Tinjau Lokasi Bencana di Desa Sumberagung, Bupati Grobogan Terkenang Masa Lalu

MuriaNewsCom, Grobogan – Kerusakan infrastruktur di Desa Sumberagung, Kecamatan Ngaringan akibat banjir bandang Senin kemarin bakal segera ditangani. Hal itu dijanjikan langsung Bupati Grobogan Sri Sumarni saat meninjau lokasi bencana, Selasa (27/2/2018).

”Musibah yang terjadi tidak bisa diprediksi datangnya. Nanti, kerusakan infrastruktur akan kita tangani. Besok, kita minta DPUPR untuk langsung melakukan penanganan. Tolong masyarakat juga ikut dikerahkan kerja bakti biar proses penanganan cepat rampung,” tegasnya.

Kepala DPUPR Grobogan Subiyono yang ikut mendampingi bupati saat melihat lokasi bencana, langsung menegaskan kesiapannya untuk segera memperbaiki kerusakan infrastruktur tersebut. Kemudian, jajaran Muspika Kecamatan Ngaringan dan Kades Sumberagung Rusno juga siap mendukung perbaikan infrastruktur yang rusak akibat banjir bandang yang terjadi sehari sebelumnya itu.

Banjir bandang yang menerjang Desa Sumberagung yang wilayahnya berbatasan dengan Kecamatan Todanan, Blora itu mengakibatkan belasan rumah warga rusak. Selain rumah rusak, dampak banjir bandang juga menyebabkan akses jalan menuju Desa Karangasem, Kecamatan Wirosari longsor ditiga titik. Kemudian, banjir bandang juga mengakibatkan talud sungai disamping rumah warga longsor cukup parah.

”Penanganan kerusakan yang terkait infrastruktur kita prioritaskan dulu. Untuk bantuan korban bencana, nanti dari BPBD dan Dinas Sosial,” sambung Sri.

Usai melihat lokasi bencana, Sri dan rombongan sempat mampir di Balaidesa Sumberagung. Di tempat itu kebetulan masih ada puluhan warga yang baru saja selesai melaksanakan musyawarah desa untuk perencanaan pembangunan tahun 2019.

Dalam kesempatan itu, Sri sempat bercerita jika kedatangannya ke Desa Sumberagung membuatnya terkenang masa lalu. Ceritanya, saat remaja dulu, Sri sering tinggal di rumah kakaknya yang waktu itu masih jadi guru di SD Sumberagung. Hampir setiap libur sekolah, Sri dan adik serta beberapa keponakannya selalu menginap di Sumberagung selama beberapa hari.

”Dulu kalau kesini saya jalan kaki dari jalan raya Purwodadi-Blora ke Sumberagung yang jauhnya sekitar 9 km. Waktu itu, jalannya masih jelek dan suasananya agak seram karena kawasan hutan sekitar sini pohonnya besar-besar,” katanya.

Selama tinggal di Sumberagung, Sri menyatakan, belum pernah terjadi banjir di desa tersebut. Oleh sebab itu, ia sempat merasa kaget ketika mendapat laporan adanya banjir bandang di Sumberagung yang menyebabkan banyak kerusakan infrastruktur.

”Saya belum pernah menjumpai banjir bandang di sini. Barangkali, lingkungan alam yang berubah, menjadi salah satu penyebab banjir di sini,” katanya.

Editor: Supriyadi

Puluhan Rumah di Desa Sumberagung Grobogan Diterjang Banjir Bandang

MuriaNewsCom, GroboganMusibah banjir bandang melanda Desa Sumberagung, Kecamatan Ngaringan, Grobogan, Senin (26/2/2018). Banjir yang menerjang sekitar pukul 16.30 WIB itu menyebabkan puluhan rumah di beberapa dusun terendam air selama beberapa jam.

Dari rumah yang terkena banjir bandang, sedikitnya ada lima rumah yang rusak parah. Hal ini terjadi karena air yang masuk rumah tingginya mencapai 1 meter.

Rumah yang terendam cukup tinggi mengakibatkan barang didalamnya sebagian hanyut terbawa air. Antara lain, jagung hasil panen, pakaian hingga uang tunai Rp 10 juta.

”Ada tiga dusun yang terkena dampak banjir bandang. Jumlah rumah yang sempat kemasukan air ada puluhan. Ini, saya masih dilapangan untuk melakukan pendataan. Banjir disebabkan turunnya hujan deras sejak siang hingga sore,” kata Kades Sumberagung Rusno.

Selain rumah rusak, dampak banjir bandang juga menyebabkan akses jalan menuju Desa Karangasem, Kecamatan Wirosari longsor. Jalan yang longsor ada tiga titik sehingga tidak bisa dilalui untuk akses kendaraan roda empat.

Editor: Supriyadi

Dua Warga Brebes Tewas Terseret Banjir, Ribuan Rumah Terendam

MuriaNewsCom, Brebes – Banjir yang melanda di beberapa kecamatan di Kabupaten Brebes, menimbulkan korban jiwa. Dua warga dilaporkan tewas setelah tenggelam dan terseret arus akibat jebolnya tanggul Sungai Pemali Brebes.

Dilaporkan kompas.com, dua warga yang meninggal yakni, Pendi warga Tengki, Brebes. Korban meninggal saat melakukan perbaikan tanggul dan terperosok masuk ke dalam gorong-gorong.

Selain Pendi, di Jatibarang tim SAR juga menemukan mayat wanita berumur 12 tahun warga Dukuh Bayur, Desa Bojong,Kecamatan Jatibarang. Subagyo, Plt Camat Brebes mengatakan, korban saat itu bermain di samping rumah. Korban kemudian tergelincir masuk selokan. “Karena tidak bisa berenang, korban akhirnya meninggal,” katanya.

Banjir melanda tiga kecamatan, akibat hujan yang turun sejak Minggu (11/2/2018) hingga Senin (12/2/2018) kemarin. Tiga kecamatan yang terendam banjir yakni wilayah Jatibarang, Wanasari dan Brebes.

Menurut warga, air mulai masuk pada Senin pukul 05.00 WIB. Luapan air sungai menggenangi daerah Desa Buaran dan Kedungtukang Jatibarang.

Tidak lama, dua titik tanggul di Desa Terlangu Kecamatan Brebes, tidak kuat menahan derasnya air sungai. Tanggul ini jebol dan mengalir ke arah timur menggenangi rumah warga.

“Dari pagi air sudah masuk ke rumah. Ini malah tambah tinggi permukaan airnya karena ada yang jebol,” kata Jaya, warga Desa Terlangu.

Warga yang rumahnya terendam terpaksa menempati tanggul sebagai pengungsian darurat. Karena belum tertangani, warga berharap pemerintah segera turun tangan termasuk memberikan bantuan logistik.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Brebes melaporkan, ribuan rumah terendam di tiga kecamatan tersebut dengan ketinggian air mencapai 1 meter lebih.

Selain merendam rumah, jalur transportasi Brebes Jatibarang terputus akibat terendam banjir setinggi kira kira 70 cm. Polisi mengalihkan arus lalin bagi kendaraan roda dua dan mobil kecil yang akan menuju Jatibarang atau sebaliknya.

Banjir juga menyebabkan gangguan pada perjalanan kereta api. Manager Humas PT KAI Daop IV Semarang, Suprapto menuturkan banjir merendam jalur rel pada Daop III yang terletak di KM 155+4/9. Banjir sekitar pukul 10.00 WIB dan rel dapat digunakan sekitar Pukul 17.00.

Dikatakanya, pada pukul 14.15 WIB terdapat lima kereta api yang diberlakukan pola operasi jalan memutar melalui wilayah Prupuk.

Editor : Ali Muntoha

Kembali Dilanda Banjir, Warga Sumberejo Berharap Pemkab Jepara Bertindak

MuriaNewsCom, Jepara – Banjir kembali melanda Dukuh Tempur, Desa Sumberejo, Kecamatan Donorojo, Minggu (11/2/2018) dinihari. Peristiwa ini merupakan kali ketiga desa tersebut digenangi banjir, dalam kurun kurang dari seminggu.

Warga meminta Pemkab Jepara segera bertindak, agar kondisi ini tak terus berulang, setiap tahun. Deby Irawan (27) satu di antaranya. Ia mengaku, akibat banjir pada Minggu dini hari, banyak barang-barang elektronik yang rusak.

“Kami tak menyangka banjir kembali melanda. Sebab kemarin (Sabtu,10/2/2018) matahari bersinar. Banjir datang pada Minggu dini hari pada pukul 00.15 WIB, warga tengah terlelap. Sehingga tak bisa selamatkan barang-barang. Saya juga pasrah. Kulkas dan penanak nasi elektronik rusak terkena banjir,” ungkapnya.

Ia menyebut, ketika air mulai menyerbu desa warga yang bersiskamling sudah membunyikan kentongan. Namun terlambat, air terlalu cepat masuk ke desa tersebut. Ketinggian air mencapai 1,5 meter.

“Ya kami inginnya, sungai Tempur pertemuan antara sungai Gedhe dan sungai Cilik disudet, sehingga banjir tak lagi terulang setiap kali hujan deras turun,” pintanya.

Menurutnya, ada dua Rukun Tetangga yang terdampak banjir. Mereka berada di RT 2 dan RT 3, yang berjumlah sekitar 85 rumah.

Adapun, peristiwa pertama terjadi pada Kamis (8/2/2018) dinihari. Kedua pada hari Jumat (9/2/2018) malam dan terakhir pada Minggu (11/2/2018) dinihari.

Camat Donorojo Sutana, mengungkapkan solusi yang paling pas untuk mengatasi banjir Sumberejo adalah membuat sodetan. Sodetan itu, untuk meluruskan alur sungai gedhe.

“Itu kan Sungai Gedhe atau Sungai Pasokan bentuknya melengkung. Jikalau diluruskan maka tak akan terjadi pertemuan tiga sungai di Dukuh Tempur, Desa Sumberejo. Maka hal itu akan mengurangi risiko banjir,” terangnya.

Hanya saja, upaya tersebut tak lantas dapat diterapkan dengan cepat. Mengingat sebagian tanah sungai merupakan milik Perhutani.

“Kami sudah mengarahkan warga untuk melakukan pelaporan kepada Gubernur. Pak Wakil Bupati (Dian Kristiandi) juga sudah sempat melihat lokasi, nanti informasinya akan dibantu dari Dana Alokasi Khusus (DAK) menunggu kondisi benar-benar kondusif,” paparnya.

Guna mengatasi timbulnya kerugian yang lebih besar termasuk korban jiwa, pihaknya sudah membentuk posko di setiap balai desa. Perangkat desa dan warga akan berjaga untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan.

“Bukan hanya di Sumberejo, wilayah kami (Donorojo) kan memang rawan longsor dan banjir, maka di setiap balai desa disiagakan warga dan perangkat yang berjaga,” pungkas Sutana.

Editor: Supriyadi

Banjir Kembali Genangi Desa Sumberejo Jepara saat Warga Tengah Terlelap

MuriaNewsCom, Jepara – Dukuh Tempur, Desa Sumberejo, Kecamatan Donorojo kembali diempas banjir. Banjir setinggi 1,5 meter yang berasal dari luapan Sungai tempur itu,menggenangi rumah-rumah warga pada Minggu dinihari pukul 00.15 WIB ketika penduduk telah terlelap.

Praktis, warga tak bisa menyelamatkan barang-barang dan hanya bisa pasrah. Banjir yang melanda Sumberejo diketahui telah terjadi sebanyak tiga kali, dalam kurun waktu kurang dari seminggu.

Baca : Banjir Sedalam 2 Meter Rendam Desa Sumberejo Jepara

Peristiwa pertama terjadi pada Kamis (8/2/2018) dinihari. Kedua pada hari Jumat (9/2/2018) malam dan terakhir pada Minggu (11/2/2018) dinihari.

Deby Irawan (27) warga setempat mengatakan, banjir pada Minggu dinihari datang begitu cepat. Warga tak bisa mengantisipasi karena sepanjang hari Sabtu, matahari bersinar terik.

“Hari Sabtu kemarin matahari bersinar, cerah. Sore harinya hujan tak turun. Baru pada pukul 22.00 WIB hujan mulai turun. Dan pada tengah malam hujan sangat deras dan terjadilah luapan dari sungai kemudian banjir,” ujarnya, Minggu pagi.

Warga mengukur ketinggian banjir dengan badannya. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Banjir yang terjadi karena luapan Sungai Gedhe dan Sungai Cilik, bertemu di Sungai Tempur. Tak kuat menahan derasnya air, kemudian melimpah ke pemukiman warga.

Banjir menggenang sekitar satu jam. Mulai dari pukul 00.15 WIB hingga pukul 01.00 WIB. “Datangnya cepat, kemudian sekitar pukul satu lebih surut,” tuturnya.

Saat ini, warga tengah membersihkan lingkungan rumah dari lumpur yang terbawa banjir. Beberapa di antaranya bahkan mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

“Saya saja mengungsi ke tempat yang lebih tinggi yang tak terkena banjir. Warga ada juga yang mengungsi tapi di dekat-dekat sini belum sampai keluar desa,” ungkap Deby‎.

Editor: Supriyadi

5 Rumah Jebol, Ternak dan Motor Hilang Terseret Banjir Bandang di Kendal

MuriaNewsCom, Kendal – Banjir bandang menerjang wilayah Kaliwungi dan Brangsong, Kendal, Jumat (9/2/2018) malam. Banjir itu membuat lima rumah warga jebol, dan menyisakan tumpukan lumpur.

Bahkan hingga Sabtu (10/2/2018) pagi warga masih berjibaku membersihkan lumpur yang mengendap di jalan maupun di sekitar rumah. Endapan lumpur setinggi 10 sentimeter terlihat di jalan masuk kampung dan rumah-rumah warga.

Tak hanya itu saja, sejumlah hewan ternak dan sepeda motor milik warga juga hilang terseret arus banjir yang datang secara tiba-tiba.

Lokasi yang terparah akibat terjangan banjir bandang berada di Dusun Proto Wetan, Desa Protomulyo, Kampung Citran dan kampung Mranggen. Desa Kutoharjo, serta Dusun Gelung, Desa Magelung. Sedikitnya lima rumah ambruk dan hanyut, sedangkan puluhan lainnya rusak.

Kasmadi warga Proto wetan mengatakan, banjir bandang datang setelah hujan turun secara terus menerus dari Jumat sore. Banjir bandang yang menerjang desanya bahkan mencapai satu meter lebih.

“Tiba-tiba air dari atas mengalir deras menerjang rumah-rumah warga hingga ketinggian satu setengah meter,” katanya.

Bupati Kendal Mirna Annisa, Sabtu (10/2/2016) pagi meninjau lokasi banjir dan memberikan bantuan kepada warga. Dari data BPBD Kendal lima rumah warga rusak parah sedangkan puluhan lainnya rusak.

“Pemkab akan menganalisa penyebab banjr bandang dan akan memperbaiki fasilitas umum yang rusak,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Banjir Bandang, Ribuan Rumah di Wilayah Kecamatan Grobogan Terendam Air

MuriaNewsCom, Grobogan – Bencana banjir bandang melanda sejumlah desa di wilayah Kecamatan Grobogan, Jumat malam hingga Sabtu (10/2/2018) dinihari. Dampak banjir paling parah terjadi di Desa Lebak, dan Putatsari karena ada ratusan rumah yang sempat kemasukan air hingga 50 sentimeter.

Selain itu, ada banjir bandang juga sempat menjangkau wilayah Desa Teguhan, Karangrejo, dan Ngabenrejo. Banjir pada tiga desa ini terjadi akibat pergerakan air dari wilayah Desa Lebak dan Putatsari.

Banjir bandang terjadi akibat hujan deras di wilayah Desa Sumberjatipohon dan Lebengjumuk sejak sore hingga waktu isak. Hujan deras mengakibatkan sungai-sungai di kawasan itu tidak mampu menampung debit air sehingga meluap ke persawahan dan pemukiman penduduk.

Luapan air sungai mulai masuk ke rumah penduduk sekitar pukul 20.00 WIB. Banjir bandang berangsur-angsur surut mulai dinihari hingga menjelang Subuh.

Banjir bandang melanda sejumlah desa di wilayah Kecamatan Grobogan, Sabtu (10/2/2018) dinihari. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrichan menyatakan, dampak banjir bandang menyebabkan lebih dari 1.000 rumah warga tergenang dengan ketinggian air mulai 15-50 centimeter. Air yang menggenangi rumah hanya berlangsung beberapa jam dan kemudian berangsur surut karena bergeser ke kawasan yang lebih rendah.

”Tidak ada korban jiwa dalam musibah banjir bandang semalam. Banjir disebabkan tingginya curah hujan diwilayah atas selama beberapa jam,” katanya.

Selain banjir, tingginya curah hujan juga mengakibatkan bencana longsor di Desa Sedayu. Bencana longsor mengakibatkan akses jalan dari Dusun Sandi, Desa Sedayu menuju Dusun Pucung, Desa Lebak terputus. Kemudian, ada satu rumah yang dilaporkan rusak akibat dampak longsor.

Editor: Supriyadi

91 KK dan Tiga Sekolah Terdampak Banjir di Sumberejo Jepara

MuriaNewsCom, Jepara – Sebanyak 91 kepala keluarga (KK) terdampak banjir yang melanda Dukuh Tempur, Desa Sumberejo, Kecamatan Donorojo, Jepara, Kamis (8/2/2018). Selain itu, tiga sekolah juga mengalami kerugian ratusan juta rupiah karena peristiwa itu.

Data Pusdalops BPBD Jepara, warga terdampak berada di tiga rukun tetangga (RT) dan dua Rukun Warga (RW). Sebanyak 30 KK ada di RT 03 RW 1, 7 KK di RT 1 RW 2, 48 KK di RT 2 RW 1 dan 6 KK di RT 1 RW 1. Sementara sekolah yang terdampak berada di RT 2 RW 1.

“Dari assesment yang kita lakukan tidak ada korban jiwa akibat peristiwa tersebut. Kerusakan bangunan pun tak ada,” ujar Didik Irawan Operator Pusdalops BPBD Jepara.

Ia menyebutkan, banjir tersebut terjadi karena adanya pertemuan dua sungai yang meluap akibat hujan lebat. Setelah sempat merendam perkampungan dengan tinggi 1,5-2 meter, air cepat surut.

“Banjir meninggalkan lumpur. Warga secara bergotong royong membersihkan lingkungan rumah,” katanya.

Seorang siswa menunjukan tumpukan buku yang basah karena terendam banjir, Kamis (8/2/2018). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Sementara itu, Kepala MTS Miftahul Huda Hanif Syaifudin memaparkan sekitar 100 muridnya tak dapat masuk sekolah. Selain merendam ruang kelas, banjir juga menenggelamkan beberapa unit komputer.

“Buku-buku dan dua komputer serta printer milik kami terendam, sehingga tak bisa digunakan. Beruntung 15 komputer yang akan digunakan untuk ujian sudah kami ungsikan ke lantai dua,” ungkapnya.

Hal serupa diungkapkan oleh Rohmad, Kepala RA Miftahul Huda Sumberejo. Menurutnya, beberapa peralatan edukasi milik sekolah terendam banjir.

“Kalau ditanya tentang kerugian, kami belum mengkalkulasi dengan pasti. Namun taksiran kami mencapai ratusan juta rupiah, untuk tiga sekolah,” paparnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, tiga sekolahan tak bisa beroperasi karena diterjang banjir. Ketiganya adalah Raudlatul Athfal, MI dan MTS Miftahul Huda.

Editor : Ali Muntoha

Baca : Banjir Sedalam 2 Meter Rendam Desa Sumberejo Jepara

Banjir Sedalam 2 Meter Rendam Desa Sumberejo Jepara

MuriaNewsCom, Jepara – Banjir melanda Dukuh Tempur, Desa Sumberejo, Kecamatan Donorojo, Kamis (8/2/2018). Air bah menerjang desa tersebut pada pukul 05.00 WIB, dan sempat merendam perkampungan setinggi 2 meter.

Selain itu, tiga sekolah (RA, MI dan MTS Miftahul Huda) yang ada di tengah desa tersebut terendam. Praktis kegiatan belajar mengajar pun diliburkan.

Rahmat, Kepala Sekolah Raudlatul Athfal (RA) Miftahul Huda mengatakan, air bah berasal dari dua sungai yang membelah kampung. Tak kuat menampung derasnya air hujan, air lantas menggenangi desa.

“Ada dua sungai di sini, Sungi Cilik dan Gede. Keduanya bertemu di kampung ini. Selain itu dari semalam hujan deras melanda,” ujarnya.

Warga mengukur ketinggian banjir dengan badannya. Terlihat ketinggian banjir mencapai dada orang dewas. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Praktis seluruh kegiatan di desa berhenti total. Pun juga dengan aktivitas belajar mengajar. Menurutnya, semua siswanya diliburkan sementara.

“Hanya ada beberapa anak yang masuk ke sekolah, itupun tak belajar tapi ikut membersihkan lingkungan sekolah,” urainya.

Menurutnya, dalam waktu singkat air yang sempat melanda perkampungan surut. Mencapai puncak genangan pada pukul 06.00 WIB, air menyusut sepenuhnya pada pukul 09.30 WIB.

Akibat banjir tersebut, baik di perkampungan maupun di sekolah tertimbun lumpur. Warga lantas berbondong-bondong kerja bakti untuk membersihkannya. “Kalau tidak dibersihkan nanti kalau sudah kering susah dibersihkan lumpurnya,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Tak Hanya Beri Bantuan, Bupati Minta Kali Mati di Dekat SMKN 1 Batelatit Jepara Dinormalisasi

MuriaNewsCom, Jepara – Bupati Jepara Ahmad Marzuqi melakukan tinjauan ke SMKN I Batealit yang tempo hari diterjang banjir bandang, Jumat (12/1/2018). Selain berjanji memberi bantuan, kedatangannya untuk memastikan, adanya tindak lanjut terkait normalisasi Kali Mati yang dianggap penyebab banjir pada hari Kamis (11/1/2018) kemarin.

Purwandono, seorang guru di SMKN I Batealit mengatakan, banjir itu disebabkan saluran Kali Mati yang ada didekat sekolahan dibendung oleh pihak pengembang perumahan. Sejak proyek tersebut berjalan, sudah ada dua kali kejadian banjir.

Dikatakannya, pengembang dan pihak sekolah sebenarnya telah beberapa kali melakukan pertemuan terkait pembendungan saluran Kali Mati. Namun hingga terjadinya banjir, belum ada titik temu terkait masalah itu.

“Sudah pernah dua kali banjir, yang terakhir kemarin sampai menyebabkan alat-alat praktik di kelas banyak yang rusak,” tuturnya, dihubungi MuriaNewsCom.

Baca: Sungai Dibendung Proyek Perumahan, SMKN 1 Batealit Jepara Kebanjiran

Menurutnya, kedatangan bupati Jepara untuk memberikan jalan tengah agar banjir tersebut tak terulang untuk ketiga kalinya. Solusi yang diberikan adalah peminjaman alat berat untuk meluruskan alur Kali Mati dan bantuan karung.

“Tadi pak bupati juga memerintahkan untuk menginventarisir kerugian kami apa saja. Harapan kami bisa dibantu, karena alat praktik yang mengalami kerusakan banyak,”

Pihak sekolah menghitung, kerugian yang diderita akibat banjir berkisar Rp 400 juta. Selain menimpa alat praktik seperti mesin otomotif, media kultur jaringan, dan kulkas, air juga menjebol ruang sekolah dan tembok pagar.

“Upaya untuk menanggulangi terulangnya banjir,‎ sekolah akan memasang karung berisi pasir untuk membendung air bilamana ada hujan besar datang. Terkait nominal kerugian, kami masih mengkalkulasinya, semoga tidak sampai sebesar itu (Rp 400 juta),” ungkapnya.

Terkait kegiatan belajar mengajar, hari ini siswa-siswi SMKN I Batealit telah kembali beraktifitas normal.

Editor: Supriyadi

Kerugian Materiil Bencana Banjir di SMKN I Batealit Jepara Capai Rp 400 Juta

MuriaNewsCom, Jepara – Selain membuat kegiatan belajar mengajar lumpuh, banjir yang melanda SMKN I Batealit juga menimbulkan kerugian materiil. Ini lantaran, ada empat laboratorium yang terendam dan membuat sebagian alat rusak.

Tak hanya itu, kuatnya terpaan air juga membuat beberapa bagian bangunan di ruang PKJ jebol. Bahkan pagar sekolah juga ikut ambrol karena tak bisa menahan arus air.

”Jika dihitung-hitung kerugian materiil mencapai Rp 400 juta lebih,” kata Purwandono, salah satu guru‎ SMKN 1 Batealit.

Baca: Sungai Dibendung Proyek Perumahan, SMKN 1 Batealit Jepara Kebanjiran

Ia menjelaskan, banjir kali ini memang bukan yang pertama. Sebelumnya, banjir sudah pernah menyambangi tempatnya mengajar tersebut. Akan tetapi tahun ini yang paling parah. Meski air cepat surut, namun genangannya masuk ke ruangan kelas dan laboratorium serta membuat pagar dan tembok ruangan ambrol.

Akibatnya, pihak sekolah terpaksa memulangkan siswa lebih awal karena kondisi sekolah yang tidak memungkinkan dibuat pembelajaran.

Baca: 9 Kelas Terendam Air, Aktivitas Belajar Mengajar di SMKN I Batealit Jepara Lumpuh

Sebelumnya, Purwandono menduga, banjir setinggi betis orang dewasa itu meluap dari Kali Mati yang ada disekitar lokasi yang dibendung karena ada pengerjaan proyek perumahan.

Disebut Kali Mati lantaran sungai yang berada tak jauh dari sekolah itu memang sudah tak berfungsi maksimal. Setiap harinya, terutama di musim kemarau sungai itu mati. Hanya, saat musim hujan tiba, sungai tersebut kembali berfungsi dan mengalirkan air dari daerah atas.

Namun karena sungainya dibendung, air tidak bisa lancar dan meluap. Ditambah lagi, hujan deras mengguyur Batealit sejak Kamis (11/1/2018) dini hari.

Editor: Supriyadi

Banjir Bandang Terjang Desa Nampu Grobogan, Puluhan Rumah Terendam

MuriaNewsCom, Grobogan – Musibah banjir bandang menerjang wilayah Desa Nampu, Kecamatan Karangrayung, Grobogan, Minggu (7/1/2017).

Banjir yang datang mulai pukul 16.30 WIB itu disebabkan meluapnya Sungai Klampisan. Sebelumnya, hujan deras sempat mengguyur wilayah tersebut selama beberapa jam.

Camat Karangrayung Hardimin menyatakan, wilayah yang terdampak banjir bandang berada di Dusun Ploso. Dari pendataan yang dilakukan, ada sekitar 30 rumah yang kemasukkan air.

“Rumah yang kemasukan air ada di empat RT. Ketinggian air berkisar 10-40 cm,” jelasnya.

Selain rumah, banjir banjar juga menerjang areal pertanian. Total ada lahan jagung sekitar 5 hektare yang terendam air.

“Musibah banjir bandang sudah kita laporkan pada dinas terkait. Penyebab banjir akibat dangkalnya sungai Klampisan sehingga tidak mampu menampung debit air dalam volume besar,” imbuhnya.

Editor : Ali Muntoha

Tanggul Jebol Biang Banjir di Desa Mojoagung Grobogan Mulai Ditangani

Ruas tanggul Sungai Jajar yang jebol di Desa Mojoagung, Kecamatan Karangrayung mulai diperbaiki, Sabtu (30/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganRuas tanggul Sungai Jajar yang jebol di Desa Mojoagung, Kecamatan Karangrayung mulai diperbaiki, Sabtu (30/12/2017). Proses penutupan tanggul jebol sepanjang 10 meter melibatkan puluhan orang. Antara lain, dari DPUPR, TNI, Polri, BPBD, relawan, dan masyarakat setempat.

”Banyak pihak yang terlibat dalam penanganan tanggul jebol. Kita juga didukung satu alat berat dari DPUPR,” kata Camat Karangrayung Hardimin.

Perbaikan tanggul jebol dilakukan sejak pagi. Ditargetkan sore ini, tanggul jebol yang jadi biang banjir di beberapa desa tersebut sudah bisa tertutup sempurna.

Saat tanggul jebol, ada beberapa desa di Kecamatan Karangrayung yang terendam. Masing-masing, di Desa Mojoagung yang menyebabkan 1.471 rumah terendam air. Kemudian, Desa Sumberejosari (806 rumah), Termas (75), Rawoh (50), Mangin (45) dan Pangkalan (181).

”Saat ini, sudah tidak ada rumah yang tergenang. Air sudah surut sejak Jumat kemarin,” kata Hardimin.

Luapan air dari wilayah Karangrayung ini akhirnya bergeser ke dataran yang lebih rendah hingga menyebabkan banjir di sejumlah desa di Kecamatan Godong. Yakni, di Desa Werdoyo, Sumurgede dan Kemloko yang lokasinya berada di aliran sungai Jajar.

Selain di Mojoagung, masih ada satu tanggul jebol di Sungai Tracak di Desa Tunggu, Kecamatan Penawangan. Tanggul jebol ini menyebabkan 130 rumah warga Desa Tunggu dan Guyangan kebanjiran.

”Untuk tanggul jebol di Desa Tunggu segera ditangani. Setelah penutupan tanggul di Mojoagung rampung, alat berat akan kita geser ke Desa Tunggu,” jelas Kepala DPUPR Grobogan Subiyono.

Ia menyatakan, penutupan tanggul memang dilakukan sambil menunggu kondisi dilapangan. Yakni, ketika arus air sudah tidak deras. Begitu arus sungai tenang, penutupan tangggul jebol akan cepat dikerjakan.

Sementara itu, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Grobogan Budi Prihantoro menyatakan, secara keseluruhan, banjir yang sempat terjadi dua hari terakhir sudah surut. Saat ini, hanya ada belasan rumah yang masih tergenang namun ketinggian air sudah berkurang jauh dibandingkan sebelumnya.

”Dari pantauan tadi, hanya di sekitar Desa Werdoyo, Kecamatan Godong yang masih tampak genangan. Untuk lainnya, genangan air di perkampungan sudah surut. Tinggal di areal sawah yang masih tergenang cukup tinggi,” katanya.

Editor: Supriyadi

Dampak Banjir Grobogan, 5 Ribu Rumah Warga Terendam

Sejumlah warga menerjang banjir untuk melaksanakan aktivitas seperti biasa. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Banjir yang melanda sebagian wilayah Grobogan sejak Kamis kemarin ternyata cukup parah kondisinya. Berdasarkan data yang sudah direkap BPBD Grobogan, bencana banjir sudah menjangkau 5.840 rumah penduduk.

Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono mengungkapkan, dari hasil pendataan terakhir, banjir melanda 27 desa di 7 kecamatan. Jumlah tersebut kemungkinan masih bisa bertambah karena masih ada beberapa desa yang baru saja terkena dampak banjir.

“Pendataan sampai pagi ini ada 5.840 rumah warga yang kena dampak banjir sejak Kamis kemarin. Sebagian besar sudah mulai surut airnya,” kata Agus, Jumat (29/12/2017).

Wilayah yang terkena banjir ada di Kecamatan Karangrayung. Masing-masing, di Desa Mojoagung yang menyebabkan 1.471 rumah terendam air. Kemudian, Desa Sumberejosari (806 rumah), Termas (75), Rawoh (50), Mangin (45) dan Pangkalan (181).

Banjir juga melanda dua desa di Kecamatan Penawangan. Yakni, Desa Tunggu dan Guyangan yang menyebabkan 130 rumah kebanjiran. Di Desa Katong, Kecamatan Toroh ada 30 rumah yang terkena dampak banjir.

Seorang lansia dievakuasi karena air semakin tinggi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Selanjutnya, ada dua desa di Kecamatan Tegowanu. Yakni, Desa Kejawan (50) dan Gebangan (10).Di Kecamatan Gubug, ada sembilan desa yang kena musibah banjir. Masing-masing, Desa Saban (50), Rowosari (500), Jeketro (165), Mlilir (75), Ginggangtani (285), Kunjeng (23), Kemiri (170), Gubug (283), dan Kuwaron (573).

Kemudian, bencana banjir juga menimpa wilayah Kecamatan Purwodadi. Yakni, di Desa Candisari, Cingkrong dan kawasan Sambak yang menyebabkan 330 rumah kemasukan air.

Bencana banjir yang baru datang melanda lima desa di Kecamatan Godong. Yakni, Desa Tinanding (19), Tungu (5), Karanggeneng (49), Sumurgede (15), dan Werdoyo (450).

“Ketinggian air yang masuk rumah berkisar 20 cm hingga 1 meter. Selain tanggung jebol di beberapa titik, banjir juga disebabkan luapan air sungai karena tidak mampu menampung kapasitas air,” jelas Agus.

Terkait kondisi tersebut, pihaknya sudah mengerahkan tim SAR untuk bersiaga di lokasi banjir. Kemudian, pengiriman logistik makanan juga sudah dikirimkan ke lokasi banjir sejak kemarin. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan tanggul jebol penyebab banjir.

Editor: Supriyadi

Puluhan Rumah di Perumahan RSS Purwodadi Grobogan Terendam Banjir

Banjir melanda komplek Perumahan RSS Purwodadi yang mengakibatkan puluhan rumah kemasukan air, Kamis (28/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganJumlah kecamatan yang wilayahnya terkena bencana banjir bertambah lagi. Terbaru, banjir melanda wilayah Kecamatan Purwodadi.

Salah satu titik banjir ada di sekitar komplek Perumahan RSS Sambak Indah Purwodadi. Banjir di perumahan ini sudah menggenangi puluhan rumah yang ada dilokasi tersebut.

Datangnya banjir menjelang Dhuhur ini tak ayal bikin kaget warga setempat. Soalnya, pada pagi hari, hanya selokan di timur perumahan yang terlihat penuh air.

Sejumlah warga, terpaksa harus memutar masuk ke lokasi perumahan lewat pintu utara di seberang Mapolres Grobogan. Mereka tidak berani memaksakan lewat karena air dijalan perumahan sudah setinggi lutut.

“Lho, kapan datangnya air ini. Tadi pagi jalan perumahan masih kering,” cetus Siswati, warga setempat yang baru pulang dari tempat kerjanya, Kamis (28/12/2017).

Selepas Dhuhur, ketinggian air terus bertambah. Luapan air juga terlihat hampir menyentuh lantai didepan masjid yang ada di perumahan.

“Saya amati dari tadi, ketinggian airnya bertambah. Mudah-mudahan segera surut dan tidak turun hujan,” kata Latif, warga perumahan yang sedang mengepel lantai masjid.

Selain di perumahan RSS, banjir juga terjadi di Desa Candisari, Kecamatan Purwodadi. Dilaporkan, ada beberapa rumah yang mulai kemasukan air setinggi 20 centimeter.

Luapan air yang berasal dari sungai Serang juga menggenangi ruas jalan Candisari-Pengkol. Akibatnya, kendaraan dari kedua arah harus berjalan pelan saat melintasi ruas jalan yang tergenang air.

Editor: Supriyadi

Tanggul Jebol, Wilayah Kecamatan Karangrayung Grobogan Dikepung Banjir

Sejumlah warga terpaksa beraktivitas di tengah kepungan air. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Musibah banjir melanda sejumlah desa di Kecamatan Karangrayung, Kamis (28/12/2017). Banjir terjadi akibat ada ruas tanggul sungai Jajar yang jebol pada dinihari tadi. Titik tanggul jebol ada di Desa Mojoagung.

Akibat tanggul jebol, air sungai meluap ke perkampungan. Selain areal sawah, luapan air juga masuk ke dalam rumah penduduk. Selain di Desa Mojoagung, luapan air juga mengalir ke sejumlah desa lainnya.

Banjir juga mengakibatkan tergenangnya jalan raya Karangrayung-Juwangi setinggi hampir 50 cetimeter. Akibatnya, arus kendaraan dari kedua arah tersendat. Sebagian pengendara memilih mencari jalur alternatif karena khawatir kendaraannya mogok.

Camat Karangrayung Hardimin menyatakan, banjir kali ini dinilai cukup parah karena areal yang terkena dampak cukup luas. “Banjir terjadi setelah Subuh tadi. Penyebabnya ada tanggul jebol di Desa Mojoagung. Ada beberapa desa yang terkena dampak banjir. Kita masih lakukan pendataan,” jelasnya.

Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrichan menyatakan, ketinggian air di wilayah Karangrayung mulai menurun. Air mulai bergerak ke arah utara menuju wilayah Kecamatan Godong.

“Ini kita masih monitor di lokasi. Air mulai bergerak ke arah Godong. Untuk jalan raya Karangrayung-Juwangi masih terendam, terutama di depan SPBU,” katanya.

Editor: Supriyadi

Banjir Bandang di Penawangan dan Karangrayung Grobogan, Ratusan Rumah Tergenang

Banjir bandang sempat melanda Desa Sumberejosari, Kecamatan Karangrayung dan menyebabkan ratusan rumah warga kebanjiran. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bencana banjir bandang melanda dua desa di wilayah Kecamatan Penawangan dan Karangrayung, Grobogan, Minggu malam hingga Senin (27/11/2017) dinihari. Banjir bandang ini disebabkan meluapnya sungai, akibat hujan deras yang mengguyur sejak Minggu siang hingga malam.

Meski hanya berlangsung beberapa jam saja, namun air luapan sungai sempat menggenangi rumah penduduk. Selain itu, puluhan hektare areal sawah dilaporkan tergenang air.

Banjir bandang di Kecamatan Karangrayung terjadi di Desa Sumberejosari. Wilayah yang terkena dampak banjir ada di Dusun Mendung, Karanglo, dan Pandean.

“Sekitar 200 rumah yang sempat kemasukan air dengan ketinggian 10-40 cm. Menjelang Subuh, air yang masuk ke rumah penduduk mulai surut,” kata Camat Karangrayung Hardimin, Senin (27/11/2017).

Menurutnya, banjir tersebut disebabkan tingginya curah hujan di kawasan Pegunungan Kendeng bagian selatan. Hal itu menjadikan Sungai Jajar tidak bisa menampung volume air, sehingga meluap ke persawahan dan permukiman penduduk.

Dalam waktu hampir bersamaan, banjir juga melanda Desa Tunggu, Kecamatan Penawangan yang wilayahnya berbatasan dengan Kecamatan Karangrayung. Banjir yang disebabkan jebolnya tanggul Sungai Tracak mengakibatkan lebih dari 100 rumah penduduk kemasukan air.

Editor : Ali Muntoha

Jembatan Dukuh Sukun Pati Ambrol Diterjang Banjir Bandang

Kondisi jembatan di Dukuh Sukun, Mulyoharjo, Pati yang ambrol diterjang banjir bandang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jalan jembatan di Dukuh Sukun, Mulyoharjo, Kecamatan Pati ambrol pascabanjir bandang pada Senin (16/10/2017) sore.

Talut di sisi jembatan juga ambrol, setelah hujan deras mengguyur selama dua hari berturut-turut. Kini, warga harus mencari jalur alternatif.

“Selama dua hari ini, hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Pati. Akibatnya, air kiriman dari hulu menggelontor ke bawah dan merusak jembatan,” ujar penduduk setempat, Joko, Selasa (17/10/2017).

Dia memperkirakan, kondisi jembatan akan semakin parah bila ada banjir bandang susulan. Karena itu, warga menutup akses tersebut supaya tidak dilewati pengguna jalan.

“Kalau biasanya menuju jalan raya atau Pasar Runting bisa ditempuh dengan jarak kurang dari satu kilometer, kini warga harus menempuh jarak sekitar 1,5 kilometer karena harus memutar,” imbuhnya.

Jalan tersebut terbilang vital bagi masyarakat. Pasalnya, jalan itu tidak hanya menghubungkan jalan desa, tetapi juga tiga kecamatan, yakni Pati, Tlogowungu, dan Gembong.

Menurutnya, jalan tersebut memang sudah tidak layak, tetapi tidak kunjung diperbaiki. Informasi yang ia terima, jembatan itu akan diperbaiki pada Oktober 2017.

Namun, sampai saat ini belum dilaksanakan. Dia berharap, pemerintah bisa memperbaiki jembatan tersebut karena menjadi jalur transportasi yang vital bagi masyarakat.

Editor: Supriyadi

Warga Rendole Trauma dengan Banjir yang Melanda Pati Kota

Cahyono tengah membersihkan kasur miliknya yang terkena lumpur banjir. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Cahyono tengah membersihkan kasur miliknya yang terkena lumpur banjir. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Wilayah Kecamatan Pati Kota dikepung banjir pada Kamis (21/1/2016) lalu. Sejumlah daerah yang terkena dampak banjir, antara lain Jalan Pati-Tayu Km 1, Jalan Dr Susanto, Blaru, Muktiharjo, Sukoharjo, Sidokerto, Kalidoro, Kelurahan Pati Wetan, dan beberapa daerah lainnya.

Banjir itu membuat sejumlah warga trauma dan khawatir jika banjir akan kembali terjadi. Salah satunya, Cahyono (32) yang merupakan warga Perumahan Rendole Indah Gang 2.

Di daerahnya, lebih dari seratus rumah terkena banjir. Bahkan, tiga rumah di antaranya mengalami kerusakan yang parah. Dinding, pintu dan jendela jebol diterjang arus banjir.

“Terus terang, cuaca seperti ini kami khawatir. Intensitas hujan saat ini lebih tinggi dan hampir setiap hari. Saya khawatir jika tiba-tiba daerah kami diterjang banjir yang menggelontor dari wilayah Gembong,” kata Cahyono kepada MuriaNewsCom, Sabtu (23/1/2016).

Ia menuturkan, banjir yang terjadi saat ini paling besar ketimbang banjir tahun-tahun lalu. “Banjir kali ini paling parah dari yang pernah terjadi sebelumnya,” tukasnya.

Editor : Kholistiono 

Jalan Tayu-Jepara Lumpuh 2 Km Akibat Banjir Bandang

Kondisi banjir bandang di kawasan Pasar Ngablak, Kecamatan Cluwak, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kondisi banjir bandang di kawasan Pasar Ngablak, Kecamatan Cluwak, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Hujan lebat yang mengguyur sejumlah daerah di Kecamatan Tayu dan Cluwak menyebabkan jalan Tayu-Jepara lumpuh sekitar 2 kilometer. Hal itu disebabkan kedalaman arus air yang mengalir mencapai 60 cm.

Edi Setiono, pengguna jalan asal Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti yang hendak berkunjung ke Jepara mengatakan, kondisi tersebut membuatnya harus berhenti di pinggiran jalan hingga satu jam.

“Kondisi paling parah terjadi di kawasan Pasar Ngablak. Luapan air yang mengalir deras mencapai 60 cm pada bagian selatan jalan. Jadi, pengendara hanya bisa lewat jalan pada sisi utara saja,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Rabu (30/12/2015).

Akibatnya, pengguna jalan harus mengikuti buka tutup jalan. “Kami bersama keluarga membawa mobil dan harus mengikuti buka tutup jalan, karena separuh jalan tidak bisa dilewati,” tuturnya.

Ia memperkirakan, banjir bandang disebabkan akibat wilayah lereng Pegunungan Muria bagian utara diguyur hujan hingga menggelontor ke bawah. Bersamaan dengan itu, wilayah Tayu dan Cluwak juga diguyur hujan lebat.

“Banjir bandang berlangsung sekitar satu jam yang menggenangi jalanan. Setelah itu, airnya surut,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Kegiatan Belajar Mengajar di SLB Jepon Blora Lumpuh Akibat Banjir

Guru dan siswa tampak sibuk membersihkan sekolah dari genangan air dan lumpur (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Guru dan siswa tampak sibuk membersihkan sekolah dari genangan air dan lumpur (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Kegiatan belajar mengajar (KBM) di SLB Negeri Jepon, pagi ini lumpuh akibat banjir yang menggenangi sekolah.

Semua siswa dan guru kerja bakti membersihkan ruangan dan halaman sekolah dari sisa-sisa genangan air. Selain itu, lumpur juga ikut masuk kedalam ruang kelas. “Semua siswa dan guru bekerja bakti membersihkan sisa-sisa genangan air yang sejak kemaren sore hingga tadi malam menggenangi sekolah, bahkan orang tua dari siswa juga ikut kerja bakti,” ujar Sutoto, Kepala SLB Negeri Jepon.

Menurutnya, banjir yang menerjang SLB, karena derasnya arus saluran air dibelakang sekolah meluap, hingga menggenangi SLB. “Kemaren air yang masuk ruang hingga selutut orang dewasa, saya dan guru yang lain berjaga-jag sejak sore hingga malam hari, takutnya kalau terjadi apa-apa,” ungkapnya.

Akibat kejadian tersebut, media pembelajaran sebagian mengalami kerusakan. Di antaranya, buku-buku pelajaran yang ada di dalam kelas, dan sebagian meja juga ada yang rusak.

Dalam hal ini, semua siswa dipulangkan lebih awal karena dinilai tidak efektif digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. “Semua siswa dipulangkan lebih awal, karena tidak efektif untuk belajar, masih ada lumpur di halaman sekolah dan kondisi kelas juga masih berantakan,” imbuhnya. (RIFQI GOZALI/KHOLISTIONO)

2 Kendaraan Warga yang Hanyut Akibat Banjir, Kini Sudah Ditemukan

Mobil Carry yang hanyut akibat banjir, dan kini belum bisa dievakuasi (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Mobil Carry yang hanyut akibat banjir, dan kini belum bisa dievakuasi (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Dua kendaraan milik warga yang hanyut lantaran banjir bandang di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, pada Senin (14/12/2015) sore sudah ditemukan. Dua kendaraan tersebut ialah mobil Carry milik Ahmad Baikoni warga Wonosoco RT 1 / RW 1 dan sepeda motor jenis Yamaha Vixion milik Suwardi, warga Desa Karanganyar, Demak.

Ketua RT 1 Desa Wonosoco Suwandi mengatakan, untuk mobil Carry milik Ahmad Baikoni itu ternyata tersangkut di pintu gerbang Sendang Dewot yang berjarak 200 meter dari rumahnya. Sedangkan sepeda motor vixion ditemukan dibelakang rumah atau sekitar 300 meter dari lokasi parkir Sendang Dewot.

“Mobil Carry sudah ditemukan sekitar pukul 17.00 WIB, sedang sepeda motor ditemukan sekitar pukul 03.00 WIB di belakang rumah saya. Banjir kemarin memang cukup besar, yakni, yang pertama kejadiannya sekitar pukul 16.30 WIB dan menghanyutkan dua kendaraan,” katanya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, saat ini warga Wonosoco masih disibukkan dengan bersih-bersih. Sebab, banjir pada Senin kemarin merupakan banjir yang paling terparah, serta diiringi lumpur tebal.

“Untuk kondisi mobil itu kita belum bisa mengevakuasi. Sebab kita kekurangan personil. Sedangkan untuk motor vixion sudah dievakuasi warga dan akan dibawa pulang oleh yang bersangkutan dari Karanganyar Demak,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Ratusan Rumah di Desa Panganten, Kecamatan Klambu Diterjang Banjir Bandang

Warga Ketakutan Saat 200 Rumah di Panganten Grobogan Kebanjiran

Warga Ketakutan Saat 200 Rumah di Panganten Grobogan Kebanjiran

 

GROBOGAN – Hujan deras yang mengguyur wilayah Grobogan sejak pukul 14.00 WIB hingga menjelang pukul 21.00 WIB mengakibatkan banjir bandang di Desa Penganten, Kecamatan Klambu, Grobogan, Senin (14/12/2015).

Informasi yang dihimpun menyebutkan, dalam peristiwa ini ada ratusan rumah penduduk yang terkena terjangan air dan masuk ke dalam rumah.

“Data sementara sekitar 200 rumah yang terkena dampak banjir bandang. Kemungkinan jumlahnya masih lebih banyak karena kita masih melakukan pendataan di lapangan,” kata Kades Penganten Junaidi.

Menurutnya, banjir yang datang berasal dari kawasan atas atau pegunungan Kendeng Utara. Selain menerjang perkampungan, banjir juga merusak aneka tanaman warga.

Sebagian warga, rumahnya juga sempat kemasukan air. Ketinggian air yang masuk ke dalam rumah berkisar 50 cm hingga 1 meter.

“Kita juga dapat kabar kalau ada rumah warga yang rusak terkena banjir bandang. Hanya saja, kita belum bisa menuju ke sana karena akses jalan masih cukup sulit,” imbuhnya.

Selain di Penganten, musibah banjir bandang juga terjadi di Desa Klambu, Kecamatan Klambu. Jumlah desa yang terkena bandang juga cukup banyak. Kemudian, di Desa Sumberjatipohon, Kecamatan Grobogan juga dikabarkan ada satu rumah rusak berat terkena terjangan air. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

“Baru Pulang Kerja, Rumah Sudah Direndam Banjir”

Warga Kelurahan Kunden disibukkan dengan membersihkan rumah yang tergenang air. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozaki)

Warga Kelurahan Kunden disibukkan dengan membersihkan rumah yang tergenang air. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozaki)

 

BLORA – Hujan deras yang mengguyur Blora menyebabkan banjir di beberapa tempat. Salah satunya di Kelurahan Kunden, Blora, Senin (14/12/12015). Hujan yang mengguyur sejak pukul 14.00 WIB menyebabkan perumahan Perumda Sub inti Kelurahan Kunden tergenang air hingga ketinggian lutut orang dewasa.

Air juga merendam rumah warga, sejak pukul 17.00 WIB. Banjir terjadi karena derasnya hujan yang turun dalam waktu lama. Luapan air dari sawah di sekitar perumahan itu menerjang rumah warga.

“Air dari sawah meluap tidak bisa mengalir ke saluran, akhirnya masuk ke perumahan warga” tutur Suparni (36) warga Kunden.

Warga juga disibukkan dengan saling membantu menyelamatkan barang-barang yang rumahnya digenangi air. “Saya baru pulang dari kerja tahu-tahu sudah banjir, saya langsung menyelamatkan barang-barang yang ada” tutur Suwanti (38) warga Kunden yang rumahnya digenangi air.
Pasalnya, setiap hujan lebat turun perumahan tersebut langganan banjir dikarenakan lupan air dari sawah sekitar, dan juga buruknya sanitasi. (RIFQI GOZALI/AKROM HAZAMI)