3 Desa di Kayen Kembali Diterjang Banjir Bandang

Polisi tengah mengatur lalu lintas di pertigaan Koh Jing, Jalan Kayen-Sukolilo saat dilanda banjir bandang, Senin (10/4/2017) malam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Tiga desa di Kecamatan Kayen, Pati, kembali diterjang banjir bandang, Senin (10/4/2017) malam. Ketiga desa tersebut adalah Sumbersari, Kayen dan Trimulyo.

Akibat bencana tersebut, sebagian besar rumah di Desa Sumbersari yang rumahnya berada di bantaran sungai terendam air hingga setinggi 60 cm. Di Dukuh Karanggempol, Kayen, ketinggian air mencapai 50 cm.

Sementara di Dukuh Carian dan Kayen wilayah alun-alun terendam air dari 30 cm hingga 60 cm. Tidak ada korban jiwa maupun kerugian material dalam bencana yang berlangsung sekitar sejam tersebut.

Namun, arus lalu lintas yang menghubungkan Kayen-Sukolilo sempat tersendat karena tingginya air yang menggenangi jalan utama. Polisi, TNI dan relawan sempat turun di jalan untuk mengamankan jalan yang terendat akibat banjir.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, Sanusi mengimbau kepada warga yang terdampak banjir untuk selalu berhati-hati. Pasalnya, kawasan tersebut kerap terkena banjir saat air dari sungai setempat meluber.

“Banjir itu kiriman dari pegunungan di wilayah Dukuh Mahbang dan Ngalingan, Desa Sumbersari. Dalam beberapa bulan terakhir, daerah itu sering diterpa banjir saat hujan tiba maupun hujan di kawasan pegunungan. Kami berharap, masyarakat selalu waspada saat hujan melanda,” imbau Sanusi.

Editor : Kholistiono

3 Kecamatan di Pati Diterjang Banjir Bandang, Jalan Jakenan-Winong Lumpuh

Kawasan jalan Desa Glonggong, Kecamatan Jakenan yang lumpuh karena terkena banjir bandang, Sabtu (4/3/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah daerah di tiga kecamatan di Kabupaten Pati diterjang banjir bandang, Sabtu (4/3/2017). Ketiga kecamatan yang diterjang banjir, antara lain Kecamatan Jakenan, Winong, dan Pucakwangi.

Dari informasi yang dihimpun, banjir bandang melanda sejak pagi dengan volume debit air yang semakin tinggi memasuki pukul 13.00 WIB. Banjir kiriman diduga berasal dari kawasan Pegunungan Kendeng.

Sontak, akses Jakenan-Winong dan sejumlah jalan di sekitarnya lumpuh. “Tadi pagi saya ngantor di Kecamatan Jakenan. Setelah pukul 09.00 WIB, banjir semakin tinggi sehingga mobil saya taruh di kawasan Glonggong. Saya langsung naik sepeda motor roda tiga,” ungkap Camat Jakenan Aris Soesetyo.

Akibat banjir bandang tersebut, tanggul sungai Desa Glonggong di kawasan SMPN 2 Jakenan jebol. Sejumlah pihak sudah mengirimkan puluhan sak berisi pasir. Namun, derasnya arus tidak memungkinkan untuk membendung tanggul yang jebol sepanjang lima meter.

“Tanggul di sekitar SMPN 2 Jakenan jebol. Arusnya sangat deras, sehingga upaya untuk membuat bendungan sementara menggunakan sak berisi pasir akan dijadwalkan Minggu (5/3/2017) besok,” imbuh Aris.

Di wilayah Kecamatan Winong, sejumlah daerah yang terkena banjir bandang, di antaranya Botok, Ketanji, Wirun, Pekalongan, dan lainnya. Di sejumlah titik, banjir mencapai setinggi paha orang dewasa.

“Banjir bandang biasanya sebentar dan langsung surut, ini kok awet. Di Pekalongan dan Ketanji sudah sejak pagi, sedangkan Wirun baru siang ini. Ini banjir kiriman dari wilayah selatan,” ucap Husna, warga Wirun, Winong.

Editor : Kholistiono

Warga Pati Diimbau Tidak Buang Sampah di Sungai

Petugas Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Pati membersihkan sampah di kawasan Sungai Simo, Rabu (1/3/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warga Pati diimbau untuk tidak membuang sampah sembarangan di sungai. Pasalnya, kondisi geografis di Pati yang memungkinkan terjadinya banjir langganan setiap tahun akan diperparah dengan adanya aktivitas buang sampah di sungai.

Hal itu diungkapkan Kasubbag Tata Usaha UPT Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Pati Eka Sulistiana. “Sungai itu buat aliran air, jangan disalahfungsikan sebagai tempat pembuangan sampah. Butuh kesadaran dari masyarakat agar banjir di Pati bisa diminimalisasi,” kata Eka, Rabu (1/3/2017).

Menurutnya, sampah menjadi persoalan yang sangat serius di Kabupaten Pati. Dari hasil bersih-bersih yang dilakukan, sedikitnya ada 10 truk sampah yang diambil di sepanjang Sungai Simo, Desa Sinoman dan Widorokandang.

“Faktanya, banyak sampah yang kami angkut dari hasil bersih-bersih sampah. Kebanyakan dari ranting bambu dan pelepah pisang. Sampah itu mesti dari masyarakat yang menebang pisang dan dibuang ke sungai,” ucap Eka.

Setiap tahun, lumpur yang dibawa banjir mengendap dan menyebabkan pendangkalan sungai. Kondisi tersebut akan semakin parah bila masyarakat masih punya kebiasaan membuang sampah di sungai, sehingga menjadi penyebab utama banjir.

“Yang kena imbasnya pasti masyarakat luas. Perbuatan satu-dua orang, tapi yang kena masyarakat banyak. Ini kan tidak baik. Kami berharap, warga sadar dan membiasakan untuk tidak membuang sampah di sungai,” imbau Eka.

Editor : Kholistiono

Antisipasi Banjir Susulan, Tumpukan Sampah di Sungai Simo Pati Dibersihkan

Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) melakukan bersih-bersih sampah di kawasan sungai Simo, Pati, Rabu (1/3/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Banyaknya sampah yang menumpuk di sepanjang kawasan Sungai Simo dari Desa Widorokandang hingga Desa Sinoman, Kecamatan Pati membuat aliran air tersumbat. Hal itu yang membuat Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) melakukan bersih-bersih sampah di kawasan sungai tersebut, Rabu (1/3/2017).

Kasubbag Tata Usaha UPT Dinas PUTR Pati Eka Sulistiana menuturkan, pembersihkan sampah yang menumpuk akibat luapan banjir beberapa waktu lalu tersebut untuk mengantisipasi adanya banjir susulan, karena aliran air tersumbat sampah. Sebab, sampai saat ini, hujan masih beberapa kali terjadi.

“Meski kemarau sudah mulai tiba, tetapi curah hujan terbilang masih tinggi. Bila tidak segera dibersihkan, air yang mengalir di sungai bisa tersumbat sehingga akan menyebabkan banjir susulan. Ini yang kita antisipasi,” kata Eka.

Sampah yang dibersihkan sebagian besar adalah pelepah pisang, ranting-ranting bambu, sampah plastik dan berbagai sampah organik lainnya. Sampah-sampah tersebut menumpuk, ada yang mengendap dan beberapa mengambang, serta menyumbat aliran air.

Tumpukan sampah juga menyumbat di sejumlah jembatan. Pasalnya, tinggi jembatan di wilayah tersebut sebagian besar lebih rendah ketimbang badan jalan sehingga banyak sampah yang mudah tersangkut di bawah jembatan. Karena itu, pihaknya sudah melayangkan surat kepada pemilik jembatan untuk meninggikan jembatannya.

“Kami juga sudah melayangkan surat kepada pemilik jembatan agar jembatan yang lebih rendah dari badan jalan ditinggikan. Hal itu diharapkan agar sampah tidak menyumbat sungai yang berpotensi menyebabkan banjir,” tandasnya.

Editor : Kholistiono