Tim Ahli Purbakala Mulai Buatkan Replika Fosil Stegodon di Banjarejo Grobogan

Tim ahli purbakala mulai melakukan tahapan pembuatan replika fosil stegodon di lokasi penemuan di areal sawah di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Tim ahli purbakala dari sejumlah instansi masih terus melakukan kegiatan penelitian dan penyelamatan temuan fosil stegodon di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan.

Setelah melakukan serangkaian penelitian dan pengumpulan data, tim ahli mulai mengerjakan tahapan selanjutnya. Yakni, membuat replika fosil stegodon di lokasi penemuan di areal sawah di Dusun Kuwojo.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, pembuatan replika dilakukan oleh empat tim ahli. Masing-masing, dua orang dari BPSMP Sangiran dan dua orang lainnya dari BPCB Jawa Timur.

“Pembuatan replika juga dibantu beberapa orang dari Komunitas Peduli Fosil Banjarejo.

Diperkirakan butuh waktu 10 hari untuk pembuatan replika fosil sampai jadi,” jelasnya, Jumat (11/8/2017) .

Taufik menyatakan, ada beberapa tahapan yang dilakukan dalam pembuatan replika tersebut. Antara lain, membuat negatif di atas fosil. Setelah itu baru membuat cetakan positifnya dan dilanjutkan pengecatan.

Setelah replika jadi, fosil asli di lokasi penemuan akan diangkat guna dilakukan konservasi. Usai pengangkatan replika gantian ditempatkan di lokasi penemuan yang nantinya akan dijadikan sebagai museum lapangan.

Editor : Akrom Hazami

Ganjar Pranowo Dukung Pendirian Museum Purbakala di Banjarejo Grobogan

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Bupati Grobogan Sri Sumarni saat melangsungkan kunjungan ke  lokasi penemuan fosil gajah purba jenis stegodon di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Rabu (2/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendukung upaya pendirian museum purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. Hal itu disampaikan Ganjar saat melangsungkan kunjungan ke  lokasi penemuan fosil gajah purba jenis stegodon di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Rabu (2/8/2017).

Sebelum ke lokasi penemuan fosil, Ganjar sempat singgah sebentar di rumah Kades Ahmad Taufik. Tujuannya, untuk melihat ratusan koleksi benda purbakala dan cagar budaya yang sudah ditemukan dalam beberapa tahun terakhir. Alunan musik tradisional berupa kotekan lesung menyambut kedatangan Ganjar bersama Bupati Grobogan Sri Sumarni.

“Potensi purbakala di Desa Banjarejo ini luar biasa sekali. Saya selaku gubernur akan mendorong agar di Banjarejo bisa berdiri sebuah museum purbakala. Jadi, nanti kita punya museum Sangiran dan Banjarejo,” tegasnya.

Ganjar menyatakan, dia sudah menjalin komunikasi intensif dengan bupati dan balai purbakala supaya kawasan Banjarejo ditetapkan sebagai sebuah situs. Tujuannya, agar potensi yang ada bisa dilindungi dan diselamatkan.

Menurut Ganjar, dengan adanya museum nantinya Desa Banjarejo akan bisa jadi destinasi wisata baru di Jawa Tengah. Selain itu, dengan potensi purbakala yang luar biasa diharapkan bisa jadi tempat penelitian oleh banyak pihak.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Setelah Diperlebar, Ditemukan Lagi Fosil Hewan Purba di Banjarejo Grobogan

Fosil hewan purbakala baru ditemukan di lokasi penemuan stegodon di Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)obog

MuriaNewsCom, Grobogan – Pelebaran lokasi penemuan fosil gajah purba jenis stegodon di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, membawa hasil yang mengejutkan. Hal ini menyusul ditemukannya beberapa fosil hewan purbakala baru di lokasi pelebaran.

Fosil yang ditemukan ini boleh dibilang juga cukup mengejutkan. Sebab, bukan merupakan fosil dari potongan tubuh stegodon. Tetapi, berasal dari spesies hewan purbakala jenis lainnya.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, sedikitnya ada beberapa potongan fosil yang sudah terlihat.  Antara lain, satu potongan fosil berbentuk seperti tanduk. Kemudian, ada beberapa potongan fosil gigi buaya. Benda purbakala baru ini ditemukan pada areal pelebaran di sebelah utara lokasi ditemukannya fosil stegodon.

“Fosil berbentuk tanduk diperkirakan dari spesies banteng purba. Untuk kepastiannya, masih akan diteliti oleh tim ahli purbakala yang masih melangsungkan penelitian lapangan di lokasi,” jelasnya.

Dijelaskan, dalam upaya penyelamatan temuan fosil gajah purba jenis stegodon memang dilakukan pelebaran areal penemuan, sejak beberapa hari lalu. Semula luas areal penemuan fosil stegodon berukuran 4 x 5 meter saja. Kemudian, lokasinya akan dilebarkan hingga ukuran sekitar 10 x 10 meter.

Menurut Taufik, pelebaran areal itu dilakukan untuk memudahkan dalam upaya penyelematan temuan fosil. Selain itu, langkah ini juga bertujuan untuk mendeteksi kemungkinan masih adanya potongan fosil disekitarnya.

“Dari perkiraan tim ahli, sekitar lokasi itu masih ada fosil yang terpendam. Makanya, areal perlu dilebarkan untuk memastikan prediksi tersebut. Prediksi ini ternyata akurat dengan munculnya fosil baru,” katanya.

Selain melebarkan lokasi penemuan, tim ahli sebelumnya juga sudah melakukan beberapa kegiatan. Yakni, mengumpulkan berbagai data lapangan dan mendokumentasikan lokasi dan fosil yang sudah terlihat.

Editor : Akrom Hazami

 

Areal Penemuan Fosil Stegodon di Banjarejo Grobogan Diperlebar, Ini Tujuannya

Sejumlah pekerja sedang melakukan penggalian untuk memperlebar lokasi fosil gajah purba jenis stegodon di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Dani Agus)bnaj

MuriaNewsCom, Grobogan – Upaya penyelamatan temuan fosil gajah purba jenis stegodon di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus dilanjutkan dengan memperlebar areal penemuan, Jumat (14/7/2017). Semula luas areal penemuan yang digali berukuran 4 meter x 5 meter saja. Rencananya, akan dilebarkan hingga ukuran 10 x 10 meter.

“Hari ini, kita kerahkan beberapa orang untuk memperlebar areal penemuan fosil stegodon. Dalam kegiatan ini, kita juga didampingi tim ahli purbakala yang sudah berada di Banjarejo sejak dua hari lalu,” jelas Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurut Taufik, pelebaran areal itu dilakukan untuk memudahkan dalam upaya penyelematan temuan fosil. Selain itu, langkah ini juga bertujuan untuk mendeteksi kemungkinan masih adanya potongan fosil disekitarnya.

“Dari perkiraan tim ahli, sekitar lokasi itu masih ada fosil yang terpendam. Makanya, areal perlu dilebarkan untuk memastikan prediksi tersebut,” katanya.

Selain melebarkan lokasi penemuan, tim ahli sebelumnya juga sudah melakukan beberapa kegiatan. Yakni, mengumpulkan berbagai data lapangan dan mendokumentasikan lokasi serta fosil yang sudah terlihat. “Tim ahli juga menggunakan drone keperluan dokumentasinya,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Tim Ahli Purbakala Mulai Kaji Penemuan Fosil Stegodon di Banjarejo Grobogan

Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi (baju biru) saat meninjau lokasi penemuan fosil stegodon di Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Upaya penyelamatan temuan fosil gajah purba jenis stegodon di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus mulai dilakukan tim ahli purbakala dari beberapa instansi. Pada tahap awal, tim ahli masih akan melakukan kajian di lokasi penemuan fosil yang berada di areal sawah di Dusun Kuwojo.

“Ada beberapa tahapan yang kita lakukan dalam upaya penyelamatan temuan fosil stegodon. Tahap pertama kita lakukan kajian dulu,” kata Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi, Kamis (13/7/2017).

Menurut Sukron, sebelum melangsungkan kajian, pada bulan puasa lalu pihaknya sudah menurunkan tim kecil ke Banjarejo buat melakukan observasi lapangan. Setelah melihat kondisi di lapangan, fosil yang ditemukan ternyata di luar prediksi.

“Ternyata fosil yang sudah terlihat terdiri dari beberapa bagian tubuh satu individu hewan purba. Ini merupakan temuan yang sangat luar biasa. Semula kita perkirakan penemuan fosil biasa seperti sebelumnya,” jelasnya.

Dari observasi lapangan dan data awal yang didapat, tim memutuskan tidak akan buru-buru mengangkat fosil dari dalam tanah. Sebab, tim akan melakukan penelitian dan mengumpulkan banyak data dari lokasi penemuan fosil tersebut.

“Penemuan fosil terbaru di Banjarejo ini sangat istimewa. Di situs Sangiran saja belum pernah ditemukan fosil gajah purba atau stegodon selengkap ini. Sebelumnya, fosil stagodon yang ditemukan cukup lengkap ada di situs Pati Ayam, Kudus,” jelasnya.

 

Sukron menjelaskan, tim yang dikirimkan ke Banjarejo saat ini cukup lengkap dan berasal dari berbagai latar belakang keahlian. Tim ini akan melakukan penelitian, pengkajian, penyelamatan dan mengungkap nilai-nilai penting dari penemuan benda purbakala terbaru yang ada di Banjarejo.

“Kajian dan penelitian kita lakukan sampai September. Untuk pengangkatan fosil kita lakukan pada tahap terakhir setelah kajian dan penelitian rampung,” tambah Sukron.

selain BPSMP, ada instansi lain yang akan mengirimkan tim ahli. Antara lain, Balai Arkeologi Yogyakarta, Balai Konservasi Borobudur, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jateng. Kemudian, dukungan juga akan diberikan dari Dinas Kebudayaan Jateng, Disporabudpar Grobogan serta komunitas fosil Banjarejo.

 

Editor : Akrom Hazami

Bupati Grobogan Minta Instansi Terkait Persiapkan Pembuatan Museum di Banjarejo

Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menerima kedatangan Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi dan rombongan tim ahli purbakala di ruang kerjanya, Selasa (11/7/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Harapan masyarakat Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus agar didirikan sebuah musem tampaknya makin mendekati kenyataan. Hal itu berdasarkan pernyataan dari Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menerima kedatangan Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi dan rombongan tim ahli purbakala di ruang kerjanya, Selasa (11/7/2017). Tim ahli ini datang ke Grobogan dalam rangka melakukan kegiatan penyelamatan temuan fosil stegodon di Banjarejo.

“Penemuan benda purbakala dan cagar budaya di Banjarejo sudah tambah banyak. Masalah pembuatan museum harus segera dipersiapkan oleh dinas terkait. Nanti kami minta dari Sangiran untuk ikut membantu mekanisme pendirian museum di sana,” ungkap Sri Sumarni.

Selain dari BPSMP, ada perwakilan instansi lain yang ikut bertemu dengan Sri Sumarni. Antara lain, dariBalai Arkeologi Yogyakarta, Balai Konservasi Borobudur, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jateng dan Dinas Kebudayaan Jateng. Hadir pula, Kepala Disporabudpar Grobogan Karsono dan Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Keseriusan untuk membuat museum di Banjarejo ditunjukkan bupati dengan meminta ajudannya supaya menghadirkan Kepala Bappeda Anang Armunanto untuk bergabung dalam pertemuan tersebut. Setelah hadir di ruang kerjanya, Sri meminta Anang untuk segera menyiapkan konsep pembuatan museum.

“Saat ini, koleksi benda bersejarah untuk sementara ada di rumah pak kadesnya. Lama-lama pasti rumahnya tidak muat menampung. Untuk itu, butuh tempat penyimpanan yang lebih representatif. Salah satu persiapan yang perlu dilakukan adalah menyediakan tanahnya dulu dan setelah itu baru dipersiapkan pembuatan gedungnya,” tegas mantan Ketua DPRD Grobogan itu.

Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi menyambut baik rencana pembuatan museum tersebut. Sebab, potensi benda bersejarah di Banjarejo dinilai luar biasa. Selain, benda peninggalan masa lalu (cagar budaya), banyak pula penemuan benda purbakala.

“Potensi di Banjarejo cukup lengkap. Jadi sangat layak kalau didirikan sebuah museum di sana. Kami dari BPSMP Sangiran tentunya akan memberikan dukungan semaksimal mungkin,” jelasnya.

Lebih lanjut Sukron menyatakan, proses pendirian Museum Sangiran juga dilakukan cukup panjang. Berawal dari penemuan-penemuan benda purba sejak tahun 1934 yang disimpan di rumah kepala desa. Setelah banyak baru dibuatkan tempat tersendiri dan akhirnya didirikan sebuah museum. Kemudian, pada tahun 2007 museum itu dirombak total dan dibangun sangat besar seperti yang terlihat saat ini.

Sementara itu, Kades Banjarejo Ahmad Taufik merasa gembira dengan respon positif dan dukungan yang diberikan bupati. Menurut Taufik, pihaknya sudah ada pandangan lahan untuk lahan pembuatan museum.

“Di Banjarejo ada tanah cukup luas dengan status GG atau milik negara. Lahan ini nanti bisa digunakan tetapi kita harus mengurus administrasinya lebih dulu,” imbuhnya. 

Editor : Akrom Hazami

 

4 Balai Pelestarian Purbakala Bakal Selamatkan Temuan Fosil Stegodon di Banjarejo Grobogan

Kades Banjarejo Ahmad Taufik memperlihatkan foto lokasi penemuan fosil stegodon saat bertemu dengan Bupati Grobogan Sri Sumarni di ruang kerjanya, Jumat (7/7/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Upaya penyelamatan temuan fosil gajah purba jenis stegodon di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus,Grobogan, tidak hanya dilakukan oleh Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran saja. Tetapi ada beberapa instansi lainnya yang juga akan ikut mendukung penyelamatan fosil purbakala terbaru di Banjarejo tersebut.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik mengungkapkan, selain BPSMP, ada instansi lain yang akan mengirimkan tim ahli. Antara lain, Balai Arkeologi Yogyakarta, Balai Konservasi Borobudur, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jateng. Kemudian, dukungan juga akan diberikan dari Dinas Kebudayaan Jateng, Disporabudpar Grobogan serta komunitas fosil Banjarejo.

“Instansi yang akan melakukan penyelamatan temuan fosil stegodon nanti cukup komplit. Hal ini tentunya sangat membanggakan,” ungkap Taufik, saat bertemu Bupati Grobogan Sri Sumarni di ruang kerjanya, Jumat (7/7/2017).

Pertemuan dengan Sri itu dilakukan untuk melaporkan adanya rencana penyelamatan temuan fosil. Sebelum ke Banjarejo, tim penyelamatan ingin bersilaturahmi dengan bupati. Ikut hadir dalam pertemuan itu, Kabid Kebudayaan Disporabudpar Grobogan Marwoto.

Menurut Taufik, perwakilan dari instansi yang akan melakukan penyelamatan fosil stegodon sudah menggelar pertemuan, Kamis (6/7/2017) di kantor BPSMP Sangiran. Dalam pertemuan itu disepakati kalau tim penyelamatan akan melakukan kegiatan mulai Selasa 12 Juli mendatang.

“Minggu depan akan dimulai kegiatan penyelamatan temuan fosil stegodon. Rencananya, upaya penyelamatan akan berlangsung sampai bulan September,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Sri Sumarni merasa bangga dengan adanya banyak instansi yang berkeinginan untuk melakukan penelitian dan penyelamatan penemuan fosil stegodon yang dinilai sangat langka dan istimewa tersebut. Ia meminta agar dinas terkait memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan tersebut.

“Saya berharap, adanya penemuan fosil ini bisa makin mengundang daya tarik masyarakat untuk berkunjung ke Banjarejo. Pemkab juga menaruh perhatian besar. Salah satunya dengan memperbaiki akses jalan menuju ke desa wisata. Saat ini, proses perbaikan jalannya baru dalam tahap pelaksanaan,” katanya. 

Editor : Akrom Hazami

 

Bule Denmark Kaget Lihat Banyak Benda Purbakala di Banjarejo Grobogan

Kades Banjarejo Ahmad Taufik foto dengan dua tamunya yang berasal dari Denmark. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Selain warga sekitar, ada dua pengunjung istimewa yang sempat bertandang untuk melihat koleksi benda purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, Minggu (8/4/2017). Yakni, Sara Wintner Skriles dan teman prianya Rasmus Stogm yang berasal dari Denmark.

Kedua tamu dari luar negeri ini tiba di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik sekitar pukul 15.30 WIB.  Mereka berdua sempat melihat aneka koleksi benda purbakala lebih 1 jam lamanya.

“Lumayan lama mereka berada di Banjarejo. Saya sempat kaget ketika sore-sore ada orang asing datang. Untungnya, saya kok pas ada di rumah,” kata Ahmad Taufik, Senin (9/4/2017).

Kedatangan dua orang asing itu dilakukan untuk membuktikan rasa penasaran. Ceritanya, mereka berdua sempat melihat baliho Desa Wisata Purbakala Banjarejo yang terpasang di Desa Sulursari, Kecamatan Gabus.

“Mereka berdua, khususnya Sara kaget ada benda purbakala di Banjarejo. Akhirnya mereka minta diantarkan menuju kesini,” jelas Taufik.

Taufik menceritakan, pada tahun 2008 lalu, Sara ternyata pernah tinggal di Desa Sulursari selama sembilan bulan. Yakni, dalam rangka pertukaran mahasiswa antar negara.

“Jadi kemarin dia kesini sama temannya dalam rangka liburan dan bernostalgia di Sulursari. Gara-gara lihat baliho, mereka jadi penasaran dan akhirnya kesini,” kata Taufik.

Menurut Taufik, rasa penasaran dan kekagetan Sara dinilai cukup beralasan. Sebab, saat Sara menjalani program pertukaran mahasiswa, belum pernah ada kabar maraknya penemuan benda purbakala di Banjarejo.

“Penemuan benda purbakala baru marak dalam dua tahun terakhir. Waktu Sara di Sulursari tahun 2008, potensi purbakala Banjarejo memang belum terdengar. Makanya, dia sempat kaget ketika lihat ada desa wisata purbakala,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Perhiasan Emas Kuno yang Ditemukan di Banjarejo Grobogan Ternyata Replika Bunga Padma

Warga menunjukkan replika dari bunga Padma, yang lazim digunakan pada masa era Hindu di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Anggapan banyak pihak yang menyatakan jika perhiasan emas yang ditemukan di Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, adalah jenis bunga mawar atau teratai ternyata salah. Sebab, berdasarkan penjelasan Kepala Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah Tri Hartono, penemuan terbaru di Banjarejo itu diidentifikasikan replika dari bunga Padma.

“Bunga Padma lazim digunakan pada masa Hindu. Jadi kemungkinan besar, perhiasan emas itu merupakan peninggalan era Hindu,” katanya pada wartawan di Grobogan, Senin (6/3/2017).

Menurutnya, bunga Padma dalam sudut pandang Hindu melambangkan kesucian. Diperkirakan, perhiasan yang ditemukan itu umurnya sudah ratusan tahun.

Terkait dengan maraknya penemuan benda bersejarah di Desa Banjarejo perlu adanya penetapan lokasi sebagai situs. Untuk prosedur penetapannya melalui serangkaian tahapan mulai dari BPCB Jateng, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Grobogan, Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Grobogan dan Bupati Grobogan.

“Penetapan situs ini penting agar tidak terjadi kerusakan di lokasi yang diduga kuat memiliki banyak benda bernilai historis,” ungkap Tri.

 Baca juga : 

Heboh,Emas Berbentuk Bunga Mawar Muncul dari Bumi Banjarejo Grobogan

Perhiasan Emas Berbentuk Bunga Mawar yang Ditemukan di Sawah Ini Sempat Dikira Barang Mainan

 

Seperti diberitakan, bentuk perhiasan emas berbentuk bunga yang ditemukan di Banjarejo ukurannya tidak terlalu besar. Panjang dari ujung kuncup bunga hingga pangkal tangkainya sekitar 4 cm. Lebar kelopak bunga antar ujungnya juga berkisar 4 cm.

Bagian bunga dalam perhiasan yang diduga sebuah tusuk konde itu ada beberapa lapisan. Paling bawah ada lima helai kelopak bunga yang sudah mekar.

Sementara di atasnya ada beberapa helai yang akan mekar dan ada yang terlihat masih seperti kuncup. Dibagian bawah kelopak terdapat tangkai bunga sepanjang 2 cm yang juga berlapis emas.

“Ukuran perhiasan ini memang tidak terlalu besar. Beratnya sekitar 7,6 gram,” ungkap Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik.

Perhiasan ini ditemukan Sugiyanto, warga Dusun Medang bertepatan dengan Hari Jadi ke-291 Kabupaten Grobogan, Sabtu (4/3/2017) kemarin. Lokasi penemuannya berada di areal sawah di Dusun Medang. Tepatnya, sekitar 100 meter di selatan tanah keramat yang diyakini sebagai tempat berdirinya bangunan keraton kerajaan Medangkamulan.

Editor : Akrom Hazami

Diguyur Hujan Deras, Puluhan Warga Banjarejo Grobogan Tetap Betah Nonton Film di Balai Desa

Warga menonton film tentang purbakala di Balai Desa Banjarejo, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski cuaca hujan deras, acara pemutaran film yang digelar Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran di Balai Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus tetap digelar, Kamis (16/2/2017) malam. Puluhan warga, mulai anak-anak hingga orang tua tetap berdatangan untuk melihat tontonan gratis tersebut.

Pemutaran film dimulai sekitar pukul 19.30 WIB. Beberapa peralatan yang sebelumnya ditempatkan di halaman terpaksa dipindah di teras balai desa lantaran kena guyuran hujan. Sebuah film dokumenter berisi perjalanan sejarah purbakala hingga berdirinya Museum Sangiran jadi tontonan perdana. Film ini berdurasi sekitar 30 menit. Setelah itu, ada satu film lagi yang diputar. Yakni, film petualangan dengan titel ‘Para Pemburu Gajah’.

Film petualangan ini mengisahkan keberanian lima orang anak yang sedang berkemah untuk menyelamatkan seekor anak gajah Sumatera dari incaran pemburu. Lima anak ini merasa terpanggil untuk menyelamatkan gajah Sumatera karena populasinya sudah terancam punah. Dalam film ini juga mengisahkan kekompakan dan kesetiakawanan anak-anak tersebut dalam upaya menyelamatkan anak gajah tersebut.“Filmnya bagus. Kebetulan, saya senang sama binatang gajah,” kata Faris, salah seorang bocah yang menyaksikan pemutaran film tersebut.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik mengaku salut dengan animo warganya yang tetap bersedia hadir menyaksikan pemutaran film meski kondisi hujan deras sejak magrib. “Saya perkirakan ada 50 orang yang hadir di sini. Kalau cuaca cerah, yang nonton di balaidesa pasti penuh orang,” katanya, di sela-sela pemutaran film.

Taufik menilai, pemutaran film Para Pemburu Gajah dinilai sangat cocok. Sebab, film itu mengisahkan sebuah usaha untuk menyelamatkan sesuatu yang dinilai sangat berharga supaya keberadaannya tetap lestari. “Dari film ini saya berharap bisa memicu semangat warga untuk ikut menyelamatkan barang berharga yang adai di Banjarejo. Yakni, benda purbakala dan cagar budaya,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi menyatakan, selama dua pekan, pihaknya melangsungkan kegiatan penelitian di Banjarejo. Di sela-sela penelitian, ada beberapa kegiatan lain yang dilakukan. Yakni, menggelar sosialisasi pelestarian benda purbakala dan pemutaran film. 

Editor : Akrom Hazami 

100 Rumah Kebanjiran di Tlogotirto Grobogan

Warga bersiaga di lokasi banjir Desa Tlogotirto,Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bencana banjir melanda wilayah Kecamatan Gabus, Grobogan, Kamis (16/2/2017) malam. Penyebabnya, hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut mulai menjelang magrib hingga pukul 21.30 WIB.

Daerah paling parah terkena banjir berada di Desa Tlogotirto. Di desa ini, ada puluhan rumah yang kemasukan air dengan ketinggian 10-40 cm. Air yang masuk ke rumah warga berasal dari luapan sungai Ngrejeng yang melintas di desa tersebut.

Selain rumah warga, luapan air juga sempat menggenangi jalan raya setinggi 10 cm. Akibat adanya genangan arus lalu lintas sempat tersendat karena kendaraan berjalan pelan.

“Banjir hanya berlangsung sebentar, sekitar satu jam saja. Prosesnya seperti banjir bandang. Rumah warga yang kemasukan air hampir mencapai 100 unit,” kata Kades Tlogotirto Adi Saputra.

Menurut Adi, banjir dadakan sudah sering kali terjadi. Namun, kali ini dinilai paling parah. Musibah itu disebabkan makin dangkalnya sungai dan sempitnya jembatan yang ada di atasnya sehingga air tidak bisa mengalir lancar.

“Solusinya memang ada pelebaran jembatan dan normalisasi sungai,” imbuhnya.

Selain di Desa Tlogotirto, guyuran hujan deras juga menyebabkan banjir di Desa Banjarejo. Namun, bukan rumah warga yang terkena dampak banjir tetapi areal persawahan. Sedikitnya, ada belasan hektare sawah di Dusun Medang yang tergenang air hampir 50 cm.

“Areal sawah yang terendam baru ditanami padi seminggu lalu. Pagi ini air mulai berangsur surut. Dalam dua hari terakhir memang turun hujan sangat deras dan berlangsung cukup lama,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik 

Editor : Akrom Hazami 

Jejak Manusia Purba Ditemukan di Banjarejo Grobogan, Ini Indikasinya

Ketua Tim Penelitian BPSMP Sangiran Wahyu Widianta (kaos hitam) dan Kades Banjarejo Ahmad Taufik menunjukkan bola batu yang berhasil ditemukan . (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan  – Perkiraan banyak pihak jika ada manusia purba yang sempat hidup di sekitar Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, tampaknya mulai mendekati kebenaran. Hal ini menyusul adanya penemuan benda terbaru yang didapat Tim dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran saat melangsungkan penelitian di Desa Banjarejo sejak 10 hari lalu.

Benda yang ditemukan ini berupa bola batu. Jumlahnya ada tujuh. Sesuai namanya, benda ini bentuknya bulat. Benda ini hampir seukuran bola yang dipakai untuk olahraga tolak peluru. Bola batu ada yang bentuknya bulat simetris dan ada yang pinggirnya agak pipih seperti disayat. Bola batu paling besar berdiameter sekitar 10 cm dan yang kecil sekitar 7 cm. Beratnya sekitar 0,5 sampai 1 kg.

“Bola batu ini kita perkirakan merupakan salah satu peralatan yang dipakai manusia purba. Tepatnya, untuk alat berburu. Di Museum Sangiran sudah ada banyak koleksi bola batu,” Ketua Tim Penelitian BPSMP Sangiran Wahyu Widianta saat ditemui di Desa Banjarejo, Kamis (16/2/2017).

Bola batu berwarna kuning emas itu bisa digunakan berburu dengan cara dilemparkan pada sasaran yang dituju. Biasanya, hewan berukuran kecil semisal kijang. Bisa juga digunakan dengan diikat dengan tali sepanjang 1-1,5 meter, kemudian diputar dengan tangan dan dilemparkan pada sasaran. “Dalam film-film ada cara berburu seperti itu. Yakni, menggunakan batu yang diikat dengan seutas tali,” terang pengkaji pengembangan situs manusia purba BPSMP Sangiran itu.

Menurut Wahyu, bola batu itu ditemukan dalam kotak eskavasi yang bertempat di tegalan Dermo di sebelah utara Dusun Nganggil. Bola batu ditemukan saat dilakukan penggalian tanah di kotak eskavasi pada kedalaman 80 cm sampai 1,7 meter.  Dengan adanya bola batu maka kemungkinan adanya manusia purba yang hidup di sekitarnya cukup besar. Hanya saja, lokasi pasti di mana pusat peradaban manusia purba masih perlu diteliti lebih lanjut.

Wahyu menambahkan, selain bola batu, ada peralatan hidup lainnya dari batu yang digunakan manusia purba. Seperti, batu pipih berbentuk seperti pisau atau kapak untuk memotong benda keras. Ada juga ujung batu runcing tipis yang biasanya dipakai untuk menyayat atau menguliti hewan buruan. “Ada juga peralatan yang dibikin dari patahan tulang hewan besar dan kulit kerang yang keras dan ujungnya tajam,” imbuhnya. 

Editor : Akrom Hazami

Obok-obok Banjarejo, Tim PurbakalaSangiran Temukan Ratusan Fosil

Tim Ahli Purbakala BPSMP Sangiran melakukan penelitian di Banjarejo dan berhasil memukan ratusan fosil hewan purba. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski sudah banyak ditemukan, koleksi benda purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus belum habis. Buktinya, dalam sepekan terakhir, berhasil ditemukan ratusan potongan fosil hewan purba di berbagai lokasi.

Benda purbakala ini bukan ditemukan warga setempat, seperti biasanya. Tetapi, didapatkan Tim ahli purbakala dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran yang melangsungkan penelitian di Desa Banjarejo, sejak seminggu lalu.

“Selama seminggu sudah banyak potongan fosil yang ditemukan tim ahli BPSMP Sangiran. Kira-kira ada 250 potongan fosil hewan purba,” jelas Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Senin (13/2/2017).

Ratusan fosil yang ditemukan itu terdiri dari berbagai ukuran. Mulai sebesar ibu jari sampai sebesar lengan orang dewasa. Saat ini, fosil yang ditemukan masih dikumpulkan dan nantinya akan diidentifikasi.

Untuk lokasi penemuan potongan fosil tersebut berada di banyak tempat. Mulai dari pinggiran Sungai Lusi di sebelah utara Desa Banjarejo hingga di dusun Ngrunut dan Medang.

“Sudah banyak titik yang digali oleh tim ahli. Rencananya, mereka disini hingga 18 Februari mendatang,” kataTaufik.

Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi menyatakan, tim peneliti yang ditugaskan ke Banjarejo berjumlah sekitar 12 orang yang terdiri dari berbagai latar belakang keahlian. Penelitian ini merupakan tindaklanjut dari kegiatan serupa yang dilakukan bulan Maret 2016 lalu.

Kegiatan penelitian nanti hampir sama dengan yang dilakukan tahun lalu. Yakni, melakukan penelitian, pengkajian dan mengungkap nilai-nilai penting dari penemuan benda purbakala terbaru yang ada di Banjarejo. Misalnya, soal struktur tanah, dan titik penemuan benda purbakala. Kemudian tim akan melakukan upaya konservasi, registrasi, dan identifikasi penemuan benda purbakala terbaru

“Kegiatannya hampir sama dengan tahun 2016. Namun, areal penelitian akan diperluas lagi. Hal itu untuk menentukan zona perlindungan situsnya,” kata Sukron.

Editor : Akrom Hazami

Banjarejo Grobogan, Desa Fosil yang Terus Ngehits

Akrom Hazami red_abc_cba@yahoo.com

Akrom Hazami
red_abc_cba@yahoo.com

PERSOALAN pariwisata yang kurang tergarap, atau setengah hati dipedulikan, kerap terjadi di sejumlah daerah. Biasanya, ribuan alasan mengemuka dan akan dibenturkan dengan keterbatasan. Khususnya cara dan bagaimana suatu objek wisata bisa dikembangkan.

Tapi itu tidak berlaku bagi wilayah yang pintar. Wilayah yang cerdas mengembangkan potensinya menjadi nilai wisata dan menguntungkan. Untung untuk warga, untung untuk pengelola, dan untung pula bagi pemerintah kabupatennya.

Di antaranya adalah Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan. Berkat kreativitas yang tiada henti, Banjarejo menjelma menjadi desa wisata yang bikin penasaran masyarakat. Pentolan warganya adalah Kades Banjarejo Ahmad Taufik. Lewat tangan dinginnya, dan dukungan warga, upaya pengembangan wisata nan kreatif pun dilakukan. Selain desa ini punya potensi yang menjual, pengemasan menarik pun juga ditempuh.

Alhasil, nama desa ini kian diperhitungkan sebagai objek wisata kekinian. Desa Banjarejo dulunya tak begitu dikenal. Beberapa waktu terakhir, di desa ini kerap ditemukan benda purbakala. Satu di antaranya adalah ditemukannya fosil gajah purba stegodon. Gajah purba yang diperkirakan pernah hidup di Banjarejo dua juta tahun lalu pun meninggalkan jejaknya.

Stegodon adalah gajah purba raksasa yang hidup di masa Pleistosen. Fosil gajah purba yang ditemukan adalah kepala, rahang, kaki, dan gading. Fosil itu tersimpan rapi di rumah milik Taufik. Rumah kades tersebut kini jadi museum dadakan. Fosil gading berukuran 2,83 meter jadi hal yang mengundang perhatian. Selain juga ada fosil kepala kerbau raksasa, yang ukurannya bikin penasaran warga.

Lantas, apakah warga puas punya museum dadakan? Tidak. Warga mengemas wisata dengan elegan. Kades melakukan survei ke sejumlah tempat, seperti di Magelang dan Sleman DIY. Hasilnya, ide cerdas pun dibawa. Singkatnya, warga menyediakan areal cantik untuk berfoto. Dengan segala modifikasi ciamik, mereka ingin memanjakan wisatawannya. Tentu ini jadi surga bagi mereka yang berhobi foto selfie atau swafoto.

Selain ditempatkan di rumahnya yang jadi museum, photobooth juga disediakan di lokasi wisata alam bekas sumur minyak tua yang dikenal dengan nama Buran. Tempat pengeboran minyak tersebut, sekarang ini jadi salah satu favorit pengunjung yang datang ke Desa Banjarejo. Lokasi lainnya adalah di tanah tegalan milik Mbah Lamidi. Jarak sumur dari perkampungan penduduk sekitar satu kilometer jauhnya dan tempatnya memang agak terpencil.

Bentuk sumur ini menyerupai lingkaran dengan diameter 7 meter dan kedalamannya diperkirakan lebih dari 10 meter. Dari jarak sekitar 5 meter dari sumur sudah tercium bau menyengat, seperti bau solar. Sumur minyak ini merupakan sisa peninggalan zaman Belanda. Lokasi Buran ini menarik dan unik. Sekarang, banyak pengunjung yang minta diantar kesana setelah melihat koleksi benda bersejarah di museum.

Tak heran jika masa libur tiba, Desa Wisata Banjarejo selalu mengundang daya tarik pengunjung. Seperti libur Imlek, beberapa hari lalu, wisatawan mencapai sekitar 500 orang. Saat Natal dan Tahun Baru 2017 lalu, jumlah wisatawannya mencapai 1.000 orang. Mereka datang dari dalam kota, dalam provinsi, hingga luar provinsi.

Apa yang dilakukan Banjarejo, bisa ditiru dan dimodifikasi di daerah lain. Tanpa bantuan pemerintah, wisatanya tetap bisa maju. Semangat pantang menyerah, dan terus berinovasi, membuat desa wisata dikenal dengan sendirinya. (*)

FOTO-FOTO : Banjarejo Grobogan yang Memesona

Salah satu spot andalan foto selfie di Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Salah satu spot andalan foto selfie di Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Liburan panjang Imlek tahun ini, harusnya lebih maksimal bahagianya. Ada satu tempat di Grobogan, yang jadi rekomendasi untuk berwisata, menghabiskan masa liburan ini.

Lihatlah keceriaan anak-anak saat foto selfie di Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Lihatlah keceriaan anak-anak saat foto selfie di Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Adalah Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Warga setempat benar-benar sadar wisata. Mereka menyediakan area photobooth bagi pengunjung yang hobi jeprat-jepret.

1,2,3.. Oke, semua posenya siap untuk difoto. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

1,2,3.. Oke, semua posenya siap untuk difoto. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

“Meski tidak banyak, tetapi sudah kita siapkan photobooth bagi pengunjung yang hobi selfie. Barangnya kita bikin sederhana saja. Yang penting bisa dipakai pengunjung untuk berekspresi,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Wisatawan akhirnya tak tahan untuk tak bisa foto selfie di Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Wisatawan akhirnya tak tahan untuk tak bisa foto selfie di Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Selain ditempatkan di rumahnya yang sementara jadi ‘museum’, photobooth juga disediakan di lokasi wisata alam bekas sumur minyak tua yang dikenal dengan nama Buran. Tempat pengeboran minyak tersebut, sekarang ini jadi salah satu favorit pengunjung yang datang ke Desa Banjarejo.

Frame ini bisa bikin fotomu makin kece saat di Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Frame ini bisa bikin fotomu makin kece saat di Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Oke, datang saja sekarang. Buktikan dan rasakan sensasinya. 

Dan inilah salah satu sensasi asyik berfoto selfie di Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Dan inilah salah satu sensasi asyik berfoto selfie di Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Akrom Hazami

 

Cara Unik Warga Desa Banjarejo Sambut Kedatangan Pengunjung saat Libur Panjang Imlek

 

Pengunjung Desa Wisata Banjarejo berpose dengan photobooth yang sudah disediakan untuk berselfie. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Pengunjung Desa Wisata Banjarejo berpose dengan photobooth yang sudah disediakan untuk berselfie. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Datangnya libur panjang akhir pekan ini ternyata sudah diantisipasi warga Desa Wisata Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan. Caranya, dengan menyiapkan beberapa sarana pendukung yang bisa dimanfaatkan para pengunjung. Salah satunya, adalah menyediakan photobooth bagi pengunjung yang hobi jeprat-jepret.

“Meski tidak banyak, tetapi sudah kita siapkan photobooth bagi pengunjung yang hobi selfie. Barangnya kita bikin sederhana saja. Yang penting bisa dipakai pengunjung untuk berekspresi,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Selain ditempatkan di rumahnya yang sementara jadi ‘museum’, photobooth juga disediakan di lokasi wisata alam bekas sumur minyak tua yang dikenal dengan nama Buran. Tempat pengeboran minyak tersebut, sekarang ini jadi salah satu favorit pengunjung yang datang ke Desa Banjarejo.

Taufik menyatakan, lokasi wisata itu berada di tanah tegalan milik Mbah Lamidi. Jarak sumur dari perkampungan penduduk sekitar satu kilometer jauhnya dan tempatnya memang agak terpencil.

Bentuk sumur ini menyerupai lingkaran dengan diameter 7 meter dan kedalamannya diperkirakan lebih dari 10 meter. Dari jarak sekitar 5 meter dari sumur sudah tercium bau menyengat, seperti bau solar. Sumur minyak ini merupakan sisa peninggalan zaman Belanda. “Lokasi Buran ini memang menarik dan unik. Sekarang, banyak pengunjung yang minta diantar kesana setelah melihat koleksi benda bersejarah di rumah,” cetus Taufik.

Menurut Taufik, pilihan orang mengisi  libur panjang bertepatan dengan Imlek ternyata tidak hanya dilakukan pada objek wisata terkenal saja. Keberadaan Desa Wisata Banjarejo ternyata juga mulai mengundang daya tarik pengunjung untuk menghabiskan libur panjang. “Pengunjung pada libur Imlek lumayan ramai. Dari pagi sampai siang, sudah ada 500 orang yang datang dari berbagai daerah,” katanya.

Taufik menambahkan, saat libur panjang Natal dan tahun baru lalu, pengunjung yang datang juga cukup banyak. Dari pengalaman itulah, ia sengaja melakukan berbagai upaya untuk bisa memuaskan para pengunjung.

“Khusus untuk liburan panjang bersamaan dengan Natal dan tahun baru lalu, pengunjungnya ada 1.000 lebih. Beberapa di antaranya bahkan ada yang datang dari Kalimantan,” imbuhnya. 

Editor : Akrom Hazami

 

Tim Ahli Purbakala BPSMP Sangiran Bakal Gelar Penelitian Lagi di Banjarejo Grobogan

 

 

Tim ahli purbakala dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran saat melangsungkan penelitian di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus bulan Maret 2016 lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim ahli purbakala dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran saat melangsungkan penelitian di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus bulan Maret 2016 lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Tim ahli purbakala dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran dijadwalkan bakal melangsungkan penelitian lagi di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Rencananya, kegiatan penelitian akan dilangsungkan pertengahan Februari mendatang.

“Iya, kita ada rencana gelar penelitian lagi di Banjarejo. Nanti pada minggu kedua bulan Februari,” ungkap Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi saat dihubungi lewat ponselnya, Selasa (17/1/2017).

Menurutnya, tim peneliti yang ditugaskan ke Banjarejo berjumlah sekitar 12 orang yang terdiri dari berbagai latar belakang keahlian. Penelitian ini merupakan tindaklanjut dari kegiatan serupa yang dilakukan bulan Maret 2016.

Kegiatan penelitian nanti hampir sama dengan yang dilakukan tahun lalu. Yakni, melakukan penelitian, pengkajian dan mengungkap nilai penting dari penemuan benda purbakala terbaru yang ada di Banjarejo. Misalnya, soal struktur tanah, dan titik penemuan benda purbakala. Kemudian tim akan melakukan upaya konservasi, registrasi, dan identifikasi penemuan benda purbakala terbaru

“Kegiatannya hampir sama dengan tahun 2016. Namun, areal penelitian akan diperluas lagi. Hal itu untuk menentukan zona perlindungan situsnya,” kata Sukron.

Sementara itu, Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik ketika dimintai komentarnya mengaku senang dengan bakal adanya penelitian lagi yang dilakukan pihak BPSMP Sangiran. “Saya barusan dapat pemberitahuan dari BPSMP Sangiran soal bakal adanya penelitian lagi di sini. Kami sangat berterima kasih atas perhatian yang diberikan pihak BPSMP,” katanya.

Menurutnya, pada penelitian tahun lalu, banyak hal yang sudah dilakukan tim ahli BPSMP selama melangsungkan penelitian hampir sebulan lamanya. Antara lain, mereka sudah berhasil mengidentifikasi ratusan potongan fosil purba yang sudah berhasil ditemukan selama beberapa waktu terakhir.

“Kalau boleh saya bilang, kerja tim ahli dari BPSMP saat penelitian lalu luar biasa. Ratusan fosil yang ada sudah teridentifikasi,” katanya.

Dari proses identifikasi yang sudah dilakukan, potongan fosil itu berasal dari 17 jenis hewan purba. Antara lain, gajah, badak, kuda nil, penyu, banteng, kerbau, buaya, sapi, hiu, babi, antelop, menjangan dan kerang.

Selain jenis hewan, potongan fosil yang ada juga bisa diidentifikasi berdasarkan bagian tubuhnya. Misalnya, potongan tanduk, ekor, kepala, gigi, kaki atau bagian tubuh lainnya.

Dengan teridentifikasinya fosil tersebut nantinya akan banyak manfaat yang didapat. Seperti memudahkan dalam menata dalam tempat penyimpanan. Yakni, dengan mengelompokkan fosil berdasarkan jenis hewannya.

“Selain itu, tim ahli juga berhasil merekonstruksi fosil gading gajah purba dan sempat ikut menemukan fosil gading lagi saat penelitian di sini. Jadi, banyak sekali bantuan yang kita dapat dari penelitian tahun lalu. Kita harapkan, dalam penelitian nanti lebih banyak lagi hasil yang didapatkan,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Warga Taiwan Bantu Ungkap Asal-usul Koin Kuno di Banjarejo Grobogan

Warga Taiwan melihat benda purbakala di Banjarejo Grobogan. (MuriaNewsCom /DaniAgus)

Warga Taiwan melihat benda purbakala di Banjarejo Grobogan. (MuriaNewsCom /DaniAgus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Usai melangsungkan kunjungan lapangan di lokasi yang disiapkan untuk pembangunan embung, rombongan WNA Taiwan dan pejabat dari Kementrian Pertanian serta Dinas Pertanian TPH Grobogan sempat mampir ke rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik untuk istirahat sejenak. Kehebohan terjadi saat rombongan dari mancanegara itu hendak masuk ke rumah Taufik.

Di depan pintu rumah langsung disambut beberapa ibu yang menyuguhkan petunjukkan kotekan lesung. Beberapa WNA Taiwan merasa terhibur dengan pertunjukkan langka. Salah seorang  bahkan langsung ikut menabung lesung menggunakan alu (alat penumbuk).

Setelah itu, rombongan sempat masuk ke rumah untuk melihat aneka koleksi benda purbakala dan cagar budaya yang ada. Setelah melihat-lihat, ada satu benda yang menarik perhatian mereka.

Yakni, kumpulan koin kuno yang dipasang. Salah seorang  WNA Taiwan bahkan sempat terlihat takjub saat melihat benda ini.

“Ini adalah mata uang zaman Dinasti Sung yang berkuasa sekitar abad ke-9. Ini, luar biasa bisa sampai kesini,” kata orang asing itu seperti disampaikan penerjemahnya.

Menurutnya, mata uang itu diperkirakan dibawa Laksamana Cheng Ho untuk berdagang ke berbagai negara pada masa lalu. “Ini, benda tak ternilai harganya. Kalau dikembalikan ke China bisa dapat banyak uang ini. Uang yang didapat dari koin ini bisa untuk bangun seluruh desa,” katanya serius.

Seperti diketahui, ribuan koin dari tembaga itu ditemukan beberapa bulan lalu. Koin yang ditemukan ukurannya tidak begitu besar, diameternya 2,5 cm berbentuk bulat. Tepat ditengah koin ini terdapat lubang yang berbentuk kotak. 

Koin ini dibuat dari bahan tembaga dilihat dari warnanya yang agak coklat kekuning-kuningan. Pada salah satu sisi koin ini ada empat tulisan yang diperkirakan adalah huruf Cina.  Sementara sisi lainya polos tidak ada tanda khusus yang nampak. Baik berupa gambar, tulisan maupun angka.

“Saya senang sekali akhirnya ada yang bisa menyingkap misteri koin kuno ini. Sayang sekali, waktu mereka kesini sangat singkat. Kalau bisa lebih lama, tak suruh bedah koleksi lainnya. Seperti piring, keramik, dan guci,” kata Kades Ahmad Taufik.

Editor : Akrom Hazami 

Peristiwa yang Bikin Geger Grobogan

kaleidoskop-grobogan_rev

MuriaNewsCom, Grobogan – Selama 2016, ada banyak peristiwa yang bikin geger Kabupaten Grobogan. MuriaNewsCom merangkum kejadiannya.

  1. Kecelakaan bus peziarah, 4 Tewas

 Peristiwa kecelakaan lalu lintas terjadi di Jalan Raya Purwodadi-Pati km 7 yang masuk wilayah Desa Sumberjatipohon, Kecamatan Grobogan/Kabupaten Grobogan, Kamis (5/5/2016) sekitar pukul 09.00 WIB. Dalam peristiwa ini, ada empat korban meninggal dunia dan belasan orang luka-luka.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa itu bermula saat minibus yang mengangkut sekitar 30 orang melaju dari arah Pati menuju Purwodadi. Sesampai di jalan turunan, bus warna merah bernomor K1736 AD terlihat oleng dan tidak bisa dikendalikan dengan sempurna.

Dalam waktu bersamaan, dari arah Purwodadi melaju minibus umum PO Lukita jurusan Pati-Purwodadi. Lantaran bus dari atas tidak bisa dikendalikan, akhirnya menabrak bus yang ada di depannya.Saking kerasnya benturan, bus yang mengangkut rombongan peziarah dari Kecamatan Wedarijaksa, Pati itu kemudian sempat terguling di sebelah barat bahu jalan. Sementara bus yang dari arah selatan tetap dalam posisi berdiri namun bodi sebelah depan rusak parah.

“Keras sekali suara benturan kedua bus tadi. Kemungkinan, bus dari atas mengalami rem blong sehingga sopirnya tidak bisa mengendalikan kendaraan,” kata Teguh, salah seorang saksi mata.
Akibat peristiwa ini, arus lalu lintas menuju Pati dan sebaliknya sempat terhenti. Sebab, warga dan petugas kepolisian masih sibuk melakukan evakuasi korban dan membersihkan puing-puing kendaraan yang berserakan ditengah jalan.

Bus peziarah asal Pati yang terguling di Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bus peziarah asal Pati yang terguling di Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Sementara itu, Kasat Lantas Polres Grobogan AKP Nur Cahyo ketika dimintai komentarnya belum bisa memberikan keterangan lengkap. Soalnya, petugas masih perlu melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait peristiwa kecelakaan itu.

“Bisa jadi, kecelakaan itu ada indikasi rem blong. Namun, hal ini masih perlu disediliki lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pastinya. Untuk saat ini saya belum bisa memberikan keterangan lengkap,” katanya di lokasi kejadian.

Baca juga : KECELAKAAN GROBOGAN : 4 Orang Tewas saat Bus Peziarah dari Pati Tabrak Minibus

 

  1. Menguak bumi bersejarah, Banjarejo

Kawasan Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, bakal menjadi salah satu lokasi wisata yang bisa diandalkan ke depannya. Ini seiring dengan langkah Bupati Grobogan Sri Sumarni yang akan membangun kawasan itu.

Bupati merasa optimistis jika ke depan, Desa Banjarejo bakal jadi tempat kunjungan wisatawan. Itu dinyatakannya usai bupati Banjarejo sebagai desa wisata, belum lama ini.

”Potensi wisata dalam hal benda purbakala dan cagar budaya di Banjarejo memang luar biasa. Dua potensi ini sudah bisa jadi daya tarik banyak orang untuk datang ke sini. Sejak kecil dulu saya sering dengan cerita Medang Kamulan, dan saya yakin jika kerajaan itu pernah ada di sini,” katanya.

Menurut bupati, untuk memaksimalkan potensi Banjarejo, tentu tidak selesai dengan menetapkan jadi desa wisata saja. Tetapi banyak hal lain yang harus dilakukan agar pencanangan desa wisata bisa sukses seperti harapan semua pihak.

”Jadi, untuk menyukseskan Desa Wisata Banjarejo ini harus dikejakan satu persatu. Tidak bisa dalam sekejap karena butuh waktu dan biaya,” jelasnya.

Warga berada di lokasi penemuan barang bersejarah di Banjarejo, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga berada di lokasi penemuan barang bersejarah di Banjarejo, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Salah satu prioritas yang akan dilakukan adalah pembenahan sarana dan prasarana pendukung. Yakni, perbaikan akses menuju Banjarejo, karena masih ada banyak ruas jalan yang kondisinya rusak. Baik akses dari Kecamatan Kradenan maupun Kecamatan Ngaringan.

”Saya sudah perintahkan supaya perbaikan jalan menuju Banjarejo dialokasikan pada APBD 2017. Saat ini, proses penyusunan APBD 2017 masih dalam tahap awal. Soal perbaikan akses jalan ke Banjarejo juga sudah dapat dukungan penuh dari Pak Agus Siswanto (ketua DPRD Grobogan, red). Untuk pembenahan sarana dan prasarana pendukung lainnya pasti akan kita perhatikan,” terang Sri.

Mantan ktua DPRD Grobogan itu juga berpesan kepada Kepala Desa (Kades) Banjarejo Ahmad Taufik, agar merawat penemuan benda bersejarah dengan baik. Sri juga meminta agar Taufik selalu berkoordinasi dengan instansi terkait lainnya terkait pengembangan desa wisata.

Seperti dengan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, Balai Arkeologi (Balar) Jogjakarta, tim Ahli Cagar Budaya Jateng, dan Disporabudpar. ”Setelah dijadikan desa wisata, banyak pekerjaan yang harus dilanjutkan. Tergetnya, potensi disini harus bisa mendatangkan banyak pengunjung,” pesannya.

Dari sekian banyak benda bersejarah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, barangkali penemuan bangunan kuno mirip pondasi yang terbuat dari tumpukan batu bata dinilai paling fenomenal. Sebab, sejak penemuan itu mencuat, ada ribuan orang yang berkunjung ke desa ini.

Tidak hanya warga Grobogan saja, banyak juga orang dari luar kota yang datang ke sana. Bahkan, ada juga orang dari Kalimantan Timur yang melihat penemuan itu lantaran muncul kabar jika bangunan kuno tersebut merupakan bagian Istana Medang Kamulan.

Bangunan kuno dari tatanan batu bata itu ditemukan di areal sawah di Dusun Nganggil (12/10/2015). Panjang pondasi yang sudah sempat digali dan terlihat ini ada 40 meter. Membentang dari arah utara menuju ke selatan.

Batu bata yang dipakai membuat bangunan itu bentuknya lebih besar dibandingkan batu bata yang lazim saat ini. Panjang batu bata itu 30 cm, lebarnya 20 cm, dan ketebalannya 8 cm. Warnanya juga lebih merah dibandingkan batu bata saat ini.

Tinggi bangunan mirip pondasi itu sekitar 40 cm. Lebarnya ada 30 cm. Tumpukan paling atas ditaruh batu bata yang dipasang dengan posisi melintang. Sementara batu bata pada tiga tumpukan dibawahnya dipasang dengan posisi berdiri.

Penemuan bangunan kuno itu terjadi secara kebetulan. Yakni, saat para petani tengah membuat sumur gali dengan dana bantuan dari Kementerian Pertanian. Saat menggali sedalam dua meter, petani menemukan batu bata di dalam tanah.

Adanya keyakinan jika Kerajaan Medang Kamulan berdiri di Desa Banjarejo menyebabkan penemuan itu langsung jadi pusat perhatian. Tidak lama setelah kabar itu menyebar, orang mulai berduyun-duyun datang ke sana. Setiap hari, tidak kurang 500 orang yang penasaran untuk melihat bentuk bangunan kuno tersebut.

“Pengunjung bangunan kuno waktu itu memang luar biasa banyaknya. Bahkan saat hari Minggu atau libur, pengunjungnya sempat sampai 2.000 orang,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Bupati Grobogan Sri Sumarni di lokasi tempat bersejarah di Banjarejo, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bupati Grobogan Sri Sumarni di lokasi tempat bersejarah di Banjarejo, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sementara itu, berdasarkan keterangan peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto yang datang ke lokasi, ditegaskan jika bangunan itu termasuk benda bersejarah. Sebab, dilihat dari cirinya, diperkirakan bangunan itu peninggalan abad 15 hingga 16.

Menurutnya, bangunan kuno itu dinilai merupakan sebuah batas ruang tertentu. Artinya, tidak jauh dari lokasi pernah ada bangunan yang lebih besar. Bisa sebuah rumah, pusat aktivitas waktu itu atau sebuah bangunan kerajaan.

Baca juga : Bangunan Kuno dari Tatanan Batu Bata jadi Penemuan Paling Fenomenal di Banjarejo 

 

Selain benda purbakala dan cagar budaya, ada satu potensi wisata terbaru yang ada di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Yakni, berupa fenomena alam munculnya sebuah sendang yang airnya berwarna kebiru-biruan yang berada di Dusun Peting.

Sendang tersebut muncul dari proses pelebaran mata air yang sebelumnya sudah ada di areal sawah di sebelah selatan Dusun Peting. Mata air sebelumnya ukurannya hanya 2 x 2 meter dengan kedalaman 2,5 meter.

Pelebaran dilakukan agar bisa menampung lebih banyak air khususnya untuk menghadapi musim kemarau. Sebab, wilayah Desa Banjarejo termasuk tandus dan sulit mendapatkan air saat kemarau datang.

Proyek pelebaran mata air yang berada di sawah milik Karno (30), dimulai Jumat (16/9/2016). Untuk mempercepat pekerjaan, pelebaran mata air dilakukan menggunakan dua alat berat jenis backhoe.

Selama sehari penuh, komplek mata air berhasil diperlebar dengan ukuran 4 x 8 meter membujur dari arah barat ke timur. Selain diperluas, kedalamannya juga ditambah jadi 5 meter.

Keesokan harinya, Sabtu (17/9/2016), baru terjadi kehebohan. Hal ini terjadi setelah kolam yang diperlebar itu terisi air yang warnanya kebiru-biruan.

“Kalau saya amati, air di sendang ini warnanya mirip di telaga warna di Pegunungan Dieng. Ini merupakan fenomena alam yang luar biasa buat Desa Banjarejo. Soalnya, sumber air disini sangat susah didapatkan,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurut Taufik, mata air yang di Dusun Peting tersebut sudah ada sejak zaman nenek moyang. Selama ini, mata air di situ tidak pernah berhenti mengeluarkan air kendati pada puncak musim kemarau.

Oleh sebab itulah, pihaknya sengaja membuat rencana pelebaran mata air tersebut. Tujuannya, agar bisa menampung banyak air sehingga nantinya bisa dipakai untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan bercocok tanam.

Warga berada di lokasi penemuan barang bersejarah di Banjarejo, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga berada di lokasi penemuan barang bersejarah di Banjarejo, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kepala Desa (Kades) Banjarejo Ahmad Taufik mengatakan, selama ini pihaknya selalu berkoordinasi dengan instansi terkait, yang ada hubungannya dengan keberadaan sebuah situs.

Koordinasi itu, menurut Taufik, baik melalui short message service (SMS) atau pesan singkat, maupun telepon. Bahkan sudah beberapa kali pihaknya berkomunikasi langsung ke Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, Balai Arkeologi (Balar) Jogjakarta, tim Ahli Cagar Budaya Jateng, dan Disporabudpar Grobogan.

”Setiap ada penemuan, langsung kita informasikan dan kirimkan fotonya pada instansi terkait. Jadi koordinasi itu selalu kita lakukan, meski terkadang hanya lewat media sosial (medsos),” katanya.

Taufik mengatakan, terkait pembenahan sarana dan prasarana wisata, pihaknya tidak akan mengandalkan dana dari Pemkab Grobogan saja. Tetapi juga akan berupaya semampunya lewat dana desa, kalau memang memungkinkan.

Selain itu, sebisa mungkin pihaknya akan menyiapkan sarana sederhana dengan dana swadaya masyarakat. ”Yang jelas kami juga akan berupaya semaksimal mungkin untuk mengembangkan wisata di sini. Soal kendala yang dihadapi, nanti kita pecahkan bersama dengan berbagai pihak. Terutama Pemkab Grobogan. Biar terasa ringan,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Ingin Menikmati Malam Tahun Baru dalam Suasana Kamping? Datang ke Desa Banjarejo Grobogan

 

Sejumlah warga Desa Banjarejo, Grobogan, sedang mempersiapkan tenda bagi pengunjung yang akan merayakan tahun baru di kawasan objek wisata bekas sumur minyak tua. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sejumlah warga Desa Banjarejo, Grobogan, sedang mempersiapkan tenda bagi pengunjung yang akan merayakan tahun baru di kawasan objek wisata bekas sumur minyak tua. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Suasana perayaan tahun baru di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, malam nanti bisa dipastikan beda dengan lainnya. Sebab, acaranya digelar layaknya suasana kamping yang dilakukan para pecinta alam.

“Sengaja kita tidak menampilkan acara yang menimbulkan banyak kebisingan. Makanya, kita bikin suasananya seperti kamping dan lokasinya kebetulan sangat mendukung,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurutnya, di lokasi kegiatan yang ditempatkan di kawasan objek wisata bekas sumur minyak tua yang dikenal dengan nama Buran itu sudah disiapkan tenda besar untuk pengunjung. Karena tendanya mungkin tidak mencukupi maka pengunjung yang akan datang sudah disarankan untuk membawa perlengkapan kamping sendiri.

Taufik menyatakan, ide membikin acara tahun baru itu datang dari warga dan juga para pemerhati purbakala dan cagar budaya. Dari sinilah, kemudian diputuskan untuk menggelar acara memeriahkan pergantian tahun di Banjarejo.

“Lokasi yang kita pilih sengaja di kawasan Buran. Pertimbangannya, selain lokasinya menarik, di sana jauh dari perkampungan sehingga aktivitas perayaan tahun baru tidak akan mengganggu masyarakat,” katanya.

Terkait dengan penyelenggaraan kegiatan yang baru kali ini dilakukan, sejak beberapa hari lalu, berbagai elemen masyarakat Desa Banjarejo sudah mulai bergotong-royong menata lokasi. Di antaranya, membersihkan rumput liar di sekitar sendang, dan menyiapkan sarana lain yang diperlukan.

Misalnya, tempat duduk dan bersantai bagi pengunjung. Kemudian membikin jembatan bambu hingga tengah sumur minyak untuk dipakai selfie pengunjung.

Untuk menyemarakkan malam pergantian tahun nanti, ada beragam acara yang disiapkan. Antara lain, api unggun dan pesta lampion dan kembang api.

“Sementara baru ini yang kita siapkan. Kemungkinan nanti bisa kita tambah lagi acaranya biar tambah meriah,” imbuhnya.

Taufik menyatakan, lokasi wisata itu berada di tanah tegalan milik Mbah Lamidi. Jarak sumur dari perkampungan penduduk sekitar satu kilometer jauhnya dan tempatnya memang agak terpencil.

Bentuk sumur ini menyerupai lingkaran dengan diameter 7 meter dan kedalamannya diperkirakan lebih dari 10 meter. Dari jarak sekitar 5 meter dari sumur sudah tercium bau menyengat, seperti bau solar. Sumur minyak ini merupakan sisa peninggalan zaman Belanda.

Editor : Akrom Hazami

Di Banjarejo Grobogan Akan Ada Pesta Tahun Baru yang Unik

Sejumlah warga sedang mempersiapkan lokasi sumur minyak tua yang akan dipakai untuk acara malam tahun baru di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sejumlah warga sedang mempersiapkan lokasi sumur minyak tua yang akan dipakai untuk acara malam tahun baru di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan –  Bagi Anda yang ingin merayakan suasana pergantian tahun jauh dari kebisingan, ada baiknya datang ke Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Sebab, pada penghujung tahun nanti bakal ada acara yang digelar. Tepatnya, di kawasan objek wisata bekas sumur minta tua di utara Dusun Ngangil yang dikenal dengan nama Buran.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, ide membikin acara tahun baru itu datang dari warga dan juga para pemerhati purbakala dan cagar budaya. Dari sinilah, kemudian diputuskan untuk menggelar acara memeriahkan pergantian tahun di Banjarejo.

“Lokasi yang kita pilih sengaja di kawasan Buran. Pertimbangannya, selain lokasinya menarik, di sana jauh dari perkampungan sehingga aktivitas perayaan tahun baru tidak akan mengganggu masyarakat,” katanya.

Terkait dengan penyelenggaraan kegiatan yang baru kali ini dilakukan, sejak beberapa hari lalu, berbagai elemen masyarakat Desa Banjarejo sudah mulai bergotong-royong menata lokasi. Di antaranya, membersihkan rumput liar di sekitar sendang, dan menyiapkan sarana lain yang diperlukan.

Misalnya, tempat duduk dan bersantai bagi pengunjung. Kemudian membikin jembatan bambu hingga tengah sumur minyak untuk dipakai selfie pengunjung.

“Kemungkinan acaranya nanti dihadiri banyak orang. Sampai saat ini, sudah ada ratusan orang yang mengabarkan untuk hadir. Beberapa diantaranya rekan-rekan dari luar kota. Untuk ikut acara ini, tidak dikenakan biaya. Tetapi saya sarankan, mereka yang mau ikut sebaiknya bawa perlengkapan kemping karena lokasinya di kawasan terbuka,” jelasnya.

Untuk menyemarakkan malam pergantian tahun nanti, ada beragam acara yang disiapkan. Antara lain, partunjukkan musik reggae, api unggun dan pesta lampion dan kembang api.

“Sementara baru ini yang kita siapkan. Kemungkinan nanti bisa kita tambah lagi acaranya biar tambah meriah,” imbuhnya.

Taufik menyatakan, lokasi wisata itu berada di tanah tegalan milik Mbah Lamidi. Jarak sumur dari perkampungan penduduk sekitar satu kilometer jauhnya dan tempatnya memang agak terpencil.

Bentuk sumur ini menyerupai lingkaran dengan diameter 7 meter dan kedalamannya diperkirakan lebih dari 10 meter. Dari jarak sekitar 5 meter dari sumur sudah tercium bau menyengat, seperti bau solar. Sumur minyak ini merupakan sisa peninggalan zaman Belanda.

Editor : Akrom Hazami

Budi Setyo Utomo, Perangkat Desa Banjarejo yang Jago Menemukan Benda Purbakala

 

Budi Setyo Utomo saat menyerahkan penemuan kepala banteng purba pada Bupati Grobogan Sri Sumarni ketika peresmian Desa Wisata Banjarejo bulan Oktober 2016. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Budi Setyo Utomo saat menyerahkan penemuan kepala banteng purba pada Bupati Grobogan Sri Sumarni ketika peresmian Desa Wisata Banjarejo bulan Oktober 2016. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Melihat penampilannya yang sederhana dan bersahaja memang terkesan biasa saja. Tetapi, siapa sangka di balik kesederhanaannya, pria ini ternyata punya talenta luar biasa. Yakni, mampu mendeteksi keberadaan benda purbakala yang ada di desanya.

Ya, pria ini adalah Budi Setyo Utomo yang sehari-harinya menjabat sebagai Kaur Kesra Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Banyaknya temuan benda purbakala di Banjarejo tidak bisa dipisahkan dengan sosok pria berusia 37 tahun itu.

Dari cerita warga setempat, Budi memang sudah lama dikenal mahir untuk mendeteksi keberadaan fosil yang terpendam dalam tanah.

Selain yang berukuran kecil, beberapa fosil berukuran besar juga sudah ditemukan yang akrab dipanggil Mbah Modin itu. Antara lain, penemuan fosil kepala kerbau raksasa pada bulan September 2015. Kemudian, beberapa bulan berikutnya, Budi

berhasil mengendus keberadaan fosil gading gajah purba dan bagian tempurung kepala banteng purba. Beberapa waktu sebelumnya, beragam potongan fosil juga bisa ditemukan di lokasi yang berbeda tetapi masih di kawasan Desa Banjarejo.

Temuan terbaru adalah fosil kepala banteng purba yang berusia hampir 1 juta tahun. Fosil ini sempat diperlihatkan pada Bupati Grobogan Sri Sumarni saat meresmikan Desa Wisata Banjarejo akhir Oktober lalu.

“Kehebatan Pak Budi dalam urusan fosil sudah tidak diragukan lagi. Bahkan, beberapa warga memberikan julukan Profesor Fosil padanya,” ungkap beberapa warga Banjarejo.

Meski bukti hasil penemuannya sudah tidak terhitung banyaknya namun saat dikonfirmasi masalah ini, Budi selalu bersikap merendah. Ia selalu mengaku tidak punya keahlian khusus dalam masalah penemuan fosil.

“Apa yang diceritakan orang itu saya kira terlalu berlebihan. Saya hanya kebetulan saja bisa menemukan fosil-fosil ini. Dalam menemukan fosil ini saya hanya belajar dari alam dan insting. Saya tidak punya ilmu khusus apalagi japa mantra buat mendapatkan fosil,” kata lulusan MTs itu.

Dari pengalaman yang dimiliki, Budi menyatakan jika potensi fosil yang ada di desanya masih cukup banyak. Hampir semua dusun menyimpan kekayaan fosil. Hanya saja, kedalaman fosil yang terpendam dalam tanah itu berbeda-beda.

Meski demikian, untuk bisa mengeluarkan fosil itu bukan pekerjaan mudah. Sebab, butuh dana untuk penggalian serta peralatan yang lebih memadai. Harapannya, pihak terkait nantinya bisa mengambil alih upaya penggalian dan dia siap membantu untuk memperlihatkan kekayaan purbakala yang tersimpan di bumi Banjarejo.

Bapak dua anak itu mengaku bangga karena selama ini, sudah ribuan orang yang berkunjung ke Banjarejo untuk melihat koleksi benda purbakala dan cagar budaya. Dia juga merasa bangga karena berhasil bertemu dengan salah satu pengunjung ternama. Yakni,  ahli arkeologi ternama di dunia dari Perancis, Profesor Francois Semah beserta istrinya Anne Marie Semah, Rabu (30/11/2016).

“Saat kesini saya sempat bertemu dan berharap mereka mau melakukan penelitian kesini. Mereka menjajikan akan datang tahun depan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik mengakui jika jasa perangkatnya dalam penemuan fosil purbakala itu sangat besar. Dia berharap, agar dalam waktu mendatang bisa ditemukan lagi benda purbakala untuk menambah koleksi yang saat ini masih tersimpan di rumahnya.

Editor : Akrom Hazami

Pondasi Kuno dari Tatatan Batu Bata Kembali Muncul di Desa Banjarejo

Di lokasi penambangan emas di areal sawah Dusun Medang inilah terlihat pondasi kuno dari tatanan batu bata. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Di lokasi penambangan emas di areal sawah Dusun Medang inilah terlihat pondasi kuno dari tatanan batu bata. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Untuk kedua kalinya, ditemukan pondasi kuno dari tatatan batu bata merah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Kali ini, lokasi munculnya pondasi kuno berada di areal sawah milik Jasmo yang masuk wilayah Dusun Medang. 

Pondasi kuno yang terlihat panjangnya hanya sekitar 1 meter dan lebarnya sekitar 80 cm. Bangunan kuno ini muncul dari lokasi penggalian untuk mencari perhiasan emas di areal sawah.

“Kedalaman penggalian sekitar 2,5 meter. Sedangkan luas lahan penambangan sekitar 2 x 2 meter. Sebelumnya, pondasi itu tidak begitu kelihatan karena tertutup air,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Kamis (8/12/2016).

Pada awal Oktober 2015 lalu, untuk pertama kalinya ditemukan pondasi serupa. Lokasinya di areal sawah di Dusun Nganggil. Pondasi yang ditemukan pertama yang sudah sempat tergali, panjangnya lebih dari 300 meter. Meski begitu, ujung pondasinya belum ditemukan.

Lokasi penemuan kedua berjarak sekitar 150 meter sebelah barat dari pondasi yang ditemukan pertama. Saat penemuan pondasi pertama, lokasi ini dijadikan tempat parkir kendaraan roda empat atau truk pengunjung.

Menurut Taufik, munculnya pondasi terbaru dinilai ada hubungannya dengan penemuan pertama. Selain jaraknya tidak terlalu jauh, arah bangunan ternyata berbeda.

Penemuan pondasi pertama, arahnya membujur dari utara ke selatan. Sedangkan, pondasi yang ditemukan barusan arahnya membujur dari barat ke timur. “Melihat kondisi di lapangan, jika dilakukan penggalian ke arah timur di lokasi yang kedua, kemungkinan bertemu dengan pondasi ditemukan pertama. Jadi, analisa saya, pondasi yang ketemu tahun lalu, arahnya tidak lurus ke utara tetapi berbelok ke barat. Untuk menyimpulkan lebih tepat, nanti biar disampaikan oleh ahlinya. Saya sudah koordinasikan pada beberapa instansi terkait soal ini,” kata pria yang hobi naik gunung itu.

Taufik menambahkan, jika dihubungkan dengan keyakinan warga dengan sebuah lokasi yang diyakini sebagai Keraton Kerajaan Medang Kamulan, posisinya juga tepat. Lokasi yang diyakini sebagai keraton itu berada di sebelah barat pondasi pertama. Sementara dari posisi pondasi kedua, letak keraton ada di sebelah utaranya.

“Dari keterangan ahli dari Balai Arkeologi Yogyakarta lalu, pondasi ini merupakan batas sebuah bangunan atau wilayah tertentu. Kalau melihat munculnya pondasi kedua, perkiraan bangunan ada di barat pondasi lama. Di situ, kebetulan selama ini diyakini sebagai pusat Kerajaan Medang Kamulan. Untuk membuktikan kebenarannya, masih butuh proses panjang,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

WOW, Ribuan Koin Kuno Seberat Seperempat Kuintal Ditemukan di Banjarejo Grobogan

Ribuan koin kuno yang ditemukan sedang disatukan dengan cara diuntai benang oleh beberapa warga. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ribuan koin kuno yang ditemukan sedang disatukan dengan cara diuntai benang oleh beberapa warga. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Koleksi benda bersejarah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus bertambah lagi. Kali ini bukan berupa fosil hewan purba, tetapi benda cagar budaya peninggalan masa lalu. Wujudnya adalah koin mata uang kuno yang jumlahnya cukup banyak.

“Jumlah pastinya belum sempat dihitung saking banyaknya. Saya perkirakan, jumlah koin ini ada lima ribuan banyaknya,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Senin (21/11/2016).

Koin yang ditemukan ukurannya tidak begitu besar, diameternya 2,5 cm berbentuk bulat. Tepat di tengah koin ini terdapat lubang yang berbentuk kotak.

Koin ini dibuat dari bahan tembaga dilihat dari warnanya yang agak cokelat kekuning-kuningan. Pada salah satu sisi koin ini ada empat tulisan yang diperkirakan adalah huruf Cina.

Sementara sisi lainya polos tidak ada tanda khusus yang nampak di situ. Baik berupa gambar, tulisan maupun angka. “Diperkirakan, koin ini merupakan peninggalan Dinasti Tang yang berdiri pada abad 6-9. Sebelumnya, sudah ada penemuan koin seperti ini tetapi jumlahnya tidak sampai ribuan,” jelas Taufik.

Dijelaskan, koin itu ditemukan di sebuah tegalan di utara Dusun Kuwojo. Saat itu, areal tegalan sedang ditata dengan alat berat.  Nah, di tengah aktivitas penataan tegalan itu, salah seorang pekerja sempat melihat ada sebuah karung yang terlihat dari bekas tanah yang dikeruk alat berat. Ketika dicek, ternyata dari sobekan karung ada banyak benda bulat yang ternyata adalah koin.

“Pekerja ini kemudian menghubungi saya untuk mengabarkan penemuan ini. Selanjutnya, beberapa anggota komunitas pecinta fosil meluncur ke sana untuk mengevakuasi benda yang ditemukan. Prosesnya dilakukan hati-hati lantaran karung pembungkus koin sudah rapuh dan sobek-sobek karena lama tertimbun tanah,” cetus Taufik.

Setelah sampai di rumahnya, koin itu kemudian dibersihkan dari kotoran yang melekat. Setelah bersih dan kering, koin itu sempat ditimbang dan berat keseluruhan mencapai 25 Kg atau seperempat kuintal.

“Untuk membersihkan koin ini butuh waktu sekitar tiga hari karena banyak sekali jumlahnya. Saat ini, sebagian koin coba kita jadikan satu dengan cara diuntai benang. Tujuannya biar aman dan tidak tercecer,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Puluhan Guru Sejarah SMA di Grobogan Kunjungi ‘Museum’ Banjarejo, Ini Komentar Mereka

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyampaikan penjelasan kepada guru sejarah SMA saat melihat koleksi benda purbakala dan cagar budaya di tempatnya, Kamis (17/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyampaikan penjelasan kepada guru sejarah SMA saat melihat koleksi benda purbakala dan cagar budaya di tempatnya, Kamis (17/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan-Luar Biasa. Itulah ungkapan yang dilontarkan para guru sejarah SMA di Grobogan usai melihat langsung beragam penemuan benda bersejarah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kamis (17/11/2016).

“Koleksi yang ada di Banjarejo memang luar biasa. Kami dapat banyak pengetahuan dari kunjungan yang kita lakukan bersama rekan-rekan hari ini di Banjarejo,” kata Ketua MGMP Sejarah SMA Prayitno Slamet.

Menurut Prayitno, sebenarnya jumlah guru sejarah SMA yang jadi anggota MGMP sebanyak 50 orang akan ikut semuanya. Tetapi, karena ada tugas lain yang tidak bisa ditinggalkan, hanya 27 orang ikut dalam kunjungan ke Banjarejo.

“Teman-teman yang lainnya nanti akan ke sini di lain kesempatan. Sementara baru 27 orang yang bisa ikut ke sini hari ini,” kata guru sejarah di SMAN 1 Godong itu.

Prayitno menyatakan, koleksi yang ada di Banjarejo dinilai cukup komplit. Selain jumlahnya banyak dan jenisnya beragam, koleksi di tempat tersebut berasal dari berbagai zaman. Mulai prasejarah, Hindu-Budha dan awal masuknya Islam.

Di samping itu, penataan koleksi juga sudah dilakukan dengan baik. Sehingga memudahkan pengunjung untuk melihat karena benda purbakala dan cagar budaya sudah dipisahkan tempatnya.

Selain itu, pendataan tentang benda penemuan juga dinilai sangat bagus. Dengan adanya data ini, pengunjung bisa dengan mudah mengetahui informasi tentang benda tersebut.

“Satu lagi, penjelasan yang disampaikan Pak Kades Ahmad Taufik juga makin melengkapi informasi yang dibutuhkan. Kami mengucapkan terima kasih pada Pak Kades atas perhatian dan kerja samanya,” kata Prayitno.

Menurutnya, banyaknya penemuan di Banjarejo itu dinilai suatu aset dan karunia yang tidak ternilai harganya. Dengan adanya penemuan itu, di sisi lain memang bisa dijadikan sarana edukasi bagi banyak pihak. Terutama para pelajar.

“Koleksi di Banjarejo bisa kita jadikan pelengkap dari pelajaran teori. Apa yang kita dapat dari sana akan kita aplikasikan pada anak didik. Ke depan, kita juga akan mengupayakan untuk mengajak siswa berkunjung sekaligus belajar di Banjarejo,” cetusnya.

Sementara itu, Kades Banjarejo Ahmad Taufik mengaku bangga dengan adanya kunjungan guru sejarah SMA untuk melihat aneka koleksi benda peninggalan masa lampau tersebut. Sebelumnya, Taufik memang berharap agar koleksi yang saat ini tersimpan di rumahnya bisa jadi sarana edukasi para pelajar. Selain koleksinya banyak ragamnya, keberadaan benda bersejarah seperti itu juga jarang ditemukan didaerah lainnya.

“Koleksi benda penemuan yang ada saat ini sudah memadai karena jumlahnya lebih dari 500. Ini bisa jadi sarana untuk pendidikan siswa tentang adanya sebuah kehidupan maupun peradaban di masa lampau. Salah satu pihak yang pas untuk melakukan upaya edukasi ini adalah sekolah-sekolah. Saya mengucapkan terima kasih atas kunjungan istimewa dari para guru sejarah ini,” katanya.

Sejauh ini, sambung Taufik, memang sudah banyak siswa dari berbagai sekolah yang berkunjung ke ‘Museum Banjarejo’ untuk melihat berbagai koleksi benda bersejarah. Namun, sebagian besar masih sekolah di sekitar wilayah Banjarejo. Diharapkan, langkah ini juga bisa diikuti oleh sekolah lainnya yang ada di wilayah Grobogan. Baik dari level SD, SMP, SMA dan SMK.

“Banyaknya penemuan benda bersejarah di sini merupakan karunia yang tidak ternilai harganya. Kalau tidak dimanfaatkan secara maksimal, rasanya eman-eman (sayang),” imbuhnya.

Editor : Kholistiono