Kesbangpol Kudus Siap Pantau Aktivitas Penganut Aliran Sabdo Kusumo

Kepala Kesbangpol Kudus, Djati Sholechah. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kepala Kesbangpol Kudus, Djati Sholechah. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Aktivitas para penganut aliran Sabdo Kusumo Kudus mulai mendapat respon serius dari Kesbangpol Kudus. Pihak Kesbangpol berjanji melakukan penelusuran dan pemantauan aktivitas para penganut aliran tersebut.

Kepala Kesbangpol Djati Sholechah mengatakan, keberadaan aliran sesat tersebut memang sudah terdapat lama. Hanya, pihaknya tidak menduga kalau organisasi tersebut masih aktif hingga sekarang.

”Secepatnya kami akan bekerjasama dengan pihak desa dan BPD setempat. Peran masyarakat juga kami libatkan untuk mengetahui perkembangan organisasi tersebut,” katanya kepada MuriaNewsCom, Senin (23/5/2016)

Ia menjelaskan, pengawasan masyarakat memang sangat penting untuk mengetahui aktivitas para jamaah. Karena itu, jika nantinya masyarakjat menemukan perkembangan Sabdo Kusumo, ia meminta untuk segera melapor.

”Masyarakat bisa langsung lapor ke desa, dan kemudian diteruskan kepada Kejaksaan atau Kesbangpol untuk langsung ditindak lanjuti,” ungkapnya.

Selain pengawasan, ia juga akan menggencarkan sosialiasi tentang gerakan aliran sesat. Ini mengingat masih banyak masyarat yang tidak tahu mengenai organisasi terlarang.

”Dari Fatwa MUI, sudah jelas jika Sabdo Kusumo menjadi organisasi larangan. Tapi banyak masyarakat yang datang ke acara organisasi lantaran tidak tahu kalau ternyata terlarang. Itu jadi bukti kurangnya sosialisasi,” ungkapnya .

Dia menambahkan organisasi yang sempat ramai puasa 2009 lalu masih aktif berkegiatan. Untuk itulah kewaspadaan organisasi agar tidak menjadi besar juga ditingkatkan.

Editor: Supriyadi

BACA JUGA: Sabdo Kusumo, Aliran Sesat Asal Kudus Ternyata Masih Aktif

Sabdo Kusumo, Aliran Sesat Asal Kudus Ternyata Masih Aktif

Ketua MUI Kudus Ahmad Hamdani. (MuriaNewsCom)

Ketua MUI Kudus Ahmad Hamdani. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Aliran sesat Sabdo Kusumo yang sempat memiliki basis di Desa Kauman, Kecamatan Kota dan Desa Klumpit, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus ternyata masih aktif bergerak.

Bahkan, para penganut aliran sesat tersebut diduga masih mencari penganut melalui pertemuan-pertemuan terselubung yang dilakukan.

Ketua MUI Kudus Ahmad Hamdani mengatakan, organisasi terlarang itu memang baru diketuai masih aktif akhir-akhir ini. Hal itu berdasarkan pengakuan salah satu anggota BPD Desa Klumpit yang bertanya tentang aliran Sabdo Kusumo.

”Awalnya, ia tidak tahu apa itu aliran Sabdo Kusumo. Beberapa warga di sana sering diundang tiap ada pertemuan. Karena itu, ia memberanikan diri bertanya ke MUI,” katanya kepada MuriaNewsCom

Ia menjelaskan, setiap ada pertemuan, anggot BPD tersebut memang selalu diundang untuk hadir. Lantaran diundang, mereka juga datang untuk menghadiri undangan, tanpa maksud lain.

”Jadi ia asal datang karena memenuhi undangan. Awalnya tak ada kecurigaan apapun. Tapi lama kelamaan ia curiga dengan pertemuan yang selalu menyinggung ajaran sabdo kusumo tersebut,” ungkapnya.

Padahal, lanjutnya, aliran Sabdo Kusumo dinyatakan terlarang MUI dalam fatwa pada 2010 lalu. Bukan hanya MUI Kudus, namun fatwa tersebut sampai MUI Jateng.

“Saat itu sangat ramai organisasi Sabdo Kusumo pada 2009 lalu. Lalu MUI mengeluarkan fatwa kalau organisasi jenis itu termasuk organisasi terlarang,” ungkapnya.

Langkah MUI, kini memantau perkembangan aliran tersebut. Pihaknya akan menindak kalau organisasi itu bergerak, dan menyebarkan agamanya.

“Kalau hanya untuk dirinya tidak masalah. Yang bahaya itu kalau digunakan untuk diajarkan ke masyarakat luas,” imbuhnya.

Untuk diketahui, aliran Sabdo Kusumo memang sempat menggegerkan warga Kudus tahun 2009 lalu. Kala itu, pimpinan Sabdo Kusumo Kusmanto Sujono alias Raden Sabda Kusuma alias Eyang Sabdo ditengarai yang mengaku keturunan Sunan Gunung Jati diduga menyebarkan aliran kepercayaannya. Alhasil ia berhasil memiliki beberapa pengikut di Desa Kauman, Kecamatan Kota dan Desa Klumpit, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus.

Editor: Supriyadi