Hujan Deras, Upaya Pentupan Tanggul Sungai Jajar Grobogan Belum Bisa Dilakukan

Sunarti, warga Desa Sumberagung, Kecamatan Godong sedang memberi pakan ternak kambingnya yang kandangnya hampir terendam air. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganMusibah banjir yang melanda wilayah Kecamatan Godong, Grobogan sejak dua hari lalu kemungkinan belum bisa hilang dalam waktu dekat.

Hal ini disebabkan turunnya hujan deras di wilayah Godong sejak pukul 13.30 WIB. Turunnya hujan deras menyebabkan debit air sungai yang sebelumnya mulai turun kembali beranjak naik.

Kondisi tersebut juga berimbas pada penanganan tanggul jebol di Sungai Jajar. Dengan debit sungai yang masih tinggi, upaya penutupan tanggul belum bisa dilakukan.

”Kita sudah siapkan personil dan alat berat untuk menutup tanggul. Namun, kondisi dilapangan belum memungkinkan,” kata Kepala DPUPR Grobogan Subiyono, Jumat (24/11/2017).

Ruas tanggul jebol ada sebelah utara Dusun Margomulyo, Desa Kemloko dengan panjang jebolan sampai 6 meter. Kemudian, masih ditemukan sekitar lima titik tanggul jebol lagi di Desa Werdoyo. Ruas tanggul tersebut jebol pada Kamis (23/11/2017) dinihari.

Jebolnya tanggul berimbas banjir pada tiga desa di Kecamatan Godong. Yakni, Desa Kemloko, Jatilor dan Werdoyo. Sehari berikutnya, banjir juga menjangkau sebagian wilayah Desa Sumberagung.

Tumpukan sampah di bawah jembatan penghubung Desa Sumberagung dan Desa Bringin menghambat aliran air sungai Jajar. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Dari pantauan dilapangan, disamping tanggul jebol, ada faktor lain yang menyebabkan air dari sungai Jajar meluap ke perkampungan. Yakni, banyaknya sampah dibawah sejumlah di jembatan yang melintasi sungai. Adanya sampah menjadikan arus air menjadi terhambat sehingga meluber ke kawasan sekitarnya.

Sebelum hujan turun, warga memang sempat khawatir dengan kondisi cuaca. Yakni, sejak pagi, kondisi langit sudah tertutup awan.

”Saya berharap tidak turun hujan dulu sebelum tanggul ditutup. Kasihan ternak saya kedinginan. Soalnya, kalau cuaca terlalu dingin bisa rentan penyakit,” kata Sunarti, warga Desa Sumberagung.

Saat ditemui, Sunarti baru beranjak dari kandang kambingnya yang ada dibelakang rumah. Kandang dengan konstruksi kayu yang berisi enam ekor kambing etawa itu dibuat model panggung. Sementara pekarangan dibawah kandang tersebut digenangi air setinggi lutut.

”Saat ini tinggal pekarangan dibelakang rumah yang masih tergenang air. Tadi malam air sempat masuk rumah warga sekitar sini,” katanya. 

Editor: Supriyadi

Depo Air Pegunungan Muria Disegel

Kasat Shabara Polres Kudus mengecek saluran air yang dijualbelikan di Colo, Dawe. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Keinginan sejumlah masyarakat dan LSM menutup usaha air pegunungan akhirnya direalisasikan. Rabu (8/11/2018), petugas gabungan mendatangi puluhan depo air pegunungan untuk disegel.

Penyegelan dilaksanakan Balai Besar Wilayah Sungai  (BBWS) Pemali Juana bersama dengan Satpol-PP Provinsi Jateng. Selain itu, dilibatkan pula petugas dari Satpol-PP Kudus, Polres Kudus, Kodim dan juga sejumlah instansi pemerintah terkait lainya.

Kepala Satpol-PP Kudus Djati Solechah menyatakan, penyegelan dilakukan oleh provinsi Jateng. Sedangkan pihak Pemkab Kudus, sifatnya membantu penertiban saja lantaran lokasinya di Kudus. Hal itu sesuai dengan permintaan dari provinsi Jateng.

“Kami mengirim sejumlah petugas untuk membantu penyegelan. Bersama dengan provinsi dan petugas lainya,” ungkap dia.

Penyegelan dilaksanakan sekitar pukul 09.00 WIB dengan kumpul di Kecamatan Dawe terlebih dahulu. Setelah itu dilakukan penyegelan di lokasi depo air Pegunungan Muria.

Djati menyebutkan, penyegelan dilaksanakan kepada 21 depo air minum, yang terdapat di Desa Kajar, Piji Dukuh Waringin Kecamatan Dawe dan Desa Rahtawu Kecamatan Gebog. Semuanya disegel hari ini secara bersamaan.

Sebelumnya, sejumlah masyarakat dan LSM di Kudus memprotes eksploitasi air pegunungan. Bahkan beberapa kali aksi digelar khusus meminta air pegunungan segera ditutup.

Editor: Supriyadi

Alamak, Meski Sudah Sering Hujan Permintaan Droping Air di Jepara Justru Meningkat

Warga Desa Kedung Malang antre mengisi jeriken, pada saat droping air yang dilakukan BPBD Jepara, beberapa saat lalu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Hujan yang tak merata menyebabkan beberapa wilayah di Kabupaten Jepara masih mengalami krisis air. Bahkan di beberapa desa permintaan droping air bersih meningkat drastis. 

Seperti di Desa Kedungmalang dan Karangaji, Kecamatan Kedung. Dua desa itu awalnya hanya membutuhkan 6.000 liter air (tiga tangki) per pekan. Kini BPBD Jepara harus menggelontor total 12.000 liter atau enam tangki air per pekan. 

“Di Desa Sumberejo, Kecamatan Donorojo, kami bahkan mengangkut air menggunakan truk kecil (pikap) dan mengambil air dari sumur dahulu. Sekali angkut biayanya Rp 80 ribu,” ujar Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara Jamaludin, Jumat (13/10/2017). 

Sampai awal bulan Oktober 2017, ada tujuh desa yang mengalami krisis air. Ketujuh desa itu adalah, Sumberejo, Bategede, Blimbingrejo, Tunggul Pandean, Kalianyar dan Raguklampitan. 

Ia memperkirakan, permintaan droping air akan menurun ketika intensitas hujan sudah sering dan merata pada akhir bulan Oktober atau awal November. Namun demikian, berkaca pada pengalaman tahun lalu, untuk wilayah Desa Kedung Malang, Karangaji, Kalianyar dan Sumberejo, krisis air akan berlangsung hingga bulan Desember. 

Editor: Supriyadi

Tak Mengandung Zat Kimia, Semburan Air di Karanggeneng Grobogan Tetap Tak Layak Konsumsi

Semburan air di Desa Karanggeneng, Kecamatan Godong, Grobogan sempat mengagetkan warga belum lama ini. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganKekhawatiran warga jika semburan air di Desa Karanggeneng, Kecamatan Godong, Grobogan mengandung zat berbahaya ternyata tidak terbukti. Dari hasil penelitian, air yang keluar dari semburan tidak mengandung zat kimia berbahaya.

”Masyarakat tidak perlu panik. Air yang keluar tidak ditemukan unsur kimia yang berbahaya,” kata Kepala Balai Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Wilayah Kendeng Selatan Agus Sugiharto.

Dia menjelaskan, semburan air itu tidak perlu ditutup. Selain makan biaya, penutupan akan menimbulkan potensi bahaya bila ada tekanan gas lagi. Air yang keluar dari semburan disarankan untuk dialirkan ke sawah.

”Meski tidak ada zat kimia, air itu tidak bisa dikonsumsi. Tetapi, masih bisa untuk irigasi,” ujarnya.

Menurut Agus, air tanah bisa menyembur ke permukaan karena adanya tekanan gas, sehingga terdorong keluar. Fenomena ini merupakan hal wajar di daerah Blora dan Grobogan yang memiliki potensi hidrokarbon berupa gas atau minyak.

Fenomena alam di Karanggeneng ini mirip Bleduk Kuwu yang memiliki energi terkumpul menekan ke atas (gas). Semburan akan tenang setelah tidak ada lagi tekanan. Ia meminta supaya masyarakat memahami suklus tersebut sehingga tidak terjadi kepanikan.

Peristiwa seperti itu sempat terjadi pada pertengahan tahun 2016 lalu. Setelah ditelusuri semburan air itu keluar dari pipa bekas sumur pompa yang sudah lama tidak digunakan. Kemungkinan, sudah lebih 20 tahun sumur pompa itu tidak digunakan dan pipanya sudah tertutup tanah.

Hanya saja, semburan air di lahan kosong yang sekarang ditanami pisang dan kelapa itu keluarnya tidak tentu. Kadang kecil dan sempat sampai setinggi 4 meter.

Editor: Supriyadi

Air Bersih Langka, Warga Turung Jepara ‘Ngangsu’ Hingga 2 Kilometer

Sejumlah petugas melakukan droping air bersih di Jepara, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sumur-sumur milik warga Dukuh Turung,  Desa Tanjung, Kecamatan Pakis Aji mulai mengering. Hal ini telah berlangsung selama dua bulan terakhir.

Kepala Desa Tanjung Dwi Ganoto mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan air harian, warganya harus ngangsu (mengambil air) ke Dukuh Tanjungsari. Hal ini tak mudah, sebab jarak di antara dua dukuh itu berjauhan.

“Untuk mendapatkan air bersih harus ke dukuh sebelah jaraknya sekitar dua kilometer. Belum lagi letak dukuh Turung yang berada di ketinggian 400 meter di atas ketinggian permukaan laut,” kata Ganoto, Kamis (21/9/2017).

Menurutnya, di Dukuh Turung dihuni oleh 48 kepala keluarga. Belakangan kondisi itu kian parah pada puncak kemarau seperti ini. 

Berbagai upaya pun ditempuh warga, termasuk meminta droping air dari kepolisian sektor Pakis Aji. Ganoto mengatakan, sebelumnya sudah ada bantuan dari polsek setempat. 

“Ya bersyukur, dapat meringankan kondisi warga Dukuh Turung yang berada di RT 35 RW 04 Desa Tanjung,” tambahnya.

Selain desa tersebut, di Jepara terdapat wilayah lain yang mengalami kondisi serupa. Diantaranya Desa Kedung Malang, Desa Karangaji dan Desa Kalianyar di Kecamatan Kedung. Yang lain tersebar di Desa Blimbingrejo dan Desa Tunggul Pandean Kecamatan Nalumsari, serta Desa Raguklampitan di Kecamatan Batealit. 

Editor: Supriyadi

DPRD Kudus Mau Bantu Pengusaha Air Pegunungan Muria, Asal…

Ketua DPRD Kudus Masan (baju biru) saat mendengarkan keluh kesah pengusaha air pegunungan Muria di kantor dewan, Rabu.  (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – DPRD Kudus menerima kedatangan pengusaha air pegunungan Muria, Rabu (30/8/2017). Dewan juga memberikan solusi kepada mereka. Diketahui, sejumlah pengusaha air minum pegunungan Muria, mendatangi kantor DPRD Kudus. Mereka wadul ke dewan menyusul adanya surat dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, terkait pengurusan izin usaha.

Dalam surat itu, BBWS menyampaikan agar pengusaha air Pegunungan Muria mengurus perihal perizinan usaha. Jika akhirnya pengusaha air tidak mengurus izin, maka usahanya akan ditutup. Selama ini, mereka menjalani usaha tanpa mengantongi izin.

Menanggapi itu, Ketua DPRD Kudus Masan menemui mereka secara langsung. Masan meminta mereka memproses izinya terlebih dahulu. “Dalam surat tersebut sudah dijelaskan diminta mengurus izin. Ada item satu hingga sembilan yang harus dilengkapi. Kalau ada yang sudah mengurus izin minimal tujuh item saja, maka kami bisa membantu memintakan untuk memberikan kelonggaran,” katanya kepada pengusaha air di ruang komisi C DPRD Kudus.

Masan menilai tak sulit jika pengusaha air berniat mengurus izin. Termasuk mengisi pendaftaran di BBWS, mengusulkan izin, peta bangunan dan sebagainya. Hal itu hendaknya dipatuhi. Tugas DPRD adalah mengayomi masyarakat. Dewan mau mengayomi, dengan syarat pengusaha patuh aturan.

Menurutnya, semua pengusaha harus patuh sesuai prosedur. Dalam hal ini, soal pengurusan izin. Jika proses tak dilakukan maka itu sama saja menyalahi aturan. “Saya tunggu hari ini atau besok, bagi yang sudah mengurus dapat diserahkan ke ruangan saya. Kalau tidak ada, berarti belum mengurusnya,” ujarnya.

Masan menambahkan, sebenarnya para pelaku bisnis eksploitasi air pegunungan merupakan usaha yang mahal. Investasi yang dikeluarkan juga tak sedikit bahkan mencapai ratusan juta. Seperti membeli truk tangki saja, itu sudah memakan biaya ratusan juta. Begitu pula dengan hal-hal lainya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : Diminta Urus Izin, Pengusaha Air Minum Muria Malah Curhat ke Dewan

Diminta Urus Izin, Pengusaha Air Minum Muria Malah Curhat ke Dewan 

Pengusaha air melakukan audiensi ke DPRD Kabupaten Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah pengusaha air minum pegunungan Muria, mendatangi kantor DPRD Kudus, Rabu (30/8/2017). Mereka wadul ke dewan menyusul adanya surat dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, terkait pengurusan izin usaha.

Dalam surat itu, BBWS menyampaikan agar pengusaha air Pegunungan Muria mengurus perihal perizinan usaha. Jika akhirnya pengusaha air tidak mengurus izin, maka usahanya akan ditutup. Selama ini, mereka menjalani usaha tanpa mengantongi izin.

Mardiyanto, salah seorang pengusaha air di kantor dewan mengatakan, pihaknya berharap dukungan dari wakil rakyat. Pengusaha air itu meminta waktu guna melakukan pengurusan perizinan.

“Kami di sini sifatnya memohon perlindungan dan memohon bantuan supaya bisa memperjuangkan nasib kami. Jadi supaya tidak ditutup,” kata Mardiyanto saat audiensi di ruang rapat Komisi C DPRD Kudus.

Selama ini, pengusaha menggantungkan perekonomiannya dari usaha air. Di Kudus ini terdapat 202 orang pengusaha air. Di Kajar Colo, terdapat sekitar 20 depo pengisian air. Sementara air itu berasal dari buangan warga setempat. Pengusaha memanfaatkan air buangan warga, untuk dijual ke masyarakat yang membutuhkan.

“Sebenarnya kami tak bisa disebut sebagai pengusaha karena modal yang masih kecil, berbeda dengan pabrik yang besar. Kami di sini juga tak demo, karena jika demo kami bisa datangkan massa banyak sampai ribuan,” ungkap Mardiyanto.

Dia mengklaim masyarakat setempat tak ada yang keberataan dengan usaha tersebut.Selama ini, usaha berjalan tanpa masalah. Jika ada pihak yang merasa keberatan hingga melakukan unjuk rasa, dia mencurigai jika aksi itu dilakukan karena bayaran.

Editor : Akrom Hazami

 

Air Sungai Karangrandu Jepara Menghitam 

Warga memperlihatkan air sungai yang menghitam di Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Air Sungai Gede Karangrandu yang bermuara di Laut Jawa menghitam. Hal ini mengakibatkan warga yang ada di Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Jepara, tak berani memanfaatkan air tersebut karena berwarna dan berbau menyengat. 

Tidak hanya menghitamkan sungai, hal tersebut juga mengakibatkan sumur warga tercemar. Helmi (40) warga RT 5, RW 5, Karangrandu mengaku, kejadian itu terjadi sudah setahun belakangan. Hanya bila musim hujan, air yang berlebih membawa endapan hitam tersebut hanyut. 

“Sudah tahun lalu seperti ini. Namun kalau hujan kan air banyak, jadi terbawa tidak menghitam seperti ini. Kalau musim kemarau kan debit air berkurang, makannya airnya jadi terlihat hitam seperti ini,” tuturnya, Selasa (8/8/2017).

Ia berujar kondisi tersebut jelas berpengaruh terhadap kondisi sumur, karena pasti terjadi rembesan. Hal itu dibenarkan oleh warga lain Fendy. Menurutnya, kejadian itu menjadi semakin parah semenjak hujan tak lagi turun. 

“Empat hari ini menjadi semakin parah soalnya sudah tidak ada hujan. Ini sumurnya semakin lama juga ikut tercemar karena merembes dari sungai ke sumber air minum warga,” urainya. 

Jika telah demikian warga tak berani mengonsumsi air sumur. Mereka lebih memilih membeli air minum dalam kemasan.  “Ya tidak berani diminum karena berbau. Untuk minum beli air kemasan, sementara air sumur masih dimanfaatkan untuk menyuci baju dan sekedar mandi,” tambahnya. 

Subhan warga lain berujar, kondisi itu semakin terlihat ketika Sungai Gede dibendung untuk perbaikan tanggul. Jika dalam kondisi normal, efek tersebut tak sebegitu terlihat. 

Ia menjelaskan air Sungai Gede Karangrandu disalurkan ke saluran irigasi pertanian warga. Sehingga praktis memengaruhi kondisi tumbuhan yang tumbuh di sawah. Selain itu, banyak ikan yang tewas karena itu. 

Dirinya menyebut, hitamnya air sungai dimulai sejak ada pabrik yang berada di alur sungai tersebut.  “Tak jelas apa yang memengaruhi hitamnya sungai ini. Namun hal ini terjadi sejak berdirinya pabrik dialur sungai ini,” terang Subhan. 

Editor : Akrom Hazami

PDAM Jepara Gandeng NGO Amerika Untuk Tingkatkan Akses Air Bersih

PDAM Jepara bekerjasama dengan NGO asal Amerika Water.org untuk meningkatkan akses air bersih bagi MBR dan peningkatan kapabilitas karyawan perusahaan penyedia air minum tersebut. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jepara menggandeng organisasi non-pemerintah asal Amerika, Water.org guna meningkatkan kapabilitas pegawai dan meningkatkan akses air untuk  masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Melalui kerja sama bertajuk WaterConnect diharapkan dapat menjembatani akses air bersih dan sanitasi yang layak kepada 6000 MBR. 

Pada kesempatan itu Kamis (3/8/2017), hadir CEO Water.org Gerry John White, beberapa jajaran direksi lembaga tersebut seperti Adam Schechter  dan Terrence Trayvick. Turut hadir pula Direktur PDAM Batang Yulianto yang juga bekerjasama dengan lembaga tersebut.

Direktur PDAM Jepara Prabowo mengungkapkan, program WaterConnect bertujuan untuk menjembatani akses finansial MBR untuk mendapatkan layanan perpipaan perusahaan penyedia air. Program berdurasi dua tahun tersebut, diproyeksikan bisa menjangkau 6000 keluarga. 

Untuk mewujudkannya, PDAM Jepara mendapatkan hibah dari lembaga tersebut lebih kurang Rp 1 miliar. “Program ini, menyasar masyarakat berpenghasilan rendah agar mendapatkan akses air bersih dan sanitasi yang layak,” katanya. 

Prabowo  menggarisbawahi bantuan yang diberikan bukan diwujudkan dalam bentuk fisik. Akan tetapi dalam kurun waktu dua tahun, lembaga tersebut berikhtiar untuk meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia dari pekerja perusahaan daerah tersebut. 

“Selain itu mereka (Water.org) juga membantu perencanaaan bisnis dalam pembuatan standar operasional, mengetahui pasar (pelanggan) yang tepat. Bantuannya bukan bersifat fisik namun lebih condong peningkatan kapabilitas manusianya,” tuturnya. 

CEO Water.org Gerry John White mengatakan, permasalahan air bersih dan sanitasi sudah menjadi kebutuhan bersama. Oleh karenanya, melalui organisasi nirlabanya dirinya berusaha untuk menjembatani penyediaan kebutuhan pokok tersebut. 

Di samping itu, pihaknya terus berupaya mendorong mitra kerjanya untuk terus berinovasi untuk bisa mendapatkan akses air bersih bagi masyarakat yang dilayani. “Di ruangan ini ada yang punya ponsel pintar, nah saya yakin semua punya. Hal itu karena pembuat ponsel terus berinovasi untuk menciptakan benda tersebut, sehingga semua orang bisa mendapatkannya,” kata dia. 

Dwinita Wulandini Program Manager Water.org Indonesia menyebut, contoh nyata bantuan bagi MBR adalah memberikan akses kepada lembaga keuangan mikro. “Dengan jembatan tersebut, kita berharap masyarakat yang tidak mampu membayar (layanan air bersih) secara tunai, bisa mencicil lewat bantuan lembaga keuangan mikro tersebut,” jelasnya. 

Ia menyebut, dana hibah yang diberikan lebih difokuskan untuk meningkatkan kapasitas dari karyawan PDAM. Namun demikian di Indonesia, baru dua wilayah yang bekerjasama dengan Water.org yakni Kabupaten Jepara dan Batang. 

Editor : Akrom Hazami

Pompa Rusak, Pelanggan PDAM di Penawangan Grobogan Ngangsu Air

Instalasi pengolahan air PDAM unit Penawangan tidak bisa mengalirkan air ke rumah pelanggan karena pompa rusak. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Para pelanggan air PDAM di wilayah Kecamatan Penawangan, Grobogan, dibikin kacau dalam beberapa hari terakhir. Gara-garanya, pasokan air ke rumah pelanggan terhenti total.

Padahal pelanggan di wilayah Penawangan ini jumlahnya mencapai ribuan dan tersebar di beberapa desa. Antara lain Desa Wolo, Penawangan, dan Ngeluk.

Akibat macetnya pasokan air itu, aktivitas para pelanggan sehari-hari jadi terganggu. Terlebih bagi pelanggan yang mengandalkan pasokan air untuk keperluan usaha. Seperti warung makan dan industri rumah tangga.

“Saya minta pihak PDAM segera menangani masalah terhentinya pasokan air ini Sebagai pelanggan, saya protes dengan macetnya air selama berhari-hari ini,” kata Yulianto, salah seorang pelanggan PDAM.

Terhentinya aliran PDAM, membuat Yulianto terpaksa ngangsu (ambil) air ke sumur tetangga. Kebetulan sumber air di sumur milik tetangga dekatnya cukup besar sehingga bisa dipakai oleh beberapa keluarga. Meski demikian, ada juga warga yang terpaksa beli air karena kebutuhannya cukup banyak tiap hari.

Terkait dengan terhentinya pasokan air itu, ia sempat mendatangi kantor pusat PDAM  di Purwodadi untuk melayangkan komplain serta minta penjelasan penyebab macetnya pasokan air tersebut. Dari petugas di situ dijelaskan jika terhentinya pasokan air disebabkan adanya kerusakan pompa di instalasi pengolahan air unit Penawangan.

Sementara itu, Direktur PDAM Grobogan Bambang Pulunggono ketika dikonfirmasi wartawan membenarkan jika pasokan air ke rumah pelanggan di wilayah Penawangan terhenti sejak beberapa hari lalu. Hal itu disebabkan pompa di instalasi pengolahan air mengalami kerusakan.

“Untuk PDAM unit Penawangan ada kerusakan pompa. Saat ini, proses perbaikan masih kita lakukan dan hari ini kita targetkan sudah bisa selesai,” jelasnya.

Bambang menyatakan, terkait dengan kondisi itu, pihaknya sudah melakukan upaya darurat untuk bisa mengalirkan air ke rumah pelanggan. Yakni, dengan menginjeksi air dari mobil tangki ke saluran distribusi. Namun, mengingat kapasitas terbatas maka tidak semua rumah pelanggan bisa mendapatkan pasokan air yang diinjeksi tersebut. “Mudah-mudahan, sore atau malam ini pasokan air sudah normal,” imbuhnya. 

 

Editor : Akrom Hazami

 

 

Pasokan Air Kedung Ombo Belum Maksimal, Petani Grobogan Diminta Hemat Air

Saat ini elevasi air WKO naik sekitar 5-10 cm per hari, elevasi air masih berkisar 73 meter dari titik maksimal 90 meter, petani diminta tetap berhemat dalam menggunakan air. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Saat ini elevasi air WKO naik sekitar 5-10 cm per hari, elevasi air masih berkisar 73 meter dari titik maksimal 90 meter, petani diminta tetap berhemat dalam menggunakan air. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Meski sudah masuk musim hujan dengan curah hujan cukup tinggi, namun kondisi ini belum membuat Waduk Kedung Ombo (WKO) penuh air. Terkait dengan hal ini, maka para petani diminta untuk menghemat air.

Kepala Dinas Pengairan Grobogan Subiyono menyatakan, sejak awal masuknya hujan akhir Oktober lalu hingga saat ini elevasi air WKO naik sekitar 5-10 cm per hari. Saat ini, elevasi air masih berkisar 73 meter dari titik maksimal 90 meter.

”Untuk bisa mencapai elevasi maksimal, pasokan air yang masuk tiap hari harus berkisar 14-15 cm. Kondisi ini bisa terjadi, jika intensitas hujan lebih sering terjadi dan merata. Oleh sebab itu, kami mengimbau kepada petani agar menggunakan air sesuai keperluan,” katanya.

Kendati belum mencapai elevasi maksimal, namun kondisi air WKO dinilai lebih baik dibandingkan beberapa bulan lalu. Saat kemarau panjang, elevasi air WKO hanya 68 meter atau menyentuh batas kritis. Seiring mulai turunnya hujan, sedikit demi sedikit elevasi air akhirnya bisa sampai level 73 meter.

Ditambahkan, dengan posisi ini, air dari WKO bisa digelontorkan untuk persiapan musim tanam I awal Desember lalu. Sementara untuk kebutuhan musim tanam II bulan Maret mendatang diperkirakan masih bisa tercukupi dengan kondisi air yang ada saat ini. (DANI AGUS/TITIS W)

Waduk Kedung Ombo Rusak Parah, Penyaluran Air Dilakukan Pengiritan

saluran primer dari Waduk Kedung Ombo yang kondisinya rusak parah. (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

saluran primer dari Waduk Kedung Ombo yang kondisinya rusak parah. (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

GROBOGAN – Rencana perbaikan saluran irigasi Waduk Kedung Ombo tampaknya tidak bisa dilakukan menyeluruh. Sebab, tingkat kerusakan saluran khususnya saluran primer ternyata cukup parah. Jika semuanya diperbaiki maka butuh alokasi dana yang luar biasa besar. Lanjutkan membaca