2 Balita Tewas Tersambar Kereta, Ini Imbauan Kapolres Grobogan kepada Warga

Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano saat menyampaikan imbauannya kepada warga yang tinggal di pinggiran rel kereta api. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa kecelakaan yang menyebabkan dua orang tewas tersambar kereta api di di Kampung Gubug Timur, Desa Gubug, Kecamatan Gubug, mendapat perhatian dari Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano, Selasa (4/4/2017). Sebab, dua bersaudara yang jadi korban kecelakaan diketahui masih balita. Yakni, Apitara Asriyana (4), dan Shaherra Seikha Asriyana (2) yang tinggal di wilayah RT 05, RW 12.

“Peristiwa ini hendaknya jadi perhatian kita bersama. Semoga keluarga korban diberi ketabahan dalam menghadapi musibah ini,” kata Satria didampingi Kapolsek Gubug AKP Dedy Setya.

Terkait dengan peristiwa itu, Satria mengimbau pada warga yang tinggal di sekitar jalur kereta api lebih bersikap waspada dan berhati-hati. Sebab, setelah dibangun jadi double track atau dua jalur, arus kereta yang melintas dari kedua arah bertambah padat.

Selain itu, warga juga diminta memberikan pengertian dan meningkatkan kewaspadaan pada anak-anak ketika beraktivitas di dekat jalur kereta. Sebab, melakukan aktivitas berdekatan dengan jalur kereta bisa membahayakan keselamatan diri.

“Saya minta agar pengawasan terhadap anak-anak yang beraktivitas di dekat jalur kereta agar ditingkatkan. Jangan biarkan anak-anak berakivitas tanpa pengawasan orang tua,” pesannya.

Seperti diberitakan, kedua balita perempuan tersebut tewas akibat tersambar kereta barang, Selasa sekitar pukul 08.00 WIB sekitar pukul 08.00 WIB. Peristiwa kecelakaan maut terjadi sekitar 700 meter di sebelah timur Stasiun Gubug.

Sebelum kejadian, kakak beradik itu dikabarkan hendak menyusul bapaknya Daryanto (40), yang sedang berada di warung tetangganya. Warung tersebut berjarak sekitar 250 meter dari rumah korban dan dipisahkan tenggangan sawah. Kedua balita tersebut berjalan menyusuri bantaran pinggir rel untuk menyusul bapaknya. Bagi warga setempat, memang sudah biasa berjalan menyusuri pinggiran rel, termasuk anak-anak.

Saat separuh perjalanan menuju warung, dari arah barat (Semarang) sudah terlihat akan ada kereta yang melintas. Beberapa petani yang saat itu ada di sawah sempat mengingatkan kedua balita tersebut supaya menjauh karena ada kereta mau lewat.

Namun, peringatan itu kemungkinan tidak terdengar oleh kedua bocah tersebut. Hingga akhirnya, kedua bersaudara itu terserempet bodi rangkaian kereta barang sampai terpental di areal bebatuan di pinggir lintasan. Akibat terserempet bodi kereta, kedua korban mengalami luka parah dan meninggal dunia.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : NGERI, 2 Balita Tewas Tersambar Kereta Api di Gubug Groboga

2 Balita Tewas Tersambar KA, Ibunya yang Siap jadi TKI Hanya Bisa Pasrah di Grobogan

Polisi tampak berada di lokasi balita yang tersambar KA di Gubug Grobogan, Selasa. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Suasana haru terlihat saat pemakaman kedua korban tewas akibat tersambar kereta api di Kampung Gubug Timur, Desa Gubug, Kecamatan Gubug, Grobogan, Selasa (4/4/2017). Tepatnya, saat ibu korban Apitara Asriyana (4), dan Shaherra Seikha Asriyana (2) bernama Sri Maryani tiba di rumah duka.

Saat kejadian, ibu kedua balita tersebut tidak ada di rumah. Sejak sepekan terakhir, ibunya ada di tempat penampungan jasa TKI di Semarang.

“Ibu kedua korban tadi dijemput kakaknya. Begitu sampai rumah, ibunya langsung lemas karena tidak menyangka ada peristiwa menyedihkan ini. Ibu Sri, usianya sekitar 35 tahun,”kata Kepala Desa Gubug As’adul Munir.

Menurutnya, beberapa waktu sebelumnya, Sri yang punya niatan merantau jadi TKI memang sudah berada di penampungan. Namun, tiap akhir pekan selalu pulang menengok keluarganya.

Baru pada Minggu kemarin, ia dikabarkan tidak pulang. Sebab, harus menjalani masa karantina. Soalnya, dalam beberapa hari mendatang sudah akan terbang ke luar negeri.

“Ibu korban terakhir pulang tanggal 26 Maret lalu. Minggu kemarin tidak pulang karena sudah dikarantina. Biasanya, menjelang berangkat calon TKI menjalani masa karantina. Mengenai negara tujuan jadi TKI, saya kurang tahu. Warga sini biasanya jadi TKi ke Taiwan atau Malaysia,” jelasnya.

Seperti diberitakan, kedua balita perempuan yang tinggal di wilayah RT 05, RW 12 tersebut tewas akibat tersambar kereta barang sekitar pukul 08.00 WIB. Peristiwa kecelakaan maut terjadi sekitar 700 meter di sebelah timur Stasiun Gubug.

Sebelum kejadian, kakak beradik itu dikabarkan hendak menyusul bapaknya Daryanto (40), yang sedang berada di warung tetangganya. Warung tersebut berjarak sekitar 250 meter dari rumah korban dan dipisahkan tenggangan sawah. Kedua balita tersebut berjalan menyusuri bantaran pinggir rel untuk menyusul bapaknya. Bagi warga setempat, memang sudah biasa berjalan menyusuri pinggiran rel, termasuk anak-anak.

Saat separuh perjalanan menuju warung, dari arah barat (Semarang) sudah terlihat akan ada kereta yang melintas. Beberapa petani yang saat itu ada di sawah sempat mengingatkan kedua balita tersebut supaya menjauh karena ada kereta mau lewat.

Namun, peringatan itu kemungkinan tidak terdengar oleh kedua bocah tersebut. Hingga akhirnya, kedua bersaudara itu terserempet bodi rangkaian kereta barang sampai terpental di areal bebatuan di pinggir lintasan. Akibat terserempet bodi kereta, kedua korban mengalami luka parah dan meninggal dunia.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : NGERI, 2 Balita Tewas Tersambar Kereta Api di Gubug Grobogan

2 Balita Tewas Akibat Tersambar KA di Gubug Grobogan Dimakamkan Hari Ini

Dua balita yang jadi korban tersambar KA saat akan dimakamkan di taman pemakaman umum di Gubug, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Tidak lama setelah diserahkan pada pihak keluarga, prosesi pemakaman dua balita yang tewas tersambar kereta api (KA) barang langsung dipersiapkan. Dua liang lahat dengan posisi berdampingan disiapkan untuk pemakaman jenazah Apitara Asriyana (4), dan Shaherra Seikha Asriyana (2), warga Kampung Gubug Timur, Desa Gubug, Kecamatan Gubug, Grobogan.

Kepala Desa Gubug As’adul Munir menyatakan, proses pemakaman dilakukan menjelang waktu zuhur. Sekitar pukul 11.30 WIB, kedua jenazah diberangkatkan menuju pemakaman desa setempat. Ratusan warga mengiringi pemakaman dua balita bersaudara tersebut. “Pemakaman selesai dikerjakan berbarengan dengan kumandang azan zuhur,” katanya.

Seperti diberitakan, kedua balita perempuan yang tinggal di wilayah RT 05, RW 12 tersebut tewas akibat tersambar kereta barang sekitar pukul 08.00 WIB. Peristiwa kecelakaan maut terjadi sekitar 700 meter di sebelah timur Stasiun Gubug.

Sebelum kejadian, kakak beradik itu dikabarkan hendak menyusul bapaknya Daryanto (40), yang sedang berada di warung tetangganya. Warung tersebut berjarak sekitar 250 meter dari rumah korban dan dipisahkan tenggangan sawah. Kedua balita tersebut berjalan menyusuri bantaran pinggir rel untuk menyusul bapaknya. Bagi warga setempat, memang sudah biasa berjalan menyusuri pinggiran rel, termasuk anak-anak.

Saat separuh perjalanan menuju warung, dari arah barat (Semarang) sudah terlihat akan ada kereta api yang melintas. Beberapa petani yang saat itu ada di sawah sempat mengingatkan kedua balita tersebut supaya menjauh karena ada KA mau lewat.

Namun, peringatan itu kemungkinan tidak terdengar oleh kedua bocah tersebut. Hingga akhirnya, kedua bersaudara itu terserempet bodi rangkaian kereta barang sampai terpental di areal bebatuan di pinggir lintasan. Akibat terserempet bodi kereta, kedua korban mengalami luka parah dan meninggal dunia.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : NGERI, 2 Balita Tewas Tersambar Kereta Api di Gubug Grobogan  

Kronologi Tewasnya 2 Balita di Gubug Grobogan Akibat Tersambar Kereta Api

Polisi tampak berada di lokasi balita yang jadi korban tersambar KA. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Ada cerita memilukan sebelum dua balita, Apitara Asriyana (4), dan Shaherra Seikha Asriyana (2), tewas tersambar kereta api, Selasa (4/4/2017) sekitar pukul 08.00 WIB. Kakak beradik yang tinggal di Kampung Gubug Timur, Desa Gubug, Kecamatan Gubug, Grobogan itu dikabarkan hendak menyusul bapaknya Daryanto (40), yang sedang berada di warung tetangganya.

Warung tersebut berjarak sekitar 250 meter dari rumah korban dan dipisahkan tenggangan sawah. Kedua balita tersebut berjalan menyusuri pinggi rel untuk menyusul bapaknya. Bagi warga setempat, memang sudah biasa berjalan menyusuri pinggiran rel, termasuk anak-anak.

Saat separuh perjalanan menuju warung, dari arah barat (Semarang) sudah terlihat akan ada kereta api yang melintas. Beberapa petani yang saat itu ada di sawah sempat mengingatkan kedua balita tersebut supaya menjauh karena ada kereta mau lewat.

Namun, peringatan itu kemungkinan tidak terdengar oleh kedua bocah tersebut. Hingga akhirnya, kedua bersaudara itu terserempet bodi rangkaian kereta barang hingga terpental di areal bebatuan di pinggir lintasan. Akibat terserempet bodi kereta, kedua korban mengalami luka parah dan meninggal dunia.

Kapolsek Gubug AKP Dedy Setya menyatakan, saat kejadian, ayah kedua korban memang sedang belanja di warung tetangga. Kedua korban, bermaksud menyusul ayahnya di warung tersebut dengan berjalan melewati pinggir bantaran jalur rel ganda yang ada di depan rumahnya.

“Saat kejadian, bapaknya yang bernama Daryanto sedang belanja beli kopi di warung tetangga. Dia tidak tahu kalau kedua anaknya mau menyusul ke warung,” jelasnya.

 

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : NGERI, 2 Balita Tewas Tersambar Kereta Api di Gubug Grobogan

 

NGERI, 2 Balita Tewas Tersambar Kereta Api di Gubug Grobogan

Polisi tampak berada di rumah balita yang jadi korban tersambar KA. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa memilukan terjadi di Kampung Gubug Timur, Desa Gubug, Kecamatan Gubug, Grobogan, Selasa (4/4/2017). Dua warga setempat yang masih berusia balita tewas akibat tersambar kereta api.

Dua korban tewas adalah kakak beradik. Masing-masing, Apitara Asriyana (4), dan Shaherra Seikha Asriyana (2) yang tinggal di wilayah RT 05, RW 12.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa kecelakaan memilukan terjadi sekitar pukul 08.00 WIB. Keduanya, tersambar kereta api rangkaian barang yang melaju dari arah barat (Semarang) menuju Surabaya.

Kapolsek Gubug AKP Dedy Setya ketika dikonfirmasi membenarkan adanya peristiwa kecelakaan tersebut. Menurutnya, korban saat itu berjalan di pinggir namun posisinya masih cukup dekat dengan lintasan rel kereta.

Saat ada kereta lewat, keduanya terkena bodi rangkaian barang hingga terpental di areal bebatuan di pinggir lintasan. Akibat terserempet bodi kereta, kedua korban mengalami luka parah dan meninggal dunia.

“Jadi, korban waktu itu tidak berjalan di tengah rel. Tetapi ada di pinggir rel tetapi masih tersambar bodi kereta yang melintas. Korban meninggal sudah kita serahkan pada pihak keluarga,” jelasnya.  

Editor : Akrom Hazami