Sambut Hari Anti Korupsi, KMKB Gelar Aksi di Alun-alun Kudus

Ketua KMKB Sururi Mujib saat berorasi di alun-alun Kudus, Jumat (8/12/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Menyambut Hari Anti Korupsi Sedunia yang jatuh pada 9 Desember besok, puluhan aktivis dari Konsorsium Masyarakat Untuk Kudus Bersih (KMKB) menggelar aksi penolakan korupsi di Kudus. Bagi KMKB, di Kudus terlalu banyak dugaan korupsi yang belum terpecahkan.
 
Ketua KMKB Kudus Sururi Mujib mengatakan, korupsi adalah kejahatan dan penyakit kronis untuk menggerogoti uang rakyat. Jika terus dilakukan tanpa ditangani, maka korupsi akan merusak kehidupan berbangsa dan bernegara.
 
” Untuk itu, guna mencegah korupsi butuh perhatian serius dari semuanya. Semua harus mengawasi dengan seksama,” katanya saat aksi di Simpang Tujuh Kudus, Jumat (8/12/2017).
 
Menurut dia, aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk komitmen dan konsistensi dalam hal merumuskan clean governance dan good government yang ikut mendorong akselerasi sistem dan tata keloloa pemerintahan yang bersih dari KKN dan bebas korupsi.
 
“Hal itu sesuai amanat dalam undang-undang nomor 28 tahun 1999 tentang penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN,” imbuhnya.
 
Pihaknya mempertanyakan tentang pelaksanaan pemberian di daerah yang sudah sesuai undang-undang ataukah belum. Bagi dia belum lantaran masih banyak dugaan adabya kecurangan seperti pungli di beberapa pelayanan publik.
 
“Kami duga masih ada jual beli proyek di pemerintahan ini, dan malahan dugaan terjadinya bancakan uang rakyat setiap ada pembahasan soal APBD murni maupun perubahan,” ucapnya. 
 
Editor: Supriyadi

Koalisi Rakyat, Ormas, dan LSM Kudus Tolak Pembangunan SPBU

Puluhan massa membawa sepanduk berisi tuntutan terhadap pendirian SPBU di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Puluhan warga yang mengatasnamakan koalisi rakyat, ormas, dan LSM Kudus menolak pembangunan SPBU baru di Simpang Tujuh Kudus, Senin (16/10/2017).

Penolakan tersebut lantaran SPBU di Kudus dinilai sudah terlalu banyak dan akan menambak kesemprawutan lalulintas jika terus bertambah.

Koordinator aksi, Sunardi, mengatakan penolakan pembangunan baru SPBU di Kudus terdapat di dua titik. Pertama yaitu di jalan Jenderal Soedirman kawasan depan Polres Kudus, sedang kedua berada di jalan KHR Asnawi atau sebelah barat pabrik HIT Pilitron.

“Kudus kota yang kecil, jadi tak butuh penambahan baru SPBU. Apalagi, selama ini tidak ada kesulitan SPBU yang sampai kehabisan. Jadi sudah cukup,” katanya saat aksi

Menurut dia, jumlah SPBU di Kudus kini sudah mencapai 19  SPBU. Jumlah tersebut sudah tersebar di sembilan kecamatan di Kudus. Sehingga tidak membutuhkan tambahan SPBU lagi.

Selain jumlah SPBU yang sudah banyak, kata dia, lokasi yang dipilih juga berada di kawasan perkotaan. Jika dibangun SPBU, maka akan berdampak pada kemacetan yang timbul. Artinya, kemacetan di perkotaan akan makin tinggi.

“Untuk itu, kami dari masyarakat meminta agar tak usah adanya penambahan SPBU di Kudus.  Kami meminta pemerintah menolak pembangunan baru SPBU di Kudus,” ujarnya yang juga ketua LSM Perintis.

Editor: Supriyadi

PKL Bandel di Kudus Terancam Denda Setengah Juta

Sejumlah PKL Alun-alun Simpang Tujuh Kudus saat menjajahkan barang dagangannya belum lama ini. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus kembali melakukan penataan terdapat PKL di Kota Kretek. Kali ini, penataan ditekankan untuk memberi efek jera. Salah satunya dengan menerapkan denda sebesar Rp 500 ribu bagi Pedagang Kaki Lima (PKL) yang nekat berjualan di zona merah.

Kabid PKL pada Dinas Perdagangan kabupaten Kudus, Sofyan Dhuhri mengatakan, aturan tersebut merupakan amanat perda no 11 tahun 2017, tentang pemetaan dan pemberdayaan Pedagang kaki lima yang disahkan belum lama ini.

”Dalam perda tersebut, zona jualan PKL dibagi menjadi tiga kategori. Pertama adalah zona hijau yang mana diperbolehkan untuk para PKL selama 24 jam. Kedua adalah zona kuning, yang mana diperbolehkan berjualan dalam waktu yang ditentukan. Terakhir adalah zona merah, yang mana terlarang jualan,” katanya kepada MuriaNewsCom

Hanya saja, dalam perda tersebut belum tertera jelas mana saja jalan atau tempat yang masuk dalam masing-masing zona. Karena itu, saat ini Bagian Hukum Setda Kudus masih menggodoknya dalam peraturan bupati (perbup) sebagai fungsi turunan.

Meski begitu, lanjut Sofyan, ia sudah mengusulkan beberapa tempat untuk masuk di zona merah atau larangan jualan. Satu di antaranya berada di Jalan Ramelan hingga simpang tujuh, yang merupakan larangan jualan. Kemudian kawasan simpang tujuh Kudus dan Kawasan RSUD zona kuning  dengan diperbolehkan berjualan mulai sore.

“Nantinya bakal ada petugas yang mengawasi serta melakukan pantauan. Sehingga peraturan dapat sepenuhnya berjalan tanpa adanya pilih kasih. Namun sebelum itu kami menunggu perbup dan juga ada sosialisasi terlebih dahulu,” ungkap dia.

Editor: Supriyadi

Ribuan Warga dan Peserta Kirab Dandangan Banjiri Alun-alun Kudus

Peserta kirab dandangan saat berjalan menuju Alun-alun Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Peserta kirab dandangan saat berjalan menuju Alun-alun Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Ribuan peserta mulai dari tingkat pelajar, seniman, budayawan, hingga wakil rintisan desa wisata yang ada di Kudus turun ke jalan mengikuti Kirab Dandangan di Alun alun Kudus, Minggu (5/6/2016).

Kirab yang dilakukan untuk menandai datangnya bulan Ramadan tersebut dilakukan dengan cara berjalan kaki dari Jalan dr. Ramelan hingga depan Pendapa Kabupaten Kudus.

Kepala dinas kebudayaan dan pariwisata Kudus Yuli Kasiyanto menyebutkan, peserta kirab memang sengaja diambil dari kalangan pelajar, seniman, budayawan, maupun pelaku budaya yang ada di desa rintisan wisata Kudus guna mengenalkan budaya yang ada di Kota Kretek.

”Dalam kegiatan ini memang bertujuan untuk mengembangkan potensi budaya dan seni yang ada di Kudus,” paparnya.

Karena itu, lanjutnya, masing-masing kelompok peserta kirab diberikan waktu sekitar 5 menit oleh panitia untuk menampilkan seni atau kreatifitas dihadapan Bupati Kudus Musthofa.

”Selain mengembangkan atau memperkenalkan kepada masyarakat luas, tradisi dandangan ini juga bisa sebagi pengangkat budaya, seni yang ada di Kudus. Supaya kesenian dan budaya itu bisa tereksplore kembali di dunia luar,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Kudus Musthofa menegaskan, tradisi dandangan ini jangan dijadikan seremonial belaka. Namun harus bisa paham akan makna dandangan itu sendiri.

”Bukan hanya sekadar menabuh bedug saja, tapi harus tau kalau dandangan itu adalah tradisi umat muslim sebagai penanda datangnya Ramadan. Dulu Sunan Kudus sendiri yang menabuh bedug untuk menyambut datangnya bulan suci Romadan,” paparnya.

Untuk itu, ia meminta pembukaan kirab dandangan yang diawali dengan menabuh bedug yang dilakukan oleh Bupati Kudus Musthofa tersebut tak dimaknai berbeda. Sehingga budaya tersebut bisa dilestarikan.

“Selain itu, jadikanlah bulan puasa ini sebagai ajang instropeksi diri. Khususnya masyarakat Kudus. Sehingga wilayah Kudus bisa dijadikan kota inspirasi untuk negeri Indonesia ini,” ujarnya.

Editor: Supriyadi

Anggota Kudus Catlover Ini berbagi Ilmu Perwatan Kucing Tanpa Bayaran

Anggota Kudus Catlovers Community berfoto bareng di acara car free day. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Anggota Kudus Catlovers Community berfoto bareng di acara car free day. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kegiatan yang dilakukan oleh Kudus Catlovers Community memang patut dituru. Pasalnya komunitas yang berdiri sejak tahun 2012 ini rutin menggelar bakti sosial berupa perawatan kucing secara cuma-cuma saat Car Free Day.

Anggota Kudus Catlovers Community Purgiyanto mengatakan, bakti sosial berupa perawatan kesehatan terhadap kucing. Baik itu penyakit jamur, pembersihan telinga, mata, ataupun cara merawat kucing yang sakit.

”Kami melakukan ini sebagai wujud solidaritas terhadap sesama pencinta kucing. Selain itu, kegiatan ini juga tidak dipungut biaya sepeserpun,” katanya, Minggu (5/6/2016).

Menurutnya, pembentukan komuniats ini juga bukan serta merta untuk saling adu gengsi antar kucing. Melainkan untuk berkumpul dan berbagi pengalaman perawatan kucing tanpa membeda-bedakan ras kucing manapun.

”Hari ini sudah ada tujuh kucing yang dibantu dalam perawatannya. Selain itu kami juga berbagi tips hingga pemberian obat-obatan. Baik itu obat mata, obat jamur kulit dan sebangainya,” ujarnya.

Dia berharap, apa yang dilakukan ini bisa menambah pengetahuan masyarakat terhadap kucing. Bahkan bisa melakukan perawatan rutin jika kucing yang dipelihara sakit.

”Dengan begitu, tak ada yang salah dalam melakukan perawatan jika kucing peliharaannya mengalami sesuatu. Ini karena jarang yang memiliki pemahaman terkait binatang. Selain itu, dokter hewan di Kudus juga masih bisa dihitung dengan jari,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Dibangun Lagi, Proyek Alun-alun Kudus Dinilai Pemborosan

 

kudus-alun-alun e

Kepala Dinas Ciptakaru Kudus Sumiyatun meninjau pembangunan trotoar di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, yang dibongkar dan akan diganti dengan keramik. (MuriaNewsCom/Merie)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pembangunan yang dilakukan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (Cipkataru) Kudus terhadap kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, dinilai sebagai bentuk pemborosan.

Setidaknya hal itulah yang dilihat oleh anggota DPRD Kudus M Nur Khabsyin, yang melihat bahwa perencanaan penataan alun-alun terkesan tidak tuntas.

”Coba lihat, baru kemarin dibangun, sekarang sudah dibangun lagi. Barangkali tahun depan juga dibangun lagi. Ini kok seperti proyek sporadis agar anggaran bisa dipakai. Pemborosan kalau saya lihat,” katanya, Rabu (25/5/2016).

Dinas Cipkataru memang kembali memoles alun-alun, untuk yang kesekian kalinya. Anggaran yang digunakan nilainya adalah Rp 1,23 miliar. Itu adalah anggaran untuk revitalisasi trotoar alun-alun. Dari yang semula bentuknya paving, akan diganti dengan keramik.

Khabsyin mengatakan, penggantian paving dengan material lain yang keramik, dinilai justru akan membuat tidak nyaman warga. Paving dinilai bisa menyerap air, sedangkan keramik tidak. Sehingga akan membuat warga tidak nyaman saat beraktivitas di sana.

”Lah, mbok anggarannya itu dipakai untuk pembangunan yang lain. Tidak melulu alun-alun. Karena masih banyak bidang lain yang membutuhkan. Pembangunan alun-alun saya nilai tidak penting-penting amat. Tidak mendesak,” katanya.

Kepala Dinas Cipkataru Sumiatu mengatakan, trotoar alun- alun yang diganti terbagi menjadi dua. Yakni bagian luar sepanjang 322 meter dan lebar 4,5 meter. Kemudian trotoar bagian dalam dengan panjang 300,5 meter dan lebar 3,5 meter.

”Dana bersumber dari APBD Murni 2016. Pengerjaan sudah dimulai sejak Senin (23/5/2016) lalu, dengan masa pengerjaan selama 90 hari,” katanya.

Sumiatun mengatakan, material pengganti paving dipilih dari bahan yang tak licin. Sehingga selain akan tampak indah, juga membuat nyaman orang yang melintasinya. ”Nanti kan, bisa tetap jogging dan jalan-jalan santai. Yang jelas, warga akan tetap semakin nyaman,” terangnya.

Editor: Merie

 

Pemkab Kudus Ajak Anak TK dan Pelajar Gemar Minum Susu

Bupati Kudus H Musthofa (tengah) saat meluncurkan program Tiada Hari Tanpa Membaca dan Gemar Minum Susu pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tingkat Kabupaten Kudus di Alun-alun Simpang Tujuh, Senin (2/5/2016). (ISTIMEWA)

Bupati Kudus H Musthofa (tengah) saat meluncurkan program Tiada Hari Tanpa Membaca dan Gemar Minum Susu pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tingkat Kabupaten Kudus di Alun-alun Simpang Tujuh, Senin (2/5/2016). (ISTIMEWA)

 

KUDUS – Ada dua program pendidikan yang dicanangkan Bupati Kudus H Musthofa pada peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini. Pertama, meluncurkan program Tiada Hari Tanpa Membaca. Program ini ditujukan kepada pelajar dan para pejabat di lingkungan Dinas Pendidikan. Sedangkan, program kedua yakni gerakan gemar minum susu bagi pelajar. Dua program tersebut secara resmi diluncurkan Bupati pada upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional di halaman Pendapa Kabupaten Kudus, Senin (2/5/2016).

Untuk kegiatan gemar minum susu, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) telah menyiapkan sekitar 12 ribu gelar susu segar. Kegiatan ini diikuti peserta didik mulai dari playgroup, hingga para pelajar SMK/sederajat.

”Kegiatan ini sebagai simbolisasi agar anak-anak kita semakin cerdas. Sebab, minum susu secara rutin mampu meningkatkan kecerdasan anak,” kata Joko Susilo, Kepala Dinas Dikpora Kudus.

Dia berharap, kegiatan minum susu bersama bisa menjadi rutinitas. Sebab, minum susu bagi kalangan anak-anak memiliki manfaat yang besar. Karena itulah, Joko meminta kepada pihak sekolah untuk menindaklanjuti kegiatan ini saat di sekolah. Misalnya, minum susu segar bersama-sama di pagi hari sebelum pelajaran dimulai.

Selain memberikan nutrisi gizi kepada para siswa, kegiatan seperti ini juga akan membuat anak-anak lebih bersemangat berangkat sekolah. Sehingga, proses pembelajaran juga dapat lebih maksimal.

Sejumlah peserta didik dari TK di Kudus tengah menikmati susu segar yang diberikan pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tingkat Kabupaten Kudus di Alun-alun Simpang Tujuh, Senin (2/5/2016)

Sejumlah peserta didik dari TK di Kudus tengah menikmati susu segar yang diberikan pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tingkat Kabupaten Kudus di Alun-alun Simpang Tujuh, Senin (2/5/2016)

”Anak-anak akan lebih semangat dan merasa senang karena di sekolah ada acara minum susu. Khususnya, bagi anak-anak yang masih duduk di tingkat playgrup, TK  dan juga sekolah dasar. Terlebih mereka sedang dalam tahap masa pertumbuhan,” terangnya.

Kegiatan tersebut sesuai dengan tema yang diambil pada peringatan Hardiknas tahun ini yakni Segar, Pintar, Nyalakan Pelita, Terangkan Cita-Cita, Kudus Semakin Sejahtera. Menurut Joko, pintar atau kepandaian harus ditunjang dengan kebiasaan membaca buku yang merupakan jendela dunia. Begitu juga dengan semboyan Segar, untuk menjadi pintar tentu salah satunya anak-anak kita harus selalu sehat dan segar.

”Nah, inilah yang kami implementasikan dengan mengadakan kegiatan minum susu segar. Jika anak-anak Kudus sudah dibiasakan membaca dan tetap sehat, hal ini akan mampu menyalakan semangat untuk menggapai cita-cita,” terang Joko.

Menurut dia, keberhasilan generasi muda Kudus dalam meraih cita-cita dan ikut berpartisipasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa tentu menjadi modal berharga dalam pembangunan.

”Melalui momentum Hardiknas tahun ini, mari bersama-sama bulatkan tekad demi ikut memajukan pendidikan di Kudus. Sekaligus mendukung tekad Bapak Bupati (Musthofa) untuk membuat Kudus semakin sejahtera,” ujarnya.

Editor: Supriyadi

 

Tak Mau Disalahkan, Disdikpora Kudus Minta Orang Tua Berperan Aktif Bangun Karakter Anak

Para siswa antusias mengikuti SMK Weekend yang digelar di Alun-alun Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Para siswa antusias mengikuti SMK Weekend yang digelar di Alun-alun Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom,  Kudus – Kekecewaaan Bupati Kudus Musthofa dengan siswa yang memegang menggunakan tangan kiri saat menerima microphone dan hadiah membuat Disdikpora Kudus angkat bicara.

Pengawas sekolah pada Disdikpora Kudus M Zainuri mengatakan, peran guru di sekolah sangat terbatas. Jutru, yang memiliki andil besar adalah kedua orang tua siswa. Ini lantaran para siswa lebih banyak menggunakan waktu dengan orang tua ketimbang dengan guru di sekolah.

”Jadi yang lebih berperan aktif seharusnya orang tua. Para siswa di sekolah itu sangat terbatas. Selain itu juga, satu guru menangani banyak siswa, jadi ada keterbatasan,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, jika sampai terjadi degradasi moral bukanlah semata-mata kesalahan guru. Melainkan orang tua juga ikut andil dalam hal membimbing dan mengajarkan anak sampai demikian.

Lebih lanjut dikatakan, para guru juga memiliki tugas mengajar pelajaran. Hal itu juga membuat semakin terbatas nya dalam memperhatikan anak.

“Meski demikian kami juga bertugas membenahi. Sehingga ke depan akan dilakukan pembenahan terkait hal itu melalui guru di tiap sekolah,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

BACA JUGA: Bupati Kudus Kecewa, Banyak Siswa Pegang Mic dan Terima Hadiah dengan Tangan Kiri  

Hai Para Guru, Disdikpora Kudus Sarankan Siswa PAUD dan TK Rutin Minum Susu

Siswa tengah minum susu gratis yang disediakan dinas di Alun-alun Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Siswa tengah minum susu gratis yang disediakan dinas di Alun-alun Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kegiatan minum susu diharapkan mampu jadi rutinitas para pelajar di Kabupaten Kudus, khususnya anak TK dan PAUD. Ini lantaran, banyak manfaat yang dapat diambil para siswa dengan meminum susu.

Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo mengatakan, banyak kandungan gizi yang terdapat dalam susu. Selain kalsium yang berguna untuk pertumbuhan tulang, susu juga mengandung vitamin yang bagus untuk perkembangan otak.

”Karena itu kegiatan minum susu ini bisa ditindaklanjuti oleh sekolah masing-masing. Salah satunya dengan mengagendakan minum susu kepada semua siswa di Kudus.

Khususnya, bagi sekolah tingkat Playgrup, TK, dan siswa tingkat Sekolah Dasar yang sedang dalam pertumbuhan. Dengan begitu, generasi penerus bangsa bisa lebih pintar dan memiliki tubuh yang sehat.

”Pihak sekolah sudah dibertahu untuk menindaklanjuti minim susu. Kami menyarankan agar minum susu dapat dilakukan pagi hari, sebelum pelajaran dimulai,” ungkapnya.

Dengan begitu, ia berharap, proses pembelajaran dapat lebih maksimal. Bahkan, para siswa akan lebih semangat karena senang dengan meminum susu.

Sementara itu, berdasarkan pantauan di lapangan, ribuan peserta yang mengikuti acara minum susu gratus terlihat sangat antusia mengikuti acara.

Usai minim susu, para pelajar dihibur oleh band asal Ibu Kota The Cangcuters. Sontak kehadiran band yang melantunkan lagu ‘I Love You Bibeh’ itu langsung merapatkan barisan siswa yang mengerumuni panggung.

Editor: Supriyadi

Baca Juga : 12 Ribu Siswa di Kudus Minum Susu Gratis 

Bupati Kudus Kecewa, Banyak Siswa Pegang Mic dan Terima Hadiah dengan Tangan Kiri

Bupati Kudus Musthofa bersalaman dengan salah satu pemenang lomba saat penutupan SMK Weekend. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bupati Kudus Musthofa bersalaman dengan salah satu pemenang lomba saat penutupan SMK Weekend. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Penutupan SMK Weekend yang digelar di Alun-alun Kudus Selasa (3/5/2016) membuat Bupati Kudus, Musthofa kecewa. Ini lantaran, para pemenang lomba yang diundang Musthofa untuk berbincang di atas panggung menerima microphone (mic) dengan tangan kiri.

Tak hanya itu, hampir semua pemenang lomba yang menerima hadiah dari orang nomor satu di Kota Kreter juga menerimanya dengan tangan kiri. Sontak hal tersebut membuat Bupati kecewa.

”Sejak tadi saya perhatikan, kenapa semuanya memakai tangan kiri. Padahal seharusnya memakai tangan kanan. Ini kesalahan para guru, kenapa sampai ada degradasi moral seperti ini,” katanya saat memberikan sambutan dalam acara penutupan SMK Weekend, Senin (2/5/2015).

Kejadian ini, lanjutnya, tidak membuatnya marah. Melainkan, merasa bersalah kenapa hal itu bisa terjadi. Apalagi, saat berbincang di atas panggung memakan waktu yang cukup lama.

Meski begitu, kekecewaan yang begitu mendalam tak bisa ditutupi. Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Joko Susilo juga dituding sebagai orang yang harus bertanggung jawab atas degradasi moral tersebut.

”Perubahan moral merupakan hal yang harus segera diselesaikan. Ini merupakan tugas semua pihak. Tapi yang paling bertanggung jawab adala dinas pendidikan. Kenapa hal seperti ini bisa terjadi,” tegasnya.

Atas kejadian ini, Musthofa pun meminta semua pihak harus segera berbenah. Salah satunya untuk menekankan pendidikan karakter kepada siswa.

Editor: Supriyadi

12 Ribu Siswa di Kudus Minum Susu Gratis

 

Ribuan siswa di Kudus mengikuti acara minum susu gratis di Alun-alun Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Ribuan siswa di Kudus mengikuti acara minum susu gratis di Alun-alun Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sebanyak 12 ribu siswa dari berbagai jenjang, mulai dari playgrup hingga SMA di Kudus minum susu gratis di Alun-alun Kudus, Senin (2/5/2016).  Gerakan minum susu ini diharapkan jadi pemicu anak untuk menambah asupan gizi dalam tubuh.

Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo mengatakan, jumlah susu yang disediakan berjumlah 12 ribu. Susu tersebut dituangkan dalam gelas plastik, dan dibagikan kepada para siswa melalui sekolah masing masing.

”Jadi, biar anak anak semakin cerdas, kami berikan susu kepada para siswa secara cuma-cuma,” katanya.

Meski dituang dalam gelas, Joko memastikan susu tersebut masih segar tanpa adanya zat pengawet. Ini lantaran susu tersebut langsung dari sapi pilihan dengan kandungan gizi yang masih alami.

”Ini dari sapi pilihan. Jadi tak usah khawatir ada zat pengawet atau tidak. Saya pastikan ini tanpa pengawet,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Kudus Musthofa mengatakan, selain minum susu siswa juga dipersilahkan mengekspresikan diri di Alun-alun mengikuti rangkaian Hardiknas. ”Saya sudah minta izin kepada kepala dinas, agar siswa tidak usah kembali ke sekolah. Bagi yang ingin tampil, silahkan panggung ekspresi ini digunakan,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

 

Wow, CFD Kudus Menarik Minat Siswa SMA Pecangaan Jepara

Jpeg

Siswa dari SMAN 1 Pecangaan Jepara ini rela datang Subuh ke ajang car free day (CFD) di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, untuk menjual enaka jajanan demi implementasi mata pelajaran wirausaha. (MuriaNewsCom/EDY SUTRIYONO)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Even car free day (CFD) yang digelar setiap pekan di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, ternyata menarik minat para pelajar dari luar daerah untuk datang ke sana.

Pada pelaksanaan CFD pada Minggu (10/4/2016), ada enam siswa dari SMAN 1 Pecangaan, Jepara. Mereka rela datang ke Kudus saat CFD, untuk bisa mempraktikkan mata pelajaran yang mereka dapatkan.

Mata pelajaran yang dipraktikkan itu adalah mapel kewirausahaan. Karena itu, mereka datang ke CFD dengan berjualan makanan. Itu sebabnya, mereka rela datang Subuh untuk bisa berpartisipasi dalam kegiatan itu.

Salah satu siswi bernama Noor Laili Rahma, (16), mengatakan, kedatangannya bersama lima 5 rekannya itu, memang merupakan bagian dari tugas kelompok.

”Kami mempraktikkan mata pelajaran prakarya, yang di dalamnya ada materi kewirausahaan pada program jurusan IPA. Sehinga kita berjualan makanan secara bersama-sama,” katanya.

Tugas tersebut, menurut Naili, merupakan salah satu untuk modal kenaikan kelas ke jenjang kelas dua belas (XII) yang akan datang. ”Bila tugas ini bisa selesai hari ini, setidaknya kita sudah lega. Dan bisa mendapatkan nilai baik untuk kenaikan kelas nanti,” katanya.

Barang yang dijual keenam siswa tersebut ada tiga macam. Yakni mulai dari makanan dan minuman. Untuk menyediakan barang itu, mereka iuran per orangnya Rp 20 ribu. Setelah itu, mereka membeli bahan baku dan membuatnya sendiri.

”Untuk saat ini kita menjual tiga macam jenis makanan. Yakni sate usus, mi goreng, dan es lilin. Untuk sate ususnya kita jual Rp 1.000, mi goreng Rp 2.500, dan es lilinnya Rp 1.000,” ujarnya.

Editor: Merie

 

Biawak Ternyata Bisa Buat Orang Rela Rogoh Kocek Dalam-dalam

Jpeg

Seekor biawak dibawa keliling Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, saat ajang car free day oleh komunitas Salvator Kudus Semarak. Tujuannya mengampanyekan soal perlindungan terhadap hewan tersebut. (MuriaNewsCom/EDY SUTRIYONO)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Jika sudah cinta, maka apapun akan dilakukan. Inilah yang kemudian membuat anggota komunitas Salvator Kudus Semarak bernama M Aufa Anis, (19), rela mengeluarkan uang yang cukup besar, untuk mendapatkan seekor biawak yang membuatnya kesengesem.

Menurutnya, untuk mendapatkan biawak, para anggota memang rela merogoh kocek secara pribadi atau secara iuran. Kemudian mereka akan mendatangi para pengepul biawak yang ada di Kudus.

”Bahkan, kita juga terkadang ditelepon pengepul itu sendiri, jika sudah ada barangnya. Karena biasanya pengepul memang disetori oleh pemburu. Nah, dari sana kita tahu ada biawak yang memang akan dijual,” terangnya saat ditemui di ajang car free day (CFD), Minggu (10/4/016).

Diketahui, pembelian biawak tersebut bukan dihargai oleh pengepul dengan cara per ekor. Melainkan dengan cara disesuaikan dengan berat badan hewan tersebut.

”Saat membeli, pengepul itu tidak memberi harga per ekor. Namun harga itu disesuaikan dengan berat badan. Misalkan untuk biawak yang berbobot 1 kilogram itu dihargai Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu. Nah, seumpama ada biawak besar berbobot 10 kilogram, berarti seharga Rp 350 ribu,” tuturnya.

Selain membeli biawak tersebut dengan cara patungan atau perseorangan, modal biaya pemeliharaannya juga secara patungan. Yakni dengan cara bergantian membelikan makanan berupa kepala ayam, yang merupakan makanan dari biawak tersebut.

”Untuk makanan biawak, biasanya juga tergantung dari besar kecilnya badan biawak. Seperti halnya biawa yangberbobot 1 kilogram, bisa diberi 2 kepala kepala ayam untuk 4 hari sekali,” tuturnya.

Dia menambahkan, biawak ini dibawa ke car free day memang untuk dikenalkan ke masyarakat. Supaya meraka tahu bahwa hewan ini bisa bersahabat dan jangan diburu. ”Kami ingin menjaga ekosistem yang ada. Salah satunya ekosistem biawak,” imbuhnya.

Editor: Merie

Wow, Foto Suasana Alun-alun Kudus Tempo Dulu yang Mempesona

MuriaNewsCom, Kudus – Kalau ngomongin soal Kabupaten Kudus, apa yang terlintas dipikiran kamu tentang kota ini? Pasti banyak dari kamu yang berpendapat kalau Kudus merupakan kota religi yang kini terus menunjukkan kemajuannya.

Tapi pernahkah kamu melihat foto tempo dulu Kudus yang mempesona. Karena alun-alun sekarang beda dengan zaman dulu. Kalau kita lihat dari foto ini terlihat jelas banget kalau Kudus tempo dulu lebih keren dan asri.

uplod jam 1030 foto kudus lawas (e)

Ini adalah foto Alun-alun Kudus Tahun 1930. Foto diambil sekitar tahun 1930. Foto merekam kegiatan pada saat itu di sekitar Alun-alun Kudus. (Perpusarda Kudus)

 

Sesuai dengan definisi alun-alun (dulu ditulis aloen-aloen atau aloon-aloon) merupakan suatu lapangan terbuka yang luas dan berumput yang dikelilingi oleh jalan dan dapat digunakan kegiatan masyarakat yang beragam dibuat oleh Fatahillah.

Menurut Van Romondt (Haryoto, 1986:386), pada dasarnya alun-alun itu merupakan halaman depan rumah, namun dalam ukuran yang lebih besar. Penguasa bisa berarti raja,bupati, wedana dan camat bahkan kepala desa yang memiliki halaman paling luas di depan Istana atau pendapa tempat kediamannya, yang dijadikan sebagai pusat kegiatan masyarakat sehari-hari dalam ikwal pemerintahan militer, perdagangan, kerajinan dan pendidikan.

Lebih jauh Thomas Nix (1949:105-114) menjelaskan bahwa alun-alun merupakan lahan terbuka dan terbentuk dengan membuat jarak antara bangunan-bangunan gedung. Jadi dalam hal ini, bangunan gedung merupakan titik awal dan merupakan hal yang utama bagi terbentuknya alun-alun. Tetapi kalau adanya lahan terbuka yang dibiarkan tersisa dan berupa alun-alun, hal demikian bukan merupakan alun-alun yang sebenarnya. Jadi alun-alun bisa di desa, kecamatan, kota maupun pusat kabupaten.

Pada awalnya Alun-alun merupakan tempat berlatih perang (gladi yudha) bagi prajurit kerajaan, tempat penyelenggaraan sayembara dan penyampaian titah (sabda) raja kepada kawula (rakyat), pusat perdagangan rakyat, juga hiburan seperti Rampokan macan yaitu acara yang menarik dan paling mendebarkan yaitu dilepaskannya seekor harimau yang dikelilingi oleh prajurit bersenjata. Semoga informasi singkat itu berguna untuk kita semua.

uplod jam 1030 foto kudus lawas 2 (e)

Ini penampakan Alun-alun Kudus sekarang. (MuriaNewsCom)

 

Editor : Akrom Hazami

Perhatian! Ini yang Tidak Boleh Dilakukan di Taman Simpang Tujuh Kudus

Papan yang bertuliskan berbagai item yang tidak boleh di lakukan di taman, lapangan dan trotoar Alun-alun Simpang Tujuh Kudus (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Papan yang bertuliskan berbagai item yang tidak boleh di lakukan di taman, lapangan dan trotoar Alun-alun Simpang Tujuh Kudus (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Taman di Simpang Tujuh Kudus beberapa saat lalu telah dipercantik. Beberapa fasiltias baru dan ornamen lainnya menambah daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang mengunjungi Alun-alun Simpang Tujuh Kudus.

Terkait dengan perbaikan yang dilakukan di sejumlah titik dan agar keindahan alun-alun tetap terjaga dengan baik, Pemerintah Kabupaten Kudus melalui Dinas Cipkataru menerapkan aturan yang tertulis dipapan, yang diletakkan di sisi utara alun-alun.

Dalam papan itu, tertulis jelas, bahwa masyarakat tidak boleh untuk berjualan, bermain sepak bola, duduk di pot-pot bunga, mencoret dan atau merusak taman, membawa kendaraan roda dua dan empat atau lebih untuk naik ke lapangan, dan mengadakan arena bermain anak atau komidi putar dan sejenisnya.

Seperti diketahui, lapangan hijau di alun-alun memang kerap digunakan untuk bermain sepak bola,khususnya pada malam hari. Di lapangan itu sering digunakan bermain.

Nardi, salah satu petugas perawatan Simpang Tujuh Kudus mengungkapkan, akibat sering dibuat main bola, lapangan alun-alun menjadi rusak. Sehingga kalau hujan tiba, pasti terdapat genangan dan harus di kuras.

“Saat ini memang sudah dilarang bermain bola di sini. Soalnya dapat merusak lapangan. Tulisan di papan peringatan juga sudah ada, bahwa ada aturan yang tidak membolehkan masyarakat melakukan beberapa hal di taman, trotoar dan lapangan Simpang Tujuh Kudus,” katanya kepada MuriaNewsCom (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

CFD, Ribuan Warga Kudus Tumplek Blek

Warga menikmati suasana di Alun-alun Kudus. (MuriaNewsCom)

Warga menikmati suasana di Alun-alun Kudus. (MuriaNewsCom)

 

KUDUS – Ribuan warga Kabupaten Kudus meramaikan car free day (CFD) di Alun-alun Simpang Tujuh, Kudus, Minggu (3/1/2015).CFD tersebut merupakan momen yang biasa dilakukan setiap hari Minggu tiba. Apalagi hari tersebut merupakan saat terakhir libur sekolah.

CFD berjalan dari pukul 06.00 WIB hingga 09.00 WIB. Sepanjang waktu ini, banyak sekali warga Kudus dan sekitarnya yang berolah raga. Tidak cuma lari atau bermain sepeda, tapi ada juga yang sepatu roda, atau skateboard, bahkan ada yang sekadar ”mejeng”.

Waktu paling ramai berolahraga adalah mulai pukul 06.00 WIB. Karena, pada saat itu, udara masih sejuk, dan mentari belum terlalu terik, serta suasana masih cukup tenang.

“Ingin lihat even dan olahraga,” kata salah satu warga Nalumsari, Yusuf, yang kerap menikmati CFD di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus.

Selain itu, katanya olahraga juga bisa menjadi salah satu cara untuk menghilangkan kepenatan selama sepekan melakukan aktivitas. Warga juga banyak yang memanfaatkan berbagai wahana permainan dan olahraga dalam CFD tersebut. (AKROM HAZAMI)

Aktivitas Alun-alun Kudus Dipantau, Begini Tanggapan Warga

Aktivitas Taman Simpang Tujuh Kudus yang mulai ramai, beberapa waktu terakhir. (MuriaNewsCom) 

Aktivitas Taman Simpang Tujuh Kudus yang mulai ramai, beberapa waktu terakhir. (MuriaNewsCom)

 

KUDUS – Tugas Satuan Polisi Pamong praja (Satpol PP) Kudus yang kini mendapatkan tugas tambahan menjaga taman Alun-alun Kudus, mendapat tanggapan dari warga. Di antaranya Umi Hani. Menurutnya, taman alun-alun akan menjadi lebih aman.

“Setidaknya bila ada Satpol PP yang berkeliling alun-alun (mengkroscek taman),  maka itu jelas akan lebih aman. Misalnya, memantau pengunjung taman yang ingin mencorat-coret taman, memantau supaya pengunjung tidak berpacaran di tempat umum dan sebagainya,” kata Umi.

Dia menilai, taman kota memang harus bisa dibuat senyaman mungkin.Tujuannya agar pengunjung lebih betah berlama-lama menikmati pemandangan dan suasana.

Selain itu, pihaknya juga berharap supaya taman Simpang Tujuh Kudus bisa terpantau, dan terawat dengan baik. Karena taman bisa terlindungi dari upaya tangan-tangan jahil.

Tidak jauh beda juga disampaikan oleh Istiqomah, warga Ngembalrejo, Bae. Dia berpendapat, pengawasan taman di alun-alun oleh Satpol PP adalah hal bagus.

“Bila tidak ada yang mengawasi , maka pengunjung akan berbuat seenaknya saja,” ucapnya. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Satpol PP Kudus, Dapat Kado Istimewa di Tahun 2016 Dari Pemkab Kudus

Alun-alun Simpang 7 Kudus kini memiliki taman dengan beberapa tanaman dan bangku taman. Satpol PP diminta Pemkab menjaga dan turut merawatnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Alun-alun Simpang 7 Kudus kini memiliki taman dengan beberapa tanaman dan bangku taman. Satpol PP diminta Pemkab menjaga dan turut merawatnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Satuan polisi pamong praja (Satpol PP) Kudus di tahun 2016 ini telah mendapatkan kado istimewa dari Pemkab Kudus. Kado Istimewa tersebut merupakan tugas tambahan untuk menjaga taman Alun-alun atau taman Simpang 7 Kudus.

Saat dikonfirmasi MuriaNewsCom Sabtu (02/01/2016) di pos pengamanan Pendapa Kudus, salah satu anggota satpol PP Silas Mashudi mengatakan, tugas penjagaan taman ini mulai dijalankan pada Jumat (01/01/2016) kemarin.

Terkait tugas penjagaan taman, pihaknya mengutarakan tugas tersebut terbagi menjadi dua regu. Yang setiap regunya terdiri dari dua personel. ”Dua regu itu nantinya akan bertugas di shift pagi dan siang. Untuk shift pagi dimulai dari pukul 06.30 WIB hingga 14.30 WIB. Sedangkan shift siang mulai pukul 14.30 WIB hingga 21.30 WIB,” paparnya.

Dalam penjagaan taman tersebut, setiap regu selalu berkeliling Alun-alun sembari mengkroscek kondisi taman. ”Regu yang berisi dua anggota tersebut, mengitari Alun-alun. Selain itu selalu mengecek kondisi taman, dan memastikan pengunjung tidak merusaknya,” tukasnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Hujan, Petugas Pemkab Kudus Ini Bekerja Ekstra Menguras Alun-alun

Petugas perawat alun-alun dari Pemkab Kudus bekerja ekstra di musim hujan ini untuk menguras alun-alun. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas perawat alun-alun dari Pemkab Kudus bekerja ekstra di musim hujan ini untuk menguras alun-alun. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Kondisi Alun-alun Kudus saat hujan tiba berbeda dari biasanya. Di bagian tengah alun-alun mengalami cekungan, sehingga menampung air dan ketika hujan nampak seperti sebuah kolam. Akibatnya, alun-alun harus dikuras untuk membuang air di dalamnya.

Hal itu diungkapkan Nardi, petugas Pemkab Kudus untuk merawat alun-alun. Menurutnya, saat hujan semacam ini memang sering terjadi genangan air sehingga membuat petugas harus menguras alun-alun itu.

”Ya caranya memang harus dikuras untuk membuang airnya. Soalnya air tidak dapat meresap dengan baik di sini. Jadi memang selalu dikuras,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, untuk menguras alun-alun membutuhkan waktu yang cukup lama. Misalnya sekarang, alun-alun dikuras menggunakan disel. Bukan hanya satu buah, namun langsung menggunakan dua mesin disel sekaligus.

Proses kuras dimulai semenjak pukul 08.30 WIB. Dan sampai sekarang sekitar pukul 13.30 WIB masih belum selesai meski menggunakan dua mesin sekaligus.

”Memang lama karena airnya banyak. Apalagi lokasi ini juga digunakan untuk main bola. Jadi tanahnya tambah padat cekung,” ujarnya.

Selain itu, hujan yang tidak kunjung berhenti juga membuat debit air semakin banyak. Sehingga membuat petugas harus menyalakan mesinnya terus menerus.

”Tiap musim hujan memang semacam ini. Jadi sudah biasa melakukannya,” jelasnya.

Bahkan, bukan hanya siang hari saja melainkan pada malam hari juga dilakukan hal yang serupa. Hal itu termasuk pemeliharaan terhadap Simpang Tujuh Alun-alun Kudus itu. (FAISOL HADI/TITIS W)

Jangan Coba Pinjam Alun-alun Simpang Tujuh Kudus Kalau Tak Mau Dipersulit

Pekerja sedang menyelesaikan pembenahan fasilitas di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pekerja sedang menyelesaikan pembenahan fasilitas di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Pemkab Kudus, ke depan bakal lebih hati-hati dalam penyewaan Alun- alun Simpang Tujuh. Hal itu dilakukan untuk menjaga kondisi alun-alun tetap terawat.

Seperti halnya yang disampaikan Plt Kepala Dinas Cipkataru Sumiyatun. Menurutnya untuk ke depan izin penggunaan alun-alun masih diperbolehkan, namun caranya dengan tetap akan diperketat.

“Mau gunakan tidak masalah, asalkan tidak merusak apa yang ada di alun-alun tersebut. Seperti kursi, tanaman bunga dan pepohonan,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, bagi yang hendak meminjam alun-alun, harus menyiapkan pagar untuk blokade masa supaya tidak mendekati taman. Dengan demikian dapat mencegah terjadinya kerusakan taman yang kali ini belum sepenuhnya jadi.

Akan sangat disayangkan olehnya, jika taman yang baru dibangun tesebut harus rusak karena masyarakat merusaknya. Untuk itu juga, masyakat juga diminta untuk sama-sama menjaga fasilitas umum tersebut.

Saat ini, kata dia, sudah ada pihak yang hendak meminjam alun-alun tersebut. Pihaknya sudah menyetujui penggunaan alun-alun lantaran pihak yang bersangkutan juga sudah menyetujui apa yang menjadi tanggung jawab pihak peminjam.

“Rencananya alun-alun akan digunakan pada 19 Desember tahun ini. Mereka juga sudah bersedia untuk menjaga fasilitas yang ada di sana, untuk itu diperbolehkan,” imbuhnya.

Pihaknya juga meminta dilakukan percepatan pembangunan alun-alun. Sehingga lebih cepat selesai dan lebih cepat kering pula untuk penataannya

“Sekitar 10 Desember ini diharapkan dapat selesai. Kalau rencana awal 15, namun kami khawatir kalau terlalu mepet dengan penggunaannya,” jelasnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Alun-alun Kudus Akan Penuh Kejutan, Tunggu ya!

alun-alun

Pekerja menyelesaikan penataan Alun-alun Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Penataan wajah baru Alun-alun Kudus hampir selesai. Jika diamati, sejumlah penampakan wajah baru pusat Kudus itu sudah mulai tampak perbedaannya.

Bagi masyarakat yang penasaran dengan hasil akhirnya akan seperti apa, kalian harus menunggu sebentar lagi. Sebab pembangunan penataan wajah Simpang Tujuh itu ditargetkan akan selesai pada pertengahan Desember.

Plt Kepala Dinas Cipkataru Sumiyatun mengatakan, penataan wajah Simpang Tujuh Kudus akan sempurna pada15 Desember mendatang.

“15 Desember harus sudah selesai dibangun. Jadi pada tanggal itu merupakan batas akhir penataan Simpang Tujuh Kudus,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dia menuturkan yang baru dari wajah alun-alun tersebut adalah adanya taman di bagian selatan dan sebagian utara. Dengan tanaman yang ada bukan satu jenis. Melainkan berbagai jenis dengan warna yang berbeda.

Sementara beberapa tempat duduk juga sudah terpasang di sekeliling Simpang Tujuh. Hal itu bertujuan untuk memberi kenyamanan pada pengunjung.

“Selama ini kan tidak ada tempat duduknya, jadi dibuatkan tempat duduk. Sedangkan untuk tanaman juga supaya lebih indah kalau dilihat warna warni,” imbuhnya.

Pembangunan yang belum selesai, kata dia adalah dengan penataan tulisan Simpang Tujuh pada bagian selatan. Tulisan tersebut sekaligus sebagai identitas Simpang Tujuh.

Dalam penataan alun-alun tersebut, Pemkab Kudus mengalokasikan biaya sampai Rp 1 milliar. Sumber biaya tersebut diambil dari APBD perubahan. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)