Banyak Keluhan, Komisi B Minta PDAM Grobogan Tingkatkan Kualitas Pelayanan

MuriaNewsCom, GroboganKetua Komisi B DPRD Grobogan Budi Susilo meminta PDAM Purwa Tirta Dharma Grobogan meningkatkan kualitas pelayanan pada pelanggan. Khususnya, soal kualitas air dan lancarnya pasokan ke rumah pelanggan. Hal itu dilontarkan menyusul banyaknya keluhan dan pengaduan yang disampaikan para pelanggan.

”Hari kamis kemarin, kita sudah memanggil direktur dan badan pengawas PDAM. Hal ini kita lakukan untuk menindaklanjuti keluhan masyarakat. Kami minta keluhan ini segera ditangani dengan memberikan pelayanan yang lebih baik,” tegas Budi.

Budi juga meminta pada pihak PDAM agar menyampaikan pemberitahuan pada pelanggan jika ada gangguan distribusi. Pihak PDAM juga dituntut untuk meningkatkan profesionalitas karyawan.

Direktur PDAM  Grobogan Bambang Pulunggono menyatakan, selama ini ada dua hal yang selalu jadi keluhan pelanggan. Yakni, masih belum bagusnya kualitas air dan belum lancarnya distribusi ke rumah pelanggan.

Pulunggono mengakui jika pelayanan yang diberikan pada pelanggan memang belum maksimal. Sedikit demi sedikit dua hal yang dikeluhkan pelanggan akan segera ditangani.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah membangun satu unit instalasi pengolahan air (IPA) yang saat ini masih dalam tahap penyelesaian. Lokasinya berada di lahan IPA yang ada saat ini di Jl HM Thamrin, seberang Stadion Krida Bhakti Purwodadi. IPA baru ukurannya 15×9 meter dengan kapasitas produksi 50 liter per detik.

”Pembangunan IPA baru masih berjalan dan ini sudah dalam tahap akhir. Dengan adanya IPA baru ini akan memperlancar distribusi air ke rumah pelanggan,” katanya.

Mengenai kualitas air, Bambang menyatakan, salah satu penyebab utama adalah pipa jaringan distribusi yang sudah waktunya diganti. Sebab, sebagian besar pipa saat ini usianya sudah puluhan tahun dan didalamnya terdapat endapan sehingga membuat air jadi keruh.

Editor: Supriyadi

Droping Air Bersih di Jepara Tak Terpengaruh Penutupan Depo Air Minum di Kudus

Petugas memasang papan keterangan usaha air pegunungan ditutup, Rabu (8/11/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Jepara – Proses droping air oleh BPBD Jepara di wilayah yang mengalami krisis air, tak terpengaruh adanya penyegelan depo air pegunungan Muria. Perlu diketahui, untuk bantuan air bersih Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jepara, selama ini bekerjasama dengan depo swasta yang airnya bersumber dari pegunungan Muria. 

“Saat ini masih ada dua desa yang masih krisis air di Jepara yakni, Kedung Malang, Kecamatan Kedung dan Raguklampitan Kecamatan Batealit . Terkait penyegelan beberapa depo di wilayah Muria (Kudus), tidak berpengaruh pada aktifitas penyaluran bantuan air bersih. Sebab sumbernya berbeda,” kata Jamaludin  Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara, Rabu (8/11/2017). 

Sumber air yang digunakan oleh pemasok air bersih BPBD Jepara menurut Jamaludin, berbeda dengan depo air yang kini disegel. Sehingga ia memastikan, bantuan air bersih kepada dua desa yang krisis air tak terpengaruh. Selain dari sumber air pegunungan Muria, pasokan air juga diperoleh dari wilayah Mayong. 

“Ambilnya dia ( sumber air depo swasta) memang dari Muria, namun saya tidak tahu apakah dia punya lahan sendiri atau bagaimana, akan tetapi intinya tidak terganggu. Dulu pernah ada kasus itu (isu penutupan depo) namun setelah saya tanyakan tak ada pengaruhnya,” ucapnya. 

Jamal menuturkan, untuk dua desa itu dijatah droping sebanyak dua kali seminggu. Adapun, batas bantuan air bersih dijadwalkan hanya sampai akhir bulan November, karena intensitas hujan yang telah sering turun. 

Terpisah, Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno mengungkapkan, tidak akan terus-terusan mengandalkan droping air. Pihaknya akan bekerjasama dengan berbagai pihak untuk memutus “bencana” tahunan tersebut. 

“Ibaratnya, kita tak bisa terus-terusan memberikan ikan. Kita mengajukan beberapa bantuan pembuatan sumur kepada beberapa pihak seperti BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) ataupun Geospasial. Selain itu, untuk diwilayah Kedung, kami juga akan menerapkan panen air hujan, untuk kebutuhan non konsumsi,” ujarnya. 

Informasi yang dikumpulkan MuriaNewsCom, hari ini ada sebanyak 21 depo air pegunungan Muria yang disegel oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana. Hal itu karena, dianggap depo air swasta mengeksploitasi air pegunungan untuk keperluan bisnis. Adapun lokasi penyegelan depo air minum berada di Kecamatan Dawe dan Kecamatan Gebog-Kabupaten Kudus. 

Editor: Supriyadi

Ternyata Begini Langkah BBWS Pemali Juana Sebelum Segel Depo Air di Pegunungan Muria

Petugas memasang papan keterangan usaha air pegunungan ditutup, Rabu (8/11/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Cara mematikan dan menghentikan penjualan air Muria dilakukan dengan sejumlah tahapan. Mulai dari pemberian surat peringatan, teguran hingga eksekusi.

Bambang Astoto, Kabag TU BBWS Pemali Juana saat mendampingi eksekusi mengatakan, pihaknya sudah melakukan tiga kali peringatan kepada pemilik usaha air pegunungan. Setelah tiga kali tak diindahkan, barulah eksekusi dilakukan.

“Jadi kalau ada yang bilang penanganan lamban itu tak benar, karena semuanya sesuai dengan prosedur yang berlaku,” katanya Rabu (8/11/2017).

Baca: Depo Air Pegunungan Muria Disegel

Penyegelan dilaksanakan dengan cara memasang papan segel di depan depo isi air.  Selain itu, juga dilakukan penutupan pipa isi ulang air pegunungan dengan cara dipatenkan agar penjualan tak bisa dilaksanakan kembali.

Menurut dia, pengusaha tak bisa lagi melakukan usaha jual beli air pegunungan. Karena, saat melanggar petugas tak akan ragu-ragu membawa yang bersangkutan ke ranah hukum. Sebab, usaha air permukaan pegunungan sifatnya ilegal.

“Kami juga memberikan berita acara sehingga pemilik tahu penegakan aturan. Dan kami rasa Satpol PP Kudus juga sudah cukup untuk menindak penjualan air pegunungan lantaran sifatnya ilegal,” ungkap dia.

Baca: Antisipasi Bentrokan, Ratusan Polisi Kawal Penyegelan Depo Air di Pegunungan Muria

Disinggung soal pelaku usaha yang bakal mengurus izin, dia menyebut kalau itu tidak dimungkinkan. Mengingat aturan yang tidak memperbolehkan air permukaan untuk dijual belikan secara umum.

“Kecuali jika digunakan untuk irigasi dan kebutuhan masyarakat. Itu diperbolehkan,” tegasnya 

Editor: Supriyadi

Baca: Rusak Lingkungan, Warga Pati Tuntut Penambangan Gunung Kendeng Dihentikan

Antisipasi Bentrokan, Ratusan Polisi Kawal Penyegelan Depo Air di Pegunungan Muria

Warga menunjukkan sumber air pegunungan kepada kasat Shabara Polres Kudus AKP Sutopo. Rabu (8/11/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Penyegelan usaha air Pegunungan Muria Rabu (8/11/2017) dikawal ratusan petugas kepolisian Polres Kudus. Selain mengawal, petugas juga disiapkan bertindak saat ada perlawanan.

KBO Polres Kudus Kompol Tugiyanto mengatakan, petugas kepolisian yang diterjunkan dalam penyegelan ada 108 petugas. Semua petugas disebar di semua wilayah penyegelan yang terbagi dalam beberapa kelompok.

“Kami mewaspadai adanya perlawanan dari masyarakat. Sehingga petugas juga disiagakan dalam penyegelan kali ini,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Baca: Depo Air Pegunungan Muria Disegel

Menurut dia, ratusan petugas yang disiapkan tak hanya berasal dari Polres Kudus saja. Namun juga dari Polsek Dawe dan Polsek Gebog juga dilibatkan dalam penertiban pagi ini. Karena, lokasi penyegelan juga terdapat di dua kecamatan tersebut.

Dikatakan, petugas diminta selalu siaga selama pengamanan. Ketika ada masyarakat yang memberikan perlawanan atas segel yang dilakukan, petugas juga diminta mengambil sikap sesuai ketentuan yang berlaku.

Selain dari Petugas Kepolisian, pengamanan juga dihadirkan dari Satpol-PP Kudus dan Kodim 0722 Kudus.

Berdasarkan pantauan, penyegelan di sejumlah lokasi nampak aman tanpa adanya perlawanan. Namun petugas tetap siaga selama penyegelan berlangsung.

Editor: Supriyadi

Depo Air Pegunungan Muria Disegel

Kasat Shabara Polres Kudus mengecek saluran air yang dijualbelikan di Colo, Dawe. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Keinginan sejumlah masyarakat dan LSM menutup usaha air pegunungan akhirnya direalisasikan. Rabu (8/11/2018), petugas gabungan mendatangi puluhan depo air pegunungan untuk disegel.

Penyegelan dilaksanakan Balai Besar Wilayah Sungai  (BBWS) Pemali Juana bersama dengan Satpol-PP Provinsi Jateng. Selain itu, dilibatkan pula petugas dari Satpol-PP Kudus, Polres Kudus, Kodim dan juga sejumlah instansi pemerintah terkait lainya.

Kepala Satpol-PP Kudus Djati Solechah menyatakan, penyegelan dilakukan oleh provinsi Jateng. Sedangkan pihak Pemkab Kudus, sifatnya membantu penertiban saja lantaran lokasinya di Kudus. Hal itu sesuai dengan permintaan dari provinsi Jateng.

“Kami mengirim sejumlah petugas untuk membantu penyegelan. Bersama dengan provinsi dan petugas lainya,” ungkap dia.

Penyegelan dilaksanakan sekitar pukul 09.00 WIB dengan kumpul di Kecamatan Dawe terlebih dahulu. Setelah itu dilakukan penyegelan di lokasi depo air Pegunungan Muria.

Djati menyebutkan, penyegelan dilaksanakan kepada 21 depo air minum, yang terdapat di Desa Kajar, Piji Dukuh Waringin Kecamatan Dawe dan Desa Rahtawu Kecamatan Gebog. Semuanya disegel hari ini secara bersamaan.

Sebelumnya, sejumlah masyarakat dan LSM di Kudus memprotes eksploitasi air pegunungan. Bahkan beberapa kali aksi digelar khusus meminta air pegunungan segera ditutup.

Editor: Supriyadi

Dua Desa di Jepara Masih Krisis Air Bersih

Sejumlah petugas melakukan droping air bersih di Jepara, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Wilayah di Bumi Kartini yang mengalami krisis air berkurang drastis semenjak hujan mulai kerap menyambangi. Namun masih ada dua desa yakni Kedung Malang di Kecamatan Kedung dan Sumberejo di Kecamatan Donorojo yang masih membutuhkan pasokan bantuan air bersih. 

Di Desa Sumberejo droping air bahkan dilaksanakan sembilan kali dalam sepekan. Hal ini karena kontur desa yang berada di ketinggian. Sementara di Desa Kedung Malang, dalam seminggu droping air bersih bisa mencapai enam kali.

“Dari tujuh desa, kini hanya tersisa dua yang masih memerlukan bantuan droping air,”  ujar Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara Jamaludin, Selasa (24/10/2017).

Ia mengatakan, saat pendistribusian BPBD Jepara menggunakan tangki milik depo isi ulang air swasta dengan kapasitas 5.000 liter. 

Menurutnya, dua desa yang masih mengalami krisis air bersih merupakan desa dengan tempo kekeringan terlama. Hal itu sesuai dengan pengalaman tahun-tahun lalu. 

Adapun, lima desa lain yang sempat mengalami krisis air bersih tahun 2017 adalah,  Bategede, Blimbingrejo, Tunggul Pandean, Kalianyar dan Raguklampitan.

Editor: Supriyadi

Alamak, Meski Sudah Sering Hujan Permintaan Droping Air di Jepara Justru Meningkat

Warga Desa Kedung Malang antre mengisi jeriken, pada saat droping air yang dilakukan BPBD Jepara, beberapa saat lalu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Hujan yang tak merata menyebabkan beberapa wilayah di Kabupaten Jepara masih mengalami krisis air. Bahkan di beberapa desa permintaan droping air bersih meningkat drastis. 

Seperti di Desa Kedungmalang dan Karangaji, Kecamatan Kedung. Dua desa itu awalnya hanya membutuhkan 6.000 liter air (tiga tangki) per pekan. Kini BPBD Jepara harus menggelontor total 12.000 liter atau enam tangki air per pekan. 

“Di Desa Sumberejo, Kecamatan Donorojo, kami bahkan mengangkut air menggunakan truk kecil (pikap) dan mengambil air dari sumur dahulu. Sekali angkut biayanya Rp 80 ribu,” ujar Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara Jamaludin, Jumat (13/10/2017). 

Sampai awal bulan Oktober 2017, ada tujuh desa yang mengalami krisis air. Ketujuh desa itu adalah, Sumberejo, Bategede, Blimbingrejo, Tunggul Pandean, Kalianyar dan Raguklampitan. 

Ia memperkirakan, permintaan droping air akan menurun ketika intensitas hujan sudah sering dan merata pada akhir bulan Oktober atau awal November. Namun demikian, berkaca pada pengalaman tahun lalu, untuk wilayah Desa Kedung Malang, Karangaji, Kalianyar dan Sumberejo, krisis air akan berlangsung hingga bulan Desember. 

Editor: Supriyadi

Bencana Kekeringan Berakhir, BPBD Grobogan Hentikan Droping Air Bersih

Bantuan air bersih masih terus disalurkan BPBD ke sejumlah desa yang mengalami bencana kekeringan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Hujan yang hampir tiap hari mengguyur di wilayah Grobogan membawa dampak berakhirnya bencana kekeringan. Dengan turunnya hujan menyebabkan desa yang sebelumnya dilanda kekeringan selama hampir tiga bulan, sudah tidak lagi mengalami kesulitan air bersih.

“Saat ini, kita nyatakan kalau bencana kekeringan sudah berakhir. Sejak pekan lalu, hampir tiap hari turun hujan yang merata di seluruh wilayah Grobogan,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBP Grobogan Budi Prihantoro, Selasa (10/10/2017).

Dengan berakhirnya bencana kekeringan maka pelaksanaan droping air bersih yang sudah dilakukan sebelumnya juga dihentikan. Meski begitu, jika masih ada masyarakat yang membutuhkan, droping air akan segera disalurkan.

“Sejak awal Oktober tidak ada lagi permintaan droping air. Beberapa desa kekeringan yang paling parah sudah kita hubungi dan tidak lagi memerlukan kiriman air bersih,” jelasnya.

Menurut Budi, untuk mengatasi bencana kekeringan, pihaknya mendapat alokasi dana sekitar Rp 150 juta guna pelaksanaan droping air. Selama kekeringan, jumlah bantuan yang disalurkan mencapai 300 tangki.

“Anggaran untuk droping air bersih belum kita pakai seluruhnya. Jadi, kalau ada yang masih butuh kiriman bisa kita beri bantuan,” sambungnya.

Ia menambahkan, selain curah hujan yang tinggi, berakhirnya kekeringan juga disebabkan sudah digelontorkannya lagi pasokan air dari Waduk Kedungombo ke berbagai saluran irigasi.

Kondisi ini menyebabkan masyarakat lebih mudah mendapatkan air untuk kebutuhan mandi dan pakan ternak. Sebelumnya, pasokan air sempat dihentikan selama dua bulan karena dalam masa pengeringan dan perbaikan saluran irigasi.

Editor: Supriyadi

Sudah Sering Turun Hujan, BPBD Grobogan Masih Lanjutkan Droping Air Bersih

Bantuan air bersih masih terus disalurkan BPBD ke sejumlah desa yang mengalami bencana kekeringan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski sudah sering turun hujan dalam beberapa hari terakhir, namun pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan masih tetap meneruskan kegiatan droping air bersih ke daerah bencana kekeringan. Hal itu ditegaskan Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono saat ditemui di kantornya, Senin (2/10/2017).

”Memang akhir-akhir ini sudah ada hujan. Namun, kegiatan droping tetap jalan karena masih ada permintaan,” kata Agus.

Menurut Agus, hujan yang turun akhir-akhir ini belum begitu deras. Selain itu, hujan juga belum merata ke seluruh wilayah Grobogan. Oleh sebab itu, di sejumlah desa kondisinya masih membutuhkan air bersih.

”Sudah turunnya hujan memang cukup membantu mengatasi kesulitan warga mendapatkan air bersih. Sebab, air hujan bisa ditampung dalam sumur atau sekedar untuk minum ternak. Namun, hujan ini belum bisa menghentikan bencana kekeringan,” sambungnya.

Dia menjelaskan, disejumlah desa, kondisi kekeringan sudah mulai berkurang. Yakni, di desa-desa yang wilayahnya terdapat saluran irigasi dari Waduk Kedungombo.

Sejak beberapa hari lalu, pasokan air mulai digelontorkan menuju saluran irigasi untuk persiapan musim tanam padi. Sebelumnya, pasokan air sempat dihentikan selama dua bulan karena dalam masa pengeringan dan perbaikan saluran irigasi.

Agus menjelasakan, untuk tahun ini, ada 86 desa di 12 kecamatan yang mengalami kekeringan. Sejak datangnya kekeringan, pihak sudah menyalurkan lebih dari 260 tangki air bersih ke berbagai desa. Penyaluran bantuan air bersih dilakukan bekerjasama dengan PDAM Grobogan.

Penyaluran bantuan air bersih akan terus dilakukan sampai bencana kekeringan berakhir dan tidak ada permintaan dari masyarakat. Untuk penanganan kekeringan tahun ini, Pemkab Grobogan mengalokasikan dana sekitar Rp 150 juta.

”Masyarakat saya minta jangan kuatir. Kalau masih butuh bantuan air langsung hubungi BPBD. Alokasi anggaran untuk penyaluran air bersih masih mencukupi,” ujarnya.

Dia menambahkan, dari 19 kecamatan yang ada, selama ini hanya empat kecamatan yang relatif aman dari bencana kekeringan. Yakni, Kecamatan Tegowanu, Klambu, Gubug dan Godong. 

Editor: Supriyadi

Cari Pipa Bocor, PDAM Grobogan Bongkar Ruas Jalan di Timur Bundaran Simpanglima

Seorang pengendara motor melintasi lokasi pekerjaan penggalian jalan di sebelah timur bundaran Simpanglima Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bagi pengendara yang melintasi jalan di sisi timur bundaran Simpanglima Purwodadi harap waspada. Soalnya, di lokasi itu ada timbunan material tanah bekas galian jalan.

Meski sudah ada rambu-rambu dan portal peringatan namun, sikap waspada perlu dilakukan pengendara. Sebab, disekitar gundukan tanah kondisinya cukup licin setelah turun hujan, Kamis (28/9/2017) sekitar pukul 14.00 WIB.

Pekerjaan pembongkaran ruas jalan itu dilakukan pihak PDAM Purwa Tirta Dharma Grobogan. Tindakan ini dilakukan untuk mencari titik pipa bocor yang diprediksi berada di lokasi tersebut.

”Pekerjaan untuk menangani pipa bocor sudah kita lakukan sejak kemarin. Setelah dibongkar, titik kebocoran sudah kita temukan. Ada sambungan pipa yang lepas,” kata Direktur PDAM Grobogan Bambang Pulunggono.

Menurut Bambang, titik kebocoran sudah berhasil diatasi dan pasokan air kembali normal. Sebelumnya, kebocoran itu sempat mengganggu distribusi air ke rumah pelanggan yang berada di sekitar jalan Hayam Wuruk.

”Sudah kita cek, pasokan air mulai normal. Saat perbaikan, pasokan air sempat kita matikan sebentar. Sekarang sudah lancar,” jelasnya.

Sebelum pembongkaran ruas jalan, Bambang menyatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan kepolisian karena dampak pekerjaan itu akan sedikit mengganggu arus lalu lintas.

Selain itu, koordinasi dengan Dinas pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) juga dilakukan. Nantinya, pihak DPURP akan mengerjakan pengaspalan ulang setelah pekerjaan rampung.

”Sore ini, rencananya akan diaspal ulang karena pekerjaan sudah selesai. Kami minta agar bekas galian ditutup secepatnya agar tidak terlalu lama mengganggu arus lalu lintas,” katanya. 

Editor: Supriyadi

Kekeringan di Jepara Meluas, Delapan Desa Krisis Air Bersih

Warga Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung mengantre saat mendapat pasokan air bersih dari BPBD Jepara, belum lama ini. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Hujan yang sempat mengguyur Jepara, tak lantas menghapus bencana krisis air bersih. Kini ada delapan desa melaporkan mengalami kekurangan air bersih, kepada BPBD Jepara.

Jamaludin Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jepara mengatakan, sebelumnya ada enam desa yang melaporkan kekurangan air bersih. Namun belakangan Desa Sumberejo, Kecamatan Donorojo dan Desa Bategede di Kecamatan Nalumsari yang mengalami krisis air bersih. 

“Di Sumberejo ada empat rukun tetangga yang terimbas kekeringan sehingga membutuhkan bantuan air bersih. Kita sudah melakukan droping ke sana. Sementara di Bategede juga demikian, sudah dilakukan penyaluran bantuan air bersih,” katanya, Rabu (27/9/2017). 

Ia menyebut, hujan yang turun pertama kali pada musim pancaroba justru mengeringkan sumber air warga. Dirinya memrediksi, fenomena tersebut akan terjadi hingga intensitas hujan teratur. 

“Kemarin memang sempat hujan, tapi hujan sekali itu justru mengeringkan sumur warga. Sampai akhir musim kemarau nanti diprediksi akan ada desa lain yang mengalami kekeringan, akan tetapi kami belum bisa memastikan,” tambahnya.

Selain dari BPBD, bantuan air bersih di Jepara juga dilaksanakan oleh pihak lembaga diluar badan tersebut. Jamaludin menyebut, bantuan tersebut berasal dari PMI maupun PD BPR BKK, yang kemudian diarahkan merata ke wilayah yang terkena krisis air. 

Adapun desa-desa yang terlebih dahulu mengalami krisis air bersih adalah, Desa Kedung Malang, Karangaji dan Kalianyar yang terletak di Kecamatan Kedung, disusul dengan Desa Blimbingrejo dan Tunggul Pandean di Kecamatan Nalumsari dan Raguklampitan Kecamatan Batealit.

Editor: Supriyadi

4 Desa di Kecamatan Kayen Pati Digelontor 4 Tangki Air Bersih

Kepala Disdukcapil Pati Dadik Sumardji menyalurkan bantuan air bersih di Desa Kayen, Pati, Senin (25/9/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Empat desa di Kecamatan Kayen mendapatkan bantuan air bersih dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Pati bekerja sama dengan PMI Pati. Bantuan itu diserahkan langsung kepada warga, Senin (25/9/2017).

Bantuan dipusatkan di Desa Kayen, Trimulyo, Pasuruan dan Srikaton. Di Desa Kayen, warga membawa ember untuk menampung air bersih.

Sementara di Trimulyo, air didistribusikan di sumur musala setempat. Sumur itu yang akan digunakan penduduk untuk keperluan air bersih.

Kepala Disdukcapil Dadik Sumardji mengatakan, empat desa di Kayen menjadi sasaran bantuan air bersih karena selama ini belum tersentuh. Padahal, empat desa tersebut sangat membutuhkan air bersih untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

“Hari ini, kami menyisir di rumah-rumah warga untuk mendistribusikan air bersih. Kegiatan ini merupakan inisiatif dan kepedulian Disdukcapil, sehingga kami langsung menggerakkan rekan-rekan untuk menyalurkan air bersih,” ujar Dadik.

Ngatmi (80), penduduk setempat mengatakan, warga selama ini menggunakan air PDAM karena airnya asin. Warga yang kurang mampu masih memanfaatkan air sumur, sedangkan untuk keperluan konsumsi membeli dengan harga Rp 4.000 per galon.

Saat musim kemarau, sumber mata air di sumur habis dan kering kerontang. Karena itu, Ngatmi bersyukur mendapatkan bantuan air bersih dari pemerintah.

Rencananya, bantuan air bersih itu akan digunakan untuk kebutuhan konsumsi, seperti memasak dan minum. Sementara kebutuhan mandi dan mencuci, warga masih menunggu sumber air sumur muncul.

Editor: Supriyadi

4 Desa di Kecamatan Batangan Pati Digelontor 18 Tangki Air Bersih

Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan dan jajarannya dibantu anggota TNI AD mendistribusikan bantuan air bersih di empat desa di Kecamatan Batangan, Pati, Sabtu (23/9/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebanyak empat desa di Kecamatan Batangan mendapatkan bantuan air bersih sebanyak 18 tangki. Bantuan dari Anggota DPR Firman Soebagyo dan Polres Pati itu didistribusikan pada Sabtu (23/9/2017).

Empat desa yang mendapat bantuan, antara lain Desa Ngening, Lengkong, Gajah Kumpul, dan Pecangaan. Keempat desa tersebut mengalami kekeringan yang cukup parah, sehingga perlu mendapatkan bantuan.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Polres Pati untuk menentukan daerah mana yang rawan kekeringan dan warganya betul-betul membutuhkan. Akhirnya ada empat desa yang kami bantu,” ujar Firman.

Setiap tangki berisi 5.000 liter air bersih, sehingga total air bersih yang didistribusikan sebanyak 90.000 liter. Air sebanyak itu disalurkan kepada lebih dari 750 warga.

Rinciannya, Desa Ngening dan Pecangaan mendapatkan lima tangki air bersih. Sementara Desa Lengkong dan Gajahkumpul mendapatkan empat tangki air bersih.

Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan menambahkan, warga di empat desa tersebut selama ini kerap kekurangan air bersih saat musim kemarau melanda. Berbagai upaya sebetulnya sudah dilakukan untuk mengurangi risiko kekeringan setiap musim kemarau.

Hanya saja, geografi di kawasan tersebut memang kekeringan saat musim kemarau karena minim sumber mata air. Karena itu, dia berharap bantuan tersebut bisa dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-sehari.

Distribusi air bersih sendiri dilakukan anggota polisi dengan melibatkan anggota TNI AD dan pemerintah desa setempat. Warga tampak antusias menyambut bantuan air bersih. Rencananya air tersebut akan digunakan untuk memasak, mandi, dan mencuci peranti rumah tangga.

Editor: Supriyadi

Salurkan Air Bersih, Bupati Grobogan Terkenang Perjuangan ’Ngangsu’ Ketika Masih Muda

Bupati Grobogan Sri Sumarni melangsungkan monitoring sekaligus menyalurkan bantuan air bersih di Dusun Ngambilan, Desa Rejosari, Kecamatan Grobogan, Sabtu (23/9/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni melangsungkan monitoring sekaligus menyalurkan bantuan air bersih di Dusun Ngambilan, Desa Rejosari, Kecamatan Grobogan, Sabtu (23/9/2017). Bantuan yang diberikan untuk salah satu desa terdampak kekeringan ini sebanyak enam tangki.

Datangnya bantuan air bersih langsung disambut gembira oleh ratusan warga. Sejak pagi, warga sudah menyiapkan tempat penampungan air di titik distribusi yang sudah ditentukan.

”Alhamdulillah ada bantuan air bersih. Sejak sebulan terakhir, kami kesulitan mendapatkan air bersih karena sumur sudah kering. Untuk kebutuhan sehari-hari, kami mengandalkan air dari embung pertanian dan iuran beli air,” kata Sumini, warga setempat.

Melihat antusias warga menyambut datangnya bantuan air bersih, Sri Sumarni langsung terkenang memori ketika masih muda dulu. Saat kemarau tiba, ia dan saudaranya harus ngangsu air cukup jauh dari tempat tinggalnya di Desa Karangsari, Kecamatan Brati.

Baca Juga: 86 Desa di Grobogan Kesulitan Air Bersih

Selain jauh, saat ngangsu air juga butuh waktu lama karena harus menunggu giliran. Hal itu dilakukan mengingat sumber airnya cukup terbatas, sementara orang yang membutuhkan sangat banyak.

”Kebutuhan air waktu itu sangat banyak karena satu rumah ada 12 orang. Ketika kemarau, tiap hari saya harus ngangsu air pakai klenting. Habis sekolah berangkat ngangsu, nanti pulangnya bisa menjelang petang karena harus antri lama. Kalau pas libur, ngangsu airnya bisa seharian penuh,” katanya.

Sri Sumarni menyatakan, sejak datangnya kekeringan, pihak BPBD sudah menyalurkan lebih dari 200 tangki air ke berbagai desa. Penyaluran bantuan air bersih akan terus dilakukan sampai bencana kekeringan berakhir.

”Masyarakat saya minta jangan kuatir. Kalau masih butuh bantuan air langsung hubungi BPBD. Alokasi anggaran untuk penyaluran air bersih masih mencukupi,” ujarnya.

Editor: Supriyadi

86 Desa di Grobogan Kesulitan Air Bersih

Warga di Desa Rejosari, Kecamatan Grobogan menyambut gembira datangnya bantuan air bersih dari BPBD. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski beberapa hari lalu sempat turun hujan di sebagian wilayah Grobogan namun belum mampu mengatasi kekeringan yang terjadi sejak dua bulan terakhir. Bahkan, data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, bencana kekeringan ini justru makin meluas.

”Beberapa waktu lalu, baru beberapa desa yang terkena dampak kekeringan. Saat ini, sudah ada 86 desa di 12 kecamatan yang mengalami kekeringan,” terang Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono pada wartawan, saat menyalurkan bantuan air bersih di Dusun Ngambilan, Desa Rejosari, Kecamatan Grobogan, Sabtu (23/9/2017).

Makin meluasnya bencana kekeringan ini membuat pihak BPBD kerepotan mendistribusikan bantuan air bersih. Hal ini terkait keterbatasan armada mobil tangki untuk mengedrop air bersih. Dengan kondisi ini penyaluran bantuan itu harus dilakukan bergiliran.

”Untuk pelayanan droping air ini kita lakukan dengan 8 mobil tangki setiap harinya. Sebagian besar amada droping ini adalah milik PDAM Grobogan. Meski armada terbatas, pelaksanaan droping air kita upayakan semaksimal mungkin. Saat ini, sudah 205 tangki air bersih yang kita salurkan ke desa kekeringan,” jelas Agus.

Disebutkan, dari 19 kecamatan yang ada, selama ini hanya empat kecamatan yang relatif aman dari bencana kekeringan. Yakni, Kecamatan Tegowanu, Klambu, Gubug dan Godong.

Untuk kekeringan paling parah ada di Kecamatan Purwodadi, Geyer, Toroh, Pulokulon, Kradenan, Gabus, Karangrayung, Ngaringan, Wirosari, Tawangharjo, dan Grobogan. Di kecamatan ini sebagian besar desanya mengalami kekeringan.

Sementara wilayah Kecamatan Penawangan, Kedungjati, Brati dan Tanggungharjo hanya beberapa desanya saja yang terkena bencana musiman ini.

Untuk penanganan kekeringan tahun ini, lanjut Agus, pihaknya mengalokasikan dana sekitar Rp 150 juta. Jika dana itu habis akan diambilkan anggaran lagi lewat pos dana tak terduga.

Selain dari BPBD, ada juga bantuan air bersih dari pihak luar. Seperti dari PMI, BUMD, Parpol dan organisasi kemasyarakatan.

”Kami akan berupaya semaksimal mungkin agar bantuan air bersih ini bisa tersebar merata serta mencukupi kebutuhan masyarakat. Mudah-mudahan, dalam waktu dekat sudah turun hujan sehingga bencana kekeringan ini bisa berkurang,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Dana Ratusan Juta Digelontor untuk Bantuan Air Bersih di 97 Desa di Pati

Seorang polisi ikut mendistribusikan air bersih di wilayah Pati yang dilanda kekeringan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati menganggarkan dana Rp 100 juta untuk menyalurkan air bersih di 97 desa di Pati yang terdampak kekeringan.

Dana tersebut disalurkan dalam bentuk air bersih sebanyak 400 tangki dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter per tangki.

Sampai saat ini, sudah ada 88 desa yang mendapatkan bantuan air bersih dengan rincian distribusi sebanyak 282 tangki.

“Mekanismenya, pihak desa harus mengajukan permohonan bantuan. Dari 97 desa yang terdampak kekeringan, sudah ada 88 desa yang mengajukan dan langsung kami dropping,” ujar Kepala BPBD Pati Sanusi Siswoyo, Kamis (21/9/2017).

Selain dari BPBD, bantuan air bersih bisa didapatkan dari instansi lain dan perusahaan seperti program Corporate Social Responsibility (CSR). Karena itu, pihaknya memastikan bila warga yang terdampak kekeringan tidak kekurangan air bersih.

Dia menambahkan, wilayah yang paling sering mengalami dampak kekeringan berada di Pati bagian selatan dan timur. Kondisi itu tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Pucakwangi, Winong, Batangan, Gabus dan sebagian Kayen.

Editor: Supriyadi

Air Bersih Langka, Warga Turung Jepara ‘Ngangsu’ Hingga 2 Kilometer

Sejumlah petugas melakukan droping air bersih di Jepara, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sumur-sumur milik warga Dukuh Turung,  Desa Tanjung, Kecamatan Pakis Aji mulai mengering. Hal ini telah berlangsung selama dua bulan terakhir.

Kepala Desa Tanjung Dwi Ganoto mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan air harian, warganya harus ngangsu (mengambil air) ke Dukuh Tanjungsari. Hal ini tak mudah, sebab jarak di antara dua dukuh itu berjauhan.

“Untuk mendapatkan air bersih harus ke dukuh sebelah jaraknya sekitar dua kilometer. Belum lagi letak dukuh Turung yang berada di ketinggian 400 meter di atas ketinggian permukaan laut,” kata Ganoto, Kamis (21/9/2017).

Menurutnya, di Dukuh Turung dihuni oleh 48 kepala keluarga. Belakangan kondisi itu kian parah pada puncak kemarau seperti ini. 

Berbagai upaya pun ditempuh warga, termasuk meminta droping air dari kepolisian sektor Pakis Aji. Ganoto mengatakan, sebelumnya sudah ada bantuan dari polsek setempat. 

“Ya bersyukur, dapat meringankan kondisi warga Dukuh Turung yang berada di RT 35 RW 04 Desa Tanjung,” tambahnya.

Selain desa tersebut, di Jepara terdapat wilayah lain yang mengalami kondisi serupa. Diantaranya Desa Kedung Malang, Desa Karangaji dan Desa Kalianyar di Kecamatan Kedung. Yang lain tersebar di Desa Blimbingrejo dan Desa Tunggul Pandean Kecamatan Nalumsari, serta Desa Raguklampitan di Kecamatan Batealit. 

Editor: Supriyadi

Kekeringan, Perhutani KPH Purwodadi Bantu Air Bersih di Desa Sekitar Hutan

Beberapa petugas dari Perum Perhutani KPH Purwodadi dan Pramuka Saka Wanabakti menyalurkan bantuan air bersih pada masyarakat yang terkena dampak kekeringan di Desa Gedangan, Kecamatan Wirosari. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Purwodadi memberikan bantuan air bersih ke sejumlah desa di wilayah kerjanya yang mengalami kekeringan. Salah satunya adalah Desa Gedangan, Kecamatan Wirosari.

Administratur KPH Purwodadi Dewanto mengatakan, pemberian bantuan air bersih itu merupakan kepeduliannya pada warga sekitar kawasan hutan yang terdampak bencana kekeringan sejak beberapa waktu lalu. Upaya meringankan beban warga, saat ini baru sebatas menyalurkan bantuan air bersih.

“Musim kemarau kali ini, ada beberapa desa yang mengalami kekeringan dan sulit mendapatkan air bersih. Salah satunya di Desa Gedangan ini. Dalam penyaluran air bersih, kita juga dibantu adik-adik dari Pramuka Saka Wanabakti Purwodadi,” ujar Dewanto, usai menyalurkan bantuan air bersih, Senin (17/9/2017).

Dewanto mengaku cukup prihatin dengan adanya bencana kekeringan. Terkait kondisi itu, ia berharap agar masyarakat bersama dengan Perhutani selalu mengedepankan upaya pelestarian hutan demi melindungi keberadaan sumber air.

Sementara itu, datangnya bantuan air bersih disambut gembira warga setempat. Begitu armada pengangkut air tiba, puluhan warga langsung antri untuk mendapatkan jatah pembagian.

“Lumayan ada bantuan air bersih.  Dengan datangnya bantuan, minimal saya tidak bingung cari air sampai tiga hari,” kata Sudarno, warga setempat. (NAP)

Editor: Supriyadi

Atasi Kekeringan, 20 Desa di Pati Bakal Dibangun Pamsimas

Masyarakat Desa Lumbungmas, Pucakwangi saat menerima bantuan air bersih dari Pemkab Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bencana kekeringan yang melanda sejumlah desa di Kabupaten Pati mengundang keprihatinan dari banyak pihak. Berbagai bantuan air bersih sudah didistribusikan ke desa-desa terdampak kekeringan.

Bupati Pati Haryanto mengatakan, upaya penanganan kekeringan di sejumlah desa di Pati bukan hanya dengan menggelontorkan bantuan air bersih. Lebih dari itu, dia akan membuat solusi preventif yang bisa dimanfaatkan masyarakat.

Salah satunya, upaya pengadaan air bersih melalui penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (pamsimas). Tahun ini, bantuan pamsimas akan diberikan kepada 20 desa.

Bantuan pamsimas diprioritaskan di daerah-daerah yang darurat kekeringan saat musim kemarau tiba. Dana penyediaan pamsimas sendiri diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Pati dan APBN.

“Dari 20 desa yang mendapatkan bantuan pamsimas, enam desa dianggarkan APBD sedangkan 14 desa lainnya dapat anggaran dari APBN. Upaya itu kami tempuh agar masyarakat bisa meminimalisasi dampak kekeringan,” kata Haryanto, Kamis (14/9/2017).

Selain pamsimas, Haryanto sudah memerintahkan PDAM Tirta Bening untuk menempuh langkah khusus dalam rangka mencari sumber mata air di daerah terdampak kekeringan. Sumber mata air itu yang nantinya akan menjadi penghidupan bagi masyarakat.

Tak hanya itu, Haryanto menginstruksikan instansi terkait dan masyarakat untuk menggalakkan penanaman pohon dan membuat resapan biopori di daerah darurat kekeringan. Menurut dia, berbagai langkah preventif harus dilakukan untuk mengurangi risiko dampak kekeringan.

“Akar pohon itu kan fungsinya ganda, bisa mengikat air saat kekeringan dan menguatkan tanah saat banjir. Karena itu, aksi penanaman pohon, pembuatan resapan biopori dan pencarian sumber mata air sangat perlu untuk menghindari dampak kekeringan yang lebih parah,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Kekeringan, Warga Lumbungmas Pati Digelontor 5 Tangki Air Bersih

Distribusi air bersih di Desa Lumbungmas, Pucakwangi, dihadiri Bupati Pati Haryanto, Rabu (13/9/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warga Desa Lumbungmas, Kecamatan Pucakwangi mendapatkan bantuan lima tangki air bersih dari Pemkab Pati. Bantuan itu diserahkan langsung kepada warga, Rabu (13/9/2017).

Penyerahan air bersih dilakukan Bupati Pati Haryanto, Wakil Bupati Pati Saiful Arifin, Ketua DPRD Pati Ali Badrudin dan anggota DPR RI Evita Nursanty dengan dibantu anggota TNI AD dan polisi.

Haryanto mengatakan, distribusi air bersih ke sejumah wilayah terdampak kekeringan saat ini memang terkendala minimnya truk tangki yang digunakan untuk mengangkut air. Namun, dia optimistis bantuan itu akan terdistribusikan dengan baik.

“Permohonan dari warga tetap kami akan berupaya untuk mencukupi. Tapi pendistribusiannya akan dilakukan secara bertahap, karena armada tangki hanya berjumlah enam unit saja, yaitu dari DPUTR, PDAM, PMI dan BPBD,” kata Haryanto.

Air bersih yang didistribusikan ke berbagai desa terdampak kekeringan diakui akan menyesuaikan kebutuhan warga. Bila distribusi air ke Desa Lumbungmas masih kurang, pihaknya akan kembali mengirimkannya lagi dalam waktu yang dekat.

Sementara itu, Evita akan membawa persoalan kekeringan di Pati untuk dibahas ke parlemen. Dia yang melihat langsung kekeringan di Pati bisa menjadi masukan untuk disuarakan kepada pemerintah pusat.

“Saya sudah melihat secara langsung kebutuhan masyarakat Pati akan air bersih. Ini akan kami gunakan sebagai masukan supaya bisa ditindaklanjuti pemerintah pusat,” tandas Evita.

Editor: Supriyadi

Krisis Air di Jepara Semakin Meluas BPBD Berencana Ajukan Penggunaan Dana Tak Terduga

Seorang warga Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung menuangkan air bersih, Rabu (13/9/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Krisis air bersih tak hanya terjadi di Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung. Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, hingga kini dampak musim kemarau meluas menjadi enam desa. 

“Setelah kemarin terimbas empat desa (Kedung Malang, Kalianyar di Kecamatan Kedung, Blimbingrejo-Nalumsari dan Raguklampitan-Batealit), kini ada dua desa lagi yang melaporkan kondisi kekeringan air, yakni Desa Tunggul Pandean di Nalumsari dan Karangaji di Kecamatan Kedung. Hanya saja, laporan resmi (tertulis) belum masuk kepada kami,” tutur Jamaludin Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara, Rabu (13/9/2017).

Menurutnya, kejadian di Tunggul Pandean berimbas pada sebuah sekolah dan lingkungan disekitarnya. Sementara di Karangaji menimpa pada lingkungan desa. 

Baca Juga: Warga Kedung Malang Jepara Rela Tak Mandi untuk Berhemat Air

Ia mengungkapkan, bila sudah ada surat resmi yang masuk BPBD Jepara akan melakukan droping air. Namun hingga saat ini pihaknya belum melakukannya karena belum ada permintaan droping air secara resmi. 

“Saat ini kami baru melaksanakan droping di empat desa yang telah melakukan pelaporan resmi (Kedung Malang, Raguklampitan, Kalianyar dan Blimbingrejo). Frekuensinya sebanyak tiga kali seminggu,”

Adapun, untuk satu kali droping, BPBD Jepara menurunkan tanki air gunung yang berasal dari Kudus yang bervolume sekitar 7000 liter. 

Terkait dana, Jamal mengatakan akan mengevaluasi penggunaanya. Hal itu karena dimungkinkan krisis air bersih semakin meluas. Padahal anggaran yang digunakan untuk droping air relatif sedikit. 

Dikatakannya sebelumnya, untuk anggaran BPBD diberikan jatah sebanyak Rp 22 juta. Namun ketika dampak musim kemarau semakin meluas, pihaknya bisa saja meminta bantuan dari bupati. 

“Ini nanti anggaran dari APBD untuk droping air kita rekapitulasi berapa yang telah keluar. Jika anggaran tersebut tak terpenuhi, maka kita akan memohon kepada Pak Bupati untuk menggunakan dana tak terduga,” urainya.

Editor: Supriyadi

Warga Kedung Malang Jepara Rela Tak Mandi untuk Berhemat Air

Warga RT 3 dan RT 5 Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung antre air bersih , Rabu (13/9/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Warga RT 3 dan RT 5 Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung rela tak mandi untuk berhemat air. Hal itu lantaran sudah seminggu terakhir sumber air PAM yang digunakan sudah tak mengalir. Praktis, warga hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah berupa droping air bersih. 

“Seminggu terakhir ini airnya tidak mengalir sama sekali. Ada air sumur, namun jika musim kemarau seperti ini rasanya asin. Sehingga hanya mengandalkan bantuan untuk masak dan minum. Kalau mencuci atau mandi ya pergi ke rumah saudara yang airnya masih ada,” tutur Warga RT 3/RW 3 Desa Kedung Malang, Khayatun Nissa (40), Rabu (13/9/2017). 

Saat ditemui, Khayatun tengah mengantre air bantuan dari BPBD Jepara. Ia mengatakan, setiap kali bantuan datang ia dapat mengumpulkan sekitar lima jeriken bervolume sekitar 20 liter. 

Dari jeriken tersebut, ia lantas membagi-baginya untuk berbagai kebutuhan seperti memasak dan minum. Dirinya menyebut telah berlangganan air dari Perusahaan Air Minum. Namun di musim seperti ini, tidak ada air yang keluar dari saluran. 

“Biasanya kalau keluar ya bayarnya sekitar Rp 60 ribu sampai Rp 70 ribu. Namun kalau seperti ini ya tetap bayar meskipun sedikit sekitar Rp 40 ribu,” urainya.

Hal serupa diakui oleh Paimatun (50). Menurutnya, ia tidak berlangganan air PAM namun hanya mengandalkan bantuan air bersih. 

“Satu minggu ya habis sakblong (drum ukuran 150 liter). Namun kalau dibuat mandi ya habisnya cepat,” kata dia. 

Staf Kesejahteraan Desa Kedung Malang Muhammad Khamim mengatakan, setidaknya ada dua RT yang terimbas kekeringan. “Satu RT jumlah Kepala Keluarganya ada sekitar 80 sampai 90. Yang terimbas ada dua RT, Rukun Tetangga 3 dan 5,” kata dia. 

Khamim menyebut, setiap tahun daerah tersebut selalu mengalami kekeringan. Namun, ia mengatakan tahun ini yang paling parah. Selain droping air dari BPBD Jepara, desa tersebut juga mendapatkan bantuan air dari PDAM Jepara, guna mengatasi masalah itu.

“Hari ini selain dari BPBD ada juga bantuan dari PDAM Jepara yang menyuplai air kepada warga kami,” pungkasnya. 

Editor: Supriyadi

58 Desa dari 7 Kecamatan di Pati Alami Kekeringan, Begini Respon Bupati

Bupati Pati Haryanto bersama instansi terkait menggelar rakor terkait kekeringan di kantor dinasnya, Senin (11/9/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sedikitnya 58 desa dari tujuh kecamatan di Kabupaten Pati mengalami kekeringan. Hal itu diungkap Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati Sanusi Siswoyo, Senin (11/9/2017).

“Sudah ada 58 desa di Pati yang mengajukan permohonan air bersih. Tapi ada empat desa yang belum terakomodasi, karena belum mengajukan permohonan,” kata Sanusi.

Empat desa yang belum mengajukan permohonan, antara lain Desa Lumbungmas, Mojoagung, Sitimulyo dan Mencon. Sementara puluhan desa yang berasal dari Jakenan, Batangan, Gabus, Kayen dan Sukolilo sudah mendapatkan bantuan air bersih.

Menanggapi hal itu, Bupati Pati Haryanto menjadwalkan akan turun ke lapangan untuk menyalurkan bantuan. Ada sekitar 400 tangki air bersih yang akan disalurkan ke sejumlah daerah yang dilanda kekeringan seperti Pucakwangi.

“Anggaran dari BPBD ada 400 tangki air bersih yang akan disalurkan kepada masyarakat terdampak kekeringan. Selain itu, masih ada bantuan dari DPUTR, PDAM dan PMI yang akan segera disalurkan,” jelasnya.

Untuk mengatasi kekeringan, pihaknya juga sudah menggelar rapat koordinasi dengan BPBD, Bagian Kesra, PMI, PDAM dan DPUTR. Hasilnya, bantuan dari Pemkab dan pihak swasta akan digalang untuk selanjutnya didistribusikan kepada warga.

Editor: Supriyadi

Bupati Kudus: Pengelolaan Air Muria Harusnya Dikelola BUMDes

Bupati Kudus Musthofa memberikan penjelasan pentingnya air muria bgi masyarakat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Musthofa mengusulkan pengelolaan air muria dilakukan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat. Dengan cara itu, air muria akan lebih bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungannya setempat

”Jika dikelola desa, maka kesejahteraan akan dimanfaatkan semua masyarakat. Apalagi potensi yang dihasilkan juga cukup besar, jadi akan lebih tepat jika dikelola desa,” katanya kepada wartawan, Selasa (5/9/2017). 

Bupati menjelaskan, selama ini desa tidak dapat kontribusi apapun dari penjualan air pegunungan muria. Padahal, warga juga ikut terdampak dengan sulitnya mencari sumber air karena banyak dijual.

”Saat mencari sumber air, butuh jarak sampai 12 meter baru dapat. Itupun sudah  jarang ditemukan di kawasan Colo dan Kajar,” ujarnya.

Langkah yang dilakukan, kata Bupati Kudus, pihak kecamatan dapat bersinergi dengan pihak desa untuk menyusun usaha tersebut. Langkah awal, dengan menyusun payung hukum dari desa tentang pemanfaatannya.

“Kalau bumi air dan isinya milik negara, maka masyarakat juga harus mendapatkan manfaatnya. Jangan hanya beberapa orang yang memilikinya,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Ganjar Perintahkan 16 Bupati Lapor soal Kekeringan Tiap Hari

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memberikan bantuan air bersih di Desa Dermasuci Kecamatan Pangkah Kabupaten Tegal, Kamis (31/8). (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Sejumlah daerah di Jawa Tengah mulai dilanda bencana kekeringan. Catatan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng sudah ada 16 kabupaten yang mengalami kekeringan dan membutuhkan bantuan air bersih.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memerintahkan kepala daerah yang wilayahnya dilanda kekeringan untuk melapor kepada dirinya tiap hari. Laporan tersebut terkait hasil pemantauan dan apa saja yang dibutuhkan untuk penanganan.

“Bupati dan jajarannya sampai kepala desa saya minta pantau setiap hari. Laporkan jika butuh bantuan kita dropping (air bersih),” katanya.

Selain itu, Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Jawa Tengah diminta untuk bergerak menyalurkan air bersih di titik-titik kekeringan.

“Tim bergerak terus memantau, yang butuh air segera kirim. Sudah banyak perusahaan yang akan mengirim air lewat CSR-nya, kita koordinasikan supaya tepat sasaran,” ujar Ganjar.

Sementara itu, Kepala BPBD Jateng Sarwa Pramana, kekeringan telah terjadi di 68 kecamatan di 16 kabupaten. “Kami sudah dropping air 470 tangki. Paling banyak di Tegal,” ujarnya.

Ia menyatakan, Pemprov Jateng menyiapkan 2.00 tangki air bersih, yang siap disalurkan ke daerah-daerah yang membutuhkan bantuan. Bahkan jika stok air tak mencukupi, pemprov akan meminta bantuan pemerintah pusat.

“Provinsi masih memiliki 3000 tanki air dan kita juga akan meminta bantuan kepada BNPB. Biasanya ada sih tiap tahun rata-rata Rp 800 miliar hingga Rp 900 miliar,” katanya.

Menurut diasaat ini, daerah yang sebelumnya tak pernah dipasok air, tahun ini juga meminta bantuan, yakni Banjarnegara. Dalam melakukan penyaluran air 3000 tanki milik pemprov, terdapat mekanisme yang harus dilalui yakni melalui pemkab, dan diteruskan ke pihaknya.

“Kita bekerja sama dengan PDAM, dan menggunakan mekanisme harga korporate. Kalau ada permintaan saya langsung transfer dana ke PDAM,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha