Jeruk Siam Blora Akan Diikutkan di Festival Jeruk di Malang

jeruk

Panen jeruk siam di Desa Tanggel, Kecamatan Randublatung, Blora. (Humas Pemkab Blora)

 

MuriaNewsCom, Blora – Desa Tanggel, Kecamatan Randublatung, Blora mempunyai buah potensial. Yaitu jeruk siam.

Hasil petani itu akan diikutkan dalam kegiatan di Malang, Jawa Timur, pada 4 Agustus 2016. Diharapkan, keberadaan jeruk siam di Malang akan menambah varietas produk sejenis, secara nasional.

Kepala Dintanbunakikan Kabupaten Blora Reni Miharti juga menyampaikan bahwa Desa Tanggel memiliki potensi jeruk siam yang luar biasa, yang mana hal ini harus mendapatkan perhatian dan dukungan dari Pemerintah Daerah dan Kementerian Pertanian.

“Pada tanggal 4 Agustus besok, jeruk siam dari Desa Tanggel akan kita ikutkan pada Festival Jeruk di Malang. Kami berharap, potensi ini mendapat perhatian dan dukungan dari Kementerian Pertanian, sehingga ke depan jeruk siam akan lebih dikenal luas tentunya dengan kualitas yang lebih baik”, ujarnya.

Selama ini, para petani mendapatkan bibit jeruk siam dari Purworejo dengan harga Rp. 5.000 per batang dan dapat dipanen setelah 4 tahun.

Sebelumnya, Bupati Blora Djoko Nugroho melakukan panen raya jeruk siam di Desa Tanggel. Pemerintah Kabupaten Blora akan memberikan dukungan penuh kepada para petani jeruk siam di Desa Tanggel.

“Nanti akan kita buatkan cekdam, infrastruktur jalan juga akan kita perbaiki. Selain itu, juga akan kita berikan pelatihan kepada para petani jeruk se-Kabupaten Blora”, ujarnya.

Camat Randublatung, Djoko Budiono bahwa di desa itu terdapat sekitar 100 Ha kebun jeruk siam yang dikelola oleh 150 petani. “Perawatan jeruk siam tergolong cukup sulit, karena mudah terserang virus dan harus rajin diperiksa,” kata Budiono.

Salah satu pemilik kebun jeruk, Samudi menuturkan bahwa jeruk siam di Desa Tanggel pernah mengalami masa jaya pada akhir 90-an. Namun pada tahun 2002, wabah virus melanda dan merusak semua tanaman jeruk di desa itu. Sejak wabah itu, Samudi, yang kini memiliki kebun seluas 2 Ha, kembali memulai tanam jeruk siam pada tahun 2007.

Normalnya, jeruk siam dipanen 1 kali dalam 1 tahun, dengan volume 25-30 ton setiap 1 Ha-nya. Namun tahun ini banyak petani yang mengalami gagal panen karena faktor cuaca.

“Tahun ini perkiraan kita hanya panen sekitar 8 kuintal, padahal tahun lalu panen bisa mencapai 30 ton. 1 bulan setelah berbunga, tanaman jeruk kekurangan air karena tidak ada hujan. Setelah itu hujan deras turun tanpa henti selama berbulan-bulan”, keluh Samudi.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Petani di Pati Manfaatkan La Nina untuk Menanam Padi

 Para petani di Desa Ngawen, Margorejo mulai menanam padi pada masa tanam ketiga yang mestinya ditanami palawija. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Para petani di Desa Ngawen, Margorejo mulai menanam padi pada masa tanam ketiga yang mestinya ditanami palawija. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pada masa tanam (MT) ketiga, petani di Pati biasanya menanam tanaman palawija seperti kedelai, jagung, kacang hijau, dan sebagainya. Karena, musim kemarau tiba ketika memasuki MT ketiga sehingga tanaman yang ditanam harus palawija.

Namun, petani di Pati saat ini kembali menanam padi seperti pada masa tanam pertama dan kedua, karena ada La Nina. La Nina sendiri merupakan gangguan iklim akibat suhu permukaan laut Samudera Pasifik menurun.

Akibatnya, hujan turun lebih banyak terjadi. Salah satunya di Indonesia. Kondisi ini yang dimanfaatkan petani di Pati untuk kembali menanam padi, karena tanaman ini membutuhkan cukup air. Diperkirakan, La Nina akan berakhir pada September 2016.

“Kalau saat ini kita menanam tanaman palawija tidak tepat, karena tanaman palawija tidak bisa hidup ketika banyak suplai air. Makanya, kita kembali menanam padi. Tapi, kami sudah siapkan antisipasi ketika kemarau secara normal terjadi pada September 2016 nanti,” ujar Ramijan, petani asal Desa Ngawen, Kecamatan Margorejo.

Ramijan yang menanam padi seluas satu hektare juga sudah menyiapkan sejumlah langkah ketika tanaman padinya diserang hama. Pasalnya, tanaman padi menjadi rentan diserang hama ketika cuaca panas-hujan dengan mudahnya berganti.

“Berhubung ini mestinya musim kemarau tapi masih hujan, terjadi perubahan suhu yang ekstrem dalam waktu cepat. Kondisi itu biasanya gampang muncul hama padi. Tapi, kami sudah siapkan langkah untuk mengatasi kendala tersebut, termasuk menyiapkan pestisida yang tepat,” kata Ramijan.

Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma yang hadir dalam gerakan percepatan luas tambah tanam padi di Desa Ngawen menambahkan, pihaknya siap membantu mengatasi permasalahan petani pada peralihan musim September 2016 mendatang. “Kami siap membantu setiap permasalahan petani demi memperkuat ketahanan pangan di wilayah teritorial Pati,” tukas Andri.

Editor : Kholistiono

 

Puluhan Prajurit TNI Andil Dalam Gerakan Percepatan Tanam Padi di Margorejo Pati

Prajurit TNI bersama dengan PPL, mantri tani dan kelompok tani melakukan percepatan luas tambah tanam padi di Desa Ngawen, Margorejo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Prajurit TNI bersama dengan PPL, mantri tani dan kelompok tani melakukan percepatan luas tambah tanam padi di Desa Ngawen, Margorejo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Puluhan prajurit TNI dari Koramil 12/Margorejo dan Kodim 0718/Pati ikut membantu petani mempercepat tanam padi di Desa Ngawen, Kecamatan Margorejo, Sabtu (30/7/2016).

Gerakan percepatan luas tambah tanam padi tersebut diharapkan bisa membantu petani mempercepat masa tanam, sebagai upaya meningkatkan ketahanan pangan di Kabupaten Pati pada masa tanam ketiga. Pasalnya, memasuki musim kemarau ini ternyata masih ada hujan sehingga harus dimanfaatkan dengan baik oleh para petani.

“Pada MT ketiga ini, mestinya musim kemarau. Namun, masih ada hujan karena ada La Nina atau semacam kemarau basah. Sebelum itu berakhir, petani harus segera menanam padi mumpung air masih melimpah. Karena itu, kita bantu tanam padi biar lebih cepat,” ujar Pelda Kunaryoto, Babinsa Desa Ngawen.

Ia berharap, agar Babinsa bisa selalu bersinergi dengan penyuluh pertanian lapangan (PPL), mantri tani, kelompok tani hingga pemilik lahan. Dengan demikian, sinergi itu bisa dirasakan manfaatnya kepada para petani yang menjadi pahlawan ketahanan pangan.

Menanggapi hal itu, pemilik sawah, Ramijan mengaku banyak terbantu dengan adanya program kemanunggalan TNI dan rakyat, termasuk petani. Sedikit banyak, prajurit TNI yang saat ini ditugaskan untuk mengawal ketahanan pangan bisa memperkuat sektor pertanian.

“Kalau dulunya kita sering impor beras, saat ini Indonesia sudah mulai ekspor beras. Itu tidak lepas dari sinergitas yang dilakukan pemerintah, TNI, dan petani untuk memperkuat kemandirian dan ketahanan pangan,” kata Ramijan.

Editor : Kholistiono

 

Dintanhut Rembang Ancam Berikan Sanksi untuk Kelompok Tani yang Berani Menjual Alsintan Bantuan

Beberapa alat mesin pertanian yang merupakan bantuan dari pemerintah untuk petani (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Beberapa alat mesin pertanian yang merupakan bantuan dari pemerintah untuk petani (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Hingga saat ini, pihak Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dintanhut) Rembang sudah mendapatkan 11 laporan terkait hilangnya alat mesin pertanian (Alsintan) yang merupakan bantuan untuk kelompok tani.

Menyikapi hal in, pihak Dintanhut menegaskan akan melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut. Diharapkan dengan hal itu, nantinya terungkap, apakah memang alat-alat bantuan tersebut hilang karena kesengajaan ataukah tidak.

Kasi Usaha Tanaman Pangan dan Holtikiltura pada Dintanhut Rembang Ika H Affandi mengatakan, jika nantinya ditemukan unsur kesengajaan dalam kehilangan tersebut, maka pihaknya akan memberikan sanksi tegas.

“Kesengajaan yang kami maksud di sini yaitu, alat-alat bantuan tersebut sengaja dijual. Karena, tidak menutup kemungkinan hal ini bisa terjadi. Jika memang demikian, kami akan melakukan tindakan tegas, apakah nanti akan kami serahkan ke pihak berwajib atau sanksi lain,” ujarnya.

Hal seperti itu, menurutnya perlu dilakukan, sebab, alat pertanian tersebut diberikan kepada kelompok tani, agar nantinya dapat mempermudah kinerja petani, dan bukan justru memberikan keuntungan kepada oknum tertentu dengan cara alat tersebut dijual kembali.

Baca juga : Duh…Ada Kelompok Tani di Rembang yang Dapat Bantuan Alsintan Malah Dijual

Editor : Kholistiono

Petani di Pati Didorong Buat Badan Usaha Milik Petani, Ini Tujuannya

 Seorang petani mengambil gabah yang baru saja dipanen. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Seorang petani mengambil gabah yang baru saja dipanen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati dengan segala sumber daya alam (SDA) yang melimpah diharapkan bisa dikelola petani dan masyarakat dengan baik. Salah satunya dengan mendirikan Badan Usaha Milik Petani (BUMP) yang saat ini diatur dalam UU Nomor 19 Tahun 2013.

Hal itu dikemukakan Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Jawa Tengah Edi Sutrisno. “Pati punya gunung, punya laut dan sawah. Kalau dikelola petani dan nelayan dengan manajemen yang baik melalui BUMP, saya kira petani bisa sejahtera,” ujar Edi kepada MuriaNewsCom, Kamis (28/7/2016).

Bahkan, BUMP diakui bisa memotong mata rantai permainan tengkulak dan mafia hasil pertanian lainnya. Dengan BUMP pula, pemberdayaan petani tak sekadar bergerak di wilayah pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM), usaha, dan lingkungan saja.

Lebih dari itu, keberadaan BUMP disebut akan bisa meningkatkan posisi tawar petani ketika menjalin kemitraan. Sebab, BUMP sudah memiliki badan hukum sebagai legal-formalnya dalam melakukan kemitraan.

“Dengan BUMP, petani nanti memiliki saham sendiri. BUMP bukan sekadar sebuah lembaga pemberdayaan masyarakat saja, tetapi juga lembaga bisnis bagi petani. Di sana, petani juga bisa melakukan manajerial bisnis dari hasil pertanian,” tambahnya.

Dengan memanfaatkan BUMP yang diatur dalam undang-undang, masyarakat Pati akan mencapai kejayaannya sebagai sebuah daerah yang benar-benar sejahtera melalui “mina” dan “tani”-nya. Karena itu, pemerintah diharapkan bisa ikut membantu misi itu melalui sebuah kebijakan yang terkomodasi dalam perda maupun perbup.

Baca juga :Serikat Petani Desak Pemkab Pati Buat Perda Perlindungan Petani

 Editor : Kholistiono

 

Serikat Petani Desak Pemkab Pati Buat Perda Perlindungan Petani

 Seorang buruh tani tengah memisahkan biji padi secara manual di areal persawahan Wedarijaksa, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Seorang buruh tani tengah memisahkan biji padi secara manual di areal persawahan Wedarijaksa, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Pemkab Pati didesak untuk membuat turunan UU Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan Petani dalam bentuk peraturan daerah (perda). Desakan itu dilontarkan Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Jawa Tengah, Edi Sutrisno, Kamis (28/7/2016).

Dalam undang-undang tersebut, kata Edi, terdapat upaya untuk memberdayakan petani, kesinambungan, kedaulatan pangan, termasuk Badan Usaha Milik Petani (BUMP). BUMP bisa dibuat dalam format perseroan terbatas (PT) atau koperasi.

“Kepemilikan saham di BUMP nanti harus dari petani. Makanya, petani juga harus tahu supaya bisa segera membuat BUMP yang berfungsi mengatur secara kelembagaan. Bila itu berjalan baik, petani akan sejahtera dan kedaulatan pangan akan terwujud,” tutur Edi.

Sayangnya, wacana BUMP yang ada dalam UU Nomor 19 Tahun 2013 kalah seksi dengan UU Nomor 6 Tahun 2013 tentang Desa yang salah satunya mengatur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Padahal, BUMDes diakui bersifat politis, sehingga tidak bisa menciptakan kesejahteraan masyarakat yang sustainable.

Karena itu, ia mendorong pemerintah provinsi dan daerah untuk membuat turunan UU Perlindungan Petani dalam bentuk perda yang kemudian diatur secara terperinci pada peraturan bupati (perbup). “Pati sepertinya belum pernah menggagas untuk membuat perda dan perbup soal perlindungan petani, termasuk BUMP. Kami minta agar hal itu diprioritaskan,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

 

Pepaya California dan Thailand Jadi Komoditas Baru di Wedarijaksa Pati

 Solihan mengecek kematangan buah pepaya di kebun miliknya. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Solihan mengecek kematangan buah pepaya di kebun miliknya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Kecamatan Wedarijaksa selama ini dikenal sebagai daerah penghasil garam terbesar di Kabupaten Pati. Namun, tak banyak yang tahu bila Wedarijaksa saat ini menjadi salah satu daerah penghasil pepaya California dan Thailand.

Dua jenis pepaya itu yang dijual di berbagai daerah di Pulau Jawa. Salah satu petani pepaya yang berhasil mengembangkan budidaya pepaya California dan Thailand adalah Solehan Arif (52), warga asal Desa Pagerharjo.

“Awalnya hanya saya yang merintis untuk budidaya pepaya. Seiring berjalannya waktu, saat ini sudah ada tujuh petani pepaya di Wedarijaksa. Kita juga sudah ada distributor yang mengambil setiap minggunya untuk dipasarkan di seluruh Pulau Jawa,” ujar Solehan.

Bahkan, mereka saat ini tak hanya menghasilkan buah pepayanya saja, tetapi juga mulai mengembangkan bibit tanaman pepaya yang dijual dalam polyback. Satu bibit tanaman pepaya bisa menghasilkan pendapatkan Rp 4 ribu.

“Penghasilan tak hanya dari buah saja, tetapi juga bibit. Misalnya saja, ada petani yang ingin budidaya pepaya dan ada yang pesan seratus bibit, kita sudah bisa menghasilkan pendapatan Rp 400 ribu,” imbuhnya.

Untuk menanam pepaya diakui tidak sulit dan tidak merepotkan. Cukup disiram tiga kali selama sehari dan diberi pupuk organik setiap seminggu sekali. Pun, hama tanaman pepaya tidak banyak.

“Usaha pertanian pepaya memang saat ini cukup menjanjikan. Penanamannya tidak sulit. Begitu juga dengan perawatannya yang mudah. Di Wedarijaksa, saat ini sudah cukup berkembang pesat,” imbuhnya.

Karena itu, ia berharap agar pepaya bisa menjadi salah satu komoditas unggulan di Pati, selain kelapa kopyor, jeruk pamelo, manggis, dan rambutan. “Kami juga berharap, Dinas Pertanian bisa ikut memberikan penyuluhan, bimbingan dan bantuan untuk meningkatkan komoditas pepaya di Wedarijaksa,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

 

Arti Penting JUT Bagi Petani Kudus

Salah satu Jalan Usaha Tani di Kudus. (MuriaNewsCom)

Salah satu Jalan Usaha Tani di Kudus. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dibangunnya Jalan Usaha Tani (JUT) bagi para petani di Kudus dinilai sangat bagus. Keberadaan JUT terbukti mampu bikin petani mudah mengirim hasilnya.

Hal itu dikatakan Plt Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Edy Suprayitno . Dengan adanya JUT, maka petani akan lebih tertolong. Khususnya dalam mengambil hasil panen.

“Kalau tidak ada JUT jalan tidak rata. Dan kendaraan bakal susah sampai lokasi. Apalagi kendaraan roda empat, pasti susah lewatnya,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Selain itu, kondisi yang parah adalah saat musim hujan. Jalan jadi licin, serta membahayakan saat dilalui. Dan saat panen tiba, maka tidak semua kendaraan pengangkut mau melintas di jalan yang berbahaya itu.

JUT juga berdampak pada peningkatan hasil pertanian. Dengan lokasinya persawahan yang mudah dijangkau, maka petani dapat dengan mudah mengontrol sawah yang dimiliki.

Editor : Akrom Hazami

 

Warga Pegerharjo Pati Raup Omzet Rp 6 Juta per Bulan dari Budidaya Pepaya

 Solehan Arif (54), warga Desa Pagerharjo, Wedarijaksa, sedang berada di kebun pepaya miliknya. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Solehan Arif (54), warga Desa Pagerharjo, Wedarijaksa, sedang berada di kebun pepaya miliknya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

 

MuriaNewsCom, Pati – Solehan Arif (52), warga Desa Pagerharjo, Kecamatan Wedarijaksa, Pati berhasil meraup omzet Rp 6 juta per bulan dengan budidaya pepaya. Dengan modal awal Rp 2 juta pada Agustus 2014 lalu di lahan seluas 0,3 hektare, kini berkembang menjadi tiga hektare.

Jenis pepaya yang ditanam bukanlah pepaya lokal. Ada dua jenis pepaya yang ia tanam, yaitu California dan Thailand. Bibit pepaya itu didapatkan dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

“Awalnya hanya coba-coba, karena masih belum tahu soal distribusi dan pemasaran. Tapi, saya coba beranikan diri dengan memulai budidaya pepaya karena saat itu belum ada petani di bidang pepaya di Wedarijaksa,” ujar Solehan, Rabu (27/7/2016).

Ia kemudian berani memberanikan diri untuk menanam dan mengembangkan pepaya, setelah mendapatkan penyuluhan dari IPB melalui online. Dengan tekad yang bulat, ia memutuskan untuk mencoba menanamnya.

Saat ini, Solehan berhasil memanen buah pepaya sebanyak setengah ton hanya dalam waktu seminggu saja. Harga pepaya sendiri dihargai Rp 3 ribu per buah. “Soal penjualan, sudah ada pengepul yang mengambil buah pepayanya, kemudian dipasarkan di seluruh pulau Jawa. Hasilnya lumayan bagus dan sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kami senang bisa budidaya pepaya,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

 

 

Petani Kudus Dambakan Jalan Sawah Mulus

sawah

Pengendara meditasi jalan persawahan di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan gabungan kelompok tani (Gapoktan) dari sembilan kecamatan di Kudus mengajukan bantuan guna pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT). Ratusan proposal diajukan para petani, lantaran mereka menginginkan jalan sawah yang mulus.

Hal itu diutarakan Plt Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Edy Suprayitno. Menurutnya, hingga kini sudah ada 190 proposal yang mengajukan perbaikan jalan persawahan.

“Mereka para petani yang tergabung dalam gapoktan. Rata-rata proposal yang masuk memang banyak jalan tani yang belum terbentuk,” katanya kepada MuriaNewsCom, Rabu (27/7/2016).

Menurutnya, jumlah tersebut merupakan jumlah keseluruhan yang mengajukan. Sebab, petani yang mengajukan terbagi dalam dua hal. Yakni Gapoktan yang sudah berbadan hukum sejumlah 75 kelompok  dan sisanya yang belum badan hukum.

Hingga kini, dinas masih membuka pengajuan proposal para petani. Namun, untuk cairnya kapan, itu masih menyesuaikan anggaran dan kebutuhan.

“Kami lihat dulu keadaannya. Jika membutuhkan dapat segera diusulkan. Itu pun terbatas lantaran masalah waktu dan biaya. Apakah bisa dibawa pada perubahan atau menunggu nanti,” ungkapnya.

Besaran biaya tiap proposal yang masuk, kata dia, di angka Rp 190 hingga Rp 500 juta. Tergantung dari panjang dan lebarnya JUT.

Editor : Akrom Hazami

 

Taman Belajar Organik Diminta Jadi Wadah Pembelajaran Agrobisnis di Pati

 Bupati Pati Haryanto mengunjungi areal persemaian di Sekretariat Taman Belajar Organik (TBO) Gembong. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Bupati Pati Haryanto mengunjungi areal persemaian di Sekretariat Taman Belajar Organik (TBO) Gembong. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bupati Pati Haryanto meminta kepada anggota komunitas Taman Belajar Organik (TBO) supaya bisa menjadi wadah bagi pengusaha di Pati.  “Selama ini, pekerjaan yang paling banyak diburu adalah menjadi pegawai negeri sipil (PNS), polisi atau TNI. Padahal, kalau pengen cepat sukses dan kaya, ya jadi wirausahawan atau pengusaha seperti beragam jenis usaha yang dirintis TBO,” ujar Haryanto.

Karena itu, TBO diharapkan bisa menjadi perekat komunitas yang akan menciptakan produk-produk pertanian, perkebunan, hingga perikanan berbasis organik. Selain mengampanyekan proses produksi yang sehat karena bebas pestisida, TBO mesti bisa melahirkan pengusaha-pengusaha yang mandiri.

“Untuk menjadi pengusaha memang susah. Butuh perjuangan dan tekad yang kuat untuk mewujudkannya. Saya juga mengalami hal itu ketika kesulitan merintis tambak di dekat rumah di Desa Raci, Batangan. Namun, setelah beberapa tahun berjuang, hasilnya di luar dugaan,” ucap Haryanto.

Berkaca dari itu, TBO benar-benar diharapkan menjadi salah satu pioner di bidang agrobisnis dan pengolahan limbah dengan konsep pemberdayaan anggota. Dengan begitu, para pemuda bisa bekerja sesuai dengan potensi yang ada di daerahnya.

“Pemuda harus bangga jadi orang desa. Dari segala sumber kekayaan alam yang ada di desa, seorang pemuda bisa mengembangkannya menjadi produk berdaya saing tinggi. Di situlah kemandirian akan tercipta dan warga Pati siap bersaing dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA),” tandasnya.

Editor : Kholistiono

 

Desa Kedungbulus Pati Bakal Jadi Sentra Daun Kelor

 

Bupati Pati Haryanto berkunjung ke lokasi pengembangan sayuran Taman Belajar Organik (TBO) di Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati Haryanto berkunjung ke lokasi pengembangan sayuran Taman Belajar Organik (TBO) di Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong rencananya akan dijadikan sebagai sentra daun kelor. Upaya itu dilakukan komunitas Taman Belajar Organik (TBO) yang melihat potensi alam berupa daun kelor yang melimpah di daerahnya.

“Mayoritas penduduk setempat sudah menanam daun kelor. Karena itu, kita harus bisa memanfaatkan sumber daya alam (SDA) yang melimpah itu menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi,” ujar Ketua Karang Taruna desa setempat, Rusmani kepada MuriaNewsCom.

Dilihat dari aspek kesehatan, kata dia, daun kelor punya manfaat untuk menyembuhkan penyakit asam urat. Kandungan nutrisinya juga baik untuk kesehatan tubuh. Karena itu, daun kelor yang selama ini sebatas digunakan untuk pakan ternak akan disulap menjadi beragam produk makanan bernilai ekonomi tinggi.

“Saat ini, kami tengah mengembangkan produk mi hijau dari daun kelor. Formulanya sudah ketemu, tinggal bagaimana kita bisa mengembangkan formula itu menjadi sebuah produk untuk dijual. Kami ingin menjadikan Desa Kedungbulus sebagai sentra daun kelor di Pati,” ungkapnya.

Untuk mewujudkan itu, pihaknya akan menggandeng Taman Belajar Organik (TBO) Kecamatan Gembong sebagai salah satu komunitas yang konsen di bidang pemberdayaan tanaman organik. Dengan demikian, produk olahan dari pemanfaatan daun kelor tak hanya berkhasiat untuk kesehatan tubuh, tetapi juga bebas dari pestisida.

Ke depan, pihaknya bersama TBO akan mengembangkan semacam pusat belajar, sehingga pemuda bisa belajar tentang pengembangan sayuran organik. “Tak hanya mengembangkan desa sebagai sentra daun kelor di Pati, kami bersama TBO juga ingin melakukan pemberdayaan masyarakat di bidang pengembangan tanaman organik yang bisa menambah penghasilan,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Duh…Ada Kelompok Tani di Rembang yang Dapat Bantuan Alsintan Malah Dijual

 Alat pertanian yang akan diberikan kepada kelompok tani (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Alat pertanian yang akan diberikan kepada kelompok tani (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dintanhut) Rembang mendapat belasan laporan terkait hilangnya alat mesin pertanian (Alsintan) milik kelompok tani yang berasal dari bantuan pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

Kasi Usaha Tanaman Pangan dan Holtikultura pada Dintanhut Rembang Ika H. Affandi mengatakan, hingga Juli 2016 ini, pihaknya sudah mendapatkan 11 laporan terkait hilangnya Alsintan bantuan tersebut. “Setelah ada laporan seperti itu, tentunya kita langsung kroscek ke lapangan secara langsung. Dalam hal in, kami juga melibatkan pihak kepolisian atau pihak terkait,” ungkapnya.

Menurutnya, banyaknya alat mesin pertanian yang hilang  tersebut, karena salah satunya kecerobohan dari petani sendiri, yakni, alat tersebut tidak dibawa pulang usai digunakan di sawah. “Biasanya yang hilang itu mesinnya, kalau kerangkanya masih utuh,” katanya.

Bukan hanya hilang dicuri orang, bahkan, ada pula alat mesin pertanian yang berasal dari bantuan pemerintah itu sengaja dijual oleh kelompok tani. “Kita juga pernah mengurus penyalahgunaan alat tani oleh kelompok tertentu. Yakni pertanian tersebut dijual oleh kelompok tertentu. Setelah itu, kelompok tani tersebut kita suruh untuk menggantinya sesuai dengan alat bantuan itu, baik merek maupun tipenya,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Ini Bantuan Tim UGM untuk Dongkrak Harga Jual Jagung di Grobogan

Anggota LMDH Mojo Lestari sedang mencoba mengeringkan jagung dengan mesin pengering bantuan dari UGM (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Anggota LMDH Mojo Lestari sedang mencoba mengeringkan jagung dengan mesin pengering bantuan dari UGM (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Tim dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta menyalurkan bantuan mesin pengering jagung pada anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Mojo Lestari Desa Mojorebo, Kecamatan Wirosari, Grobogan. Mesin pengering buatan Fakultas Pertanian UGM itu punya kapasitas 500 kg.

Bantuan mesin pengering tersebut diserahkan Ketua Tim penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) UGM Teguh Yuwono. Setelah menerima bantuan, anggota LMDH nantinya akan diberi pelatihan cara mengoperasikan mesin pengering dengan benar.

Diharapkan, dengan adanya mesin tersebut, bisa jadi solusi petani untuk meningkatkan kualitas hasil panen. Dampak selanjutnya, adanya mesin pengering akan bisa menaikkan harga jual, karena kadar air pada hasil panen khususnya jagung dapat diminimalkan.

“Kami sangat berterima kasih pada pihak UGM atas kepeduliannya kepada para petani yang dengan sangat terpaksa harus menjual hasil panen mereka dalam keadaan basah dan harganya murah. Dengan adanya peralatan ini, kami berharap petani bisa mendapatkan hasil lebih banyak dari sebelumnya,” ungkap Administratur KPH Purwodadi Damanhuri, Senin (25/7/2016).

Menurutnya, bantuan itu diberikan sebagai tindak lanjut pertemuan yang dilakukan beberapa waktu sebelumnya dengan pihak UGM. Dalam rangka mendukung implementasi program Inegrated Farming System (IFS) Propinsi Jawa Tengah Tahun 2016, Tim dari Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta bakal melaksanakan kegiatan pengabdian pada masyarakat.

Adapun sasarannya kali ini, adalah memberikan pelatihan teknologi tepat guna (TTG) pada dua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) di wilayah Perhutani KPH Purwodadi. Yakni, LMDH Mojo Lestari Desa Mojorebo, Kecamatan wirosari dan LMDH Batur Wana Makmur Desa Kemaduhbatur, Kecamatan Tawangharjo.

Tim dari UGM tersebut terdiri dari sejumlah dosen dari beberapa fakultas. Antara lain Fakultas Kehutanan, Teknologi Pertanian, Pertanian dan Kedokteran Hewan. Adapun jenis penerapan teknologi yang diberikan ada beberapa macam. Seperti, pembuatan bibit jati unggul dan kebun pangkas, pelatihan pembuatan pupuk hayati, pemeriksaan kesehatan hewan dan reproduksi serta melakukan riset mengenai kelaikan lingkungan kandang ternak, dilanjutkan dengan pelatihan pemanfaatan limbah ternak.

Menurut Damanhuri, pihaknya sangat mendukung program penerapan TTG yang dilakukan timUGM buat LMDH. Sebab, kegiatan itu dinilai sangat positif dan manfaatnya akan sangat dirasakan masyarakat khususnya para anggota LMDH.

“Kami berterima kasih sekali pada tim UGM yang bersedia melaksanakan kegiatan di wilayah Perhutani KPH Purwodadi. Kami, akan mendukung dan membantu semaksimal mungkin supaya program ini bisa berjalan lancar,” katanya.

Editor : Kholistiono

 

Ratusan Kelompok Tani di Rembang Dapat Bantuan Alsintan

 Puluhan handtractor siap diserahkan ke kelompok tani yang ada di Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Puluhan handtractor siap diserahkan ke kelompok tani yang ada di Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Pemerintah Daerah (Pemda) Rembang melalui Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dintanhut) Rembang, tahun ini memberikan bantuan kepada ratusan kelompok tani berupa alat mesin pertanian (Alsintan).

Kasi Usaha Tanaman Pangan dan Holtikultura pada Dintanhut Rembang Ika H Affandi mengatakan, setidaknya, untuk 2016 ini, ada 285 unit Alsintan yang diserahkan ke kelompok tani. “Untuk 2016, kelompok tani di Rembang yang terima bantuan Alsintan ada sekitar 300 an. Mereka ini yang sudah terdaftar di Pemda Rembang,” ujarnya.

Menurutnya, bantuan alat mesin pertanian tersebut bersumber dari dana APBD dan APBN. Rinciannya, traktor roda dua sebanyak 55 unit, traktor roda empat 5 unit, pompa air 55 unit, alat penyiang rumput (cultivator) 14 unit dan alat pemanen padi (combine harvester) 7 unit. Bantuan tersebut berasal dari APBD dengan alokasi Rp 3 miliar.

Sementara itu, bantuan alat mesin pertanian yang bersumber dari APBN terdiri dari transplanter 20 unit, alat pemipil jagung (corn sheller) sebanyak 19 unit, traktor roda dua ada 68 unit, alat perontok padi (power thresher) 40 unit dan traktor roda empat ada 2 unit.“Bantuan alat mesin pertanian ini sudah diserahkan sejal Januari 2016 lalu,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

 

“Jangan Paksa Petani Pakai Pupuk Organik”

pupuk lagi
MuriaNewsCom, Kudus – Terkait tidak terlalu berminatnya para petani di Kudus menggunakan pupuk organik, Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan setempat meminta agar pihak distributor tidak memaksa petani menggunakannya. Apalagi harus menggunakan pupuk yang berasal dari pabrik.

Hal itu disampaikan Plt Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Edy Suprayitno melalui petugas pendataan pupuk Muttaqin. Menurutnya, selama ini petani masih dibebankan dengan membeli pupuk organik.

Dan model yang digunakan bervariatif, seperti halnya borongan, yakni ketika membeli pupuk jenis lain, mendapatkan pupuk organik.

“Padahal biaya tersebut sudah termasuk biaya pupuk organik,” katanya.

Dia menambahkan, pabrik pupuk yang memasok pupuk organik terdapat tiga pabrik. Yakni pabrik di Loram Kulon, Jati, kemudian pabrik asal Pati dan Jepara. Meski tiga pabrik, namun perusahaan yang menangani hanya satu saja.

“Kita tunggu saja hasil laborat. Mudah mudahan segera keluar sehingga dapat dijelaskan kepada para petani di Kudus nantinya,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Kualitas Pupuk Organik di Kudus Kurang Oke

Untitled-1

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kualitas pupuk organik yang dijual untuk petani di Kudus, diragukan pemkab setempat. Karena, petani tidak minat dengan pupuk organik yang selama ini dijual bebas.

Plt Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Edy Suprayitno melalui petugas pendataan pupuk Muttaqin mengatakan, selama ini para petani ogah menggunakan pupuk organik. Sebaiknya, mereka para petani malah meninggalkannya lantaran banyak yang dianggap tidak beres.

“Dari situlah, kami melakukan uji laboratorium untuk kandungan pupuk. Apakah sesuai dengan apa yang tertera pada bungkusannya ataukah tidak. Sebab, selama ini tidak ada uji laborat tentang hal itu,” kata Muttaqin.

Menurutnya, uji lab dilakukan sejak Juni lalu. Hanya, untuk batas selesainya uji lab masih menunggu dari provinsi. Sebab, pengecekan pupuk organik dilakukan melalui provinsi.

Sebenarnya, kata dia, pihak Petro atau pabrik pembuat pupuk organik sempat memberikan laporan kandungan pupuk berdasarkan uji laborat. Hanya, uji laborat yang diberikan hanyalah dari pihak pabrik, tanpa mengajak pihak pemkab.

Dia menuturkan, para petani juga mengeluhkan keadaan pupuk organik. Sebab, ketika pupuk disebar pada tanah tidak mudah hancur . Bahkan setelah beberapa pekan pupuk makan berupa butiran

“Padahal pupuk yang bagus itu yang mudah menyatu dengan tanah. Itu juga yang diinginkan para petani di Kudus,” imbuhnya

Keluhan para petani, kata dia bukan hanya terjadi di Kudus. Melainkan pula terjadi di seluruh Jateng. Untuk itulah saat rapat di tingkat provinsi selalu disampaikan hal tersebut, hingga akhirnya dilakukan uji lab.

Dia menambahkan, pabrik sudah diajak komunikasi dan membantah kalau pupuk tersebut tidak sesuai kandungan seperti di bungkus. Makanya setuju untuk di uji lab. Dan soal butir yang susah hancur, disebabkan sengaja oleh pabrik. Agar tidak mudah tumbuh rumput.

“Padahal kan tanah yang subur itu, yang banyak rumputnya,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Kodim 0718/Pati Siap Tampung Keluhan Pupuk Bersubsidi dan Alat Pertanian

 Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma (kanan) meninjau lokasi pertanian di kawasan Dadirejo, Margorejo. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma (kanan) meninjau lokasi pertanian di kawasan Dadirejo, Margorejo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kodim 0718/Pati siap menampung berbagai keluhan yang dialami petani, seperti kelangkaan pupuk bersubsidi, alat pertanian, penjualan gabah, dan beragam polemik lainnya. Hal itu dikatakan Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma, Jumat (22/7/2016).

“Petani punya peran penting dalam program ketahanan pangan nasional. Dari petani, stok kebutuhan pangan dari Sabang hingga Merauke tercukupi. Peran petani sangat besar. Pada saat yang sama, kami ditugaskan untuk mengawal ketahanan pangan. Karena itu, bila ada keluhan, jangan ragu untuk mengadukan kepada kami,” ujar Andri.

Di setiap desa, kata Andri, sudah ada satu personel Bintara Pembina Desa (Babinsa) yang mendampingi desa dari berbagai aspek. Salah satunya aspek pertanian. Keluhan petani yang dikeluhkan Babinsa, nantinya akan dilaporkan ke Koramil yang selanjutnya sampai di Kodim.

“Jangan ragu untuk bekerja sama dengan anggota TNI. Petani tidak usah takut bila ada keluhan masalah pertanian. Segera saja laporkan kepada Babinsa setempat supaya kendala di lapangan bisa dibantu diselesaikan,” imbaunya.

Pada masa tanam ketiga, saat ini Dandim memerintahkan kepada masing-masing Koramil di Pati untuk melakukan pendataan pertanian yang valid. Laporan itu harus dilaporkan dengan disertai dokumentasi di lapangan yang dikirim melalui email atau aplikasi Whatsapp.

“Saat ini, petani mestinya mulai menanam tanaman palawija seperti kedelai, kacang hijau, jagung, dan lainnya. Berhubung BMKG memperkirakan terjadi kemarau basah, kami berharap petani bisa arif menyikapi perubahan cuaca tersebut dengan menyiapkan langkah antisipasi supaya bisa panen secara baik,” ucapnya.

Editor : Kholistiono

 

Aksi Dandim Pati Blusukan Tandur Padi Kejutkan Petani

 Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma (berbaju loreng di belakang) ikut tandur bareng petani di Desa Dadirejo, Margorejo. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma (berbaju loreng di belakang) ikut tandur bareng petani di Desa Dadirejo, Margorejo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Komandan Kodim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma dalam beberapa kesempatan terlibat aktif bersama petani untuk menanam padi. Salah satunya di Desa Dadirejo, Kecamatan Margorejo.

Masih mengenakan pakaian doreng khas prajurit TNI, Andri tak segan mencopot sepatu untuk turun di sawah. Sontak, sejumlah anggotanya kemudian ikut turun di sawah membantu petani menanam bibit padi.

Selain ikut tandur, Andri juga sempat ikut mencabuti bibit padi dari persemaian, sebelum ditanam di satu petak sawah. Orang Pati menyebut aktivitas itu dengan istilah “ndaut”.

“Prajurit TNI saat ini memang punya peran multifungsi untuk menyatu dan manunggal dengan masyarakat. Tidak hanya bertugas untuk keamanan wilayah teritorial saja, tetapi juga memiliki tugas untuk membantu ketahanan pangan nasional,” ujar Andri, Jumat (22/7/2016).

Tak hanya ikut tandur, Andri juga mengecek rumah burung hantu di areal persawahan setempat. Keberadaan rumah burung hantu dianggap penting, karena predator itu menjadi musuh alami bagi hama tikus.

Ketua Gapoktan Desa Dadirejo, Abdul Rahman mengaku terkejut dengan aksi yang dilakukan Dandim. Sebab, kunjungan Dandim awalnya untuk meninjau keadaan rumah burung hantu, sekaligus memantau perkembangan pertanian di sawah.

Namun, Dandim tiba-tiba saja mencopot sepatu, terjun ke sawah dan membantu petani menanam padi. “Aksi Dandim langsung disusul anggota Koramil 12 Margorejo. Kami ucapkan terima kasih, karena petani sudah diperhatikan,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

 

Petani Pati Keluhkan Musim Salah Mangsa

Seorang petani di Babalan, Gabus tengah memanen kedelai tahun lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang petani di Babalan, Gabus tengah memanen kedelai tahun lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah petani di Pati saat ini mengeluhkan kondisi musim yang salah mangsa. Bulan Juli yang mestinya musim kemarau, tetapi hujan masih turun. Orang menyebutnya, hujan salah mangsa atau tidak sesuai masanya.

Akibat dari hujan salah mangsa tersebut, tanaman padi menjadi rentan diserang penyakit. Sementara itu, tanaman palawija mudah membusuk karena terlalu banyak pasokan air ketika hujan datang.

“Kalau musim itu berlangsung normal, petani bisa dengan mudah memilih menanam padi atau palawija. Kalau ada fenomena hujan salah mangsa begini, kami jadi bingung dan harus menyiapkan langkah antisipasi. Langkah itu mengakibatkan biaya produksi lebih tinggi,” ungkap Supriadi, petani asal Kayen, Kamis (21/7/2016).

Di satu sisi, petani palawija biasanya menanam pada musim kemarau, sehingga tanamannya tidak butuh air banyak. Di sisi lain, petani yang ingin menanam padi masih berspekulasi apakah hujan di musim kemarau ini berlangsung lama atau sebentar.

Belum lagi, kondisi panas-hujan secara tidak teratur membuat penyakit padi berdatangan. Di sejumlah daerah di Kecamatan Gabus, misalnya. Padi mulai memerah akibat kondisi panas-hujan. Hal itu diakui Sriwati, petani asal Wedarijaksa. Sejumlah tanaman padinya mulai diserang hama, karena cuaca tidak menentu. “Kami berharap cuaca bisa berlangsung normal kembali,” harapnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, sejumlah petani yang menanam palawija berada di kawasan Pati selatan. Sedangkan petani di wilayah Pati utara sebagian besar masih menanam padi. Mereka juga akan menghadapi La Nina yang diperkirakan berlangsung pada akhir Juli hingga Agustus 2016.

Editor : Kholistiono

 

Petani Pati Diminta Waspadai Gejala La Nina

 

 Potret pertanian di Desa Babalan, Gabus yang menjadi sentra penghasil kedelai di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Potret pertanian di Desa Babalan, Gabus yang menjadi sentra penghasil kedelai di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Petani di Pati diminta untuk mewaspadai adanya gejalan La Nina yang akan berlangsung pada akhir Juli hingga Agustus 2016 mendatang. Hal itu dikatakan Pimpinan Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit Wilayah Pati Sofwan Bakri, Kamis (21/7/2016).

Salah satu hal yang harus diwaspadai, antara lain soal pola tanam dan antisipasinya. Sebab, gejala La Nina berlangsung selama musim kemarau. Artinya, hujan akan terjadi secara normal pada musim kemarau.

“Untuk petani yang sudah menanam tanaman palawija seperti kedelai atau kacang hijau, sebaiknya optimalkan fungsi drainase pada setiap petak sawah. Sebab, tanaman palawija gampang busuk bila terlalu banyak pasokan air,” imbau Bakri.

Bila biji sudah tua, petani diharapkan bisa segera memanennya. Sebelum panen, petani biasanya membiarkan tanaman mengalami masa pengeringan. Namun, menghadapi La Nina, petani mesti segera memanennya supaya tidak diserang hujan yang berpotensi membusukkan hasil panen.

Sementara itu, petani padi mesti mempersiapkan sejumlah ancaman gejala La Nina dengan melawan hama penyakit. Karena, hujan di musim kemarau membuat penyakit padi berdatangan. “Kalau hujan disusul panas, hujan lagi disusul panas, nanti muncul banyak penyakit padi. Petani padi harus siap menghadapi itu,” tambahnya.

Ia menambahkan, jangan sampai cuaca buruk akibat La Nina mengurangi produktivitas pertanian. Karena itu, petani mesti mempersiapkan langkah antisipatif supaya bisa panen seperti biasanya.

Editor : Kholistiono

 

Pak Tani! Pupuk Subsidi di Kudus masih Aman

 

pupuk

Petugas pendataan pupuk Muttaqin Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Stok pupuk bersubsidi bagi petani di Kudus, dipastikan cukup hingga akhir tahun. Hal itu dipastikan lantaran memasuki Musim Tanam (MT) III tahun ini, sisa pupuk sekitar  40 persen lebih dari jatah total pupuk.

Plt Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Edy Suprayitno melalui petugas pendataan pupuk Muttaqin mengatakan, selama ini pada MT I dan MT II, hanya menghabiskan pupuk sekitar 60 persen. Hal itu jelas menguntungkan para petani, sehingga tidak ada kelangkaan pupuk.

“Semuanya sudah ditampung dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), jadi kebutuhan pupuk yang didapat akan mampu mencukupi kebutuhan para petani di Kudus selama setahun,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, laporan  tentang stok pupuk secara persis hingga kini masih belum diterimanya. Namun dari pantauan yang dilakukan, 40 persen lebih pupuk memang masih tersedia untuk Kudus. Pupuk tersebut, merupakan jatah alokasi untuk sektor perikanan, perkebunan dan juga perikanan.

Pada tahun ini  Kudus mendapatkan pupuk jenis UREA sejumlah 10 ribu ton. Untuk ZA selama 2016 Kudus mendapatkan jatah pupuk 4260 ton.  SP 36, jumlah yang diterima adalah 1.490 ton, NPK mengalami penurunan dari 7000 ton. dan pupuk organik 4300 ton. Jumlah tersebut akan digunakan untuk Kudus selama setahun penuh.

”Tidak apa-apa, meskipun di bawah tahun sebelumya, namun masih ada sisa dari tahun sebelumnya di 2015 sebesar. Jadi tidak menjadi kendala meski yang kami dapat di bawah usulan,” ujarnya.

Jika nanti selama MT III kurang, kata dia, dapat dimintakan penambahan pasokan untuk Kudus ke provinsi. Hal itu diperbolehkan jika memang pasokannya habis.

“Jadi petani tidak usah risau,sebab pasti akan tercukupi kebutuhan pupuk untuk semua sektor,” jelasnya.

Sementara untuk ketersediaan pupuk hingga kini diklaim mudah. Para petani mudah mendapatkan pupuk untuk kebutuhan pertanian. Khususnya, bagi para petani yang masuk dalam kelompok tadi, yang mana otomatis masuk dalam RDKK.

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Kaya Nitrogen, Petani Pati Manfaatkan Orok-orok sebagai Pengganti Pupuk Kimia

Seorang petani di Desa Babalan tengah melihat Orok-orok yang dimanfaatkan sebagai tanaman refugia. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang petani di Desa Babalan tengah melihat Orok-orok yang dimanfaatkan sebagai tanaman refugia. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Tanaman orok-orok ternyata tak hanya berperan sebagai refugia yang mendatangkan predator alami bagi hama padi. Tanaman yang merupakan keluarga Fabaceae atau polong-polongan ini ternyata kaya akan unsur Nitrogen (N) yang bisa dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk kimia.

Sujak, Ketua Poktan Tanah Mas Desa Babalan, Kecamatan Gabus adalah salah satu petani yang sudah memanfaatkan tanaman Orok-orok sebagai refugia, sekaligus pupuk alami. Kandungan biomasa dan Nitrogen yang mencapai 3,01 persen, membuat orok-orok cocok sebagai pengganti pupuk kimia.

“Dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia melalui pemanfaatan Orok-orok, biaya produksi juga berkurang. Hasil panen juga tidak kalah bagus bila menggunakan pupuk kimia. Kalau biasanya saya gunakan 50 kg pupuk ponska dalam satu petak sawah, sekarang tidak lagi. Kami juga sudah tidak pakai pupuk urea,” ungkap Sujak.

Hal itu dibenarkan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (PPOT) Kecamatan Gabus, Sujianto. Pemanfaatan tanaman Orok-orok bisa lebih hemat penggunaan pupuk kimia mencapai 45 persen.

Unsur N sendiri dikenal punya peran penting untuk pertumbuhan tanaman pertanian, mulai dari penguat akar, batang, dan daun. Karena itu, tanaman yang ditanam di pinggiran pematang sawah ini bisa menjadi alternatif bagi petani sebagai pengganti pupuk kimia.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Babalan, Eny Prasetya menambahkan, saat ini tanaman refugia banyak dikembangkan di Desa Babalan. Petani sudah mulai tahu manfaat Orok-orok sebagai tanaman refugia, sekaligus alternatif pengganti pupuk kimia.

Sejumlah kalangan menyebut, pupuk kimia selain merusak tanah, juga tidak baik untuk kesehatan. Hasil pertanian yang terkontaminasi dengan pupuk kimia disebut sebagai biang kanker. Lebih dari itu, pupuk kimia cenderung memakan biaya produksi yang tinggi.

 Editor : Kholistiono

 

Petani di Babalan Pati Manfaatkan Tanaman Orok-orok untuk Basmi Hama Pertanian, Ini Keistimewaannya

 Petani dan PPL Desa Babalan melihat tanaman orok-orok di Desa Babalan, Gabus.(MuriaNewsCom/Lismanto)


Petani dan PPL Desa Babalan melihat tanaman orok-orok di Desa Babalan, Gabus.(MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Tanaman bunga jenis orok-orok saat ini mulai dikembangkan petani di Desa Babalan, Kecamatan Gabus, Pati. Tak hanya sebagai tanaman hias yang mempercantik sawah, bunga orok-orok yang mencolok menjadi sumber makanan bagi predator alami yang menjadi musuh hama pertanian.

Ketua Kelompok Tani Tanah Mas Desa Babalan, Sujak mengatakan, tanaman orok-orok punya kemampuan yang baik untuk memikat predator alami hama. Konsep tersebut, disebut sebagai sistem refugia yang sebetulnya sudah pernah dipakai petani masa lalu untuk memerangi hama.

Hanya saja, petani saat ini sudah mulai lupa dengan konsep dan sistem yang dipakai petani masa lalu. Padahal, konsep refugia diakui sangat efektif menanggulangi populasi hama secara alami. Imbasnya, petani menjadi hemat dalam penggunaan pupuk kimia.

“Tanaman orok-orok bisa mengundang lebah yang posisinya sebagai predator bagi hama pertanian. Lebah merupakan musuh alami bagi sejumlah jenis hama, seperti belalang sangit, wereng, penggerek batang, ulat, dan lain sebagainya,” kata penyuluh pertanian lapangan (PPL) Desa Babalan, Eny Prasetya, Jumat (15/7/2016).

Selain orok-orok, kata dia, sejumlah tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk sistem refugia adalah kecipir, turi, cokra-cakri, bunga matahari, tanaman bunga kertas, dan lainnya. Sistem refugia memilih jenis tanaman berbunga, lantaran bisa mengundang lebah, kumbang, lalat, kupu-kupu, dan beragam predator alami bagi hama.

Selain Desa Babalan, sejumlah petani yang mulai kembali memanfaatkan sistem refugia, di antaranya petani di Desa Tanjang dan Gabus. Diperkirakan, pemanfaatan tanaman refugia untuk mendukung aktivitas pertanian di Kecamatan Gabus saat ini sudah mencapai 20 persen.

Editor : Kholistiono

Menteri Pertanian di Jepara Iming-imingi Bantuan Pupuk dan Bibit

mentan e

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat berkunjung di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Menteri Pertanian (Mentan) RI Andi Amran Sulaiman hadir di Desa Batukali, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara, Kamis (14/7/2016). Andi hadir dalam acara kunjungan kerja panen raya di area persawahan desa setempat.

Tak hanya hadir jauh-jauh dari ibu kota Jakarta, Andi juga membawa sejumlah bantuan kepada para petani di Kota Ukir. Bantuan berupa peralatan dan mesin pertanian. Tak hanya itu, petani Jepara juga dijanjikan bantuan bibit dan pupuk gratis.

“Kita mengajak kita berproduksi dan berdaulat pangan. Kita sudah tidak lagi melakukan impor bahkan kita melakukan ekspor,” ujar Menteri Andi dihadapan warga yang hadir, Kamis (14/7/2016) sore tadi.

Dia memberikan puluhan traktor, sepuluh ribu bibit jagung, 14 ribu bibit padi. Bahkan untuk bibit jagung juga diberikan pupuk dan obat gratis. Dia menginginkan agar  puluhan lahan di Kabupaten Jepara dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Sementara itu, Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mengatakan Menteri Pertanian datang ke Jepara membawa rizki banyak khususnya pada petani. Rizki itu dalam bentuk alat pertanian, mulai traktor maupun alat tanam lainnya.

“Karakter tanah di Jepara adalah tadah hujan sehingga bergantung pada air hujan sehingga pengaturan tanam tidak bisa sesuai keinginan petani. Untuk itu, bantuan dari pak Menteri tentu saja diharapkan dapat dimanfaatkan secara maksimal,” ujar Marzuqi.

Menurutnya, di antara kelemahan dunia pertanian di Jepara adalah kurangnya kader tenaga kerja muda yang bersedia terjun ke dunia pertanian. Banyak yang tidak tertarik sehingga perlu untuk dilakukan pelatihan bagi para generasi muda.

“Kami berharap dan meminta juga kepada pak menteri khususnya penganggaran pembuatan bendung di Batealit agar bisa direalisasikan. Selain itu, perbaikan irigasi dan bantuan pelatihan kepada generasi muda khususnya dalam pengelolaan alat dan mesin pertanian,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami