Petani dan Pejabat NTT Belajar Budi Daya Kedelai ke Grobogan

pertanian

Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto (kaca mata) sedang menyampaikan pembekalan budidaya kedelai pada rombongan dari NTT. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Pengembangan tanaman kedelai lokal yang dilakukan Dinas Pertanian TPH Grobogan dalam beberapa tahun terakhir ternyata mengundang minat petani di sejumlah daerah.

Tidak hanya daerah sekitar, ada pula petani dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang belum lama ini menyempatkan berguru soal kedelai di Grobogan.

“Petani NTT yang datang kesini berasal dari Kabupaten Sumba Tengah. Kedatangan mereka ini didampingi Kabid Kelembagaan dan Pengembangan Lahan Dinas Pertanian Sumba Tengah, Bapak Simor B Luji. Selain petani dan ketua kelompok tani, dalam rombongan itu juga terdapat kepala desa dan camat. Total rombongan berjumlah 30 orang,” ungkap Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto.

Menurut Edhie, kedatangan rombongan dari wilayah Indonesia timur itu bertujuan untuk belajar tentang budi daya kedelai lokal. Selain itu, mereka juga belajar cara pengolahan kedelai menjadi beberapa produk makanan dan minuman. Seperti susu kedelai, tempe, tahu, dan aneka makanan ringan dari bahan kedelai.

Rombongan ini melakukan studi banding selama dua hari yang ditempatkan di Rumah Kedelai Grobogan (RKG) di Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh. Selama berada di RKG, mereka mendapat bimbingan dan mempelajari budi daya kedelai lokal. Rombongan ini bisa melihat proses produksi tempa higienis dan beragam makanan ringan dari bahan kedelai.

“Selama berada di sini, kita bantu semaksimal mungkin apa yang dibutuhkan tamu kita dari NTT ini. Terus terang, saya merasa kaget sekaligus bangga ada rombongan petani dari jauh yang memilih Grobogan sebagai lokasi belajar budi daya kedelai. Harapan saya, apa yang didapat dari sini bisa secepatnya diaplikasikan di NTT khususnya di Sumba Tengah,” cetus Edhie.

Editor : Akrom Hazami

 

Ramadan, Petani di Gebog Kudus Lebih Memilih Panen Padi pada Malam Hari

Beberapa petani saat melakukan panen. Pada Ramadan ini, petani lebih memilih panen pada malam hari (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Beberapa petani saat melakukan panen. Pada Ramadan ini, petani lebih memilih panen pada malam hari (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Masa panen padi untuk musim tanam (MT) II di sebagian wilayah di Kabupaten Kudus tahun ini bertepatan dengan Ramadan. Untuk menyiasati hal itu, sebagian petani melakukan panen pada malam hari.

Seperti halnya di Dukuh Kalilopo, Desa Klumpit, Kecamatan Gebog. Sebagian petani yang pada hari biasa melakukan panen padi pada siang hari, namun, bertepatan dengan Ramadan ini, mereka panen padi pada malam hari.

Salah seorang warga setempat Saifuddin Nawawi (28) mengatakan, panen padi terpaksa dilakukan malam hari, sebab, para buruh panen berpuasa pada siang hari. “Kalau siang hari, pekerja yang panen puasa, makanya dilakukan pada malam hari saat tidak berpuasa,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, pekerja merupakan warga desa setempat. Mereka secara berkelompok memilih tetap berpuasa pada siang hari,dan memanen padi pada malam harinya. Selain alasan puasa, tenaga juga lebih terisi saat malam hari, lantaran sudah berbuka. Proses panen biasanya dimulai Salat Isya.”Kalau pun panen dimulai sore, itu paling ngarit (proses potong padi) saja. Biasanya dilakukan habis Ashar. barulah proses selanjutnya dilakukan pada malam harinya,” ungkapnya.

Ia katakana, panen pada malam hari memang untuk menghindari terik matahari, Apalagi di hamparan sawah yang berjarak beberapa kilometer dari rumah,membutuhkan tenaga yang lebih lagi. Saat panen, penerangan yang digunakan juga seadanya, yakni senter yang terpasang pada kepala untuk menerangi saat panen saja. Itu pun tidak semua pekerja melainkan hanya beberapa saja.

Sementara, untuk proses angkut hasil panen yang sudah terkumpul di sak, dibawa menggunakan sepeda motor. “Kalaupun hujan nggak masalah, mereka yang memilih untuk mengerjakan pada malam hari,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Tim Sterad Klaim Blora Penuhi Target Serapan Gabah

Kunjungan Tim Sergab Sterad ke Makodim 0721/Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

MuriaNewsCom, Blora – Kolonel Kav Syahrial ES, Pimpinan Tim Serapan Gabah (Sergab) Staf Teritorial Angkatan Darat (Sterad) mengaku, bahwa Kabupaten Blora berhasil memenuhi target 100 persen dalam penyerapan gabah. Itu disampaikan saat melakukan kunjungan kerja ke Makodim 0721/Blora, Selasa (21/6/2016).

“Blora berhasil memenuhi target 100 persen serapan gabah, namun secara umum di wilayah Jawa Tengah, sesuai hasil kunjungan kerja Tim Sergab, masih belum bisa memenuhi target yang diharapkan oleh pemerintah,” ujar Kolonel Kav Syahrial ES.

Ia menjelaskan, bahwa secara umum di Jawa Tegah, penyerapan gabah masih belum memuaskan. Begitu juga penanganan paska panen yang juga masih belum memuaskan.

Ia berharap, dari kekurangan yang ada bisa dijadikan sebagai acuan kegiatan ke depan. Ia menginginkan, ke depannya agar menjadi lebih baik dan sukses sesuai harapan, sesuai dengan harapan pemerintah, bahwa ketahanan pangan semakin meningkat.

Ia juga mengingatkan, bahwa bantuan alat dan mesin pertanian (Alsinta) dari pemerintah yang sudah diterima hendaknya harus betul-betul di sosialisasikan kepada para petani khususnya pekerja manual. “Agar di kemudian hari tidak ada kendala atau jadi bumerang bagi kita. Diharapkan, semuanya bisa lancar dan aman,” jelasnya.

Dalam kunjungannya di Kodim Blora, Tim Sterad  beserta rombongan disambut langsung oleh Komandan Kodim 0721/Blora Letkol Inf Susilo, diwakili Kasdim Mayor Kav Burhanuddin, beserta Pasiter Kapten Inf Surana di Ruang Kantor Persit Kodim Blora.

 

Editor : Kholistiono

Meski Sebagian Ditolak, Distanak Jepara Optimistis Gabah Petani Dapat Terserap Bulog Sesuai Target

Beberapa petani di Jepara sedang melakukan panen padi (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Beberapa petani di Jepara sedang melakukan panen padi (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

MuriaNewsCom, Jepara – Meskipun tak semua hasil panen petani di Kabupaten Jepara diterima oleh Badan Urusan Logistik (Bulog). Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Jepara tetap optimistis bisa mencapai target jumlah gabah yang mampu terserap oleh Bulog.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Jepara Wasiyanto menjelaskan, target gabah yang bisa diserap oleh Bulog tahun ini optimistis bisa terpenuhi. Sebab dari 43 ribu hektare lebih lahan yang ditanami padi pada musim tanam (MT-II) ini, baru dipanen sebanyak 25.249 hektare atau sebanya 56,5 persen.“Masih ada banyak yang belum dipanen untuk MT-II ini. Hampir separuh yang belum dipanen. Kami tetap optimis kalau target bisa dipenuhi,” ujar Wasiyanto, Senin (20/6/2016).

Menurutnya, meski begitu, mengingatkan jika penyerapan gabah dari petani di panen MT-II akan lebih sulit. Sebab dari siklus yang ada, gabah pada MT-II harganya lebih mahal dari harga pada MT-I.“Saat panen MT-II, tengkulak mau membeli gabah petani lebih tinggi. Sedangkan dari Bulog patokan harganya Rp 3.700 dan tidak bisa diubah, sebab berdasarkan Inpress,” terangnya.

Seperti diberitakan, sedikitnya 2,5 persen gabah dari petani di Jepara ditolak Badan Urusan Logistik (Bulog). Gabah yang ditolak tersebut dinilai tidak sesuai dengan standar kualitas yang diterapkan oleh pemerintah.

“Ada standar ketat yang ada dalam Inpres Nomor 5 Tahun 2015 tentang Penyerapan Gabah dan Beras Petani. Hal itu membuat tak semua hasil panen petani Jepara yang akan dijual ke Bulog bisa diterima,” ujar Kepala Perum Bulog Sub Divre II Pati, Ahmad Kholisun.

Editor : Kholistiono

2,5 Persen Gabah Petani di Jepara Ditolak Bulog, Ada Apa?

Petani di Jepara sedang melakukan panen padi. Saat ini 2,5 persen gabah petani ditolak Bulog (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Petani di Jepara sedang melakukan panen padi. Saat ini 2,5 persen gabah petani ditolak Bulog (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

MuriaNewsCom, Jepara – Sedikitnya 2,5 persen gabah dari petani di Jepara ditolak Badan Urusan Logistik (Bulog). Gabah yang ditolak tersebut dinilai tidak sesuai dengan standar kualitas yang diterapkan oleh pemerintah.

“Ada standar ketat yang ada dalam Inpres Nomor 5 Tahun 2015 tentang Penyerapan Gabah dan Beras Petani. Hal itu membuat tak semua hasil panen petani Jepara yang akan dijual ke Bulog bisa diterima,” ujar Kepala Perum Bulog Sub Divre II Pati, Ahmad Kholisun.

Menurutnya, sebanyak 2,5 persen dari total gabah yang sudah terserap, ditolak oleh Bulog, karena di bawah standar. Sedangkan sampai saat ini, sebanyak 11 ribu ton gabah dari petani Jepara yang berhasil diserap Bulog.

“Sebenarnya target penyerapan gabah dan beras di Jepara tahun ini sebanyak 13,5 ribu ton. Tetapi 2,5 persen dari yang sudah kami terima saat ini, terpaksa kami tolak karena ada di bawah standar sesuai Inpres yang menjadi acuan kami,” terangnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, standar gabah yang sudah ditetapkan untuk mendukung program ketahanan nasional itu disyaratkan beberapa hal. Gabah kering panen (GKP) dalam negeri harus dengan kualitas kadar air maksimum 25 persen dan kadar hampa/kotoran maksimum 10 persen. GKP dengan standar itu dibeli dengan harga Rp 3.700/kilogram di petani, atau Rp 3.750/kilogram di penggilingan.

Sedangkan harga pembelian gabah kering giling (GKG) dalam negeri dengan kualitas kadar air maksimum 14 persen dan kadar hampa/kotoran maksimum 3 persen adalah Rp 4.600/kilogram di penggilingan, atau Rp 4.650/kilogram di gudang Perum Bulog. Adapun harga pembelian beras dalam negeri dengan kualitas kadar air maksimum 14 persen, butir patah maksimum 20 persen, kadar menir maksimum 2 persen dan derajat sosoh minimum 95 persen adalah Rp 7.300/kilogram di gudang Perum Bulog.

Editor : Kholistiono

 

Petani Pati Diimbau Jual Hasil Penen Masa Tanam Kedua ke Bulog

Babinsa Desa Tlogomojo, Serda Darmanto ikut membantu petani panen padi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Babinsa Desa Tlogomojo, Serda Darmanto ikut membantu petani panen padi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Komandan Koramil 15/Batangan Kapten Inf Muhammad Sofi’i mengimbau kepada petani di Kecamatan Batangan, Pati untuk menjual hasil panennya kepada Bulog. Hal itu diharapkan agar petani bisa membantu pemerintah dalam menyokong ketahanan pangan nasional.

“Pada masa tanam kedua, sejumlah petani di Desa Tlogomojo, Batangan rencananya akan menyimpannya sebagai cadangan kebutuhan pada musim kemarau mendatang karena sawahnya bersifat tadah hujan, sehingga sulit ditanami. Dari luas sawah 52 hektare, 37 hektare sawah di antaranya belum dipanen,” kata Sofi’i kepada MuriaNewsCom, Selasa (14/6/2016).

Karena itu, ia memerintahkan kepada Babinsa desa setempat, Serda Darmanto untuk memantau, mencatat, dan menjalin kerja sama dengan petugas penyuluh lapangan (PPL) dan kelompok tani (Poktan). Bila ada petani yang akan menjual hasil panen, kata dia, maka diarahkan untuk diserap Bulog.

“Masih ada 37 hektare sawah di Desa Tlogomojo yang belum dipanen pada masa tanam kedua. Kalau ada yang mau jual, memang kami arahkan supaya diserap Bulog. Bulog sendiri representasi dari pemerintah. Serapan gabah ke Bulog diharapkan bisa menopang ketahanan pangan,” imbuhnya.

Menanggapi perintah tersebut, Darmanto menuturkan, saat ini sudah mulai melakukan pendataan kepada petani yang belum memanen padinya. “Kami berharap petani bisa bekerja sama untuk menjual hasil panennya kepada pemerintah, yaitu Bulog,” harapnya.

Editor : Akrom Hazami

Hadapi Kemarau, Petani Tlogomojo Pati Simpan Hasil Panen Padi

Serda Darmanto ikut membantu petani panen padi di Desa Tlogomojo, Batangan, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Serda Darmanto ikut membantu petani panen padi di Desa Tlogomojo, Batangan, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Hasil panen sebagian besar warga Desa Tlogomojo, Kecamatan Batangan, Kudus, akan disimpan di rumah untuk cadangan kebutuhan menghadapi musim kemarau mendatang. Sebab, karakter sawah di desa tersebut bersifat tadah hujan sehingga tidak bisa ditanami pada musim kemarau.

Edi Suparjo, petani setempat kepada MuriaNewsCom, Selasa (14/6/2016) mengatakan, hasil panen di sawah miliknya seluas satu hektare akan dibawa pulang. Kemudian akan dikeringkan dan disimpan di rumah. Gabah kering panen (GKP) sebanyak 10 ton tersebut rencananya akan dikonsumsi sendiri. Beberapa di antaranya dijual untuk kebutuhan hidup pada musim kemarau mendatang.

“Sawah di sini bersifat tadah hujan, bila musim kemarau tidak bisa menanam padi karena airnya sangat sulit. Jadi, kami memanfaatkan momen hasil panen pada masa tanam kedua ini untuk cadangan kebutuhan saat musim kemarau datang,” tutur Edi.

Sementara itu, Babinsa Desa Tlogomojo Serda Darmanto saat mendampingi panen mengaku gembira dengan hasil panen Edi pada masa tanam kedua. Pasalnya, satu hektare sawah biasanya menghasilkan tujuh sampai delapan ton gabah kering panen (GKP). Namun, Edi berhasil panen padi jenis Mikongga sebanyak 10 ton per hektare.

“Kami paham kondisi petani di sini yang membawa pulang hasil panennya ke rumah. Sebab, jangankan ditanami padi, palawija saja kesulitan di tanam di sini saat musim kemarau karena memang bersifat tadah hujan,” kata Darmanto.

Kendati demikian, ia mengaku apa yang dilakukan petani sudah sangat baik karena bisa melihat kondisi pertanian di daerahnya. Upaya menyimpan hasil panen di rumah dikatakan sebagai cara untuk membuat “lumbung padi” yang pada akhirnya bisa ikut menopang ketahanan pangan.

Editor : Akrom Hazami

KTNA Rembang Komitmen Bangun Kemitraan

Ketua KTNA Rembang Turyono (kanan) di standnya di Rembang Expo, Kamis (2/6/2016) (MuriaNewsCom)

Ketua KTNA Rembang Turyono (kanan) di standnya di Rembang Expo, Kamis (2/6/2016) (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Rembang berkomitmen membangun kemitraan antara petani dengan pemerintah maupun dengan swasta. Hal itu disampaikan ketua KTNA Rembang Turyono kepada MuriaNewsCom di stan Rembang Expo, Kamis (2/6/2016).

“Selama ini KTNA sudah menjalin kerja sama dengan Bulog Subdivre Pati dalam kaitannya dengan sergab (serapan gabah). Untuk Kabupaten Rembang, beras petani sudah terserap 72,83 persen dari target 16 ribu ton,” ujar Turyono yang juga petani padi ini.

Menyikapi sering anjloknya harga produk pertanian saat panen raya, ia mengatakan bahwa solusi KTNA adalah menjalin kerja sama dengan pihak lain dengan syarat tidak ada yang dirugikan. Ia mencontohkan misalnya petani bekerja sama dengan korporasi, kerja sama yang menguntungkan kedua belah pihak.

“Arahnya KTNA itu membangun kemitraan dengan pihak lain. Contohnya Tembakau dengan Sadhana. Mungkin cabai dengan Indofood atau yang lain,” ujar pria yang sudah menjabat ketua KTNA selama 6 tahun ini.

Selain itu, petani juga bisa bermitra dengan dinas-dinas terkait dalam pemerintahan. Lagi pula menurutnya, lembaga keuangan petani sudah ada sehingga petani dapat mengembangkan usaha taninya.

Turyono mendukung penuh pelaksanaan Rembang Expo. Ia juga bersyukur, dagangan anggota KTNA Rembang laris manis saat di expo. “Rembang Expo dapat dijadikan tempat pengukuran daya beli masyarakat, saya mendukung penuh kasih Pemkab Rembang atas terselenggaranya Rembang Expo ini,” tutupnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Dijual Miring jadi Alasan Produk Petani Rembang Laris Manis

ktna 2 e

Anggota KTNA Rembang Zulaikhatuz Zahroq melayani pembeli bawang merah di stand KTNA Rembang di Rembang Expo, Kamis (2/6/2016) (MuriaNewsCom/AchmadHasyim)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Produk pertanian yang dijual Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Rembang di Rembang Expo terhitung laris manis. Alasannya, harga produk tersebut lebih murah dari harga di pasaran.

Zulaikhatuz Zahroq anggota KTNA Rembang yang ditemui di stan, Kamis (2/6/2016) mengatakan harga barang yang dijual jauh di bawah harga pasaran. Ia mencontohkan bawang merah yang dijual di bawah harga pasar sehingga menjadi incaran masyarakat.

“Bawang merah setengah kilogram (kg) Rp 12 ribu. Kalau di pasar seperempat kg Rp 10 ribu. Cabai merah keriting 1,5 ons Rp 2 ribu. Harganya miring karena dari petani langsung,” ujar Zahroq.

Ia melanjutkan dalam sehari bawang merah terjual 70 kg. Cabai organik terjual 10 kg. Pepaya terjual 300 buah. 34 tundun pisang habis dalam 5 hari. Terasi terjual 5 kg dalam sehari. Madu dalam sehari terjual 10 botol, ada yang 750 ml ada yang 500 ml, dan beras sehari terjual 50 kg.

“Pepaya california dijual per biji mulai dari Rp lima ribu-Rp 25 ribu berdasarkan ukurannya. Pisang satu sisir Rp 15 ribu berisi sekitar 20 buah. Terasi seperempat kg Rp 10 ribu. Madu per botol 750 ml Rp 80 ribu, botol 500 ml Rp 65 ribu  Beras biasa Rp 55 ribu per 5 kg sedang organik Rp 65 ribu per 5 kg,” imbuh Zahroq.

Menurutnya, produk-produk yang dijual di atas adalah produk organik yaitu beras organik, cabai, pisang, dan pepaya. Untuk buah rata-rata organik.

Editor : Akrom Hazami

 

Produk Petani Rembang di Expo Ludes Terjual

Ketua KTNA Kabupaten Rembang, Turyono (kanan) di standnya di Rembang Expo, Kamis (2/6/2016) (MuriaNewsCom/AchmadHasyim)

Ketua KTNA Kabupaten Rembang, Turyono (kanan) di standnya di Rembang Expo, Kamis (2/6/2016) (MuriaNewsCom/AchmadHasyim)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Produk pertanian dan perikanan yang dijual Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Rembang di Rembang Expo ludes terjual. Bahkan, untuk memenuhi permintaan pembeli, dalam sehari, KTNA mendatangkan lagi stok produk sebanyak 2 sampai 3 kali.

Ketua KTNA Kabupaten Rembang Turyono yang ditemui di stan KTNA, Kamis (2/6/2016) menjelaskan dalam sehari, ia mendatangkan stok bawang merah sebanyak tiga kali dan cabai sebanyak dua kali. Ia mengatakan, bawang merah dan cabai adalah produk terlaris.

“Begitu stok datang, bawang merah dan cabai ludes terjual. Kemungkinan karena mendekati puasa dan Lebaran sehingga masyarakat memperbanyak stok bumbu dapurnya,” ujar Turyono yang juga petani gabah, pepaya, dan kangkung.

Ia menjelaskan bahwa produk yang dijual di stan Rembang Expo ini berasal dari petani anggota KTNA Rembang. Setiap kecamatan punya unggulan masing-masing.

“Kecamatan Kaliori itu beras dan bandeng. Kecamatan Sumber itu bawang merah, jeruk, cabai keriting. Bulu itu pisang sama cabai merah. Sulang gula dan siwalan. Rembang terasi, dan sekarang kami kehabisan stok terasi,” ujar Turyono.

Ia melanjutkan, Kecamatan Lasem punya produk unggulan beras. Pamotan madu, bawang merah, gula, tebu, dan beras hitam. Gunem ketela dan pepaya. Pancur pepaya dan jeruk. Sluke pepaya dan pisang. Kragan melon. Sarang sawo. Sedan kelapa degan, dan Sale adalah beras organik.

Editor : Akrom Hazami

 

Pemkab Pati Pacu Produktivitas Pertanian dengan Bantuan Alat Modern

 Bupati Pati Haryanto didampingi Kepala Dispertannak Pati Mokhtar Efendi mencoba mesin panen padi seusai penyerahan bantuan alat tersebut kepada kelompok tani. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati Haryanto didampingi Kepala Dispertannak Pati Mokhtar Efendi mencoba mesin panen padi seusai penyerahan bantuan alat tersebut kepada kelompok tani. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Pengembangan dan produktivitas pertanian di Pati saat ini terus dipacu. Sejumlah upaya dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati untuk mendukung peningkatan surplus komoditas pangan, terutama beras.

“Tahun lalu, surplus beras di Pati mencapai 200 ribu ton. Tahun ini, produksi harus lebih meningkat lagi karena Pati selama ini punya peran besar sebagai penyangga ketahanan pangan nasional,” ujar Bupati Pati Haryanto, Senin (30/5/2016).

Untuk mendukung produktivitas pertanian tersebut, Haryanto menyerahkan bantuan kepada perwakilan sejumlah Gapoktan dan kelompok tani. Bantuan tersebut, antara lain alat pascapanen padi, jagung, dan kedelai. Selain itu, Haryanto juga menyerahkan bantuan alat angkut motor roda tiga sebanyak dua unit yang khusus diberikan kepada kelompok tani desa mandiri benih.

Alat pascapanen padi yang diberikan berupa alat pemanen combine harvester kecil sebanyak 30 unit, combine harvester ukuran sedang sebanyak 16 unit, dan power tresher sebanyak 16 unit. Sementara itu, alat pascapanen jagung berupa corn combine harvester satu unit dan corn seller 22 unit. Adapun untuk alat pascapanen kedelai berupa alat perontok (power tresher) multiguna 21 unit.

“Bantuan alat pertanian diberikan pada kelompok untuk memaksimalkan hasil pertanian. Bantuan akan dievaluasi secara berkelanjutan. Jadi, harus dimanfaatkan sesuai peruntukannya. Jangan sampai bantuan alat pertanian malah dijual. Kita akan pantau penggunaannya,” katanya.

Menurutnya, jumlah alat bantuan dari APBN Tugas Pembantuan (TP) Provinsi Jateng tersebut jumlahnya masih terbatas, sehingga belum bisa merata ke semua Gapoktan dan kelompok tani. Untuk itu, bupati berharap kelompok penerima bisa membantu kelompok lain yang belum mendapatkan pemanfaatan alat tersebut.

“Kalau ada kelompok yang belum kebagian alat pertanian itu, maka bisa dipinjami. Jangan egosentris agar pemanfaatannya merata dan tidak menimbulkan kecemburuan,” paparnya.

Haryanto juga mengingatkan, kelompok penerima batuan agar bisa berhati-hati dalam mengelola dan memanfaatkan alat yang telah diterimanya. Pasalnya, alat batuan akan diverifikasi oleh Irjen Pertanian. “Kalau ada yang hilang maka akan jadi masalah. Jadi, tolong dimanfaatkan sesuai ketentuan,” pesannya.

Sementara itu, Kepala Dispertannak Mokhtar Efendi mengatakan, bantuan alat tersebut  merupakan bagian dari upaya strategis dalam meningkatkan produktivitas pertanian, menurunkan susut hasil, dan mempertahankan mutu produk pertanian. Penerapan teknologi penanganan pascapanen sudah menjadi kebutuhan untuk mendukung proses produksi padi, jagung, dan kedelai secara efektif dan efisien.

“Bantuan ini untuk mendukung pencapaian target swasembada berkelanjutan padi dan jagung, serta swasembada kedelai. Pemerintah Pusat menargetkan pencapaian itu pada 2017,” tandasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Pemasaran Produk Petani Rembang Harus Dibantu

penyuluh l e

Para penyuluh pertanian melakukan kegiatan di Kabupaten Rembang. (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Bupati Rembang Abdul Hafidz meminta kepada penyuluh pertanian untuk tidak hanya mendampingi petani dalam mengolah tanaman saja, namun, diharapkan juga berperan membantu petani dalam memasarkan produknya.

Menurut bupati, jika penyuluh bisa membantu memasarkan produk petani, hal itu katanya bisa disebut penyuluh andal yang bisa mensejahterakan rakyat. “Penyuluh saya harapkan tidak hanya sebagai pendamping saja.Karena, penyuluh juga memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani melalui produk-produk yang dipasarkan,” katanya.

Bupati juga berharap, penyuluh bisa memberikan pandangan terhadap jenis-jenis tanaman yang paling menguntungkan kepada petani, selain tanaman padi, jagung dan kedelai. Diakuinya produksi kedelai untuk wilayah Kabupaten Rembang masih belum terpenuhi.

Ia mencontohkan, masih banyak petani yang enggan menanam kedelai. Tanah di Rembang banyak yang tidak cocok ditanami kedelai. Hal itu membuat petani ragu untuk menanam kedelai karena takut merugi.

“Saya minta hal itu menjadi perhatian. PPL jangan hanya menumbuhkan, tetapi juga menilai hasil dan sampai pemasaran. Tanaman yang paling menguntungkan, harga jualnya tinggi misalnya,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala BKP dan P4K Rembang Dwi Purwanto mengatakan, peran aktif penyuluh dalam pelaksanaan pengawalan dan pendampingan usaha petani diharapkan meningkat.  Dan yang terpenting bisa menumbuhkembangkan kepedulian serta memecahkan permasalahan yang terjadi dalam usaha pertanian.

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Akhir Mei, Pendataan dan Validasi Petani Diharapkan Kelar

Kegiatan pembagian Kartu Tani di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kegiatan pembagian Kartu Tani di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Pendataan dan validasi jumlah petani yang ada di seluruh Jawa Tengah diharapkan bisa rampung akhir bulan Mei ini. Demikian disampaikan Kepala Biro Bina Produksi Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah Peni Rahayu saat sosialisasi Kartu Tani kepada para pengecer, dan distributor pupuk yang dilangsungkan di Gedung Riptaloka, Setda Grobogan, Jumat (20/5/2016).

Menurut Peni, salah satu faktor penyimpangan distribusi pupuk bersubsidi disebabkan belum adanya data kebutuhan dan penyaluran yang valid. Data tersebut mengacu pada Rencana Definitif kebutuhan kelompok (RDKK).

“RDKK ini sempat menjadi persoalan serius dalam penyaluran pupuk bersubsidi. Sebab, data yang ada pada RDKK banyak yang tidak nyambung ketika dicocokkan dengan KTP. Oleh sebab itu, kita lakukan validasi supaya data petani dalam RDKK itu akurat,” jelasnya.

Setelah data RDKK tepat maka akan segera diterbitkan kartu tani. Yang mana, fungsi kartu tersebut untuk penebusan pupuk bersubsidi.

Dijelaskan, sebelumnya petani harus membeli pupuk dengan uang di pengecer atau kios. Setelah memiliki kartu tani maka harus digunakan untuk menebusnya sesuai dengan kuota yang ada dalam data dari rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK).

”Kartu Tani baru dipakai untuk penebusan pupuk bersubsidi. Untuk mekanismenya kita bekerjasama dengan BRI,” jelas Peni.

Menurutnya, kartu tani yang dimiliki petani hanya bisa digesek atau dipakai pada pengecer yang terdaftar untuk mendapatkan pupuk. Sehingga, petani tidak bisa membeli pupuk lewat pengecer di tempat lain di luar alokasi yang sudah ditentukan.

Terkait dengan adanya kartu tani itulah pihaknya mengundang para distributor dan pengecer untuk memberikan pemahaman dengan pola baru penyaluran dan penebusan pupuk bersubsidi tersebut.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Pupuk Organik dari Lokal Jepara Menumpuk Tak Terbeli, Ini Penyebabnya

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Jepara Wasiyanto (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Jepara Wasiyanto (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Banyak pupuk organic yang dibuat oleh petani lokal Jepara. Namun, pupuk tersebut menumpuk karena tak terbeli. Kondisi itu terjadi dikarenakan pupuk organic Jepara tersebut belum terdaftar di Kementerian Pertanian.

Hal itu seperti yang dikatakan oleh Kepala Dinas Peternakan dan Pertanian Kabupaten Jepara, Wasiyanto. Menurut dia, pupuk organik yang dibuat oleh petani di Jepara, masih banyak yang belum bisa dibeli oleh Dinasnya.

”Itu karena pupuk organik yang diproduksi petani belum terdaftar di Kementrian Pertanian. Akibatnya, banyak pupuk organik yang diproduksi petani lokal tidak terpakai,” ujar Wasiyanto, Selasa (17/5/2016).

Lebih lanjut dia mengemukakan, saat ini hanya 20 persen pupuk organik yang diproduksi petani lokal memiliki kualitas bagus. Itu pun masih belum bisa dimanfaatkan karena belum terdaftar di Kementrian Pertanian.

”Bantuan pupuk organik untuk petani, bentuknya uang. Jadi yang belanja pupuk petani sendiri. Nah, pupuk yang dibeli ada kriteria-kriterianya, salah satunya harus terdaftar di Kementrian Pertanian,” katanya.

Dia menambahkan, agar pupuk organik yang diproduksi petani lokal dapat dimanfaatkan, pihaknya membantu proses uji kandungan pupuk ke laboratorium. Namun, untuk proses mendapatkan label dari Kementrian Pertanian, diserahkan pada masing-masing petani.

Editor: Supriyadi

 

Petani Jepara Minta Agar Pemkab Pilih Pupuk Organik Lokal

Salah satu warga menggunakan pupuk organik cair buatannya untuk menyiram bibit sayur sawi. (MuriaNewsCom)

Salah satu warga menggunakan pupuk organik cair buatannya untuk menyiram bibit sayur sawi. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Koordinator Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) Kabupaten Jepara, Siswanto menyampaikan, program pengadaan pupuk kompos yang diselenggarakan Dinas Peternakan dan Pertanian Jepara agar tidak memanfatkan pupuk  pabrik.

”Harusnya tidak memanfaatkan dari pupuk pabrikan. Sebab, banyak pupuk organik petanik yang menumpuk tidak terbeli,” kata Siswanto.

Menurut Siswanto, kelompok tani yang memproduksi pupuk organik harus diberi pembinaan secara intensif. Serta difasilitasi untuk pemasaran pupuk organik. Tidak hanya itu, pihaknya juga meminta agar pemerintah mendorong petani memanfaatkan bahan organik untuk dijadikan pupuk organik.

”Pemahaman kepada petani bahwa pertanian organik itu merupakan kebutuhan juga tidak kalah penting. Selama ini petani lebih suka membakar sampah sisa panen seperti jerami untuk dibakar,” katanya.

Kepala Dinas Peternakan dan Pertanian Kabupaten Jepara, Wasiyanto mengatakan, saat ini hanya 20 persen pupuk organik yang diproduksi petani lokal memiliki kualitas bagus. Itu pun masih belum bisa dimanfaatkan karena belum terdaftar di Kementrian Pertanian.

”Bantuan pupuk organik untuk petani, bentuknya uang. Jadi yang belanja pupuk petani sendiri. Nah, pupuk yang dibeli ada kriteria-kriterianya, salah satunya harus terdaftar di Kementrian Pertanian,” katanya.

Editor: Supriyadi

Tak Mau Target Luput, Hama Padi Harus Segera Diberantas

grobogan pertanian (e)

Bupati Grobogan Sri Sumarni menyerahkan bantuan peralatan untuk membasmi tikus pada petani, Desa Karangsari, Kecamatan Brati, Sabtu (14/5/2016). MuriaNewsCom (Dani Agus)

 

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Target yang cukup tinggi dibebankan pemerintah pada Kabupaten Grobogan, dalam upaya mendukung swasembada pangan. Khususnya untuk komoditas padi, jagung, dan kedelai (pajale).

Hal itu disampaikan Bupati Grobogan Sri Sumarni saat mencanangkan gerakan masal pemberantasan hama tikus, yang dipusatkan di Desa Karangsari, Kecamatan Brati, Sabtu (14/5/2016).

”Seperti kita ketahui, Kabupaten Grobogan selama ini merupakan salah satu lumbung pangan nasional. Oleh sebab itu, kita punya tanggung jawab besar untuk meningkatkan upaya ketahanan pangan pemerintah,” ungkapnya.

Dijelaskannya, untuk tahun 2016, target produksi pajale yang dibebankan cukup tinggi. Yakni produksi padi sebanyak 794.317 ton, jagung 637.069 ton, dan kedelai 42.379 ton.

Salah satu upaya untuk bisa memenuhi target tersebut adalah melakukan penanggulangan secepat mungkin jika ada hama atau penyakit yang menyerang tanaman. Dengan langkah cepat maka serangan hama atau penyakit bisa ditekan, sehingga tidak meluas ke areal lainnya.

”Kepala Dinas Pertanian sudah saya minta untuk bergerak cepat jika ada gangguan hama atau serangan penyakit. Kepada petani saya juga minta cepat melaporkan pada petugas atau perangkat desa jika ada serangan hama dan penyakit diwilayahnya,” katanya.

Hadir dalam kesempatan itu, Dandim 0717 Purwodadi Letkol Jan Piter Gurning, Asisten II Pemkab Grobogan Dasuki. Terlihat pula Ketua DPRD Grobogan Agus Siswanto, serta Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Edhi Sudaryanto.

Editor: Merie

 

 

Bupati Grobogan Ini Asyik Berburu di Kampung Halamannya

grobogan tikus (e)

Bupati Grobogan Sri Sumarni melakukan gropyokan tikus bersama petani di kampung halamannya, Desa Karangsari, Kecamatan Brati, Sabtu (14/5/2016). MuriaNewsCom (Dani Agus)

 

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Ada satu kegiatan yang dilakukan Bupati Grobogan Sri Sumarni, saat pulang ke kampung halamannya pada Sabtu (14/5/2016).

Bupati sendiri memanfaatkan akhir pekan di kampung halamannya, di Desa Karangsari, Kecamatan Brati. Di sana, dia mencanangkan gerakan masal pemberantasan hama tikus.

Kegiatan di desa kelahiran Sri Sumarni itu, dilakukan untuk mengantisipasi adanya serangan hama tikus yang menyerang areal pertanian. Tidak hanya mencanangkan saja, dalam kesempatan itu, Sri juga ikut berbaur bersama puluhan petani yang tengah melangsungkan gropyokan tikus.

Untuk membuktikan bahwa tikus harus dilawan, Sri didampingi Kepala Dipertan TPH Grobogan Edhie Sudaryanto, langsung turun ke sawah melakukan pemberantasan hewan pengerat dengan alat khusus, yang mengeluarkan asap belerang (emposan).

”Hama tikus memang bisa membuat produksi pertanian terganggu yang dampaknya membikin petani rugi. Untuk itu perlu dilakukan upaya agar serangan tikus tidak lagi mengganggu tanaman petani,” tegas Sri.

Hadir dalam kesempatan itu, Dandim 0717 Purwodadi Letkol Jan Piter Gurning, Asisten II Pemkab Grobogan Dasuki. Terlihat pula Ketua DPRD Grobogan Agus Siswanto.

Menurut Sri, pengendalian dan pemberantasan hama tikus, tidak bisa dilakukan secara perorangan. Tetapi, perlu dilakukan secara bersama-sama dengan memilih waktu yang tepat. Yakni di awal tanam atau akhir musim menjelang masa panen.

”Gropyokan seperti ini harus sering dilakukan. Agar hasilnya maksimal, maka pelaksanaannya harus dilakukan secara bersama-sama. Kalau beberapa petani saja yang nggropyok, hanya akan dapat sedikit,” kata mantan Ketua DPRD Grobogan itu.

Editor: Merie

Ini Trobosan Baru Dinas Pertanian Kudus Berantas Tikus di Lahan Pertanian

Plt Kepala dinas Pertanian,Perikanan dan Kehutanan, Edy Suprayitno. (MuriaNewsCom)

Plt Kepala dinas Pertanian,Perikanan dan Kehutanan, Edy Suprayitno. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pemberantasan tikus bagi para petani memang tidak akan ada habisnya. Untuk itu, guna membantu petani, Pemkab Kudus menggagas adanya pagar yang tidak dapat dilalui tikus sawah.

Plt Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan, Edy Suprayitno mengatakan, tahun ini pihaknya akan mengupayakan pembuatan pagar sawah. Tujuannya membuat tikus tidak mampu memanjat ke areal persawahan.

”Kita akan usulkan pada perubahan nanti. Jadi, pagar tersebut memang bertujuan untuk membuat tikus tidak bisa memasuki area persawahan,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, hal itu merupakan terobosan baru dinas yang ditujukan untuk petani. Sebelumnya cara tersebut belum dilakukan, lantaran pengendalian hama tikus difokuskan menggunakan gropyokan, racun tikus, hingga menggunakan setrum listrik.

Model penggunaan nanti, menggunakan pagar seng. Pagar Seng akan ditanam dengan jarak yang agak dalam. Selain itu, pagar juga agak tinggi sehingga tikus tak mampu memanjat.

”Kami akan menjadikan beberapa daerah sasaran. Beberapa petak sawah untuk diterapkan. Sebab untuk membuatnya jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” ujarnya.

Nantinya, kata dia, jika memang dianggap efektif akan dilakukan dengan secara rutin. Sehingga akan mampu membuat hasil pertanian berlimpah dan petani juga diuntungkan.

Hanya, pemberantasan hama tikus semacam itu terdapat kelemahan. Seperti aliran air yang terganggu. Sehingga di sawah yang dipagar seng harus dibutakan pintu air.

”Cara ini sedang kami kaji. Termasuk kelemahan dan kelebihannya,” tambahnya.

Editor: Supriyadi

 

Petani di Kudus Diminta Tak Lengah Hadapi Hama Tikus

Imbauan waspada listrik terpampang jelas di salah satu sawah yang dialiri listrik untuk membunuh tikus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Imbauan waspada listrik terpampang jelas di salah satu sawah yang dialiri listrik untuk membunuh tikus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Meski menjadi hama tahunan, namun hama tikus pada tahun ini nampaknya tidak seganas tahun-tahun lalu. Terlihat selama masa tanam (MT) I dan memasuki MT II ini gangguan akibat tikus cenderung sedikit.

Plt Kepala dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan, Edy Suprayitno mengatakan, saat ini laporan kerusakan akibat gangguan tikus masih belum terlihat. Meski demikian diharapkan petani tidak lengah untuk membiarkannya.

”Kalau kerusakan akibat gangguan tikus masih belum ada. Namun mengenai gangguan tikus, merupakan hama yang menyangkut secara tahunan,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, hama tikus memang menjadi hantu bagi petani selama masa tanam. Bukan hanya dengan cara memakan hasil tanaman, melainkan juga dengan merusak tanaman itu sendiri.

Selain itu, tikus juga cenderung merusak saluran air. Kondisi itu membuat petani makin resah lantaran air yang digunakan sebagai irigasi persawahan harus habis terkuras.

Berkurangnya hama tikus selama MT I dan memasuki MT II lantaran tikus kekurangan tempat. Sebab lokasi hunian dibanjiri dengan air, sehingga tikus lebih memilih ke tanggul atau daerah tinggi.

”Makanya pada masa banyak air seperti ini digunakan untuk Gropyokan. Sebab tikus mudah ditemukan di tanggul tanggul,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Petani Pati Sulap Pupuk dan Pakan Ternak Jadi Makanan Lezat

Jpeg

Ita menunjukkan stik Azolla hasil olahan pangan dari tanaman Azolla yang ia taruh di ember. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Pegiat pertanian asal Desa Muktiharjo, Kecamatan Margorejo, Endah Tri Yusnita berhasil menyulap tanaman paku air Azolla microphylla yang selama ini dipakai untuk pupuk dan pakan ternak, menjadi makanan lezat.

Ia mengatakan, tanaman Azolla dicuci bersih, kemudian diblender bersama gula. Setelah itu, Azolla yang sudah diblender dicampur dengan bahan-bahan utama seperti tepung terigu, keju, garam, dan gula.

“Semua bahan diaduk-aduk hingga benar-benar menyatu. Selanjutnya, bahan dipotong dan dimasukkan dalam mesin pembuat mie. Kalau sudah berbentuk potongan kecil-kecil memanjang, goreng dan tiriskan,” ujar Ita, Rabu (11/5/2016).

Tanaman Azolla didapatkan Ita dari sejumlah petani yang memiliki Azolla. Di rumahnya, Ita menyimpan Azolla dalam ember yang dijadikan indukan. Sebab, tanaman ini mudah berkembang biak.

“Azolla tumbuh subur bila airnya diberi cucian ikan atau cucian beras. Selama ini, tanaman itu dimanfaatkan petani sebagai pupuk alami untuk berbagai tanaman. Azolla juga dimanfaatkan untuk pakan ternak. Namun, saya mencoba untuk membuatnya sebagai olahan pangan stik,” imbuhnya.

Sayangnya, kata dia, masyarakat masih belum tahu bila Azolla yang hidup subur di areal persawahan itu bisa dimanfaatkan sebagai olahan pangan yang kaya akan gizi. “Saya sendiri bingung mencari nama lain Azolla dalam bahasa Jawa. Masyarakat kurang akrab dengan manfaat Azolla,” tandasnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : Pertama di Dunia! Petani Pati Ciptakan Olahan Pangan dari Azolla 

Pertama di Dunia! Petani Pati Ciptakan Olahan Pangan dari Azolla

Ita menunjukkan stik yang dibuat dari tanaman paku air Azolla microphylla. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ita menunjukkan stik yang dibuat dari tanaman paku air Azolla microphylla. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Di saat sejumlah peneliti di berbagai negara melakukan penelitian tanaman paku air Azolla microphylla untuk dijadikan sumber pangan alternatif, petani di Pati justru sudah memanfaatkannya sebagai olahan pangan.

Di Perumahan Kusuma Indah Gang IV Nomor 19, Desa Muktiharjo, Kecamatan Margorejo, misalnya. Seorang ibu bernama Endah Tri Yusnita yang berkecimpung di dunia pertanian berhasil menyulap Azolla menjadi stik yang enak dan renyah.

Ide itu berawal dari pertemuan teman-temannya di komunitas organik. Awalnya, Ita hanya mengetahui bila Azolla selama ini dimanfaatkan sebagai pupuk alami dan pakan ternak, karena kaya akan protein dan mampu mengikat nitrogen dari udara bebas.

“Ada yang nyeletuk, bagaimana kalau Azolla dijadikan olahan pangan. Dari situ, saya bereksperimen membuatnya menjadi olahan stik. Ternyata hasilnya bagus, rasanya enak, dan tentunya kaya akan protein,” ujar Ita kepada MuriaNewsCom, Rabu (11/5/2016).

Produk stik Azolla pun dijual dengan harga Rp 12 ribu per 200 gram. Dibuat dengan bahan keju, stik Azolla buatan Ita yang memiliki cita rasa asin, gurih, dan manis kian digemari pelanggan.

“Selain dijual di rumah, saya juga menjual di Pasar Pragola dan sejumlah toko. Semua bahan stik Azolla bebas bahan kimia. Setahu saya, belum ada yang membuat stik dari Azolla, bahkan di dunia sekalipun,” tukasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Alamak, Program Pertanian Pemkab Jepara Dinilai Tak Efektif

Sejumlah petani melakukan audiensi dengan anggota DPRD Jepara, (10/5/2016). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Sejumlah petani melakukan audiensi dengan anggota DPRD Jepara, (10/5/2016). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Program pertanian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara melalui Dinas Pertanian dan Peternakan(Distanak) Jepara dinilai tak efektif, bahkan gagal. Penilaian itu diberikan oleh sejumlah kelompok tani di Jepara ketika melakukan audiensi di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jepara.

Koordinator Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) Jepara, Siswanto menerangkan, beberapa program seperti SRI, SLPHT, SLPTT tidak efektif. Itu karena ada pemangkasan jumlah pertemuan. Sehingga anggota kelompok tani belum cukup materi yang seharusnya diketahui. Tujuan program untuk peningkatan beras juga tidak tercapai.

”Misalnya, sosialisasi di lapangan hanya dilakukan empat kali. Padahal seharusnya paling tidak ada 12 pertemuan. Selain itu, anggaran untuk program tersebut juga tidak transparan,” ujar Siswanto, Selasa (10/5/2016).

Menurut dia, tidak efektifnya program juga disebabkan rendahnya sosialisasi untuk memahamkan petani terkait program pengembangan pertanian. Misalnya, di sejumlah desa, bantuan pupuk organik tidak terpakai.

”Hal itu diperparah dengan tidak sinkronnya program dari dinas dengan yang direncanakan petani. Apalagi petani jarang dilibatkan dalam Musrenbangdes. Sehingga usulan petani tak pernah nyambung,” ungkapnya.

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jepara Wasiyanto mengakui jika PPL yang ada belum maksimal. Dinasnya memiliki 72 PPL PNS, dan non PNS (PHL) sebanyak 50.

”Jumlah tersebut dikurangi menjadi kordinator, mantri dan ada di kabupaten,” kata dia.

Jumlah tersebut kurang karena satu PPL menangani dua hingga tiga desa. Sedangkan dalam satu desa ada 4-16 kelompok tani. Sehingga intensitas pertemuan banyak. Selain itu, PPL juga melakukan kegiatan administratif.

Editor: Supriyadi

Minim Tenaga PHP, Petani Jepara Wadul ke Dewan

Puluhan petani Jepara saat menggelar audiensi di Kantor DPRD Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Puluhan petani Jepara saat menggelar audiensi di Kantor DPRD Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Petani yang ada di Kabupaten Jepara mengeluhkan minimnya tenaga pengamat hama dan penyakit (PHP). Pasalnya, dengan minimnya PHP tersebut, hasil panen yang dilakukan para petani menjadi tidak maksimal lantaran penanganan terhadap hama menjadi lamban.

Keluhan tersebut disampaikan para petani di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jepara, saat melakukan audiensi, Selasa (10/5/2016). Audiensi ini juga diikuti oleh Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jepara.

Koordinator Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) Jepara, Siswanto mengatakan, di Kabupaten Jepara hanya ada empat PHP. Jumlah tersebut dinilai sangat kurang dengan banyaknya petani di Jepara.

”Keberadaan PHP dinilai sangat penting bagi petani. Sebab, pengetahuan petani tentang hama sangat minim. Dengan adanya PHP, harapan petani dapat mengantisipasi dan mengatasi serangan hama,” ujar Siswanto.

Menurut dia, kelemahan dengan minimnya jumlah PHP adalah masa mengatasi hama menunggu kalau ada laporan, akibatnya tanaman sudah terlanjut habas. Semestinya, Siswato menambahkan, sebelum hama menyerang tanaman, petani diberi pemahaman agar dapat mencegahnya serangan hama sejak dini. Sehingga, hasil panen petani dapat maksimal.

”Hama itu datangnya musiman. Musim tanam pertama kemarin banyak yang diserang hama Sundep,” kata Siswanto.

Dia menambahkan, pada musim tanam kemarin, hama Sundep menyerang 50 hektar area pertanian di Kecamatan Welahan. Hama yang sama, akan kembali menyerang pada 56 hari kemudian. Artinya, sudah memasuki musim tanam ke dua.

”Idealnya, untuk mengatasi masalah hama harus ada petugas tambahan. Musim tanam kemarin setiap hektar hanya bisa panen 40 persen,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Dinas Pertanian Kudus Sumringah, Hasil Panen MT I Sangat Memuaskan

Seorang petani sedang memikul padi hasil panen ke bahu jalan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Seorang petani sedang memikul padi hasil panen ke bahu jalan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Hasil panen pada Masa Tanam (MT) I tahun ini terbilang sangat memuaskan. Hal itu terlihat dari jumlah panen yang melampaui target yang diterapkan.

Plt Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Edy Suprayitno mengatakan, pada MT I, hasil panen memang lebih tinggi dari target, yakni mencapai 99.861 Gabah Kering Panen (GKP). Padahal target yang dipatok dinas kala itu hanya 77.233 ton GKP.

”Hasil itu juga dipengaruhi produktifitas padi tiap hektarenya yang melebihi target. Semula target kami per hektare hanya 6,86 ton tapi realisasi 8,05 ton per hektare (117,37%),” katanya.

Tak hanya itu, pada MT I ini, target lahan yang semula hanya 17.000 hektare juga jauh lebih banyak. Bahkan mencapai 19.144 hektare atau meningkat 112,61%. Begitu pula dengan luas panen yang memiliki target target 11.261 ha, dan realisasi 12.405 ha(110,16%).

”Padahal, MT I itu dimulai pada bulan Oktober 2015 hingga Maret 2016. Hanya, ada beberapa daerah ada yang baru panen di bulan April lantaran tanam yang tidak serentak,” ungkapnya .

Editor: Supriyadi

Dinas Pertanian Kudus Yakin Target 169 Ribu Ton Padi Bakal Tercapai

 

Sejumlah petani melakukan panen padi, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sejumlah petani melakukan panen padi, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Kudus yakin target panen padi selama 2016, yakni sejumlah 169 ribu ton bisa tercapai. Ini lantaran kondisi tanaman di tahun ini cenderung lebih baik dibanding tahun lalu.

Hal itu disampaikan Plt kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Edy Suprayitno. Menurutnya, panen padi tahun ini tergolong baik, terlihat dari panen di MT I yang hasilnya memuaskan hingga mencapai 99,8 ribu ton . Hal serupa juga diyakini akan tercapai pada MT II dan III di tahun ini.

”Kami yakin hingga akhir tahun nanti bakal mencapai target yang diberikan, yakni sejumlah 169 ribu ton,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Ia menyebutkan, target tiap tahun memang selalu naik. Seperti halnya di 2015 lalu, Kudus ditargetkan sekitar 159 ribu ton. Sementara, di tahun 2014 sebelumnya dinas hanya ditarget 127 ribu ton. ”Jadi wajar kalau tahun ini kami ditarget lebih banyak yakni 169 ribu ton,” ungkapnya.

Apalagi, di tahun 2016, Kudus  memiliki luasan tanam sebesar 26.559 hektare. Jumlah tersebut meliputi dari MT I, MT II, dan MT III. Puluhan ribu hektare tersebut juga tersebar di sembilan kecamatan di Kudus.

Dengan luasan tersebut, kata dia, paling banyak menanam padi pada MT I dan MT III. Hal itu dibuktikan memasuki pada MT II ini, petani yang menanam padi hanyalah seluas 14 ribuan hektare saja. Dari sisi penyakit tanaman, dinilai tidak terlalu parah. Hal itu terlihat dari tidak adanya keluhan yang tinggi oleh petani dan penyuluh pertanian. Dengan demikian maka dinilai target akan tercapai.

Editor: Supriyadi