Ternyata Rembang pada Zaman Dahulu adalah Penghasil Tebu

 Edi Winarno, Ketua Masyarakt Sejarawan Indonesia Cabang Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Edi Winarno, Ketua Masyarakt Sejarawan Indonesia Cabang Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Kabupaten Rembang, saat ini memang lebih dikenal dengan penghasil kekayaan lautnya. Hal ini, tak lepas dari letak geografis yang berada di pesisir. Namun, tahukan Anda, dulunya Rembang ternyata merupakan wilayah sebagai penghasil tebu.

Hal itu terlihat dari perjalanan sejarah yang menyebutkan, jika sekitar tahun Saka 1336 ada orang Campa Banjarmlati berjumlah delapan keluarga yang pandai membuat gula tebu ketika ada di negaranya. Yang kemudian, orang-orang tadi pindah untuk membuat gula merah yang tidak dapat di patahkan itu.Hal ini seperti yang disebutkan dalam sebuah manuskrip oleh Mbah Guru.

Selanjutnya, mereka berangkat melalui lautan menuju arah barat hingga mendarat di sekitar sungai yang pinggir dan kanan kirinya tumbuh tak teratur pohon bakau. Kepindahannya itu dipimpin kakek Pow Ie Din. Setelah mendarat, kemudian mengadakan doa dan semedi, yang selanjutnya melakukan penebangan pohon bakau tadi dan kemudian diteruskan yang lainnya.

Tanah lapang itu kemudian dibuat tegalan dan pekarangan serta perumahan yang selanjutnya menjadi perkampungan itu dinamakan kampung Kabongan, yang mengambil kata dari sebutan pohon bakau, menjadi ka-bonga-an.

Kemudian, pada suatu hari saat fajar menyingsing di bulan Waisaka, orang-orang mulai ngrembang (mbabat) tebu. Sebelum dimulai mbabat terlebih dahulu diadakan upacara suci sembahyang dan semedi di tempat tebu serumpun yang akan dipangkas dua pohon, untuk tebu “penganten”.Upacara pemangkasan itu dinamakan “Ngrembang”.

Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Rembang Edi Winarno mengatakan, dari sejarah Ngrembang Tebu Sakawit (mengkikat atau merangkai tebu sepasang) untuk dilarung ke laut itulah, Kabupaten ini sekarang dijuluki dengan sebutan Rembang.”Selain itu, masyarakat Campa tersebut bermukim di wilayah Kabongan Rembang,” katanya.

Namun demikian, katanya, setelah dilakukan panen tebu, kemudian orang-orang Campa tersebut tidak lagi menanam tebu, karena menyadari jika wilayah yang ditempati tersebut berada di bibir pantai, dan tak kuat menahan abrasi jika ditanami tebu. Kemudian, mereka kembali menanam mangrove, yang bertujuan agar pantai aman dari abrasi.

Editor : Kholistiono

Rumah Adat Kudus Kian Berkurang, Ini Upaya Pemkab

rumah adat 2

Warga berada di bangunan rumah adat Kudus.

 

MuriaNewsCom, Kudus – Banyak upaya yang dilakukan Pemkab Kudus dalam menjaga rumah adat setempat.

Hanya, upaya yang dilakukan terkendala aturan, sehingga belum dapat berjalan maksimal.

Hal itu disampaikan Kasi Sejarah  Kebudayaan pada Disbudpar Kudus Sutiono. Menurutnya, beragam hal sudah dilakukan untuk menjaga rumah adat Kudus dari kepunahan. Seperti halnya memberikan bantuan perawatan bagi pemilik atau mengelola

“Tiap rumah kami berikan Rp 300 ribu untuk bantuan perawatan. Namun, itu tidak bisa rutin. Seperti tahun ini yang hanya berlaku tiga bulan saja,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Berbeda dengan 2015 lalu, yang diberikan selama 11 bulan. Hal itu berkaitan dengan kemampuan anggaran yang diupayakan selama satu tahun penuh.

Hal lain yang dilakukan adalah dengan tidak melarang pemilik menjual rumah adat. Sebab diakui status kepemilikan adalah milik warga, bukanlah milik dinas.

“Biasanya alasan ekonomi, selain perawatan yang memang mahal, hal lain juga alasan ahli waris atau bagi waris. Jadi kami tidak dapat melarang,” ungkapnya.

Terlebih, kata dia gebyok yang dijual dapat laku mahal. Bahkan ketika gebyok asli dijual mampu dibuat rumah hingga 3 buah.

“Kami sedang membuat rancangan perda soal itu. Agar pemilik juga dapat bantuan dalam pengelolaannya sehingga tidak terlalu terbebani. Dan Harapan nya rumah adat Kudus dapat tambah,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Salawat Asnawiyah Kini Menasional

Pembacaan shalawat Aswaniyah di jalan KHR Asnawi Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pembacaan shalawat Aswaniyah di jalan KHR Asnawi Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus  – Salawat Asnawiyah merupakan salawat yang diciptakan KH R Asnawi.

Ketua Pengurus Yayasan M Nadjib Hasan saat kegiatan daulat Salawat Aswaniyah oleh Kiai Kanjeng dan Cak Nun, Rabu (3/8/2016), mengatakan, salawat itu akan diperuntukkan bagi Indonesia.

Pihaknya tidak mau egois dengan menyimpan salawat Aswaniyah untuk Kudus saja. Karenanya, Salawat Asnawiyah pun diharapkan bisa untuk seluruh warga Indonesia.

“Kami melihat kiai Kanjeng yang pas untuk membawa salawat ini sampai nasional. Kami melihat hanya beliau yang bisa,” katanya.

Menurut dia, Salawat Asnawiyyah mengandung nilai kebangsaan. Diketahui, KHR Asnawi atau Mbah Asnawi  semasa hidupnya juga mengajar Kitab Hadits Bukhori di Masjid Menara. Sebelum mengaji, Salawat Asnawiyah dibaca.

Kemudian, dilanjutkan KH. Arwani Amin yang mengajar Tafsir dan Hadits Bukhori juga mengawali ngaji dengan membaca Salawat Asnawiyyah.

Editor : Akrom Hazami

 

Miris, Bangunan Rumah Adat Kudus Hanya Tersisa 21 Unit

TAMPAK DEPAN RUMAH ADAT KUDUS

Bangunan rumah adat Kudus.

 

MuriaNewsCom, Kudus –  Bangunan rumah adat Kudus, boleh dibilang terus berkurang jumlahnya. Sebab, dari sembilan kecamatan di Kudus, hanya terdapat 21 bangunan saja.

Hal itu disampaikan Kasi Sejarah  Kebudayaan pada Disbudpar Kudus Sutiono . Menurutnya, data terakhir yang didapat, rumah adat Kudus hanya sekitar 21 unit.

“Kebanyakan terdapat di daerah Kudus Kulon, atau sekitar Desa Damaran, Langgar Dalem dan beberapa desa lainnya. Meskipun begitu, masih ada juga beberapa rumah adat Kudus di daerah lainya,” katanya kepada MuriaNewsCom, Rabu (3/8/2016).

Menurutnya, jumlah 21 rumah itu, dinilai dapat bertambah seiring masyarakat yang sadar dengan kelestariannya.

Rumah adat Kudus berbentuk gebyok memiliki bentuk yang khas. Yakni bentuk kayu gebyok pada depan rumah, dan juga ada empat tiang penyangga di tengah rumah.

Motif rumah adat Kudus tidak harus ukir. Namun yang motif polos juga masuk rumah adat Kudus. Yang pasti, semua adalah dari bahan kayu.

Dia berharap, kalau pemilik rumah yang memilikinya agar tidak menjualnya. Karena jika itu terjadi, maka kepunahan pun akan terjadi.

“Kami akui pembuatan rumah adat mahal. Makanya masyarakat enggan membuat rumah adat Kudus,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Warga Kutuk, Yuk Nonton Film Cukai yang Asyik Ini

 Ramainya kegiatan pemutaran film sosialisasi cukai yang digelar Bagian Humas Setda Kudus di beberapa desa yang ada di wilayah ini (MuriaNewsCom)


Ramainya kegiatan pemutaran film sosialisasi cukai yang digelar Bagian Humas Setda Kudus di beberapa desa yang ada di wilayah ini (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Mau tontonan yang menghibur sekaligus memberikan edukasi tersendiri? Nah, bagi warga Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, datang saja ke lapangan desa setempat, pada Kamis (4/8/2016) mulai pukul 19.00 WIB.

Di sana, warga bisa menyaksikan sendiri berbagai macam film yang menyenangkan, menghibur, sekaligus memberikan pembelajaran bagi warga, akan pentingnya Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang diterima Kabupaten Kudus selama ini.

Kegiatan ini adalah kegiatan yang digelar Bagian Humas Setda Kudus, sebagai bagian sosialisasi mengenai aturan cukai. Dengan cara memutarkan film soal itu, di desa-desa yanga da di Kudus ini. ”Kita akan datang ke Desa Kutuk, untuk keperluan serupa. Sehingga warga bisa memanfaatkan kesempatan ini,” kata Kepala Bagian (Kabag) Humas Setda Kudus Putut ”Win” Winarno.

Pemutaran film iklan cukai di Kutuk ini, sama dengan kegiatan sebelumnya yang sudah digelar di berbagai desa di Kudus ini. Kegiatan yang digelar ini, dengan berlandaskan Peratuan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK 07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sanksi atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Peraturan Bupati Kudus Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus.

”Warga Desa Kutuk bisa melihat sendiri bagaimana dana cukai itu digunakan. Yakni demi kesejahteraan warga itu sendiri. Bagaimana bisa memanfaatkan dana ini dengan baik, bisa disaksikan lewat pemutaran film ini,” terangnya.

Winarno menganggap penting jika warga Desa Kutuk, menyaksikan film ini. Karena mereka adalah bagian yang berhak untuk memanfaatkan dana cukai, demi peningkatan kesejahteraan mereka.

”Itu sebabnya, kita putarkan film berbagai penggunaan dana cukai. Biar warga bisa paham, bahwa mereka adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam penggunaan dana cukai yang diterima Pemkab Kudus. Yakni digunakan untuk peningkatan kesejahteraan mereka,” paparnya.

Bagian Humas Setda Kudus menjadi salah satu pilar untuk melakukan sosialisasi mengenai aturan pemakaian dana cukai ini. Dan yang terbaru adalah sosialisasi dengan menggunakan metode pemutaran film soal cukai, yang digelar di desa-desa.

Ada banyak tema yang diperlihatkan dalam film-film garapan Bagian Humas tersebut. Namun intinya adalah bagaimana dana cukai tersebut, bisa digunakan warga untuk meningkatkan pendapatan atau kesejahteraan mereka.

Dengan sosialisasi melalui film ini, Winarno mengatakan, pihaknya ingin mengajak masyarakat luas, supaya bisa memahami aturan soal cukai ini. Termasuk bahwa dana cukai itu digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan warga, melalui berbagai kegiatan.

”Bahkan, dana cukai itu dibuat untuk memperbaiki jalan-jalan di Kudus, yang tentunya akan membuat aktivitas atau kegiatan warga menjadi lancar. Jika infrastruktur sudah mendukung, maka aktivitas perekonomian juga akan meningkat. Dan akan mengangkat kesejahteraan masyarakat,” papar Winarno.

Setelah Desa Kutuk, kegiatan pemutaran film ini akan digelar juga di Desa Pladen (Jekulo) pada 6 Agustus 2016, Desa Payaman (Mejobo) pada 10 Agustus 2016, Desa Hadipolo (Jekulo) pada 13 Agustus 2016, dan Desa Honggosoco (Jekulo) yang belum ditentukan tanggalnya. (HMS/SOS/CUK)

Editor: Merie

502 Calon Haji Blora Ikuti Penutupan Manasik Haji

haji

Calon jamaah haji saat menghadiri acara penutupan manasik di Pendapa Rumah Dinas Bupati Blora. (Dok Humas Pemkab Blora)

 

MuriaNewsCom, Blora – Serangkaian acara Manasik Calon Haji Kabupaten Blora 2016 telah ditutup secara resmi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Blora di Pendapa Rumah Dinas Bupati, Selasa (2/8/2016).

Kegiatan dihadiri Wakil Bupati.Arief Rohman dan Ketua MUI Blora KH.Muharror Ali. Di depan para calon haji Kabupaten Blora tahun 2016, Kepala Kemenag Blora Tri Hidayat menerangkan bahwa tahun ini jumlah calon haji yang berangkat sebanyak 502 orang. Terdiri dari 240 jamaah pria dan 262 jamaah wanita.

“Pada awalnya ada 503 jamaah yang telah melunasi biaya haji, namun satu jamaah asal Kedungtuban atas nama Parmin bin Sumiran meninggal dunia belum lama ini sehingga yang berangkat nanti hanya 502. Terbagi dalam 2 kelompok terbang (kloter), kloter 39 SOC dan kloter 65 SOC,” jelas Tri.

Masih menurut Tri, jamaah calon haji Blora 2016 yang termuda adalah Susi Lindyawati binti Djono berumur 24 tahun asal Kelurahan Cepu, Kecamatan Cepu. Sedangkan calon haji tertua atas nama Mohamad Bisri bin Cholil umur 86 tahun asal Desa Kentong Kecamatan Cepu.

Untuk pemberangkatan, kloter 39 SOC sejumlah 355 jamaah dengan didampingi 5 petugas akan berangkat pada Rabu (24/8/2016) dari Pendapa Rumah Dinas Bupati pukul 04.00 WIB. Kloter 39 SOC sudah harus masuk ke Embarkasi Donohudan pukul 08.00 WIB.

“Sedangkan untuk kloter 65 SOC sejumlah 148 jamaah akan digabung dengan jamaah dari Kabupaten Rembang dan Jepara, berangkat Kamis 1 September 2016 pada siang hari, kloter 65 ini harus masuk Embarkasi Donohudan pada pukul 15.00 WIB,” lanjut Tri.

Sementara itu Wabup Arief Rohman dalam sambutannya mengucapkan selamat kepada 502 calon haji yang merupakan umat pilihan Allah, dan harus disyukuri.

“Dari hampir sejuta warga Blora, 502 ini lah yang tahun ini terpilih menunaikan ibadah ke Baitullah. Jenengan semua patut bersyukur dan semoga kelak menjadi haji yang mabrur,” ucap Arief.

Kepada para calon haji, Wabup yang asli Desa Sendangwungu, Kecamatan Banjarejo ini juga meminta doa dan dukungan agar dalam kepemimpinan Bupati Djoko Nugroho bersama dirinya bisa mewujudkan Blora yang lebih sejahtera dan bermartabat.

“Kami sudah 6 bulan memimpin Blora sejak dilantik Februari silam, dan semoga ke depan bisa mewujudkan Blora yang lebih sejahtera dan bermartabat. Dalam masa jabatan ini, Bupati telah sepakat akan menyeimbangkan antara pembangunan fisik dan rohani. Berbagai kegiatan keagamaan akan secara rutin kita gelar,” ungkapnya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Album Kompilasi WaveTones Sampai di Tangan Grup Band Nasional

f-pr sukun

MuriaNewsCom, Kudus – Kudus Indienesia bersama WMld  semakin gencar mempromosikan gelaran WavesTones 2016. Hal ini sebagai ajang untuk mencari bakat band-band lokal di eks-Karesidenan Pati.

Bahkan, beberapa band nasional, seperti Ungu, Souljah, ADA Band, Shaggy Dog hingga Last Child pun diberi hasil album kompilasi WaveTones pertama tahun 2014 sebagai gambaran umum skill para band lokal. Langkah itu dilakukan guna mengenalkan bakat-bakat putra daerah dalam hal bermusik.

Ketua Kudus Indienesia Doni PM mengatakan, sejauh ini para band papan atas tersebut menyambut positif adanya WavesTones. Terlebih kesempatan para band lokal dikancah nasional masih terbuka lebar.

”Langkah ini juga sebagai bukti kalau di Kudus tak hanya dikenal dengan religinya, tapi juga dikenal sebagai Kudus Kota Kreatif. Terutama pemudanya yang sangat bertalenta dalam hal seni musik,” ungkapnya.

Karena itu, lanjutnya, kesuksesan WavesTones 2014 menjadi gerbang untuk mengenalkan musisi di eks Karesidenan Pati ke tingkat nasional. Apalagi, album kompilasi WavesTones 2014 sudah digandakan ribuan dan disebar ke kota-kota besar di Indonesia.”Kami juga sudah menyebarkan album kompilasi WavesTones yang pertama ke radio-radio di kota-kota besar di Indonesia. Tanggapannya pun bagus,” imbuhnya.

Sebelumnya, Doni juga sudah bergerilya ke beberapa Coffee Shop, Angkringan, dan band ternama di eks-Karesidenan Pati untuk melakukan testimoni terkait keberadaan WavesTones tahun ini.

Dari testimoni yang dilakukan, semua Coffee Shop ataupun angkringan siap membantu jalannya acara. Baik menjadi outlet untuk penyerahan formulir peserta ataupun pemutaran album kompilasi.”Hasilnya sangat bagus. Hampir semua yang di testimoni menyambut positif acara WavesTones. Mereka juga bersedia memutar album kompilasi yang akan dibuat,” kata Doni.

Selain itu, tambah Doni, mereka juga mengapresiasi keberadaan WavesTones. Apalagi, di eks-Karesidenan Pati WavesTones diharapkan bisa menjadi pelopor kebangkitan band lokal untuk merambah belantika musik Tanah Air.

Editor : Kholistiono

Yang Perlu Kamu Tahu Kenapa Rumah Warga Rembang Mirip Gaya Jawa Timuran

 Rumah warga Rembang yang gayanya hampir mirip dengan gaya rumah di Jawa Timur (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Rumah warga Rembang yang gayanya hampir mirip dengan gaya rumah di Jawa Timur (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Rumah warga Rembang, khususnya yang berada di bagian pesisir terlihat jelas, gayanya hampir mirip dengan gaya rumah di Jawa Timur. Hal itu terlihat dari bagian atap yang agak rendah dibandingkan joglo khas Jawa Tengah, yang lebih tinggi.

Masyarakat Sejarawan Indonesia Kabupaten Rembang Edi Winarno mengutarakan, bentuk rumah joglo warga Rembang itu berbeda dengan rumah warga Jawa Tengah lainnya.”Rembang ini, secara geografisnya sangat dekat dengan Jawa Timur, karena memang perbatasan. Di samping itu, Rembang juga merupakan daerah pesisir seperti halnya Jawa Timur,” ujarnya.

Ia katakan, untuk tinggi joglo rumah khas Jawa Tengah berkisar 5 hingga 6 meter. Sedangkan di Rembang hanya mempunyai tinggi 3 meter. “Bila kita analisa dengan saksama, mengapa joglo Rembang lebih rendah, sebab, Rembang itu pesisir. Angin di daerah pesisir itu sangat kencang. Sehingga joglo rumahnya juga dibuat agak rendah. Dikhawatirkam, saat ada angin yang bertiup kencang, maka akan bisa membayahayakan penghuni rumah,” katanya.

Tidak hanya di Rembang,  di wiyalah Pati bagian pesisir terlebih bagian timur juga mempunyai bangunan yang sama dengan Rembang. Selain menyesuaikan keadaam alam, Rembang juga sangat dekat sekali dengan daerah Jawa Timur. “Rumah di Rembang, juga ada sedikit kultur Cina. Yakni bentuk wuwungan (samping joglo) juga tidak terlalu tinggi. Namun wuwungan itu berbentuk datar menjorok ke bawah,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Calon Jamaah Haji Kudus Disuntik Vaksin Meningitis

miningitis

Petugas melakukan penyuntingan vaksin meningitis di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus –Seluruh calon jamaah haji, diberikan vaksin meningitis mulai hari ini, Selasa (2/8/2016). Pelaksanaan pemberian vaksin, dilakukan di semua kecamatan se-Kudus.

Petugas pemberi vaksin, Dokter Widiatmoko mengungkapkan, untuk mengatasi hal yang tidak diinginkan, maka para jamaah diberikan vaksin meningitis.

“Dapat meningkatkan kekebalan tubuh, jadi dapat mencegah adanya penularan penularan virus. Apalagi ini seluruh dunia. Namun sifatnya berjaga-jaga,” katanya kepada MuriaNewsCom saat pemberian vaksin di Puskesmas Kota.

Menurutnya, sebanyak 19 puskesmas mulai Selasa, 2 Agustus  2016, petugas memberikan vaksin meningitis kepada para calon jamaah haji. Yaitu berupa suntik.

“Harus berani, toh ini juga tidak sakit. Jarumnya juga kecil, jadi tidak begitu terasa. Sehingga jika ada calon yang takut, kami yakinkan dulu,” ujarnya.

Pemberian vaksin ini ada dua jenis, yakni vaksin meningitis dan influenza. Kalau meningitis ini wajib, tetapi kalau influenza tidak diwajibkan, hanya disarankan saja. Karena untuk menjaga daya tahan tubuh calon jamaah haji saat menjalankan ibadah.

Menurut dia, ketika tidak menerima vaksin, dikhawatirkan saat melakukan ibadah haji akan tertular penyakit dan mewabah di Indonesia. Hal ini cukup membahayakan bagi masyarakat Indonesia. Oleh karena itu antisipasinya dengan pemberian vaksin.

Dia menambahkan, untuk vaksin meningitis ini ketahanannya sampai dua tahun. Sementara untuk vaksin influenza ini, Kamal, panggilan akrabnya, menyarankan bagi calon jamaah haji terutama yang menderita penyakit asma.

Menurutnya, pemberian vaksin dilakukannya selama dua hari, yakni mulai hari ini dan besok. Hanya untuk jadwalnya diatur oleh DKK.

“Seperti di puskesmas Wergu, Kota, ada 48 calon jamaah yang divaksin. Jadi cukup satu hari saja,” ungkapnya.

Pada tahun ini, jamaah asal Kudus Sejumlah 903. Yang seharusnya ada 905, namun ada dua jamaah yang meninggal.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Museum Kartini Jepara Akan Direnovasi

museum

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi saat menandatangani kesepakatan renovasi museum Kartini dengan pihak-pihak terkait. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Museum Kartini Jepara akan dirombak atau direnovasi mulai 17 Agustus 2016 mendatang, tepat pada perayaan hari kemerdekaan RI.

Itu mengemuka setelah ada pendatanganan kesepakatan itu antara Pemkab Jepara dengan pihak ketiga yang bersedia melakukan perombakan atau renovasi museum tersebut.

“Rencananya, petugas akan mulai melakukan pekerjaan renovasi museum RA Kartini setelah upacara Kemerdekaan RI, dengan pembukaan seremonial secara sederhana,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Mulyaji, Senin (1/8/2016)

Menurutnya, Museum Kartini merupakan salah satu ikon Jepara yang harus dijaga, dan dirawat peninggalannya yang ada di dalamnya, sehingga nantinya museum akan menjadi daya tarik bagi wisatawan yang datang ke Jepara.

“Meskipun museum itu diwacanakan menjadi ranah pendidikan. Tetapi secara unsur pariwisata menjadi destinasi wisata tersendiri. Ada unsur penting yang mempu menjadi magnet wisatawan,” ungkapnya.

General Manager PT PLN (Persero) Pembangkitan Tanjung Jati B Ari Basuki mengatakan bahwa pihaknya yang turut terlibat dalam renovasi museum kartini akan selalu melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten dalam proses pembangunan museum agar berjalan lancar sesuai dengan rencana.

“Untuk renovasi pembangunan museum R.A Kartini akan dibangun melalui tiga tahap dengan total biaya ditaksir sebesar Rp. 1,7 miliar yang ditanggung bersama oleh pihak kedua dan pihak ketiga,” kata Ari.

Sementara itu, Direktur PT CJP PLTU Tanjung Jati B Kenji Koike sebagai Wakil dari Presiden Direktur PT CJP di Jakarta mengatakan untuk CJP sangat mengapresiasi apa yang dilakukan antara pemerintah daerah Kabupaten Jepara dengan PLTU untuk merenovasi museum R.A Kartini. Agar nantinya nampak indah sebagai daya tarik wisatawan ke Jepara.

“Kami akan membantu jika berhubungan dengan masyarakat. Itu sesuai dengan anjuran kantor CJP yang ada di Tokyo Jepang,” katanya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

 

 

Hantu Numpang Naik Motor di Blora

ditumpangi-hantu

 

MuriaNewsCom, Blora – Dari sekian pengalaman misteri, pengalaman yang saya tulis kali ini adalah pengalaman misteri saat turing dengan seorang kawan dari Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah sekitar 3 tahun yang lalu.

Selepas kami dari Ciamis, Jawa Barat, baliknya aku ikut mampir ke rumah kawan di Purwodadi untuk istirahat sehari sebelum balik ke Tuban, Jawa Timur.

Keesokan harinya selepas asar dengan mengendarai motor masing-masing dia mengantarku sampai Bledug Kuwu sekalian untuk menemaniku untuk mengambil gambar di obyek wisata itu dan sekadar menikmati es kelapa muda yang memang banyak dijual di situ.

Keasyikan melihat obyek wisata bumi yang sedang batuk itu tidak terasa hari sudah menjelang maghrib. Baru selepas maghrib, saya memulai perjalanan pulang ke Tuban, yang mungkin membutuhkan 3 atau 4 jam perjalanan, maklum jalan alternatif Cepu-Semarang ini rusak parah waktu itu.

Sebenarnya saya sudah merasa ada yang lain saat akan memulai perjalanan pulang ini. Sejak saya meluncur dari Bledug Kuwu, saat motor yang saya kendarai memasuki kawasan Kecamatan Kradenan, Grobogan, tiba-tiba ban bocor.

Untungnya masih ada satu tukang tembal ban deket kantor kecamatan yang masih buka. Setelah itu ketika memasuki Kecamatan Gabus tiba-tiba lampu depan mati, terpaksa saya berhenti di pasar Sulursari untuk memperbaikinya.

Beberapa saat setelah lampu kembali normal saya lanjutkan perjalanan. Sekitar satu jam saya baru masuk masuk Randu Blatung, Blora, Jawa Tengah. Sekitar satu jam kemudian melintasi area hutan jati barulah saya sampai ke wilayah Klopo Duwur, Blora.

Kurang dari 30 menit kemudian saya sudah memasuki pusat Kabupaten Blora dan langsung mengambil jurusan Bojonegoro. Lepas dari Batalyon 410 Blora sekitar 500 meter tiba-tiba tanpa sebab mesin motor mati.

Sebelumnya ini belum pernah terjadi. Di samping masih tergolong motor yang baru saat itu. Sebelum berangkat touring saya selalu mempersiapkan motor sesempurna mungkin. Sedikit jengkel, saya tepikan motor ke tepi jalan dan memang jalanan saat itu masih ramai dari arah Blora menuju Bojonegoro, Jawa Timur.

Belum sempat menyandarkan standar motor, saya dikejutkan oleh suara yang tiba-tiba oleh wanita tua, dari mana datangnya saya tidak jelas. “Mas boleh saya minta tolong.” Kata wanita tua itu.

Saya menoleh ke arah lelaki tua itu yang menyapaku itu, “Apa yang bisa saya bantu Mbah?” jawabku. “Saya boleh menumpang sampai di Bogorejo, mau naik ojek sya tidak ada uang, Nak!” kata nenek tua itu bernada melas. “Oo monggo Mbah, kebetulan nanti saya lewat situ. Tapi sabar dulu ya Mbah, motor saya agak rewel, saya akan cek dulu mesinnya sebentar”.

Saya sama sekali tidak memperhatikan lagi wanita tua itu, saya terus konsentrasi dengan motorku. Setelah mengecek kondisi mesin, ternyata tidak ada sedikit masalah apapun terhadap mesin motorku. Begitu mesin motor saya starter langsung menyala, saya segera melanjutkan perjalanan yang sebelumnya mempersilahkan wanita tua itu segera naik ke motor.

“Pegangan ya Mbah!” sambil aku lajukan motor, namun kali ini saya hanya melajukan motor dengan kecepatan standar karena membonceng seorang wanita, tua lagi. Waktu tertunda lagi satu jam lagi untuk sampai ke rumah.

Bau wangi dari wanita tua itu sebenarnya yang membuat risih. Sebab bau wanginya tidak seperti wewangian pada umumnya, saya rasa wewangian itu aneh.

Dalam pikir saya, nenek ini gaul juga, ya masak punya parfum tapi tidak punya uang untuk ojek. Namun, aku tidak mempedulikannya, saya anggap bau wangi seperti ini sama dengan wangian wanita yang ada di kampung saya juga.

Umumnya pada helatan hajatan kebiasaan mereka memakai wangian, namun ya itu tadi menyengat. Dalam perjalanan tidak banyak yang saya bicara dengan nenek itu, sebatas mengingatkan untuk pegangan saja, di samping itu saya harus berkonsentrasi mengemudikan motor.

Ketika memasuki Kecamatan Bogorejo, Blora saya mencoba bertanya pada wanita tua itu. Tetapi sama sekali tak ada jawaban dari wanita itu. Tidak dengan barangkali pikirku, karena waktu saya tanya sama dia kondisi motor sedang berjalan.

Sampai di dekat pasar Bogorejo saya bertanya lagi pada wanita itu. Namun tetap tak ada jawaban. Saya tepikan motor di dekat simpang tak jauh dari pasar dengan tujuan hendak bertanya kembali pada wanita itu, namun saat saya menoleh ke belakang saya sangat terkejut. Wanita yang saya bonceng raib entah kemana perginya.

Cerita dikutip dari blogspot Abyarsyyadwahaby. Silakan bagi yang punya cerita misteri, bisa kirimkan ke alamat email red.murianews@gmail.com. Bisa juga dikirim ke Fanpage Murianewscom. Pihak redaksi akan menayangkannya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :  Ketemu Hantu Terbang Sedang Nyeberang Jalan

Hantu Cantik di Tikungan di Rembang Siap Menakutimu 

 

 

 

Sosialisasi Film Cukai di Gamong, Jadi Pasar Rakyat

 

kudus-iklan cukai-film-gamong-past-tyg 1 agustus 2016

Warga Desa Gamong, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, memadati lokasi pemutaran film mengenai sosialisasi penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang digelar Bagian Humas Setda Kudus, di lapangan desa setempat, Minggu (31/7/2016). (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kegiatan sosialisasi aturan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang diterima Kabupaten Kudus melalui pemutaran film, rupanya bisa menjelma menjadi pasar rakyat.

Misalnya saja yang terjadi di Desa Gamong, Kecamatan Kaliwungu, di mana warga desa setempat dan sekitarnya, tumplek di lapangan, saat diadakannya pemutaran film tersebut, Minggu (31/7/2016) malam kemarin.

Warga berbondong-bondong datang untuk menyaksikan pemutaran film yang dikemas seperti pertunjukan layar tancap itu. Bahkan, jalanan desa menjadi cukup tersendat arus lalu lintasnya, karena antusiasme warga ini.

Bukan itu saja. Para pedagang kaki lima (PKL) juga terlihat memadati lokasi acara. Mereka turut memanfaatkan kegiatan itu, untuk menambah penghasilan dengan berjualan aneka macam dagangan.

Ini tentu saja satu hal yang sangat positif dari kegiatan yang digelar dengan berlandaskan Peratuan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK 07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sanksi atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Peraturan Bupati Kudus Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus.

”Kami sangat terkesan dengan antusiasme warga ini. Jadi apa yang kami inginkan dari kegiatan ini tercapai. Yakni kehadiran warga dalam kegiatan tersebut, menjadi terpenuhi. Karena mereka memang sasaran dari kegiatan ini,” terang Kepala Bagian (Kabag) Humas Setda Kudus Putut Winarno.

Winarno mengatakan bahwa dengan kehadiran warga itu, maka tujuan supaya warga bisa memahami jika dana cukai digunakan untuk kesejahteraan mereka, akan bisa terwujud.

Melalui kegiatan ini, menurut Winarno, memberikan kesempatan kepada warga Gamong, untuk menyaksikan film yang bertemakan aturan mengenai penggunaan dana cukai. ”Jadi dana cukai yang diterima Kudus, itu digunakan untuk apa saja. Bisa disaksikan langsung di kegiatan ini. Yakni bagaimana pemkab menyusun aneka program kegiatan melalui dana cukai, yang bisa dimanfaatkan oleh warga untuk meningkatkan kemampuannya,” tuturnya.

Apalagi dengan melihat respon masyarakat yang bagus, Winarno optimistis jika dana cukai akan benar-benar makin bermanfaat. Warga akan bisa memiliki kesempatan untuk ikut memanfaatkan dana ini, demi meningkatkan kesejahteraan mereka.

”Di mana melalui dana cukai, Pemkab Kudus sudah mengadakan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi warga. Aneka pelatihan, infrastruktur yang diperbaiki, sampai kemudian aneka manfaat lain yang bisa diambil dari sana. Semuanya bisa dipahami warga,” paparnya.

Bagian Humas Setda Kudus sendiri menjalin kerja sama yang baik dengan perangkat desa yang menjadi lokasi pemutaran film. Perangkat desa menyambut hangat kegiatan ini, karena memang sangat bermanfaat bagi warga mereka.

”Tentu saja ini adalah bentuk kerja sama yang baik antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus dengan para perangkat desa. Karena keinginan pemkab untuk menyosialisasikan program-programnya, mendapat sambutan baik di tingkat desa,” kata Kepala Bagian Humas Setda Kudus Putut Winarno.

Dengan menjalin kerja sama dengan perangkat desa, maka sosialisasi itu tentunya akan lebih mengena. Karena perangkat desa juga merupakan bagian penting untuk sosialisasi ini. ”Diharapkan nantinya perangkat desa bisa lebih dalam menyosialisasikan soal ini kepada warga. Itu sebabnya, peran perangkat juga penting,” jelasnya.

Setelah Desa Gamong, kegiatan pemutaran fil ini akan digelar juga di Desa Kutuk (Undaan) pada 4 Agustus 2016, Desa Pladen (Jekulo) pada 6 Agustus 2016, Desa Payaman (Mejobo) pada 10 Agustus 2016, Desa Hadipolo (Jekulo) pada 13 Agustus 2016, dan Desa Honggosoco (Jekulo) yang belum ditentukan tanggalnya. (HMS/SOS/CUK)

Editor: Merie

 

 

 

 

 

 

Sukses, Konser KNPI Ditunggu Warga Lagi

sukun-e-2

MuriaNewsCom, Kudus – Kegiatan konser KNPI bersama WMld, Minggu (31/1/2016) dinilai sukses. Hal itu disampikan penonton konser, Anwar, yang menyaksikan konser hingga akhir.

Anwar mengatakan, dia sangat menikmati konser yang berlangsung dari siang hingga sore hari tersebut. Bahkan dia beserta temannya datang ke lokasi di Lapangan Hawe, sebelum dimulai konser.

“Ingin di depan, jadi pengen datang lebih awal. Dari pada datang belakangan, dapat di belakang sehingga nonton tidak terlalu jelas,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Warga Kaliwungu itu mengatakan, kalau Kudus sudah lama tidak ada hiburan musik yang spektakuler. Sehingga masyarakat sangat haus dengan hiburan musik, khususnya band.

“Kalau ada hiburan lagi bisa datang lagi ramai-ramai. Seperti sebelumnya konser band tipe x yang di Mejobo dulu,” ujarnya.

Panitia Kegiatan, Ahmad Amir Faishol mengungkapkan, kegiatan tahun depan KNPI, pihaknya belum merencanakan. Sebab, untuk ke depan, itu masih perlu pembahasan di program kerja.

“Lihat situasi terlebih dahulu, bagaimana ke depan. Masih belum tahu acara apa yang mau dibuat,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Melihat Aksi Polisi dan TNI Menari di Hadapan Ribuan Suporter Bola

 Puluhan anggota polisi  dan TNI menyuguhkan tari Gemu Famire untuk menghihur pencinta bola di Stadion Krida Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Puluhan anggota polisi dan TNI menyuguhkan tari Gemu Famire untuk menghihur pencinta bola di Stadion Krida Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Ada pemandangan yang berbeda pada di lapangan Stadion Krida Rembang pada laga Indonesia Soccer Champhionsip (ISC) seri B yang mempertemukan PSIR vs Persibat Batang pada Sabtu (30/7/2016) lalu.

Pada saat pemain turun minum usai peluit panjang ditiup pada babak pertama, puluhan personel kepolisian dan TNI tiba-tiba merangsek ke tengah lapangan. Mereka kemudian menyusun formasi dan tiba-tiba langsung “berlenggak-lenggok” ketika ada musik dihidupkan.

Sontak, ribuan penonton yang memadati stadion langsung bertepuk tangan dan menikmati suguhan menarik dari puluhan personel polisi dan TNI tersebut. Ya, inilah tari Gemu Famire asal Kupang Nusa Tenggara Timur, yang sengaja dipertunjukkan di hadapan suporter bola.

Kapolres Rembang AKBP Sugiarto pertunjukan tari Gemu Famire ini diharapkan bisa menghibur ribuan pecinta bola. “Dengan hal seperti ini, diharapkan tensi tinggi penontong bisa diredam, dan tentunya harapannya suasana bisa lebih kondusif,” ujarnya.

Dia melanjutkan, untuk pertunjukan tari saat pertandingan bola memang baru pertama kali ini. Sebab “Ini sebagai hadiah untuk penonton, karena penonton tenang dan sportif. Maka, dalam hal ini kita berikan sedikit hiburan ini,” imbuhnya.

Dirinya berharap, pertandingan bola di Stadion Krida Rembang bisa terus berjalan dengan kondusif. “Sehingga suguhan tarian yang dibawakan polisi dan TNI bisa selalu ditunjukan kepada penonton. Dan suasananya juga bisa bervariasi” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

 

Souljah Tutup Konser Pemuda dengan Manis

Band Souljah menutup gelaran Konser Pemuda untuk Indonesia, yang berlangsung di Lapangan Hawe, Minggu (31/7/2016). (MuriaNewsCom/Merie)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Konser Pemuda untuk Indonesia yang digelar KNPI Kudus bersama WMLD benar-benar jadi pengobat rindu bagi penggemar musik. Apalagi, grup band Souljah menutup konser tersebut dengan manis.

Penampilan Souljah yang jadi band pamungkas itu, berhasil memanaskan adrenalian ribuan penonton yang datang ke Lapangan Hawe, tempat konser berlangsung.

Lepas dari penampilan Last Child, giliran Souljah yang memanaskan panggung. Sejak bunyi terompet dibunyikan, penonton langsung saja melompat-melompat mengikuti lagu.

Band dengan aliran musik ska ini, rupanya memang banyak penggemarnya. Meski konser sudah menjelang senja, namun ribuan penonton yang merupakan Bradda Souljah atau sebutan fansnya Souljah itu, tidak bergerak dari tempatnya.

Mereka tetap setia menantikan penampilan Souljah yang memang benar-benar menghibur. Lagu-lagu yang memang bergenre ska itu, begitu enak diikuti sambil bergoyang bersama.

Band asal Jakarta ini, memang tidak sempat menyanyikan lagu-lagunya dalam jumlah banyak. Hanya kurang dari empat lagu saja, Souljah menghibur penonton yang datang.

Namun lagu Mars Jangkrik, Tidak Selalu, I’m Free, dan Ku Ingin Kau Mati Saja, tetap membuat penampilan mereka sangat menghibur. Banyak penonton yang merasa kurang puas dengan penampilan Souljah yang sebentar saja itu.

”Kok, lagunya cuma sedikit sih. Masih kurang soalnya. Mereka kan, band yang bagus. Lagu-lagunya enak. Tadi kurang lama penampilannya,” kata Ari, penggemar Souljah yang tergabung dalam Bradda Souljah Demak itu, sedikit menyesalkan kenapa band pujaannya hanya tampil sebentar.

Secara keseluruhan, konser sendiri berlangsung aman dan lancar. Meski sedikit keributan terjadi, namun situasi masih bisa dikendalikan. Ribuan penonton pulang dengan tertib usai konser.

Editor: Merie

 

Last Child Buat Ribuan Last Friend Terhibur

Penampilan Last Child berhasil menghibur ribuan penggemar musik yang datang sejak siang, ke Lapangan Hawe, dalam konser Pemuda untuk Indonesia, Minggu (31/7/2016). (MuriaNewsCom/Merie)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Penampilan grup band Last Child di gelaran Konser Pemuda untuk Indonesia kerja bareng KNPI Kudus bersama WMLD di Lapangan Hawe, Minggu (31/7/2016), berhasil membuat ribuan penggemarnya terhibur.

Sejak naik ke panggung, band yang memiliki fans bernama Last Friend itu, memang berhasil membuat fansnya tidak berhenti menyanyikan lagu-lagu hits mereka.

Tidak hentinya penonton menyanyikan lagu-lagu grup band tersebut seperti Pedih, Tak Pernah Ternilai, dan Seluruh Nafas Ini. Termasuk juga lagu Teringat Apa yang Kau Berikan dan beberapa lainnya.

Last Child yang naik pentas mulai pukul 16.00 WIB itu, datang dengan personel lengkapnya. Sang vokalis, Virgoun, memang tidak terlalu banyak memberikan komentarnya. Dia hanya mengimbau saat sejumlah penonton sudah mulai terlihat membuat keributan.

”Ayo, semuanya. Jangan berikan sandal kepada siapa-siapa. Berikan saja senyuman sana sini, agar konser ini bisa berjalan tertib, ya. Mari semuanya bernyanyi,” ajaknya.

Meski begitu, konser tetap berlangsung aman. Penonton yang kebanyakan anak-anak muda atau ABG tersebut, benar-benar memanfaatkan kesempatan untuk bertemu dengan idolanya itu, dengan bersama-sama menyanyikan lagu-lagu yang ditampilkan.

Sebelum Last Child, tampil menghibur adalah band-band lokal asal Kudus. Sebut saja IbaratSkata, Astro Boy, dan sejumlah band lainnya. Ribuan penonton memenuhi Lapangan Hawe, sejak pintu gerbang dibuka sekitar pukul 12.30 WIB.

Editor: Merie

 

Bersiaplah, Band Souljah dan Last Child Siap Hebohkan Kudus

sukun e

 

MuriaNewsCom, Kudus  – Pelaksanaan konser KNPI, yang berlangsung di Lapangan Hawe Jember Kudus, Minggu (31/7/2016), bakal memuaskan masyarakat. Pasalnya, konser yang membawa bintang tamu tingkat nasional itu, bakal menghibur selama 5,5 jam.

Perwakilan panitia kegiatan Ahmad Amir Faishol, mengatakan band nasional Souljah dan Last Child, bakal menghibur besok siang. Lagu lagu anyar milik band tersebut bakal dibawakan khusus penonton besok.

“Kegiatan konser bakal berlangsung mulai jam 12.00 WIB hingga 17.30 WIB. Selain bintang utama, tampil pula band pembuka yang sudah memiliki nama di Kudus,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Band yang sudah tak asing bagi penggemar musik di Kudus, di antaranya Astroboy, IbaratSKAta, Berteriak Lantank serta band lainnya yang tentunya semakin membuat seru konser.

“Band lokal juga memiliki penggemar yang tidak sediKit. Bagi yang sudah lama ingin mendengarkan lagu tersebut, bisa merapat besok,,” imbuhnya.

Tak hanya band lokal anak muda, ada juga Black Flash. Band tersebut merupakan grup lawas lokal.

Band tersebut memiliki personel yang sudah berumur. Untuk itu pengalaman bermain musik jelas sudah menjadi hal yang biasa dilakukan.

“Untuk masyarakat yang belum memiliki tiket, dapat membelinya besok seharga Rp 25 ribu. Kami menyediakan ribuan tiket di lokasi konser,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Lihat Kamar Mandi RA Kartini, Begini Kesan Aura Kasih dan Rizal Armada

 Aura Kasih dan Rizal Armada saat melihat kamar mandi RA Katini (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Aura Kasih dan Rizal Armada saat melihat kamar mandi RA Katini (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Hari Jadi ke-275 Kabupaten Rembang juga dimeriahkan dengan kedatangan artis ibu kota, yakni Aura Kasih dan group band Armada, pada Sabtu (30/7/2016). Kedatangan mereka di Pendapa Kabupaten juga disambut antusias oleh warga.

Kedatangan mereka juga disambut Bupati Rembang Abdul Hafidz dan Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto, SKPD, TNI, Polri serta tak ketinggalan para pelajar juga ikut memyambutnya.

Dalam kesempatan itu, artis Aura Kasih dan Rizal Armada, terlihat menyempatkan diri untuk mengunjungi Museum Kartini yang lokasinya berada di belakang Pendapa Kabupaten. Mereka didampingi Kasi Sejarah Museum dan Kepurbakalaan pada Dinbudparpora Rembang Siti Nuryati.

Mereka pun berkeliling museum untuk melihat benda-benda peninggalan RA Kartini. Tak ketinggalan, kedua artis ini pun melihat kondisi kamar mandi yang dulunya digunakan oleh RA Kartini semasa menjadi istri dari Bupati Rembang ketika itu. Kamar mandi dengan ukuran 2 X 2 meter tersebut berada di samping museum sebelah timur.

“Ya, sederhana kamar mandinya. Tapi mungkin kalau zaman dahulu ini terbilang mewah, karena RA Kartini kan istri dari Bupati Rembang. Ketika itu, mungkin bak mandi seperti ini belum banyak yang punya, tapi karena termasuk bagian dari keluarga pejabat, maka RA Kartini memiliki fasilitas seperti ini,” ujar Aura Kasih.

Sementara itu, vokalis Band Armada Rizal mengungkapkan, meski tokoh perempuan, RA Kartini merupakan sosok yang sederhana. Kita bisa mencontoh dari kesederhanaan RA Kartini, di samping inspirasi-inpirasinya dalam memajukan bangsa ini,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Aksi Dodit Mulyanto di Kudus Bikin Penonton Terbius

iklan-dodit-mulyanto (e)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Aksi komika Dodit Mulyanto memang kerap membuat penonton terbius.

Mereka hanyut dalam banyolan segar Dodit. Seperti saat Dodit di acara Dies Natalis Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Muria Kudus (UMK) yang digelar W Mld bersama BEM FE UMK, Sabtu (4/6/2016) lalu.

PR Sukun telah mengabadikan momen tersebut dengan mengunggah aksi kocak komika asal Surabaya itu ke YouTube. Di dalam video berdurasi 41:59 detik tersebut ratusan penonton bahkan larut dan tak henti-hentinya tertawa mendengarkan banyolan yang dilakukan Dodit saat Stand up.

Maklum saja, Dodit Mulyanto yang kini merambah dunia akting di salah satu televisi swasta tersebut sudah mendapat hati di kalangan masyarakat Kudus. Buktinya, ia sudah tiga kali menapakkan kaki di Kota Kretek.

Berikut kami suguhkan video Dodit Mulyanto saat di UMK:

Editor : Akrom Hazami

 

Kangen Aksi KLa Project Saat Konser?  Ini Lho Aksinya

kla

 

MuriaNewsCom, Jepara – Penggemar KLa Project, tentu tak akan bisa melupakan momen idolanya saat tampil.

Seperti halnya saat tampil di Executive Live Concert Amazing Night with KLa Project yang disupport Sukun Executive Sabtu (21/5/2016) lalu.

Ya, silakan menikmati aksinya di  akun YouTube PR Sukun.

Hanya, video berdurasi 1:20:42 detik tersebut memang tak bisa menggantikan momen yang terlewatkan. Namun, kerinduan para Klanese (sebutan bagi penggemar KLa project) yang tak sempat hadir, diyakini akan sedikit terobati dengan video tersebut.

Apalagi tak satupun aksi KLa Project yang membawakan 15 lagu andalan mereka terlewatkan. Selama satu jam lebih para pengunjung pun bernostalgia dengan menyanyikan lagu-lagu KLa Project dari awal sampai akhir konser berlangsung.

Berikut kami suguhkan videonya:

 

Editor : Akrom Hazami

 

Ribuan Tiket Last Child dan Souljah di Kudus Laris Manis

sukun e

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kegiatan konser yang mendatangkan bintang tamu Last Child dan Souljah yang diselenggarakan KNPI bersama WMld, bakal meraih. Hal itu terlihat dari penjualan tiket awal konser, yang sudah terbeli hingga 1500 lembar

Panitia kegiatan Ahmad Amir Faishol mengatakan, awal pembukaan penjualan tiket hingga kemarin sudah sekitar 1.500 terjual.

“Konser akan diselenggarakan di lapangan Hawe, Jember. Bagi yang belum memiliki tiket, dapat membelinya di lokasi” katanya saat ditemui MuriaNewsCom, Jumat (29/7/2016).

Menurutnya, tiket yang dibeli di tempat konser dengan sebelumnya berbeda. Jika sebelum hanya seharga Rp 20 ribu, maka saat konser berlangsung,harganya Rp 25 ribu.

Untuk berjalannya konser, panitia menyiapkan 14 ribu lembar tiket. Panitia optimistis tiket akan terjual. Meski memiliki perbedaan harga, semuanya berkesempatan mendapatkan hadiah. Sebab, panitia menyiapkan doorprize yang akan diundi saat kegiatan konser berlangsung.

Model undian,yakni dengan tiket yang dibeli. Tiket bakal disobek untuk masuk kotak undian. Kemudian, undian akan dilakukan dengan mengambil sobekan tiket yang dibeli.

“Beberapa hadiah pasti akan diundi. Jadi selain terhibur oleh band nasional, hadiah juga sudah menanti untuk dibawa pulang oleh penonton,” ujarnya.

Kegiatan konser yang berlangsung pada 31 Juli, juga termasuk dengan memperingati HUT ke-43 KNPI. Kegiatan ini dinilai bakal sukses lantaran banyaknya peminat.

Editor : Akrom Hazami

 

Tiket Presale Last Child dan Souljah Lebih Murah Daripada di Lokasi Konser

sukun e

 

MuriaNewsCom, Kudus – Penjualan tiket presale konser Pemuda untuk Indonesia yang digelar KNPI Kudus bersama W Mld resmi ditutup Jumat pukul 23.59 WIB. Penutupan tersebut sesuai dengan jadwal panitia terkait penjualan tiket.

Salah satu panitia Konser Pemuda untuk Indonesia Ahmad Amir Faisol mengatakan, sejauh ini tiket presale memang sangat diminati oleh masyarakat Kudus. Ini lantaran harganya jauh lebih murah dari pada tiket saat hari H atau tiket OTS.

”Harga tiket presale bisa didapat dengan mengeluarkan kocek sebesar Rp 20 ribu. Tapi untuk tiket OTS harus lebih mahal, yakni Rp 25 ribu,” ungkapnya.

Dengan harga tersebut, penjualan tiket presale berhasil tembus diangka hingga dua ribu lembar. Sementara, panitia tengah menyiapkan 14 ribu tiket. Artinya penonton yang belum sempat membeli tiket presale bisa membeli langsung tiket saat hari H.

”Pas hari H nanti tiket akan dijual di pintu masuk. Jadi yang belum membeli tiket bisa membelinya langsung,” terangnya.

Di sisi lain, untuk tiket presale juga bisa ditukarkan di loket yang disediakan panitia. Ini karena tiket presale masih berupa kuitansi. Sedangkan untuk bisa masuk, penonton harus mengantongi tiket.

”Tiket presale memang masih berupa kuitansi. Karena itu kami siapkan loket khusus untuk menukarkan kuitansi tersebut. Silahkan yang memiliki kuitansi untuk menukarkan di sana,” ungkapnya.

Hanya, Faisol meminta masyarakat untuk tidak coba-coba mengakali panitia terkait tiket presale. Meski hanya kutiansi, namun kuitansi tersebut dilengkapi dengan stampel boot yang sudah ditunjuk.

”Selain stampel, kuitansi tersebut juga dilengkapi dengan hologram khusus. Hologram tersebut dipesan khusus untuk konser ini. Untuk mengetahui itu, panitia juga dibekali dengan screening sinar ultraviolet untuk membedakan asli apa palsu,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

848 Warga Jepara Dipastikan Berangkat Haji Tahun ini

manasik

Jamaah calon haji melakukan kegiatan di Pendapa Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Kabupaten Jepara tahun ini akan memberangkatkan 848 orang jamaah calon haji (Calhaj). Mereka direncanakan berangkat ke tanah suci dari pendapa Kabupaten Jepara, mulai 24 Agustus 2016.

Para Calhaj Jepara itu terbagi dalam 4 kelompok terbang (kloter). Yaitu kloter 40 sebanyak 355 Calon haji diberangkatkan pada tanggal 24 Agustus 2016. Disusul kloter 65 terdiri darim126 Calhaj dan Kloter 66 terdiri dari 355 calon haji  berangkat dari pendoapa kabupaten tanggal 1 September 2016. Terakhir kloter 67 diidkuti 12 calon haji yang diberangkatkan pada tanggal 2 Septemnber 2016.

“Para peserta ini secara keseluruhan telah mendapat latihan manasik di Desa, KBIH maupun Wilayah Kecamatan masing-masing. Namun untuk lebih mendalami tata cara pelaksanaan haji maka dilkukan kembali manasik tingkat kabupaten,” ujar Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Jepara, Muhdi, saat pembukaan acara bimbingan manasik massal calon jamaah haji Kabupaten Jepara, Rabu (27/7/2016) di gedung haji Jepara.

Menurut Muhdi,  setengah bulan atau setidaknya pada H-7 berangkat, sudah akan ada kepastian nama-nama calon jamaah haji yang tergabung di setiap kloter. Mereka akan didampingi empat orang petugas, masing-masing dua orang dari Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI) dan Tim Pembimbing Ibadah haji Indonesia (TPIHI).

“Keempat petugas disebar di setiap kloter. Selain itu disertakan juga 7 orang tim pemandu haji daerah (TPHD) dan 7 orang dari tim kesehatan haji Indonesia (TKHI),” katanya.

Sementara itu, Asisten I Sekda Jepara Akhmad Junaidi meminta Calhaj asal Jepara memperhatikan dengan serius bimbingan manasik yang diberikan.  Bimbingan manasik tingkat kabupaten ini dilaksanakan Rabu dan Kamis (27-28/7/2016).

“Sebelumnya, selama sepekan pada tanggal 18 – 23 Juli, Calhaj juga mengikuti bimbingan manasik haji tingkat kecamatan atau kelompok KUA di 15 kecamatan. Hanya Karimunjawa yang bergabung dengan Kecamatan Jepara,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Mengenal Pathol Sarang, Seni Gulat Tradisional Khas Rembang

Ini kesenian tradisional Pathol Sarang, gulat khas Rembang  (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Ini kesenian tradisional Pathol Sarang, gulat khas Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Bagi sebagian masyarakat Rembang, kesenian tradisional Pathol Sarang, mungkin sudah tak asing lagi. Kesenian tradisional ini sepintas hampir mirip dengan Sumo atau olahraga gulat khas Jepang.

Pathol Sarang ini dahulunya dipopulerkan kaum nelayan di Kecamatan Sarang dan umumnya nelayan di sepanjang pantai utara Kabupaten Rembang. Pathol ini berasal dari kata mathol (tidak bisa bergerak). Dahulu, para nelayan kerap meminta tolong temannya saat perahu kepathol karena kandas. Dari istilah itu, dalam olahraga ini, dua orang yang berlaga saling berhadapan dan berusaha saling mengunci satu sama lain, sampai satu di antaranya benar-benar terkunci serta menyerah.

Ada juga versi lain yang menyebutkan, jika Pathol Sarang ini dahulunya merupakan bentuk olahraga kanuragan, dalam rangka mencari bibit-bibit pendekar yang unggul, yang dipersiapkan untuk melawan penjajah ketika itu. “Pathol Sarang itu digunakan media mencari bibit jagoan untuk melawan penjajah di zamannya,” kata Kepala SD 1 Temperak,Sarang Sugianto.

Ia katakan, Pathol Sarang ini ada kemiripan dengan Sumo. Yang menjadi perbedaannya, di antaranya, dalam Pathol Sarang, orang yang tak memiliki tambun juga boleh terjun di arena pertarungan untuk melawan orang lain yang perawakannya sepadan. Pemain Pathol harus telanjang dada, dan di pinggang masing-masing dililitkan kain sarung atau tali “dadhung” untuk tempat pegangan lawan. Kemudian, dalam laga, tak matras dan juga pertarungan dilakukan di tempat terbuka.

Selanjutnya, sepanjang pertarungan gamelan ditabuh bertalu-talu. Jika gamelan berhenti, berarti pertarungan usai. Pertarungan juga baru selesai jika salah satu petarung menyerah atau dinyatakan kalah oleh wasit yang terdiri dari dua orang sambil berjoged.

Untuk melestarikan kesenian tradisional ini, SD 1 Temperak Sarang mengadakan kegiatan ekstra kurikuler berupa Pathol Sarang.  “Kita memang memberikan ekstra kurikuler itu kepada anak didik. Dan alhamdulillah, saat ini kelompok Pathol Sarang tersebut terdiri dari dua kelompok. Yakni kelompok anak-anak dan kelompok dewasa,” paparnya.

Editor : Kholistiono

 

Belasan Ribu Warga Berjubel Padati Alun-alun Rembang Ikuti Pesta Rakyat

 Kesenian Tari Orek-orek khas Rembang yang dibawakan beberapa siswa dalam pesta rakyat (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Kesenian Tari Orek-orek khas Rembang yang dibawakan beberapa siswa dalam pesta rakyat (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Sekitar 15 ribu warga memadati Alun-alun Rembang mengikuti pesta rakyat untuk menyambut Peringatan Hari Jadi ke-275 Kabupaten Rembang, pada Rabu (27/7/2016). Tampak hadir dalam kesempatan itu, Bupati Rembang Abdul Hafidz, SKPD, TNI, Polri, Muspika, kepala desa dan lain sebagainya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, pada kesempatan ini, seluruh jajaran SKPD memakai pakaian adat Jawa. Tak hanya itu saja, bupati dalam menyampaikan pidatonya juga menggunakan bahasa Jawa, yang kemudian acara juga diselingi dengan berbagai kesenian tradisional Jawa dan juga kesenian asli Rembang.

Bupati Rembang Abdul Hafidz mengatakan, melalui Hari Jadi Kabupaten Rembang, diharapkan Rembang bisa semakin maju. Untuk itu, kerjasama antarinstansi diharapkan terjalin dengan baik, begitu pula dengan komunikasi yang dijalin dengan warga.

“Peningkatan kinerja tentu akan terus kita tingkatkan, untuk menuju kemajuan serta meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Untuk itu, kita harus terus tingkatkan koordinasi dengan SKPD, DPRD, Polri, TNI dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono