Tower Seluler di Belakang SMPN 3 Purwodadi Grobogan Dibongkar

Sejumlah pekerja sedang bersiap melakukan pembongkaran tower seluler di belakang SMPN 2 Purwodadi, Sabtu (23/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganTim penegakan perda Kabupaten Grobogan akhirnya merealisasikan rencana pembongkaran sebuah tower seluler di belakang SMPN 2 Purwodadi, Sabtu (23/12/2017). Dalam pembongkaran ini, tim penegakan perda menggandeng kerjasama dengan teknisi khusus tower dari Semarang.

“Pembongkaran tower tidak bisa kita lakukan sendiri karena harus dilakukan teknisi khusus. Kita melibatkan pihak ketiga dari Semarang untuk membongkar tower ini,” ungkap Kabid Penegakan Perda Satpol PP Grobogan Any Erawati saat ditemui di lokasi bangunan tower yang kebetulan berada persis didepan rumahnya.

Biaya pembongkaran tower milik PT Inti Bangun Sejahtera Semarang itu sudah dialokasikan dari dana APBD sekitar Rp 30 juta. Pembongkaran tower setinggi 55 meter diperkirakan membutuhkan waktu sekitar lima hari.

Sebelumnya, keputusan pembongkaran diambil dalam rapat membahas keberadaan tower tersebut, Selasa (19/12/2017). Asisten II Pemkab Grobogan Ahmadi Widodo yang memimpin rapat memutuskan agar tower secepatnya dibongkar.

“Tower yang ada di belakang SMPN 3 Purwodadi harus dibongkar. Bupati juga sudah menerbitkan surat penetapan pembongkaran tower di situ,” tegasnya.

Menurut Ahmadi, surat penetapan pembongkaran sudah dikeluarkan bulan April lalu. Dalam surat tersebut, pemilik bangunan diminta membongkar tower tersebut dalam batas waktu 30 hari setelah surat dikeluarkan. Jika tidak dilakukan maka pemerintah daerah yang akan melakukan pembongkaran.

Ahmadi menyatakan, dinas sebelumnya sudah melakukan serangkaian kajian terhadap keberadaan tower itu. Dari hasil kajian, bangunan tower dinilai sudah tidak memenuhi ketentuan yang belaku.

Kemudian, dari hasil kajian juga ditemukan adanya tingkat kemiringan tower melebihi batas toleransi. Kondisi ini dinilai cukup membahayakan karena selama ini tower sudah lama tidak tersentuh perawatan.

Editor: Supriyadi

Membahayakan, Jembatan Pemacu Adrenalin di Rejosari Grobogan Tak Boleh Dilalui Kendaraan

Dua pengendara motor dengan hati-hati melintasi jembatan di Desa Rejosari, Kecamatan Kradenan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sorotan terhadap kondisi jembatan di Desa Rejosari, Kecamatan Kradenan, Grobogan akhirnya ditindaklanjuti pihak desa. Rencananya, jembatan yang menghubungkan Desa Kradenan dan Desa Rejosari itu tak boleh dilalui sepeda motor lantaran kondisi jembatan yang semakin membahayakan.

Kepala Desa Rejosari Lapar menyatakan, penutupan jembatan untuk pengendara motor dijadwalkan mulai bulan depan jembatan. Menurutnya, konstruksi jembatan yang baru terbentang lempengan besi itu hanya diperuntukkan bagi sepeda dan pejalan kaki.

Namun, seringkali pengendara motor tetap nekat untuk melintas dengan alasan memperpendek jarak tempuh.

“Nanti akan kita pasang larangan bagi pemotor untuk lewat. Saya akan kerjasama dengan Karang Taruna untuk mencegat pengendara supaya jangan lewat jembatan,” katanya.

Lapar menyatakan, pihaknya memang belum mengalokasikan dana khusus untuk pembangunan jembatan. Sebab, dana yang tersedia juga digunakan untuk perbaikan jalan desa.

Hanya, ia berjanji, tahun ini akan dianggarkan dana untuk pengecoran dan penambahan lempengan besi senilai Rp 200 juta dari alokasi dana desa (ADD).

Jembatan  panjangnya sekitar 60 meter. Sebelumnya, jembatan diatas sungai Ngrowo ini terbuat dari kayu dan sempat beberapa kali hanyut saat banjir.

Sejak beberapa tahun lalu, pihak desa berupaya membuat jembatan permanen dengan konstruksi beton untuk tiang penyangga. Namun, proses perbaikan jembatan akhirnya belum terselesaikan sampai saat ini.

“Pembangunan jembatan itu kita lakukan bertahap karena keterbatasan dana. Saat ini, sudah terbangun tiga pilar penyangga. Setelah itu, akan dipikirkan untuk membuat landasannya,” jelas Lapar pada wartawan.

Meski pembangunan belum rampung, namun jembatan itu tetap digunakan warga untuk beraktivitas sehari-hari. Beberapa pilar besi baja panjang untuk sementara difungsikan sebagai landasan.

Namun, tidak semua orang berani melintasi landasan darurat tersebut. Terutama, para pengendara sepeda atau motor. Beberapa orang yang mencoba menyeberangi jembatan dikabarkan sempat kecebur sungai.

“Pilar besinya memang kuat tetapi untuk menyeberangi jembatan butuh nyali besar. Selain itu, saat melintas butuh ketenangan dan keseimbangan karena kanan kirinya tidak ada pagar pengamannya. Saya kalau melintasi jembatan pasti sambil deg-degan,” kata Suranti, warga Kradenan yang sudah beberapa kali melintasi jembatan tersebut.

Editor: Supriyadi