Tim BPSMP Sangiran Lakukan Konservasi Temuan Fosil di Museum Lapangan Banjarejo

MuriaNewsCom, Grobogan – Tim ahli dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran kembali melakukan konservasi fosil di museum lapangan di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. Rencananya konservasi akan dilakukan selama 10 hari.

”Saat ini kegiatan konservasi sudah dilakukan sejak lima hari lalu. Targetnya diselesaikan dalam waktu 10 hari atau lima hari lagi,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Jumat (23/3/2018).

Fosil yang ditemukan di tengah areal sawah itu berasal dari potongan tubuh beberapa jenis hewan purba. Antara lain, gajah, banteng, dan buaya. Setelah dilakukan pelebaran kotak eskavasi hingga ukuran 10×12 meter, ditemukan lebih banyak fosil hingga jumlahnya lebih dari 100 biji. Baik ukuran kecil, sedang maupun besar.

Pada bulan September 2017 lalu, semua fosil dalam kotak eskavasi sudah diangkat dari lokasi. Proses pengangkatan semua fosil butuh waktu hingga delapan hari.

Lamanya tenggat waktu pengangkatan itu disebabkan jumlah fosil yang ditemukan cukup banyak. Selain itu, proses pengangkatan juga butuh kehati-hatian dan ketelitian sehingga makan waktu cukup lama.

Sebelum diangkat, terlebih dulu dilakukan proses pembersihan sisa sedimen yang masih menempel pada fosil. Setelah dilakukan beberapa perlakuan, fosil kemudian dituangi cairan kimia polyurethane.

Penggunaan cairan kimia itu bertujuan untuk meminimalkan risiko kerusakan pada fosil yang akan diangkat dari lokasi penemuan. Seperti, resiko terjatuh atau kena getaran saat dibawa ke tempat penampungan sementara. Fosil yang terbalut busa akan tetap utuh seperti aslinya.

Ketua tim konservasi BPSMP Sangiran Yudha Her Prima menyatakan, konservasi adalah konsep proses pengelolaan suatu tempat atau ruang atau obyek agar makna kultural yang terkandung di dalamnya terpelihara dengan baik. Dalam pengertian yang lain konservasi adalah suatu tindakan pelestarian yang dilakukan dengan cara memelihara, mengawetkan benda cagar budaya dengan teknologi modern sebagai upaya untuk menghambat proses kerusakan dan pelapukan lebih lanjut.

”Pada dasarnya kegiatan konservasi bertujuan untuk menjaga keberadaan dan kualitas cagar budaya agar dapat dipertahankan untuk jangka waktu yang panjang,” jelasnya.

Konservasi di Banjarejo dilakukan dengan melakukan pembukaan lapisan pengaman dan pembersihan fosil. Tahap selanjutnya, melapisi fosil dengan pareloid untuk pengerasan dan pengawetan. Untuk fosil yang kondisinya patah akan dilakukan penyambungan. Setelah itu, semua fosil yang sudah dikonservasi akan dicatat dan dimasukkan dalam data base.

”Jumlah fosil temuan sangat banyak dan sebagian kondisinya patah-patah. Sebenarnya butuh waktu cukup lama untuk melakukan konservasi. Namun, dengan waktu 10 hari kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk merampungkan konservasi,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Tim BPSMP Sangiran Temukan Fosil Unik di Banjarejo Grobogan, Ini Wujudnya

MuriaNewsCom, Grobogan – Ratusan benda purbakala kembali ditemukan tim ahli dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, saat melakukan penelitian di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus.

Benda purbakala baru yang berasal dari berbagai potongan tubuh hewan purba tersebut ditemukan tim ahli dari beberapa lokasi survei maupun eskavasi.

Dari ratusan temuan baru tersebut, ada satu yang dinilai unik bahkan sangat jarang didapatkan. Yakni, fosil potongan gigi susu stegodon (stegodon muda) yang di atasnya melekat atau menempel beberapa fosil kerang purba.

Jumlah kerang yang menempel ada 6 buah. Posisi fosil kerang menempel erat seperti dilem.

“Saat ditemukan kondisi aslinya memang seperti ini. Jadi, potongan fosil gigi gajah purba itu memang melekat erat kayak dilem. Fosil kedua jenis hewan ini tidak bisa terpisahkan, karena sudah menyatu. Penemuan ini memang cukup unik dan temuan kayak gini baru satu-satunya,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Kamis (15/3/2018).

Fosil unik itu panjangnya sekitar 13 cm dengan lebar 9 cm dan tebal/diameternya 9 cm. Fosil ditemukan saat tim BPSMP melakukan survei lapangan di sebelah utara Dusun Peting, Minggu (11/3/2018) lalu.

Di sisi lain, adanya temuan fosil unik itu makin menguatkan dugaan jika di wilayah Banjarejo dulunya berupa lautan. lalu berubah jadi daerah rawa dan daratan. Hal ini diprediksi dari jenis fosil yang sudah berhasil ditemukan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Sebelumnya, jenis hewan purba berdasarkan fosil yang ditemukan selama ini berasal dari sekitar 12 spesies binatang. Antara lain, gajah, badak, kuda nil, penyu, banteng, kerbau, buaya, kerang, antelope, menjangan, ikan laut termasuk hiu yang hidup di perairan dangkal.

Ahli Geologi dari BPSMP Sangiran, Suwito Nugraha menyatakan, dari analisanya, kondisi alam di kawasan Banjarejo dimungkinkan beralih dari lautan kemudian darat dan laut lagi.

Dalam survei dan ekskavasi yang sudah dilaksanakan dua tahun terakhir di Banjarejo, diketahui fosil binatang yang ditemukan menunjukkan kondisi lingkungan yang berasal dari daratan dan tepi pantai serta laut.

Lebih lanjut dijelaskan, lapisan tanah yang ditemukan di dalam beberapa kotak ekskavasi yang dibuka pada tahap penelitian berupa gamping konglomeratan. Yakni tanah dengan campuan cangkang kerang, organisme laut, pecahan batu dan lumpur karbonat.

Pada temuan di kotak ekskavasi penelitian, juga terdapat lapisan tanah diduga dari laut dengan indikasi tanah berwarna biru dan tanah bau anyir. “Bisa jadi dulunya kawasan ini semula berupa lautan lalu jadi rawa dan daratan,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

BPSMP Sangiran Ajak Pelajar di Grobogan Peduli Potensi Purbakala Banjarejo

MuriaNewsCom, Grobogan – Ratusan pelajar di Grobogan diajak untuk ikut peduli dan melestarikan potensi purbakala yang sudah ditemukan di wilayah tersebut. Khususnya, penemuan ratusan benda purbakala yang ada di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus.

Hal itu disampaikan Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Muhammad Hidayat saat sosialisasi dan penyebaran informasi pelestarian cagar budaya untuk penguatan pendidikan karakter yang dilangsungkan di Balaidesa Banjarejo, Kamis (15/3/2018).

Sosialisasi dibuka Kasi Pendidikan NonFormal Disdik Grobogan, Amin Susanto. Sosialisasi dihadiri lebih dari 100 pelajar dan sejumlah guru pada tingkat SMP dan SMA dari tiga kecamatan. Yakni, Kecamatan Gabus, Kradenan, dan Pulokulon.

Menurut Hidayat, upaya penyebarluasan informasi tentang nilai penting situs Banjarejo perlu dilakukan kepada generasi muda. Informasi ini perlu ditanamkan sejak dini, agar para pelajar dapat memiliki kepedulian terhadap cagar budaya dan situs purbakala yang berada di sekitar mereka.

Melalui sosialisasi dan penyebarluasan informasi ini, diharapkan masyarakat Banjarejo dapat memahami arti penting cagar budaya dan situs purbakala yang merupakan warisan dari generasi terdahulu.

Dengan memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik, diharapkan para pelajar akan turut berperan serta dalam melestarikan cagar budaya dan situs purbakala di daerahnya masing-masing.

“Para pelajar dari Grobogan selama ini banyak yang sudah berkunjung ke Meseum Sangiran. Kami juga meminta mereka untuk mengunjungi penemuan di Banjarejo sebagai salah satu bentuk kepedulian,” jelasnya.

Lebih jauh Hidayat menyatakan, dari hasil penelitian yang sudah dilakukan selama ini, diketahui jika Desa Banjarejo memiliki potensi arkeologis yang besar. Potensi arkeologis yang terdapat di Banjarejo mulai dari temuan prasejarah, klasik hingga kolonial.

Dengan potensi arkeologis yang begitu besar itulah, Banjarejo sudah mendapat perhatian dari berbagai pihak. Salah satunya dari BPSMP Sangiran yang telah melakukan kegiatan sosialisasi, kajian potensi, pendataan, konservasi fosil dan penataan koleksi untuk mendukung lahirnya Rumah Fosil Banjarejo.

“Potensi arkeologis yang begitu besar di Banjarejo menjadikan daerah ini sebagai situs yang penting bagi ilmu pengetahuan. Terutama untuk pemahaman tentang pengetahuan sejarah perjalanan kehidupan,” ungkapnya.

Setelah mendapat banyak paparan di balaidesa, peserta sosialisasi juga diajak berkunjung ke museum lapangan yang ada di Dusun Kuwojo. Pada lokasi museum ini sempat ditemukan fosil gajah purba.

Kunjungan ke museum lapangan dilakukan guna memperkuat karakter generasi muda yang menjadi peserta sosialisasi. Format sosialisasi kepada pelajar ini juga diintegrasikan dengan penguatan pendidikan karakter dengan berperan aktif dalam usaha pelestarian.

Upaya pelestarian bisa dilakukan dalam tingkat yang sederhana. Misalnya, membersihkan lingkungan sekitar museum, sebagai salah satu bentuk penguatan karakter dengan nilai utama nasionalisme dan gotong royong.

“Kami senang bisa menghadiri acara sosialisasi tadi. Terus terang, saya dapat banyak ilmu tentang purbakala dengan mengikuti kegiatan ini,” cetus Edi, salah satu peserta sosialisasi.

Editor : Ali Muntoha

Belasan Tim Ahli BPSMP Sangiran Lakukan Penelitian di Desa Banjarejo

MuriaNewsCom, GroboganTim ahli dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran kembali datang ke Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kamis (8/3/2018). Kedatangan tim sebanyak belasan orang ini bertujuan untuk melangsungkan penelitian lanjutan.

”Menjelang magrib tadi, sebagian tim dari BPSMP sudah tiba di Banjarejo. Tim lainnya rencananya akan datang Jumat besok,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurutnya, begitu sampai di Banjarejo, rombongan dari Sangiran itu langsung menuju ke rumahnya. Soalnya, semua koleksi benda purbakala yang ditemukan selama beberapa tahun terakhir kebetulan disimpan di rumahnya.

Penelitian yang dilakukan tim ahli BPSPM kali ini merupakan lanjutan kegiatan serupa pada tahun 2016 dan 2017 lalu. Rencananya, kegiatan penelitian akan dilangsungkan selama dua pekan, hingga 19 Maret mendatang.

Taufik mengaku sangat lega sekaligus gembira dengan datangnya para pakar purbakala dari BPSMP Sangiran yang akan melangsungkan penelitian lanjutan. Dengan kegiatan itu, setidaknya akan bisa mengungkap lebih banyak lagi misteri yang ada didesanya.

”Masyarakat Banjarejo sudah menantikan kedatangan ahli purbakala yang akan melangsungkan penelitian di sini. Mudah-mudahan, pelaksanaan penelitian nanti berjalan lancar dan bisa mengungkap tabir yang ada di bumi Banjarejo ini,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Begini Asyiknya Komunitas Blazer Semarang saat Berkunjung ke Banjarejo Grobogan

MuriaNewsCom, GroboganRombongan tamu istimewa sempat berkunjung ke Rumah Fosil Purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Minggu (25/2/2018). Yakni, anggota komunitas otomotif Blazer Indonesia Club (BIC) Rayon Semarang Toegoe Moeda. Rombongan dari Semarang ini datang ke Banjarejo menggunakan 23 mobil.

Kedatangan tamu sebanyak 70 orang itu langsung disambut meriah oleh warga setempat. Begitu masuk ke halaman rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik, rombongan tamu langsung disambut ibu-ibu yang menyuguhkan petunjukkan kotekan lesung.

Para tamu terlihat merasa terhibur dengan pertunjukkan langka yang sudah jarang ditemui tersebut. Beberapa orang diantaranya bahkan sempat ikut mencoba menabuh lesung menggunakan alu (alat penumbuk).

Setelah itu, rombongan sempat masuk ke dalam rumah untuk melihat aneka koleksi benda purbakala dan cagar budaya yang untuk sementara ditempatkan di rumah Ahmad Taufik.

Tamu dari Semarang sempat dibikin kaget saat melihat koleksi benda bersejarah yang tersimpan ditempat itu. Jumlah koleksi yang ada didalamnya ternyata cukup banyak dan jenisnya cukup beragam.

komunitas otomotif Blazer Indonesia Club (BIC) Rayon Semarang Toegoe Moeda saat berkunjung ke museum banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Kades Ahmad Taufik langsung bertindak jadi pemandu. Kepada tamunya, Taufik menerangkan secara rinci tentang koleksi yang ada dirumahnya.

”Koleksi disini berupa benda purbakala dan cagar budaya yang semuanya ditemukan di wilayah Desa Banjarejo. Saat ini, koleksi benda peninggalan masa lalu itu lebih dari 500 unit,” kata Taufik.

Rombongan tamu sempat dibikin terpana dengan  beberapa koleksi benda purbakala yang ada disitu. Yakni, dua gading gajah purba yang panjangnya hampir mencapai 3 meter.

Satu benda purbakala lagi yang bikin takjub adalah fosil kepala kerbau raksasa yang dipajang pada dinding ruang tamu. Fosil langka ini usianya sekitar 1 juta tahun dan ukurannya memang sangat besar.

Panjang antar ujung tanduk fosil kepala kerbau ini mencapai 170 cm. Kemudian tinggi tulang bagian kepala mencapai 60 cm dengan lebar 25 cm. Sedangkan panjang tiap tanduk sekitar 115 cm.

”Wow, fosil kepala kerbau ini besar sekali. Barangkali semasa hidupnya dulu, kerbau ini posturnya lebih besar dari mobil Blazer,” kata beberapa tamu dari Semarang yang disambut tawa banyak orang.

Tamu dari Semarang mengapresiasi upaya pelestarian benda bersejarah di Desa Banjarejo tersebut. Adanya peninggalan bendamasa lalu itu selain bisa jadi bahan pembelajaran juga bisa mendatangkan wisatawan untuk berkunjung ke Desa Banjarejo.

”Setelah berkunjung kesini, kami jadi makin banyak pengetahun tentang sejarah masa lalu. Kami doakan semoga dalam waktu dekat sudah berdiri sebuah museum purbakala di Banjarejo,” kata Dan Yon BIC Rayon Semarang Toegoe Moeda Ja’far van DePul.

Editor: Supriyadi

Wilayah Banjarejo Grobogan Dulunya Ternyata Sebuah Lautan, Ini Penjelasannya

MuriaNewsCom, GroboganMakin banyaknya temuan fosil gigi hiu makin menguatkan dugaan jika di wilayah Banjarejo dulunya berupa lautan lalu berubah jadi daerah rawa dan daratan. Hal ini diprediksi dari jenis fosil yang sudah berhasil ditemukan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Sebelumnya, jenis hewan purba berdasarkan fosil yang ditemukan selama ini berasal dari sekitar 12 spesies binatang. Antara lain, gajah, badak, kuda nil, penyu, banteng, kerbau, buaya, kerang, antelope, menjangan, ikan laut termasuk hiu yang hidup diperairan dangkal.

Baca: Leyeh-leyeh di Bawah Pohon Jati, Warga Banjarejo Grobogan Temukan 11 Fosil Gigi Hiu Berusia Ratusan Tahun

Ahli Geologi dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Suwito Nugraha menyatakan, dari analisanya, kondisi alam di kawasan Banjarejo dimungkinkan beralih dari lautan kemudian darat dan laut lagi.

Dalam survei dan ekskavasi yang sudah dilaksanakan dua tahun terakhir di Banjarejo diketahui, fosil binatang yang ditemukan menunjukkan kondisi lingkungan yang berasal dari daratan dan tepi pantai serta laut.

Lebih lanjut dijelaskan, lapisan tanah yang ditemukan di dalam tiga kotak ekskavasi yang dibuka pada tahap penelitian berupa gamping konglomeratan. Yakni tanah dengan campuan cangkang kerang, organisme laut, pecahan batu dan lumpur karbonat.

Pada temuan di kotak ekskavasi penelitian juga ditemukan lapisan tanah diduga dari laut dengan indikasi tanah berwarna biru dan tanah bau anyir. “Bisa jadi dulunya kawasan ini semula berupa lautan lalu jadi rawa dan daratan,” katanya saat melangsungkan penelitian di Banjarejo akhir tahun 2017 lalu.

Editor: Supriyadi

Leyeh-leyeh di Bawah Pohon Jati, Warga Banjarejo Grobogan Temukan 11 Fosil Gigi Hiu Berusia Ratusan Tahun

MuriaNewsCom, GroboganJumlah koleksi fosil purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan bertambah lagi. Hal ini menyusul adanya penemuan potongan fosil hewan purba terbaru pada Selasa (30/1/2018) kemarin. Benda purbakala terbaru ini berupa fosil gigi hiu purba yang diperkirakan berusia ratusan ribu tahun.

”Jumlahnya ada 11 fosil gigi ikan hiu purba. Lokasi penemuan ada di kebun jati di sebelah utara Dusun Barak. Selasa siang kemarin ditemukan dan baru diserahkan menjelang magrib,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Rabu (31/1/2018).

Fosil gigi hiu purba ditemukan warga Banjarejo bernama Tarno (50). Ceritanya, pada Selasa siang, Tarno sedang ngaso atau istirahat di bawah pohon jati tidak jauh dari ladangnya.

Saat itulah, ia melihat ada benda mirip fosil di dekat akar jati yang posisinya menyembul dipermukaan tanah. Setelah diambil dan diperhatikan, benda tersebut ternyata fosil gigi hiu purba. Selanjutnya, Tarno mencari lagi disekitar lokasi itu dan akhirnya mendapatkan 11 potongan fosil yang bentuk dan ukurannya berbeda-beda.

”Fosil gigi hiu ini kecil sekali ukurannya. Paling besar ukurannya sekitar 3 x 3 centimeter. Kebanyakan bentuk fosil gigi hiu ini kayak logo mobil mercy,” sambung Taufik.

Menurut Taufik, sebelumnya sudah ada penemuan fosil gigi hiu purba. Yakni, pada tahun 2016 dan 2017, masing-masing ada penemuan lima fosil gigi hiu purba. Ditambah penemuan terbaru, jumlahnya ada 21 fosil gigi hiu purba.

Dari 21 fosil ini, sebanyak 20 fosil merupakan gigi hiu banteng yang punya nama latin Carcharhinus Leucas. Sedangkan satu fosil gigi lagi yang ditemukan di Dusun Nganggil berasal dari jenis hiu putih.

”Untuk 20 fosil gigi hiu banteng purba, semuanya ditemukan Pak Tarno. Lokasi penemuan pada kawasan yang sama, yakni di sekitar kebun jati dekat sawahnya. Jadi, boleh dibilang, Pak Tarno ini spesialis penemu fosil khusus gigi hiu purba,” imbuh Taufik.

Editor: Supriyadi

Gadis Jepang Ini Terkesima Lihat Benda Purbakala di Banjarejo Grobogan

MuriaNewsCom, Grobogan – Rumah Fosil Purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, kedatangan pengunjung istimewa, Senin (21/1/2018). Yakni, gadis asal Jepang bernama Hana Melody yang berasal dari Jepang.

Tamu dari negeri Sakura ini tidak berkunjung sendirian tetapi ada beberapa orang yang mendampingi. Antara lain, seniman dan budayawan asal Kecamatan Tawangharjo Suyadi yang lebih dikenal dengan nama Pak Raden. Kemudian, ada juga putra Pak Raden bernama Luluk dan istrinya serta dua orang lainnya.

Tamu dari luar negeri ini tiba di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik yang untuk sementara dijadikan ‘museum’, sekitar pukul 12.30 WIB.  Mereka berdua sempat melihat aneka koleksi benda purbakala sekitar 1 jam lamanya.

”Lumayan lama kami berada di Banjarejo. Tamu dari Jepang tadi merasa senang karena bisa melihat langsung benda purbakala yang jumlahnya sangat banyak,” kata Pak Raden.

Gadis Jepang Hana Melody berfoto bersama saat berada di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik untuk melihat koleksi benda purbakala, Senin (21/1/2018). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Menurutnya, gadis Jepang tersebut statusnya masih kuliah di Amerika Serikat. Kebetulan, Hana itu sempat berkenalan dengan anaknya yang tinggal di Solo lewat media sosial. Lewat komunikasi online, Hana ingin sekali berlibur ke Indonesia dan minta ditemani jalan-jalan.

”Jadi, kemarin dia datang kesini dan hari ini diajak ke Grobogan. Selain di Banjarejo, tadi juga sempat mampir lihat fenomena alam Bledug Kuwu dan air terjun Widuri. Dia di Grobogan sehari ini, dan nanti malam rencananya mau ke Jogja,” jelasnya.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik merasa senang dengan adanya kunjungan warga Jepang untuk melihat koleksi benda purbakala tersebut. Dia berharap, potensi purbakala di desanya bisa disebarluaskan pada banyak kalangan biar makin dikenal.

”Semoga dari kunjungan ini bisa membawa dampak positif. Yakni, makin dikenalnya potensi purbakala Banjarejo,” katanya.

Editor: Supriyadi

Anggota DPD RI Ini Kepincut Koleksi Fosil di Banjarejo Grobogan

MuriaNewsCom, Grobogan – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Bambang Sadono mengaku terpukau terhadap banyaknya penemuan aneka benda cagar budaya dan purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan.

Hal itu disampaikan Bambang saat melihat langsung koleksi benda bersejarah yang tersimpan di rumah Kades Banjarejo, Ahmad Taufik, Sabtu (6/1/2018).

“Koleksi benda bersejarah di sini luar biasa sekali. Saya salut dengan upaya Pak Kades untuk melestarikan dan merawat temuan yang tidak ternilai harganya ini,” kata Bambang.

Menurutnya, dengan adanya temuan benda bersejarah yang sudah dikumpulkan jadi satu tersebut membawa dampak positif. Yakni, bisa jadi lokasi wisata sekaligus obyek penelitian ilmiah.

Kebetulan, Desa Banjarejo lokasinya tidak jauh dari obyek wisata Bledug Kuwu. Dengan demikian, para pengunjung Bledug Kuwu bisa meluangkan waktunya untuk melihat potensi purbakala di Banjarejo.

“Melihat banyaknya koleksi yang ada, sudah waktunya ada museum khusus di Banjarejo. Semoga keberadaan museum bisa segera terwujud,” jelasnya.

Dalam kunjungan itu, Kades Ahmad Taufik langsung bertindak jadi pemandu. Taufik menerangkan secara rinci tentang koleksi yang ada di rumahnya.

Baik, koleksi benda purbakala maupun cagar budaya yang ditemukan di Desa Banjarejo. Saat ini, koleksi benda peninggalan masa lalu itu lebih dari 500 unit.

Di antara koleksi, ada beberapa yang dinilai paling istimewa. Yakni, fosil kepala kerbau raksasa yang dipajang pada dinding ruang tamu.

Fosil langka ini usianya sekitar 1 juta tahun dan ukurannya memang sangat besar. Di mana, panjang antar ujung tanduk mencapai 170 cm. Kemudian tinggi tulang bagian kepala mencapai 60 cm dengan lebar 25 cm. Sedangkan panjang tiap tanduk sekitar 115 cm.

“Ini baru fosil kepalanya saja segini gede. Barangkali semasa hidupnya dulu, kerbau ini besarnya seukuran truk,” kata Taufik.

Editor : Ali Muntoha

 

Libur Natal, Ratusan Orang Kunjungi ‘Museum’ Banjarejo Grobogan

Rumah Kepala Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus ramai dikunjungi orang yang ingin melihat koleksi benda bersejarah. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganPilihan orang mengisi libur panjang ternyata tidak hanya dilakukan pada obyek wisata terkenal saja. Keberadaan ‘museum’ Desa Banjarejo ternyata juga mengundang daya tarik pengunjung selama libur natal tahun ini.

Indikasinya, bisa dilihat dengan ramainya pengunjung ke desa yang berjarak sekitar 50 km dari Kota Purwodadi itu. Tujuan utamanya tentu saja untuk melihat koleksi benda purbakala dan cagar budaya yang disimpan di rumah Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik.

“Kebetulan saya tadi jagong di Kecamatan Gabus. Ada famili yang mau punya gawe. Sekalian, saya ajak anak istri untuk melihat koleksi benda kuno di Banjarejo. Selama ini, saya sering menyimak kabar Desa Banjarejo dari media online,” kata Anwar Kholis, warga asal Purwodadi yang sudah lama menetap di Bandung, Selasa (26/12/2017).

Tidak hanya dari luar kota saja, pengunjung lokal dari wilayah Grobogan juga banyak yang bertandang ke Banjarejo. Kebanyakan, mereka ini datang secara rombongan. Ada yang naik sepeda motor dan mobil pribadi. Beberapa waktu sebelumnya, ada pula rombongan pengunjung yang datang naik sepeda.

“Liburan kali ini, saya tidak mengajak keluarga piknik ke luar kota seperti biasanya. Maklum kondisi ekonomi lagi tidak memungkinkan. Makanya, saya ajak saja jalan-jalan lihat koleksi benda-benda kuno dan bersejarah,” cetus Ansori, warga Kecamatan Godong.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik mengakui jika animo orang untuk berkunjung ke desanya memang meningkat dalam momen natalan ini. Mulai Minggu hingga hari ini, rumahnya yang dipakai menyimpan benda berejarah, tidak pernah sepi dari pengunjung.

“Selama tiga hari terakhir, sekitar 700 pengunjung yang datang. Beberapa pengunjung bahkan ada yang mengaku dari luar Jawa,” katanya.

Selain melihat koleksi benda purbakala dan cagar budaya, beberapa pengunjung ada yang meminta doa dan oleh-oleh kurma pada Taufik. Mereka sengaja mengajukan permintaan karena mengetahui jika Taufik baru saja pulang dari Tanah Suci untuk menunaikan ibadah Umrah.

Editor: Supriyadi

Ada Kisah Naga Raksasa Putra Aji Saka dari Sumur Garam Desa Crewek Grobogan yang Meletupkan Lumpur

Warga memeriksa luapan lumpur yang muncul dari sumur air asin di Desa Crewek, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Luapan lumpur dari dalam perut bumi secara terus menerus terjadi di Desa Crewek, Kecamatan Kradenan, Grobogan sejak sepekan lalu jadi topik pembicaraan hangat warga sekitar.

Bahan pembicaraan tidak hanya mengenai masalah lumpur yang untuk pertama kalinya muncul dari bekas sumber air pembuatan garam tersebut saja.

Namun, ada tema lain yang kembali dibicarakan banyak orang. Yakni, mengenai asal mulanya terdapat sumber air asin di Desa Crewek.

Dari cerita turun temurun, sumber air garam ada hubungannya dengan sosok ular naga yang bernama Joko Linglung. Binatang melata ini konon kabarnya merupakan anak dari tokoh legenda Aji Saka yang berwujud ular raksasa.

Oleh Aji Saka, ular ini diperintahkan untuk membunuh Prabu Dewata Cengkar yang berubah wujud jadi buaya putih dan bersembunyi di Laut Selatan. Jika perintah itu berhasil dilaksanakan, Aji Saka akan mengakui Joko Linglung sebagai putranya.

Sumur air asin yang mengeluarkan luapan lumpur inilah yang diyakini sebagai tempat munculnya Joko Linglung, naga raksasa putra Aji Saka. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Singkat cerita, Joko Linglung akhirnya berhasil mengalahkan buaya putih jelmaan Dewata Cengkar melalui pertarungan seru di Laut Selatan.

Setelah tugasnya selesai, Joko Linglung bermaksud menemui Aji Saka yang jadi penguasa Kerajaan Medang Kamulan. Kerajaan ini diyakini pernah berdiri di Dusun Medang, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan.

Agar tidak menimbulkan ketakutan, dari Laut Selatan Joko Linglung melakukan perjalanan dengan menerobos bumi. Sepanjang perjalanan, beberapa kali Joko Linglung muncul ke permukaan tanah untuk menghirup udara, sekaligus mencari tahu sudah sampai di mana perjalanannya.

Ada beberapa tempat yang jadi munculnya Joko Linglung dalam perjalanan menuju Medang Kamulan guna bertemu Aji Saka. Pertama, Joko Linglung muncul di Desa Crewek. Kemudian, muncul kedua di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, dan terakhir di Bledug Kuwu.

Di tempat kemunculan terakhir inilah Joko Linglung akhirnya bertemu Aji Saka dan diakui sebagai anaknya.

Baca : Kena Gempa, Luapan Lumpur Muncul dari Bekas Sumber Garam Desa Crewek Grobogan

Bekas tempat munculnya Joko Linglung ini kemudian menjadi sebuah sumur yang airnya asin. Disebut-sebut sumber air di sumur itu merupakan rembesan dari air Laut Selatan. Oleh warga sekitar, sumber air asin dimanfaatkan untuk membuat garam selama ratusan tahun.

“Dari cerita legenda turun temurun memang seperti itu kisahnya. Saat kecil, saya juga didongengkan cerita legenda itu,” kata Kades Crewek Seno Purwoto, Jumat (22/12/2017).

Menurutnya, dari tiga tempat munculnya Joko Linglung itu, proses pembuatan garam sampai saat ini tinggal ada di dua tempat. Yakni, di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, dan di obyek wisata Bledug Kuwu.

Sedangkan pembuatan garam di Desa Crewek sudah berhenti sekitar 10 tahun terakhir karena harganya dinilai kurang ekonomis.

Editor : Ali Muntoha

Baca : Awas, Ada Raja Pemakan Manusia di Medang Kamulan Grobogan!

Lokasi Museum Banjarejo Grobogan Mulai Dilirik untuk Hiking dan Outbound

Puluhan pelajar dari SMPN 3 Ngaringan sedang melangsungkan kegiatan hiking dan outbound di kawasan museum lapangan Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Lokasi museum lapangan purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus yang masih dalam proses pembangunan ternyata sudah mengundang daya tarik banyak orang. Tidak sekedar untuk melihat potensi purbakala saja namun ada acara lainnya yang dilakukan dikawasan tersebut. Yakni, melakukan kegiatan hiking dan outbound.

Selain rombongan anak muda, kegiatan di alam terbuka juga sudah dilakukan rombongan pelajar sekolah.

“Dalam dua minggu terakhir, sudah ada kegiatan hiking dan outbound di sekitar lokasi museum lapangan. Mereka ini sengaja melakukan inisiatif sendiri untuk melangsungkan kegiatan tersebut. Saya sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan alam yang dilakukan di sekitar museum lapangan itu,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Sabtu (16/12/2017).

Menurut Taufik, lokasi museum lapangan memang cocok digunakan untuk kegiatan pecinta alam, seperti hiking dan outbond. Soalnya, lokasinya ada di kawasan perbukitan dan sekitarnya ada hamparan sawah.

Kemudian, disebelah utara museum lapangan juga terdapat lahan cukup luas milik penduduk yang ditanami jati. Dari rumah penduduk terdekat di Dusun Kuwojo, lokasi museum berjarak sekitar 600 meter. Untuk menuju ke lokasi, hanya bisa menggunakan kendaraan roda dua atau jalan kaki karena kondisi jalan masuknya masih setapak.

Puluhan pelajar dari SMPN 3 Ngaringan sedang melangsungkan kegiatan hiking dan outbound di kawasan museum lapangan Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Dijelaskan, pembangunan museum sudah dilakukan sejak bulan Oktober lalu. Saat ini progress pembangunannya sudah diatas 90 persen dan ditarget rampung sebelum akhir tahun ini.

Pembangunan museum lapangan konstruksinya masih sederhana. Hanya berupa fondasi, tiang penyangga dan atap. Ukuran museum lapangan 18 x 14 meter.

Pembangunan museum lapangan alokasi dananya Rp 200 juta yang bersumber dari APBD Grobogan. Selain itu, Pemkab Grobogan juga sudah mengalokasikan anggaran untuk ganti rugi lahan yang digunakan untuk museum lapangan.

Sebelum dibangun, di lokasi penemuan itu sebelumnya sudah dilakukan proses penelitian, dokumentasi hingga pengangkatan fosil dilakukan tim ahli purbakala dari beberapa instansi. Setelah itu, pihak Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran juga sudah membuatkan replika fosil. Replika fosil nanti akan ditempatkan persis sesuai kondisi awal

Editor: Supriyadi

Fosil Kepala Banteng Purba Ditemukan di Lokasi Museum Lapangan Banjarejo Grobogan

Benda purbakala berwujud kepala banteng purba ditemukan di lokasi pembangunan museum lapangan Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Sabtu (4/11/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebuah fosil purbakala kembali ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. Penemuan ini terjadi secara tidak sengaja. Yakni, saat para pekerja melakukan penggalian tanah untuk fondasi museum lapangan di Dusun Kuwojo.

Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, fosil yang ditemukan berupa kepala banteng purba dengan kondisi cukup bagus. Artinya, sebagian besar bagian tubuhnya masih ada.

Fosil tersebut ditemukan pekerja saat akan menggali tanah untuk fondasi cakar ayam di sisi timur laut. Saat menggali pada kedalaman sekitar 1 meter, cangkul yang dipakai salah satu pekerja mengenai benda keras.

”Pekerja itu kemudian melaporkan pada anggota komunitas peduli fosil yang ikut memonitor pembangunan museum lapangan. Setelah dicek, benda keras itu ternyata potongan fosil hewan purba,” katanya, Sabtu (4/11/2017).

Setelah ada potongan fosil yang muncul, aktivitas penggalian dilanjutkan secara manual dengan tangan. Akhirnya, beberapa potongan fosil lain berhasil didapat dilokasi tersebut.

Setelah ditata, bentuk fosil merupakan potongan tubuh banteng bagian kepala. Potongan fosil juga terdapat bagian tanduknya. Ukuran fosil antar ujung tanduk panjangnya sekitar 1 meter. Kemudian tinggi bagian mulut hingga kepala sekitar 45 cm.

”Tahun lalu, sudah pernah ditemukan fosil kepala banteng yang bentuknya seperti ini. Namun, penemuan terbaru ini ukurannya sedikit lebih besar dibandingkan yang dulu. Penemuan fosil baru ini sudah kita koordinasikan dengan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Cak Nun Merasa Takjub saat Lihat Temuan Benda Purbakala di Desa Banjarejo Grobogan

Cak Nun saat melihat koleksi benda purbakala di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Selasa (24/10/2017) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Budayawan kondang Emha Ainun Najib atau yang lebih akrab dipanggil Cak Nun menyatakan kekagumannya terhadap banyaknya penemuan benda purbakala yang di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan.

Hal itu disampaikan saat Cak Nun setelah menyempatkan waktu sekitar 20 menit untuk melihat koleksi benda purbakala yang ada di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Selasa (24/10/2017) malam.

“Temuan benda purbakala di Desa Banjarejo ternyata sudah banyak sekali. Ini merupakan sebuah karunia yang tidak ternilai harganya dan harus terus dilestarikan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Ahmad Taufik yang menjadi pemandu sempat memberikan penjelasan singkat pada Cak Nun tentang temuan benda purbakala yang sudah didapatkan dalam beberapa tahun terakhir. Sampai saat ini, jumlah temuan benda purbakala sudah lebih dari 500 biji. Baik yang berukuran kecil maupun raksasa.

“Benda purbakala berupa fosil hewan purba ini berasal dari belasan spesies. Usianya, berkisar 1 jutaan tahun,” jelasnya.

Usai melihat koleksi benda purbakala, Cak Nun kemudian begeser menuju ke panggung utama acara ngaji bareng yang ditempatkan di lapangan sepakbola di sebelah timur tempat penyimpanan fosil purbakala tersebut. Saat menyampaikan tausiyah, Cak Nun juga sempat menyinggung tentang banyaknya penemuan benda purbakala di Desa Banjarejo.

“Masyarakat Banjarejo hendaknya selalu bersyukur karena memiliki potensi benda purbakala yang luar biasa banyaknya. Dengan adanya balung (fosil) inilah, kita akhirnya bisa bersilaturahmi pada malam ini. Selain itu, di Desa Banjarejo ini juga terdapat peninggalan cagar budaya masa lalu yang sebagian diantaranya sudah ditemukan,” cetusnya.

Cak Nun berharap agar benda purbakala maupun cagar budaya itu dirawat dengan baik dan dilestarikan. Adanya peninggalan benda masa lalu itu selain bisa jadi bahan pembelajaran juga bisa mendatangkan wisatawan untuk berkunjung ke Desa Banjarejo.

“Saya doakan semoga dalam waktu dekat sudah berdiri sebuah museum purbakala di Banjarejo,” katanya

Editor: Supriyadi

Meriah, Ribuan Orang Ngaji Bareng Cak Nun di Desa Wisata Banjarejo Grobogan

Cak Nun sedang menyampaikan tausiyah dihadapan ribuan jamaah di lapangan sepak bola Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, Selasa (24/10/2017) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Acara ngaji bareng Emha Ainun Najib atau yang lebih akrab dipanggil Cak Nun di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan berlangsung meriah, Selasa (24/10/2017) malam. Animo masyarakat yang menghadiri acara ngaji bareng dalam rangka peringatan setahun Desa Wisata Banjarejo diluar perkiraan.

Jumlah orang atau jamaah yang hadir dalam acara ngaji bareng diperkirakan lebih 7 ribu orang. Selain warga dari Grobogan, jamaah yang hadir ternyata juga datang dari berbagai kota di Jateng, DIY dan Jatim.

Bahkan, ada beberapa orang dari Samarinda, Kaltim yang menyempatkan datang ke Banjarejo hanya sekedar untuk menghadiri acara tersebut. Acara ngaji bareng juga dihadiri Sekda Grobogan Moh Sumarsono dan Kepala Disporabudpar Grobogan dan beberapa staf dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.

”Pengunjungnya luar biasa dan ini diluar prediksi kami. Malam ini, Desa Banjarejo kedatangan banyak tamu dari berbagai daerah. Saya merasa bangga. Tak lupa, saya sampaikan ucapan terima kasih atas partisipasi dan dukungan dari berbagai pihak untuk menyukseskan acara ini,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Cak Nun sedang menyampaikan tausiyah dihadapan ribuan jamaah di lapangan sepak bola Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, Selasa (24/10/2017) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Acara ngaji bareng ditempatkan di lapangan sepak bola di sebelah timur Rumah Fosil Banjarejo. Meski kondisi lapangan agak becek akibat guyuran hujan deras sehari sebelumnya, namun ribuan jamaah tetap betah duduk lesehan beralaskan tikar plasik atau kardus bekas.

Cak Nun dan rombongan Kiai Kanjeng naik ke atas panggung sekitar pukul 20.30 WIB. Sesuai ciri khasnya selama ini, Cak Nun selalu menyampaikan tausiyah diselingi humor segar dan nyanyian dengan iringan Kiai Kanjeng.

Saat menyampaikan tausiyah, Cak Nun sempat melontarkan berbagai persoalan yang sedang terjadi di Indonesia saat ini dan meminta agar semua itu disikapi dengan bijaksana. Cak Nun juga meminta agar warga Banjarejo terlebih para pemuda untuk tidak mudah goyah dan selalu berfikir matang sebelum bersikap. 

”Mari kita rapatkan rasa persatuan dan persaudaraan dan jangan mudah dipecah belah. Jangan membedakan orang berdasarkan ras, suku dan agama karena semua ini ciptaan Allah SWT. Jadilah orang yang bisa mengayomi seluruh golongan dengan mengutamakan toleransi dalam perbedaan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Cak Nun juga sempat menggelar dialog interaktif dengan beberapa jamaah. Ribuan jamaah baru beranjak meninggalkan lokasi setelah acara ngaji bareng ditutup doa dari ulama Banjarejo KH Moh Syafi’i pada pukul 01.30 WIB. (NAK)

Editor: Supriyadi

Ribuan Lampu Sentir Disiapkan untuk Menghiasi Desa Wisata Banjarejo Grobogan

Pagar Kantor Desa Banjarejo mulai dipasangi lampu sentir untuk menyemarakkan peringatan setahun desa wisata. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Nuansa jadul bakal merwarnai peringatan setahun Desa Wisata Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan yang akan dilangsungkan 24 Oktober mendatang. Sehari sebelum puncak acara dan saat hari H, lampu penerangan jalan utama yang ada di depan rumah penduduk akan dipadamkan.

Padamnya lampu penerangan tidak akan membikin suasana desa jadi gelap gulita. Soalnya, sudah disiapkan ribuan lampu sentir sebagai gantinya. Lampu sentir akan dipasang di depan rumah penduduk dan jalur menuju lokasi kegiatan di lapangan sepak bola sebelah timur rumah fosil.

“Sejak beberapa hari lalu, kita sudah bikin sekitar 2.000 lampu sentir dari botol bekas. Sebagian diantaranya sudah kita pasang dan coba dinyalakan saat malam hari. Salah satunya didepan balaidesa,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Sabtu (20/10/2017).

Menurutnya, ribuan sentir sengaja disiapkan untuk mengajak pengunjung yang datang ke Banjarejo supaya bernostalgia lagi dengan suasana desa pada masa lalu. Yakni, sebelum masuknya aliran listrik dari PLN seperti saat ini.

“Suasana pedesaan masa lalu terkadang dirindukan oleh banyak orang. Salah satu yang identik dengan masa lalu adalah lampu sentir dari botol bekas yang diisi minyak tanah dan dikasih sumbu,” katanya.

Dalam peringatan setahun desa wisata, Pemerintah Desa Banjarejo, bakal menggelar acara ngaji bareng, Selasa (24/10/2017) mendatang. Budayawan kondang Emha Ainun Najib atau lebih akrab disapa Cak Nun dijadwalkan jadi pengisi acara utama.

“Kita sudah dapat kepastian kalau Cak Nun bisa hadir lengkap dengan Kiai Kanjeng. Kemungkinan, Ibu Novia Kolopaking juga akan hadir. Mudah-mudahan, acaranya nanti berjalan lancar,” imbuhnya. 

Editor: Supriyadi

Temuan Fosil Baru Gading Purba 2,5 Meter Jadi Kado Ulangtahun Desa Wisata Banjarejo

Inilah fosil gading gajah purba terbaru yang ditemukan di Dusun Barak, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebuah fosil gading gajah purba kembali ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, Minggu (15/10/2017). Fosil gading yang panjangnya mencapai 2,5 meter itu ditemukan secara tidak sengaja.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik mengungkapkan, penemuan itu bermula dari adanya aktivitas beberapa orang yang sedang menggali tanah di tegalan milik Mbah Parmi yang berada di Dusun Barak.  Saat menggali buat tanah uruk pada kedalaman 50 cm, salah seorang pekerja sempat melihat ada benda mirip fosil.

Salah seorang pekerja kemudian melaporkan pada Komunitas Peduli Fosil Banjarejo. Sedangkan pekerja lainnya meneruskan aktivitas penggalian di lokasi lainnya.

“Setelah dapat kabar, anggota komunitas mengecek ke lokasi. Ternyata, di sana ada fosil gading gajah purba. Kemudian, fosil kita selamatkan agar tidak rusak,” jelasnya.

Gading yang ditemukan itu kondisinya patah jadi 12 bagian akibat proses alami. Panjangnya sekitar 2,5 meter. Lebar pangkal gading sekitar 20 cm dan di bagian ujungnya 7 cm.

“Ada beberapa bagian ujungnya yang tidak ditemukan. Kemungkinan sudah lapuk karena proses alam. Dibandingkan yang sudah ditemukan sebelumnya, fosil gading terbaru ini ukurannya sedikit lebih besar. Kita akan koordinasi dengan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran terkait penemuan ini,” jelasnya.

Taufik menyatakan, penemuan fosil baru ini dinilai sangat spesial, karena terjadi menjelang momen istimewa. Yakni, peringatan setahun ditetapkannya Banjarejo sebagai Desa Wisata pada 27 Oktober 2016 lalu.

Editor : Ali Muntoha

Baca  Peringatan Setahun Desa Wisata Banjarejo Grobogan Bakal Hadirkan Cak Nun

Keren! Kaki Palsu Karya Terbaru Budi Santoso Bisa Dipakai Salat Tanpa Dilepas

Budi Santoso saat memperagakan gerakan salat dengan kaki palsu hasil karya terbarunya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sukses membuat kaki palsu dari bahan bekas tidak membuat Budi Santoso, warga Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan merasa puas. Sebaliknya, lajang berusia 22 tahun itu makin terlecut semangatnya untuk membuat inovasi produk kaki palsu.

Hasil karya terbarunya adalah kaki palsu yang dinilai multifungsi. Selain untuk bantu jalan, produk kaki palsu terbaru ini juga bisa digunakan untuk salat tanpa harus dilepas.

Produk terbaru Budi ini bahkan sempat dipamerkan saat bertemu Ketua Pembinaan Partai Hanura Wilayah Jateng DIY Sudewo dan Ketua DPC Partai Hanura Grobogan Setiawan Djoko Purwanto di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Minggu (17/9/2017).

Budi sempat memperagakan gerakan salat dengan tetap mengenakan kaki palsunya. Meski tetap memakai kaki palsu, Budi bisa melakukan gerakan salat layaknya orang yang memiliki kaki lengkap. Terutama, saat melakukan gerakan sujud dan duduk di antara dua sujud.

“Ini sebuah karya yang saya nilai luar biasa. Selama ini, belum pernah lihat ada kaki palsu yang bisa dipakai salat tanpa dilepas. Kalau dikembangkan, produk ini pasti sangat membantu para penyandang difabel lainnya,” ungkap Sudewo, usai menyaksikan uji coba yang dilakukan Budi.

Ketua Pembinaan Partai Hanura Wilayah Jateng DIY Sudewo mengamati produk kaki palsu buatan Budi Santoso, warga Banjarejo, Kecamatan Gabus, Minggu (17/9/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sudewo berjanji akan membantu mengenalkan produk buatan Budi pada banyak pihak. Termasuk kemungkinan untuk mendapatkan lisensi produk tersebut supaya mendapat pengakuan dari lembaga terkait.

“Kebetulan, depan rumah saya di Solo adalah ketua YPAC setempat. Nanti, saya akan coba konsultasikan soal kaki palsu produk Budi yang biayanya lebih murah dan hasilnya juga luar biasa ini,” katanya.

Baca : Hebat!! Penyandang Difabel dari Banjarejo Grobogan Ini Berhasil Bikin Kaki Palsu dari Barang Bekas

Menurut Budi, ide pembuatan kaki palsu untuk salat itu didapat dari kondisi yang dialaminya. Saat menunaikan salat, ia terpaksa harus melepas kaki palsunya dan melaksanakan ibadah dengan duduk.

“Kalau harus melepas kaki palsu ketika mau salat memang jadi agak ribet. Dari sini, saya kemudian punya pemikiran untuk bikin kaki palsu yang lebih fleksibel. Alhamdulillah, akhirnya jadi juga setelah mencoba otak-atik hampir satu bulan lamanya,” kata anak tunggal pasangan pasangan Suwadi dan Tarsini itu.

Meski dibuat dari bahan bekas, namun Budi mengklaim produk buatannya tidak kalah dengan hasil pabrikan. Bahkan, dia menyatakan, produk bikinannya ada beberapa kelebihan lain.

Yakni, lebih ringan dibandingkan produk kaki palsu yang sudah pernah dijumpai. Produk kaki palsu yang banyak beredar saat ini beratnya bisa sampai 5 kg. Sedangkan, produk kaki palsu dari bahan bekas tidak sampai 3 kg sehingga membikin nyaman penggunanya.

Kelebihan lainnya, kaki palsu yang dibikin Budi dilengkapi engsel di bagian lutut dan di atas tumit. Adanya engsel ini, membuat penggunanya serasa berjalan dengan kaki sempurna.

“Kaki palsu yang sudah saya lihat modelnya kaku. Alat yang saya buat ini, bisa digunakan untuk bersepeda. Ini bisa dilakukan dengan adanya engsel yang membuat kaki palsu ini elastis, mirip kaki asli. Kalau kaki palsu yang bisa dipakai salat tanpa harus dilepas baru ada satu unit dan saya pakai sendiri,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Informasi Situs Purbakala Banjarejo Grobogan Akan Dipajang di Museum Sangiran

Beragam foto seputar penemuan benda purbakala di Banjarejo, Gabus akan ditampilkan di Museum Sangiran. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Selain melalui media massa, informasi mengenai keberadaan situs purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan juga akan bisa didapatkan di Museum Sangiran. 

Pihak pengelola museum, rencananya akan menyiapkan tempat khusus untuk memajang beragam informasi mengenai situs purbakala Banjarejo.

Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi mengungkapkan, informasi yang ditampilkan bentuknya berupa foto-foto benda purbakala yang sudah ditemukan serta lokasi situs. Jadi, bukan berupa sampel benda purbakalanya.

“Hanya foto-foto saja yang kita jadikan displai informasi. Untuk benda purbakala yang sudah ditemukan tetap kita tempatkan di Desa Banjarejo,” jelasnya.

Selama ini, display informasi situs purbakala dari seluruh Indonesia sudah terpasang di Museum Sangiran. Namun, untuk situs di Banjarejo belum ada karena masih tergolong baru. Dengan adanya displai informasi dari Banjarejo maka situs purbakala yang ada akan makin lengkap.

“Selain situs Sangiran, ada informasi situs Pati Ayam, Tegal dan lainnya. Tambahan terbaru adalah informasi situs dari Banjarejo. Dengan demikian, informasi situs purbakala makin lengkap sehingga memudahkan pengunjung,” jelas Sukron.

Sukron menyatakan, meski baru muncul sekitar tiga tahun lalu, namun potensi purbakala di Banjarejo dinilai sangat istimewa. Selama kurun waktu itu, sudah banyak temuan fosil berbagai hewan purbakala. Penemuan fosil purbakala di Banjarejo juga dinilai tidak kalah dengan Sangiran.

Bahkan, belum lama ini, ada penemuan fosil terbaru di Banjarejo yang disebut sangat istimewa. Yakni, fosil satu individu gajah purba di Dusun Kuwojo. Penemuan, fosil satu individu gajah purba seperti itu belum pernah ditemukan di situs lainnya.

Editor: Supriyadi

Pengangkatan Fosil Purbakala di Banjarejo Grobogan Ternyata Cukup Ribet, Begini Prosesnya

Salah seorang tim ahli menuangkan cairan kimia pada fosil gading gajah purba yang akan diangkat dari lokasi penemuan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganProses pengangkatan fosil hewan purba dari lokasi penemuan ternyata tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. Selain butuh waktu lama, proses pengangkatan itu melalui beberapa tahapan yang harus dikerjakan dengan teliti dan hati-hati.

Dari pantauan di lokasi, pada tahap awal, tim ahli membersihkan dulu sisa sedimen yang masih menempel pada fosil. Setelah itu, dipasang papan pembatas di sekeliling fosil yang akan diangkat.

Kemudian, fosil yang sudah ada dalam kotak kayu ditutup dengan kertas koran. Selanjutnya, dituangkan cairan kimia polyurethane diatas lembaran koran yang menutup fosil tersebut. Fungsi koran ini sebagai pelapis agar cairan kimia tidak menembus fosil.

Baca Juga: Temuan Fosil Hewan Purba di Banjarejo Grobogan Mulai Diangkat

Beberapa saat setelah dituangkan, cairan itu akan mengembang dan membuih membentuk seperti busa. Proses penuangan cairan kimia dilakukan beberapa kali hingga seluruh kotak tertutup busa.

Tahapan ini, prosesnya hampir mirip seperti menuangkan adukan pasir dan semen atau cor beton saat membuat fondasi bangunan.

Selang waktu 10 menit, busa itu akan mengeras. Setelah itu, papan kayu yang sebelumnya dipakai untuk pembatas dibongkar. Saat papan hilang, fosil tidak lagi terlihat bentuk aslinya karena tertutup busa yang kondisinya sudah mengeras.

Sepintas, fosil yang terbungkus busa bentuknya mirip seperti sebatang balok kayu.

“Proses pengangkatan fosil tidak bisa dilakukan seperti mengambil sebuah barang biasa. Ada prosedur yang harus dilakukan dan butuh kehati-hatian,” jelas Albertus Nico, staf perlindungan BPSMP Sangiran yang memimpin pengangkatan fosil di Banjarejo, Rabu (6/9/2017).

Menurut Nico, penggunaan cairan kimia itu bertujuan untuk meminimalkan risiko kerusakan pada fosil yang akan diangkat dari lokasi penemuan. Seperti, resiko terjatuh atau kena getaran saat dibawa ke tempat penampungan sementara. Fosil yang terbalut busa akan tetap utuh seperti aslinya.

Setelah diangkat, fosil memang dibawa ke rumah penduduk terdekat dengan lokasi penemuan, sebelum nantinya diangkut ke rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik. Perjalanan menuju tempat penampungan sementara juga butuh kewaspadaan.

Selain lokasinya cukup jauh dari jalan raya, yakni sekitar 500 meter, fosil yang ukurannya besar harus dipikul oleh empat orang melalui jalan pertanian hingga tempat penampungan sementara.

Editor: Supriyadi

Temuan Fosil Hewan Purba di Banjarejo Grobogan Mulai Diangkat

Fosil gajah purba berukuran cukup panjang berhasil diangkat dari lokasi penemuan di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Proses pengangkatan fosil hewan purba di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan mulai dikerjakan tim ahli dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran. Tim ahli purbakala sudah tiba di Banjarejo sejak Senin (4/9/2017) siang.

Namun, pengangkatan fosil dari lokasi penemuan di Dusun Kuwojo baru mulai dikerjakan sehari berikutnya. Pada hari pertama, tim ahli masih melakukan observasi lapangan, pengambilan gambar serta persiapan pengangkatan fosil.

Dari pantauan di lapangan, kesibukan terlihat di lokasi penemuan yang berada di areal persawahan tersebut. Dalam kotak eskavasi terdapat belasan orang yang mempersiapkan pengangkatan fosil.

Baca Juga: 3 Mahasiswa Luar Negeri Kunjungi Lokasi Penemuan Gajah Purba Banjarejo Grobogan

Selain tim ahli dari BPSMP, ada beberapa anggota komunitas peduli fosil Banjarejo yang dilibatkan. Dalam lokasi penggalian berukuran 10 x 12 meter itu masih terlihat banyak fosil yang masih berada pada tempatnya semula.

“Selama dua hari, baru sekitar tujuh fosil yang sudah kita selamatkan. Kita prioritaskan dulu untuk fosil yang ukurannya besar,” jelas Albertus Nico, staf perlindungan BPSMP Sangiran yang memimpin pengangkatan fosil di Banjarejo, Rabu (6/9/2017).

Baca Juga: Pengangkatan Fosil Gajah Purba di Banjarejo Grobogan Dilakukan Pekan Depan

Fosil yang sudah diangkat semuanya adalah bagian tubuh dari gajah purba. Seperti gading, kaki depan, dan paha.

Proses pengangkatan fosil ditarget selesai dalam waktu delapan hari. Lamanya tenggat waktu pengangkatan itu disebabkan jumlah fosil yang ditemukan lebih dari 100.

“Jumlah fosilnya banyak sekali sehingga butuh waktu. Selain itu, proses pengangkatan juga butuh kehati-hatian dan ketelitian sehingga makan waktu cukup lama,” kata Nico.

Selain gajah purba, fosil yang terdapat dalam kotak eskavasi juga berasal dari jenis hewan lainnya. Antara lain, banteng dan buaya.

Editor: Supriyadi

3 Mahasiswa Luar Negeri Kunjungi Lokasi Penemuan Gajah Purba Banjarejo Grobogan

Tiga orang mahasiswa yang berasal Jepang, Selandia Baru, dan Perancis mengunjungi lokasi penemuan fosil gajah purba jenis elephas di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan mendapat tamu istimewa, Selasa (5/9/2017). Yakni, tiga orang mahasiswa yang berasal Jepang, Selandia Baru, dan Perancis.

Tiga mahasiswa yang terdiri dari dua pria dan satu wanita itu hampir seharian berada di desa yang berbatasan dengan wilayah Blora tersebut. Selama berada di Banjarejo, ketiga mahasiswa sibuk melihat koleksi ratusan fosil hewan purba dan benda cagar budaya yang ditemukan dalam tiga tahun terakhir.

Tidak hanya itu, ketiga bule itu juga menyempatkan waktu untuk mengunjungi lokasi penemuan fosil gajah purba jenis elephas di Dusun Kuwojo. Disamping melakukan kajian, mereka juga sempat membantu tim ahli purbakala yang sedang menyelesaikan tahap akhir pembuatan replika.

Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, mahasiswa tersebut datang ke desanya diantar staf dari Museum Sangiran. Saat ini, ketiganya sedang melakukan kajian di museum tersebut.

”Informasinya, tiga mahasiswa melakukan kegiatan di museum Sangiran selama dua pekan. Dari pihak museum, mereka diajak untuk melihat situs purbakala baru di Banjarejo. Kebetulan juga, saat ini ada tim ahli dari Sangiran yang ada di Banjarejo untuk persiapan pengangkatan fosil,” jelasnya.

Taufik mengaku cukup bangga dengan kunjungan mahasiswa mancanegara ke desanya. Dia juga menyampaikan terima kasih pada pihak Sangiran yang telah membawa ketiga mahasiswa itu untuk melihat potensi purbakala di Banjarejo.

”Saya tadi juga minta pada mahasiswa asing itu untuk membantu mengenalkan Desa Wisata Purbakala Banjarejo di negaranya. Mereka berkunjung sehari saja,” imbuh Taufik.

Editor: Supriyadi

Tim Ahli Purbakala Mulai Buatkan Replika Fosil Stegodon di Banjarejo Grobogan

Tim ahli purbakala mulai melakukan tahapan pembuatan replika fosil stegodon di lokasi penemuan di areal sawah di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Tim ahli purbakala dari sejumlah instansi masih terus melakukan kegiatan penelitian dan penyelamatan temuan fosil stegodon di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan.

Setelah melakukan serangkaian penelitian dan pengumpulan data, tim ahli mulai mengerjakan tahapan selanjutnya. Yakni, membuat replika fosil stegodon di lokasi penemuan di areal sawah di Dusun Kuwojo.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, pembuatan replika dilakukan oleh empat tim ahli. Masing-masing, dua orang dari BPSMP Sangiran dan dua orang lainnya dari BPCB Jawa Timur.

“Pembuatan replika juga dibantu beberapa orang dari Komunitas Peduli Fosil Banjarejo.

Diperkirakan butuh waktu 10 hari untuk pembuatan replika fosil sampai jadi,” jelasnya, Jumat (11/8/2017) .

Taufik menyatakan, ada beberapa tahapan yang dilakukan dalam pembuatan replika tersebut. Antara lain, membuat negatif di atas fosil. Setelah itu baru membuat cetakan positifnya dan dilanjutkan pengecatan.

Setelah replika jadi, fosil asli di lokasi penemuan akan diangkat guna dilakukan konservasi. Usai pengangkatan replika gantian ditempatkan di lokasi penemuan yang nantinya akan dijadikan sebagai museum lapangan.

Editor : Akrom Hazami

Ganjar Pranowo Dukung Pendirian Museum Purbakala di Banjarejo Grobogan

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Bupati Grobogan Sri Sumarni saat melangsungkan kunjungan ke  lokasi penemuan fosil gajah purba jenis stegodon di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Rabu (2/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendukung upaya pendirian museum purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. Hal itu disampaikan Ganjar saat melangsungkan kunjungan ke  lokasi penemuan fosil gajah purba jenis stegodon di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Rabu (2/8/2017).

Sebelum ke lokasi penemuan fosil, Ganjar sempat singgah sebentar di rumah Kades Ahmad Taufik. Tujuannya, untuk melihat ratusan koleksi benda purbakala dan cagar budaya yang sudah ditemukan dalam beberapa tahun terakhir. Alunan musik tradisional berupa kotekan lesung menyambut kedatangan Ganjar bersama Bupati Grobogan Sri Sumarni.

“Potensi purbakala di Desa Banjarejo ini luar biasa sekali. Saya selaku gubernur akan mendorong agar di Banjarejo bisa berdiri sebuah museum purbakala. Jadi, nanti kita punya museum Sangiran dan Banjarejo,” tegasnya.

Ganjar menyatakan, dia sudah menjalin komunikasi intensif dengan bupati dan balai purbakala supaya kawasan Banjarejo ditetapkan sebagai sebuah situs. Tujuannya, agar potensi yang ada bisa dilindungi dan diselamatkan.

Menurut Ganjar, dengan adanya museum nantinya Desa Banjarejo akan bisa jadi destinasi wisata baru di Jawa Tengah. Selain itu, dengan potensi purbakala yang luar biasa diharapkan bisa jadi tempat penelitian oleh banyak pihak.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Setelah Diperlebar, Ditemukan Lagi Fosil Hewan Purba di Banjarejo Grobogan

Fosil hewan purbakala baru ditemukan di lokasi penemuan stegodon di Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)obog

MuriaNewsCom, Grobogan – Pelebaran lokasi penemuan fosil gajah purba jenis stegodon di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, membawa hasil yang mengejutkan. Hal ini menyusul ditemukannya beberapa fosil hewan purbakala baru di lokasi pelebaran.

Fosil yang ditemukan ini boleh dibilang juga cukup mengejutkan. Sebab, bukan merupakan fosil dari potongan tubuh stegodon. Tetapi, berasal dari spesies hewan purbakala jenis lainnya.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, sedikitnya ada beberapa potongan fosil yang sudah terlihat.  Antara lain, satu potongan fosil berbentuk seperti tanduk. Kemudian, ada beberapa potongan fosil gigi buaya. Benda purbakala baru ini ditemukan pada areal pelebaran di sebelah utara lokasi ditemukannya fosil stegodon.

“Fosil berbentuk tanduk diperkirakan dari spesies banteng purba. Untuk kepastiannya, masih akan diteliti oleh tim ahli purbakala yang masih melangsungkan penelitian lapangan di lokasi,” jelasnya.

Dijelaskan, dalam upaya penyelamatan temuan fosil gajah purba jenis stegodon memang dilakukan pelebaran areal penemuan, sejak beberapa hari lalu. Semula luas areal penemuan fosil stegodon berukuran 4 x 5 meter saja. Kemudian, lokasinya akan dilebarkan hingga ukuran sekitar 10 x 10 meter.

Menurut Taufik, pelebaran areal itu dilakukan untuk memudahkan dalam upaya penyelematan temuan fosil. Selain itu, langkah ini juga bertujuan untuk mendeteksi kemungkinan masih adanya potongan fosil disekitarnya.

“Dari perkiraan tim ahli, sekitar lokasi itu masih ada fosil yang terpendam. Makanya, areal perlu dilebarkan untuk memastikan prediksi tersebut. Prediksi ini ternyata akurat dengan munculnya fosil baru,” katanya.

Selain melebarkan lokasi penemuan, tim ahli sebelumnya juga sudah melakukan beberapa kegiatan. Yakni, mengumpulkan berbagai data lapangan dan mendokumentasikan lokasi dan fosil yang sudah terlihat.

Editor : Akrom Hazami