Dibiarkan Rusak Bertahun-tahun, Jalan di Jepara Ini Berubah Jadi Wisata Jeglongan Sewu

MuriaNewsCom, Jepara – Selain terkenal dengan wisata pantai yang sangat indah, di Kabupaten Jepara, tepatnya di Kecamatan Nalumsari ternyata ada wisata jeglongan sewu loooh..

Ya, kata jeglongan sewu muncul dari warga sekitar yang kesal dengan sikap pemerintah daerah yang tidak kunjung memperbaiki jalan yang menghubungkan antara Desa Tunggul Pandean dengan Nalumsari. Jalan tersebut dibiarkan rusak lebih dari tiga tahun hingga membuat kekesalan warga memuncak.

Iin Wulandari (25), warga Tunggul Pandean mengaku sejak tahun 2014 jalan tersebut sudah rusak. Bahkan, kini semakin parah dan kubangan jalan semakin dalam dan lebar.

“Rusaknya semakin parah, tidak ada yang bisa dipilih, hingga membuat kami kesal dan membuat istilah jeglongan sewu,” ungkapnya.

Menurut Iin, selain ditempeli tulisan “selamat datang di wisata jeglongan sewu” jalan rusak sepanjang dua kilometer lebih itu juga ditanami pohon pisang dan pohon2 lainya. “Di jalan itu sampai ditanami pohon pisang, bahkan pisangmya tumbuh subur dan sampai berbuah,” jelasnya.

Dia berharap, ada perhatian dari Pemerintah daerah Kabupaten Jepara untuk segera memperbaiki jalan tersebut sehingga aktivitas warga lancar dan ekonomi kembali pulih.

“Saya berharap pemerintah segera memperbaiki jalanya jadi semua aktifitas warga kembali normal,” pinta guru SMK tersebut.

Seorang warga melintas di jalan rusak di Tunggul Pandean Jepara. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Zainal (27), warga Nalumsari juga mengungkapkan hal yang sama. Sejak jalan tersebut rusak, aktifitas antara dua desa tersebut lumpuh. “Harusnya Desa Tunggul ini dekat dengan Nalumsari, tapi karena jalanya rusak parah jadinya malas lewat jalan tersebut dan akhirnya memutar cukup jauh,” katanya.

Awalnya, tambah Zainal, saat kerusakanya masih sedikit, para warga iuran untuk membeli sertu untuk menguruk dan menutup jalan2 yang berlubang. Namun karena tidak perbaikan dari pemerintah, lama-lama warga kesal dan membiarkan jalan tersebut.

“Saya heran, apa bupati atau anggota DPRD kabupaten Jepara ini tidak pernah dengar? Atau tidak pernah ada aduan dari pemerintah kecamatan kalau ada jalan yang rusaknya sangat parah bertahun-tahun seperti ini,” tanyanya.

Dia berharap pemerintah segera memperbaikinya dan aktifitas warga tidak terganggu. “Kami sangat berharap jalanya segera diperbaiki agar warga tidak terganggu perjalananya. Apalagi saat hujan atai setelah hujan, sering pengendara motor jatuh karena terperosok dikubangan yang cukup dalam itu,” kata Zainal.

Editor: Supriyadi

Jelang Nyepi, Umat Hindu Jepara Larut dalam Prosesi Tawur Agung

MuriaNewsCom, Jepara – Masyarakat Hindu Jepara melakukan ritual Mecaru atau Tawur Agung di Pura Puser Bumi, Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, Jumat (16/3/2018). Laku itu dilakukan sebagai rangkaian ritual sebelum memasuki Nyepi yang akan jatuh pada hari Sabtu (17/3/2018).

Sejak Jumat pagi pukul 09.00 WIB umat Hindu dari berbagai wilayah yang ada di Jepara, memadati pura yang terdapat di Dukuh Bale Romo, Desa Plajan RT 1 RW 7 itu. Begitu umat memasuki halaman pura, setiap dari mereka diberi kewangen  atau buket kecil yang diisi dengan bunga warna warni.

Mengikuti prosesi tersebut, warga terlihat khusyuk. Sebelum doa yang dipimpin seorang mangku dimulai, terlebih dahulu dilaksanakan wejangan oleh pendarma wacana dari Kalimantan Puspo Rinanjoyo. Namun demikian, karena ukuran tempat ibadah yang kecil, maka prosesi doa harus dibagi menjadi dua waktu.

Ngarbiyanto ketua panitia acara tersebut mengungkapkan, peserta upacara mecaru diikuti oleh sekitar 500 umat Hindu se Jepara. Tujuannya untuk membersihkan sekaligus mempersiapkan diri jelang Nyepi.

Seorang warga melakukan prosesi Tawur Agung yang dilakukan di Pura Puser Bumi, Dukuh Bale Romo, Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, Jumat (16/3/2018). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

“Upacara Mecaru atau Tawur Agung  ini diselenggarakan untuk membersihkan buana agung dan buana alit, atau kalau diartikan sebagai pembersihan terhadap semesta dan diri kita sebagai manusia,” tuturnya.

Menurutnya, setelah bersembahyang di pura, nantinya umat akan melakukan ritual mecaru di rumah masing-masing. Pada tahun tahun ini, ada yang spesial karena Hari Raya Nyepi berbarengan dengan hari Saraswati.

“Pada tahun Saka 1940 (penanggalan Hindu) kali ini istimewa, sebab Nyepi bersamaan dengan Hari Saraswati atau turunnya ilmu suci pengetahuan. Maka dari itu pelaksanaannya agak berbeda, nanti malam pukul 00.00 WIB akan di mulai persembahyangan Saraswati. Sementara besok (Sabtu) pukul 06.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB keesokan harinya akan dilaksanakan Catur Brata Penyepian,” jelas Ngarbiyanto.

Editor: Supriyadi

Alat Berat Dikerahkan Bersihkan Pantai Teluk Awur dari Berton-ton Sampah

MuriaNewsCom, Jepara – Sebuah alat berat diturunkan untuk membersihkan tumpukan sampah yang ada di Pantai Telukawur, Kecamatan Tahunan, Jepara, Kamis (15/3/2018). Hal ini mengingat, sampah yang terakumulais di destinasi wisata itu diperkirakan mencapai 10 ton lebih.

Asrofi, Kepala Desa Telukawur mengatakan, tumpukan sampah itu berasal dari sungai yang bermuara di pantai tersebut. Disebutkannya, pada musim hujan seperti ini, tumpukan sampah selalu ada saja yang datang. Hal itu praktis mengganggu wisatawan yang datang ke tempat itu.

“Sampah berasal dari sungai yang bermuara ke laut ini. Pada musim ini sangat sulit dibersihkan karena selalu saja terseret ombak,” ujarnya.

Menurutnya, petugas honorer dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara selalu disiagakan mengangkut sampah setiap hari. Namun mereka selalu kesulitan mengingat jumlah sampah yang terlalu banyak.

Pihaknya mengatakan, pemerintah desa tidak ingin masalah sampah di Pantai Teluk Awur mengganggu wisatawan. Oleh karenanya, dirinya menegaskan akan terus fokus membersihkan pantai tersebut.

Hal itu tak lepas dari lokasi pantai yang berada di Desa Teluk Awur. Secara langsung dan tidak, hal itu memengaruhi pemasukan warga desa yang menjadikan wisata pantai sebagai mata pencaharian.

Editor : Ali Muntoha

Tak Ada Berani Nebang, Randu Alas Ratusan Tahun di Jepara Ini Mitosnya Bisa Keluarkan Darah

MuriaNewsCom, Jepara- Pernahkah Anda melihat pohon raksasa berukuran besar berusia ratusan tahun, tanpa ada mitos-mitos penunggu yang menyertainya?.

Jika pun ada, pastinya pohon itu sudah ditebang dijadikan berbagai macam barang furniture, atau bahkan jadi kayu bakar. Apalagi jika pohon tersebut berada di Jepara, yang mayoritas penduduknya adalah perajin mebel.

Hampir sebagian besar keberadaan pohon tua raksasa, selalu diikuti dengan cerita-cerita mistis di seputar pohon tersebut. Seperti yang ada di Kabupaten Jepara.

Di Desa Petekeyan, Kecamatan Tahunan, Jepara terdapat pohon Randu Alas yang berdiri kokoh dan rimbun. Pohon ini menjadi cagar alamnya Desa Petekeyan. Tentu saja ada mitos yang beredar dari mulut ke mulut mengenai keberadaan pohon ini.

Kini semua warga Petekeyan ingin melindungi pohon yang mitosnya menjadi ”rumah” bagi sesepuh mereka yang bernama Mbah Sirah Somasari itu.

Fatkhurraman (55), warga Petekeyan, mengaku sejak dia lahir pohon tersebut sudah sebesar itu, sehingga dia tidak tahu secara pasti usia pohon tersebut.

“Sejak saya lahir bahkan sejak mbah saya kecil, pohon itu sudah ada di sana. Kami tidak ada yang tau pastinya kapan pohon itu mulai tumbuh,” ungkap pengusaha mebel ini.

Menurutnya, pohon yang berdiameter lebih dari 15 meter itu memiliki mitos jika tidak bisa ditebang. Bahkan saat industri mebel di Jepara sedang berkembang pesat, banyak pengusaha yang mengincar pohon yang berada di Pasar Petekeyan tersebut.

“Dulu ada yang ingin menebang pohon itu. Namun pekerja yang mau memotong malah sakit, karena melihat darah yang keluar dari pohon besar itu,” ceritanya.

Bahkan saat mulai dibangun pasar serta toko-toko pada tahun 80an, randu alas ini juga pernah akan ditebang lagi, namun juga muncul keganjilan yang membuat pohon itu gagal ditebang.

“Pas mau dibangun pasar, pohon ini mau ditebang, karena takut kalau roboh atau pakang-pakang-nya (dahan-ranting) jatuh dan merusak kios, atau melukai warga yang sedang beraktivitas di pasar. Namun gagal juga karena mesin pemotongnya meletus,” jelas Fathur saat ditemui di bawah pohon randu alas ini.

Hingga saat ini, tambahnya, tidak ada orang yang berani menebang pohon tersebut. Apalagi banyak muncul cerita-cerita mengerikan bagi orang yang nekat menebang pohon tua tersebut.

“Tidak ada yang berani memotong. Selain mengeluarkan darah, konon ceritanya pohon ini sebagai rumahnya Mbah Sirah Somasari, yang harus kami hormati dan lindungi sebagai sesepuh Desa Petekeyan ini,” ungkapnya.

Pohon randu alas yang rimbun menjadi peneduh pedagang dan pembeli di pasar Desa Petekeyan. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Buaya Putih Penjelmaan Abdi Sunan Ampel

Nasir (35), warga Demangan mengaku juga mendengar banyak cerita dan mitos mengenai pohon itu. Selain cerita pohon yang mengeluarkan darah jika ditebang, ia mengaku melihat hal yang ganjil di bawah itu.

Saat menjelang maghrib, dia mengaku pernah melihat kerumunan warga yang sedang selametan di bawah pohon tersebut. Padahal tak ada satupun orang di sekitar yang melihat aktivitas tersebut.

“Saat itu mau maghrib, saya melihat kerumunan warga ramai di bawah pohon, saya kira memang sedang ada selametan atau apa gitu. Paginya saya tanya teman saya yang tinggal di seberang jalannya, tapi tidak ada acara apa-apa. Bahkan tidak ada yang selametan pada malam itu. Entah itu nyata atau hanya penglihatan saya saja,” kenangnya.

Sementara itu, Mbah Hj Minik (84) sesepuh yang juga istri mantan Petinggi  Desa Petekeyan itu menuturkan, dulunya ada seorang sesepuh yang bernama Mbah Sirah Somasari yang sering tinggal di bawah pohon itu untuk membuat aren.

“Zaman wali songo membangun Masjid Demak, Sunan Ampel mendengar dendangan yang sangat indah yang dibuat oleh Mbah Sirah Somasari saat mencari aren. Suara tersebut terdengar hingga Kerajaan Demak,” ceritanya.

Karena penasaran dengan suara itu, Sunan Ampel mengutus abdinya untuk mencari suara tersebut. ”Hingga akhirnya ketemu mbah Sirah di bawah pohon itu dan membawanya untuk bertemu Sunan Ampel,” jelasnya.

Mbah Sirah disebut mempunyai kesaktian. Namun banyak orang yang mencoba menghasut Sunan Ampel untuk menghukum Mbah Sirah. Hingga akhirnya saat tertidur di depan pintu kamar Sunan Ampel, kepala Mbah Sirah terkena tongkat Sunan Ampel dan meninggal.

“Mbah Sirah meninggal dengan mengeluarkan darah putih yang membuat Sunan Ampel menangis sambil meminta maaf kepada Mbah Sirah, karena dia adalah orang yang jujur dan suci. Sunan Ampel menyuruh abdinya yang disabda menjadi buaya putih untuk mengantar jenazah Somasari hingga ke Desa Petekeyan, namun sampai saat ini jenazah Mbah Somasari tidak sampai di Petekayan namun terdampar di pesisir Desa Semat,” ceritanya.

Belum ada pembuktian atau penelitian secara ilmiah mengenai cerita ini. Namun sebagian besar warga mempercayai mitos ini, sebagai bagian kekhasan budaya desa tersebut.

Editor : Ali Muntoha

Warung di Jepara Ini Minta Ampun Murahnya, Sepuluh Ewu Sak Waregmu

MuriaNewsCom, Jepara- Bagaimana tidak jadi ampiran (tujuan), ketika terpampang baliho besar di pinggir jalan yang bertuliskan Rp 10 ribu sakwaregmu plus free wifi.

Penasaran dengan menu-menunya, akhirnya banyak orang mampir untuk mencicipi masakan “Warung Mbak Ina” yang terletak di Jalan Lingkar Rengging, Pecangaan. Tepatnya di deretan ruko belakang Terminal Pecangaan tersebut.

Ya.. tak sedikit orang yang akhirnya ketagihan setelah merasakan masakan Warung Mbak Ina tersebut. Bahkan warung yang menjajakan berbagai menu masakan ini jadi ampiran sopir-sopir, karyawan dan juga warga yang melintas jalan tersebut.

Fahrudin (35), seorang karyawan di sebuah perusahaan telekomunikasi ini mengaku setiap kali tugas ke luar, dirinya selalu mampir ke warung ini. Selain makanannya yang enak, harga yang murah dan tempat yang bersih menjadi pilihan dia bersama teman-temanya saat jam makan siang.

“Tadinya hanya penasaran dengan tulisan Rp 10 ribu sakwaregmu, tapi setelah mampir ternyata makananya tidak mengecewakan, rasanya enak, seperti masakan rumah, dan harganya sangat bersahabat buat karyawan seperti kami,” ungkap bapak dua anak itu.

Baliho besar di depan warung membuat banyak orang penasaran. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Menurutnya, menu yang paling unggulan di ini yaitu pindang srani dan mangut ikan asap. “Pindang sraninya sangat segar, jooss untuk dimakan di siang-siang yang panas. Apalagi mangut ikan asapnya juga sangat mak nyus,” jelasnya.

Kuswati (40), warga Mlonggo ini juga mengakui menu masakannya bermacam-macam, sehingga banyak pilihan. “Menunya banyak pilihan, kalau saya biasanya suka pecel kadang juga sayur lodehnya enak,” katanya.

Setiap akan pergi ke luar kota, lanjut Kuswati, mampir terlebih dahulu ke warung ini untuk sarapan ataupun makan siang.

“Kalau makan di sini, lumayan bisa hemat, satu keluarga biasanya cuma habis Rp 35 ribu kami semua sudah kenyang,” terang ibu satu anak itu.

Pelanggan tengah menikmati makanan di Warung Mbak Ina Jepara. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Amirotun Nailiyah (24), biasa dipanggil Mbak Ina tersebut mengaku sejak lulus kuliah 2014 lalu, dia mulai merintis warungnya itu bersama dua karyawanya.

“Saya mencoba menyediakan menu masakan rumahan, seperti sayur lodeh, pecel, rames, sop, pindang srani, mangut, pecel lele ataupun ikan goreng,” ungkap alumni Universitas Muria Kudus (UMK) jurusan managemen tersebut.

Untuk pindang srani biasanya ia menggunakan ikan patikoli, karena dinilai paling pas dan enak. Ibu satu anak ini mengaku dengan membuat menu yang serba Rp 10 ribu, dirinya bisa membantu banyak orang.

“Ya kita saling membantu. Saya membantu orang-orang yang sedang lapar dengan banyak menu masakan dengan harga murah, namun tetap menjaga rasa dan kebersihanya. Karena dengan menyediakan tempat yang bersih membuat orang-orang yang sedang menikmati makananya terasa nyaman juga,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Jelang Penilaian Adipura, Pemkab Jepara Bersihkan PKL Membandel

MuriaNewsCom, Jepara – Jelang penilaian Adipura (Penghargaan untuk kota yang mengelola kebersihan dan tata kota terbaik), Satpol PP Jepara menertibkan lapak-lapak pedagang kaki lima (PKL). Kegiatan itu dilakukan mulai Senin hingga Rabu (12-14/3/2018).

Penertiban menyasar lapak PKL yang berada di areal trotoar ataupun daerah larangan berjualan. Seperti di Jl Ki Mangunsarkoro, Trotoar Pasar Jepara Satu, Kompleks Shoping Centre Jepara, Taman Kerang dan di depan Makodim 0719.

Menurut Kabid Penegakan Perda Satpol PP Jepara Sutarno, penertiban tak hanya dilakukan di tingkat ibukota kabupapaten. Di wilayah-wilayah kecamatan, hal serupa juga dilaksanakan.

“Kalau di tingkat kecamatan dilakukan oleh mereka satuan di wilayah. Sementara kami menertibkan sekitar 50 lapak,” ucapnya,

Ia mengatakan, sebelum disita pedagang yang melanggar telah diberi peringatan sebelumnya. Namun saat operasi digelar, mereka tetap saja acuh dan tidak memindahkan lapaknya dari atas trotoar.

Hal itu juga sudah sesuai dengan arahan dari‎ Bupati Jepara Ahmad Marzuqi. Petugas diminta persuasif dalam melakukan penindakan.

“Akan tetapi karena sulit diatur maka akhirnya PKL tersebut akhirnya ditertibkan,” tuturnya.

Perlu diketahui, selama 13 tahun Pemkab Jepara telah mendapatkan piala adipura. Namun titel itu, bukanlah titel paripurna, yang diharapkan oleh pemerintah kabupaten.

Editor: Supriyadi

Rumah Warga Kelet Jepara Disatroni Maling, Ratusan Juta Melayang

MuriaNewsCom, Jepara – Rumah milik Hartini (60) yang ada di Desa Kelet, RT 17 RW 3 Kecamatan Keling disatroni rampok, Rabu (14/3/2018) pagi. Perampok yang berjumlah empat orang sempat menyekap janda beranak empat itu.

AKP Mahendra Kapolsek Keling mengatakan, dari kejadian itu tak ada korban jiwa. Namun demikian, kerugian yang dialami oleh Hartini diduga mencapai Rp 160 juta.

“Kronologinya sekitar pukul 02.00 (Rabu dinihari) korban (Hartini) sedang tidur sendirian, karena semua anak-anaknya kerja di luar kota. Nah saat itu, ia didatangi empat orang memakai penutup kepala mengancam pemilik rumah. Kemudian pelaku mengikat tangan dan kaki dengan tali rafia, juga menutup mata korban,” ujarnya.

Setelahnya, Hartini dipaksa menunjukan harta bendanya. Setelah itu, perampok leluasa menguras harta benda yang disimpan di dalam rumahnya.

Sekitar satu jam beraksi, pukul 03.00 WIB perampok kemudian meninggalkan kediaman Hartini. Baru sekitar pukul 09.00 WIB, korban bisa beringsut menuju gerbang rumahnya, kemudian minta ditolong oleh karyawannya.

“Ia kemudian ditolong oleh karyawannya. Kebetulan korban ini punya toko onderdil di rumahnya. Barang-barang yang diambil pelaku ada perhiasan dan uang, kerugian sekitar Rp 160 juta,” ungkap Mahendra.

Dirinya mengungkapkan, pihaknya bekerjasama dengan Polres Jepara untuk mengungkap kasus tersebut. Tim Identifikasi pun telah turun ke tempat kejadian perkara untuk mengumpulkan barang bukti.

“Saat ini masih dalam penyelidikan lebih lanjut,” tutup Kapolsek Keling.

Editor : Supriyadi

Vonis Terlalu Ringan, Warga Desa Bandung Gelar Aksi Tutup Mulut dengan Uang Rp 10 Ribu di PN Jepara

MuriaNewsCom, Jepara – Belasan warga Desa Bandung, Kecamatan Mayong melakukan unjuk rasa di Pengadilan Negeri Jepara, Rabu (14/3/2018) siang. Mereka memrotes ihwal putusan hukum terdakwa penganiaya bocah berinisial ZF (6) yang dinilai terlalu ringan.

Selain membawa poster berisikan protes, mereka juga menutup mulut dengan menggunakan uang kertas.

Di ruang sidang, terdakwa berinisial PNR diketahui mendapatkan vonis ringan, yakni pidana dua bulan dengan masa percobaan empat bulan dan denda sebesar Rp 500 ribu dengan subsider kurungan sebulan. Hal itu sesuai dengan putusan yang diambil oleh majelis hakim yang diketuai Johanis Hemamony dan beranggotakan Demi Hadiantoro dan Veni Mustika.

Salamah orang tua ZF, mengatakan putusan sidang tersebut terlalu ringan. Lantaran, hingga kini anaknya diakuinya masih merasakan trauma akibat tindak kekerasan yang dilakukan oleh PNR, November 2017 lalu.

Ia mengatakan, kasus tersebut terjadi saat anaknya bersekolah di TPQ. Kala itu, ZF sedang bermain-main dengan teman-temannya di dalam kelas. Kemudian PNR yang saat itu menemani anaknya di dalam kelas menegur ZF, agar tidak terus-terusan bermain.

“Nah setelah itu (menegur) yang bersangkutan kemudian menjewer telinga anak saya, menampar pipi dan mencubit lengan putra saya,” tutur dia.

Tak terima dengan perlakuan PNR, Salamah kemudian melaporkannya kepada Polisi. Kasus tersebut kemudian bergulir hingga memasuki peradilan.

ZF yang saat itu berada di Pengadilan Negeri Jepara, mengaku enggan masuk sekolah lagi. Hal itu karena khawatir jika mendapatkan perlakuan kasar dari PNR.

“Itu dulu dicubit di lengan, ditampar juga. Sakit. Tidak mau sekolah (TPQ) nanti kalau SD saja,” ujarnya.

Sementara itu, Ida Fitriyani jaksa yang menangani kasus tersebut mengaku putusan tersebut sudah sesuai dengan asaz keadilan.

“Awalnya terdakwa (PNR) menunggu anaknya sekolah sore (TPQ). Korban (ZF) ribut, kemudian ditegur oleh terdakwa agar jangan geger, namun korban malah menjawab begini tak saduk malah modar (saya tendang mati). Lalu kemudian terjadilah peristiwa kekerasan (yang dilakukan terdakwa kepada korban) dengan menjewer, mencubit dan menampar,” ungkapnya.

Disamping itu, menurut Ida dalam persidangan pertama korban sudah memaafkan terdakwa. Hal itu terjadi saat ZF ditanyai oleh hakim.

Saat ditanya apakah akan banding dengan putusan itu, Ida mengaku tak akan mengambil opsi tersebut. “Terdakwa juga punya anak kecil. Kalau banding tidak,” tutup jaksa berhijab tersebut.

Editor: Supriyadi

Alamak, Satpol PP Temukan Video Porno di HP Siswa yang Bolos di Pantai Teluk Awur Jepara

MuriaNewsCom, Jepara – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jepara menemukan sebuah video porno di handphone (HP) salah satu siswa yang diamankan lantaran bolos sekolah di Pantai Teluk Awur, Rabu (14/3/2018). Melihat temuan tersebut, petugas pun langsung meminta yang bersangkutan untuk manghapus video tak lazim tersebut.

Supriyanto, Kasi Operasi Penegakan, Pembinaan, Pengawasan dan Penyuluhan Satpol PP dan Damkar Jepara membenarkan temuan tersebut. ”Iya, tadi ada siswa yang menyimpan file video porno di HP. Begitu ketahuan, langsung kami minta untuk dihapus,” katanya.

Sebelumnya, Satpol PP memang mengamankan 10 siswa lantaran keluyuran saat jam sekolah. Mereka terdiri dari empat orang siswi yang bersekolah setingkat SMP, dua siswa laki-laki setingkat SMA dan sisanya adalah siswa laki-laki setingkat SMP.

Baca Juga:

Saat itu mereka tengah berada di Pantai Teluk Awur, Kecamatan Tahunan dengan masih menggunakan seragam sekolah. Salah seorang siswa berinisial A beralasan saat itu sudah dipulangkan oleh pihak sekolah karena ruangannya dipakai untuk ujian kelas IX (tiga).

Sesampainya di Markas Satpol PP Jepara, mereka lantas disuruh berbaris dan membuat surat pernyataan tak melakukan kesalahan yang sama.

“Mereka diketahui tertangkap di Pantai Teluk Awur. Penuturan mereka sudah pulang dari sekolah, namun hal itu bisa saja penuturan mereka saja. Nanti mereka akan dijemput oleh guru BK (Bimbingan Konseling), tapi sebelumnya akan disuruh membuat surat pernyataan terlebih dahulu,” tutur Supriyanto.

Ia menjelaskan, berulang kali lokasi Pantai Teluk Awur dijadikan tempat mbolos. Namun berulang kali dilakukan penertiban, selalu saja ada yang membolos.

Selain anak-anak sekolah, dari laporan warga adapula anak punk yang sering nongkrong di pantai tersebut dan mencuri barang-barang milik penduduk. “Namun pada patroli tersebut, tidak didapati adanya anak punk yang berkumpul di Teluk Awur,” jelas Supriyanto.

Editor: Supriyadi

Keluyuran di Pantai Saat Jam Sekolah, 10 Siswa Digelandang ke Markas Satpol PP Jepara

MuriaNewsCom, Jepara – Sebanyak 10 siswa sekolah digelandang ke markas Satpol PP Jepara, karena keluyuran saat jam sekolah, Rabu (14/3/2018). Mereka terdiri dari empat orang siswi yang bersekolah setingkat SMP, dua siswa laki-laki setingkat SMA dan sisanya adalah siswa laki-laki setingkat SMP.

Saat itu mereka tengah berada di Pantai Teluk Awur, Kecamatan Tahunan dengan masih menggunakan seragam sekolah. Salah seorang siswa berinisial A, mengaku saat itu sudah dipulangkan oleh pihak sekolah karena ruangannya dipakai untuk ujian kelas IX (tiga).

“Sudah pulang tadi jam 08.00 WIB karena ruanganya dipakai kakak kelas untuk ujian. Saya tadi memang pulang sebentar kemudian menaruh tas dan baru ke pantai bersama teman-teman saya tiga orang. Kalau yang lai-laki (enam orang) bukan teman saya,” ungkapnya.

Sesampainya di Markas Satpol PP Jepara, mereka lantas disuruh berbaris dan membuat surat pernyataan tak melakukan kesalahan yang sama. Supriyanto, Kasi Operasi Penegakan, Pembinaan, Pengawasan dan Penyuluhan Satpol PP dan Damkar Jepara mengatakan, kesepuluh siswa ini akan dikembalikan kepada pihak sekolah.

“Mereka diketahui tertangkap di Pantai Teluk Awur. Penuturan mereka sudah pulang dari sekolah, namun hal itu bisa saja penuturan mereka saja. Nanti mereka akan dijemput oleh guru BK (Bimbingan Konseling), tapi sebelumnya akan disuruh membuat surat pernyataan terlebih dahulu,” tuturnya.

Ia menjelaskan, berulang kali lokasi Pantai Teluk Awur dijadikan tempat mbolos. Namun berulang kali dilakukan penertiban, selalu saja ada yang membolos.

Selain anak-anak sekolah, dari laporan warga adapula anak punk yang sering nongkrong di pantai tersebut dan mencuri barang-barang milik penduduk. “Namun pada patroli kali ini, tidak didapati adanya anak punk yang berkumpul di Teluk Awur,” jelas Supriyanto.

Editor: Supriyadi

Duh, Jembatan Desa Mantingan Jepara Patah Diterjang Air Bah

MuriaNewsCom, Jepara – Sebuah jembatan penghubung antar rukun warga di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan-Jepara patah akibat tak kuat gerusan air di sungai setempat, Selasa (13/3/2018). Disamping itu, air pun sempat melimpas ke perkampungan dan menggenangi rumah warga di RT 18 dan RT 3 desa setempat.

Pantauan MuriaNewsCom, panjang jembatan sekitar 10 meter dengan lebar sekira 2,5 meter. Patahan tepat berada di antara sambungan jalan dengan badan jembatan yang bertumpu pada talut sebelah utara.

Akibatnya, warga sekitar bila hendak menuju balai desa atau masjid Agung Mantingan (Makam Kalinyamat), harus memutar 80-200 meter. Lantaran, jembatan tersebut digunakan sebagai alternatif untuk pergi ke tempat tempat tersebut.

Khotib perangkat Desa Mantingan menuturkan, patahnya jembatan tersebut terjadi pada Selasa dinihari sekitar pukul 02.00 WIB. Mulanya, di wilayah tersebut hujan turun begitu deras mulai Senin malam pukul 22.00 WIB,  hingga mengakibatkan debit sungai meningkat.

“Air datang bersama dengan sampah. Sampah kemudian menyumbat aliran sungai yang seharusnya melewati bawah jembatan, kemudian air menggerus talut bagian utara dan menyebabkan patahnya jembatan itu,” tutur dia.

Saat ini praktis warga tak bisa beraktifitas melewati lokasi karena jembatan yang patah total. Warga kemudian terpaksa melewati jembatan lain, walaupun harus memutar.

Khotib menambahkan, saat air meninggi lokasi disekitar jembatan sempat terendam beberapa saat. Meskipun demikian, air tak sempat masuk ke rumah-rumah warga.

“Hanya sampai di teras tidak masuk kedalam. Warga pun tidak ada yang mengungsi,” imbuhnya.

Pemerintah Desa Mantingan menyiagakan puluhan pasukan oranye, untuk menanggulangi dampak lanjutan. Hal itu mengingat, hujan masih sering turun di wilayah tersebut pada malam hari.

“Kami menyiapkan 35 pasukan oranye untuk menanggulangi bencana. Untuk pembenahannya sendiri nanti menunggu bila dana (Dana Desa) masih tersedia, karena sudah dialokasikan untuk pembangunan jalan,” tutup Khotib.

Editor: Supriyadi

Gerebeg Gudang Miras, Satpol PP Jepara Sita Ribuan Botol Minuman Berbagai Merek

MuriaNewsCom, Jepara – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Jepara menyita ribuan botol minuman beralkohol dari sebuah gudang, di terminal lama, Kelurahan Jobokuto RT 1 RW 4, Selasa (13/3/2018). Kini kasus tersebut masih dalam penyidikan, sebab saat penyitaan pemilik gudang tidak berada di tempat.

Kasi Penyelidikan dan Penyidikan Satpol PP dan Pemadam Kebakaran Jepara Anwar Sadat mengatakan, penyitaan miras dilakukan karena mendengar adanya laporan masyarakat.

“Saat itu kami sedang melakukan patroli terkait penilaian Adipura. Saat itu kami dapat laporan dari masyarakat di pojokan belakang terminal lama (ada gudang penyimpan miras). Setelah berpatroli, kami lantas menyelidiki gudang tersebut, ternyata benar di sana tersimpan ribuan botol miras,” kata dia.

Menurut dia, saat digrebeg gudang tersebut dalam kondisi lengang. Namun demikian, beberapa waktu lalu pihaknya pernah menyita 1.157 botol miras di gudang yang ada di sebelah gudang yang kini digerebeg.

“Ternyata gudang ini (yang digerebeg tahun 2018) dijadikan tempat penyimpanan miras juga. Oleh karena itu kami bawa barang bukti miras, kami amankan di kantor Satpol PP. Untuk tersangkanya diduga kuat berinisial DW,” ujar Sadat.

Ia menerangkan pada penyitaan kali ini pihaknya mengamankan 1.317 miras berbagai merek. Mulai dari Proost hingga Anker Bir.

Istono Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Jepara mengatakan, pihaknya akan menelusuri pemilik miras tersebut. Menurutnya, yang bersangkutan diduga pemain lawas yang telah lama menjadi distributor minuman beralkohol.

“Ia (pelaku) diduga pemain lawas yang menjadi rujukan bagi toko-toko kecil,” urai dia.

Menurutnya, tersangka akan dikenai tindak pidana ringan, karena diduga sudah berulang kali melakukan tindakan tersebut.

Editor: Supriyadi

Dapat Rapor Merah dari KPK, Pemkab Jepara Perketat Pemberian Tambahan Penghasilan PNS

MuriaNewsCom,Jepara – Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) menilai sistem pemberian tambahan penghasilan (tamsil) oleh Pemkab Jepara, masih jelek. Hal itu karena sistemnya masih mengacu pada presensi datang dan pulang, tak memperhatikan kinerja dan produktifitas pegawai selama waktu kerja.

Oleh karena itu, pemerintah kabupaten berencana mengetatkan pemberian tamsil pada para pegawai. Sholih, Sekretaris Daerah (Sekda) Jepara mengatakan, pihaknya akan membenahi sistem tersebut dalam waktu dekat.

“Selama ini pemberian tamsil hanya mengacu pada absensi datang dan pulang. Ke depan tidak begitu, nanti juga akan dipertimbangkan rentang kerja pada jam dinas yang tercatat pada Laporan Kinerja Harian (LKH). Di dalamnya, kegiatan selama berdinas akan dicantumkan,” tuturnya, dalam rilis yang diterima MuriaNewsCom.

Dengan metode tersebut, ia berharap pegawai dapat lebih optimal bekerja. Selain itu dirinya berharap agar Apartur Sipil Negara menjadi lebih produktif.

Untuk lebih menggenjot kinerja, ia juga berencana menerapkan sanksi pemotongan jumlah tamsil, jika ASN tak tepat waktu. Sistem seperti itu juga mengantisipasi pegawai yang hanya suka santai-santai dalam bekerja.

Menurutnya, penilaian LKH dilakukan langsung oleh atasan. Setiap bulan, akan dilakukan penilaian, yang akan menentukan besaran tamsil.

Dirinya mengakui, salah satu penyebab perombakan sistem pemberian tamsil karena rapor jelek yang diberikan KPK, terkait hal itu. Dikatakan Sholih, Komisi Pemberantasan Korupsi menilai sistem yang dibangun pemkab Jepara belum baik.

“Bukan belum baik besarannya (tamsil), tapi sistemnya. Kalau besarannya sana (KPK) tidak masalah, mau kecil mau besar sesuai kemampuan. Tapi sistemnya itu yang belum (bagus). Sehingga dalam waktu dekat ini nanti akan kita perbaiki,” ungkapnya.

Ia menambahkan, ada beberapa hal yang dapat menjadi pengurang tamsil para ASN. Diantaranya, keterlambatan masuk kerja, tidak mengikuti apel, pulang cepat atau sebelum waktunya, cuti, sampai tidak masuk kerja tanpa keterangan.

Editor: Supriyadi

Tercatat di MURI, Martabak Super Bang Udin Jepara Ini Bikin Ngiler

MuriaNewsCom, Jepara – Masih bingung cari cemilan super nikmat di malam hari? Apalagi pas musim hujan gini? Tidak usah bingung, Martabak Super Bang Udin jawabanya. Martabak yang pernah masuk rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai martabak telur  terbesar ini selalu jadi pilihan di saat mulut ingin nyemil yang hangat-hangat.

Martabak Super Ada Rasa atau yang lebih dikenal dengan Martabak Super Bang Udin ini adalah martabaknya orang Jepara. Letaknya yang berada di Yos Sudarso dan cabangnya di perempatan Mantingan ini, selalu jadi jujukan untuk memanjakan lidah.

H Muhamad Abidin (62) atau lebih dikenal Bang Udin ini memulai usahanya sejak tahun 1983. Keinginannya untuk bisa sukses di bidang kuliner, laki-laki asal Lebak Siu,;Tegal ini nekat merantau ke Kabupaten Jepara untuk berjualan martabak telur dan juga martabak manis.

”Resep membuat martabaknya memang sudah ada sejak saya kecil, karena keluarga pengusaha martabak telur semua, tapi saya memilih ke Jepara, karena masih jarang orang Lebak Siu yang merantau kesini,” kenang kakek enam cucu itu.

Menurut Abidin, resep yang paling utama untuk martabaknya tersebut adalah menggunakan bahan-bahan pilihan sehingga kualitas rasa tetap terjaga.

”Mulai dari tepung, dagingnya harus daging masih segar, telurnya juga dr bebek angon, dan sayur unclangnya juga benar-benar terjaga kesegaranya. Dengan cara itu rasanya pun tetap tak terlupakan,” ungkapnya.

Kue bandung buatan Bang Udin jadi buruan pencinta kuliner di Jepara. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Dia mengaku dalam semalam dia bisa menghabiskan hingga 500 buah telur untuk dua tempat usahanya itu. Sedangkan untuk martabak manisnya sekitar 200 hingga 300 pack permalam. Untuk martabak telur, harganya pun bervariasi mulai dari Rp 15.000- Rp 55.000 sedangkan untuk martabak manisnya dari Rp 13.000 – Rp 25.000.

”Harganya bervariasi dan cukup terjangkau. Untuk martabak asin yang membedakan telurnya, dan untuk martabak manis yang membedakan harga dari rasanya, mulai dari coklat, kacang, keju, pisang, dan campur-campur juga bisa,”jelasnya.

Wahyu (34), warga Demangan mengaku hampir setiap minggu dirinya dan anak-anaknya tak pernah ketinggalan untuk membeli martabak telur Bang Udin. ”Rasanya selalu ngangenin, jadi setiap habis bayaran atau orang sini bilang kamisan, anak-anak selalu nagih untuk minta martabak,” kata bapak dua anak ini.

Menurut dia, martabak yang biasa dia beli adalah yang harga Rp 25.000. ”Yang harga 25 ribu ini rasanya udah enak, dagingnya juga banyak, dan cukup besar dan tebal, jadi cukup untuk dimakan kami berempat,” ungkapnya.

Sementara itu, Alfiana (19), warga mantingan ini mengaku penggemar martabak manis Bang Udin. Selain rasanya yang legit, martbak manis buatan Bang Udin beda dengan martabak manis lainya.

“Rasanya sangat legit, manisnya pas dan coklatnya itu beda dengan martabak-martabak manis lainya. Coklatnya meleleh dan enak banget pokoknya,” ungkap gadis manis itu.

Editor: Supriyadi

Palsukan Arang Shisha, Warga Jepara Ditangkap Bareskrim Polri

MuriaNewsCom, Jepara – Warga Jepara kembali dibikin heboh dengan kasus tindak pidana. Kali ini, kasus tersebut berkaitan dengan pemalsuan produk arang bahan baku shisha dengan merek dagang Cocobrico yang dilakukan seorang warga Jepara berinisial TH.

Penangkapan berawal dari aduan pemilik Cocobrico, Yvonne S Lima, yang berada di Kalimantan. Yvonne kerap menerima aduan dan komplain adanya kriket palsu yang beredar di Rusia dan Jerman.

Ironisnya, pelaku sudah melakukan aksi pemalsuan produk Cocobrico hampir enam tahun sejak 2012 di pabrik palsu miliknya di Jepara. Selama itu, setidaknya pelaku sudah berhasil mengirim 11 kontainer Cocobrico ke Rusia dan Jerman melalui kargo laut dengan harga Rp 10 ribu per kotak.

Padahal, harga asli perkotak mencapai Rp 25 ribu atau 125 persen dari harga jual yang palsu. Hal itu mengakibatkan pemilik Cocobrico merugi hingga triliunan rupiah.

Direktur Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya mengatakan penegakan hukum yang dilakukan untuk menjaga bisnis dengan merek dagang yang benar. Apalagi kerugian yang ditimbulkan begitu besar.

”Ini (penangkapan) memang menjaga suatu proses bisnis yang benar. Artinya tidak ada persaingan bisnis yang seperti ini yang kemudian merugikan,” katanya, Jumat (9/3/2018) seperti dikutip detik.com.

Ia menjelaskan, dari hasil penyelidikan, terdapat sejumlah perbedaan antara produk asli dan palsu. Untuk yang orisinal tidak ada asap dan bau serta menyala terus-menerus dan ada standardisasi. Sedangkan yang palsu berasap dan berbau serta tanpa ada standar yang baik.

Perbedaan mencolok lainnya, lanjutnya, terlihat dari bentuk paket kemasan Cocobrico. Paket orisinal dikemas dengan kotak yang lebih kecil dan berwarna terang. Sedangkan produk palsu dikemas dengan kotak lebih besar dan berwarna gelap

”Sepintas memang sama, tapi kalau diamati jauh berbeda,” tegasnya.

Bareskrim juga berhasil mengamankan 1 kontainer Cocobrico palsu di Rusia. Akibatnya, pemilik produk dan merek Cocobrico orisinal diduga menderita kerugian hingga Rp 100 miliar.

Atas perbuatannya, TH diganjar dengan koridor Undang-Undang tentang Merek Dagang Nomor 20 Tahun 2016 Pasal 100 ayat 2 mengenai pemalsuan merek seluruh atau sebagian dengan ancaman 4 tahun penjara atau denda Rp 2 miliar.

Editor: Supriyadi

Tak Netral di Pilkada, Sekda Jepara Tegur Camat Pecangaan

MuriaNewsCom, Jepara– Pemerintah Kabupaten Jepara telah menjatuhkan sanksi bagi Camat Pecangaan M.Tachsin yang diduga tak netral, karena menghadiri pertemuan yang dihadiri Bacagub Jateng, Sudirman Said. Hal itu sesuai dengan rekomendasi yang dilayangkan oleh Panwaskab Jepara.

“Iya sudah, kami melayangkan teguran secara tertulis kepada yang bersangkutan. Sifatnya bukan sanksi karena di (UU ASN) tidak ada sanksi ringan, adanya sedang dan berat,” kata Sholih, Sekretaris Daerah Jepara, Jumat (9/3/2018).

Disinggung mengenai sanksi bagi pegawai lain yang (Lima Pegawai RSUD Kartini), Sholih mengaku belum mendapatkan tembusannya. Meskipun demikian, pihaknya menilai apa yang dilakukan oleh anak buahnya itu merupakan sebuah ketidaksengajaan.

“Intinya semua kan tidak disengaja. Oleh karena itu kami melayangkan peringatan berupa teguran saja,” tambahnya.

Namun demikian, hal ini merupakan pembelajaran bagi pegawai negeri yang lain agar lebih berhati-hati. “Tentunya ini peringatan bagi seluruh pegawai pemerintah untuk lebih berhati-hati dan netral. Akan tetapi, kalau hal ini diulangi lagi, bisa kena sanksi yang lebih berat,” tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, Camat Pecangaan M. Takhsin sempat menjalani pemeriksaan oleh Panwaskab Jepara. Pengawas Pemilu Kabupaten Jepara telah melayangkan surat rekomendasi kepada Komisi ASN dan Sekda Jepara pada Jumat (9/2/2018) lalu.

Ketua Panwaskab Jepara, Arifin menyatakan dugaan ketidaknetralan ASN dilaporkan ke Panwaslu Jepara, usai digelar acara pertemuan PPD Jepara pada 28 Januari lalu.

Pertemuan yang digelar di rumah Petinggi Desa Gemulung, Pecangaan tersebut dihadiri oleh Sudirman Said (Calon Gubernur yang diusung Gerindra) dan Abdul Wachid (Ketua DPD Gerindra Jawa Tengah). Sedangkan dua ASN yang dilaporkan adalah M.Thaksin, Camat Pecangaan dan M Shodiq, Petinggi Desa Lebak, Pakis Aji, selaku Ketua Panitia, serta Santoso selaku tuan rumah.

Editor: Supriyadi

Pemkab Naikkan Dana Hibah Perawatan Tempat Ibadah di Jepara

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara meningkatkan dana hibah perawatan tempat ibadah di Bumi Kartini. Dari semula Rp 5,44 miliar tahun 2018 menjadi Rp 6,29 miliar.

Anggaran sebesar itu, kata Bupati Jepara Ahmad Marzuqi diperuntukan bagi 148 tempat ibadah. Sementara pada tahun sebelumnya, hanya 76 tempat ibadah yang menerima bantuan tersebut.

Dalam pidatonya, saat sosialisasi anggaran tersebut, bupati menyampaikan upaya itu merupakan upaya pemkab untuk memperhatikan tempat ibadah di Jepara. Meskipun demikian, ia mengakui jumlah yang diterima akan sangat kecil.

Ceriping gedhang pisang raja, tipis tapi rata, sithik edang dibagi rata (pantun Jawa). Ini jumlahnya meningkat dari tahun lalu yang hanya 76 unit tempat ibadah. Namun demikian perlu lebih meningkatkan rasa syukur meskipun jumlah yang diterima tidak signifikan,” tuturnya.

Kepala Bagian Kesejahteraan Masyarakat Setda Jepara Lukito Sudi Asmara mengungkapkan hal serupa. Diharapkan agar seluruh pengurus tempat ibadah yang telah masuk dalam daftar penerima bantuan, dapat mengerti mekanisme pencairan hibah tersebut. Sehingga, nantinya para penerima dapat membuat lapiran pertanggungjawaban secara tepat waktu.

Editor: Supriyadi

Awas Ketagihan, Ikan Asap Pesajen Jepara Ini Nikmatnya Minta Ampun

MuriaNewsCom, Jepara– Adakah yang tau ikan asap? Ya.. ikan asap adalah ikan laut yang diproses dengan cara pengasapan dengan kayu bakar. Biasanya pengasapan dilakukan hingga dua jam atau matang sampai ke seluruh bagian daging ikan.

Berbeda dengan ikan yang digoreng atau dibakar, hanya dengan asapnya saja ikan-ikan laut yang sudah dibersihkan dan diiris-iris menjadi beberapa bagian ini, tidak merusak vitamin dan protein yang terkandung di dalamnya. Karena itu banyak orang yang ketagihan.

Hal itulah yang membuat sebagian warga kelurahan Pesajen mencoba meraup rupiah lebih banyak. Kelurahan yang posisinya di tengah kota dan dekat dengan Pantai Kartini ini bahkan dikena sebagai pusat pengolahan ikan asap.

Jika anda berwisata ke Pantai Kartini atau jalan-jalan ke Pulau Panjang, sempatkan diri untuk membeli ikan asap ini agar tidak menyesal sudah berkunjung kota Kartini.

Hampir seluruh warga di Pesajen ini merupakan nelayan dan pembuat ikan asap. Sebagai usaha yang sudah turun temurun dari generasi sebelumnya. Kini dengan banyaknya jenis ikan yang diasap semakin banyak orang yang gemar makan ikan. Selain harganya yang murah, ikan ini juga banyak mengandung vitamin dan protein.

Salah seorang pedagang sedang menjajahkan berbagai macam jenis ikan asap di Pesajen, Jepara. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Norma (23), salah seorang penjual ikan asap di Pesajen ini mengaku pengolahan ikan asap itu berasal dari usaha neneknya yang turun ke ibunya hingga ke dirinya. “Saya tinggal meneruskan usaha keluarga saja. Pengasapan ikan ini sudah ada sejak zaman nenek saya”ungkap gadis manis itu.

Menurutnya ikan yang paling banyak menjadi idola pembeli adalah ikan tongkol. Selain harganya yang murah, ikan ini memiliki daging yang tebal dan memiliki rasa yang sangat khas.

“Kalau yang paling banyak dicari ikan tongkol, dan tengiri. Kalau ikan manyung biasanya langsung habis karena sudah dipesan oleh warung-warung makan,” katanya.

Norma menjelaskan biasanya sehari dia bisa membuat ikan asap hingga 50 kg bahkan hingga 80 kg. Harganya pun bervariasi, untuk ikan tongkol perpotong dia jual Rp 2.000 – Rp 3.000. Untuk ikan pari Rp 1.500- Rp 3.000, ikan tengiri Rp 3.000-Rp 3.500 tergantung besar kecilnya.

Sedangkan untuk ikan yang berjenis patikoli, kakap merah atau kakap putih biasanya dibiarkan utuh tanpa diiris.”Kalau ikan yang jenis kakap atau patikoli atau JT biasanya diasap utuh tanpa diiria-iris. Biasanya harganya mulai Rp 10.000- Rp 30.000 tergantung besar kecilnya ikan,” jelasnya.

Sejumlah warga sedang memproses mengasap ikan di Kelurahan Pesajen, Jepara. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Pedangan lain, Uswah (37), mengaku selain warga asli Jepara, kini mulai banyak pembeli dari luar daerah yang datang ke warungnya itu. “Biasanya hanya bakul, atau warga sekitar aja yang membeli kesini, tapi sekarang ini sudah banyak orang-orang dari luar daerah seperti Kudus, Demak, Semarang dan Solo juga pada mampir kesini,” ungkapnya.

Dirinya sangat senang pada akhirnya ikan asap asal Jepara ini mulai dikenal oleh berbagai daerah dan semakin diidolakan banyak orang. “Kami bersyukur kalau ikan asap ini semakin banyak dicari dan digemari oleh banyak orang,” tambahnya.

Dyah (36), pembeli asal Solo ini mengaku dirinya tidak pernah lupa untuk membawa ikan asap ini setiap datang ke Jepara. “Setiap cari barang (meubel) ke Jepara, saya selalu menyempatkan diri membeli ikan asap ini, karena rasanya yang khas dan harganya murah, disimpan lama di kulkas juga awet. Jadi bisa menjadi persediaan makanan di keluarga kami,”jelas ibu dua anak ini.

Editor: Supriyadi

Sakit Hati Hendak Ditinggal Nikah, Pria di Jepara Sebar Video Zinahnya ke Facebook

MuriaNewsCom, Jepara – Sakit hati karena hendak ditinggal menikah mantan pacar, Kasmudi (23) nekat sebar video perzinahannya dengan si mantan. Akibat tindakannya, ia terancam dibui karena melanggar undang undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Kasmudi yang warga Desa Karanganyar RT 01 RW 01 Kecamatan Welahan itu, mengaku sudah 9 tahun berpacaran dengan M (25). Namun tak dinyana, takdir memisahkan sepasang kekasih itu. M memilih pria lain, dan hendak menikahinya.

Merasa sakit hati dengan rencana pernikahan M, Kasmudi akhirnya kalap. Ia tak ingin pujaan hatinya menikah dengan pria lain, akhirnya Kasmudi mengunggah video persetubuhannya dengan M, di laman Facebook milik M.

Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adhi Nugroho mengatakan, Kasmudi bisa mengunggah video zinah itu ke laman FB M, karena tersangka tahu password dan nama penggunanya.

“Yang bersangkutan (M dan Kasmudi) pernah pacaran selama 9 tahun. Karena M ingin menikah dengan orang lain, Kasmudi sakit hati kemudian menjelek-jelekan korban dengan mengupload video berbau porno ke laman FB korban. Tersangka tahu nama pengguna dan passwordnya,” jelasnya.

Menurut kapolres, saat masih menjadi pasangan M dan Kasmudi pernah melakukan perzinahan. Kemudian, Kasmudi merekamnya menggunakan HP milik M. Setelahnya, Kasmudi kemudian menyalin file video tersebut ke HP miliknya sendiri.

Yudhi mengimbau, agar warga berhati-hati dan menjaga kerahasiaan akun media sosial virtual. Menurutnya, akun tersebut merupakan hal pribadi yang patut dirahasiakan.

“Kami imbau warga waspada, mohon kalau memiliki akun FB (Media sosial) password selalu diganti,” tuturnya.

Sementara itu, Kasmudi menyebut memang pernah merekam video perzinahannya dengan M. Dan pada saat itu, dilakukan sepengetahuan M.

“Pacar (mantan) saya ya tahu pas direkam, karena untuk pribadi,” ungkapnya.

Kasmudi sendiri ditangkap pada Senin (5/3/2018). Ia terancam kurungan badan selama maksimal enam tahun. Tersangka melanggar pasal 45 ayat (1) UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan atau pasal 29 UU RI No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

Editor: Supriyadi

Besok, PLN Jepara Pemadamkan Listrik Selama 7 Jam, Ini Jadwalnya

MuriaNewsCom, Jepara – PT PLN Rayon Jepara, Jumat (9/3/2018) besok, akan melakukan pemadaman listrik bergilir selama tujuh jam. Rencananya, pemadaman akan dilakukan di Desa Krapyak dan sekitarnya mulai pukul 09.00 WIB hingga 16.00 WIB.

Pemberitahuan tersebut tertera dalam surat resmi PLN Rayon Jepara dengan nomor 0048/STH.00.01/R-JPA/2018 yang ditandatangani langsung oleh Manager PT PLN (Persero), RM Dimas Adhi P kepada Kapala Kelurahan/Desa di Jepara, Selasa (6/3/2018).

Berdasarkan surat edaran tersebut, RM Dimas Adhi P menjelaskan, pemadaman listrik disebabkan adanya pemeliharaan jaringan dan potong pohon. Oleh karenanya memerlukan waktu sekitar tujuh jam.

“Pemadaman listrik ini meliputi wilayah Desa Krapyak dan sekitarnya. Wilayah JP4-119 sampai dengan JP4-153. Dari pukul 09.00- 16.00 WIB. Karena ada pemeliharaan jaringan dan pangkas pohon ini, kami mohon maaf atas ketidaknyaman pemadaman listrik tersebut” jelasnya.

Dimas pun meminta pihak pemerintah desa dapat memberitahukan pengumuman tersebut kepada seluruh warga Krapyak dan sekitarnya agar bersiap-siap saat pemadaman terjadi. Termasuk menyiapkan genset untuk keperluan industri ataupun meubel supaya tak terganggu.

“Kami berharap pemerintah desa dapat segera mengumumkan kepada warga semua, sehingga bagi industri2 meubel bisa menyiapkan gensetnya. Dan wargapun tidak terganggau aktivitasnya” terang surat itu.

Editor: Supriyadi

Menengok Pasar Rambutan Jepara, Tempatnya Wisatawan dan Tengkulak Berburu Buah Lokal

MuriaNewsCom, Jepara – Tak hanya buah durian, salah satu buah yang sangat melimpah di Kabupaten Jepara ini adalah rambutan. Bagi kalian yang sedang menikmati liburan di kota sejuta pantai ini, jangan lupa menyempatkan diri untuk mampir di pasar rambutan, tepatnya di area Pasar Baru Ngabul.

Setiap hari, pasar ini selalu ramai lalulalang antara petani rambutan, tengkulak dari berbagai kota hingga wisatawan yang ingin membeli oleh-oleh buah yang keluarnya berbarengan dengan buah durian ini.

Di sini, kita tidak hanya akan menemukan satu jenis saja buah rambutan seperti di kota-kota lainya. Beberapa jenis rambutan di antaranya yaitu rambutan lokal, rambutan tempel, rambutan binjai, rambutan rafia dan juga rambutan kelengkeng.

Untuk rambutan lokal Jepara, rasanya khas. Ada asam manis namun kurang ngelotok. Berbeda dengan rambutan tempel. Ia memiliki rasa asam manis, dagingnya tebal, dan juga ngelotok.

Sementara untuk rambutan binjai memiliki kulit lebih tebal, daging buahnya juga tebal, ngelotok dan rasanya manis.

Sedangkan rambutan yang paling memiliki rasa yang sangat manis adalah rambutan rafia dan rambutan kelengkeng. Banyak orang mengatakan dua jenis rambutan ini sama. Padahal bagi petani rambutan di Jepara, dua jenis rambutan ini berbeda.

Meski keduanya sama-sama sangat manis, namun untuk membedakanya rambutan jenis rafia ini kulitnya memiliki rambut sedikit panjang dan bentuknya agak oval. Sedangkan rambutan jenis kelengkeng ini memiliki bentuk yang bulat, dan kulitnya tipis, rambutnya pendek dan bagian tengahnya memiliki belahan.

Sejumlah pedagang rambutan menjajahkan barang dagangannya di Pasar Ngabul Jepara. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Kamsani (53), salah seorang petani rambutan mengaku, tahun ini musin rambutan di Jepara cukup panjang. Ia memiliki sekitar 20 pohon rambutan, dan mulai dipanen dari bulan November 2017 hingga Maret 2018 ini masih ada buah rambutan yang dipanen.

“Kali ini musimnya lumayan panjang, buahnya juga melimpah, jadi dalam satu pohon kami bisa memanennya hingga beberapa kali” ungkap laki-laki asal Ngabul ini.

Menurut dia, setiap selesai memetik rambutan, dia membawanya ke Pasar Ngabul yang baru untuk dijual kepada konsumen langsung ataupun tengkulak yang datang dari luar kota.

“Kalau tidak hujan, biasanya harganya agak murah, tapi kalo pagi hujan, harga rambutanya bisa naik,” katanya.

Kamsani mengatakan jika pagi turun hujan, hanya sedikit petani yang memetik dan menjualnya ke Pasar Ngabul, sehingga harganya bisa naik. “Karena sedikit yang petik, jadinya harganya bisa sampai Rp 12 ribu pergendel (sekitar 5kg). Tapi jika panas, semua petani memetik dan membawanya ke Ngabul jadinya harganya murah Rp 8- Rp 10 ribu pergendel” jelasnya.

Selain itu, H Imron, tengkulak yang memiliki kios di Pasar Ngabul ini mengaku dirinya mengumpulkan rambutan berjenis binjai dan kelengkeng untuk dikirim ke Jakarta dan Surabaya.

“Para petani langsung setor ke sini. Biasanya permintaan dari Jakarta itu yang jenis binjai dan kelengkeng. Kalau ke Surabaya rambutan tempel dan kelengkeng. Setelah kumpul banyak saya titipkan bus, disana sudah ada yang ambil,” katanya.

Sedangkan Darwati (40), tengkulak asal Wonosobo ini mengaku rambutan asal Jepara ini lebih mudah dijual di daerahnya. Pasalnya buahnya rata-rata manis dan daging buahnya tebal. “Selain itu ngelotok, jadi lebih mudah jualnya dari pada rambutan dari daerah lain” jelasnya.

Setiap dua hari sekali, Darwati dan suaminya datang ke Jepara untuk kulakan rambutan, “Minimal ya satu bak L300 ini harus penuh, sampainya di Wonosobo sudah ditunggu sama pedagang-pedagang buah lainya” kata ibu dua anak ini.

Tak hanya tengkulak, ani (28) wisatawan asal Demak beserta rombonganya ini juga tak mau ketinggalan untuk membeli rambutan sebagai oleh-oleh untuk keluarganya itu.

“Saya tidak menyangka teŕnyata ada pasar khusus rambutan di Jepara. Saat melintas saya pikir hanya pasar biasa, ternyata isinya pedagang rambutan semua. Harganya sangat murah dibandingkan di tempat saya, juga banyak pilihan jadinya saya sangat senang,” ungkapnya.

Editor: Supriyadi

Mengunjungi ‘Penjara’ yang Sempat Mematahkan Asa R.A Kartini

MuriaNewsCom, Jepara – Raden Ajeng (R.A) Kartini merupakan pejuang emansipasi perempuan asal Jepara. Namun, di balik luasnya pemikiran perempuan yang lahir di Mayong 21 April 1879 itu, ia pernah ‘terpenjara’ oleh adat Pingit.

Salah satu saksi bisu kerasnya adat Jawa terhadap Kartini, adalah ruang kamarnya. Terletak di sisi belakang kompleks pendapa Jepara. Kamar itu memiliki dimensi sekitar 6×5 meter, berlantai tegel warna gelap, dengan daun pintu dan jendela yang tinggi.

Sebelum memasukinya, pengunjung harus melalui sisi kiri pendapa yang kini dijadikan rumah tinggal Bupati Jepara Ahmad Marzuqi. ‎Nah, ketika telah sampai di ujung bangunan, ruang Pingit berada di sisi kanan, memasuki bangunan utama bagian belakang.

Di bagian selasar luar, terdapat deretan kursi-kursi yang dulu dijadikan kelas, untuk murid-murid Kartini.

Kamar Pingit Kartini sendiri kini dijadikan museum mini. Di dalamnya terdapat sebuah ranjang, meja lengkap dengan kursi, kacadan beberapa lukisan yang konon lahir dari tangan pejuang wanita itu. Namun sayang, tidak ada barang yang asli, semuanya replika.

Suasana di dalam kamar Pingit ketika ada kunjungan dari siswa-siswi SMA/SMK yang mengikuti pelatihan jurnalistik, pekan lalu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar, Kartini menyebut kamar pingitnya itu sebagai penjara. “…penjara saya adalah rumah besar dengan halaman yang luas di sekelilingnya. Tetapi dilingkari dengan dinding yang tinggi yang mengurung saya…,” seperti tertulis di buku Kartini Penyulut Api Nasionalisme.

Hadi Priyanto seorang peneliti R.A Kartini menyebut, kamar Pingit itu sempat menjadi saksi keputusasaan putri dari Bupati Sosroningrat itu. Bagaimana tidak, keinginannya bersekolah ke Hogore Lagere School(HBS) di Semarang kandas, bertubrukan dengan adat (kebiasaan) Jawa saat itu.

“Ketika itu Kartini berumur sekitar 12 tahun. Usianya masih sangat muda, ketika ia harus menjalani pingitan, ketika dirinya tengah gandrung menimba ilmu. Tak ayal hal itu membuatnya sempat patah arang. Di tahun pertama, ia lebih banyak meratap. Menangis,” tuturnya, saat berkesempatan menyambangi ruang Pingit Kartini, akhir pekan lalu.

Menurutnya, Kartini harus dipingit hingga usianya 23 tahun. Atau, ketika ada seorang pria yang meminangnya untuk menjadi istri.

Setelah tahun pertama di dalam kamar Pingit, luka hati Kartini berangsur-angsur sembuh. Ia kemudian ‘bertamasya’ melalui buku-buku yang dipasok ayahnya, melalui kotak bacaan mingguan atau leestrommed. Di sana ia mulai membaca tentang kisah-kisah kebijakan Jawa seperti Wulangreh karya Pakubuwana IV atau Centini. Selain itu kisah tentang Pandita Ramabai asal tanah India dan berbagai sumber bacaan lain, yang memengaruhi pola pikirnya.

“Di kamar Pingit ini, meubel-meubelnya mulai dari ranjang dan sebagainya merupakan tiruan. Yang asli kini berada di Museum Rembang. Hal itu karena setelah menikah dengan Bupati Rembang, seluruh barang dari Kartini dibawa serta,” jelas Hadi.

Namun demikian, seluruh bagian bangunan hampir belum ada yang berubah. Termasuk daun jendela krepyak setinggi kurang lebih dua meter. Pintu dan ruangan dalan juga tidak berubah.

Editor: Supriyadi

Hari Ini Panwaslu Jepara Bakal Preteli Atribut Kampanye yang Menyalahi Aturan

MuriaNewsCom, Jepara – Panwaslu Jepara hari ini dijadwalkan melakukan pencopotan sejumlah Alat Peraga Kampanye (APK), Kamis (1/3/2018).

“Penertiban APK berlaku untuk pemilu legislatif maupun pemilu presiden (Pileg dan Pilpres). Kita sudah memiliki dasar hukum yakni PKPU 4 tahun 2017 dan edaran KPU tentang kampanye,” ujarnya Ketua Panwaslu Jepara Arifin.

Menurut peraturan, tahapan pileg maupun pilpres dimulai pada September 2018. Sehingga, ketika pemasangan APK dilakukan sebelum jadwal, praktis menyalahi aturan yang telah dibuat.

Bahkan, lanjut Arifin, pemasangan APK yang tak sesuai jadwal bisa mengarah pada tindak pidana pemilu.

Dirinya menyebut, saat ini partai diperbolehkan melakukan sosialisasi pencalonan (pileg atau pilpres) secara internal. “Itupun harus melakukan pemberitahuan sebelumnya,” imbuh Arifin.

Dari pemetaan Panwaslu Jepara, APK yang hendak ditertibkan merata di seluruh Bumi Kartini. Macam atribut yang ada tidak hanya gambar calon namun juga bendera partai.

Untuk mengefektifkan penertiban, panwaslu akan menggandeng Satpol PP, Polres, Kodim, KPU dan Panwascam. “Harapannya satu hari ini bisa selesai dilakukan karena kami melibatkan petugas ditingkat kecamatan,” tutur dia.

Kemarin, Rabu (28/2/2018) Panwaslu Jepara pun telah melakukan koordinasi dengan pengurus partai terkait pencopotan APK.

Editor: Supriyadi

Pria Pembakar Istri di Jepara Divonis 12 Tahun Penjara

MuriaNewsCom, Jepara – Ahmad Zainal Arifin (27) pria yang tega membakar istrinya sendiri, divonis 12 tahun penjara. Vonis tersebut, dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jepara yang diketuai Johanis Hemamony, dan dua anggota Vemi Mustika serta Demi Hadiantoro, Rabu (28/2/2018).

“Dengan ini menjatuhkan pidana penjara selama 12 tahun. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan dikurangi seluruhnya dari pidana,” ujar Johanis, saat membacakan putusan di Ruang Sidang Cakra.

Dirinya mengatakan, salah satu hal yang memberatkan terdakwa adalah tak mengakui perbuatannya dan tak merasa bersalah serta berbelit-belit dalam memberikan keterangan.

Sedangkan hal yang meringankannya seperti, tak pernah dihukum, berperilaku sopan dan kematian dari istrinya tak sepenuhnya diakibatkan oleh terdakwa akan tetapi perawatan rumah sakit yang tak maksimal.

Setelah menjatuhkan vonis, terdakwa bersama penasihat hukumnya menyatakan pikir-pikir menyikapi putusan hakim.

Jaksa persidangan tersebut Yosef  juga mengambil langkah pikir-pikir. Namun demikian dirinya tak mempermasalahkan vonis yang diberikan hakim lebih rendah dari tuntutannya.

“Tuntutan kami 13 tahun penjara dari maksimal 15 tahun. Namun dengan putusan ini kami tak mempermasalahkannya. Kami mengambil sikap pikir-pikir, mereka juga (pikir-pikir). Setelah tempo tujuh hari, bila mereka mengajukan banding, kita juga akan banding,” ungkapnya setelah persidangan.

Peristiwa yang menjebloskan warga Desa Sowan Kidul RT 2 RW 3, Kecamatan Kedung itu terjadi pada Sabtu (16/9/2017) malam. Waktu itu Ahmad Zainal Arifin bertengkar dengan istrinya Mutmainah.

Diduga, pemicu pertengkaran tersebut diduga karena Mutmainah tak meloloskan permintaan Zainal yang meminta sejumlah uang. Karena kesal, Zainal lantas menyiramkan bahan bakar jenis pertalite ke tubuh istrinya dan membakarnya.

Akibat kejadian itu, Mutmainah pun harus mendapatkan perawatan di RSUD Kartini karena mengalami luka bakar. Setelah sempat pulang, keadaannya memburuk dan meninggal dunia pada 6 Oktober 2017.

Terdakwa sendiri mengelak telah membakar istrinya. Dalam pernyataannya di media beberapa saat lalu, ia mengaku ingin menyelamatkan istrinya yang mencoba bunuh diri.‎ Akan tetapi, ia juga sempat berkata, istrinya terbakar karena saat kejadian mati lampu, dan tersandung dan terkena cairan pertalite dan terbakar.

Editor: Supriyadi

5 Pegawai RSUD Kartini Jepara Terbukti Langgar Kode Etik ASN, Begini Tindakan Panwas

MuriaNewsCom, Jepara – Panwaslu Jepara melayangkan surat rekomendasi sanksi untuk lima PNS RSUD Kartini yang berfoto dengan Cagub Jateng Ganjar Pranowo. Berdasarkan penyidikan dengan penegakan hukum terpadu (Gakkumdu), mereka terbukti melanggar kode Etik pada UU No 5/2014 tentang Aparatur Sipil Negara.

“Kami layangkan nanti (hari ini), masing-masing kepada atasan mereka yakni Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Jepara dan Komisi Aparatur Sipil Negara (K ASN),” ucap Ketua Panwaslu Jepara Arifin, Rabu (28/1/2018) di ruang kantornya.

Dikatakannya kelima PNS itu sedianya diduga melanggar pasal pidana dan kode Etik, namun dalam penyidikan, unsur pidana dianggap tak memenuhi. Lima orang pegawai RSUD yang nekat berfoto dengan calon Gubernur itu adalah, Muh Ali Plt Dirut RSUD Kartini, Mujoko Kabag Umum, Tri Iriantiwi, Umrotun dan Ana Pristiwaningsih.

“Setelah dilakukan kajian dengan penegakan hukum terpadu (Gakkumdu) dan meminta pertimbangan ahli dari akademisi Pak Pujiono, unsur pidana tak terbukti. Namun demikian, kelimanya terbukti melanggar kode Etik sebagai ASN karena melanggar edaran dari K ASN,” jelasnya.

Baca Juga: 

Arifin mengatakan, setelah mengirimkan surat rekomendasi tugas dari Panwaslu usai. Setelahnya, putusan mengenai sanksi akan diambil oleh atasan pegawai negeri sipil dan Komisi ASN.

“Nanti yang menentukan sanksinya apa ya kedua pihak itu (K ASN dan Sekda). Pun sebelum putusan diambil akan dilakukan sidang terlebih dahulu, jadi nanti mereka (pelanggar) bisa mengungkapkan argumennya dulu. Kalau kita (Panwaslu) tugasnya selesai setelah memberikan rekomendasi,” terangnya.

Dirinya menyebut, peristiwa tersebut merupakan peringatan bagi PNS lain agar tak mengulangi kesalahan serupa. Arifin mengatakan, seorang pegawai negeri memang memiliki hak pilih, namun mereka tak diperbolehkan untuk ikut-ikutan dalam kegiatan politik atau menunjukan keberpihakan.

“Harapannya ini yang terakhir kali, peringatan bagi ASN lain di Jepara. Kasus yang melibatkan pegawai di Jepara sampai saat ini berjumlah tiga kasus dengan delapan orang yang diduga melakukan pelangaran,” urainya.

Diberitakan sebelumnya, lima orang yang berfoto dengan Cagub Jateng petahana melakukan aksinya pada Sabtu (17/2/2018). Mereka berdalih saat itu tak tahu, jikalau yang hari tersebut telah memasuki masa kampanye dan Ganjar Pranowo telah mengambil cuti.

Editor: Supriyadi