Pria di Wonogiri Punya Penyakit Aneh, 28 Tahun Sering Kesurupan dan Ramal Masa Depan

MuriaNewsCom, Wonogiri  Seorang pria di Kedung Lumbu, Damburejo, Kecamatan Wuryantoro, Wonogiri, mempunyai penyakit aneh. Selama puluhan tahun, pria bernama Giyarno (58) ini sering mengalami kesurupan.

Saat kesurupan, Giyarno kerap melukai dirinya sendiri. Tak hanya itu, dalam proses kesurupan itu, pria berumur setengah abad ini kerap mengeluarkan kalimat-kalimat berupa ramalan masa depan. Dan beberapa ramalannya terbukti benar-benar terjadi.

Meski ada keistimewaan tersebut, Giyarno mengaku menderita akibat penyakt tak wajar yang dialaminya. Penyakit ini sudah dideritanya sejak 1990 silam. Gejala-gejala aneh muncul saat ia tidur.

Dalam tidur itu, Giyarno tiba-tiba bertingkah aneh. Ia berbicara tak jelas, melakukan tindakan menyakiti diri sendiri hingga mengeluarkan ramalan-ramalan.

Giyarno sendiri mengaku tak menyadari apa yang dilakukannya ketika penyakit aneh itu kambuh. Dikutip dari Solopos.com, Rabu (28/3/2018) Giyarno juga mengaku ia berulang kali dicelakakan makhluk gaib. Akibatnya Giyarno mengalami luka pada tulang lutut, jahitan sepanjang 30 cm di dagu, dan robek pada kemaluannya.

Berulang kali Giyarno berobat secara medis namun hasilnya nihil. Anaknya telah berulangkali membawa Giyarno ke rumah sakit namun para tenaga medis tidak bisa menjelaskan secara pasti apa penyakit Giyarno.

Giyarno sendiri mengaku sudah capai dengan penyakit aneh ini, dan ingin sembuh total. “Saya sudah malu dengan keadaan saya sekarang ini, saya sudah tua dan capek dengan keadaan ini,” katanya.

Hingga kemudian Puji Wahono anak Giyarni mendapat sebuah petunjuk untuk menaruh kaca pada tempat tidur Giyarno. Ia juga membawa garam yang menurutnya dapat mengusir makhluk halus.

Hasilnya Giyarno sudah tidak sering mengalami kesurupan, namun di sekitar rumahnya sering terjadi kejadian janggal seperti pintu yang bergetar dan barang-barang yang berjatuhan secara tidak wajar.

“Saya berharap ada yang membantu kami baik praktisi agama maupun orang yang paham akan hal seperti ini,” ujar Puji Wahono.

Editor : Ali Muntoha

Tak Terima Diputus, Residivis Pembunuhan Ini Perkosa Mantan Pacarnya

MuriaNewsCom, Solo – Seorang pemuda bernama Raka Sinuarga (22) warga Kampung Kauman, Pasar Kliwon, Solo, diseret ke kantor polisi, karena mencoba memperkosa mantan pacarnya yang masih di bawah umur. Motif pencabulan itu, karena sakit hati setelah diputus.

Korbannya adalah seorang gadis berinisial Sh yang masih berumur 16 tahun. Pelaku mencabuli mantan pacarnya itu di kamar kos korban di Jalan Ir Juanda, Purwodiningratan, Jebres, Solo, pada Senin (26/3/2018) malam.

Kini pemuda tersebut diamankan dan menjalani pemeriksaan di Mapolsek Jebres. Dari hasil pemeriksaan juga diketahui jika pelaku ternyata seorang residivis kasus pembunuhan.

Saat usianya masih 15 tahun, pelaku melakukan pembunuhan di Makam Untoroloyo, Jebres, Solo pada 2 Januari 2011 lalu. Dalam kasus ini, pelaku dijatuhi vonis tujuh tahun dan ditahan di LP Nusakambangan, Cilacap.

Belum beberapa lama ke luar dari penjara, kini pemuda tersebut harus kembali berurusan dengan masalah hukum, karena kasus pencabulan.

Kapolresta Surakarta, Kombes Pol Ribut Hari Wibowo, melalui Kapolsek Jebres, Kompol Juliana mengatakan, dari hasil pemeriksaan pelaku mengakui perbuatan terhadap mantan pacarnya tersebut.

”Motifnya karena merasa sakit hati diputuskan cintanya oleh korban. Pelaku mengaku kenal dengan korban melalui media sosial dan berpacaran selama empat bulan,” katanya dikutip dari Antara Jateng, Rabu (28/3/2018).

Saat beraksi, pelaku mendatangi korban dengan memanjat atap menuju ke belakang rumah kos korban. Pelaku kemudian memacah pintu kaca, dan mencoba memerkosa mantan pacarnya.

Warga yang mengetahui adanya kegaduhan di dalam kamar kos korban langsung merangsek menuju lokasi. Melihat peristiwa itu, warga langsung naik pitam dan menyeret pelaku ke kantor polisi.

Sebelum diamankan polisi, pelaku sempat dihajar warga yang emosi melihat kejadian tersebut. Apalagi saat diamankan, pelaku ternyata dalam kondisi mabuk setelah menenggak minuman keras jenis ciu.

Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti berupa pecahan kaca, baju milik korban, tiga ponsel yang telah dirusak. Tersangka dijerat Pasal 82 Undang Undang RI No.17/2016, tentang Perlindungan Anak (PA) dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

Editor : Ali Muntoha

Siswa Kelas 3 SMA di Wonogiri Jadi Pengedar Narkoba, Bakal Kerjakan UN di Polres

MuriaNewsCom, Wonogiri – Satuan Reserse Narkoba Polres Wonogiri berhasil membekuk empat pengedar narkoba. Yang cukup mengejutkan, salah satu pengedar yang dibekuk masih berstatus pelajar SMA.

Pengedar berinisial IF alias Gudel, yang masih duduk di kelas 12 salah satu SMA di Wonogiri. Gudel bersama tiga pengedar lain ditangkap bersama tiga pengedar lain di dua tempat, yakni di dekat Patung Bedol Desa Waduk Gajahmungkur Kecamatan Wonogiri Kota, dan di dekat Terminal Bus Giri Adipura di Krisak Desa Singodutan, Kecamatan Selogiri.

”Para tersangka mengaku berperan sebagai pengedar,” kata Kapolres Wonogiri AKBP Robertho Pardede dalam jumpa pers, Senin (26/3/2018).

Selain Gudel, tiga pengedar lain tang ditangkap yakni Wakyudi Ardianto alias Pentul (33) warga Lingkungan Salak, Kelurahan Giripurwo, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri. Pentul diketahui sebagai pemasok narkoba untuk Gudel.

Sementara dua pelaku lain yang diamankan yakni Dimas Muhamad Ridho (28) warga Dusun Nglarangan, Desa Beji, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri, dan Joko Prayitno (25) warga Perum KCVRI Kelurahan dan Kecamnatan Jaten, Kabupaten Karanganyar.

Kapolres menyatakan, untuk tersangka yang masih berstatus pelajar akan diberi perlakuan khusus. Yakni ia tetap diberi kesempatan untuk mengikuti Ujian Nasional (UN). ”Dia kita fasilitasi untuk mengerjakan ujian di Polres,” ujarnya.

If ditangjap saat berada di dekat Patung Bedol Desa. Saat itu, If kedapatan membawa 5 pil jenis psikotropika jenis Alprazolam dan 5 pil obat Clonazepam 2 Mg merk Riklona yang dibungkus dengan kertas alumunium foil warna hijau.

Ketika diperiksa, If mengaku mendapatkan pil psikotropika tersebut dari tersangka Wahyudi Ardianto. Karena itu, polisi kemudian menangkapnya di lokasi pemancingan Teluk Cakaran Waduk Gajahmungkur Wonogiri wilayah Desa Sendang, Kecamatan dan Kabupaten Wonogiri.

Paur Subag Humas Polres Wonogiri, Aipda Iwan Sumarsono, menambahkan, bersama kedua tersangka, polisi menyita sejumlah barang bukti.

Sementara tersangka lain, Dimas kedapatan membawa obat daftar G sebanyak 54 butir yang diwadah dalam 5 kantong plastik dan disembunyikan dalam bungkus rokok. Barang terlarang itu, dia peroleh dari Joko Prayitno.

Polisi kemudian menangkap Joko Prayitno dengan mendatangi ke rumahnya. Dari Joko Prayitno, diamankan barang bukti 450 butir obat daftar G dan 11 tablet pil Risperindone, uang penjualan Rp 62 ribu, ponsel dan sepeda motor yang dipakai sebagai sarana untuk melakukan transaksi penjualan obat daftar G.

Hingga saat ini keempat tersangka masih menjalani pemeriksaan intensif di Mapolres Wonogiri. Polisi masih mengembangkan kasus tersebut.

Editor : Ali Muntoha

Sekeluarga di Sragen Jadi Sindikat Pembuat Uang Palsu, Barang Bukti Dibuang di Pinggir Kali

MuriaNewsCom, Sragen – Seorang bapak bernama Sujintoro (51), anak dan menantunya di Sragen menjadi dalang pengedar dan pembuat uang palsu. Kelompok ini membuat dan mengedarkan uang palsu di pasar-pasar tradisional dengan modus membelanjakan uang palsu dan mendapat keuntungan dari uang kembalian.

Sindikat keluarga pengedar upal itu diketahui terdiri dari Sujintoro (51) warga Dukuh Jimbar Kulon, Guworejo, Karangmalang, Sragen, putrinya Hartatik (30), Yunarmi alias Yunna (20).

Yunna ditangkap bersama kakaknya,  Hartatik alias Tatik saat melakukan aksinya di di wilayah Sukodono, Rabu (21/3/2018) pagi. Keduanya beraksi dengan menyamar sebagai pembeli yang bergerilya membelanjakan upalnya ke sejumlah pedagang Pasar Jatitengah, Kecamatan Sukodono.

Dari pengembangan penangkapan itu diketahui peran keluarga ini sebagai sindikat pembuat dan pengedar uang palsu. Kamis (22/3/2018) kemarin, petugas gabungan dari Polres Sragen melakukan penggerebekan di rumah Sujiantoro.

“Dari hasil pemeriksaan terhadap dua tersangka Tatik dan Yunna oleh Polsek Sukodono, kemudian diungkap jaringan peredaran uang palsu yang ternyata masih satu keluarga, anak dan bapak yakni tersangka Yunna dan Sujintoro,“ kata Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman.

Sujintoro dihadirkan dengan dikawal ketat petugas. Sontak kedatangannya dalam kondisi terborgol bersama puluhan polisi membuat keluarga di rumah kaget. Tak sedikit para tetanggapun juga ikut penasaran dengan datangnya puluhan polisi di rumah Sujintoro.

Penggerebegan dan penggeledahan berlangsung dramatis. Melihat suaminya dalam keadaan terborgol dengan pengawalan ketat polisi, ia langsung menangis histeris.

Temuan barang bukti pembuat uang palsu yang dibuang di pinggir sungai. (Polres Sragen)

Dari hasil pengembangan diketahui jika Sujiantoro merupakan aktor dari pembuatan dan peredaran uang palsu itu. “Sujintoro, diduga tak hanya sebagai dalang peredaran uang palsu di Sragen. Namun juga pembuat uang palsu yang telah diedarkan oleh anaknya Yunna bersama istri kakaknya yang bernama Hartatik alias Tatik,“ kata AKBP Arif Budiman.

Dari penggeledahan yang dilakukan di rumah tersangka Kamis (22/3/2018) pagi, awalnya polisi hanya menemukan master CD, printer, tas dan sejumlah kuitansi. Tidak ada brankas atau temuan upal dalam jumlah besar di rumah yang terletak di tepi sungai itu.

Namun, temuan menggemparkan datang petang hari ketika tim berhasil mengorek keterangan dari anak tersangka, Ahmad (32). Ahmad yang merupakan suami dari putri sulung Sujintoro, Hartatik alias Tatik, akhirnya buka suara bahwa sehari sebelumnya, dirinya sempat diminta ayahnya untuk membuang sekarung barang ke sungai di samping rumahnya. Karung itu berhasil ditemukan jarak 500 meter dari rumah tersangka.

“Dari pengembangan tersebut, kemudian terbongkar peralatan pembuatan uang palsu berupa printer dan alat sablon berikut pernak pernik peralatan lain, justru dari keterangan anak Sujintoro. Hal ini ia akui setelah dimintai keterangan oleh penyidik pascapenggeledahan di rumah orang tuanya, “ jelas AKBP Arif.

Kapolres menjelaskan, dengan temuan sekarung alat-alat printer dan sablon itu pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait kemungkinan Sujiantoro memproduksi sendiri atau memiliki pabrik upal di rumahnya.

“Itu masih kita dalami dan terus kita kembangkan. Yang jelas, ada temuan signifikan yaitu alat-alat yang memang mengarah untuk mencetak uang palsu,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Ternyata Bangku Zaman Pak Harto SD Masih Ada Hingga Saat Ini, Begini Wujudnya

MuriaNewsCom, Wonogiri – Nama Presiden RI kedua, Soeharto akhir-akhir ini kembali dibincangkan, terkait kasus Yayasan Supersemar. Yayasan Supersemar di mana Soeharto sebagai ketua yayasan itu, baru mengembalikan Rp 241 miliar dari Rp 4,4 triliun ke negara.

Kasus ini disebut-sebut menutup pintu Soeharto untuk mendapat gelar sebagai pahlawan. Terlepas dari itu, kisah Soeharto selama menjabat dan masa kecilnya tetap menjadi cerita yang menarik di masyarakat.

Salah satunya kisah Soeharto saat menempuh pendidikan di sekolah rakyat (SR). Semasa kecil, Pak Harto menempuh pendidikan di SR Wuryantoro, yang sekarang berubah menjadi SD Wuryantoro 1, Wonogiri. Bekas peninggalan Soeharto di sekolah ini pun hingga saat ini masih ada.

Peningglan tersebut yakni kursi dan meja yang dulu menjadi bangku yang digunakan Pak Harto selama sekolah di SR. Bangku berbahan kayu dengan bobot yang cukup berat itu hingga kini masih tersimpan dan terawat dengan baik.

Bangku sekolah Pak Harto ini saat ini disimpan di Museum Wayang Pak Bei Tani, yang berada di Kecamatan Wuryantoro, Wonogiri. Museum yang diresmikan pada 1 September 2004 oleh Presiden Indonesia Ke-5, Megawati Soekarnoputri, tersebut memiliki koleksi sekitar 400 wayang dari berbagai jenis.

Seluruh koleksi wayang tersebut terdiri atas Wayang Kulit Purwa, Wayang Beber, Wayang Golek, Wayang Bali, Wayang Klithik, Wayang Suket, Wayang Kumpeni, Wayang Topeng, dan Wayang Wahyu. Koleksi tertua milik Museum Wayang Indonesia adalah wayang Semar buatan 1716.

Bangku sekolah Pak Harto yang tersimpan di Museum Tani Pak Bei Wonogiri. (joglosemarnews.com)

Selain berbagai jenis wayang, museum ini memang menyimpan bangku yang pernah digunakan Pak Harto. Bangku tersebut terbuat dari kayu jati dengan goresan-goresan dari benda tajam di atasnya. Museum tersebut kental dengan nuansa masa kecil Soeharto.

Konstruksinya masih bergaya lawas. Antara meja dengan tempat duduknya menjadi satu dan bisa dipakai sekitar 2 sampai 3 orang anak. Bagian atas meja berbentuk miring sehingga memudahkan murid untuk menulis atau membaca di atasnya.

Sementara di sisi depan atas meja terdapat cekungan memanjang dan satu lubang tepat di tengah sebagai wadah tinta. Tempat duduk dilengkapi sandaran panjang.

Dilansir dari joglosemarnews.com, Kamis (22/3/2018), penjaga Museum Wayang Pak Bei Tani, Rakino mengatakan, museum ini dibangun di keduaman dari keluarga Ngabehi Prawirowihardjo. Ia adalah seorang mantri tani, oleh karenanya ia kerap disapa Pak Bei Tani. Istri Pak Bei Tani merupakan bibi Pak Harto.

Pak Harto ikut keluarga Prawirowihardjo sejak usia 6 atau 7 tahun. Masa kecil Pak Harto dihabiskan di Wuryantoro.

Setelah Pak Harto menjadi presiden, pada sekitar tahun 1969 beliau membeli kembali rumah ini berikut pekarangan di sekitarnya. Selanjutnya dirombak dan diserahkan ke Pemerintah Kabupaten Wonogiri sebagai bangunan cagar budaya.

Selang berjalannya waktu, Bupati Wonogiri kala itu, Begug Poernomosidi berinisiatif membangunnya menjadi museum wayang setelah mendapatkan izin dari keluarga Pak Harto.

Editor : Ali Muntoha

Santri Ponpes di Sragen Diserang Saat Tidur, Polisi Sebut Hanya Halusinasi

MuriaNewsCom, Sragen — Seorang santri Pondok Pesantren Raudlatul Falah Dukuh Karangdowo RT 026 Desa Kecik, Tanon, Sragen, berinisial AZ (17) mengaku menjadi korban penganiayaan. Ia mengaku diserang seseorang saat tidur, bahkan juga ditindih dengan sekaruh gabah.

Alhasil, pengakuan santri ini membuat heboh kalangan pondok dan warga sekitar. Peristiwa itu diakuinya terjadi pada Rabu (14/3/2018) lalu. Aparat kepolisin pun langsung merespon laporan ini.

Namun saat melakukan penyelidikan, polisi menemukan fakta yang cukup mengejutkan. Dari hasil pemeriksaan mulai dari puskesmas hingga ke dua rumah sakit tidak ditemukan adanya tanda-tanda bekas kekerasan di tubuh santri yang akrab dipanggil Udin tersebut.

Kapolres Sragen, AKBP Arif Budiman menyatakan, ada ketidaksingkronan antara pernyataan korban dengan hasil pemeriksaan.

“Setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan terhadap korban, oleh tim medis diawali dari Puskesmas Tanon, Rumah Sakit Yaksi Gemolong dan Rumah Sakit Amal Sehat Sragen, ternyata pada kondisi tubuh korban tidak terdapat luka akibat kekerasan,” katanya.

Dari hasil pemeriksaan saksi juga mengaku tak ada yang melihat secara langsung peristiwa penganiayaan itu. Setiap kejadian yang dialami korban, menurut keterangan para saksi, hanyalah dari cerita korban semata.

Polisi menduga Udin mengalami gangguan kejiwaan yang mengakibatkan seringnya berhalusinasi. Hal ini dikuatkan dengan hasil pemeriksaan psikiater dari polres maupun RSUD Sragen.

“Kami menilai kejadian yang dilaporkan adalah penganiayaan terhadap Udin hanyalah halusinasi yang membuat cerita, bahwa dirinya seolah-olah dianiaya oleh pelaku yang tidak dikenal,” ujarnya.

Untuk memastikan, Jumat (16/3/2018) sore kemarin, Udin dibawa ke Rumah Sakit Jiwa di Solo untuk menjalani pemeriksaan secara mendalam oleh ahli psikiatri dan kejiwaan.

Sebelumnya santer beredar kabar di masyarakat, seorang santri diserang orang tak dikenal saat tidur di Ponpes raudlatul Falah, Kecik, Tanon. Udin mengaku diserang dipukul di bagian perut, ditindih pakai sekarung gabah.

Pelaku juga menutup wajah Udin dengan sarung, sehingga ia tidak bisa melihat wajahnya. Akibat insiden itu korban mengalami luka sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.

Namun dari hasil pemeriksaan polisi menemukan ketidaksingkronan keterangan korban dengan para saksi dari pondok pesantren tersebut, dan terdapat kejanggalan.

Editor : Ali Muntoha

Pasutri Tukang Maling Ini Modusnya Cari Kontrakan Lalu Mijiti Pemilik Rumah

MuriaNewsCom, Boyolali – Sebagai pasangan suami istri (pasutri) memang harus kompak, biar biduk rumah tangga yang dijalani berjalan harmonis. Namun bagi pasutri Supri (38) dan Yunita Rhisna (38) ini, kekompakan yang mereka tunjukkan benar-benar beda.

Mereka benar-benar kompak satu sama lain, terutama saat menjalankan aksi kejahatan. Pasangan ini punya tugas masing-masing saat menjalankan aksinya menguras rumah korbannya.

Tak hanya satu atau dua kali, pasangan yang tercatat sebagai warga Cinderejo Lor, Gilingan, Banjarasari, Solo ini, telah beberapa kali menguras barang berharga dari rumah-rumah korbannya. Modusnya, mencari rumah kontrakan dan si istri (Yunita) beraksi dengan kemampuan memijatnya.

Aksi terakhir, pasangan ini beraksi di rumah Pardji (70) di Ngadirejo, Mojosongo, Boyolali, pada Selasa (12/3/2018) lalu. Mereka datang ke rumah ini dengan berpura-pura mencari kontrakan.

Saat berbincang-bincang, pelaku mengaku bisa memijat. Korban pun langsung kepincut dan meminta Yunita memijat istri Pardji di dalam kamar. Sementara Supri mengalihkan perhatian Pardji agar istrinya bebas beraksi.

”Para pelaku pura-pura mencari kontrakan, kemudian memijat korban. Saat korban lengah pasangan ini langsung beraksi,” kata Kasat Reskrim Polres Boyolali, AKP Willy Budiyanto, dalam jumpa pers, Jumat (16/3/2018).

Setelah melakukan pemijatan, kemudian istri korban disuruh mandi. Saat itulah, tersangka Yuvita beraksi mencuri barang-barang berharga milik korban di dalam kamar tersebut.

Pasangan ini berhasil menggasak HP Samsus J5, uang tunai Rp 1,5 juta, serta beberapa perhiasan. Setelah berhasil mencuri barang-barang tersebut, kedua tersangka langsung berpamitan pulang dan kabur.

Pencurian ini baru diketahui saat istri korban selesai mandi. Saat itu, ia kaget saat mencari HP miliknya yang ternya sudah raib. Saat diperiksa ternyata beberapa barang berharganya juga hilang. Kasus itu pun langsung dilaporkan ke Polsek Mojosongo.

Dari laporan itu, Tim Sapu Jagat Satreskrim Polres Boyolali bersama Unit Reskrim Polsek Mojosongo, langsung melakukan penelusuran. Pasutri ini pun berhasil ditangkap di daerah Nayu, Banjarsari, Solo.

“Pengakuannya mereka beraksi di 3 TKP. Tapi masih kami dalami untuk TKP lainnya. Tersangka dijerat pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan, ancaman hukumannya 7 tahun penjara,” imbuhnya.

Editor : Ali Muntoha

Mbah Waginah yang Umurnya Hampir Seabad Nyaris Tewas Saat Rumahnya Kena Badai

 

MuriaNewsCom, Sragen – Desa Plumbon, Kecamatan Sambungmacan, Sragen, Kamis (15/3/2018) terkenai hujan badai. Hujan deras yang disertai angin kencang itu menumbangkan sejumlah pohon.

Pohon yang bertumbangan itu menimpa dan manghancurkan dua rumah di Dukuh Klunggean dan Dukuh Grasak, Desa Plumbon. Salah satunya rumah Mbah Waginah (90).

Nenek tua yang umurnya hampir mendekati satu abad itu hancur tertimpa pohon jati yang ada di sekitar rumahnya. Saat kejadian, Mbah Waginah berada di dalam rumah. Ia nyaris tertimpa reruntuhan atap yang tertimpa pohon.

Beruntung ia masih bisa selamat dari bencana ini. Meski harus menanggung kerugian yang tak sedikit. Ia juga masih syok.

Sementara satu rumah lain yang tertimpa pohon yakni rumah milik Mardi Mentek di Dukuh Grasak.

Ketika bencana itu menimpa rumahnya, ia tengah berada di rumah bersama keluarganya. Angin kencang disertai hujan yang sangat deras, tiba-tiba membuat pohon jati yang berada di sebelah rumahnya tumbang menimpa rumahnya.

Meski Mardi Mentek bersama keluarganya selamat dari bencana tumbangnya pohon jati yang menimpa rumahnya, namun setidaknya ia harus menderita kerugian hingga sebesar Rp 2,5 juta, untuk biaya perbaikan rumahnya kembali.

Saat ini, pohon di kedua pedukuhan yang sempat membuat rumah warga kecamatan Sambungmacan Sragen ini rusak, telah dievakuasi oleh petugas Polsek Sambungmacan Sragen.

Editor : Ali Muntoha

Kades Teras Boyolali Ditahan Karena Pungli, Jabatannya Langsung Dicopot

MuriaNewsCom, Boyolali – Kepala Desa (Kades) Teras, Boyolali, Heri Dwi Widianto terjerat kasus pungutan liar (pungli) dalam proyek perumahan. Kejaksaan Negeri (Kejari) Boyolali telah menetapkan kades itu sebagai tersangka dan dilakukan penahanan.

Heri diduga telah melakukan pungli terhadap seorang pengusaha pengembang perumahan yang berinvestasi di desanya. Selama kurun waktu 2016-2017 kades bersangkutan diduga telah memaksa PT Adi Propertindo untuk membayar izin mendirikan bangunan (IMB), kompensasi jalan, dan transportasi senilai Rp57,8 juta.

Biaya itu untuk mendirikan Griya Teras Asri 2 dan 3. Tak berselang lama, April 2017, kades tersebut diduga kembali meminta uang senilai Rp120 juta dengan alasan untuk membayar kompensasi makam dan jalan tanpa didasari aturan yang berlaku.

Dilansir solopos.com, Kasi Intel Kejari Solo, Surya Firmansyah, mengatakan Kades Teras langsung ditahan bersamaan dengan pelimpahan berkas tahap II oleh Tim saber Pungli, Senin (12/3/2018) lalu. Penahanan tersangka dilakukan untuk memperlancar proses hukum lebih lanjut dan mencegah hilangnya barang bukti. “Tersangka langsung kami tahan di LP,” katanya.

Penetapan tersangka dan penahanan terhadap kades itu langsung direspon cepat oleh pemerintah. Pemkab Boyolali langsung mencopot sementara jabatan Heri Dwi Widianto sebagai Kades Teras. Pemkab juga tengah menyiapkan pelaksana tugas (plt) untuk mengisi kekosongan jabatan kades.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermasdes) Boyolali, Purwanto, menjelaskan siapa pun kades atau perangkat desa yang sudah berstatus tersangka harus diberhentikan sementara. Hal itu menurut dia, sesuai dengan aturan yang berlaku.

Soal waktu pemberhentian resminya, pihaknya masih berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan setempat. Dalam waktu dekat, setelah pemerintah kecamatan mengirimkan surat tentang status Kades Teras, saat itu juga surat pemberhetian secara resmi langsung turun. “Saya sedang menanti surat dari Pak Camat dulu,” tambahnya.

Saat ini, Purwanto mengaku masih menggodok pengganti sementara Heri Dwi Widianto. Menurutnya, pengganti kades harus dari unsur PNS, baik dari kecamatan atau Pemkab Boyolali.

Editor : Ali Muntoha

Ratusan Bayi di Solo Alami Gejala Kekerdilan

MuriaNewsCom, Solo – Ratusan bayi di Kota Solo mengalami stunting atau tumbuh kerdil. Data di Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, ada sebanyak 495 bayi di bawah dua tahun yang mengalami masalah ini.

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun.

Jumlah bayi yang mengalami stunting di Solo tersebut mencapai 3,2 % dari jumlah keseluruhan bayi yang ada di kota tersebut. Meski demikian, jumlah itu dianggap masih relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan data nasional, sebesar 37 % atau 9 juta anak.

Walau dianggap cukup kecil, namun Kepala DKK Solo, Siti Wahyuningsih menyebut kasus ini tetap tak bisa dibiarkan. Ia menyatakan, penanganan terhadap kasus stunting harus ditangani secara serius.

“Kalau melihat dari jumlah di Solo sendiri cukup bagus ya, tapi kalau bicara soal kesehatan, saya pun tidak mau ada kasus stunting di Solo,” ujarnya dikutip dari metrojateng.com, Rabu (14/3/2018).

Menurut dia, faktor kesehatan hanya menyumbang sampai 30 % saja masalah kekerdilan ini, dan 70% nya adalah faktor nonkesehatan. Ia pun mengajak masyarakat dan dinas terkait untuk bersama-sama menyelesaikan hal tersebut.

Sementara itu, Ketua Tim Pengerak PKK Kota Solo, Endang Rudyatmo menjelaskan bayi stunting terjadi apabila tinggi sang bayi tersebut lebih pendek dari tinggi rata-rata bayi di Indonesia. Untuk bayi perempuan, berumur 3 bulan seharusnya memiliki tinggi minimal 55,6 cm, 6 bulan memiliki tinggi 61,2 cm, 9 bulan 65,3 cm, hingga 18 bulan 74,9 cm.

Sedangkan bayi laki-laki, berumur 3 bulan seharusnya memiliki tinggi minimal 57,3 cm, 6 bulan memiliki tinggi 63,3 cm, 9 bulan 67,5 cm, hingga 18 bulan 76,9 cm.

“Kita bersama posyandu di tiap kampung selalu rutin melakukan pengecekan terhadap anak dengan menggunakan tikar ukur pertumbuhan tinggi bayi, kita berharap bisa lebih cepat megetahui dan mendapatkan kecukupan gizi bagi anak penderita stunting melalui alat tikar tersebut,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Begini Nasibnya Jika Pajero Nekat Tabrak Truk Pengangkut Tank TNI

MuriaNewsCom, Boyolali – Sebuah mobil mewah Pajero Sport yang ditumpangi empat orang, menabrak truk berat pengangkut tank milik TNI di  Daerah Ampel, Boyolali. Akibatnya, mobil itu hancur tak berbentuk, dan satu penumpangnya tewas di tempat.

Peristiwa yang tersebut terjadi di depan Warung Makan Sido Mampir, Dukuh Kali Puyang, Desa Kali Gentong, Kecamatan Ampel, Boyolali, akhir pekan lalu. Tabrakan terjadi sekitar pukul 03.45 WIB.

Saat itu truk pengangkut tank bernopol B 9250 QZ yang tengah parkir di depan warung diseruduk Pajero nopol AD 8181 T yang melaju kencang. Mobil itu disopiri Nugroho Adi Pradana (27) warga Kelurahan Siswodipuran, Kecamatan Boyolali.

Sang sopir selamat meski bagian depan mobil hancur. Namun satu penumpang bernama M.R Pramudita Kusuma Wardani (24) warga Perum Pringgolayan, Tipes, Kecamatan Serengan, Solo, langsung meninggal di lokasi kejadian.

“Seorang penumpang meninggal. Pengemudi dan dua penumpang lainnya selamat,” kata Kanit Laka Polres Boyolali, Ipda Utomo.

Menurutnya, dari keterangan sejumlah saksi sebelum kejadian mobil Pajero itu melaju dari arah Semarang-Solo dengan dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di depan warung Sido Mampir, mobil Pajero oleng ke kiri.

Seketika itu, mobil pajero menabrak trafick cone yang ada di pinggir jalan. Truk yang tengah mengangkut tank milik TNI pun tak luput jadi korban mobil tersebut.

“Akibat kejadian itu satu penumpang meningga karena luka di kepala belakang, dan tangan kiri patah. Satu penumpang lain mengalami luka cukup parah, namun sopir Pajero dan satu penumpang lain hanya luka ringan,” terangnya.

Kecelakaan itu langsung ditangani Satlantas Polres Boyolali. Kesimpulan sementara, penyebab kecelakaan ini dikarenakan kekurang hati-hatian pengemudi mobil Pajero saat melintasi jalur tersebut.

Editor : Ali Muntoha

Ustaz Busro Diserang Pakai Linggis Saat Pergoki Maling Bongkar Kotak Amal

MuriaNewsCom, Sragen – Ustaz Busro Arifin yang tinggal di Dukuh Gerdu, Desa Pilangsari, Kecamatan Ngrampal Sragen, nyaris babak belur dihajar pencuri kotak amal. Maling itu menyerang sang ustaz menggunakan linggis karena memergokinya tengah membongkar kotak amal di masjid.

Peristiwa itu terjadi Kamis (8/3/2018) malam, di Masjid Baihaqi, Dukuh Gerdu, sekitar pukul 20.00 WIB. Beruntung sang ustaz sempat menghindar dan berteriak hingga pelaku dikepung warga.

Pelaku pembongkaran kotak amal itu diketahui bernama Dedi Supandi (45) asal Kecamatan Widodaren, Ngawi, Jawa Timur.

Peristiwa ini terjadi saat ustaz Busro yang berada di lingkungan masjid curiga mendengar suara gemerincing uang recehan seperti tumpah. Iapun kemudian penasaran dan melihat situasi ke dalam masjid.

Ustaz Busro yang merupakan takmir masjid itu langsung terkejut, kala melihat seorang laki-laki tengah mengotak-atik membuka kotak amal yang berada di masjid. Sontak iapun kemudian meneriaki pelaku dengan kata “maling..maling”.

Mendengar teriakan ustaz Busro, maling tersebut berupaya menyerang ustaz dengan linggis. Ustaz Busro kemudian lansung lari keluar masjid, sembari terus berteriak, hingga warga berdatangan dan mengejar pelaku.

Meski sempat berlari membawa uang,  pelaku akhirnya menyerah setelah terkepung warga. Beruntung warga tak menghajar pelaku, dan kemudian menyerahkan kasus itu ke Polsek Ngrampal.

Kapolres Sragen,  AKBP Arif Budiman mengatakan saat ini pelaku sudah diamankan di Polres Sragen. Dari tangan pelaku,  aparat mengamankan barang bukti berupa 2 buah linggis, 1 buah drey, 1 buah kotak infaq dan uang tunai sebesar Rp 246.000.

“Ini masih dalam pendalaman dan pengembangan. Tersangka sudah kita amankan dan akan dijerat dengan pasal pencurian,” paparnya.

Editor : Ali Muntoha

2 Warga Wonogiri Terseret Banjir Bandang, 1 Ditemukan Tewas Terjepit Batu

MuriaNewsCom, Wonogiri – Dua warga Desa Kepyar, Kecamatan Purwantoro, Wonogiri, terseret banjir bandang di Sungai Kretek, Kecamatan Purwantoro, sejak Kamis (8/3/2018) sore. Dua warga yang terseret banjir yakni Sutini (45) dan Misiyah (42) warga Dusun Sumber, Desa Kepyar.

Proses pencarian langsung dilakukan tim gabungan antara Polri-TNI dan SAR. Namun hingga Jumat (9/3/2018) pagi baru satu korban yang ditemukan, yakni Sutini.

Namun korban ini ditemukan sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Sutini ditemukan sekitar pukul 06.30 WIB, di jarak 1 kilometer dari lokasi terseret arus.

“Satu korban sudah ditemukan, dalam posisi terjepit batu sedangkan 1 lainnya masih dilakukan pencarian,” kata Kapolsek Purwantoro, AKP Sargiyata.

Hingga siang tadi, tim gabungan masih melakukan penyisiran sungai untuk mencari satu korban lain. Pencarian tadi malam sempat dihentikan karena medan yang curam, dan minimnya penerangan.

Pagi tadi, pencarian kembali dilanjutkan bersama warga sekitar. Dua warga itu terseret arus banjir bandang, kemarin sore.

“Mereka terseret saat menyeberang Sungai Kresek, sungai kedaan banjir bandang dan kedua korban hilang tetseret arus sungai,” ujarnya.

Hingga kini, Tim gabungan, Polri, TNI, dan Sar, masih melakukan penyisiran di aliran sungai kresek untuk mencari Misiyah (45) yang belum ditemukan.

Dua korban merupakan petani, mereka menyeberangi sungai untuk pulang ke rumah setelah memanen padi dari sawah. Keduanya diketahui berangkat ke sawah sekitar pukul 10.00 WIB, dan pamit pulang sekitar pukul 13.00 WIB. “Namun hingga pukul 16.00 Wib, ke 2 korban belum sampai di rumah,” terangnya.

Keluarga korban lantas mencari ke sawah, namun mereka mendapati barang-barang milik korban terlihat hanyut sejauh 1 km dari lokasi mereka menyeberang sungai.

“Mereka mencari-cari keberadaan korban namun tidak ketemu, ia hanya menemukan tempat makan dan wakul dengan jarak 1 km dari tempat penyebrangan,” jelasnya.

Mengetahui korban hanyut, dan hilang warga sekitar lantas melaporkan kejadian tersebut kepada pihak yang berwajib. Selanjutnya kepolisian, dibantu Tim SAR dan BPBD menyisir sungai kresek untuk mencari keberadaan korban.

Editor : Ali Muntoha

Portal Dirusak, Truk Pasir Tetap Nekat Lewat Jembatan Darurat Grawah

MuriaNewsCom, Boyolali – Jembatan darurat Grawah di Desa/Kecamatan Cepogo, Boyolali, beberapa waktu lalu telah dipasangi portal untuk menghalau truk pasir dan kendaraan tonase besar melintas. Namun portal itu kini dirusak dan truk-truk pasir nekat melintas.

Padahal jembatan darurat itu kekuatannya telah berkurang. Karena jembatan itu dipasang Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya Provinsi Jateng untuk sementara.

Jembatan darurat itu untuk mempermudah akses masyarakat di jalur Solo-Selo-Borobudur (SSB). Portal itu kini kondisinya miring, karena dirusak oleh oknum tak bertanggungjawab.  “Mungkin ada yang memiringkan (portal),” terang Pengawas Jalur SSB, Sumarwan.

Pemasangan portal itu untuk membatasi kendaraan yang melintas dijembatan bailey yang bersifat sementara. Pembatasan itu dimaksudkan agar jembatan tetap kuat. karena tedapat satu besi yang patah dan sejumlah besi telah berkarat.

“Kekuatan jembatan darurat itu juga sudah berkurang dari sebelumnya,” kata Sumarwan.

Meskipun ada pelanggaran yang dilakukan oleh sopir truk dan warga sekitar, namun pihaknya tak bisa melakukan penindakan. Sebab yang memiliki kewenangan untuk melakukan penindakan dari pihak kepolisian.

Untuk itu, pihaknya berharap dari jajaran Polres Boyolali dapat melakukan penindakan aksi nekat para supir truk tersebut. “Kami bisanya cuma meluruskan kembali portal yag sudah dimiringkan itu,” ujarnya.

Petugas jasa pengatur lalu lintas di jembatan, Muhammad, menyatakan pihaknya bukan yang memiringkan portal tersebut. Pihaknya justru merasa kerepotan karena harus mengatur ratusan truk yang melintasi jembatan setiap hari.

“Kami malah khawatir kalau jembatan ini runtuh karena dilalui truk muatan setiap hari,” katanya.

Namun dia menilai pemasangan portal ini tak ada gunanya. Sebab truk masih bisa melintas karena ada pihak yang melegalkan truk untuk melintas di jembatan darurat.

Editor : Ali Muntoha

Pemuda dari Blora Ini Nekat Congkel Kotak Amal Musala di Sragen

MuriaNewsCom, Sragen – Seorang pemuda asal Randublatung, Blora, Aldika Gani (24) nekat mencongkel kotak amal musala dan menggasak isinya. Namun aksinya bisa terlacak, dan kini mendekam di sel tahanan setelah digerebek polisi.

Aldika diketahui mencuri kotak amal di Musala Al Ikrom, Dukuh Sentulan, Desa Kalimacan, Kecamatan Kalijambe, Sragen. Ia mencuri uang dalam kotak amal itu sebesar Rp 194 ribu.

Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman menyatakan, penangkapan pelaku berawal dari kecurigaan warga terhadap gerak-gerik pelaku. Pasalnya, beberapa jam usai menggasak uang dalam kotak amal, pelaku kembali datang ke musala itu.

“Ada jemaah yang curiga saat pelaku berseliweran. Setelah dilaporkan ke polisi, dilakukan penyelidikan diketahui memang dia pelakunya,” katanya, Senin (5/3/2018).

Ia menyatakan, pelaku diamankan di Dukuh Karangasem Desa Banaran Kecamatan Kalijambe Sragen. Dari tangannya, petugas kemudian menyita uang sebesar Rp 194 ribu rupiah. Pelaku juga mengakui jika uang tersebut hasil dari pencurian kotak amal di Musala Al Ikhrom.

Modus yang digunakan pelaku yakni berpura-pura beribadah di musala itu. Setelah mengamati sekitar dan dirasa aman, pelaku lantas melancarkan aksinya dengan membobol paksa kotak amal itu. Aksi itu dilakukan skeitar pukul 15.00 WIB.

Usai menjalankan aksinya, pelaku langsung pergi. Namun beberapa jam kemudian ia kembali ke lokasi itu, dan menimbulkan kecurigaan warga.

Warga yang curiga lantas memeriksa kondisi musala dan didapati kotak amal sudah terbuka dengan kondisi dicongkel. Kasus ini pun langsung dilaporkan ke polisi.

Kapolres menjelaskan, pelaku saat ini telah diamankan di Mapolsek Kalijambe. Ia dijerat dengan pasal 364 KUHP tentang pencurian.

Editor : Ali Muntoha

Laki-laki Ini Tiba-tiba Ngamuk, Pukuli Tetangganya dengan Besi

MuriaNewsCom, Wonogiri – Seorang laki-laki bernama Geger Rudianto (45), warga Desa Bulurejo, Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri, tiba-tiba mengamuk dan menyerang warga. Dua orang tetangganya yang tengah menjemur gabah langsung dihajar menggunakan batang besi hingga mengalami luka-luka.

Korban merupakan pasangan suami istri yakni Sukatni (45) dan suaminya Semedi (48). Peristiwa ini terjadi pada Rabu (28/2/2018) sore kemarin. Saat itu, Sukatni tengah menjemur padi hasil panen di depan rumahnya.

Tiba-tiba pelaku datang sambil menenteng besi langsung memukul Sukatni. Besi yang diayunkan ke arah Sukatni mengenai kaki dan beberapa bagian tubuhnya.

Suami korban, Semedi yang mengetahui kejadian itu mencoba merebut batang besi yang digunakan pelaku. Namun sayang, Semedi juga ikutdipukuli menggunakan besi hingga mengalami luka-luka.

”Tanpa bicara apa-apa pelaku lantas memukuli kaki korban menggunakan sebilah besi, hingga mengenai kaki kiri korban (Sukatni). Sementara suaminya mengalami luka goresan di bagian perut bagian kanan,” kata Kapolsek Giriwoyo, AKP Mulyanto, Kamis (1/3/2018).

Ia menyebut, warga langsung datang untuk mengamankan pelaku. Polisi yang mendapat laporan juga langsung melakukan pengamanan agar tidak terjadi aksi anarkis.

Pasalnya diketahui jika pelaku penganiayaan tersebut diindaikasi mengalami gangguan jiwa. Petugas yang datang langsung mengamankan pelaku, dan segera merujuknya ke RSJ untuk bisa segera mendapatkan tindakan medis.

“Sementara besi berukuran 1 meter dengan diameter 2cm, diamankan petugas,” jelasnya.

Kasus ini cukup menjadi perhatian, karena beberapa waktu lalu sering terjadi aksi penganiayaan kepada orang atau ulama, dengan pelaku orang gila.

Editor : Ali Muntoha

Bayi Baru Lahir Itu Menjerit Kedinginan Telungkup di Lantai Tambal Ban Jebres

MuriaNewsCom, Solo – Bayi laki-laki baru lahir ditemukan dalam kondisi telungkup di lantai sebuah warung yang juga digunakan sebagai bengkel tambal ban di Jalan Ir Juanda, Jebres, Solo, Selasa (27/2/2018) dini hari. Saat ditemukan bayi itu menangis menjerit karena kedinginan.

Bayi malang itu ditemukan masih lengkap dengan tali pusar. Diduga bayi itu sengaja dibuang oleh orang tuanya yang tak bertanggungjawab. Saat ditemukan, bayi itu mengenakan baju warna putih bergambar motif boneka.

Sementara di dekatnya, terdapat kaus orang dewasa lengan pendek warna kuning dan selembar popok kain warna putih. Bayi ini kali pertama ditemukan Aditya Bayu Kusuma (30) dan Dinar Royyanto (33), saat pulang ke rumah dari berjualan susu segar sekitar pukul 01.25 WIB.

Dalam keterangannya, Bayu meyebut mengetahui ada bayi itu karena ada suara aneh seperti tangisan.

Karena curiga, mereka pun mencari sumber suara, dan menemukan bayi itu dalam kondisi telungkup di lantai membujur ke selatan. ”Saya langsung beritahu warga kalau ada bayi yang dibuang di tempat itu,” katanya.

Warga juga langsung berkerumun ke lokasi. Beberapa di antaranya melapork ke polisi untuk mengevakuasi bayi tersebut.

Kapolsek Jebres, Kompol Juliana menyebut, bayi tersebut langsung dievakuasi dan dibawa ke Klinik Bhayangkara untuk mendapat perawatan. Saat diperiksa, bayi itu mempunyai berat 2,5 kilogram dan panjang 40-50 cm.

“Kami menduga bahwa bayi tersebut dilahirkan sendiri tanpa adanya bantuan dari siapapun, karena tali pusarnya ditali rafia,” katanya.

Pihaknya sedang melakukan penyilidikan dan mencari informasi soal adanya warga yang hamil sekitar kampung kejadian. Selain itu, pihaknya juga sedang mengecek Closed Circuit Television (CCTV) di sekitar lokasi kejadian untuk mengungkap siap yang tega membuang bayi itu.

Editor : Ali Muntoha

Kesal Bau Busuk, Ribuan Warga Sukoharjo Demo Besar-besaran Desak PT RUM Ditutup

MuriaNewsCom, Sukoharjo – Ribuan orang menggeruduk kantor Pemkab Sukoharjo, Kamis (22/2/2018). Mereka mendesak pemerintah segera menutup PT Rayon Utama Makmur (MUR) karena bau limbah yang busuk dan meresahkan warga.

Demo besar-besaran ini merupakan puncak dari kekesalan warga terhadap pabrik yang merupakan anak perusahaan PT Sritex Gorup tersebut. Selain menutup pabrik, para demontrans juga menuntut pemerintah mencabut izin PT RUM.

“Proses pencarian izin di awal pendirian diduga tidak melibatkan masyarakat sekitar sehingga perizinan PT RUM perlu dikaji ulang,” kata koordinator aksi, Ari Suwarno.

Dalam aksinya mereka membawa spanduk bertuliskan tuntutan untuk menutup PT RUM. Sejumlah spanduk itu antara lain, bertuliskan “PT-RUM Ingkar Janji”, “Tutup Rum Pak Bupati. Mugo-mugo Mlebu Surgo,” dan “Gur Nagih Janji Ora Njaluk Kompensasi.”

Bau busuk dari limbah udara PT Rayon Utama Makmur (RUM) ini sangat meresahkan. Warga juga telah berkali-kali menggelar aksi. Hari ini ribuan warga juga kembali menggelar aksi demo, meskipun Rabu (21/2/2018) kemarin manajemen PT RUM berjanji akan menghentikan produksi untuk sementara waktu.

Presiden Direktur PT RUM, Pramono dalam jumpa pers di kantor bupati Sukoharjo menyatakan, penghentian produksi dimulai Sabtu (24/2/2018). Penghentian produksi baru dilakukan mulai 24 Februari, karena menghabiskan bahan baku yang sudah masuk ke dalam mesin.

“Kita sudah estimasi, bahan baku yang sudah masuk ke dalam mesin akan habis pada 24 Februari nanti. Setelah itu baru bisa kita hentikan,” kata Pramono.

Menurut dia, selama berhenti beroperasi, PT RUM akan melakukan sejumlah uji coba agar bau limbah pabrik serat sintetis itu bisa diminimalkan. Apabila bau masih belum berkurang secara signifikan, produksi akan tetap dihentikan.

“Selama ini sebenarnya sudah dilakukan perbaikan-perbaikan. Tapi warga masih juga mengeluhkan bau,” ujarnya.

PT RUM juga berencana mendatangkan mesin pengolah limbah yang diklaim bisa menghilangkan bau. Bau yang diakibatkan senyawa H2S dapat diubah menjadi H2SO4 yang tidak berbau. Namun untuk mendatangkan mesin hingga beroperasi dibutuhkan waktu hingga satu tahun.

Editor : Ali Muntoha

Bocah 4 Tahun Disiksa Ayah Tiri di Solo, Mulut Dilakban Tubuh Diikat dan Disiram Air Panas

MuriaNewsCom, Solo – kasus kekerasan terhadap anak terus saja terjadi. Seorang bocah laki-laki berumur empat tahun berinisial P ditemukan dalam kondisi terikat dan mulut dilakban, di sebuah hotel di kawasan Banjarsari, Solo.

Tubuh bocah itu dipenuhi luka-luka. Bahkan di sejumlah titik tubuh bocah malang itu juga ditemukan luka melepuh bekas tersiram air panas. Pelaku penganiayaan adalah Dedi (33) ayah tiri korban dan adiknya, Iwan (31).

Keduanya tercatat sebagai warga Duri Utara, Tambora, Jakarta Barat. Mereka bersama Maria yang merupakan ibu kandung korban, tinggal di sebuah indekos di Solo.

Bocah ini diketahui sudah disekap selama tiga hari di dalam hotel tersebut. Kasus ini terungkap dari kecurigaan pegawai hotel yang sering mendengar suara teriakan di dalam kamar. Kecurigaan itu langsung dilaporkan ke polisi, Jumat (16/2/2018) kemarin.

”Polisi yang datang untuk memeriksa, menemukan anak itu dalam kondisi terikat kaki dan tangannya. Mulutnya juga dilakban,” kata Kapolsek Banjarsari, Kompol I Komang Sarjana dalam jumpa pers di mapolsek, Sabtu (17/2/2018).

Saat ditemukan, korban hanya berdua saja dengan Iwan. Namun beberapa saat kemudian, Dedi datang ke hotel, dan langsung diamankan polisi.

Dari hasil pemeriksaan, Dedi mengaku sebagai ayah tiri korban, setelah menikah secara siri dengan Maria. Polisi menduga, Iwan menganiaya korban atas perintah Dedi.

“Dedi ini ngakunya ayah tiri korban. Dia diduga yang menyuruh Iwan untuk melakukan tindak kekerasan,” ujar Komang.

Tersangka penyekapan dan penganiayaan (baju tahanan) saat gelar kasus di Mapolsek Banjarsari. (detik.com)

Aksi penganiayaan terhadap korban ini diduga sudah lama terjadi. Ini terlihat dari hasil pemeriksaan tubuh korban yang ditemukan sejumlah luka, termasuk pada bagian kemaluannya. Di beberapa titik juga terdapat luka yang sudah mengering.

“Ada bekas lukanya sudah mengering, mengelupas, terutama di sekitar kemaluan, tangan kanan kiri juga mengelupas,” ujarnya.

Dari hasil pemeriksaan juga diketahui ada sejumlah luka yang baru beberapa hari terjadi. Salah satunya, kulit badan korban yang melepuh terkena air panas. “Banyak kulit yang melepuh bekas tumpahan air panas, luka-luka di bibir, muka lebam, kaki sementara masih bisa digerakan, tapi kesakitan,” terangnya.

Korban kini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit dan didampingi psikolog. Korban tidak mau bertemu orang tuanya, termasuk dengan Maria ibu kandung korban.

“Korban tidak mau bertemu orang tuanya. Hanya mau bertemu polisi, mungkin merasa aman,” kata kapolsek.

Dua kakak beradik yang menganiaya bocah ini, kini sudah ditetapkan sebagai tersangka. Sedangkan ibu kandung P, Maria, yang diduga mengetahui kejadian tersebut masih diperiksa sebagai saksi.

Sementara Dedi mengaku tak pernah menyiksa anak tirinya. Ia mengakui menyuruh adiknya untuk mengikat korban, karena disebutnya korban terlalu nakal.

“Saat itu saya mau Imlekan, saya titipkan ke Iwan. Saya nyuruh Iwan (mengikat) karena anaknya nakal. Kenakalan anak itu saya sudah tahu sejak lama, tapi tidak pernah menyiksa. Terakhir dia buang air besar sembarangan, dilempar ke mana-mana,” aku Dedi.

Kedua tersangka kini dijerat dengan pasal 77 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Mereka diancam hukuman maksimal 5 tahun penjara.

Editor : Ali Muntoha

Gadis ABG Dihamili Mantan Guru, Bayi Baru Lahir Dibuang di Keranjang Bambu

MuriaNewsCom, Karanganyar – Gadis ABG yang belum genap berumur 17 tahun berinisial S, di Karanganyar, dihamili oleh mantan gurunya berinisial ESA (57). Yang lebih kejam, bayi yang baru saja dilahirkan dari hubungan gelap itu, kemudian dibuang ke keranjang bambu di belakang rumah warga.

Bayi berjenis kelamin laki-laki itu dibuang di belakang rumah warga di kawasan Gondangrejo, Karanganyar, pada Selasa (6/2/2018) sekitar pukul 17.50 WIB. Penemuan bayi itu otomatis menggerkan warga, dan langsung diselidiki Polsek Gondangrejo dan Polres Karanganyar.

Dari hasil penyelidikan diketahui jika bayi tersebut dibuang seorang gadis belia berinisal S yang masih di bawah umur.

Setelah didesak polisi, gadis tersebut mengakui jika orok tersebut adalah bayinya. Gadis itu mengaku jika ia melahirkan secara normal di kamar mandi.

”Karena takut, pelaku akhirnya membuang bayi tersebut di belakang rumah warga,” kata Wakapolres Karanganyar, Kompol Dyah Wuryaning Hapsari, Jumat (8/2/2018).

Dari pengakuan gadis itu juga diketahui jika laki-laki yang menghamilinya, merupakan seorang guru di sekolah negeri di Kecamatan Gondangrej berinisial ESA (57). ESA merupakan mantan guru gadis tersebut.

“Sesuai pengakuan S, petugas akhirnya menangkap ESA pada Rabu (7/2/2018) sekitar pukul 10.00 WIB,” ujarnya.

Saat diinteriogasi polisi, ESA tak membantah. Pria paruh baya yang sudah beristri dan punya dua orang anak ini mengakui telah beberapa kali berhubungan badan dengan mantan anak didiknya tersebut.

Pengakuannya ia berhubungan dengan S sejak 2017, dan mulai melakukan persetubuhan dengan S pada bulan Mei tahun 2017 lalu di salah satu hotel. “Kalau tidak salah sudah 4 sampai 5 kali hingga akhirnya S hamil. Awalnya saya beri uang dan janji akan dinikahi,” aku ESA.

Akibat perbuatannya, ESA kini mendekam di sel tahanan. Ia dijerat dengan pasal 81 ayat 1 dan 2 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman lima tahun penjara. Sedangkan S juga dijerat dengan pasal penelantaran anak.

Meski demikian polisi tak menahan S walaupun sudah ditetapkan sebagai tersangka. Kebijakan ini diambil lantaran S masih di bawah umur.

Editor : Ali Muntoha

Kakek 65 Tahun di Sukoharjo Rakit Pesawat Terbang dari Barang Rongsokan

MuriaNewsCom, Sukoharjo – Seorang montir berusia cukup tua, Texswan Purbobusono (65) mencoba berkesperimen membuat pesawat terbang dari bahan-bahan bekas dan rongsokan. Pesawat yang dibuat warga Dusun Tempel, Desa Pondok, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, itu kini sudah hampir 80 persen jadi.

Hanya tinggal bagian sayap saja yang belum dibuat. Meski belum jatih total, pesawat dengan ukuran mini yang dibuat pria yang biasa dipanggil Leo ini telah beberapa kali dilakukan ujicoba.

Namun ujicoba yang dilakukan baru berupa uji coba jalan mesin pendorong pesawat yang dilakukan dengan mengelilingi kawasan Solo Baru, Grogol. Uji coba terbang akan dilakukannya, jika bagian pesawat sudah jadi.

“Jika sudah ada sayap, saya akan melakukan uji coba terbang di landasan pacu di Pantai Depok, Bantul, DIY. Saya yakin bisa terbang karena sudah diperhitungkan secara teknis,” katanya dikutip dari Solopos.com, Rabu (7/2/2018).

Meskipun berbentuk pesawat, bahan bakar yang akan digunakannya bukan avtur layaknya pesawat pada umumnya. Melainkan menggunakan premium yang menjadi bahan bakar sepeda motor atau mobil.

Ia menyebut, bagian pesawat belum dibuat karena terkendala dana. Ia menyebut, dalam membuat pesawat ini ada empat bagian, yakni badan pesawat [fuselage], sayap [wing], belakang pesawat [empennage] serta roda pendarat. “Hanya sayap pesawat yang belum saya buat lantaran terkendala dana,” ujarnya.

Untuk membuat pesawat ini, ia mengaku sudah mengeluarkan dana sebesar Rp 22 juta. Pesawat terbang rakitan Leo ini beratnya tak lebih dari 100 kilogram (kg) dengan panjang sekitar lima meter.

Sudah dua tahun Leo merakit pesawat ini. Bagian pesawat sebagian besar dibuat dari aluminium bekas dari salah satu kantor instansi pemerintah di Kota Solo. Menariknya, mayoritas bahan rakitan badan pesawat merupakan barang bekas atau rongsok.

“Saya sering membeli spare part sepeda motor di Pasar Silir, Solo. Harganya lebih murah dibanding membeli di toko onderdil sepeda motor. Uang pribadi yang digunakan untuk merakit pesawat terbang Rp 22 juta,” ujar Leo.

Leo terobsesi membikin pesawat terbang lantaran bermimpi melihat wilayah Soloraya dari langit. Dia belajar merakit pesawat terbang secara autodidak. Proses perakitan badan pesawat terbang tak dilakukan saban hari.

Leo harus merampungkan pekerjaan memperbaiki mobil yang mogok atau barang-barang elektronik seperti televisi, komputer, dan kulkas. Saat memiliki waktu luang, Leo lantas merakit satu per satu badan pesawat.

Waktu yang lama dihabiskan untuk merakit pesawat ini, lantaran Leo mengaku tak setiap hari mengerjakan pesawatnya. Proses pembuatan dan perakitan badan pesawat hanya dilakukan di sela-sela kesibukannya sebagai montir mobil dan barang-barang elektronik.

Leo terobsesi membikin pesawat terbang lantaran bermimpi melihat wilayah Soloraya dari langit. Dia belajar merakit pesawat terbang secara autodidak.

Editor : Ali Muntoha

Wali Kota Solo Coba Jadi Sopir, Bus Mewah Gatotkaca Langsung Nabrak Pohon

MuriaNewsCom, Solo – Pemerintah Kota (Pemkot) Solo, Senin (5/2/2018) hari ini meluncurkan bus mewah khusus untuk rapat dan wisata bernama Bus Gatotkaca di halaman Balai Kota Surakarta. Hanya saja, beberapa saat diluncurkan, bus itu langsung mengalami kecelakaan dengan menabrak pohon.

Akibatnya, kaca bagian samping bus mewah ini pecah. Peristiwa kecelakaan ini bermula saat Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo mencoba mengemudikan bus dengan panjang 13 meter tersebut.

Rudy mencoba mengemudikan meeting bus ini di halaman depan Pendaphi Gedhe. Ia kemudian mengemudikannya dari selatan mengarah ke utara.

Saat berbelok ke timur, bagian kiri bus menyerempet pohon yang ada di pinggir halaman Balai Kota. Alhasil, kaca bagian samping kanan bus pecah lantaran terkena batang dan ranting pohon bercabang tersebut.

Wali kota kemudian turun dari bus dan mengecek kondisi badan bus yang juga lecet. Rudy mengakui bahwa dia kesulitan mengemudikan bus yang memang panjang dan besar.

Namanya sopir mesti tahu dulu panjangnya. Saya lupa kalau memang panjang. Yang memberi aba-aba ya keliru. Bilang kanan-kanan terus saya ya kanan. Mestinya tidak bisa lewat sini,” katanya.

Menurutnya, bus yang dahulunya digunakan sebagai bus difabel itu masih dalam masa garansi. Setelah peristiwa ini, bus akan diperbaiki oleh karoseri.

Fasilitas Bus Gatotkaca saat diperkenalkan pada publik 2017 lalu. (Humas Satlantas Surakarta)

Dengan peristiwa ini, Rudy juga mengaku kapok mengemudikan kendaraan besar. Meskipun selama ini Rudy kerap beraksi menjajal berbagai kendaraan, termasuk eksvakator. ”Dengan kejadian ini, besok kalau harus mengemudikan yang panjang-panjang tidak usah, kapok,” ujarnya.

Kepala Dishub Solo, Hari Prihatno mengatakan, bus ini nanti akan dikelola oleh Dishub. Bus ini sebelumnya merupakan Bus Begawan Abiyasa yang disulap menggunaan dana APBD 2017 sebesar Rp199,32 juta. Bus difungsikan sebagai tempat rapat sekaligus berwisata.

“Tarif rencananya sekitar Rp 2 juta untuk tiga jam. Tapi nanti masih kita bahas bersama Sekda dan BPPKAD,” kata Hari.

Bus ini sebenarnya sudah diperkenalkan pada publik kepada publik lewat keikutsertaan mereka dalam acara Gelar Inovasi yang digelar Pemkot di Balai Kota Solo pada Jumat (15/12/2017) lalu.

Di dalam bus ada dua set sofa. Sofa minimalis ditata di bagian tengah, sedangkan sofa mengitari meja dipasang di bagian belakang bus.

Bukan hanya itu, bus juga dilengkapi dengan sejumlah perlengkapain lain untuk menunjang pelaksanaan rapat, seperti LCD proyektor, LCD TV, meja display produk, hingga peralatan membuat minuman.

Selain itu, terdapat pula Area Traffic Control System (ATCS). Penumpang dapat memantau kondisi lalu lintas Kota Solo dari dalam bus.

Editor : Ali Muntoha

Lewat Sragen Bonek Diturunkan Paksa dari Truk, Tapi Habis Itu Mereka Dijamu

MuriaNewsCom, Sragen – Tim gabungan Polres Sragen dan personel TNI dari Kodim 0752/Sragen melakukan swiping terhadap para bonek dari Jawa Timur yang menuju Stadion Manahan Solo, Jumat (2/2/2018) malam. Razia dilakukan pada truk atau kendaraan bak terbuka yang ditumpangi para suporter.

Razia digelar di pos perbatasan Jaim Banaran, Sambungmacam, Sragen. Swiping yang dipimpin Kapolres Sragen, AKBP Arif Budiman bersama personel Dandim 0725/Sragen, Letkol Arh Camas Sigit Prasetyo itu menumkan sejumalh bonek yang menumpang truk.

Truk yang ditumpangi langsung dihentikan, dan para bonek diturunkan. Polisi juga memeriksa barang bawaan mereka, untuk menghindari adanya senjata tajam atau lainnya.

”Kami memeriksa barang bawaan para bonek ini, bila ada barang yang membahayakan bagi orang lain,” katanya.

Dalam pemeriksaan, petugas tak menemukan barang-barang berbahaya. Meski diturunkan secara paksa, para bonek ini tak lantas ditelantarkan begitu saja oleh aparat. Saat berada di pos polisi, mereka dijamu dengan makanan dan minuman.

”Kami menjamin mereka tak akan kelaparan ataupun kehausan. Karena di pos telah disediakan makanan serta minuman gratis bagi suporter yang melintas Sragen,” ujarnya.

Usai dijamu makanan dan minuman, para bonek diminta menunggu rombongan bonek yang akan lewat. Pasalnya, rombongan itu telah dikawal secara khusus oleh petugas kepolisian.

Mereka dikawal mulai dari Jawa Timur, dan ketika memasuki wilayah Sragen kemudian dikawal oleh jajaran Polres Sragen.

Editor : Ali Muntoha

Promo Imlek, Lazada BORONG SHAYYY…Beri Diskon Hingga 80 Persen

MuriaNewsCom, Solo – Untuk memeringati Tahun Baru Imlek yang jatuh pada 16 Februari 2018 mendatang, Lazada akan memberi diskon besar-besaran bagi para pelanggannya. Tak tanggung-tanggung diskon yang diberikan hingga 80 persen untuk berbagai macam produk.

Chief Marketing Officer Lazada Indonesia, Achmad Alkatiri menyatakan, tahun ini Lazada turut memeriahkan perayaan Imlek sedikit berbeda. Yakni dengan program bertajuk BORONG SHAYYY Promo #PalingCuan dengan diskon hingga 80 persen.

“Puncak kemeriahan akan dihadirkan lebih awal mulai tanggal 30 Januari hingga 4 Februari 2018. Kami berharap para konsumen Lazada dapat memanfaatkan berbagai promo dan penawaran menarik yg kami hadirkan,” katanya.

Selama sepekan, program bertajuk “BORONG SHAYYY” dari Lazada Indonesia ini, akan memanjakan konsumennya dengan berbagai promo. Seperti promo #PalingCuan, Flash Sale 8 kali sehari, rangkaian produk di bawah 88 ribu dan di bawah 888 ribu, Angpao dari Seller, Angpao dari mitra/partner, serta berbagai program lainnya dari partner bank, antara lain dari Bank Permata, BTN, dan Bank Mega.

Selain itu, fasilitas Gratis Ongkir, Cash on Delivery, dan kebijakan pengembalian barang maksimal 14 hari setelah barang diterima akan tetap hadir untuk menjadikan program Tahun Baru Imlek ini sebagai program yang paling membawa hoki bagi konsumen Lazada di seluruh Indonesia.

Berbagai koleksi produk dekorasi rumah penuh warna dan penuh gaya untuk mendukung perayaan Imlek dihadirkan Lazada mulai dari tanggal 26 Januari 2018 di laman http://www.lazada.co.id/cny-mega-sale/.

“Ini untuk mengantisipasi kepadatan jadwal perayaan dan tradisi yang biasanya memuncak di dua pekan sebelum Imlek,” terangnya.

Berbagai produk aksesoris interior pembawa hoki, seperti home entertainment, aksesoris elektronik, keperluan rumah dan gaya hidup siap diborong. Bahkan hingga aksesoris mobil pun dihadirkan dengan harga miring untuk menambah keseruan berbelanja menjelang Imlek.

Editor : Ali Muntoha

Nyelonong Masuk Rel, Mobil Picanto Remuk Terjepit Kereta di Solo

MuriaNewsCom, Solo – Sebuah mobil KIA Picanto yang dengan pelat nomor sementara AD 7296 XX, Kamis (25/1/2018) subuh tiba-tiba nyelonong ke jalur rel kerata api (KA) di Jalan Slamet Riyadi, Solo. Padahal saat itu tengah melaku KA 302 Batara Kresna yang baru berangkat dari Stasiun Purwosari.

Akibatnya, mobil berwana putih itu langsung menabrak bagian depan kereta dan terjepit hingga berjam-jam. Kondisi mobil hancur hingga nyaris tak berbentuk.

Mobil itu diketahui dikendarai seorang wanita. Beruntung perempuan tersebut berhasil diselamatkan dan langsung dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani perawatan.

Identitas perempuan itu diketahui bernama RR Intan Ayu Kusuma Pratiwi. Intan hingga saat ini masih menjalani perawatan di RS PKU Muhammadiyah Solo. Pengemudi tak mengalami luka parah, hanya saja masih syok dengan tabrakan itu.

Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 04.07 WIB, di Simpang Tiga Stadion Sriwedari. Saat itu KA Btara Kresna baru memulai pemberangkatan pertama dari Stasiun Purwosari menuju Stasiun Wonogiri.

Diduga kecelakan itu akibat kesalahan pengemudi mobil yang tak berhati-hati. Kasatlantas Polres Surakarta, Kompol Imam Safi’i mengatakan, dari keterangan saksi  Intan diduga tidak melihat adanya KA Batara Kresna melintas di rel di pinggir Jalan Slamet Riyadi. Akibatnya, sopir mobil berpelat putih itu terjepit sampai dua jam.

“Jalan Slamet Riyadi sebelum jam 6 kan masih contraflow. Mobil ini dari arah timur sepertinya tidak memperhatikan ada kereta dari arah barat,” kata Imam di lokasi kejadian, Kamis (25/1/2018).

Ia menjelaskan sebenarnya KA Bathara Kresna ini saat melintas di Jalan Slamet Riyadi, melintas pelan.

“Jadi memang protapnya seperti itu. Jalan dengan kecepatan 20-30 km/jam, sampai ke Wonogiri. Kuat dugaan pengemudi tak berhati-hati saat belok dan tak melihat Batara Kresna melaju,” ungkapnya.

Proses evakuasi mobil yang terjepit kereta itu memakan waktu yang cukup lama. Petugas SAR, Dishub Solo, Damkar Solo dan pihak kepolisian dikerahkan untuk proses evakuasi.

Petugas juga mendatangan unimog dan crane untuk memindahkan mobil. Proses evakuasi baru berhasil dilakukan sekitar pukul 06.10 WIB.

Akibat ditabrak mobil itu, roda kereta pun anjlok dari rel. Proses evakuasi memeakan waktu yang lama sehingga menyebabkan kemacetan yang cukup parah di sekitar lokasi kejadian.

Editor : Ali Muntoha