Ratusan Motivator Kesehatan di Grobogan Dilibatkan untuk Turunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi

Ratusan motivator kesehatan ibu dan anak di Grobogan mendapat training dari petugas Dinas Kesehatan selama empat hari. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski angkanya sudah turun dari tahun lalu, namun kasus kematian ibu melahirkan dan bayi lahir di Grobogan masih muncul pada tahun ini. Terkait dengan kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Grobogan menggandeng berbagai elemen masyarakat untuk bersama-sama membantu menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan bayi lahir.

”Upaya menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan bayi lahir memang sebuah tugas yang tidak mudah dilakukan. Kita butuh dukungan dari berbagai masyarakat untuk bisa menurunkan bahkan menghilangkan munculnya kasus tersebut,” kata Sekretaris Dinas Kesehatan Grobogan Slamet Widodo, usai menutup kegiatan training kader motivator kesehatan ibu dan anak (MKIA), Kamis (2/11/2017).

Menurut Slamet, pada tahun 2017 ini, masih terdapat tujuh kasus kematian ibu melahirkan. Kemudian, angka kematian bayi baru lahir masih ada 229 kasus.

”Angka kematian ibu melahirkan dan bayi lahir ini masih cukup tinggi. Namun, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sudah turun cukup signifikan,” katanya.

Baca: Ambulans Pengangkut Bayi Ditabrak di Semarang, Begini Reaksi RSUD Kartini Jepara

Dijelaskan, traning yang diberikan pada motivator kesehatan ibu dan anak selama empat hari itu salah satu tujuannya adalah menekan angka kematian ibu melahirkan dan bayi lahir.

Para motivator itu nantinya akan melakukan pendampingan pada para ibu hamil di sekitar tempat tinggalnya. Terutama, pada ibu hamil yang punya resiko tinggi saat melahirkan. Para motivator itu tergabung dalam wadah Forum Masyarakat Madani Peduli Kesehatan Ibu dan Anak (FMM KIA).

”Para motivator ini adalah masyarakat yang punya kepedulian pada masalah kesehatan ibu dan anak. Dari dinas, mereka kita fasilitasi supaya bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Salah satunya memberikan pembekalan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan para motivator tersebut,” jelasnya.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Grobogan Ni Putu Sri Rahayu menambahkan, acara training yang diikuti 292 orang itu diadakan sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan para kader MKIA desa dalam melakukan pendampingan terhadap ibu hamil dan melahirkan.

Peserta juga dapat pemaparan tentang kebijakan pendekatan kemitraan antara Dinas Kesehatan dan masyarakat dalam rangka penanganan masalah kesehatan ibu dan bayi.

Selain itu, para peserta training juga dibekali pemahaman tentang buku panduan yang berisi pedoman bagi MKIA dalam menjalankan tugas pendampingan terhadap ibu hamil. 

Seperti  strategi dan langkah-langkah pendampingan, teknik pendataan, pengetahuan tentang tanda-tanda bahaya bagi ibu hamil dan bayi baru lahir, pentingnya gerakan infaq bersalin, penggalangan mobil siaga, rumah tunggu, suami siaga, juga gerakan masyarakat hidup sehat (germas), gerakan masyarakat cerdas menggunakan obat (gema cermat), dan materi-materi terkait lainnya. 

Sekretaris FMM KIA Grobogan Badiatul Muchlisin Asti menyatakan, pelatihan kader MKIA desa seperti ini telah dua kali ini diadakan. Sebelumnya, kegiatan serupa sudah dilakukan pada tahun 2016 lalu. Ia berharap dengan pelatihan seperti ini, kapasitas pengetahuan para kader MKIA desa meningkat, sehingga dapat menjalankan tugas lapangan dengan baik.

Editor: Supriyadi

Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng Diklaim Berhasil Turunkan Angka Kematian Ibu Hamil

Petugas tengah memberi imunisasi kepada bayi. Program penurunan angka kematian ibu dan anak di Jateng diklaim sukses. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng dinilai cukup sukses menekan angka kematian ibu hamil dan anak. Jumlah kematian ibu dalam proses kehamilan dan persalinan mengalami penurunan cukup signisikan sejak 2014.

Rata-rata angka penurunannya mencapai 14 persen per tahun. Tahun 2014 jumlah ibu hamil dan menyusui yang meninggal tercatat sebanyak 711 orang, dan menurun menjadi 619 kasus pada 2015.

Kemudian mengalami penurunan pada tahun 2016 dengan 602 kasus. Sementara pada semester I tahun 2017 tercatat hanya 227 kasus.

“Tahun ini menurun sekitar 25 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Semoga di semester II tahun ini jumlahnya juga menurun,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Yulianto Prabowo, Senin (9/10/2017).

Menurutnya, banyak faktor yang menyebabkan turunnya angka kematian ibu. Antara lain meningkatnya kesadaran masyarakat dalam memperhatikan kesehatan ibu. Menurut dia, gerakan 5 NG yakni Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng.

“Gerakan 5 NG yang diluncurkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Surakarta pada Juli 2016 lalu, dan ini mulai menunjukkan hasil. Kesehatan ibu juga membaik dan tentunya ya itu, kesadaran masyarakat meningkat, sehingga angka kematian ibu bisa ditekan,” ujarnya.

Program 5 NG tersebut lanjutnya, merupakan gerakan gotong royong yang memanfaatkan seluruh potensi yang ada di masyarakat mulai dari hulu hingga hilir.

Yaitu dengan menggerakkan bidan desa dan kader PKK untuk mengedukasi para perempuan sejak pra kehamilan, masa kehamilan, persalinan, hingga pascapersalinan. Selain itu juga mengajak masyarakat lainnya untuk memberi perhatian khusus pada ibu hamil dan sosialisasi perilaku hidup sehat.

“Tidak butuh waktu lama gerakan itu terdengar di masyarakat. Ternyata setelah kita amati, mempunyai daya ungkit yang cukup signifikan,” jelasnya.

Ia menegaskan masalah angka kematian ibu melahirkan ini menjadi perhatian serius pemerintah provinsi Jawa Tengah. Sebab hal ini juga menjadi indikator utama pembangunan kesehatan, baik dalam RPJMN dan RPJMD. 

Selain AKI, pertumbuhan positif indeks kesehatan masyarakat ini juga ditunjukkan dengan tren penurunan sejumlah indikator kesehatan, seperti kematian bayi, hingga  jumlah balita penderita gizi buruk.

Untuk kasus kematian bayi pada 2014 tercatat 6.486 kasus. Jumlah itu berkurang menjadi 6.483 kasus pada 2015 dan pada 2016 menurun lagi menjadi 6.478 kasus. Pada tahun ini hingga semester I 2017 angka kematian bayi tercatat 2.333 kasus. Sedangkan untuk persentase balita gizi buruk di Jawa Tengah juga bisa ditekan pada angka 0,03 persen dari jumlah populasi. 

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan untuk menekan AKI, salah satu hal yang perlu dilakukan yakni perilaku hidup bersih masyarakat yang harus terus didorong dan digiatkan. Menurutnya hal itu menjadi hulu dari semua permasalahan yang menyangkut kesehatan dan kemiskinan.

Editor : Ali Muntoha

Aki Basah VS Aki Kering, Untung Mana?

Petugas mengecek aki di salah satu bengkel di Kudus. (MuriaNewsCom)

Petugas mengecek aki di salah satu bengkel di Kudus. (MuriaNewsCom)

 

KUDUS – Bagi pemilik kendaraan, mendengar nama aki, jelas bukanlah hal yang baru.
Ya, benda kotak itu mempunyai fungsi penting pada kendaraan. Bahkan, gara-gara aki ngadat, juga sering membuat pemilik kendaraan.

Sebagaimana diketahui, aki terbagi dalam dua jenis. Pertama yakni aki basah. Dan kedua, aki kering.
Untuk aki basah. Sesuai dengan namanya, aki basah terkandung air di dalamnya. Aki kering, merupakan aki yang sifatnya kering atau tidak ada air di dalamnya.

Seorang mekanik sekaligus pemilik bengkel di Desa Klumpit, Kecamatan Gebog, Kudus, Takim mengatakan, selain perbedaan pada basah dan kering, aki basah dan kering juga memiliki keuntungan tersendiri bagi pemiliknya. “Ada kelebih dan kekurangan,” kata Takim.

“Kalau aki basah, harganya lebih terjangkau. Hanya kisaran Rp 110 ribu. Aki basah sudah dapat digunakan untuk kendaran sepeda motor,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Selain harga yang terjangkau, usia aki juga dipercaya lebih lama. Bahkan, Aki basah mampu bertahan hingga usia tiga tahun. Sebuah waktu yang menguntungkan bagi pemilik kendaraan.

Hanya, untuk mendapatkan usia aki yang lama, harus diimbangi juga dengan perawatan yang teliti. Air aki harus rutin dilakukan pengecekan. Jangan sampai di bawah harus atau sampai habis. Sekali saja terlena, maka usia aki dipastikan berkurang.

“Harga air aki murah, Rp 3 ribu paling. Itu dapat dipakai beberapa kali. Tapi setidaknya dua pekan sekali harus dicek,” ujarnya.

Saat listrik dalam aki habis, kata dia, bisa juga langsung di-charge. Waktunya sekitar empat hingga enam jam. Untuk Aki basah, kemungkinan hidup lebih banyak.

Sedangkan untuk Aki kering, harga yang dikeluarkan lebih mahal. Satu unit aki kering, harga di toko kisaran Rp 170 ribu. Perbandingan harga yang lebih banyak jika dengan aki basah.

Namun, dengan Aki kering, pemilik tidak usah capek mengeceknya. Sebab pemilik tidak usah melihat kadar airnya. Dengan pemakaian teratur, maka aki akan awet.

“Penggunaan dan jarak tempuh juga berpengaruh,” ujarnya.

Baik aki basah maupun aki kering, ketika hendak membeli harus melihat ukurannya. Sebab terdapat dua jenis ukuran aki yang berbeda dengan tiap kendaraan. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Pengecekan Aki Minimal Sebulan Sekali

 

 Suroto, kepala outlet Shop and Drive A. Yani, Kudus menunjukkan aki yang berkualitas misalnya GS Astra. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

Suroto, kepala outlet Shop and Drive A. Yani, Kudus menunjukkan aki yang berkualitas misalnya GS Astra. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

 

KUDUS – Gagal starter biasanya dipengaruhi oleh air aki yang harus diganti atau kerusakan mesin. Namun, jika aki yang perlu diganti, seharusnya pemilik kendaraan bermotor melakukan pengecekan rutin sebulan sekali. Suroto, kepala outlet Shop and Drive A. Yani, Kudus, mengatakan pengecekan tersebut menghindari kepanikan berlebih para pengendara motor.

”Jangan sampai acara atau pekerjaan kita terganggu gara-gara aki. Kerusakan pada aki atau perlunya penggantian aki tidak dapat diprediksi kapan akan habis. Umumnya bagi mereka yang punya mobilitas tinggi. Baiknya ya dilakukan sebulan sekali agar mengetahui sedini mungkin kapan air aki akan habis,” ungkap Suroto.

Outlet milik Astra Otoparts ini menyediakan jasa pengecekan aki secara gratis kepada para pengendara motor. Seperti saat Suroto melayani pelanggan yang hendak mengganti aki yang sudah setahun lebih dipergunakannya. Menurut Suroto, kendaraan roda dua rata-rata masih menggunakan aki tipe basah. Terutama motor jenis bebek.

Namun, untuk motor jenis matik biasanya menggunakan aki jenis kering, yang ketahanannya mencapai dua tahun lebih. Sama halnya dengan mobil. Berbagai jenis mobil dapat menggunakan aki basah maupun kering. Tergantung kelas yang dipergunakan pada mobil-mobil tersebut.

”Yang terpenting jika mengisi aki harus di bengkel resmi atau outlet seperti di tempat kami. Itu lebih aman, dibandingkan dengan jasa layanan isi ulang atau tukar tambah aki yang sekarang ini marak beredar. Yang paling aman yaitu aki yang sudah habis dan ingin diganti yang baru langsung diserahkan kepada kami, agar dapat didaur ulang pada pabrik asalnya supaya ramah lingkungan,” ungkap Suroto.

Harga satu set aki bervariasi. Untuk aki motor, kata Suroto, masih stabil yakni berkisar Rp 100 ribu – Rp 200 ribu. Sedangkan untuk aki mobil berkisar dari harga Rp 800 ribu – Rp 1,5 juta. Semua tergantung merk dan garansi yang ditawarkan oleh outlet.

”Kalau Astra Otoparts mengusung aki Incoe dan GS Astra. Namun yang paling bagus adalah GS Astra. Pelanggan kami banyak yang memilih GS Astra. Mereka melakukan pengecekan dan ganti aki di outlet kami,” pungkasnya. (HANA RATRI/TITIS W)