangi rumah penduduk,” katanya.

Editor: Supriyadi

Banjir Bandang, Ribuan Rumah di Wilayah Kecamatan Grobogan Terendam Air

MuriaNewsCom, Grobogan – Bencana banjir bandang melanda sejumlah desa di wilayah Kecamatan Grobogan, Jumat malam hingga Sabtu (10/2/2018) dinihari. Dampak banjir paling parah terjadi di Desa Lebak, dan Putatsari karena ada ratusan rumah yang sempat kemasukan air hingga 50 sentimeter.

Selain itu, ada banjir bandang juga sempat menjangkau wilayah Desa Teguhan, Karangrejo, dan Ngabenrejo. Banjir pada tiga desa ini terjadi akibat pergerakan air dari wilayah Desa Lebak dan Putatsari.

Banjir bandang terjadi akibat hujan deras di wilayah Desa Sumberjatipohon dan Lebengjumuk sejak sore hingga waktu isak. Hujan deras mengakibatkan sungai-sungai di kawasan itu tidak mampu menampung debit air sehingga meluap ke persawahan dan pemukiman penduduk.

Luapan air sungai mulai masuk ke rumah penduduk sekitar pukul 20.00 WIB. Banjir bandang berangsur-angsur surut mulai dinihari hingga menjelang Subuh.

Banjir bandang melanda sejumlah desa di wilayah Kecamatan Grobogan, Sabtu (10/2/2018) dinihari. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrichan menyatakan, dampak banjir bandang menyebabkan lebih dari 1.000 rumah warga tergenang dengan ketinggian air mulai 15-50 centimeter. Air yang menggenangi rumah hanya berlangsung beberapa jam dan kemudian berangsur surut karena bergeser ke kawasan yang lebih rendah.

”Tidak ada korban jiwa dalam musibah banjir bandang semalam. Banjir disebabkan tingginya curah hujan diwilayah atas selama beberapa jam,” katanya.

Selain banjir, tingginya curah hujan juga mengakibatkan bencana longsor di Desa Sedayu. Bencana longsor mengakibatkan akses jalan dari Dusun Sandi, Desa Sedayu menuju Dusun Pucung, Desa Lebak terputus. Kemudian, ada satu rumah yang dilaporkan rusak akibat dampak longsor.

Editor: Supriyadi

Begini Perjuangan Petani di Penawangan Grobogan Selamatkan Bawang Merah dari Banjir

MuriaNewsCom, GroboganPemandangan yang cukup bikin trenyuh terlihat di areal sawah di Desa/Kecamatan Penawangan. Sejumlah petani terlihat berjibaku memanen bawang merah.

Tindakan itu dilakukan karena diareal sawah sudah tergenang air cukup tinggi dan hampir merendam tanaman bawang merah. Lokasi sawah yang terdapat tanaman bawang merah berada di sekitar 400 meter disebelah barat sungai Serang.

“Air yang menggenangi areal sawah ini berasal dari luapan sungai Serang. Dalam beberapa hari terakhir, debit air sungai naik terus hingga menjangkau areal sawah disekitarnya. Terutama di kawasan sebelah barat sungai yang lokasinya agak rendah,” jelas Petugas Penyuluh Lapangan Dinas Pertanian wilayah Penawangan Bambang Sunarto, Sabtu (30/12/2017).

Untuk memanen bawang merah yang hampir terendam butuh perjuangan dan kehati-hatian. Setelah dicabut dari tanah, bawang merah dimasukkan dalam kantong rajut dan kemudian dibungkus ke dalam plastik besar serta ditutup rapat.

Hal ini untuk mencegah agar tidak ada air masuk dalam plastik yang bisa menyebabkan bawang merah jadi rusak. Selanjutnya, petani mendorong kantong plastik berisi bawang merah menyusuri air menuju ke pinggir sawah. Ketinggian air diareal sawah hampir setinggi dada.

Menurut Bambang, total areal bawang merah dilokasi tersebut sekitar 0,5 hektare. Sebenarnya, bawang merah itu belum waktunya dipanen karena masih berumur sekitar 53 hari.

“Idealnya, panen masih seminggu lagi. Tetapi, terpaksa dipanen lebih dini karena jika terendam air justru malah busuk. Kalau tanaman jagung masih kuat bertahan meski terendam beberapa hari,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto menyatakan, banjir yang terjadi sejak Kamis lalu menyebabkan ratusan hektare areal sawah terendam. Sebagian besar, areal sawah yang kebanjiran terdapat tanaman padi umur 20-60 hari.

Dijelaskan, dari pendataan sementara, sawah yang tergenang di Kecamatan Karangrayung seluas 29 hektare. Kemudian, Kecamatan Penawangan 243 hektare, Godong 26 hektare, dan Tegowanu 193 hektare.

Editor: Supriyadi

Tanggul Jebol Biang Banjir di Desa Mojoagung Grobogan Mulai Ditangani

Ruas tanggul Sungai Jajar yang jebol di Desa Mojoagung, Kecamatan Karangrayung mulai diperbaiki, Sabtu (30/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganRuas tanggul Sungai Jajar yang jebol di Desa Mojoagung, Kecamatan Karangrayung mulai diperbaiki, Sabtu (30/12/2017). Proses penutupan tanggul jebol sepanjang 10 meter melibatkan puluhan orang. Antara lain, dari DPUPR, TNI, Polri, BPBD, relawan, dan masyarakat setempat.

”Banyak pihak yang terlibat dalam penanganan tanggul jebol. Kita juga didukung satu alat berat dari DPUPR,” kata Camat Karangrayung Hardimin.

Perbaikan tanggul jebol dilakukan sejak pagi. Ditargetkan sore ini, tanggul jebol yang jadi biang banjir di beberapa desa tersebut sudah bisa tertutup sempurna.

Saat tanggul jebol, ada beberapa desa di Kecamatan Karangrayung yang terendam. Masing-masing, di Desa Mojoagung yang menyebabkan 1.471 rumah terendam air. Kemudian, Desa Sumberejosari (806 rumah), Termas (75), Rawoh (50), Mangin (45) dan Pangkalan (181).

”Saat ini, sudah tidak ada rumah yang tergenang. Air sudah surut sejak Jumat kemarin,” kata Hardimin.

Luapan air dari wilayah Karangrayung ini akhirnya bergeser ke dataran yang lebih rendah hingga menyebabkan banjir di sejumlah desa di Kecamatan Godong. Yakni, di Desa Werdoyo, Sumurgede dan Kemloko yang lokasinya berada di aliran sungai Jajar.

Selain di Mojoagung, masih ada satu tanggul jebol di Sungai Tracak di Desa Tunggu, Kecamatan Penawangan. Tanggul jebol ini menyebabkan 130 rumah warga Desa Tunggu dan Guyangan kebanjiran.

”Untuk tanggul jebol di Desa Tunggu segera ditangani. Setelah penutupan tanggul di Mojoagung rampung, alat berat akan kita geser ke Desa Tunggu,” jelas Kepala DPUPR Grobogan Subiyono.

Ia menyatakan, penutupan tanggul memang dilakukan sambil menunggu kondisi dilapangan. Yakni, ketika arus air sudah tidak deras. Begitu arus sungai tenang, penutupan tangggul jebol akan cepat dikerjakan.

Sementara itu, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Grobogan Budi Prihantoro menyatakan, secara keseluruhan, banjir yang sempat terjadi dua hari terakhir sudah surut. Saat ini, hanya ada belasan rumah yang masih tergenang namun ketinggian air sudah berkurang jauh dibandingkan sebelumnya.

”Dari pantauan tadi, hanya di sekitar Desa Werdoyo, Kecamatan Godong yang masih tampak genangan. Untuk lainnya, genangan air di perkampungan sudah surut. Tinggal di areal sawah yang masih tergenang cukup tinggi,” katanya.

Editor: Supriyadi

Dampak Banjir Grobogan, 5 Ribu Rumah Warga Terendam

Sejumlah warga menerjang banjir untuk melaksanakan aktivitas seperti biasa. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Banjir yang melanda sebagian wilayah Grobogan sejak Kamis kemarin ternyata cukup parah kondisinya. Berdasarkan data yang sudah direkap BPBD Grobogan, bencana banjir sudah menjangkau 5.840 rumah penduduk.

Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono mengungkapkan, dari hasil pendataan terakhir, banjir melanda 27 desa di 7 kecamatan. Jumlah tersebut kemungkinan masih bisa bertambah karena masih ada beberapa desa yang baru saja terkena dampak banjir.

“Pendataan sampai pagi ini ada 5.840 rumah warga yang kena dampak banjir sejak Kamis kemarin. Sebagian besar sudah mulai surut airnya,” kata Agus, Jumat (29/12/2017).

Wilayah yang terkena banjir ada di Kecamatan Karangrayung. Masing-masing, di Desa Mojoagung yang menyebabkan 1.471 rumah terendam air. Kemudian, Desa Sumberejosari (806 rumah), Termas (75), Rawoh (50), Mangin (45) dan Pangkalan (181).

Banjir juga melanda dua desa di Kecamatan Penawangan. Yakni, Desa Tunggu dan Guyangan yang menyebabkan 130 rumah kebanjiran. Di Desa Katong, Kecamatan Toroh ada 30 rumah yang terkena dampak banjir.

Seorang lansia dievakuasi karena air semakin tinggi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Selanjutnya, ada dua desa di Kecamatan Tegowanu. Yakni, Desa Kejawan (50) dan Gebangan (10).Di Kecamatan Gubug, ada sembilan desa yang kena musibah banjir. Masing-masing, Desa Saban (50), Rowosari (500), Jeketro (165), Mlilir (75), Ginggangtani (285), Kunjeng (23), Kemiri (170), Gubug (283), dan Kuwaron (573).

Kemudian, bencana banjir juga menimpa wilayah Kecamatan Purwodadi. Yakni, di Desa Candisari, Cingkrong dan kawasan Sambak yang menyebabkan 330 rumah kemasukan air.

Bencana banjir yang baru datang melanda lima desa di Kecamatan Godong. Yakni, Desa Tinanding (19), Tungu (5), Karanggeneng (49), Sumurgede (15), dan Werdoyo (450).

“Ketinggian air yang masuk rumah berkisar 20 cm hingga 1 meter. Selain tanggung jebol di beberapa titik, banjir juga disebabkan luapan air sungai karena tidak mampu menampung kapasitas air,” jelas Agus.

Terkait kondisi tersebut, pihaknya sudah mengerahkan tim SAR untuk bersiaga di lokasi banjir. Kemudian, pengiriman logistik makanan juga sudah dikirimkan ke lokasi banjir sejak kemarin. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan tanggul jebol penyebab banjir.

Editor: Supriyadi

Puluhan Rumah di Perumahan RSS Purwodadi Grobogan Terendam Banjir

Banjir melanda komplek Perumahan RSS Purwodadi yang mengakibatkan puluhan rumah kemasukan air, Kamis (28/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganJumlah kecamatan yang wilayahnya terkena bencana banjir bertambah lagi. Terbaru, banjir melanda wilayah Kecamatan Purwodadi.

Salah satu titik banjir ada di sekitar komplek Perumahan RSS Sambak Indah Purwodadi. Banjir di perumahan ini sudah menggenangi puluhan rumah yang ada dilokasi tersebut.

Datangnya banjir menjelang Dhuhur ini tak ayal bikin kaget warga setempat. Soalnya, pada pagi hari, hanya selokan di timur perumahan yang terlihat penuh air.

Sejumlah warga, terpaksa harus memutar masuk ke lokasi perumahan lewat pintu utara di seberang Mapolres Grobogan. Mereka tidak berani memaksakan lewat karena air dijalan perumahan sudah setinggi lutut.

“Lho, kapan datangnya air ini. Tadi pagi jalan perumahan masih kering,” cetus Siswati, warga setempat yang baru pulang dari tempat kerjanya, Kamis (28/12/2017).

Selepas Dhuhur, ketinggian air terus bertambah. Luapan air juga terlihat hampir menyentuh lantai didepan masjid yang ada di perumahan.

“Saya amati dari tadi, ketinggian airnya bertambah. Mudah-mudahan segera surut dan tidak turun hujan,” kata Latif, warga perumahan yang sedang mengepel lantai masjid.

Selain di perumahan RSS, banjir juga terjadi di Desa Candisari, Kecamatan Purwodadi. Dilaporkan, ada beberapa rumah yang mulai kemasukan air setinggi 20 centimeter.

Luapan air yang berasal dari sungai Serang juga menggenangi ruas jalan Candisari-Pengkol. Akibatnya, kendaraan dari kedua arah harus berjalan pelan saat melintasi ruas jalan yang tergenang air.

Editor: Supriyadi

5 Kecamatan di Grobogan Terendam Banjir

Sejumlah rumah di Grobogan terendam banjir. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bencana banjir di Grobogan ternyata tidak hanya melanda wilayah Kecamatan Karangrayung saja. Berdasarkan laporan yang masuk ke BPBD Grobogan, ada 4 Kecamatan lainnya yang wilayahnya terkena bencana banjir. Yakni, Kecamatan Godong, Gubug, Penawangan, Tegowanu, dan Toroh.

”Jadi totalnya ada 5 kecamatan yang wilayahnya terkena banjir hari ini,” kata Kabid Logistik dan Kedaruratan BPBD Grobogan Budi Prihantoro, Kamis (28/12/2017).

Banjir paling parah ada di Kecamatan Karangrayung karena melanda beberapa desa. Yakni, Desa Mojoagung, Pangkalan, Rawoh, Putatnganten. Di wilayah Kecamatan Karangrayung ada ratusan rumah penduduk di tujuh dusun yang kemasukan air hingga 50 centimeter.

”Jumlah rumah yang terendam ada ratusan. Tetapi angka pastinya belum bisa kita sampaikan karena masih dilakukan pendataan lapangan. Banjir disini disebabkan tanggul jebol di Dusun Krasak, Desa Mojoagung,” jelasnya.

Untuk banjir di Kecamatan Toroh lokasinya ada di Desa Katong. Dari hasil pengecekan lapangan, sudah ada 80 rumah warga yang kemasukan air akibat meluapnya sungai Serang.

Banjir juga terjadi di Desa Tunggu dan Karangwader di Kecamatan Penawangan akibat ada ruas tanggul jebol sungai Tracak. Jumlah rumah yang sudah terdampak ada 130 KK.

Selanjutnya, banjir juga melanda Desa Mlilir dan Jeketro di Kecamatan Gubug akbat luapan sungai Tuntang. Laporan terkini, air yang sebelumnya hanya menggenangi sawah, suadh mulai masuk rumah penduduk dengan ketinggian hingga 50 centimeter.

Untuk Kecamatan Tegowanu, ada dua desa yang terkena banjir. Yakni, Desa Kejawan dan Desa Tajemsari yang sudah mulai masuk rumah penduduk.

”Desa-desa disekitar lokasi banjir saat ini sudah siaga menerima kiriman air dari atas. Seperti di Desa Kemloko, Kecamatan Godong serta Desa Kramat dan Watupawon di Kecamatan Penawangan,” ungkap Budi.

Terkait kondisi tersebut, pihaknya sudah mengerahkan tim SAR untuk bersiaga di lokasi banjir. Kemudian, pengiriman logistik makanan juga sudah dikirimkan ke lokasi banjir sejak pagi tadi. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan tanggul jebol penyebab banjir.

Editor: Supriyadi

Tanggul Jebol, Wilayah Kecamatan Karangrayung Grobogan Dikepung Banjir

Sejumlah warga terpaksa beraktivitas di tengah kepungan air. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Musibah banjir melanda sejumlah desa di Kecamatan Karangrayung, Kamis (28/12/2017). Banjir terjadi akibat ada ruas tanggul sungai Jajar yang jebol pada dinihari tadi. Titik tanggul jebol ada di Desa Mojoagung.

Akibat tanggul jebol, air sungai meluap ke perkampungan. Selain areal sawah, luapan air juga masuk ke dalam rumah penduduk. Selain di Desa Mojoagung, luapan air juga mengalir ke sejumlah desa lainnya.

Banjir juga mengakibatkan tergenangnya jalan raya Karangrayung-Juwangi setinggi hampir 50 cetimeter. Akibatnya, arus kendaraan dari kedua arah tersendat. Sebagian pengendara memilih mencari jalur alternatif karena khawatir kendaraannya mogok.

Camat Karangrayung Hardimin menyatakan, banjir kali ini dinilai cukup parah karena areal yang terkena dampak cukup luas. “Banjir terjadi setelah Subuh tadi. Penyebabnya ada tanggul jebol di Desa Mojoagung. Ada beberapa desa yang terkena dampak banjir. Kita masih lakukan pendataan,” jelasnya.

Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrichan menyatakan, ketinggian air di wilayah Karangrayung mulai menurun. Air mulai bergerak ke arah utara menuju wilayah Kecamatan Godong.

“Ini kita masih monitor di lokasi. Air mulai bergerak ke arah Godong. Untuk jalan raya Karangrayung-Juwangi masih terendam, terutama di depan SPBU,” katanya.

Editor: Supriyadi

Begini Langkah DPUPR Grobogan untuk Penanganan Tanggul Jebol di Desa Kemloko

Kepala DPUPR Grobogan Subiyono (dua dari kanan) sedang memberikan pengarahan pada stafnya di lokasi tanggul jebol di Desa Kemloko, Kecamatan Godong, Senin (27/11/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganKepala DPUPR Grobogan Subiyono menegaskan, penanganan tanggul jebol Sungai Jajar di Desa Kemloko, Kecamatan Godong akan segera diprioritaskan. Hal itu disampaikan Subiyono saat meninjau lokasi tanggul jebol di sebelah utara Dusun Margomulyo, Senin (27/11/2017).

”Hari Minggu kemarin, tanggul ini sudah ditangani bersama masyarakat. Namun, pada dini hari tadi tanggul kembali jebol karena meluapnya Sungai Jajar setelah hujan deras,” katanya.

Menurut Subiyono, panjang tanggul jebol mencapai 10 meter, lebar 5 meter dengan kedalaman sekitar 4 meter. Selain melibatkan berbagai instansi dan masyarakat, penanganan tanggul jebol ini juga akan didukung alat berat.

”Sore ini alat berat akan kita siapkan dilokasi. Kemungkinan, baru besok pagi mulai dilakukan penutupan tanggul. Sekarang kondisi debit air sungainya masih tinggi. Kita juga sudah koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana dalam penanganan tanggul jebol,” jelas mantan Kepala Dinas Pengairan tersebut.

Baca: Banjir Bandang di Penawangan dan Karangrayung Grobogan, Ratusan Rumah Tergenang

Disinggung penanganan tanggul Sungai Tracak yang menyebabkan banjir di Desa Tunggu, Kecamatan Penawangan, Subiyono menyatakan, sudah mulai dilakukan penanganan. Pihaknya, sudah menyiapkan ribuan karung di lokasi tersebut untuk dipakai menutup tanggul.

Sebelumnya, tanggul tersebut sudah jebol pada Kamis (23/11/2017) dinihari. Pada hari Minggu kemarin, warga melakukan gotong royong menutup tanggul dari pagi hingga sore.

Baca: Ini Biang Kerok Penyebab Banjir di Kemloko Godong Grobogan

Penutupan tanggul jebol juga didukung personil TNI, Polri, DPUPR, BPBD dan instansi terkait lainnya. Rencananya, pada pagi ini, perbaikan tanggul tersebut akan disempurnakan.

”Minggu kemarin, tanggul yang jebol kita tutup dengan 1.100 karung yang diisi tanah. Sekarang, semua karung itu sudah hilang terkena arus air. Selain itu, 60 tiang bambu untuk menahan karung juga hanyut,” cetus Kades Kemloko Suyatin.

Menurut Suyatin, jebolnya lagi tanggul tersebut menyebabkan air sungai Jajar kembali mengalir ke areal sawah dan kawasan perkampungan. Namun, hingga pagi ini belum ada laporan rumah yang kebanjiran.

”Air menggenangi sawah dan pekarangan. Tidak ada rumah yang kemasukan air,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Ini Biang Kerok Penyebab Banjir di Kemloko Godong Grobogan

Ratusan warga didukung personel dari berbaga instansi saat melakukan penutupan tanggul jebol di Desa Kemloko, Minggu (26/11/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Musibah banjir kembali melanda Desa Kemloko, Kecamatan Godong, Grobogan, Senin (27/11/2017). Penyebab banjir berasal dari jebolnya ruas tanggul Sungai Jajar yang ada di sebelah utara Dusun Margomulyo.

Padahal tanggul itu sehari sebelumnya baru saja diperbaiki oleh ratusan warga dibantu personel TNI, Polri, DPUPR, BPBD dan instansi terkait lainnya.

“Tadi malam (Minggu 26/11/2017), tanggul yang kemarin diperbaiki jebol lagi. Kali ini jebolnya tambah panjang hingga 10 meter,” kata Kades Kemloko Suyatin.

Sebelumnya, tanggul tersebut sudah jebol pada Kamis (23/11/2017) dinihari. Pada hari Minggu kemarin, warga melakukan gotong royong menutup tanggul dari pagi hingga sore. Rencananya, pada pagi ini, perbaikan tanggul tersebut akan disempurnakan.

“Minggu kemarin tanggul yang jebol kita tutup dengan 1.100 karung yang diisi tanah. Sekarang, semua karung itu sudah hilang terkena arus air. Selain itu, 60 tiang bambu untuk menahan karung juga hanyut,” cetus Suyatin.

Menurut Suyatin, kembali jebolnya tanggul tersebut menyebabkan air Sungai Jajar kembali mengalir ke areal sawah dan kawasan perkampungan. Namun, hingga pagi ini belum ada laporan rumah yang kebanjiran.

“Air menggenangi sawah dan pekarangan. Tidak ada rumah yang kemasukan air,” jelasnya.

Suyatin berharap agar tanggul jebol segera ditangani lagi. Pihaknya berharap dukungan alat berat untuk penutupan tanggul.

Editor : Ali Muntoha

Banjir Bandang di Penawangan dan Karangrayung Grobogan, Ratusan Rumah Tergenang

Banjir bandang sempat melanda Desa Sumberejosari, Kecamatan Karangrayung dan menyebabkan ratusan rumah warga kebanjiran. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bencana banjir bandang melanda dua desa di wilayah Kecamatan Penawangan dan Karangrayung, Grobogan, Minggu malam hingga Senin (27/11/2017) dinihari. Banjir bandang ini disebabkan meluapnya sungai, akibat hujan deras yang mengguyur sejak Minggu siang hingga malam.

Meski hanya berlangsung beberapa jam saja, namun air luapan sungai sempat menggenangi rumah penduduk. Selain itu, puluhan hektare areal sawah dilaporkan tergenang air.

Banjir bandang di Kecamatan Karangrayung terjadi di Desa Sumberejosari. Wilayah yang terkena dampak banjir ada di Dusun Mendung, Karanglo, dan Pandean.

“Sekitar 200 rumah yang sempat kemasukan air dengan ketinggian 10-40 cm. Menjelang Subuh, air yang masuk ke rumah penduduk mulai surut,” kata Camat Karangrayung Hardimin, Senin (27/11/2017).

Menurutnya, banjir tersebut disebabkan tingginya curah hujan di kawasan Pegunungan Kendeng bagian selatan. Hal itu menjadikan Sungai Jajar tidak bisa menampung volume air, sehingga meluap ke persawahan dan permukiman penduduk.

Dalam waktu hampir bersamaan, banjir juga melanda Desa Tunggu, Kecamatan Penawangan yang wilayahnya berbatasan dengan Kecamatan Karangrayung. Banjir yang disebabkan jebolnya tanggul Sungai Tracak mengakibatkan lebih dari 100 rumah penduduk kemasukan air.

Editor : Ali Muntoha

Hujan Deras, Upaya Pentupan Tanggul Sungai Jajar Grobogan Belum Bisa Dilakukan

Sunarti, warga Desa Sumberagung, Kecamatan Godong sedang memberi pakan ternak kambingnya yang kandangnya hampir terendam air. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganMusibah banjir yang melanda wilayah Kecamatan Godong, Grobogan sejak dua hari lalu kemungkinan belum bisa hilang dalam waktu dekat.

Hal ini disebabkan turunnya hujan deras di wilayah Godong sejak pukul 13.30 WIB. Turunnya hujan deras menyebabkan debit air sungai yang sebelumnya mulai turun kembali beranjak naik.

Kondisi tersebut juga berimbas pada penanganan tanggul jebol di Sungai Jajar. Dengan debit sungai yang masih tinggi, upaya penutupan tanggul belum bisa dilakukan.

”Kita sudah siapkan personil dan alat berat untuk menutup tanggul. Namun, kondisi dilapangan belum memungkinkan,” kata Kepala DPUPR Grobogan Subiyono, Jumat (24/11/2017).

Ruas tanggul jebol ada sebelah utara Dusun Margomulyo, Desa Kemloko dengan panjang jebolan sampai 6 meter. Kemudian, masih ditemukan sekitar lima titik tanggul jebol lagi di Desa Werdoyo. Ruas tanggul tersebut jebol pada Kamis (23/11/2017) dinihari.

Jebolnya tanggul berimbas banjir pada tiga desa di Kecamatan Godong. Yakni, Desa Kemloko, Jatilor dan Werdoyo. Sehari berikutnya, banjir juga menjangkau sebagian wilayah Desa Sumberagung.

Tumpukan sampah di bawah jembatan penghubung Desa Sumberagung dan Desa Bringin menghambat aliran air sungai Jajar. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Dari pantauan dilapangan, disamping tanggul jebol, ada faktor lain yang menyebabkan air dari sungai Jajar meluap ke perkampungan. Yakni, banyaknya sampah dibawah sejumlah di jembatan yang melintasi sungai. Adanya sampah menjadikan arus air menjadi terhambat sehingga meluber ke kawasan sekitarnya.

Sebelum hujan turun, warga memang sempat khawatir dengan kondisi cuaca. Yakni, sejak pagi, kondisi langit sudah tertutup awan.

”Saya berharap tidak turun hujan dulu sebelum tanggul ditutup. Kasihan ternak saya kedinginan. Soalnya, kalau cuaca terlalu dingin bisa rentan penyakit,” kata Sunarti, warga Desa Sumberagung.

Saat ditemui, Sunarti baru beranjak dari kandang kambingnya yang ada dibelakang rumah. Kandang dengan konstruksi kayu yang berisi enam ekor kambing etawa itu dibuat model panggung. Sementara pekarangan dibawah kandang tersebut digenangi air setinggi lutut.

”Saat ini tinggal pekarangan dibelakang rumah yang masih tergenang air. Tadi malam air sempat masuk rumah warga sekitar sini,” katanya. 

Editor: Supriyadi

Hujan Deras 3 Jam, Jalan di Kawasan Alun-alun Purwodadi Grobogan Terendam

Pengendara melintas di ruas jalan Bhayangkara Purwodadi yang terendam air, Rabu (22/10/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganJanji untuk memperbaiki saluran drainase dalam kota memang sudah berulang kali dilontarkan Pemkab Grobogan. Namun, sejauh ini upaya perbaikan itu tampaknya tidak kunjung dikerjakan.

Buktinya, sejumlah ruas jalan masih saja tergenang air setiap hujan deras mengguyur. Seperti saat terjadi hujan deras selama hampir tiga jam, mulai pukul 15.00 WIB, Rabu (22/11/2017).

Dari pantauan dilapangan, ada tiga titik jalan yang tergenang cukup parah. Masing-masing, ruas jalan Tendean, jalan R Suprapto dan jalan Kartini juga tergenang separonya. Di ruas jalan ini ketinggian genangan sekitar 40 cm.

Selanjutnya, ruas jalan Gatot Subroto di depan Pendopo Kabupaten Grobogan juga terendam 40 cm. Selain itu ruas jalan didepan Kejaksaan Negeri Grobogan disebelah timur serta jalan Bhayangkara di utara alun-lun juga terendam.

Air yang menggenangi kawasan alun-alun bahkan sempat membikin kantor Disporabudpar Grobogan kebanjiran. Hampir seluruh ruangan kantor kemasukan air hingga diatas mata kaki.

”Iya, tadi air masuk ke ruangan. Tapi, menjelang magrib sudah berangsur surut setelah hujannya mulai reda,” kata beberapa pegawai Disporabudpar yang masih ada di kantor menunggu hujan reda.

Tergenangnya jalanan menyebabkan sejumlah pengendara motor terpaksa harus balik arah karena ketinggian genangan bisa masuk dalam knalpot kendaraan. Beberapa pengendara yang nekat menerobos banjir dadakan terpaksa harus mendorong kendaraannya lantaran mogok di tengah jalan.

”Kapan saluran dikawasan kota, khususnya disekitar alun-alun ini diperbaiki. Sudah bertahun-tahun selalu banjir kalau hujan turun,” gerutu Winarno, warga Depok, Kecamatan Toroh yang motornya mogok di Jl Gatot Subroto.

Editor: Supriyadi

Banjir di Desa Mayahan Grobogan Ternyata Disebabkan Tanggul Jebol

Jebolnya ruas tanggul Kali Alam di Desa Plosorejo menyebabkan banjir di Desa Mayahan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Banjir yang melanda sebagian wilayah Desa Mayahan, Kecamatan Tawangharjo, sempat bikin heran warga setempat. Soalnya, sudah cukup lama tidak pernah terjadi musibah seperti itu.

”Dulu memang pernah ada banjir besar. Tapi sudah lama sekali. Kira-kira tahun 90 an,” kata Murtiyani, warga setempat.

Sejak banjir terakhir, tidak pernah ada lagi musibah serupa. Saat ada hujan lebat dalam kurun waktu lama, areal yang kebanjiran biasanya hanya sawah dan pekarangan.

”Beberapa hari sebelum banjir ini, sempat turun hujan deras sekali dan cukup lama. Tapi, tidak sampai terjadi banjir kayak ini,” cetus Siswanti, warga lainnya.

Baca: Banjir Landa Desa Mayahan Grobogan, Ratusan Rumah Warga Terendam

Dari penelusuran dilapangan, banjir tersebut ternyata berasal dari jebolnya ruas tanggul Kali Alam di Desa Plosorejo yang letaknya ada di timur Desa Mayahan. Tanggul disisi barat tersebut jebol sepanjang 8 meter dan lebar jebolannya sekitar 3,5 meter. Akibat ada tanggul jebol, sebagian air dari Kali Alam tersebut meluap ke areal persawahan dan berlanjut hingga ke perkampungan warga di Desa Mayahan.

Kepala Desa Mayahan Sairozi membenarkan jika banjir di desanya disebabkan adanya ruas tanggul jebol di Desa Plosorejo tersebut. Ia sudah sempat mengecek ke lokasi jebolnya tanggul tersebut.

Baca: Sekolahan Terendam Air, Ratusan Siswa SDN 01 Mayahan Grobogan Diliburkan

”Sebelumnya tidak pernah ada banjir meski hujan deras. Banjir kali ini penyebabnya ada tanggul jebol di sebelah barat Desa Plosorejo. Adanya tanggul jebol membuat volume air yang menuju ke Desa Mayahan jadi bertambah besar sehingga bikin banjir,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Grobogan Subiyono ketika dimintai komentarnya menyatakan, laporan tanggul jebol sudah diterima. ”Saya sudah perintahkan agar dicek dan segera ditangani,” katanya.

Editor: Supriyadi

Banjir Landa Desa Mayahan Grobogan, Ratusan Rumah Warga Terendam

Ratusan rumah di Desa Mayahan, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan terendam banjir, Jumat (17/10/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Musibah banjir yang melanda Desa Mayahan, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan ternyata tidak hanya merendam sekolahan saja. Ratusan rumah warga juga terkena dampak banjir yang datang pada Jumat (17/11/2017) dinihari tersebut.

Dari pantauan dilapangan, banjir paling parah menimpa wilayah Desa Mayahan yang ada disebelah utara jalan raya Purwodadi-Blora. Di sepanjang jalan tersebut ada puluhan rumah yang kemasukan air. Ketinggian air yang ada dalam rumah berkisar 10-50 centimeter. Selain rumah, ada sejumlah bangunan permanen dan semi permanen yang digunakan untuk tempat usaha.

”Rumah yang kebanjiran lebih banyak dibagian belakang sana. Air yang masuk lebih tinggi daripada rumah yang dipinggir jalan raya,” kata Sutinah, warga setempat sambil menunjukkan jari tangannya kearah utara.

Dampak banjir juga menyebabkan salah satu gang terpaksa dipalang dengan bambu untuk mencegah kendaraan lewat. Hal itu dilakukan karena air yang menggenangi jalan cukup tinggi sehingga bisa mengakibatkan mesin kendaraan mati ketika melintas.

”Posisi jalan diujung gang ini kebetulan agak rendah. Tinggi airnya sampai paha,” kata Mbah Pardi (63), warga lainnya.

Kepala Desa Mayahan Sairozi menyatakan, dari pendataan awal yang sudah dilakukan, tercatat ada 250 rumah yang kebanjiran. Bencana banjir tersebut melanda dua dusun. Yakni, Dusun Beber dan Krajan.

”Jumlah rumah yang kebanjiran kemungkinan bisa tambah. Soalnya, ketinggian air masih naik terus. Kejadian ini sudah kita laporkan pada kecamatan dan instansi terkait lain,” katanya.

Editor: Supriyadi

Puluhan Rumah di Nambuhan Grobogan Terendam Banjir Semalaman

Warga berada di rumah yang terenadam banjir akibat tanggul irigasi yang jebol. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Puluhan rumah warga Desa Nambuhan, Kecamatan Purwodadi, Grobogan, tak bisa tidur nyenyak semalaman. Ini akibat musibah banjir yang melanda desa tersebut sejak Kamis malam hingga Jumat (17/11/2017) dinihari.

Kepala Desa Nambuhan Suhadi menyatakan, dampak banjir paling parah menimpa wilayah Dusun Pulogendol. Jumlah rumah yang kemasukan air mencapai puluhan.

“Sekitar 15 rumah yang kemasukan air cukup tinggi. Ketinggian air yang masuk berkisar 50 cm sampai 1 meter. Rumah lainnya hanya kemasukan air yang tidak begitu tinggi,” jelasnya.

Informasi dari warga, ada satu bangunan rumah roboh diterjang air yang masuk ke perkampungan. Yakni, rumah Mbah Jasmo (70) yang ada di Dusun Pulogendol.

“Ada bangunan yang roboh. Itu bukan rumah tinggal tetapi bangunan untuk kandang ternak,” kata Suhadi.

Menurutnya, banjir yang melanda desanya disebabkan beberapa faktor. Yakni, tingginya curah hujan dari siang hingga malam. Kondisi ini menyebabkan air dari daerah hulu yang mengalir ke hilir menjadi sangat deras.

Kemudian, adanya tanggul irigasi yang jebol di selatan Desa Nambuhan menyebabkan air melimpas ke areal sawah hingga perkampungan penduduk.

“Biasanya kalau hujan deras memang di Dusun Pulogendol kena luberan air dari wilayah Selatan, tetapi tidak sampai masuk rumah. Baru kali ini ada banyak rumah kebanjiran,” imbuhnya.

Editor : Ali Muntoha

Jalan Tergenang, Jalur Purwodadi-Pati Sempat Tersendat

Jalan di Pertigaan Ketapang Grobogan tergenang air setelah hujan deras mengguyur sejak siang. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Jalan di Pertigaan Ketapang Grobogan tergenang air setelah hujan deras mengguyur sejak siang. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Bagi pengendara dari Purwodadi yang mau menuju Pati dan Kudus sebaiknya berhati-hati. Pasalnya, mulai sekitar pukul 19.00 WIB tadi, arus lalu lintas jalur tersebut tersendat karena kondisi jalan raya tergenang air.

Informasi yang didapat menyebutkan, jalan yang tergenang berada disekitar di Pertigaan Ketapang. Mulai depan Kantor Kecamatan Grobogan keselatan hingga bekas TPK Demangan. 

Air yang menggenagi jalan kedalamannya cukup tinggi. Bagian paling dalam tinggi genangan mencapai lutut orang dewasa. “Lumayan tinggi airnya. Motor saya hampir mlepek tadi,” kata Agus Winarno dan Parjianto, dua anggota Ubaloka Pramuka Kwarcab Grobogan yang kebetulan melintas di situ.

Dari keterangan warga, tergenangnya jalan itu sering terjadi. Tepatnya, saat hujan deras mengguyur dalam waktu lama. “Kalau hujan deras, air dari saluran drainase disebelah timur jalan penuh dan meluber ke jalan. Kalau hujan berhenti, sekitar satu atau dua jam kemudian, air di jalan itu sudah hilang,” kata Masruri, warga setempat.

Editor : Kholistiono

Elevasi Sungai Lusi Mendekati Puncak, Warga Kota Purwodadi Siaga Banjir

Kondisi Sungai Lusi terlihat penuh akibat naiknya debit air dalam beberapa hari terakhir. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kondisi Sungai Lusi terlihat penuh akibat naiknya debit air dalam beberapa hari terakhir. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Kewaspadaan terhadap ancaman banjir saat ini harus lebih ditingkatkan. Khususnya bagi mereka yang tinggal di sepanjang aliran dua sungai besar di Kota Purwodadi. Yakni, Sungai Lusi dan Glugu. Kondisi ini dipicu naiknya elevasi sungai itu seiring turunnya hujan deras di daerah hulu dalam beberapa hari terakhir.

Dari pantauan di lapangan, kondisi Sungai Lusi di utara Kota Purwodadi sudah mulai penuh airnya. Elevasi air sudah hampir sejajar dengan tanggul sungai. Di beberapa titik, air sungai sudah merembes ke arah pemukiman. Namun, rembesan ini volumenya masih kecil dan belum membahayakan.“Sejak tadi malam, kita sudah diminta waspada. Soalnya, air Sungai Lusi terus naik,” kata Agus Winarno, warga Kampung Jajar, Purwodadi.

Dampak naiknya debit Sungai Lusi, juga mulai berimbas di kawasan perkotaan. Di mana, ruas jalan KS Tubun, tepatnya depan Kantor Kejaksaan Negeri tergenang air setinggi 15 cm.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Grobogan Agus Sulaksono menegaskan, saat ini, pihaknya memang menetapkan status siaga untuk kawasan kota. Sebab, pantauan terakhir Senin (14/11/2016) siang, elevasi Sungai Lusi berkisar 9,4 meter.

Ruas jalan KS Tubun, tepatnya depan Kantor Kejaksaan Negeri tergenang air setinggi 15 cm akibat naiknya debit Sungai Lusi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ruas jalan KS Tubun, tepatnya depan Kantor Kejaksaan Negeri tergenang air setinggi 15 cm akibat naiknya debit Sungai Lusi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

“Ketinggian air ini cukup rawan karena batas maksimal elevasi sungai Lusi berkisar 10 meter. Meski demikian, masyarakat kita minta tidak perlu panik karena kami sudah melakukan monitoring terus dan menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan. Selalu waspada tetapi tetap tenang,” katanya.

Menurutnya, ketika elevasi sudah masuk 9 meter, sebagian kawasan biasanya sudah mulai ada yang kebanjiran akibat melimpasnya air sungai. Agus menyatakan, naiknya elevasi sungai, khususnya Sungai Lusi itu memang sudah diantisipasi jauh hari sebelumnya. Di mana, anggota penanganan bencana sudah diminta siaga serta memonitor elevasi sungai secara rutin. Selain itu, anggota juga sudah menyiapkan peralatan penanganan banjir jika sewaktu-waktu diperlukan.

Dijelaskan, dari pengalaman banjir dua kali pada akhir tahun 2007 lalu memang bisa dipantau dari tingginya elevasi Sungai Lusi. Di mana, jika elevasi sungai ini tinggi maka aliran air dari Sungai Glugu maupun anakan Sungai Lusi dari arah pegunungan akan tertahan. Akhirnya, air sungai yang tidak bisa masuk ke Sungai Lusi ini akan meluber ke perkampungan penduduk.

Editor : Kholistiono

Banjir di Kecamatan Gubug Grobogan Mereda, Perbaikan Tanggul Kembali Dilakukan

Sejumlah warga sedang mengisi karung dengan tanah guna menutup tanggul jebol di Desa Ngroto, Kecamatan Gubug, Sabtu (12/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sejumlah warga sedang mengisi karung dengan tanah guna menutup tanggul jebol di Desa Ngroto, Kecamatan Gubug, Sabtu (12/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Tanggul jebol di Desa Ngroto, Kecamatan Gubug, Grobogan yang menyebabkan banjir selama tiga hari, akhirnya mulai ditangani. Hal itu seiring menurunnya debit air Sungai Tuntang, sehingga perbaikan tanggul sudah memungkinkan untuk dikerjakan.“Elevasi Tuntang sudah turun drastis. Sejak Jumat kemarin, proses perbaikan tanggul sudah dimulai,” kata Kepala Dinas Pengairan Kabupaten Grobogan Subiyono.

Menurutnya, penutupan tanggul dilakukan dengan menata karung yang diisi tanah. Proses ini bisa dilakukan lebih cepat lantaran ada kendaraan berat jenis backhoe yang ada di situ. Adanya backhoe dimanfaatkan untuk menyediakan tanah buat dimasukkan kedalam karung.

“Kendaraan berat itu milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana. Alat berat ini sejak beberapa pekan sudah ada di situ untuk memperbaiki tanggul di Ngroto yang sempat jebol bulan Oktober lalu. Proses perbaikan belum selesai, tanggul tersebut kembali jebol akibat meluapnya Sungai Tuntang 9 November lalu,” jelasnya.

Proses penutupan tanggul jebol itu diperkirakan memakan waktu beberapa hari. Sebab, jebolnya tanggul panjangnya mencapai 20 meter dengan kedalaman 5 meteran. Sementara itu, beberapa wilayah yang sebelumnya sempat tergenang air sudah mulai normal. Seperti di Desa Penadaran yang sempat dilanda banjir bandang.“Sudah tidak ada air di tempat kami. Saat kejadian, ada 500 rumah yang terendam dan 6 rumah roboh,” kata Kades Penadaran Siswanto.

Komentar senada juga disampaikan Kades Rowosari Markin. Menurutnya, jika kondisi di Desa Ngroto sudah normal maka banjir yang melanda desanya akan segera hilang. “Banjir di Rowosari ini merupakan kiriman dari Ngroto. Kalau sana normal maka di sini juga tidak akan dapat kiriman air lagi. Genangan air masih ada sedikit di beberapa ruas jalan kampung. Saat bencana, ada puluhan rumah yang tergenang hampir 1 meter tingginya,” cetusnya.

Editor : Kholistiono

Puluhan Warga Desa Kemiri Grobogan Berkumpul di Tanggul Sungai Tuntang,Ternyata Ini Tujuannya

Puluhan warga Desa Kemiri berkumpul di tanggul Sungai Tuntang untuk menggelar doa bersama agar terhindar dari musibah banjir. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Puluhan warga Desa Kemiri berkumpul di tanggul Sungai Tuntang untuk menggelar doa bersama agar terhindar dari musibah banjir. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Puluhan warga Desa Kemiri, Kecamatan Gubug berbondong-bondong mendatangi tanggul Sungai Tuntang, Kamis (10/11/2016). Warga yang datang kesitu berasal dari berbagai lapisan. Mulai anak-anak sampai orang tua, baik pria maupun wanita.

Kedatangan warga bukan untuk bergotong-royong menutup atau memperkuat tanggul. Tetapi, tujuannya untuk memanjatkan doa bersama agar Desa Kemiri terhindar dari bencana banjir.

“Berbagai komponen masyarakat Desa Kemiri memang menggelar kegiatan doa bersama. Sengaja lokasinya ditempatkan disitu karena sekalian mengecek kondisi tanggul sungai. Jajaran Muspika Gubug juga ikut hadir dalam acara tadi,” kata Kapolsek Gubug AKP Dedy Setya.

Melalui doa bersama tersebut, warga Kemiri berharap agar desanya tidak terkena bencana banjir lagi seperti satu bulan lalu. Saat banjir 9 Oktober lalu, Desa Kemiri jadi salah satu wilayah yang terkena bencana.

Saat itu, lebih 500 rumah tergenang air hingga 1 meter selama dua hari. Selain itu, tiga rumah warga hanyut, ratusan hektar sawah terendam air. Banjir yang menerjang Desa Kemiri waktu itu disebabkan tanggul jebol sepanjang 20 meter dengan kedalaman sekitar 5 meter. “Tempat yang dipakai kegiatan doa bersama ini adalah lokasi tanggul jebol bulan lalu,” sambung Dedy.

Menurutnya, dalam musibah banjir yang terjadi sejak kemarin hingga hari ini, kondisi Desa Kemiri relatif aman. Di mana, tidak ada limpasan air Sungai Tuntang yang masuk ke perkampungan penduduk.

“Penyebab utama banjir disini adalah tanggul jebol. Kalau tanggulnya masih kuat maka ancaman banjir kecil. Kita harapkan, tanggul ini tetap kuat menahan debit air,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

6 Rumah Warga Hanyut Akibat Meluapnya Sungai Tuntang di Grobogan

 Kondisi perkampungan di Desa Ngroto masih terlihat genangan air di jalan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)


Kondisi perkampungan di Desa Ngroto masih terlihat genangan air di jalan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Dampak meluapnya Sungai Tuntang sejak Rabu(9/11/2016) ternyata sempat menghanyutkan rumah penduduk. Total rumah yang terseret limpasan air ini ada enam unit. Semuanya milik warga Dusun Kedung Kakap, Desa Penadaran, Kecamatan Gubug.

Kepastian adanya rumah hanyut ini disampaikan Camat Gubug Teguh Harjokusumo saat dikonfirmasi kondisi terkini seiring meluapnya Sungai Tuntang tersebut.“Benar, ada laporan enam unit rumah penduduk yang terseret arus air. Korban rumah hanyut ini ada Dusun Kedung Kakap, Desa Penadaran,” kata Teguh.

Rumah yang hanyut itu posisinya berada di lereng tanggul yang jadi limpasan air. Diperkirakan, rumah itu hanyut saat elevasi Tuntang mencapai batas maksimal sekitar pukul 19.00 WIB.

Untuk jumlah rumah yang sempat terendam air, kata Teguh cukup banyak. Data sementara, rumah yang kemasukan air lebih dari angka 1.000. Namun, air yang masuk rumah dengan ketinggian 5-30 cm itu tidak berlangsung lama.

Dari laporan terakhir, jumlah desa yang terdampak bencana akibat meluapnya Sungai Tuntang ada 5 desa. Yakni, Desa Ngroto, Rowosari, Penadaran, Kuwaron dan Papanrejo.

Secara keseluruhan, situasi sudah mulai normal lantaran elevasi Tuntang terus menurun sejak Selasa siang tadi. Meski demikian, air yang masuk ke areal perkampungan belum sepenuhnya surut.

“Aktivitas masyarakat sudah normal meski beberapa jalan kampung masih terlihat ada genangan air. Meski demikian, masyarakat kami minta untuk selalu waspada karena cuaca masih gerimis,” jelas mantan Lurah Danyang, Kecamatan Purwodadi itu.

Disinggung soal penanganan tanggul jebol di Desa Ngroto, Teguh menyatakan, belum bisa dilakukan. Soalnya, kondisi arus yang keluar dari jebolan tanggul masih cukup deras. Hal ini menyebabkan penanganan secara darurat masih sulit dikerjakan.

“Tanggulnya belum memungkinkan untuk kita tangani. Namun, alat berat masih ada di sana karena sebelumnya digunakan mengerjakan perbaikan tanggul tersebut. Perbaikan tanggulnya belum selesai, malah sudah jebol lagi,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Dampak Meluapnya Sungai Tuntang, Jembatan Antardesa di Kedungjati Grobogan Roboh

Jembatan di atas anakan Sungai Tuntang yang menghubungkan Desa Kalimaro dan Kedungjati roboh akibat gerusan air, Kamis (10/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Jembatan di atas anakan Sungai Tuntang yang menghubungkan Desa Kalimaro dan Kedungjati roboh akibat gerusan air, Kamis (10/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Sebuah jembatan yang menjadi penghubung antardesa di Kecamatan Kedungjati roboh, Kamis (10/11/2016). Robohnya jembatan ini menyebabkan akses menuju Desa Kalimaro dan Kedungjati terganggu.”Jembatan roboh sekitar jam 09.00 WIB. Saat kejadian, kebetulan tidak ada orang maupun kendaraan yang melintas,” kata Kapolsek Kedungjati AKP Untung Hariyadi.

Jembatan yang roboh memiliki panjang 5 meter dan lebarnya 3 meter. Jembatan tersebut berada di atas anakan sungai Tuntang. Diduga kuat, robohnya jembatan ini akibat dampak meluapnya sungai Tuntang sejak Rabu Kemarin. Meluapnya sungai menyebabkan tanah di bawah pondasi longsor sedikit demi sedikit hingga akhirnya merobohkan jembatan.

Robohnya jembatan itu menjadikan aktivitas warga kedua desa terganggu. Soalnya, mereka harus memutar arah dengan jarak yang lebih jauh akibat musibah tersebut.”Untuk sementara warga harus mutar lewat jalur yang lainnya. Nanti, direncanakan ada pembuatan jembatan darurat,” imbuh Untung.

Sementara itu, aktivitas  warga Desa Randurejo, Kecamatan Pulokulon juga terganggu lantaran tingginya air Kali Klampis yang melitasi wilayah tersebut. Pasalnya, naiknya air ini menyebabkan jembatan didesa tersebut terendam.

Jembatan ini menjadi akses penting warga Randurejo yang tinggal di selatan kali. Di samping itu, jembatan ini juga menjadi akses utama warga setempat menuju wilayah Sragen. Sekedar diketahui, Desa Randurejo ini memang berbatasan dengan wilayah Sragen.”Jembatan ini posisinya memang cukup rendah. Jadi, kalau kalinya meluap pasti jembatannya klelep (terendam),” kata Kades Randurejo Daniel Martiknyo.

Dia menyatakan, jembatan tersebut memang sudah waktunya diganti dengan konstruksi yang lebih tinggi dari posisi sungai. “Selain jalan, saya berharap pada tahun anggaran 2017 ada alokasi perbaikan jembatan itu,” katanya.

Editor : Kholistiono

Foto-foto Banjir yang Kembali Terjang Wilayah Gubug Grobogan

Air Sungai Tuntang kembali masuk ke perkampungan akibat tanggul di Desa Ngroto jebol, Rabu (9/11/2016) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Air Sungai Tuntang kembali masuk ke perkampungan akibat tanggul di Desa Ngroto jebol, Rabu (9/11/2016) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Bencana banjir kembali melanda wilayah Kecamatan Gubug, Rabu (9/11/2016) malam. Makin bertambahnya elevasi Sungai Tuntang sejak sore akibat hujan deras, menyebabkan sebagian air melimpas melewati tanggul yang posisinya agak rendah. Limpasan air ini mengakibatkan sejumlah desa di bantaran Sungai Tuntang sempat kebanjiran. Antara lain, Desa Ngroto dan Penadaran. Selain menggenangi sawah dan jalan, air limpasan juga sempat memasuki puluhan rumah penduduk setinggi 5-20 cm. Tingginya elevasi Sungai Tuntang juga menyebabkan ruas tanggul di Desa Ngroto jebol sepanjang 20 meter. Tanggul ini, persis sebulan lalu sudah pernah jebol dan menyebabkan banjir besar. Berikut ini foto-foto banjir yang kembali landa sebagian wilayah di Kecamatan Gubug malam tadi :    

Air Sungai Tuntang kembali masuk ke perkampungan akibat tanggul di Desa Ngroto jebol, Rabu (9/11/2016) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Air Sungai Tuntang kembali masuk ke perkampungan akibat tanggul di Desa Ngroto jebol, Rabu (9/11/2016) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Air Sungai Tuntang kembali masuk ke perkampungan akibat tanggul di Desa Ngroto jebol, Rabu (9/11/2016) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Air Sungai Tuntang kembali masuk ke perkampungan akibat tanggul di Desa Ngroto jebol, Rabu (9/11/2016) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Air Sungai Tuntang kembali masuk ke perkampungan akibat tanggul di Desa Ngroto jebol, Rabu (9/11/2016) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Air Sungai Tuntang kembali masuk ke perkampungan akibat tanggul di Desa Ngroto jebol, Rabu (9/11/2016) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Editor : Kholistiono

Elevasi Sungai Tuntang Naik Tajam, Warga di Kecamatan Gubug Siaga Banjir

Petugas BPBD Grobogan juga sedang mempersiapkan peralatan untuk mengantisipasi banjir di Kecamatan Gubug. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Petugas BPBD Grobogan juga sedang mempersiapkan peralatan untuk mengantisipasi banjir di Kecamatan Gubug. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Baru sebulan berlalu, warga di wilayah Kecamatan Gubug kembali terancam bencana banjir. Hal ini menyusul naiknya elevasi Sungai Tuntang akibat hujan yang mengguyur sejak Rabu (9/11/2016).

Akibat naiknya cepat, sebagian air sungai ini sudah melimpah keluar melewati tanggul yang posisinya agak rendah. Menjelang petang, limpasan air yang sudah mulai mendekati areal perkampungan di beberapa desa. Antara lain, Desa Penadaran, dan Ngroto.

“Hujan hari ini intensitasnya tinggi sekali karena berlangsung sejak pukul 13.00 WIB sampai menjelang petang belum berhenti. Kondisi ini menjadikan elevasi Sungai Tuntang naik tajam dan sebagian air sudah limpas. Kami sudah menetapkan status siaga I untuk wilayah Gubug,” kata Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono.

Informasi yang didapat menyebutkan, jika sudah ada ruas tanggul jebol di Desa Ngroto. Namun, kabar ini dibantah oleh Agus Sulaksono. “Belum ada laporan soal tanggul jebol. Kalau kemarin memang ada ruas yang jebol sedikit dan sudah kita tutup. Kita harapkan, tanggul itu masih kuat menahan arus air,” cetusnya.

Terkait dengan kondisi tersebut, pihaknya sudah mengerahkan tim untuk stand by dan siaga di wilayah Gubug. Kemudian, berbagai peralatan penanganan bencana juga sudah disiapkan.

“Semua tim penanggulangan bencana sudah kita siagakan semuanya. Kami juga berkoordinasi dengan instansi terkait lainnya. Para relawan juga menyatakan kesiapannya untuk turun jika sewaktu-waktu diperlukan,” katanya.

Seperti diketahui, pada 9 Oktober lalu, bencana banjir sempat melanda wilayah Gubug, Tegowanu dan Godong. Dalam musibah ini, ada ribuan rumah terendam banjir, dan ratusan hektar sawah tergenang. Bencana yang terjadi saat itu disebabkan adanya beberapa titik tanggul Sungai Tuntang jebol.

Editor : Kholistiono