Dinkes Klaim Angka Kematian Ibu di Jepara Menurun

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi saat melihat aktivitas ibu hamil di rumah sakit. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Dinas Kesehatan Jepara mengklaim angka kematian ibu (AKI) akibat proses melahirkan turun. Meskipun demikian, hingga awal bulan Oktober tahun 2017 tercatat sudah ada sembilan kasus kematian ibu dengan risiko tinggi. 

“Pada tahun 2016 tercatat kematian ibu tercatat ada 14 kasus. Hal itu menempatkan Jepara berada di posisi ketiga dalam daftar jumlah AKI terendah di Provinsi Jawa Tengah,” ujar Kepala Dinkes Jepara Dwi Susilowati, Jumat (6/10/2017). 

Meskipun mengalami penurunan, dengan sembilan kasus sampai bulan Oktober 2017, akan tetapi jumlah itu bisa jadi meningkat. Namun demikian, Dinkes Jepara mengaku akan berusaha keras dalam menekan jumlah AKI hingga tiga bulan kedepan. 

Satu di antara banyak upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan untuk menekan AKI adalah dengan membangun Rumah Tunggu Kelahiran (RTK), di Kelurahan Bulu. Tempat tersebut merupakan sarana rujukan awal bagi mereka yang hendak melahirkan, namun jauh dari jangkauan fasilitas kesehatan seperti rumah sakit.  

“Diharapkan jumlah kematian ibu semakin berkurang dan tidak terjadi lagi dalam kurun waktu tiga bulan mendatang, dan diwaktu yang akan datang,” katanya. 

Sementara itu Bupati Jepara Ahmad Marzuqi berharap fasilitas tersebut dapat berfungsi maksimal sesuai fungsinya. Ia menyebut, masih banyak wilayah di Bumi Kartini yang mengalami kesulitan mengakses fasilitas kesehatan di pusat kabupaten. 

“Dengan adanya fasilitas RTK ini, maka akan sangat membantu masyarakat Jepara yang jauh dari jangkauan fasilitas kesehatan,” tuturnya. 

Adapun, fasilitas tersebut mulai dibangun pada 2016 dengan bantuan provinsi (Banprov). Selesai dibangun pada bulan Juni 2017, RTK terdiri dari empat kamar tidur dengan ruang dapur dan petugas.

Editor: Supriyadi

Angka Kematian Ibu di Pati Harus Diwaspadai

Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Jawa Tengah Djoko Mardijanto. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Jawa Tengah Djoko Mardijanto. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Pemkab Pati didesak untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) yang cukup tinggi. Di Jawa Tengah, dua orang ibu meninggal dunia setiap harinya. Selama ini, Kabupaten Pati juga ikut menyumbang tingginya AKI di tingkat Jawa Tengah. Bila di Pati bisa diantisipasi bersamaan dengan daerah lainnya, maka AKI di Jawa Tengah bisa ditekan.

“Tahun kemarin, Pati masuk empat besar sebagai daerah dengan AKI yang tinggi di Jawa Tengah. Tahun ini, Pemkab Pati harus bisa menekan AKI agar ibu dan generasi anak bisa diselamatkan,” ujar Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Jawa Tengah Djoko Mardijanto kepada MuriaNewsCom, Rabu (1/6/2016).

Dalam banyak kasus, kata dia, pendarahan menjadi kasus menonjol yang menyebabkan kematian ibu. Kasus lainnya, sebagian besar disebabkan hipertensi, gangguan sistem peredaran darah, infeksi, dan lain sebagainya.

“Dari berbagai kasus tersebut, ibu yang meninggal saat nifas sebanyak 58 persen, hamil 25 persen, dan bersalin 17 persen,” imbuh Djoko.

Sementara itu, tempat kejadian meninggal ibu sebagian besar di rumah sakit sebanyak 82 persen, di rumah 10 persen, di jalan 7 persen, dan puskesmas 1 persen. “Untuk menekan AKI yang disebabkan banyak hal, Pemkab Pati harus memperhatikan penyebab kematian, saat apa, dan di mana sehingga ke depan bisa diantisipasi,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Mau Turunkan Angka Kematian Ibu, Ini Kiatnya

ibu melahirkan (e)

Dosen UIN Walisongo Semarang Jauharotul Farida saat menjadi narasumber dalam rakor Gerakan Sayang Ibu dan Bayi (GSIB), di ruang rapat lantai I, Setda Grobogan, Rabu (13/4/2016). (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski tidak gampang, namun untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan bayi lahir (AKI/AKB) bukan hal yang mustahil diwujudkan.

Hal itu disampaikan Dosen UIN Walisongo Semarang Jauharotul Farida, saat menjadi narasumber dalam rakor Gerakan Sayang Ibu dan Bayi (GSIB) di ruang rapat lantai I,Setda Grobogan, Rabu (13/4/2016).

”Upaya menurunkan AKI/AKB ini harus dilakukan bersama banyak pihak. Termasuk dari pihak suami dan keluarga,” tegasnya.

Selain itu, upaya edukasi juga perlu dilakukan lebih banyak lagi. Di mana persepsi melahirkan itu merupakan sebuah proses alamiah harus dirubah.

”Melahirkan itu bukan sekedar proses alamiah semata. Tetapi, disertai dengan resiko yang besar. Di mana nyawa jadi taruhannya dalam proses melahirkan ini,” katanya.

Dengan merubah persepsi ini diharapkan akan muncul kehati-hatian dari seorang ibu ketika mereka mulai mengandung. Di mana sejak dini mereka akan berupaya untuk menjaga sebaik mungkin kondisi kesehatan dan kandungnya. Dengan tujuan ketika melahirkan bisa berjalan lancar.

”Edukasi soal kehamilan dan melahirkan ini hendaknya diberikan sebelum pra nikah. Masalah ini bukan menjadi hal yang tabu untuk diberikan pada generasi muda,” jelasnya.

Sementara Kepala BP3AKB Grobogan Lely Atasti menambahkan, GSIB merupakan sebuah gerakan bersama yang dilakukan masyarakat dan pemerintah dalam menurunkan AKI/AKB.

Dalam rakor ini, pihaknya mengundang berbagai komponen masyarakat. Seperti, camat, organisasi wanita, ormas, bidan, dan PKK.

Editor: Merie