Duh, Jembatan Desa Mantingan Jepara Patah Diterjang Air Bah

MuriaNewsCom, Jepara – Sebuah jembatan penghubung antar rukun warga di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan-Jepara patah akibat tak kuat gerusan air di sungai setempat, Selasa (13/3/2018). Disamping itu, air pun sempat melimpas ke perkampungan dan menggenangi rumah warga di RT 18 dan RT 3 desa setempat.

Pantauan MuriaNewsCom, panjang jembatan sekitar 10 meter dengan lebar sekira 2,5 meter. Patahan tepat berada di antara sambungan jalan dengan badan jembatan yang bertumpu pada talut sebelah utara.

Akibatnya, warga sekitar bila hendak menuju balai desa atau masjid Agung Mantingan (Makam Kalinyamat), harus memutar 80-200 meter. Lantaran, jembatan tersebut digunakan sebagai alternatif untuk pergi ke tempat tempat tersebut.

Khotib perangkat Desa Mantingan menuturkan, patahnya jembatan tersebut terjadi pada Selasa dinihari sekitar pukul 02.00 WIB. Mulanya, di wilayah tersebut hujan turun begitu deras mulai Senin malam pukul 22.00 WIB,  hingga mengakibatkan debit sungai meningkat.

“Air datang bersama dengan sampah. Sampah kemudian menyumbat aliran sungai yang seharusnya melewati bawah jembatan, kemudian air menggerus talut bagian utara dan menyebabkan patahnya jembatan itu,” tutur dia.

Saat ini praktis warga tak bisa beraktifitas melewati lokasi karena jembatan yang patah total. Warga kemudian terpaksa melewati jembatan lain, walaupun harus memutar.

Khotib menambahkan, saat air meninggi lokasi disekitar jembatan sempat terendam beberapa saat. Meskipun demikian, air tak sempat masuk ke rumah-rumah warga.

“Hanya sampai di teras tidak masuk kedalam. Warga pun tidak ada yang mengungsi,” imbuhnya.

Pemerintah Desa Mantingan menyiagakan puluhan pasukan oranye, untuk menanggulangi dampak lanjutan. Hal itu mengingat, hujan masih sering turun di wilayah tersebut pada malam hari.

“Kami menyiapkan 35 pasukan oranye untuk menanggulangi bencana. Untuk pembenahannya sendiri nanti menunggu bila dana (Dana Desa) masih tersedia, karena sudah dialokasikan untuk pembangunan jalan,” tutup Khotib.

Editor: Supriyadi

Musim Hujan Tiba, Begini Cara Jitu Camat Jati Kudus Antisipasi Banjir

Kapolres Kudus AKBP Ahmad Rifa’i meninjau banjir di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, Jumat (10/2/2017) awal tahun lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Wilayah di Kecamatan Jati merupakan wilayah yang menjadi langganan banjir. Untuk itu, masyarakat diminta tetap waspada menghadapi ancaman bencana yang seolah rutin menimpa.

Camat Jati Andreas Wahyu mengatakan, sejumlah upaya sudah dilaksanakan masyarakat untuk menghadapi bencana banjir. Termasuk dengan menggalakkan kerja bakti agar lingkungan sekitar tetap bersih.

“Tiap Minggu pasti ada kerja bakti. Dan itu kami rutinkan, agar aliran air dapat lancar mengalir. Sehingga potensi banjir bisa diwaspadai,” kayanya kepada MuriaNewsCom

Menurut dia, penanganan banjir juga sedikit reratasi dengan diperbaikinya saluran air di kawasan Jati. Bahkan pintu air di Tanjungkarang, juga sudah diperbaiki BBWS yang mana berdampak pada lancarnya aliran air.

“Asalkan tak hujan lebat dalam waktu lama, maka banjir bisa diatasi. Karena sekarang aliran air sudah lancar. Namun kami masih meminta masyarakat agar tetap waspada, apalagi saat hujan lebat,” ungkap dia

Disinggung soal lokasi rawan banjir. Dia menyebutkan terdapat beberapa lokasi. Selain di Tanjungkarang, Jati Wetan juga menjadi langganan banjir. Termasuk juga di depan kantor kecamatan.

Editor: Supriyadi

22 Rumah Warga Sumberagung Grobogan Terendam Banjir Semalaman

Luapan air masih menggenangi pekarangan sebagian warga Desa Sumberagung, Kecamatan Godong, Jumat (24/11/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Musibah banjir yang melanda wilayah Kecamatan Godong akhirnya juga berimbas ke Desa Sumberagung. Di desa ini dilaporkan ada 22 rumah yang sempat kemasukan air semalaman. Ketinggian air yang masuk kedalam rumah berkisar 10-40 centimeter.

Dari pantauan di lapangan menjelang Jumatan, sudah tidak ada lagi rumah yang tergenang. Meski demikian, luapan air dari Sungai Jajar masih menggenangi pekarangan dan sejumlah areal sawah.

”Tadi malam, air masuk rumah setinggi dengkul (lutut). Sekarang sudah surut tetapi sekitar rumah masih banyak air,” kata Sawilah (62), warga Sumberagung yang tinggal di wilayah RT 04, RW 01, Jumat (24/11/2017).

Ada dua rumah di Desa Sumberagung yang kemasukan air paling tinggi. Yakni, rumah Sawilah dan cucunya Teguh Susilo yang ada disampingnya.

Meski sudah kering, bekas banjir masih jelas terlihat di rumah Sawilah. Lantai rumahnya yang masih berupa tanah tampak becek, mirip lahan sawah.

”Ini lantai tanah saya pasangi kayu dan papan untuk jalan keluar masuk rumah,” imbuhnya.

Camat Godong Bambang Haryono menyatakan, banjir yang melanda Desa Sumberagung merupakan imbas dari musibah sehari sebelumnya. Luapan air dari Desa Werdoyo dan Guyangan bergeser ke utara menuju ke Desa Sumberagung.

”Sejak siang tadi, sudah tidak ada air yang masuk rumah penduduk. Namun, debit air di sungai masih tinggi,” katanya.

Menurut Haryono, dampak banjir di Desa Kemloko, Jatilor dan Werdoyo masih terlihat di areal sawah. Beberapa rumah warga yang sehari sebelumnya sempat kemasukan air juga sudah tidak terlihat lagi.

Editor: Supriyadi