Dih.. Ribuan Warga Blora Masih Buang Air Besar Sembarangan

MuriaNewsCom, BloraPerilaku buang air besar sembarangan (BABS) saat ini masih dilakukan banyak warga di wilayah Blora. Tidak memiliki jamban menjadi penyebab utama terjadinya perilaku ini. Ironisnya, ada ribuan warga yang masih buang air besar sembarangan.

”Hingga saat ini, masih ada 6 persen KK yang belum memiliki jamban. Jumlahnya sekitar 17.542 KK yang tersebar di 15 Kecamatan,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Blora Henny Indriyanti, dalam acara Workshop Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) sebagai upaya percepatan Program Bebas Buang Air Besar Sembarangan atau Open Defecation Free (ODF), Kamis (29/3/2018).

Menurutnya, saat ini baru ada satu Kecamatan yang sudah 100 persen mendeklarasikan sebagai wilayah Bebas Buang Air Besar Sembarangan atau Open Defecation Free (ODF). Yakni, Kecamatan Cepu.

Untuk Kota Blora cakupannya baru 99,8 persen. Sedangkan data terendah ada di Kecamatan Randublatung dengan cakupan 82,8 persen.

Terkait kondisi itu, Ia berharap seluruh Camat, Puskesmas dan Kepala Desa bisa aktif melaksanakan program percepatan ODF di Kabupaten Blora. Soalnya, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah juga menargetkan agar Kabupaten Blora bisa meraih predikat ODF pada tahun 2018 ini.

Dijelaskan, ODF merupakan salah satu program yang dicanangkan pemerintah. Salah satu tujuannya untuk membiasakan masyarakat berprilaku hidup bersih dan upaya pencegahan penyakit, khususnya diare.

Untuk memerangi perilaku BABS itu dilakukan lewat program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) yang bertujuan menggugah kesadaran masyarakat supaya hidup sehat. Salah satunya adalah dengan tidak buang air besar sembarangan.

Sementara itu, Bupati Blora Djoko Nugroho menyatakan, pihaknya sangat mendukung upaya Dinas Kesehatan untuk memerangi perilaku buang air besar sembarangan yang sekarang ini masih banyak dilakukan masyarakat. Soalnya, perilaku itu bisa menimbulkan berbagai dampak bagi masyarakat sekitar.

“Oleh sebab itu, saya sangat mendukung upaya menyadarkan masyakarat agar tidak lagi membiasakan buang air besar di sembarang tempat. Saya berharap agar tahun 2018 ini Kabupaten Blora bisa meraih predikat ODF karena itu merupakan salah satu indikator penting pola hidup masyarakat yang sehat,” cetusnya saat membuka workshop.

Supaya target itu bisa tercapai, Djoko meminta agar semua pihak terkait bisa bergerak bersama. Ia memerintahkan para camat agar meminta kepala desa untuk menganggarkan dana desanya buat program jambanisasi.

“Pemerintah sudah memberikan dana besar ke desa dan salah satunya untuk mendukung program ini. Kita royok bersama agar bisa segera tuntas,” tegasnya.

Dalam acara itu, Djoko sempat pula menyerahkan bantuan delapan unit ambulans untuk disalurkan ke puskesmas. Masing-masing, Puskesmas Cepu, Ngroto, Bogorejo, Doplang, Menden, Puledagel, Randublatung dan Kedungtuban.

Editor: Supriyadi

Hendak Buang Air Besar, Nenek 65 Tahun di Jepara Tewas Tercebur Jamban

MuriaNewsCom, Jepara – Sami binti Saini nenek 65 tahun tewas setelah tercebur kedalam jamban, ketika buang air besar, Jumat (19/1/2018). Sontak kejadian itu membuat warga di Desa Kepuk RT 2 RW 7, Kecamatan Bangsri‎ gempar.

Menurut seorang saksi Karyo bin Biyono (40) pertamakali ia mendapati jumbleng (lubang pembuangan kotoran yang menyatu dengan septictank) ambrol. Setelah ditelisik, ternyata ada orang yang berada di dalamnya.

“Selepas itu saya memberitahukannya kepada warga lain, yang kemudian berusaha memberi pertolongan dan melaporkan kepada pihak berwenang,” tuturnya.

Diduga, kematian korban karena tertimpa cor-coran jamban tersebut. Hal itu menyebabkan Sami meninggal ditempat kejadian.

Proses evakuasi dilakukan dengan mengerahkan relawan dari Basarnas Jepara, Jepara Rescue, bersama warga dan kepolisian. Setelahnya, jenazah sempat diperiksa oleh dokter puskesmas Bangsri 2.

Dari pemeriksaan petugas kesehatan, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan lain kecuali karena terjatuh dan tertimpa material cor-coran jamban. Setelah dievakuasi, jenazah lantas diserahkan kepada pihak keluarga untuk kemudian dikebumikan.

Editor: Supriyadi

Bupati Berharap Tak Ada Lagi Warga Jepara yang BAB Sembarangan

Seorang warga membuat jamban untuk mengurangi BAB sembarangan. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Jepara – Bupati Jepara Ahmad Marzuqi prihatin akan kebiasaan warga yang buang air besar sembarangan. Untuk mengatasinya, ia berharap pihak swasta juga ikut menyalurkan dana melalui Corporate Social Responsibility (CSR) untuk membuatkan jamban.

“Saya berharap, kedepan tak ada lagi masyarakat Jepara yang BABS (buang air besar sembarangan), baik di selokan, sungai maupun sawah,” katanya, pertengahan minggu ini, saat berbicara diantara kader PKK. 

Menurutnya, kebiasaan buruk ini rentan menimbulkan penyakit menular. Oleh karenanya ia berharap agar semua warganya memiliki jamban yang sehat. 

Ia menggarisbawahi, pihaknya (pemkab) siap jika diminta bantuan untuk membuat program jambanisasi. Selain itu, ia juga meminta perusahaan agar menggelontorkan dana CSR. 

“Kita berharap, melalui tanggungjawab sosial perusahaan, dapat diarahkan untuk membantu kegiatan jambanisasi masyarakat,” ungkap Marzuqi.

Bupati berharap Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dapat menjadi ujung tombak kegiatan sosial di masyarakat. Selain tugas pokoknya sebagai mitra dari gerakan Keluarga Berencana (KB), lembaga ini juga diharap berperan dalam sosialisasi anti BABS. 

Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Chuzaemah Marzuqi menyebut adalah organisasi yang memiliki misi untuk mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan berkualitas. “Saya mengajak kepada orang tua untuk terus berupaya menjalin komunikasi dan hubungan yang harmonis dengan anak-anak,” katanya, dalam bakti sosial kesatuan gerak PKK dan KKBPK (Kependudukan Keluarga Berencana, Pembangunan Keluarga).

Editor: Supriyadi

Ini yang Dilakukan Agar Kecamatan Sale Bebas dari Perilaku BAB Sembarangan

Jajaran Pemerintah Kecamatan Sale, polsek dan koramil, serta warga melakukan kerja bakti di Desa Wonokerto, pada Jumat lalu. (Humas Pemkab Rembang)

MuriaNewsCom,Rembang – Jajaran Pemerintah Kecamatan Sale, Kabupaten Rembang,  terus mengejar deklarasi sebagai kecamatan yang bebas dari perilaku buang air besar sembarangan (BABS) atau Open Defacation Free (ODF) tahun 2017. 

Terkait hal itu, berbagai  upaya dilakukan agar target tersebut tercapai pada 2017 ini. Salah satu yang dilakukan adalah dengan kerja bakti secara rutin setiap hari Jumat. Kerja bakti ini diikuti beberapa instansi, di antaranya pemerintah kecamatan, polsek dan koramil setempat.

Camat Sale Kunardi mengatakan, kerja bakti secara rutin tersebut dilakukan di beberapa desa secara bergantian. “Untuk hari Jumat (17/2/2017) kemarin, kami melakukan kegiatan bersih-bersih di Desa Wonokerto. Desa ini merupakan salah satu desa  yang belum BABS. Harapannya, kegiatan ini juga bisa memacu masyarakat untuk menggiatkan perilaku sehat dan bersih,” katanya.

Ia mengatakan, untuk di Kecamatan Sale, tinggal enam desa yang belum bebas dari perilaku BABS. Tahun ini, pihaknya menargetkan, semua desa tersebut sudah bebas BABS. Enam desa yang belum BABS tersebut adalah, Desa Tahunan, Jinanten, Mrayun, Bancang, Sale dan Wonokerto.

Editor : Kholistiono

Sering BAB Sembarangan, Warga Cranggang Kudus Diberi Jamban Gratis

jamban

Kapolsek Dawe AKP Sunar menyerahkan secara simbolik bantuan jamban kepada perwakilan warga di Desa Cranggang, Dawe, Kudus. (Tribratanewskudus).

MuriaNewsCom, Kudus – Karena sering buang air besar (BAB) sembarangan, sekitar 52 kepala keluarga (KK) di Desa Cranggang, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, mendapatkan bantuan jamban. Kegiatan bantuan dilakukan di balai desa setempat, Selasa (1/11/2016).

Kapolsek Dawe AKP Sunar mengatakan, warga Desa Cranggang setelah menerima progam jambanisasi, hendakanya bisa dimanfaatkan dengan baik.

“Sehingga tidak lagi membuang air besar sembarangan dan selalu menjaga kebersihan dan kesehatan di sekitaran sungai,” kata Sunar dikutip Tribratanewskudus.

Hadir dalam acara tersebut, Danramil Dawe Kapten Inf H Mansur, Camat Dawe Budi Santosa, Kepala UPT Puskesmas Rejosari Dr Andini Ari Dewi, Kades Cranggang Sri Sholekah, Kasi PL Rosiatim bidan desa Nur Laila, babinsa dan babinkamtibmas, dan  perangkat desa setempat.

Editor : Akrom Hazami