Menengok Istana Juragan Candu Terkaya di Asia Tenggara yang Kini Jadi Kandang Ayam

MuriaNewsCom, Semarang – Oei Tiong Ham dikenal sebagai peranakan Tionghoa yang pada abad 20 dikenal karena kekayaannya. Ia tercatat sebagai orang terkaya se-Asia Tenggara berkat bisnis candu dan juragan gula.

Bisnis opiumnya menggurita dari Bangkok, Singapura, Hongkong sampai New York. Bahkan sebagian tanah yang ada di Kota Semarang yang dulu dikuasai para Yahudi pun berhasil diambil alih.

Salah satu peninggalan bisnisman yang sangat berpengaruh zaman dulu itu hingga kini masih bisa dijumpai. Rumah gedong milik keluarga Tiong Ham hingga saat ini masih ada. Rumah itu berada di Bukit Simongan, dan dikenal dengan nama Istana Bukit Simongan.

Sejarawan Kota Semarang, Yongkie Tio dilansir dari metrosemarang.com menyebut, kedigdayaan Tiong Ham dalam menguasai roda bisnis di Kota Lumpia tempo dulu tak lepas dari peran ayahandanya, Oei Tjie Sien. Keluarganya merupakan peranakan Tionghoa yang mengawali bisnis dari nol.

Di Istana Bukit Simongan itulah, Oei Tjie Sien ditempa menjadi seorang bisnisman. “Rumahnya di Bukit Simongan sangat luas. Itu rumahnya Oei Tjie Sien, di sanalah Tiong Ham kecil tumbuh hingga dewasa,” ujarnya.

Dari situlah, kata Yongkie, jejak kejayaan keluarga Tiong Ham dimulai. Mula-mula, ayah Tiong Ham resah melihat banyaknya orang Tionghoa terkena pungutan pajak cukup besar tiap kali bersembahyang di sebuah kelenteng depan Simongan (Kelenteng Sam Poo Kong).

Dia lalu punya ambisi untuk menguasai lahan-lahan milik warga Yahudi yang bertebaran di situ.

“Dulunya kawasan yang sekarang jadi Sam Poo Kong itu rumahnya orang-orang Yahudi. Orang China yang pergi ke sana mesti bayar pajak. Kan jadi males to. Untuk menghindari hal itu, maka dibuat patung Sam Poo Kong dan ditaruh di Tay Kak Sie Gang Lombok. Melihat hal tersebut, terus Tjie Sien terobsesi membeli semua tanah Yahudi. Impiannya jadi kenyataan tatkala bisnisnya sukses,” kata Yongkie.

Maraknya pembelian tanah Yahudi oleh Tjie Sien pun berdampak positif terhadap kelangsungan hidup orang Tionghoa pada waktu itu. “Mereka tidak perlu lagi bayar pajak kalau mau sembahyang di kelenteng,” terang Yongkie.

Seiring berjalannya waktu, Tiong Ham kemudian meneruskan bakat bisnis ayahnya. Namun, ia memilih berjualan opium, bisnis yang kini dikenal dengan perdagangan narkotika.

Tak cuma jualan narkoba. Tiong Ham juga punya bisnis properti dan pabrik gula, sampai bisnis kapal internasional. “Keberhasilan bisnisnya itu tidak lepas dari kemudahannya dapat izin-izin pabrik setelah dia berkawan baik dengan Gubernur Batavia di masa kolonial Belanda,” tuturnya.

Kondisi Istana Simongan yang kini terbengkalai bahkan digunakan untuk kandang ayam. (Foto: metrojateng.com)

Istana yang Kini Tak Terurus

Kemegahan nama Tiong Ham mungkin saat ini sudah mulai pudar, dan hanya tersisa di ingatan para orang-orang tua. Namun sisa-sisa kejayaanya masih terlihat hingga saat ini. Yongkie Tio menyebut, pohon-pohon trembesi yang dulu banyak ditanam di sepanjang Jalan Gajahmada hingga Jalan Pahlawan menjadi saksi sejarah perkembangan bisnis Tiong Ham.

Rumah masa kecil Tiong Ham hingga kini masih ada. Istana tersebut berada di Kampung Bojongsalaman, Kecamatan Semarang Barat. Namun kini rumah tersebut seolah tak terurus, kemegahannya pun mulai pudar.

Rumah itu beberapa kali beralih fungsi, mulai dari asrama tentara, dan kini dihuni oleh 11 keluarga yang tinggal di lantai satu sejak tahun 1960-an.

Rumah ini terbengkalai. Temboknya kusam, sebagian sudah keropos, atapnya bocor kala hujan. Sebagian dari rumah itu dijadikan sebagai kandang ayam, sebagai upaya pertahanan hidup penghuninya.

Baca : Lawang Ombo di Lasem, Jejak Sejarah Peredaran Opium Zaman Belanda

Menurut Mbah Warni, salah satu penghuni rumah gedong ini menyebut jika semula ikut suaminya bertugas sebagai prajurit TNI di Simongan.

“Suami saya asli Ponorogo. Kemudian tahun 1960 disuruh tinggal di rumah ini. Dulunya kampung ini hutan, cuma ada rumah ini saja. Lalu lama-kelamaan beberapa tentara pindah kemari dan punya keturunan sampai sekarang,” tutur Mbah Warni dikutip dari metrojateng.com.

Rumah itu mempunyai nilai sejarah yang sangat besar. Beberapa kali warga mencoba menawar beberapa bagian yang ada di rumah tersebut. Seperti kusen jendela ada yang mau membeloi seharga Rp 700 ribu, hingga kayu atap yang sempat ditawar orang mencapai Rp 2 miliar.

Keturunan Tiong Ham pernah beberapa kali mengunjungi rumah itu. Termasuk Pemkot Semarang yang pernah meminta para penghuninya pindah untuk memanfaatkan rumah itu sebagai pusat bangunan bersejarah. Namun hingga saat ini belum terealisasi.

Editor : Ali Muntoha

 

Gaji Guru Honorer di Kendal Bakal Naik, Segini Jumlahnya

MuriaNewsCom, Kendal – Gaji atau honor untuk guru tidak tetap (GTT) di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kendal akan dinaikkan. Tak hanya itu, periode honor yang semula hanya delapan bulan akan digenapkan menjadi 12 bulan.

Kepala Disdikbud Kendal, Agus Rivai menyatakan, anggaran untuk kenaikan honor GTT tersebut akan diajukan melalui APBD Perubahan Kendal tahun 2018.

Menurut dia, honor GTT yang pada tahun 2018 ini hanya sebesar Rp 400 ribu per bulan akan dinaikkan menjadi Rp 600 ribu per bulan pada 2019.

Menurutnya, honor yang diberikan kepada GTT masih terlalu kecil, padahal beban kerjanya cukup banyak. “Saya kira jumlah segitu masih kecil dibandingkan dengan beban kerjanya, karena itu tiap tahun akan terus dinaikkan,” katanya.

Selain GTT,  Pemkab Kendal juga memberikan honor kepada guru madin (madrasah diniyah). Namun jumlahnya  tidak sama  dengan GTT. Honor guru madin setahun hanya dianggarkan Rp 1 juta.

Jumlah GTT yang menerima honor sekitar 2.150 orang, sedangkan jumlah guru madin yang menerima honor sekitar 12 ribu orang. “Total anggaran untuk GTT dan guru madin mencapai Rp 48 miliar,” ujarnya.

Sementara itu anggota Komisi D DPRD Kendal, Annurochim mengatakan, mulai tahun 2018 ini, honor yang diberikan kepada GTT dan guru madin, bukan lagi honor kegiatan, seperti tahun sebelumnya. Tapi merupakan honor representatif, sehingga tidak ada potongan sama sekali.

“Bedanya kalau honor kegiatan itu kan dipotong pajak, tapi kalau honor representatif, selagi besarnya masih di bawah UMR, maka tidak dipotong pajak,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

David Beckham Main Bola Plastik dengan Bocah SMP di Semarang

MuriaNewsCom, Semarang – Mantan bintang sepak bila Inggris David Beckham blusukan di Kota Semarang, selama dua hari. Beckham blusukan ke sejumlah SMP dan bertemu Wali Kota Semarang Hendra Prihadi, di kompleks balai kota, Rabu (28/3/2018).

Di balai kota Beckham datang bersama rombongan UNICEF dalam program sekolah percontohan antibullying dan kekerasan anak. Dua SMP di Kota Semarang yakni SMPN 17 dan SMPN 33 ditunjuk sebagai sekolah percontohan.

Sayangnya, kegiatan Beckham selama di Semarang tertutup untuk media. Hendra Prihadi atau yang akrab disapa Hendi menceritakan pertemuannya dengan Beckham berlangsung akrab.

“Beckham tadi bilang, pertama senang di Semarang, udaranya lebih baik dari London, lha datang pas mendung,” kata Hendi.

Selain itu kedatangan Beckham sebagai perwakilan UNICEF juga membahas mengenai bullying dan kekerasan anak. Ia juga memuji Pemkot Semarang yang mempunyai langkah-langkah dalam mengatasi bullying.

”Dia senang ada tindakan dari Pemkot untuk mengatasi bullying. Dia bilang bullying untuk anak dan perempuan harus dihilangkan,” lanjutnya.

David Beckham bertemu dengan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. (foto : detik.com)

Suami Victoria dan Hendi juga saling bertukar cinderamata. Beckham memberikan hadiah kaus warna biru bertuliskan UNICEF kepada Hendi, yang diberi tandatangannya Beckham. Sementara Hendi memberikan cindermata berupa pakain batik warna merah.

Selain mengunjungi Balaikota Semarang, Beckahm juga blusukan ke SMPN 33 Semarang. Kedatangan bintang sepak bola ini tak banyak yang mengetahuinya. Beckham datang ke sekolah ini Rabu pagi.

Kabar beredar, sebelum datang ke sekolah ini Beckam sempat menjemput seorang siswi bernama Lorenza, di Perumahan Intan, Tembalang.

Di sekolah ini Beckahm juga sempat bermain bola dengan siswa-siswa SMPN 33. Bola yang digunakan untuk bermain adalah bola plastik.

Salah satu siswa yang ikut bermain bola dengan Beckham adalah Herman Yosef Dwi. Ia menceritakan kegirangannya saat bermain dengan legenda sepakbola tersebut.

Apalagi ia juga mendapat hadiah istimewa dari sang bintang. Bocah SMP ini mendapatkan hadiah berupa tandatangan dari Beckam. “Tadi dapat tanda tangan di dasi. Kami tadi main bola plastik, seneng banget,” katanya.

Namun ia mengaku cukup kecewa lantaran tak bisa berfoto bareng dengan sang idola. Pasalnya tak ada yang diperbolehkan berfoto bersama Beckham. Meski demikian ia mengaku cukup senang bisa bertemu langsung dengan Beckham.

Editor : Ali Muntoha

Tahun Depan Kota Semarang Mulai Bangun Monorel Bandara-Simpang Lima

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mulai merealisasikan pembangunan monorel yang telah direncakan sejak beberapa tahun terakhir. Tahun 2019 mendatang, pemkot menargetkan pembangunan kereta modern itu bisa mulai dilakukan.

Monorel di ibu kota Jawa Tengah ini rencananya akan dibangun dari Bandara Internasional A Yani Semarang-Simpang Lima. Target pembangunan ini ditegaskan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi dalam Musrembang Rencana Kerja Pemerintah Daerah 2019 di Kompleks Balaikota, yang berlangsung 2 hari Senin-Selasa (26-27/3/2018).

Ada 11 prioritas pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Semarang saat ini. Salah satunya pembangunan monorel yang ditargetkan dapat dimulai tahun 2019.

Program itu sebagai bentuk komitmen untuk meningkatkan konektivitas pusat-pusat ekonomi sekaligus pemantapan pelayanan publik.

“Pembangunan monorel dari Bandara Achmad Yani yang baru ke Simpang Lima menjadi penting untuk mendukung arah kebijakan Semarang pada 2019 yaitu penguatan struktur ekonomi yang didukung oleh peningkatan sektor perdagangan dan jasa,” ujarnya.

Selain monorel, pengembangan aksesibilitas pada 2019 juga dilakukan dengan pengadaan lahan Semarang Outer Ring Road. Tak hanya itu, Pemkot Semarang juga menargetkan pembangunan perlintasan tidak sebidang di Jalan Madukoro dan Jalan Anjasmoro Raya, serta kajian pembangunan Jembatan Madusono (Madukoro-Kokrosono).

Adapun arah kebijakan Semarang Hebat 2016-2021 yang ingin dicapai Hendi dimulai dari penyiapan infrastruktur untuk mendukung Kota Metropolitan yang sejahtera dan melayani pada tahun 2017.

Kemudian arah kebijakan di tahun 2018 ini adalah mewujudkan pengembangan infrastruktur untuk memecahkan masalah besar perkotaan dan daya saing SDM. Sementara di tahun 2019, kebijakan pembangunan diarahkan pada penguatan struktur ekonomi yang didukung oleh peningkatan sektor perdagangan dan jasa.

“Dan di tahun 2020 arah kebijakan Semarang Hebat adalah terwujudnya pemantapan Semarang sehat, cerdas, tangguh, melayani, dan berdaya saing,” paparnya.

Ia optimistis perekonomian Kota Semarang akan terus meningkat. Berdasar data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Semarang meningkat dari 78,04 pada 2012 menjadi 81,19 pada 2016.

Kemudian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang juga meningkat dari 86 triliun pada 2011 menjadi 115 triliun pada 2016. Sementara untuk nilai investasi juga melonjak dari 0,9 triliun pada 2011 menjadi 20,5 triliun pada 2017.

“Yang menggembirakan adalah angka kemiskinan di Kota Semarang juga menurun dari sebelumnya 5,13 persen pada 2012 menjadi 4,62 persen pada 2017,” tukasnya.

Editor : Ali Muntoha

Pemkot Semarang Siapkan Rusunawa Tambahan untuk Nelayan Tambaklorok

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah akan membangun Rusunawa di Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara. Rusunawa akan diperuntukkan bagi warga sekitar terutama bagi nelayan.

Menurut Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, pembangunan rusunawa di kawasan Tambaklorok ini diupayakan tahun ini. Pembangunan akan dilakukan oleh pemerintah pusat.

“Pembicaraan terakhir dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sudah bersedia paling lambat tahun ini aka nada penambahan satu blok tower di Rusunawa Kudu,” ujarnya.

Rencana kedua, kata Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi, pembangunan rusunawa untuk menampung para nelayan di Tambaklorok yang terdampak proyek normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) Semarang.

“Rencana berikutnya, menampung nelayan yang hari ini terpaksa harus minggir dulu. Nanti, setelah area disposalnya sudah diisi dengan urukan tanah dari normalisasi Sungai BKT, akan dibangun rusunawa,” katanya.

Diakuinya, beberapa nelayan di kawasan Tambaklorok sekarang ini harus menyingkir dulu sebagai imbas dari normalisasi Sungai BKT, tetapi nelayan-nelayan itu nantinya akan dibangunkan rusunawa oleh pemerintah.

Jadi, kata politikus PDI Perjuangan itu, rusunawa yang akan dibangun di Tambaklorok harus ditempati oleh orang-orang yang bekerjanya di sektor laut, yakni nelayan yang terdampak normalisasi Sungai BKT.

“Untuk tahun ini, satu blok tower Rusunawa Kudu. Kalau rusunawa di Tambaklorok untuk nelayan sudah dipastikan baru bisa dibangun dalam dua tahun ke depan. Ini sudah kami sosialisasikan dengan warga di Tambaklorok,” katanya.

Kalau untuk penambahan tower Rusunawa Kudu, kata dia, untuk masyarakat umum, tetapi untuk rusunawa di Tambaklorok nantinya dikhususkan bagi nelayan yang terdampak normalisasi Sungai BKT Semarang.

“Sekarang ini, disposal areanya kan masih berupa air, laut. Nanti, setelah diuruk tanah endapan dari proyek normalisasi Sungai BKT baru bisa dibangun. Nanti, sudah dipastikan dua tahun ke depan,” katanya.

Yang jelas, kata Hendi, Pemerintah Kota Semarang tetap akan memperhatikan para nelayan yang terdampak proyek normalisasi Sungai BKT Semarang agar tetap bisa mendapatkan hunian yang layak.

“Kapasitanya, kalau untuk Rusunawa Kudu yang tahun ini dikerjakan hanya satu blok tower, namun untuk rusunawa di Tambaklorok mestinya bisa lebih dari satu tower. Nanti, detail dan teknisnya sama dinas,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

Razia Kawasan Tanpa Rokok di Kota Semarang Pakai Dana Cukai Tembakau?

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) yang mnegatur tentang kawasan tanpa rokok (KTR). Perda ini masih tahap sosialisasi dan akan mulai diterapkan efektif dengan tindakan tegas pada pelanggar mulai Juni 2018 mendatang.

Tindakan tegas bagi yang nekat merokok di KTR yakni jeratan tindak pidana ringan (tipiring) dengan ancman hukuman 3 bulan kurungan penjara atau denda Rp 50 juta.

Untuk menegakkan perda Nomor 3 Tahun 2013 tersebut, Satpol PP Kota Semarang akan dikerahkan untuk melakukan razia di tempat-tempat yang ditetapkan sebagai kawasan tanpa rokok.

Satpol PP sendiri mendapat kucuran dana untuk melakukan tindakan penegakan perda. Mulai dari razia, penindakan hingga persidangan sudah disiapkan dana khusus. Dana tersebut bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCT) yang diterima Pemkot Semarang.

Hal ini yang menjadi salah satu alasan Lembaga Konsumen Rokok Indonesia (LKRI) untuk menggugat perda tersebut. Selain masalah penggunaasn DBHCT untuk penegakan perda KTR, gugatan juga dilakukan lantaran penherapan kawasan tanpa rokok tak diserai dengan penyediaan fasilitas ruang khusus merokok.

“Kami akan menggugat agar Perda KTR yang diberlakukan di beberapa kabupaten/kota di Indonesia, termasuk Kota Semarang ini. Kami gugat untuk direvisi atau dibatalkan karena sangat diskriminatif terhadap hak-hak perokok,’’ kata Sekretaris Jenderal LKRI dr Tony Priliono, Rabu (21/3/2018).

Ia menyatakan, gugatan akan dilayangkan ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Menurut dia, perda tersebut dinilai tidak memenuhi prinsip keadilan dan diskriminatif terhadap hak-hak para perokok.

Perda KTR tersebut juga dinilai tidak selaras atau bertentangan dengan UU Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Pasalnya dalam perda itu, sanksi denda dijatuhkan maksimal Rp 50 juta, padahal di dalam UU maksimal hanya Rp 7.500.

‘’Sebagian besar Perda KTR di Indonesia melampaui kewenangan aturan di atasnya. Itu yang mau kami kritisi, agar tercipta keseimbangan antara hak dan kewajiban,’’ tegas Tony.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Kota Semarang, Endro Pudjo Martantono mengakui jika sumber pendanaan razia perokok dan penindakan tipiring hingga tahap persidangan, dibiayai menggunakan DBHCHT yang diterima Pemkot Kota Semarang.

Nilai DBHCHT yang diterima Kota Semarang dari tahun ke tahun juga selalu naik. Pada tahun 2014 DBHCHT Kota Semarang tercatat Rp 5.969.450.397, pada 2015 Rp 7.281.907.000, selanjutnya pada 2016 Rp 7.062.158.000 dan 2017 mencapai Rp 7.968.115.000.

”Saat ini masih sosialisasi razia belum dikenai sanksi berat, hanya teguran dan menulis surat pernyataan. “Ruang-ruang dinas di Balai Kota Semarang ada yang terlarang untuk merokok. Sudah ditempeli stiker,” ujar Endro.

Endro mengakui, saat ini, wilayah KTR kawasan Balai Kota Semarang belum memiliki ruang khusus merokok. Menurut dia, penyediaan fasilitas ruang merokok tersebut bukan prioritas.

“Para perokok bisa memanfaatkan ruang terbuka seperti taman, selasar atau teras kantor untuk merokok. Selama di lokasi tersebut tidak tertempel stiker yang menandakan sebagai kawasan tanpa merokok,” imbuhnya.

Sementara, Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Semarang, Purwanti menyebut jika ruang khusus merokok sudah mulai dibicarakan. Meskipun ia mengakui, tahun ini tidak ada penganggaran untuk membuat ruang merokok.

”Program pembuatan ruangan merokok pada tahun ini tidak ada. Begitu juga pada tahun lalu. Tapi, nanti akan kami bicarakan kalau memang diperlukan ruangan khusus merokok,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Mantan Pilot di Demak Sulap Limbah Jadi Perhiasan yang Dilirik Miss Universe

MuriaNewsCom, Demak – Ershad, mantan pilot di salah satu maskapai penerbangan nasional membanting stir dari dunia pernerbangan ke dunia perhiasan logam. Di kampung halamannya di Mijen Barat, Demak, Ershad memanfaatkan limbah logam yang menumpuk dan disulapnya menjadi perhiasan cantik dengan harga mahal.

Mengumpulkan bahan baku logam dari limbah yang dikumpulkan pemulung, Ershad sukses menyulap limbah menjadi perhiasan dengan harga jual tinggi dan diminati pasar internasional.

Dari ketekunannya, dia berhasil mendirikan usaha logam Zem Silver sekaligus inisiator sentra kerajinan pembuatan souvenir dan perhiasan dari logam di Kabupaten Demak. Awal terjunnya Ershad ke bidang ini karena tertantang dan prihatin melihat warga kampungnya banyak yang menjadi pengangguran.

Usaha ini dimulai lima tahun lalu dengan modal Rp 1 miliar. Berbekal dengan uang modal tersebut, Ershad memulai usaha dengan memberdayakan tetangga kanan-kirinya.

Ia memberikan pelatihan keterampilan kepada masyarakat sekitar untuk mengolah limbah logam menjadi perhiasan, wajan, canting, cap batik dan lainnya. Berawal dari usaha pemberdayaan itu, Zem Silver bisa meraup keuntungan sebesar Rp 300 juta perbulan dengan 50 orang pekerja.

Bukan hanya sukses secara usaha, Ershad juga sukses memberdayakan masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Tak kurang dari 46 KK di desa ini yang sekarang bisa mandiri dengan usaha kerajinan ini. Sehingga, secara tidak langsung meningkatkan taraf ekonomi masyarakat sekaligus menyerap tenaga kerja.

“Mereka dari yang tidak punya penghasilan bisa berpenghasilan Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu per hari,” beber Ershad.

Kini, proses produksi tidak hanya terpusat di rumahnya yang merangkap sebagai galeri, tetapi juga di rumah warga sekitar. Bahkan dia berharap desanya bisa dikenal sebagai sentra kerajinan logam di Demak.

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi  dan UKM Kabupaten Demak Siti Zuarin menyatakan, dua dinas dari Kabupaten Demak yang melakukan pembinaan terhadap usaha logam di Mijen Barat itu. Yakni dinas yang diampunya serta Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian. Berbagai pembinaan dilakukan, termasuk dalam membantu permodalan dari perbankan.

Tidak hanya itu, pihaknya terus berupaya mengikutkan produk UMKM tersebut dalam berbagai pameran UKM. Upaya membantu pemasaran pun dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Koperasi dan UKM. Bahkan, produk Zem Silver hampir selalu ada dalam pameran UKM yang diselenggarakan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah di seluruh Indonesia.

Bahkan setelah dipamerkan pada ajang internasional di Jakarta beberapa waktu lalu, Zem Silver dilirik Galeri Nusantara Jakarta. Bahkan hasil kerajinan Zem Silver akan digunakan di ajang bergengsi Miss Universe.

Perwakilan Galeri Nusantara Jakarta, Adi Wijaya, tak menampik jika permintaan produk Zem Silver sangat tinggi, baik di pasar domestik maupun mancanegara, termasuk diminati untuk ajang Miss Universe.

Kendati begitu, pelaku usaha tersebut mesti lebih memperhatikan kemasannya, sehingga dapat lebih mendongkrak nilai jual produk tersebut.

“Kerajinan ini punya masa depan yang cerah dengan pasar yang terbuka lebar. Rencananya pada Mei dan Juni nanti kami akan ekspansi produk ke Suriname,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Ulama Kendal yang Dibacok Hari Ini Dioperasi, Ganjar Telepon Dirut Rumah Sakit

MuriaNewsCom, Semarang – H Ahmad Zaenuri ulama asal Kendal dan menantunya Agus Nurus Saban yang dibacok pria bergolok, akhir pekan kemarin, Selasa (20/3/2018) hari ini akan menjalani operasi di RSUD Tugurejo, Kota Semarang.

Pengurus NU Ranting Desa Truko, Kecamatan Kangkung, Kendal itu, akan menjalani operasi penjahitan luka bacokan di bagian kepala. Sementara menantunya akan menjalani operasi yang cukup serius, karena luka bacokan di tangannya mengenai pembuluh nadi.

Calon Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, Senin (19/3/2018) petang kemarin, menjenguk dua korban pembacokan yang dilakukan pengamen depresi tersebut.

Kepada Zaenuri dan menantunya, Ganjar mendoakan agar operasi dan perawatannya berjalan lancar. “Mudah-mudahan lancar semua ya, lekas sehat, seger waras,” kata Ganjar.

Ganjar mengatakan sudah menelepon direktur utama RSUD Tugurejo, untuk memberi perhatian lebih kepada dua korban.

Politisi PDI Perjuangan itu juga sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Ia mendapat informasi jika pelaku masih menjalani proses penyidikan, dan motifnya polisi menyimpulkan sebagai tindak kriminal murni.

Pelaku yakni Suyatno alias Bogel (35) diduga ingin merampas tas Agus. Peristiwa itu terjadi di rumah KH Zainuri, Dukuh Krajan, Desa Truko, Kecamatan Kangkung, Kendal, Sabtu (17/3/2018). Pelaku yang diduga depresi karena dicerai isterinya itu dihajar massa usai membacok Zaenuri dan Agus.

“Kepolisian sudah memproses. Sudah ditangkap orangnya. Dan coba mau dikembangkan motif dari kejadian itu,” ungkap Ganjar.

Baca : Pengurus NU Kendal dan Menantunya Diserang Pria Bergolok, Motifnya Njambret?

Alumnus UGM itu berujar kondisi terbaru KH Zainuri masih butuh perawatan. Tangan kirinya dibalut perban. Begitu juga pada kepala bagian kanan dan kaki kiri pengurus NU Ranting Desa Truko, Kecamatan Kangkung, Kendal itu.  Sedangkan luka pada Agus yang tak lain menantu Zaenuri hanya di pelipis kanan.

“Dibanding menantunya, Pak Kiai lebih banyak lukanya. Tapi alhamdulillah tadi saya tanya semuanya lancar. Tidak ada pusing-pusing. Pak kiai masih bisa guyon (bercanda),” imbuhnya.

Sementara itu, adik Zaenuri, Solikhin, mengungkapkan kepada Ganjar bahwa pelaku terindikasi lebih dari satu. Ia mendapat informasi dari warga jika pelaku datang ke rumah korban bersama temannya. Ia pun sempat melihat pelaku menyambangi rumah korban beberapa hari sebelum kejadian.

“Infonya pelaku datang diboncengkan temannya naik motor, tapi belum ketemu siapa orangnya. Saya juga pernah melihat pelaku duduk di depan rumah kakak saya, melihat saya dia kabur ke timur,” kata Solikhin.

Editor : Ali Muntoha

Kemacetan Semarang Mulai Dekati Jakarta, Capai 37 Jam Per Tahun

MuriaNewsCom, Semarang – Kemacetan yang terjadi di Kota Semarang semakin parah. Pertumbuhan kendaraan yang begitu cepat, tak sebanding dengan penambahan luas jalan. Alhasil kerugian yang cukup besar menjadi dampak dari kemacetan tersebut.

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang menyebut, kemacetan yang terjadi di ibu kota Jawa Tengah itu sudah mencapai 37 jam dalam setahun. Angka ini sudah mendekati kemacetan Jakarta yang mencapai 55 jam setahun (tahun 2016).

”Hasil penelitian lembaga riset Inrix juga menyebutkan rata-rata tingkat kemacetan di Kota Semarang sudah mencapai 37 jam dalam setahun,” kata Kepala Dishub Kota Semarang, Muhammad Khadiq dikutip dari metrojateng.com.

Berdasarkan catatan yang dimilikinya juga lama waktu yang dibutuhkan pengendara saat macet mencapai 17 persen. Bahkan pada jam sibuk persentase waktu berkendara meningkat menjadi 21 persen.

Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Joko Santoso, sebelumnya meminta pemerintah kota mencari solusi yang benar-benar manjur untuk mengatasi persoalan kemacetan. Banyak sekali faktor penyebab kemacetan yang harus segera bisa diselesaikan oleh dinas-dinas yang terkait.

Dia menjelaskan, salah satu yang menjadi penyebab kemacetan jalan raya yaitu adanya kredit kendaraan yang murah. Hanya dengan modal Rp500 ribu dan KTP setiap orang saat ini dapat membawa motor baru ke rumah. Sehingga beban jalan raya semakin lama jelas semakin bertambah.

Belum lagi pertambahan penduduk dan pendatang dari daerah tetangga yang bekerja di Kota Semarang, Sehingga pemerintah perlu mencarikan solusi yang benar-benar manjur mengatasi persoalan kemacetan saat ini.

“Tidak terhindarkan memang pertumbuhan kendaraan di Kota Semarang, dari data Samsat Kota Semarang tercatat sekitar 1,6 juta kendaraan roda dua dan 500 ribu mobil. Ini harus ada kajian yang mendalam terkait solusi kemacetan mumpung belum terlambat,” pungkasnya.

Dilansir Kompas.com, hasil penelitian INRIX atau lembaga analisis data kemacetan lalu lintas asal Washington, Amerika Serikat, yang dipublikasikan Senin (20/2/2017), memaparkan bahwa pada 2016 pengendara mobil di Jakarta menghabiskan waktu 55 jam dalam setahun akibat terjebak kemacetan.

Data itu menempatkan Jakarta di peringkat ke-22 kota termacet di dunia. Hasil survei itu juga menunjukkan bahwa kemacetan Jakarta “hanya” lebih baik dibandingkan Bangkok, Thailand, yang menempati peringkat pertama sebagai kota termacet di Asia Tenggara dengan waktu total 64,1 jam setahun.

Editor : Ali Muntoha

Pengurus NU Kendal dan Menantunya Diserang Pria Bergolok, Motifnya Njambret?

MuriaNewsCom, Kendal –  Rois Syuriah NU Ranting Desa Truko, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal, KH Ahmad Zaenuri diserang pria bergolok hingga mengalami sejumlah luka. Sebelum menganiaya ulama itu, pelaku juga menghajar menantunya bernama Agus Nurus.

Pelaku diketahui bernama Suyatni (34) warga Gumuh, Kabupaten, Kendal. Pelaku nyaris dihakimi massa sebelum diamankan ke kantor polisi.

Aksi penyerangan itu terjadi pada Sabtu (17/3/2018) sore. Saat itu Agus Nurus tengah mengeluarkan mobil dan tiba-tiba pelaku datang langsung menyerangnya dengan senjata tajam. Ahmad Zaenuri yang mengetahui anaknya diserang, mencoba menolong namun ia kena bacokan.

“Menantu korban kena bacokan di kepala. Sementara Ahmad Zaenuri kena sabetan golok di tangan,” kata Kasat Rekrim Polres Kendal, AKP Aris Munandar.

Hingga pagi ini, polisi masih terus mendalami kasus penganiayaan itu. Namun dari pemeriksaan sementara polisi menduga motifnya adalah kriminal murni.

Kasat Rekrim Polres Kendal, AKP Aris Munandar menyatakan, awalnya pelaku hendak menjambret tas milik anak Ahmad Zaenuri yang bernama Ulfah.

Saat itu Ulfah akan bepergian bersama suami, Agus Nurus. Dari keterangan tersangka untuk memudahkan aksinya ia terlebih dahulu melukai Agus. Mengetahui ada keributan, mertua Agus, Haji Achmad Zaenuri ke luar rumah mencoba menolong namun juga jadi korban.

Setelah membacok korban kedua, pelaku langsung ditangkap oleh warga. Pelaku juga sempat dihakimi, karena melawan. Lalu warga menghubungi polisi agar pelaku segera ditangkap polisi.

“Pada saat dimintai keterangan, tersangka dapat  menjawab pertanyaan penyidik  dengan lancar,” ujarnya.

Tersangka Suyatno, mengaku bekerja sebagai pengamen. Saat itu ia tidak memiliki uang dan bermaksud untuk meminta uang kepada korban.

“Tiga hari ini engga punya uang, saya bingung dan stress. Pas lewat rumah dia (korban),  saya mau minta uang tapi takut tidak dikasih. Ya terus saya tusuk pakai parang biar ngasih,” akunya.

Pelaku diancam dengan pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan. Dengan jeratan pasal ini pelaku terancam hukuman 9 tahun kurungan penjara.

Editor : Ali Muntoha

Dana Rp 2,6 Miliar Disiapkan untuk Honor Narik Pajak bagi Ketua RT RW di Kota Semarang

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menyiapkan anggaran yang cukup besar untuk ketua RT dan RW di kota ini, sebagai jasa penyampaian Surat Pemberitahuan Pajak Tahunan (SPPT) kepada masyarakatnya.

Dana ini mengalami kenaikan bila dibandingkan tahun lalu. Otomatis nominal yang diberikan bagi ketua RT maupun RW juga meningkat.

Dilansir dari tribunjateng.com, jika semula tiap ketua RT hanya mendapat Rp 1.200 per lembar SPPT, kini naik menjadi Rp 2.400. Begitu juga dengan ketua RW yang dari 1.00 menjadi Rp 2.000

Mulai saat ini, para ketua RT RW di Kota Semarang dapat lebih meningkatkan kinerja mereka dalam hal penyampaian Surat Pemberitahuan Pajak Tahunan (SPPT) pajak bumi dan bangunan (PBB) kepada masyarakatnya.

Pasalnya, dalam hal ini Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) menaikkan uang jasa kepada mereka.

”Anggarannya ada sekitar 2,6 Miliar. Nanti kami bayar di perubahan anggaran, dalam waktu dekat kita realisasikan. Bagaimanapun keterlibatan  pihak luar sangat banyak ya, dengan RT RW lurah camat,” kata Kepala Bapeda Kota Semarang, A Yudi Mardiana.

Menurut dia, kenaikan anggaran itu untuk memacu ketua RT dan RW dalam rangka merealisasikan target pendapatan asli daerah (PAD) Kota Semarang dari sektor pajak.

Dengan dinaikkannya uang jasa ini, ia berharap RT RW dapat menyampaikan SPPT tepat waktu, sehingga pembayaran dapat dilakukan tepat waktu pula.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi (Hendi) mengatakan, kenaikan hingga 100 persen ini mulai berlaku pada 2018.

“Kami sudah sampaikan bahwa PBB merupakan salah satu unsur pembiayaan pembangunan di kota Semarang. Jadi kerjanya harus baik agar PBB masuk cepat dan pembiayaan berjalan lancar,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hendi juga menyampaikan tentang mundurnya batas waktu dari yang biasanya 31 Agustus menjadi 30 September.

Selain itu, bagi warga yang membayar sebelum batas waktu nantinya akan diundi untuk mendapatkan hadiah satu unit rumah. ”Saya rasa ini bisa menjadi pemacu semangat agar pembayaran PBB berjalan lancar,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Oknum Guru SD di Semarang Diduga Lecehkan Siswinya di Dalam Kelas

MuriaNewsCom, Semarang – Kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak kembali terjadi di dunia pendidikan. Seorang guru SD di Karangayu, Kota Semarang berinisial FO dilaporkan ke Polrestabes Semarang, karena diduga melakukan pelecehan seksual terhadap sejumlah siswi.

Peristiwa pelecehan itu diduga dilakukan di dalam kelas. Sejumlah siswi kelas 3 dikunci di dalam kelas dan pelaku memerintahkan para siswi itu menanggalkan seluruh seragamnya.

Salah satu korbannya yakni CJB (8). Orangtua CJB yang mendapat laporan dari anaknya langsung melaporkan aksi oknum guru tersebut ke Polrestabes Semarang, akhir pekan lalu. Dalam laporannya FO melakukan pelecehan di daerah kewanitaan siswi tersebut.

Laporan tersebut kini tengah didalami aparat Polrestabes Semarang. Kasubbag Humas Polrestabes Semarang Kompol Suwarna mengatakan, lamporan tersebut masih didalami oleh penyidik. “Kasusnya ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA),” katanya pada wartawan.

Tak hanya pihak kepolisian, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang juga melakukan investigasi, Senin (12/3/2018). Kepala Disdik Kota Semarang, Bunyamin bersama Unit PPA Polrestabes Semarang mendatangi SD tersebut untuk melakukan klarifikasi.

Bunyamin menjelaskan, pihaknya masih menunggu laporan pemeriksaan yang dilakukan kepala sekolah terhadap oknum guru tersebut.

“Di sekolah kan ada atasannya langsung, yakni kepala sekolah. Tahap awal, kami verifikasi ke kepala sekolah untuk melakukan pemeriksaan. Hasilnya dikirimkan ke kami untuk ditindaklanjuti,” katanya.

Nantinya, kata dia, tim gabungan dari Pemerintah Kota Semarang, seperti Disdik, Inspektorat, dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) juga akan turun melakukan pemeriksaan setelah laporan sekolah selesai.

“Jadi, ada alurnya. Kepala sekolah dulu, nanti tim dari Pemkot Semarang juga akan turun. Hasilnya bagaimana, ya, belum tahu karena yang bersangkutan kan sedang diperiksa kepala sekolah,” katanya.

Dari informasi yang dihimpun, oknum guru tersebut pernah dimutasi ke sekolah tersebut karena dugaan kasus yang sama. Namun Bunyamin mengaku belum mengetahui secara persis informasi itu.

“Memang guru itu tidak sejak awal mengajar di sekolah itu. Sebelumnya dari sekolah lain, kemudian dimutasi ke sekolah itu. Namun, nanti saja menunggu hasil pemeriksaan dari sekolah,” terangnya.

Ia mengaku sangat berhati-hati terkait kasus ini karena korbannya masih anak-anak. Namun jika terbukti pihaknya memastikan ada sanksi tegas sebagaimana diatur aturan tentang aparatur sipil negara (ASN).

“Yang bersangkutan kan sudah pegawai negeri sipil (PNS). Soal sanksi, nanti menunggu hasil laporan. Namun, untuk PNS kan sudah ada aturannya tentang ASN sesuai tingkat pelanggarannya,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Habis OTT Pejabat BPN Semarang, Kejari Mikir Biaya Perkara

MuriaNewsCom, Semarang – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Semarang melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap kepala BPN Kota Semarang, satu pejabat dan dua pegawai honorer, awal pekan kemarin. Namun hingga Selasa (6/3/2018) malam belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka.

Kejari mempunyai waktu 3×24 jam jam untuk mendalami dan melakukan pemeriksaan terhadap keempat orang yang diamankan tersebut. Empat orang yang ditangkap yakni BPN Kota Semarang Sriyono dan Kasubdit Pemeliharaan Nasional BPN Kota Semarang, Windari Rochmawati dan dua pegawai honorer Jimny dan Fahmi.

Setelah melakukan penangkapan itu, kini Kejari Semarang mempertimbangkan biaya perkara untuk melanjutkan kasus ini. Karena barang bukti yang diamankan hanya 10 amplop berisi uang Rp 32,4 juta, sementara biaya perkara sangat besar.

Selain itu, tim Kejari Semarang juga belum menemukan bukti kuat untuk menetapkan tersangka. Meski empat orang yang ditangkap telah diperiksa berjam-jam.

“Biaya penyelidikan, biaya penyidikan, biaya sidang, biaya eksekusi itu jumlahnya jauh lebih besar. Kami mempertimbangkan hal itu, jangan sampai negara sudah rugi malah tambah rugi. Jangan-jangan kita menyidangkan kasus ini malah rugi,” kata Kepala Kejari Semarang, Dwi Pamuji.

Disinggung apakah ada kemungkinan jika empat orang yang diamankan itu akan dibebaskan, pihaknya tidak bisa menjawab pasti. “Ya nanti akan kami gelar kembali, sampai saat ini kami masih melakukan pendalaman,” terangnya.

Baca : Kepala BPN Kota Semarang, 1 Pejabat dan 2 Honorer Terciduk OTT

Selasa petang kemarin, tim penyidik Kejari Kota Semarang juga melakukan penggeledahan di rumah kosan Griya Asri, tempat tinggal Windari Rochmawati, di Perumahan Wahyu Utomo, Ngaliyan Kota Semarang.

Dari hasil penggeledahan tersebut, penyidik menemukan sejumlah barang bukti yang di duga sejumlah uang dan berkas pengurusan hak atas tanah yang di tangani BPN. Meski demikian, penyidik enggan memberikan keterangan kepada awak media.

Kajari mengatakan masih terus melakukan penyelidikan terkait kasus ini. Pihaknya juga akan melakukan pemanggilan para saksi.

Editor : Ali Muntoha

Kepala BPN Kota Semarang, 1 Pejabat dan 2 Honorer Terciduk OTT

MuriaNewsCom, Semarang – Dua petinggi dan dua pegawai honorer di Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Semarang terkena operasi tangkap tangan (OTT) oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Semarang. Mereka tertangkap diduga terkait masalah korupsi dan pungutan liar (pungli).

Tak tanggung-tanggung, dua petinggi yang diamankan yakni Ketua BPN Kota Semarang Sriyono dan Kasubdit Pemeliharaan Nasional BPN Kota Semarang, Windari Rochmawati. Sementara dua pegawai honorer yang ikut terciduk dalam OTT itu yakni Jimny dan Fahmi.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kota Semarang Dwi Samudji kepada wartawan membenarkan adanya OTT tersebut. Menurut dia, penangkapand ilakukan pada Senin (5/3/2018) kemarin, di Kantor BPN Kota Semarang sekitar pukul 16.00 WIB.

“Ada 4 orang yang diamankan (termasuk Kepala BPN Kota Semarang). Dugaan banyak,” katanya.

Dalam penangkapan itu, pihaknya juga mengamankan barang bukti 10 amplop. Dalam amplop-amplop tersebut berisi uang sebesar Rp 32,4 juta. Namun ia belum mau merinci secara detil tentang kasus yang menjerat pejabat BPN Kota Semarang tersebut.

Menurutnya hingga saat ini pihaknya masih melakukan penyidikan dan pengembangan kasus. Ia memastikan, penangkapan ini berdasarkan laporan masyarakat.

“Ada berbagai aduan dari masyarakat terkait dugaan korupsi. Ya, pungli (pungutan liar) dan sebagainya. Jadi kami lakukan penyelidikan itu,” ujar Samudji.

OTT terhadap pejabat BNP Kota Semarang itu didasari surat Nomor 593/O.3.10/Fd.1/02/2018 tertanggal 28 Februari 2018. Meski demikian, kejari belum bisa berbicara banyak lantaran masih melakukan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan.

“Saya tidak bisa bicara banyak karena secara resmi timnya belum lapor ke saya. Nanti ya, kami lakukan penyelidikan dulu,” tukas Dwi Samudji.

Editor : Ali Muntoha

Puluhan TKI Ilegal Diamankan dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang

MuriaNewsCom, Semarang – Puluhan orang yang diduga sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal diamankan polisi di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Ada 37 orang yang diamankan, sebelum mereka berangkat menuju Malaysia.

Dari puluhan orang tersebut, tiga di antaranya merupakan anak-anak. Penangkapan dilakukan aparat Polsek Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, akhir pekan kemarin. Puluhan calon TKI ilegal itu diketahui berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kapolsek Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Kompol Bagus Prasetyo kepada wartawan mengatakan, mereka berangkat dari NTB menggunakan bus, sejak Senin (26/2/2018) lalu.

Awalnya mereka singgah di Surabaya dan akan melanjutkan perjalanan ke Pontianak menggunakan kapal. Ternyata keberangkatan dari Surabaya masih 8 Maret sehingga mereka bermaksud berangkat dari Semarang.

”Rencananya jika sudah sampai Pontianak, mereka lanjut ke Malaysia. Mereka hanya membawa Paspor dan KTP,” katanya.

Dari pengakuan mereka, keberangkatan ke Malaysia merupakan inisiatif sendiri karena ingin bekerja di perkebunan sawit. Namun mereka tidak mengatakan akan bekerja kepada siapa.
Para TKI ilegal itu sudah selesai diperiksa di Polsek Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang.

Saat ini kasusnya sudah ditangani Polda Jateng dan mereka akan diberi pembinaan.

Dean Safitri, salah satu yang diamankan mengaku kepincut bekerja ke Malaysia. Ia menempuh perjalanan darat dari tanah kelahirannya menuju Semarang. “Kami tadinya mau ke Pontianak naik kapal malam ini biar besok bisa lanjut ke Malaysia,” akunya.

Dean menyebut. di antara teman-temannya juga terdapat tiga balita. Ia sendiri berangkat ke Malaysia tanpa pembekalan lebih dulu, seperti yang dilakukan agen resmi penyalur tenaga kerja.

Dean tergiur mencari peruntungan ke luar negeri karena ada orang kampungnya yang meraup sukses. “Kami ingin ke Malaysia karena ada orang dari kampung kami yang ke sana. Dia sukses di sana. Sama-sama dari Kecamatan Bolo, Bima,” imbuhnya.

Editor : Ali Muntoha

Jumlah Kecamatan di Kota Semarang Bakal Membengkak Jadi 32

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mewacanakan untuk melakukan pemekaran kecamatan di ibu kota Provinsi Jateng itu. Kota Semarang yang saat ini terdiri dari 16 kecamatan tengah dikaji untuk dimekarkan menjadi 30-32 kecamatan.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, pemekaran wilayah tersebut bertujuan untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi. Karena perekonomian Kota Semarang dinilai masih tertinggal dibanding kota-kota besar lain di Indonesia.

Ia menyebut, salah satu faktor lambatnya pertumbuhan ekonomi di Kota Semarang, karena terlalu luasnya pembagian administrasi pemerintahan.

‘’Pemekaran kecamatan saya rasa sangat diperlukan untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi. Ini akan kami pertimbangan dan menjadi target prioritas pembangunan yang harus dilakukan,’’ kata wali kota yang disapa Hendi ini.

Wilayah Kota Semarang mempunyai luas sekitar 373,8 km persegi. Dengan wilayah yang sangat luas itu, hanya dibagi menjadi 16 kecamatan. Oleh karenanya dinilai perlu dilakukan pemekaran untuk mempercepat laju ekonomi.

Hendi membandingkan dengan Filiphina dan Vietnam. Dua negara itu memiliki jumlah Provinsi yang lebih banyak dibanding Indonesia.

Hal itu yang menyebabkan laju pertumbuhan ekonomi dua negara itu lebih besar dengan Indonesia. Meskipun, keberadaan Sumber Daya Alam (SDA) di dua negara itu jauh tertinggal dibanding Indonesia.

Contoh lagi adalah Kota Bandung dan Surabaya. Hendi menerangkan, Bandung dengan wilayah seluas 150 km persegi memiliki 31 kecamatan. Sedangkan Surabaya yang luas wilayahnya tidak jauh berbeda dengan Kota Semarang, memiliki 30 kecamatan.

‘’Bandingkan saja, laju pertumbuhan dua kota itu jauh lebih pesat dibanding Kota Semarang. Untuk itu, saya merasa pemekaran wilayah penting dilakukan. “Jadi memang penting, ini akan menjadi prioritas kami,’’ tegasnya.

Editor : Ali Muntoha

Gedung Dinkes Kota Semarang Bakal Dirombak Jadi Lahan Parkir 10 Lantai

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang bakal membangun gedung parkir setingga 10 laintai di Jalan Pandanaran. Pembangunan ini dilakukan lantaran ruwetnya masalah parkir di jalan protokol tersebut.

Untuk membangun kantung parkir ini, dibutuhkan dana sebesar Rp 85 miliar. Gedung parkir ini akan menempati gedung Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang di Jalan Pandanaran Nomor 79 Semarang.

Gedung Dinkes ini akan dibongkar total dan kemudian dibangun gedung setinggi 10 lantai. Rencana pembangunan ini masih digodok oleh Dinas Tata Ruang (Distaru) Kota Semarang.

Saat ini, Pemkot Semarang juga tengah mencari sewa tempat untuk memindahkan aktivitas pelayanan Dinas Kesehatan Kota Semarang, selama proses pembangunan.

“Nanti gedung Dinas Kesehatan Kota Semarang dibongkar total, kemudian baru dilakukan pembangunan gedung baru,” kata Sekretaris Dinas Tata Ruang Kota Semarang, Irwansyah, kepada wartawan.

Dijelaskan, gedung 10 lantai tersebut nantinya digunakan sebagai gedung parkir, puskesmas, dan kantor Dinas Kesehatan Kota Semarang. Gedung parkir direncanakan akan menggunakan sebanyak lima lantai.

“Pembangunan ini menggunakan APBD Kota Semarang sistem kontrak tahun jamak atau multiyears 2018-2019. Nanti akan dilelang senilai kurang lebih Rp 85 miliar,” ujarnya.

Saat ini, pihaknya mengaku masih memelajari sistem kontraknya, termasuk meninjau ulang Detail Engineering Design (DED). Sedangkan untuk Analisis Dampak Lingkungan (Amdal), Izin prinsip, dan lain-lain telah rampung.

“Kami masih diskusikan dengan ULP (Unit Layanan Pengadaan). Jangan sampai tahun ini dikerjakan tapi tahun selanjutnya tidak, itu kan malah berbahaya,” terangnya.

Setelah semua persiapan rampung, lanjutnya, pihaknya segera melakukan proses lelang. Rencananya proses lelang akhir Maret 2018 dan Mei proses pembangunan sudah dimulai.

Mengenai konsep gedung baru, pihaknya belum bisa membeberkan secara detail. Namun yang jelas gedung tersebut memberi ruang besar untuk parkir. Tetapi gedung parkir tersebut masih konvensional. Artinya, bukan gedung parkir yang didesain menggunakan teknologi. “Kami masih hitung kapasitas gedung tersebut,” katanya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Widoyono mengaku masih kesulitan mencari gedung yang akan digunakan untuk ditempati sebagai kantor selama lima tahun. “Ada beberapa pemilik gedung swasta yang menawari, namun pihaknya belum menyetujui tawaran itu. Ya, ini masih proses pindah,” ujarnya.

Sedangkan untuk Puskesmas Pandanaran sudah pindah. Dia menargetkan, Maret atau April mendatang sudah pindah. Sebab, Mei kegiatan pembangunan gedung baru dimulai.

“Nanti kami akan mengumumkan perpindahan gedung kepada masyarakat dan pelayanan tidak terganggu,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Polisi di Semarang Tewas Kecelakaan Saat Patroli

MuriaNewsCom, Semarang – Seorang anggota Polsek Tugu, Kota Semarang, Brigadir Ariyanto (32) kehilangan nyawa akibat kecelakaan di jalur pantura, Jalan Walisongo Semarang. Kecelakaan terjadi saat korban tengah menjalankan tugas patroli pada Jumat (2/3/2018) subuh.

Peristiwa terjadi ketika Brigadir Ariyanto dan dua anggota lainnya melaksanakan patroli subuh menggunakan mobil patroli pukul 04.00 WIB. Ketika itu Brigadir Ariyanto mengemudikan mobil dari arah barat ke Timur.

Saat tiba di tikungan SPBU Jalan Walisongo, tiba-tiba ada sepeda motor menyebrang. Ariyanto berusaha menghindari motor itu dengan membelokkan mobil. Namun nahas, ia menabrak pembatas jalan.

Kapolsek Tugu Kompol Davis Siswara membenarkan kecelakaan nahas yang menimpa anak buahnya itu. Ia menjelaskan anggotanya gugur saat menjalankan tugas.

Davis juga menyebut, korban sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong. “Almarhum meninggal setelah dilarikan ke RSUD Tugurejo,” katanya.

Menurut dia, korban mengalami luka memar di kepala dan patah tulang rusuk. Almarhum sendiri rencananya akan langsung dimakamkan di dekat tempat tinggalnya di Mijen, Kota Semarang.

“Rencana akan dimakamkan di Mijen. Almarhum Insya Allah syahid karena meninggal saat menjalankan tugas patroli. Beliau anggota terbaik kita, mohon doanya,” pungkas Davis.

Editor : Ali Muntoha

Ibu Kos di Semarang Tewas Dibunuh, Ada Luka Tusuk di Perut

MuriaNewsCom, Semarang – Seorang ibu kos di Kota Semarang, ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan di rumahnya Perumahan Bukit Delima B9, Kelurahan Bringin, Kecamatan Ngalian, Kamis (1/3/2018).

Perempuan bernama Meta Novita Handayani (38) itu diduga menjadi korban pembunuhan. Pasalnya, di perut korban ditemukan luka bekas tusukan. Tubuh ditemukan pada pukul 08.00 WIB.

Di rumah yang digunakan sebagai kos-kosan itu, korban tinggal bersama anaknya yang masih TK, dua anak lainnya sudah berangkat sekolah. Sementara suaminya bekerja di Jakarta.

Salah satu saksi, Muhamad Andre Fernadan (19) warga Pekalongan yang indekos di sebelah rumah korban mengaku mendengar suara jeritan dan melihat korban dibekap oleh seorang pria yang menggunakan helm.

“Begitu mau keluar saya tanya, orangnya gugup dan langsung kabur menggunakan sepeda motor Supra Fit,” ungkap Andre.

Sementara Tyas, tetangga korban mengaku melihat mantan pembantu korban tengah bertengkar dengan seorang laki-laki di depan rumahnya.

Seorang tetangga sempat mengambil foto motor yang dikendarai oleh mantan ART dan seorang lelaki saat berada di sekitar rumah korban. “Mereka (mantan pembantu dan seorang lelaki) bertengkar banyak yang lihat kok, sekitar pukul 07.00 WIB, kemudian pergi naik motor itu,” ujarnya.

Kapolsek Ngaliyan Kompol Doni Eko S  membenarkan jika ada saksi yang memotret motor yang diduga pelaku. Saat ini menurutnya, polisi tengah melakukan pengejaran.

Sementara dari olah tempat kejadian perkara (TKP) diketahui jika korban meninggal akibat luka tusukan di perut dan dibekap. Lokasi pembunuhan berada di dalam kamar.

”Tidak ada barang berharga yang hilang. Kita amankan sebuah guling dan dua pasang sandal berwarna biru dan hitam yang diduga milik korban,” ungkapnya.

Editor : Ali Muntoha

Maling Ini Berani Embat Motor di Depan Kantor Polisi Lalu Diposting di Facebook

MuriaNewsCom, Salatiga – Pelaku pencurian kendaraan bermotor sudah berani terang-terangan dalam beraksi. Tak hanya menjalankan aksinya di tempat sepi, mereka juga berani di tempat ramai, bahkan di depan kantor polisi.

Seperti yang dilakukan T (31), warga Kramat Selatan, Magelang ini. Ia nekat membawa kabur sepeda motor di depan kantor Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Salatiga. Bahkan ia juga berani terang-terangan menjual motor hasil curiannya itu dengan memposting di Facebook.

Tak hanya di tempat ini saja, T juga diketahui telah beraksi di 21 lokasi. Sebagian besar berada di Kota Salatga dan Kabupaten Semarang. Dan petualangan jahat T harus berhenti setelah dibekuk jajaran Resmob Polres Salatiga.

Ia dibekuk di teras masjid di kawasan Ise-isep Salatiga, Senin (26/2/2018) sore. Saat dibekuk, pelaku sudah tak bisa berkilah lagi. Ia pun mengakui semua perbuatannya.

Pengakuannya selain di depan Kantor Satlantas, ia juga melakukan aksi di depan Salon Jetis, Lapangan Pancasila, depan Wonder, Pasar Blauran, Pasar Pagi. Modusnya dengan berkeliling mencari motor yang kunci kontaknya tertinggal.

”Barang saya posting di Facebook untuk ditawarkan. Jika sudah ada calon pembli langsung COD. Motor saya jual antara Rp 2-3 juta,” akunya kepada polisi.

Dari hasil penangkapan pelaku, tim Resmob juga berhasil mengamankan 10 motor hasil curian. Kapolres Salatiga AKBP Yimmy Kurniawan melalui Wakapolres Salatiga Kompol Kristanto Budi mengatakan, motif pelaku melakukan aksi pencurian karena maslah ekonomi.

“Dalam menjalankan aksinya pelaku menggunakan kesempatan untuk mengambil barang curiannya, karena rata-rata yang diambil tertinggal kunci kontaknya,” katanya dalam gelar kasus, kemarin.

Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk semakin berhati-hati, terutama jangan meninggalkan kunci kontak tergantung di motor. Selain itu, warga yang merasa kehilangan sepeda motor bisa menghubungi Satreskrim Polres Salatiga.

“Yang merasa kehilangan sepeda motornya bisa konfirmasi ke Satuan Reskrim Polres Salatiga, dengan membawa bukti kepemilikan sepeda motor yang hilang,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Dua Pelajar Pembunuh Sopir Taksi Online di Semarang Dihukum 9 dan 10 Tahun

MuriaNewsCom, Semarang – Kasus pembunuhan sadis Deny Stiawan, sopir taksi online di Semarang yang dilakukan dua pelajar SMK menemui babak akhir. Dua pelaku pembunuhan yakni DR dan IBR divonis hukuman 9 dan 10 tahun kurungan penjara.

Vonis dijatuhkan hakim tunggal Sigit Harianto, dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Selasa (27/2/2019). Hakim menjatuhi vonis pelaku yang masih berumur 15 tahun itu sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Yakni DR dijatuhi hukuman sembilan tahun penjara, sementara IBR divonis 10 tahun kurungan penjara. Hakim menyatakan, dua terdakwa terbukti melakukan perencanaan pembunuhan. ” “Perbuatan tersebut dilakukan terdakwa dengan sengaja,” kata Sigit dilansir Antarajateng.com.

Terdakwa IB mendapatkan vonis yang lebih tinggi, karena dinilai sebagai inisiator aksi pembunuhan. Yakni IBR mengajak DR mencari pengganti uang sekolah sebesar Rp 510 ribu yang sudah selama tiga bulan belum dibayarkan.

Keduanya kemudian merencanakan tindak pidana untuk membegal sopir taksi online. Korban dipilih lantaranan dinilai mudah dieksekusi.

Adapun perencanaan yang dilakukan terdakwa antara lain, IBR menyiapkan pisau sepanjang 40 cm sebelum beraksi. Menurut hakim, kedunya juga sudah menyiapkan posisi duduknya di dalam mobil.

Terdakwa DR sengaja duduk di sebelah kiri korban, sementara IBR duduk di kursi tengah mobil, di belakang korban. Terdakwa DR berperan mengajak korban mengobrol, adapun IBR merupakan pelaku yang menghunuskan pisau ke leher korban.

“Terdakwa juga sengaja membayar ongkos taksi Rp 22 ribu, kurang dari yang seharusnya,” ujarnya.

Baca : 2 Siswa SMK di Semarang Begal dan Gorok Sopir Taksi Online, Alasannya Buat Bayar SPP

Terdakwa berpura-pura mengajak korban untuk mencari rumah bibinya dengan alasan untuk meminta tambahan uang untuk membayar ongkos taksi sebesar Rp 44 ribu.

Korban kemudian dieksekusi di Jalan Cendana Selatan IV, Tembalang, Kota Semarang. Dua telepon seluler dan mobil milik korban dibawa kabur oleh pelaku. Mobil itu direncanakan dijual setelah kondisi aman.

Atas putusan tersebut, baik terdakwa maupun penuntut umum sama-sama menyatakan pikir-pikir. Selanjutnya, kedua terdakwa yang masih di bawah umum tersebut akan ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Anak Kutoarjo.

Editor : Ali Muntoha

Kota Lama Semarang Berpeluang Jadi World Heritage UNESCO

MuriaNewsCom, Semarang – Kawasan Kota Lama Semarang berpeluang masuk dalam kota sejarah warisan budaya dunia oleh UNESCO di 2020. Hal ini seiring dicoretnya Kota Tua Jakarta dan Sawahlunto dari daftar sementara UNESCO.

Kepala Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Arif Rahman menyebut, peluang Kota Lama Semarang masuk sebagai kota warisan budaya dunia sangat terbuka lebar. Apalagi menurut dia, pengembangan Kota Lama berbeda dengan kota tua yang ada di dunia.

“Ada kota di beberapa negara, UNESCO memperhatikan perkembangannya ke arah ekonomi, lalu kebudayaannya merosot. Tapi Semarang saya lihat tidak, sudah benar ini strateginya, jadi kebudayaan dan ekonomi itu disandingkan,” katanya, disela Workshop Strategi Pengurangan Resiko Bencana (PRB) Kota Lama Semarang, Senin (26/2/2018).

Adanya Workshop itu, menurutnya contoh nyata pembangunan Kota Lama telah melibatkan semua elemen, di antaranya para peneliti, akademisi, pemerintah, bahkan ilmuwan sejarah.

“Saya ambil contoh, ada satu kota di dunia ini yang karena dibangun tanpa penelitian akhirnya keliru. Kemacetan terjadi, lalu peledakan jumlah manusia tak bisa dikendalikan. Kalau Semarang sudah benar startnya,” ujarnya.

Semantara, Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu menyatakan, untuk kawasan Kota Lama sedang disusun dosier. Termasuk lembaran dokumen dosier yang didapat dari Museum Arsip Nasional Belanda dan Prancis.

“September 2018 draft dosier selesai, November Final. Sehingga diupayakan 2019 bisa masuk dalam tentative list UNESCO. Pengumumannya pada 2020,” katanya.

Selain itu, kawasan yang kerap disebut ‘Little Netherland’ ini dahulu kerap langganan banjir dan air rob, sekarang sudah ditata sistem drainase dan penataan kabel. Apalagi program ini disokong oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dengan gelontoran dana Rp 156 miliar.

“Pengurangan risiko bencana bagi bangunan sejarah Kota Lama sudah kita mitigasi. Dana PUPR Rp.156 miliyar digunakan untuk membangun sistem drainase, penanaman kabel bawah tanah (ducting), street interior, dan pedestarian,” ujarnya.

Dalam kawasan itu ada sekitar 116 bangunan bersejarah, beberapa di antaranya sudah direvitalisasi. Seperti Gedung Telkom dimanfaatkan sebagai UMKM Centre, Gedung Oudetrap, Moonod Huis, dan lainnya.

“Ada yang dimanfaatkan untuk restoran, kafe, penginapan, beberapa gedung milik ‘Raja Gula Asia’ Oei Tiong Ham, gedung milik Kemenkumham, PT Rajawali Nusindo, PTPN, Bank Mandiri, gedung milik warga juga kita bantu untuk direvitalisasi,” paparnya.

Editor : Ali Muntoha

Beni Digerebek Saat Nikmati Sabu di Kamar 2114 Hotel Laras Asri

MuriaNewsCom, Salatiga – Jajaran Polres Salatiga kembali mengungkap peredaran narkoba di wilayahnya. Seorang pengedar narkoba bernama Yohane Beni Asih Wibowo (39) digerebek saat melakukan transaksi di kamar Hotel Laras Asri, Salatiga.

Beni ditangkap saat bersembunyi di kamar nomor 2114. Saat dilakukan penggeledahan, polisi menemukan dua paket sabu seberat 1,76 gram. Penggerebekan dilakukan pada Minggu (25/2/20118) dinihari, bersama security hotel.

Kasat Resnarkoba Polres Salatiga AKP Suwasana mengatakan, penangkapan berawal ketika tim Sat Resnarkoba mendapat informasi bahwa di sebuah kamar di Hotel Laras Asri Salatiga, ada transaksi narkoba.

Dengan bergegas Tim Sat Resnarkoba menuju ke kamar hotel yang dimaksud untuk melakukan penggerebekan. Di tempat itu polisi menangkap Beni dan menemukan sejumlah barang bukti. Sejumlah peralatan untuk menikmati sabu itu juga diamankan. Di antaranya bong atau alat penghisab sabu.

Selanjutnya pelaku dengan barang buktinya dibawa ke Mapolres Salatiga untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Polisi juga masih mengembangkan untuk mencari bandar besar jaringan narkoba di Salatiga.

“Pelaku akan dijerat pasal primer 112 ayat (1) subsider pasal 127 ayat (1) huruf a UU RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman penjara paling lama 12 tahun,” ujarnya.

Editor : Ali Muntoha

Dikeluarkan dari Sekolah, Siswa SMAN 1 Semarang Lapor Ombudsman

MuriaNewsCom, Semarang – Dua pengurus OSIS SMAN 1 Semarang, Muhammad Afif Ashor dan Anindya Puspita Helga Nur Fadhila dikeluarkan dari sekolah. Keduanya dikeluarkan dengan alasan melakukan kekerasan kepada yunior saat Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) pada November 2017.

Tuduhan itu didasarkan adanya video saat kegiatan LDK yang menunjukkan adanya aksi penamparan. Afif  yang menjabat sebagai Kasie 4 OSIS periode 2016-2017 dan Anindya siswi kelas XII MIPA 11 menjabat Kasubsie Satgas Antinarkoba OSIS periode 2016-2017 dikeluarkan pada 5 Februari 2018.

Setelah mendapat putusan ini, Anindya akan menempuh jalur hukum dengan mengadu pada Ombudsman. Kuasa Anindya Puspita, Hermansyah Bakrie, kepada wartawan menyebut jika tindakan kepala sekolah dinilai otoriter.

Menurut dia, pihak sekolah seharusnya melakukan evaluasi ke internal sebelum memutuskan untuk mengeluarkan siswanya. “Jangan mentang-mentang Anindya ini berasal dari keluarga kurang mampu,” katanya dikutip dari Antarajateng.com, Senin (26/2/2018).

Ia menegaskan perbuatan kepala SMAN 1 tersebut tergolong sebagai penyalahgunaan wewenang. Dalam kasus ini, pihak sekolah memberikan pilihan mengundurkan diri atau dikeluarkan dari sekolah yang akan dilanjutkan dengan proses hukum atas permasalahan itu.

“Siswi itu sudah kelas tiga, apakah tidak ada jalan lain. Saya dapat keterangan dari Anin, ada dua opsi pembinaan yang dilakukan pihak sekolah. Pembinaan disuruh mengundurkan diri dan pembinaan luar akan diproses hukum,” kata Dio.

Sementara itu, Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Tengah menyebut tindakan yang dilakukan pihak SMAN 1 Semarang sudah sesuai aturan. Kepala Disdik Jateng, Gatot Bambang Hastowo menyebut telah mengirim  tim untuk melakukan penyelidikan dan pendalaman kasus tersebut.

Termasuk melihat rekaman kegiatan LDK dan menyimpulkan sekolah sudah sesuai dengan prosedur. “Termasuk saya sendiri turun ke sana. Sekolah dalam mengambil keputusan pasti ada dasarnya. Dasarnya, aturan dan tata tertib sekolah bersangkutan,” terangnya.

Meski demikian, ia mengakui langkah SMAN 1 Semarang mengeluarkan dua siswa itu tanpa ada koordinasi Disdik Jateng. Akan tetapi menurut dia, hal itu diperbolehkan karena sesuai Manajemen berbasis sekolah (MBS).

“Artinya, sekolah punya kewenangan mengelola pembelajaran. Tidak harus seizin kepala dinas, namun yang terpenting kebijakan bisa dipertanggung jawabkan dan kepala sekolah berani bertanggung jawab,” paparnya.

Apalagi, kata dia, tidak mungkin jika setiap sekolah ketika mengambil kebijakan harus selalu seizin Disdik Jateng. Karena jumlah SMA dan SMK yang ada di 35 kabupaten/kota di Jateng mencapai 598 sekolah.

“Namun, saya juga harus mengambil kebijakan karena dua siswa ini sudah kelas XII dan sebentar lagi harus ujian nasional (UN). Bahkan, namanya sudah terdaftar. Jangan sampai mereka tidak bisa mengikuti UN,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Caption : Foto : sman1-smg.sch.id

Mau Tawuran Pakai Senjata Tajam, 8 Pelajar SMK di Bawen Digelandang ke Kantor Polisi

MuriaNewsCom, Semarang – Aparat Polsek Bawen sempat terlibat aksi kejar-kejaran dengan para pelajar yang mau tawuran di Pertigaan Bintangan Jalan Lingkar Bawen-Ambarawa, Sabtu (24/2/2018). Delapan pelajar berhasil diamankan dan langsung digelandang ke kantor polisi.

Setelah diperiksa polisi, para pelajar itu membawa sejumlah senjata untuk digunakan tawuran. Di antaranya gear sepeda motor yang diikat dengan sabuk, senjata tajam dan potongan besi yang diruncingi.

Penangkapan para pelajar ini bermula dari kecurigaan petugas patroli yang melihat sejumlah pelajar tengah berkumpul di traffic light jalan lingkar Bawen-Ambarawa. Kepala SPK Polsek Bawen Aiptu Sapto Cahyo yang memimpin patroli langsung mengejar para pelajar itu.

Beberapa pelajar sempat melarikan diri dari petugas, namun ada beberapa orang pelajar yang bisa diamankan tidak kurang 8 orang pelajar dibawa ke Polsek Bawen. Setelah dilakukan penggeledahan ternyata ditemukan beberapa senjata.

“Setelah dilakukan pendataan, para pelajar ini kami beri pengarahan agar tak mengulangi perbuatanya lagi, karena itu melanggar hukum dan merugikan orang lain,” kata Kapolsek Bawen, AKP Yulius Herlinda.

Dari hasil pendataan yang dilakukan oleh Polsek Bawen diketahui jika para pelajar itu berasai dari salah satu SMK negeri di daerah Mojosongo, Boyolali. Kepolisian kemudian menghubungi pihak sekolah dan orang tuanya untuk menjemput pelajar tersebut.

”Kami juga memberi pengertian kepada orang tua agar sellauy mengawasi dan membina anak-anaknya, agar tidak terjerumus ke hal-hal yang negatif,” ujarnya.

Editor : Ali Muntoha