Mantan Kepala Bakorwil Pati Mengaku Tak Bisa Berbuat Apa-apa Terkait Tenaga Kontrak yang Kehilangan Pekerjaan

Anang, salah satu tenaga kontrak di Bakorwil 1 Pati makan nasi usai bertugas memadamkan kebakaran beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Badan Koordinator Wilayah (Bakorwil) 1 Pati dibubarkan, beberapa waktu lalu. Akibatnya, sejumlah tenaga kontrak yang sudah bertahun-tahun bekerja di sana kehilangan pekerjaan. Hal itu diakui Anang Afidya Firdaus, salah satu pengemudi mobil pemadam kebakaran Bakorwil 1 Pati.

“Kami sudah delapan tahun mengabdi, bekerja sebagai pengemudi sekaligus penyemprot air saat ada kebakaran. Kami bekerja tanpa mengenal libur. Meski Hari Raya, kami tetap bekerja dalam shift dan berangkat bila ada kejadian. Sejak Bakorwil dibubarkan, saya dan dua orang rekan kami kehilangan pekerjaan. Kami berharap Pak Gubernur Ganjar bisa memahami kondisi kami dan keluarga kami,” ungkap Anang, Senin (20/2/2017).

Menanggapi keluhan tersebut, Mantan Kepala Bakorwil 1 Pati Suko Mardiono mengaku tidak bisa berbuat apa-apa. Pasalnya, pembubaran Bakorwil sudah menjadi kebijakan pemerintah terkait dengan keterbatasan anggaran.

Dia menilai, kondisi tenaga kontrak sebetulnya tidak menjadi persoalan karena dari awal sudah diberi penjelasan terkait pekerjaan kontrak yang diberikan. Bila kontrak itu habis, maka secara otomatis pekerjanya berhenti dari kerja.

Namun, dia memaklumi kondisi tenaga kontrak yang membutuhkan pekerjaan untuk dirinya, anak, istri dan keluarganya. Lagi-lagi, Suko hanya dapat memaklumi dan tidak bisa berbuat sesuatu karena sudah menjadi kebijakan pemerintah.

Baca juga :Bakorwil Pati Dibubarkan, Pegawai Kontrak Kehilangan Pekerjaan
“Kalau kita bicara normatif, mereka itu kan tenaga kontrak. Ketika kontrak tidak diperpanjang kan sudah berhenti. Tapi, kami sangat paham, mereka berharap penataan organisasi bisa aktif lagi agar bisa berkerja demi nasib keluarganya. Tapi pemerintah provinsi punya keterbatasan, kebijakan kaitannya dengan anggaran dan macam-macam,” kata Suko yang saat ini bekerja di Pemrov Jawa Tengah.

Karena itu, pihaknya meminta kepada tenaga kontrak untuk memahami kondisinya juga. Terlebih, memang ada pelimpahan kewenangan dari kabupaten/kota ke provinsi, baik pendidikan maupun urusan lainnya. Dia menilai, tuntutan para tenaga kontrak dianggap wajar karena ingin memperjuangkan nasib keluarganya.

Sebelumnya, dia mengaku sudah mengumpulkan para tenaga kontrak bahwa Bakorwil akan segera dibubarkan. Pemberitahuan itu diharapkan agar para tenaga kerja kontrak bisa mempersiapkan menjelang pembubaran Bakorwil.

Editor : Kholistiono

Bakorwil Pati Dibubarkan, Pegawai Kontrak Kehilangan Pekerjaan

Anang, salah satu tenaga kontrak Bakorwil 1 Pati yang kehilangan pekerjaan, usai Bakorwil dibubarkan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Tiga pegawai kontrak yang biasa bekerja di Bakorwil Pati sempat bingung karena kehilangan pekerjaan, setelah Bakorwil dibubarkan per awal Januari 2017 lalu. Mereka adalah Anang Afidya Firdaus, Suyanto dan Sumantri.

Anang sudah delapan tahun bekerja tenaga kontrak sebagai pengemudi truk tangki bantuan air bersih Bakorwil Pati,Suyanto sebagai pengemudi dan kru pemadam kebakaran, sedangkan Sumantri bekerja sebagai kru pemadam kebakaran.

“Kami sudah delapan tahun bekerja sebagai tenaga kontrak. Memang secara aturan, kami tidak berhak menuntut karena kontak hanya per tahun. Namun, setidaknya ada kejelasan dari atasan. Kami delapan tahun bekerja tanpa libur, meski Hari Raya tetap kerja dalam waktu delapan jam per hari, tapi tetap standby selama 24 jam, tetap berangkat bila ada kejadian,” ungkap Anang, Senin (20/2/2017).

Meski dikontrak sebagai tenaga pengemudi, Anang juga sering bertugas menyemprot air bila ada kebakaran. Hal itu disebabkan tidak ada kru lain, selain mereka bertiga. Pada akhir Desember 2016 lalu, Kepala Bakorwil 1 Pati Suko Mardiono memberi tahu bila Bakorwil dibubarkan.

Kendati begitu, ketiga tenaga kontrak tersebut tetap diminta untuk tetap masuk dan bekerja. Namun, sampai saat ini tidak ada kejelasan perihal status dan gaji. “Kami tidak meminta keadilan, kami cuma ingin memperjuangkan nasib perut anak dan istri. Kami sudah berusaha meminta penjelasan, tetapi dari atasan yang saat ini menempati balai-balai eks-bakorwil semuanya tidak tahu,” ucap Anang.

Karena itu, dia meminta kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk memikirkan nasibnya dan memberikan solusi yang terbaik. Dia sadar, tenaga kontrak tidak berhak menuntut. Namun, dia bersama dua rekannya, ada anak dan istri yang menanti rezeki dari keringatnya.

Editor : Kholistiono