Gempa 3,8 SR Terjadi di Semenanjung Muria

gempa bumi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, gempa bumi kembali terjadi di wilayah Semenanjung Muria, Pati dan Jepara.

Jika sebelumnya terjadi pada 23 Oktober 2015 dengan kekuatan 5,0 SR, kali ini gempa terjadi dengan kekuatan 3,8 SR ini berpusat di koordinat 6,38 Lintang Selatan dan 111,12 Bujur Timur, tepatnya pada jarak 42 km timur laut Pati, pada kedalaman 18 kilometer, Senin (18/7/2016) pukul 19.50.59 WIB.

Itu menjadi bukti bahwa di wilayah Semenanjung Muria, termasuk Jepara tidak aman dijadikan lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Kepala Bidang Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, hingga saat ini belum ada laporan mengenai dampak gempa bumi. Namun demikian gempa bumi ini sangat menarik, karena di lokasi pusat gempabumi ini, pada 23 Oktober 2015 pernah diguncang gempabumi tektonik berkekuatan 5,0 SR.

“Zona Semenanjung Muria dan sekitarnya secara tektonik memang cukup kompleks. Di zona ini terdapat sesar yang diduga cukup aktif, yaitu Sesar Muria membujur dari Gunung Muria ke arah utara hingga mencapai pantai utara. Selain Sesar Muria, di zona ini masih ada sekitar 7 (tujuh) sesar mikro tanpa nama  yang tersebar di lepas pantai Laut Jawa di sekitar zona Semenanjung Muria,” terangnya melalui rilisnya, Selasa (19/7/2016).

Menurutnya, Gempa bumi Semenanjung Muria yang terjadi, jika ditinjau dari letak episenternya tampak terletak di jalur Sesar Muria. Karakteristik kedalaman hiposenter yang sangat dangkal menunjukkan bahwa aktivitas gempabumi ini memang dibangkitkan oleh sesar aktif.

Sementara itu, salah satu aktifis penolakan PLTN di Jepara, Lilo Sunaryo mengatakan, gempa bumi yang terjadi di wilayah Semenanjung Muria sebagai bukti bahwa kawasan Semenanjung Muria atau lebih khusus Jepara tidak aman untuk PLTN.

“Dari dulu, saat ramai-ramainya soal PLTN, kami telah memberikan penjelasan secara rinci dengan bukti-bukti hasil penelitian yang lengkap berkait tidak amannya wilayah di semenanjung Muria untuk dijadikan lokasi PLTN. Termasuk di dalamnya tidak aman dari potensi bencana gempa bumi,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Secara rinci, lanjutnya, ada data dari Belanda yang menyatakan ada dua retakan di Semenanjung Muria, yakni di Rahtawu dan Tempur. Dengan adanya retakan itu dianggap jelas bahwa di semenanjung Muria tidak aman dari potensi gempa bumi.

Selain itu, beberapa waktu lalu pihaknya juga mangatakan ada sejumlah peneliti senior dari Bandung yang melakukan penelitian di semenanjung Muria.

“Tidak hanya di Gunung Muria, tapi juga di laut. Hasilnya, ada 7 data geologi yang menyatakan bahwa di sini masih berpotensi terjadi bencana gempa bumi,”  imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Sebelum Gantung Diri, Ngatini Sempat Jemur Jagung Bersama Suaminya

Tim Inafis sedang melakukan olah TKP di kediaman Ngatini (59) di Dukuh Kowang RT 2 RW 6 Sale(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Tim Inafis sedang melakukan olah TKP di kediaman Ngatini (59) di Dukuh Kowang RT 2 RW 6 Sale(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Ngatini (59) warga Dukuh Kowang RT 2 RW 6 Desa/Kecamatan Sale, Rembang, nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di belandar rumahnya pada Selasa (19/7/2016). Ngatini ditemukan pertama kali oleh suaminya, Mukarno, sekitar pukul 08.15 WIB dalam kondisi sudah tak bernyawa.

“Saya sangat terkejut ketika masuk rumah dan melihat istri saya sudah tergantung dengan tali nilon yang biasanya untuk mengikat kambing. Sebelum ke dalam dapur rumah, saya masukkan dulu kambing ke kandang karena ada yang lepas. Dan begitu masuk, malah kondisinya seperti ini,” ujar Mukarno.

Dirinya juga menceritakan, bahwa sebelum istrinya mengakhiri hidupnya dengan seperti itu, mereka berdua sempat menjemur jagung di halam rumah sekitar pukul 07.00 – 07.30 WIB. Ketika itu, istrinya juga terkesan biasa saja.

Mukarno juga menyatakan, jika dirinya dengan istrinya tidak ada masalah atau perselisihan yang berat dalam rumah tangganya. Selama ini, mereka berdua baik-baik saja dan berjalan secara normal.

Sementara itu, Suparman, adik dari Ngatini menyatakan, kakak perempuannya itu sering sakit-sakitan. Kondisi itu sudah dialami bertahun-tahun. “Memang selama ini Yu Ngatini sering sakit, suaminya juga begitu. Sedangkan ketiga anaknya jauh, ada yang tinggalnya di Tuban, Malang dan Malaysia. Sebelum kejadian ini, saya kemarin sempat mimpi gigi saya ada yang copot, dan ternyata malah dapat musibah jni,” imbuhnya.

Kapolsek Sale AKP Isnaini mengatakan, pihaknya saat ini masih melakukan penyelidikan terkait kasus ini. “Tentunya kita tindaklanjuti masalah ini, kita juga koordinasi dengan Tim Inafis Polres. Sebab untuk menyimpulkan apakah ini murni bunuh diri atau tidak, masih butuh waktu,” pungkasnya.

Baca juga : Frustasi karena Penyakit Menahun, Wanita Paruh Baya di Rembang Ini Nekat Gantung Diri

Editor : Kholistiono

 

BMKG Sebut Gempa di Timur Laut Pati Dibangkitkan Sesar Aktif

f-gempa

 

MuriaNewsCom, Pati – Gempa 3.8 skala richter yang terjadi di kawasan timur laut Pati, Senin (18/7/2016) malam, memunculkan spekulasi terkait dengan adanya sesar aktif di kawasan Semenanjung Muria. Hal itu disampaikan Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Dr Daryono.

“Gempa yang terjadi di timur laut Pati sangat menarik untuk dikaji. Sebab, di kawasan ini juga terjadi guncangan dahsyat berkekuatan 5.0 SR pada 23 Oktober 2015 lalu. Zona Semenanjung Muria dan sekitarnya secara tektonik memang cukup kompleks. Kami menduga, di zona ini ada sesar aktif, yaitu sesar Muria yang membujur dari Gunung Muria ke arah utara hingga mencapai pantai utara,” ujar Daryono saat berbincang dengan MuriaNewsCom, Selasa (19/7/2016) siang.

Selain Sesar Muria, kata dia, di zona tersebut masih ada sekitar tujuh sesar mikro tanpa nama yang tersebar di pantai lepas Laut Jawa di sekitar zona Semenanjung Muria. “Gempa Semenanjung Muria yang terjadi, bila ditinjau dari letak episenternya tampak terletak di jalur Sesar Muria. Karakteristik kedalaman hiposenter yang sangat dangkal menunjukkan, bahwa aktivitas gempa dibangkitkan oleh sesar aktif,” imbuhnya.

Gempa di Timur Laut Pati sedalam 18 km yang berjarak 42 kilometer dari dataran Kabupaten Pati memang sempat menjadi perbincangan publik. Beberapa warga ada yang merasakan getaran gempa, ada pula yang tidak.

Sejumlah warga yang merasakan berada di kawasan Pati bagian utara, seperti Kecamatan Gunungwungkal, Dukuhseti hingga Tayu. Kendati begitu, Daryono berpesan kepada masyarakat luas untuk tidak terlalu khawatir. “Mohon jangan khawatir. Itu hanya gempa mimor atau gempa kecil,” imbaunya.

Secara terpisah, Sumarlan, warga RT 4 RW 5 Desa Puncel, Kecamatan Dukuhseti mengaku ada dua kali getaran dalam gempa yang berlangsung tadi malam. Gempa pertama dirasakan sekitar tiga detik, sedangkan gempa kedua yang berselang 10 menit dari getaran pertama berlangsung sekitar lima menit.

“Waktu ada getaran, saya sedang nonton televisi. Tiba-tiba ada getaran, ternyata itu gempa. Warga sempat pada keluar rumah. Tapi, tidak ada kerusakan. Tidak ada dampaknya,” ungkap Sumarlan.

Editor : Kholistiono

Frustasi karena Penyakit Menahun, Wanita Paruh Baya di Rembang Ini Nekat Gantung Diri

 Jenazah Ngatini masih berada di Puskesmas Sale (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Jenazah Ngatini masih berada di Puskesmas Sale (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Seorang wanita paruh baya ditemukan tewas gantung diri di Dukuh Kowang RT RT 2 RW 6 Desa/Kecamatan Sale, Rembang, pada Selasa (19/7/2016) sekitar pukul 08.15 WIB. Diduga sakit menahun menjadi motif bunuh diri tersebut.

Ngatini (59) ditemukan Mukarno, suaminya, tergantung di belandar rumahnya. Lehernya terlilit tali, yang kemudian oleh Mukarno dipotong untuk menurunkan jasad istrinya tersebut.

Kapolsek Sale AKP Isnaini mengatakan, pihaknya sudah mendapatkan laporan mengenai kejadian tersebut. Petugas dari Polsek Sale, juga sudah ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan pengecekan secara langsung di lapangan.

“Dari informasi yang kami dapatkan, Ngatini ini memiliki riwayat penyakit menahun. Namun demikian kami belum bisa menyimpulkan apakah motif bunuh diri yang dilakukan ini karena frustasi dengan penyakitnya itu atau ada masalah lain. Hal ini masih kita selidiki,” ujarnya.

Jenazah Ngatini, saat ini masih berada di Puskesmas Sale untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Apakah ada tanda-tanda kekerasan atau memang murni bunuh diri.

Editor : Kholistiono

Tim Gabungan dan Warga Susuri Sungai Kedung Pring Cari Slamet

Pencarian Slamet (35) warga Desa Wonokerto RT 3 RW 4 Kecamatan Sale dengan menyusuri Sungai Kedung Pring (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Pencarian Slamet (35) warga Desa Wonokerto RT 3 RW 4 Kecamatan Sale dengan menyusuri Sungai Kedung Pring (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Petugas gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, polisi, PMI dan juga warga terus melakukan pencarian terhadap Slamet (35) wara Desa Wonokerto RT 3 RW 4 Kecamatan Sale yang hilang sejak Minggu (17/7/2016) lalu, dan diduga terseret arus sungai.

Petugas gabungan dan warga melakukan pencarian dengan menyusuri Sungai Kedung Pring. Penyusuran sungai ini dilakukan dengan berjalan kaki, dan setidaknya sudah 3 kilometer sungai tersebut disusuri, namun, hingga kini hasilnya masih nihil.

Kepala Desa Wonokerto Eko mengatakan pencarian sudah dilakukan sejak Minggu sore lalu. Namun hingga kini Slamet, pria yang memiliki keterbelakangan mental tersebut belum juga ditemukan petugas dan warga. “Kami dibantu TNI, polisi BPBD, PMI dan sebagainya menyusuri sungai, yang dimulai dari tempat ditemukannya tongkat dan sandal Slamet. Kita menuju arah timur atau sesuai arus air,” ungkapnya.

Ia katakan, meski saat ini kondisi sungai airnya tidak terlalu dalam, namun, ketika hujan turun, cukup sering meluap. “Kondisi sungai ini berbatu dan arusnya bisa kencang jika ada hujan turun. Saat ini kita masih mencari Slemet dengan dibantu berbagi pihak,” imbuhhya.

Baca juga : 3 Hari Menghilang, Pria Keterbelakangan Mental di Rembang Ini Diduga Terseret Arus

Editor : Kholistiono

 

3 Hari Menghilang, Pria Keterbelakangan Mental di Rembang Ini Diduga Terseret Arus

 Kepala Desa Wonokerto Eko ( baju kuning) sedang berkoordinasi dengan TNI, BPBD, polisi, PMI dan warga di kediamannya (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Kepala Desa Wonokerto Eko ( baju kuning) sedang berkoordinasi dengan TNI, BPBD, polisi, PMI dan warga di kediamannya (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Slamet (35) warga Desa Wonokerto RT 3 RW 4 Kecamatan Sale, Rembang sejak Minggu (17/7/2016) lalu menghilang dari rumahnya. Pria yang memiliki riwayat keterbelakangan mental ini diduga terseret arus Sungai Kedung Pring, saat turun hujan deras saat itu.

Dugaan tersebut, dikuatkan dengan ditemukannya tongkat bambu dan sandal yang biasa digunakan Slamet. Barang tersebut ditemukan pihak keluarga dan warga di tepi Sungai Kedung Pring.

Zaeni, Kakak Ipar Slamet mengatakan, pada Minggu kemarin, sekitar pukul 13.00 WIB, Slamet bermain di area sawah dan Sungai Kedung Pring yang jarak dari rumah sekitar 500 meter. Saat itu, katanya, hujan sedang turun dengan deras. “Adik saya ini memang memiliki keterbelakangan mental, dan dia itu suka main air ketika ada hujan turun. Selain itu, dia juga sering pergi main ke area sawah yang ada di dekat rumah,” katanya.

Menurutnya, ketika bermain ke luar rumah, Slamet sering membawa tongkat. “Selain itu, kalau main, biasanya sering pergi pagi dan pulang sore, atau pergi sore, pulangnya setelah waktu isya,” imbuhnya.

Lebih lanjut ia katakan, ketika, ditemukan tongkat dan sandal di pinggir sungai, pihak keluarga langsung melakukan pencarian dengan bertanya ke keluarga lain. Namun hal itu tidak membuahkan hasil. Karena tidak ada, kemudian keluarga melaporkan hal itu ke pihak desa. Hingga berita ini, diturunkan, warga bersama pihak terkait masih melakukan pencarian.

Editor : Kholistiono

Detik-detik Kecelakaan Maut di Margoyoso Pati Hingga Penumpang Pikap Tewas

 Kondisi korban meninggal dunia saat dibawa ke RSI Margoyoso. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Kondisi korban meninggal dunia saat dibawa ke RSI Margoyoso. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pada Senin (18/7/2016) sekitar pukul 12.30 WIB di Jalan Raya Pati-Tayu Km 16, Desa Sidomukti, Kecamatan Margoyoso, terjadi tabrakan beruntun yang melibatkan pikap Toyota Kijang K 1678 JA, truk bermuatan tebu K 1411 PB, dan sepeda motor yang tidak diketahui identitasnya.

Yanto, sopir truk bermuatan tebu asal Desa Soneyan, Kecamatan Margorejo menceritakan detik-detik musibah kecelakaan itu kepada MuriaNewsCom. Seperti biasanya, Jalan Pati-Tayu Margoyoso dilalui kendaraan dengan kondisi kepadatan lalu lintas normal.

Truk bermuatan tebu yang dikendarai Yanto berjalan dari selatan (Pati) menuju utara (Tayu) berjalan beriringan dengan pikap yang dikendarai Joko Nursiyo, warga Desa Ngemplak Lor. Diduga dengan kecepatan tinggi, pikap mencoba menyalip truk bermuatan tebu dari sebelah kanan.

Nahas, tidak sampai selesai menyalip, ternyata ada pengendara sepeda motor dari arah berlawanan. Joko mencoba untuk menghindari sepeda motor dengan membanting setir ke kiri, lantaran rem sudah tidak mumpuni untuk menghentikan laju pikap yang dikendarai.

“Tiba-tiba terdengar suara keras. Mobil pikap oleng, sempat menabrak rambu lalu lintas dan pohon di sekitar jalan. Penumpang pikap sempat terpental dan jatuh di tengah jalan,” ungkap Yanto.

Akibat insiden tersebut, satu penumpang pikap bernama Suwardi (53), warga Desa Ngemplak Lor dinyatakan meninggal dunia. Sementara itu, tujuh orang penumpang lainnya dilarikan ke RSI Margoyoso karena mengalami luka-luka.

Ketujuh orang tersebut, di antaranya Pujiati (25), Joko Nur Siyo (40), Zaenal Arifin (30), Sutiyono (50), Sunoto (45) dan Hari (50). Sementara itu, Giyo (50) mendapatkan perawatan intensif, karena kritis.

Kasatlantas Polres Pati AKP Ikrar Potawari mengimbau kepada pengendara untuk selalu berhati-hati dan jeli dalam memperhitungkan jarak, sebelum menyalip. Sebab, sebagian besar kecelakaan di Pati disebabkan salah perhitungan saat mencoba menyalip, sedangkan dari arah berlawanan ada kendaraan yang melaju.

 

Editor : Kholistiono

Tabrakan Truk Muatan Tebu Vs Pikap di Jalan Pati-Tayu Km 16, 1 Orang Tewas, 7 Luka

 Sejumlah warga nampak melihat kondisi truk di sebelah jalan, usai melihat kondisi pickup yang terpelanting. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Sejumlah warga nampak melihat kondisi truk di sebelah jalan, usai melihat kondisi pickup yang terpelanting. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kecelakaan antara truk bermuatan tebu bernopol K 1411 BB dan mobil pikap bernopol K1678JA terjadi di Jalan Pati-Tayu Km 16, utara Balai Desa Sidomukti, Margoyoso, Senin (18/7/2016). Akibat kecelakaan tersebut, satu orang yang diketahui bernama Suwardi (53), warga Ngemplak Lor, tewas.

Dari informasi yang dihimpun di lapangan, kecelakaan bermula ketika mobil pikap akan menyalip truk bermuatan tebu dari arah Pati. Namun, sesampainya di TKP, mobil pikap mencoba menghindari sepeda motor Honda Scoopy yang tidak diketahui identitasnya.

Mobil pikap yang sudah telanjur menyalip akhirnya menabrak Scoopy, kemudian ditabrak truk bermuatan tebu hingga terpelanting. Satu orang tewas, dua dinyatakan kritis dan dilarikan ke RSI Margoyoso, serta lima orang mengalami luka ringan.

Tercatat, korban luka-luka atas insiden tersebut, di antaranya Giyo (50) warga Ngemplak Lor, Pujiati (25) warga Ngemplak, Zainal Arifin (30) warga Ngemplak Kidul, Joko Nur Siyo (40) warga Ngemplak Lor, Sunoto (45) warga Ngemplak Lor, Hari (50) warga Ngemplak Lor, dan Suliyono (50) warga Kedungsari.

Sesaat setelah kejadian, kecelakaan tersebut sempat menjadi tontonan warga. Jalan sempat macet beberapa menit. Namun, kemacetan teratasi setelah sejumlah petugas kepolisian melakukan pendataan dan evakuasi.

Yanto, warga Sonean yang menjadi sopir truk bermuatan tebu saat ditanya MuriaNewsCom mengaku, mobil pikap tersebut tiba-tiba menyalip dari belakang, tetapi dari arah berlawanan muncul sepeda motor Scoopy.”Mobil pikap akhirnya banting setir ke kiri dan menabrak badan truk, hingga pikap terpelanting dan jatuh,” ungkap Yanto. Kendati tidak mengalami luka, tetapi Yanto mengalami syok psikis.

Editor : Kholistiono

Braak, Truk Guling di Kandangmas Kudus

laka 1

Warga mengerumuni lokasi kejadian truk guling di Kandangmas Kudus.  (Foto Mamad, Warga Kandangmas)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sebuah truk muatan kertas terguling di Sudo, Kandangmas, Kudus, Sabtu (16/7/2016) pagi. Insiden tersebut murni kecelakaan tunggal.

Tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut. Namun kerugian diperkirakan mencapai jutaan rupiah.

Salah seorang warga setempat, Mamad kepada MuriaNewsCom, mengatakan, kecelakaan terjadi pada Sabtu pagi sekitar pukul 08.00 WIB. “Kecelakaannya tadi pagi,” kata Mamad.

Kronologi kejadian, truk diketahui menanjak salah satu titik jalan di desa tersebut. Truk ternyata tak kuat menanjak.  Dari keterangan sopir kepada warga, truk sudah tiga kali mencoba menanjak. Tapi tak mampu juga melintasi jalan tanjakan.

“Truk akhirnya meluncur mundur. Ketika itu, ada sebuah sepeda motor di belakangnya. Beruntung, sopir bisa menghindari sepeda motor,” ujar Mamad.

Truk pun terguling. Sejumlah muatannya diselamatkan dengan memindahkannya. Kecelakaan itu menjadi tontonan warga setempat.

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Didemo, PT Starcam Apparel Janji Penuhi Tuntutan Buruhnya

demo e

Aksi para buruh PT Starcam Apparel Indonesia di Jepara. (MuriaNewsCom/WahyuKZ)

MuriaNewsCom, Jepara –  Setelah didemo ratusan buruhnya, pada Jumat (15/7/2016), PT Starcam Apparel Indonesia di Desa Mindahan Kecamatan Batealit, Jepara berjanji akan memenuhi tuntutan buruh. Salah satunya, akan segera melunasi kekurangan gaji yang diberikan kepada buruh.
Janji tersebut muncul dalam kesepakatan yang telah ditetapkan dalam proses mediasi antara pihak buruh atau karyawan, dengan pimpinan perusahaan yang difasilitasi oleh Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Jepara dan dikawal oleh pihak aparat keamanan polsek maupun koramil setempat.
Selain akan segera melunasi kekurangan gaji yang belum diberikan, juga akan menerapkan aturan jadwal atau jam kerja sebagaimana mestinya. Pihak perusahaan menampik kesengajaan molornya pembayaran gaji, mereka beralasan bahwa kemoloran terjadi karena beberapa hal.
“Gaji sering molor sejak Januari, bahkan untuk bulan Juni belum terbayarkan karena ada masalah pada proses administrasi di bank. Dengan adanya peristiwa ini tentu saja menjadi pembelajaran agar ke depan dapat diperbaiki,” ujar Manajer HRD PT Starcam Apparel Indonesia Ari Munanto.
Menurutnya, persoalan yang dipermasalahkan oleh karyawan murni karena kesalahan tehnis. Selain masalah administrasi di bank, juga penggajian untuk bulan Juli yang seharusnya tanggal 10, waktunya masih libur karena usai lebaran. Kemudian masalah belum digajinya mengenai jam lembur juga ia beralasan karena masalah tehnis sehingga belum bisa dihitung mengenai tambahan gajinya.
“Intinya kami akan memenuhi tuntutan karyawan. Gaji akan segera cair dalam waktu dekat bahkan mulai dicairkan hari ini atau besok,” katanya.
Dalam proses mediasi, pihak Pemerintah Kabupaten Jepara dihadiri perwakilan dari Dinsosnakertrans. Aksi protes berjalan lancar dan masih aman terkendali.
Editor : Akrom Hazami

Ratusan Buruh PT Starcam Apparel di Batealit Jepara Protes Mogok Kerja

buruh e

Buruh melakukan protes di depan pabrik di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Ratusan buruh yang bekerja di pabrik garmen PT Starcam Apparel Indonesia di Desa Mindahan Kecamatan Batealit, Jepara mogok kerja, Jumat (15/7/2016). Mereka protes kepada pihak perusahaan terkait jam kerja dan pencairan gaji yang tak tepat waktu.

Aksi tersebut dilakukan di halaman kantor operasional pabrik, sekitar pukul 07.00 WIB hingga menjelang siang hari. Mereka berkumpul dan sesekali melontarkan protes kepada pihak pimpinan perusahaan. Menjelang siang, pihak terkait yakni perwakilan buruh, pemilik perusahaan, Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara, dan aparat baik dari Polsek maupun Koramil Batealit.

Salah seorang buruh yang ikut protes, Dewi (37) mengatakan, ia bersama ratusan buruh lainnya terpaksa harus protes karena beberapa hal. Ia mencontohkan, sejak awal bekerja pada September 2015, sistem penggajian memang selalu molor. Sesuai dengan kontrak awal, gaji bulanan akan diberikan pada tiap tanggal 5, tapi selanjutnya dibayarkan tanggal 10. Terakhir, untuk gaji bulan Juni, tidak dibayarkan sampai saat ini.

“Terakhir, kami belum menerima gaji bulan Juni lalu sampai saat ini, Kita dijanjikan dibayar tanggal 14. Tapi sampai hari ini belum juga dibayarkan,” kata Dewi kepada MuriaNewsCom, Jumat (15/7/2016).

Menurutnya, selain persoalan gaji, jam kerja juga dikeluhkan juga persoalan jam kerja. Sesuai jadwal, buruh dan karyawan seharusnya pulang pukul 15.30 WIB. Tapi praktiknya, kerap pulang hingga pukul 16.30 WIB bahkan hingga pukul 18.00 WIB. Molornya jam kerja tersebut tidak dihitung lembur.

“Jam kerja kami sering melebihi jadwal, tetapi tidak dihitung sebagai lembur. Bahkan jika ada listrik mati yang berakibat aktivitas kerja terhenti sementara, jam kerja tetap diganti,” imbuhnya.

Hal senada juga dikatakan Ana (35). Menurutnya, masalah yang dipersoalkan oleh pihaknya bersama ratusan buruh lain harus diselesaikan. Jika tidak, maka aksi mogok kerja akan dilakukan untuk beberapa saat ke depan. Ia berharap proses mediasi yang dilakukan oleh pemerintah harus memihak kepada rakyat kecil.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Truk Muat Alat Berat Guling Timpa Bangunan SD Ketileng Blora

 

sd tertimpa

Truk guling menimpa bangunan SD Ketileng di Blora. (Twitter)

 

MuriaNewsCom, Blora – Bangunan SD Ketileng 2, Blora, tiba-tiba saja tertimpa truk pengangkut alat berat, Jumat (22/7/2016) dini hari.

Diketahui, truk terguling saat mengangkut alat berat hasil sitaan ESDM Jateng. Info yang dihimpun, tidak ada korban jiwa. Kejadian diperkirakan sekitar Jumat dini hari.

alat berat

Warga berada di lokasi kejadian (Twitter)

 

Pantauan di lokasi, truk berwarna hijau terguling. Muatannya jatuh menimpa salah satu bagian bangunan SD.

Bangunan yang tertimpa tampak hancur. Di antaranya berupa pilar bangunan dan dinding. Sampai saat ini, warga masih berkerumun di lokasi kejadian.

 

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

 

Habib Syech Meriahkan Peringatan 1 Abad Qudsiyyah di Jepara

habib syech e

Suasana acara peringatan satu abad Qudsiyyah Kudus yang digelar di lapangan sepak bola Desa Gemiring Kidul, Kecamatan Nalumsari, Jepara, Kamis (14/7/2016) malam. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf turut memeriahkan acara peringatan satu abad Qudsiyyah Kudus . Habib Syech mampu menyedot perhatian puluhan ribu warga saat memimpin pengajian dan selawat, di lapangan sepak bola Desa Gemiring Kidul, Kecamatan Nalumsari, Jepara, Kamis (14/7/2016) malam.

Kegiatan yang dikemas dalam agenda roadshow Dakwah Jepara dari Yayasan Qudsiyyah Kudus tersebut benar-benar  meriah. Lapangan sepak bola yang dijadikan lokasi pengajian pun tak mampu menampung banyaknya jemaah yang hadir. Mereka tak hanya dari kalangan orang tua saja, tetapi juga banyak dari kalangan pemuda dan anak-anak.

Sebagian di antara mereka juga ada yang membawa bendera dan dikibar-kibarkan, baik yang bertuliskan selawat, pecinta Habib Syech, lambang Ormas, bahkan bendera merah putih, serta lainnya yang membuat acara semakin meriah dan semarak. Nada selawat terus mereka lantunkan untuk meningkatkan kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Salah satu panitia kegiatan, M Zamroni mengatakan, kegiatan ini masih merupakan rangkaian dari peringatan satu abad Qudsiyyah dengan tema membumikan Gusjigang untuk kemandirian Bangsa. Pihaknya mengaku senang dengan antusiasme jamaah yang hadir pada pengajian dan selawat tersebut.

“Ini merupakan hasil dari kerja sama dengan pihak-pihak terkait sehingga pengajian dan  selawat dalam rangka peringatan 1 abad Qudsiyyah di Jepara ini berjalan lancar,” ucapnya.

Sementara itu, Pengurus Yayasan Pendidikan Qudsiyyah, KH Em Nadjib Hasan mengatakan, dengan telah sampainya usia yang ke-100 ini diharapkan Qudsiyyah menjadi semakin maju dan berkembang pesat. Apalagi dengan usia yang sudah cukup tua, eksistensi Qudsiyyah semakin tinggi dengan semakin banyaknya alumni yang berhasil menjadi sosok yang mampu bermanfaat di lingkungan masing-masing.

“Harapannya semoga semakin jaya, dan terus maju menjadi madrasah yang terus mampu mencetak generasi yang berguna bagi Nusa dan Bangsa,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Santri yang Tewas Terpeleset dari Tebing di Rahtawu Ternyata Hafal Alquran 15 Juz

Korban saat berada di puskesmas (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Korban saat berada di puskesmas (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Kudus – M. Sihaburrohman (18) warga Dukuh Krajan RT 3 RW 1, Desa Kalipucang Wetan, Welahan Jepara yang tewas karena terpeleset dari tebing di Kalibanteng, Rahtawu, Kudus, dikenal sebagai sosok remaja yang pintar mengaji.

Hal itu diutarakan Asy’ari, Pengasuh Pondok Pesantren Manbaul Rabbaniyah Kalipucang wetan, Kecamatan Welahan, Jepara. Menurutnya, korban diketahui jarang sekali ke luar. ” Saya juga heran, biasanya dia itu jarang ke luar, jarang pergi jalan-jalan. Lebaran kemarin juga tidak pulang. Dia itu juga pintar mengaji, rajin membantu kegiatan di pondok. Terlebih dia sudah hafal sekitar 15 juz Alquran,” kata Asy’ari, kepada MuriaNewsCom.

Katanya, pagi tadi korban sempata mengadakan bancakan ketupat di pondok. Namun, setelah itu pergi bersama teman-teman satu pondok untuk jalan-jalan ke Rahtawu. “Kalau tidak salah, ada enam orang, dan dari enam anak itu, ada juga yang tidak mondok atau tinggal di dekat pondok,” imbuhnya.

Sementara itu, Manshur (49), orang tua korban mengatakan, dirinya terkejut atas peristiwa yang menimpa putranya. “Saya juga kaget, tadi saya dikabari dari pihak kepolisian atau kecamatan sekitar jam 13.30 WIB. Dan setelh itu, saya langsung menuju Gebog,” kata Manshur.

Dirinya juga mengatakan, jika anaknya sempat pamitan kepada dirinya. Namun demikian, tidak memberitahu hendak ke mana. “Dia cuma bilang mau pergi gitu saja, tak tahu mau pergi ke mana,” kenangnya.

Baca juga : Seorang Santri Asal Welahan Tewas Terpeleset dari Tebing di Rahtawu Kudus

Editor : Kholistiono

Tabrakan Beruntun di Jalan Purwodadi-Semarang, Bocah Usia 2 Tahun Tewas

 

Anggota Satlantas Polres Grobogan mengamankan kendaraan yang terlibat kecelakaan di Jalan Purwodadi-Semarang (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Anggota Satlantas Polres Grobogan mengamankan kendaraan yang terlibat kecelakaan di Jalan Purwodadi-Semarang (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Kecelakaan lalu lintas terjadi di Jalan Purwodadi-Semarang, tepatnya di Desa Klampok, Kecamatan Godong atau di pertigaan menuju Bendung Klambu, Rabu (13/7/2016).Kecelakaan yang terjadi sekitar pukul 10.30 WIB ini, melibatkan enam kendaraan, yakni tiga sepeda motor, dua mobil, dan satu truk.

Akibat dari kecelakaan tersebut, ada satu orang meninggal dan dua orang luka-luka. Korban luka adalah suami istri Ahmad Wahyudi dan Anita Nur Hidayah, warga Desa Pangkalan, Kecamatan Karangrayung. Sedangkan korban tewas adalah anak pasangan suami istri tersebut yang bernama Kanza Alya Umaro yang berusia 2 tahun.

”Kondisi jalan memang cukup ramai saat kejadian. Kami minta masyarakat untuk lebih mengutamakan keselamatannya. Sebab, Jalan Purwodadi-Semarang, khususnya di wilayah Godong ini termasuk zona rawan kecelakaan,” ujar Aiptu Duriyat, anggota Satlantas Grobogan yang ditemui di lapangan.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, pada saat itu, ada lima kendaraan dari arah barat (Semarang) berhenti di sebelah barat pertigaan, karena menunggu kendaraan dari arah utara (Bendung Klambu) yang hendak menyeberang ke kanan menuju arah Semarang. Yakni, Suzuki Carry dengan nopol H-9411-ED yang dikemudikan Tholib Ulum warga Kadilangu, Demak yang berada paling depan.

Di belakangnya, ada sepeda motor Honda Beat dengan nopol H-6810-DJ dikendarai Eko Santoro Warga Bandunglor, Kecamatan Dempet, Demak dan mobil Daihatsu Taruna bernopol B-8458-UN yang dikemudikan  Rahman, warga Kadilangu, Demak. Disusul berikutnya dua motor, yakni Honda Revo bernopol K-2564-HP yang dikemudikan Parnoto, Warga Jatilor, Kecamatan Godong dan Yamaha Mio J dengan nopol K-3000-KZ dikendarai Ahmad Wahyudi bersama keluarganya.

Saat memberi kesempatan menyeberang kendaraan dari arah Bendung Klambu itulah musibah terjadi. Ada truk bernopol AG-8174-UL yang dikendarai Nasrudin, warga Jajar, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar menabrak motor di barisan paling belakang dan beberapa kendaraan lainnya. Diperkirakan, truk itu dalam kondisi rem blong atau pengemudinya mengantuk.

”Waktu itu saya berhenti nunggu giliran jalan, karena mau belok kiri menuju Klambu. Tahu-tahu ditabrak dari belakang dan benturannya keras sekali. Kemudian, ketika turun saya baru tahu kalau ada truk yang menabrak kendaraan di belakang mobil ini,” kata sopir Suzuki Carry, Tholib Ulum.

 

Editor : Kholistiono

 

Seorang Santri Asal Welahan Tewas Terpeleset dari Tebing di Rahtawu Kudus

Korban yang tewas terpeleset dari tebing di Rahtawu Kudus (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Korban yang tewas terpeleset dari tebing di Rahtawu Kudus (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Kudus – Nasib nahas dialami oleh M. Sihaburrohman (18) warga Dukuh Krajan RT 3 RW 1, Desa Kalipucang Wetan, Kecamatan Welahan, Jepara. Remaja yang merupakan santri Pondok Pesantren Mambaul Rabbaniyah Welahan ini, tewas karena terpeleset dari tebing di kawasan wisata Rahtawu, Kudus, pada Rabu (13/7/2016).

Salah seorang rekan korban M. Barudin mengatakan, peristiwa tersebut berawal ketika dirinya bersama korban dan empat rekan lainnya pergi ke Rahtawu untuk menghabiskan liburan dengan menikmati eksotisme alam di Rahtawu.

“Kami berenam, termasuk korban bermaksud berwisata di Kalibanteng. Karena, penasaran dengan keindahan alamnya, kami kemudian memutuskan untuk memanjat tebing bersama-sama dengan ketinggian sekitar 15-20 meter,” ujarnya.

Menurutnya, ketika memanjat tebing itu, di bagian bawah tebing terdapat tali untuk berpegangan, namun, semakin ke atas tidak ada talinya. Namun, korban mendaki duluan, masih berupaya untuk mencapai bagian atas. Nahas bagi korban, yang terpeleset dan jatuh ke bawah.

“Sihab terpeleset dan jatuh ke bawah. Kepalanya terbentur batu, tubunya berguling ke sungai yang ada di bawah. Meski demikian, dia tidak terjebur, hanya kepalanya yang terendam di sungai,” paparnya.

Mengetahui rekannya jatuh, kemudian, dirinya bersama salah satu rekannya bernama Umar kemudian berupaya memberikan pertolongan. Namun, dirinya dan Umar juga ikut terpeleset. Beruntung, mereka bisa berpegangan, sehingga tidak jatuh ke bawah.

Sementara itu, Kasi Umum Polsek Gebog Ipda Sudiro menyampaikan, jika peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 10.00 WIB. “Dari informasi, enam pemuda itu termasuk korban merangkak naik untuk melihat pemandangan. Ketika mendaki, korban terpeleset dari ketinggian 15 hingga 20 meter, yang mengakibatkan korban tewas. Di tubuh korban juga terdapat luka di pelipis kirinya. Korban kemudian dibawa ke Puskesmas Gribig untuk dilakukan pemerikasan,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Arus Balik di Blora-Rembang Lancar

arus balik

Petugas menata arus lalu lintas di Blora arah Rembang. (Dok GP Ansor Blora)

 

MuriaNewsCom, Blora – Pada arus balik Lebaran hari ini, Rabu (13/7/2016), lalu lintas di Blora arah Rembang saat ini terpantau ramai lancar.

Tidak terlihat kepadatan kendaraan seperti pada arus balik biasanya.

Sementara itu, dari pantauan di lokasi, tidak sedikit pengemudi yang memarkirkan kendaraannya di bahu jalan. Para pengemudi tersebut lebih memilih memarkirkan kendaraannya di bahu jalan ketimbang beristirahat di rest area.

Sebaiknya para pengemudi yang melintas di sekitar lokasi mewaspadai hal ini. Karena itu menghambat arus lalu lintas.

Editor : Akrom Hazami

 

Bukan Dibuang, Balita yang Ditemukan di Kerso Jepara Ternyata Hilang saat Main

balita e

Balita yang ditemukan warga di Kedung, Jepara.

 

MuriaNewsCom, Jepara – Balita perempuan yang ditemukan warga Desa Kerso, Kecamatan Kedung, Jepara, pada Rabu (13/7/2016),  semula diduga dibuang orang tuanya.

Balita tersebut bukan dibuang sebagaimana diberitakan sebelumnya. Melainkan hilang saat bermain ke rumah tetangganya. Balita itu kini sudah diambil keluarganya.

Kapolsek Kedung AKP Sukarmo saat dihubungi MuriaNewsCom membenarkan adanya informasi pada Rabu (13/7/2016), pihaknya menerima balita yang diduga dibuang.

“Tapi setelah kami lakukan penyelidikan, termasuk mencari orang tuanya, ternyata balita tersebut bukan dibuang,” jelasnya.

Sukarmo menjelaskan, berdasarkan keterangan yang didapat, balita itu diketahui bermain-main dari rumahnnya menuju rumah tetangganya.

“Kemudian orang tuanya kehilangan jejak sang anak. Tidak tahu kemana. Sampai akhirnya mendengar kalau ada penemuan balita yang dibawa ke tempat kami. Akhirnya mereka datang mengecek, dan ternyata memang bemar itu anak mereka,” terangnya.

Saat ini, menurut Sukarmo, anak tersebut sudah kembali ke tangan orang tuanya. Hanya, dia tidak menyebutkan asal dari orang tua yang kehilangan anaknya tersebut.

“Yang jelas sudah diambil orang tuanya. Sudah selesai persoalannya. Kami hanya imbau supaya orang tua bisa mengawasi anaknya dengan baik,” imbuhnya.

Warga setempat memang sempat digegerken dengan ditemukannya balita di rumah salah seorang warga. Usai ditemukan, oleh pihak desa balita itu kemudian dibawa ke Polsek Kedung, sampai akhirnya dijemput kembali oleh orang tuanya.
Editor: Merie

Baca juga : Balita Dibuang, Diamankan Polsek Kedung

Balita Dibuang, Diamankan Polsek Kedung

Seorang balita dibuang orang tuanya di rumah salah satu warga Desa Kerso (Istimewa)

Seorang balita dibuang orang tuanya di rumah salah satu warga Desa Kerso (Istimewa)

MuriaNewsCom, Jepara – Seorang balita dibuang orang tuanya di rumah salah satu warga Desa Kerso, Kecamatan Kedung, Jepara, pagi tadi.Informasi yang didapatkan MuriaNewsCom, balita perempuan itu ditemukan salah satu warga Desa Kerso,  di depan rumahnya pada pagi hari. Tentu saja ini membuat geger warga sekitar.

Tidak ada yang mengetahui bagaimana balita itu bisa berada di sana. Warga setempat juga tidak ada yang memiliki anak balita itu.Meski sudan dicari kira-kira siapa orang tuanya, namun tidak juga ditemukan. Akhirnya sang penemu membawanya ke balai desa setempat.

Oleh pihak desa, balita itu kemudian dibawa ke Mapolsek Kedung. Di sana, petugas kepolisian sedang melakukan pendataan dan penyelidikan terhadap kasus ini.”Memang benar ada penemuan balita itu. Sudah dibawa ke Polsek Kedung sekarang,” kata anggota Satpol PP Kecamatan Kedung Muhadi, saat dikonfirmasi.

Bagi Anda yang mengenal balita ini, silakan hubungi Polsek Kedung yang tengah mencari orang tuanya.


Editor: Merie

 

Anggap Warisan Tak Adil, Anak Bunuh Ibunya di Malam Takbiran

Pembunuhan (e)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Seorang anak tega membunuh ibu kandungnya sendiri di malam takbiran, hanya karena menganggap bahwa warisan yang dibagikan tidak adil.

Kejadian iu berlangsung pada Rabu (6/7/2106) sekitar pukul 01.00 WIB dinihari. Korbannya bernama Maspiati, (75), warga RT 2/RW 4, Dukuh Sukoharjo, Desa Bangunrejo, Kecamatan Pamotan, Rembang.

Berdasarkan informasi dari Facebook Polres Rembang, Kapolres Rembang AKBP Sugiarto melalui Kapolsek Pamotan  AKP Kisworo mengatakan, pelaku sendiri berinisial AK (48). ”Dia diduga telah menganiaya bapak kandungnya hingga tewas,” katanya.

Kronologis kejadiannya sediri adalah pelaku yang merasa marah karena merasa jika pembagian warisan yang dilakukan ibunya tidak adil. Pelaku kemudian melakukan pemukulan terhadap korban dengan tangan kosong berkali-kali.

Bukan saja memukuli tubuh korban, namun pelaku juga menggigit pipi korban di sebelah kiri. Akibatnya korban mengalami luka memar di kepala dan luka robek pada pipi sebelah kiri, hingga korban tidak sadarkan diri.

Polsek Pamotan yang mendapat informasi tersebut, kemudian mendatangi tempat kejadian perkara (TKP). Kemudian membawa korban ke Puskesmas Pamotan untuk mendapatkan perawatan.

Namun, saat dirawat di puskesmas itulah, korban tidak bisa diselamatkan. Korban dinyatakan meninggal dunia pada Rabu (6/7/2016), sekitar pukul 12.00 WIB. Sedangkan pelaku sudah diamankan petugas kepolisian.

Pelaku merupakan anak kandung korban. Dari catatan yang ada, pelaku pernah menjalani hukuman pidana sebanyak dua kali di Rutan Rembang, karena dugaan penganiayaan terhadap saudara kandungnya sendiri juga.

”Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, pelaku menjalani proses hukum dan ditahan di Rutan Polres Rembang. Kepada yang bersangkutan, dikenakan dengan pasal 351 ayat 3 KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia,” imbuh AKP Kisworo.

Editor: Merie

Takbir Idul Fitri Warga Kudus Dipimpin Bupati

bupati takbiran (e)

Bupati Kudus H Musthofa didampingi sejumlah jajaran Forkopimda menabuh beduk sebagai tanda pelaksanaan takbir datangnya Lebaran dimulai. Istimewa

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kumandang suara takbir bergema di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Selasa (5/7/2016) malam, menandai datangnya hari kemenangan Lebaran.

Di Masjid Agung Kudus, pelaksanaan takbir dipimpin Bupati Kudus H Musthofa, yang hadir bersama jajaran Forkopimda setempat. Bupati memukul beduk tanda kumandang takbir dimulai.

Bupati Musthofa mengatakan, bahwa malam itu merupakan malam yang penuh kebahagiaan. Sehingga sudah selayaknya masyarakat bisa merayakannya dengan penuh rasa persaudaraan dan penuh kehangatan. Tentunya dalam suasana yang nyaman serta aman.

”Kami mohon kepada seluruh masyarakat, agar suasana yang aman dan nyaman ini terus dijaga. Karena ini demi kebaikan semua,” katanya di hadapan ratusan jamaah Masjid Agung Kudus.

Kebaikan yang telah terjalin dan terbangun di Kudus, diharapkannya bisa menjadi inspirasi untuk kebaikan seluruh negeri. Tentunya, dengan niat baik seluruh masyarakat, maka akan tercipta kondisi yang terbaik, termasuk untuk membangun Kudus ini.

”Dengan niat baik, Insha Allah berkah dan rahmat Allah akan tercurah untuk kita semua,” katanya.

Di malam yang merupakan puncak serangkaian kegiatan yang dimulai sejak Ramadan, bupati berpesan kepada seluruh masyarakat agar terus memperkuat jalinan silaturahmi antarmasyarakat. Momentum lebaran tahun ini sangat tepat untuk merajut ikatan silaturahmi tersebut.

Menyinggung mengenai berbagai kegiatan dan forum yang ada di MAK, bupati memberikan apresiasi positif. Di antaranya yaitu Forum Komunikasi Terbang Papat (FKTP) dan Forum Persaudaraan Qori Kudus merupakan wadah bagus yang mempu mengangkat dan membangun Kudus sebagai milik bersama ini.

Pemerintah daerah tentu tidak akan tinggal diam dengan berbagai forum semacam ini. Dan akan memberikan dukungan agar forum ini berkembang dengan semakin bagus, penuh kreativitas dan inovasi.

Di akhir sambutan, bupati juga memohon maaf kepada seluruh masyarakat. Karena dalam memberikan pelayanan tentu ada hal-hal yang dirasa kurang bahkan belum sesuai harapan masyarakat. Pasalnya, dirinya dan seluruh pejabat serta pegawai merupakan manusia biasa yang tentu ada kekurangan dan kesalahan.

”Atas nama pemda, saya selaku pribadi dan bupati menyampaikan permohonan maaf secara tulus dan ihlas,” imbuh bupati.

Editor: Merie

Pemudik Asal Jakarta Tujuan Keling Meninggal di Bus Santika

Gantung Diri (e)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Seorang pemudik dari Jakarta yang hendak ke menuju ke Kabupaten Jepara, meninggal dunia di atas bus yang ditumpanginya, Selasa (5/7/2016).

Kapolsek Keling AKP Mahendra mengatakan, dari kronologis yang disampaikan pihak bus, diketahui bahwa pemudik itu bernama Sumiati (47), warga Desa Kamal, RT 1/RW 2, Kalideres, Jakarta Barat.

Sumiati diketahui berangkat dari Terminal Kalideres pada Senin (4/7/2016), sekitar pukul 10.00 WIB, dengan menggunakan Bus Shantika, bernomor polisi H 1424 EA. ”Tujuannya adalah Desa Keling, Jepara. Saat itu, diketahui Sumiati dalam keadaan sehat,” jelas AKP Mahendra.

Keterangan itu didasarkan pada apa yang disampaikan sopir bus bernama Zamroni (39), warga Desa Bangsri, RT 3/RW 2, Kecamatan Bangsri. Sesampainya di Kabupaten Pemalang, korban sempat turun untuk ke toilet, di salah satu masjid di sana.

Namun, saat turun dari bus, Sumiati merasakan jika penglihatannya berkunang-kunang. Kemudian dirinya dibawa lagi ke dalam bus oleh penumpang lainnya.

Di dalam bus, korban merasa dadanya sakit. Dan tidak lama kemudian, sekitar pukul 14.00 WIB, Sumiati diketahui sudah meninggal dunia. ”Dari keterangan keluarga korban, selama perjalanan di sekitar wilayah Kabupaten Pekalongan, korban sempat menelepon suaminya,” ujar AKP Mahendra.

Kepada sang suami bernama Moh Kasian, Sumiati mengeluhkan jika dirinya sakit. Namun, tidak sempat dibawa ke rumah sakit terdekat. ”Sampai akhirnya, bus sampai di Keling. Dan jenazah Sumiati disemayamkan di RS Dr Rehatta Kelet, sambil menunggu keluarga datang untuk mengidentifikasi,” paparnya.

Menurut Mahendra, sopir bus sebenarnya sudah berusaha membawa ke rumah sakit. Namun karena posisi bus jauh dari rumah sakit, maka bus tetap melanjutkan perjalanan ke Jepara.

”Saat mau dibawa ke rumah sakit di Pekalongan, korban sudah tidak bernyawa. Bus sampai di Jepara, sekitar pukul 19.30 WIB. Dan sejauh ini, penyebab meninggalnya itu dikarenakan sakit,” imbuhnya.

Editor: Merie

Longsor Situluhur Pati Runtuhkan Pagar Tembok Rumah Warga

longsor

Petugas Polsek Gembong tengah meninjau lokasi longsor di Desa Sitiluhur, Gembong, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Pagar tembok rumah milik warga Dukuh Bangan, Desa Sitiluhur, Kecamatan Gembong runtuh akibat pondasi mengalami longsor, Jumat (1/7/2016).

Hal itu menyebabkan ruang dapur rumah milik tetangga tertimpa pagar tembok hingga ikut runtuh. Beruntung, tidak ada korban dalam bencana longsor tersebut.

Endang (55), pemilik rumah mengaku pagar tembok rumahnya runtuh. “Saat itu, hujan memang berlangsung sangat deras selama kurang lebih dua jam hingga terjadi longsor pada pondasi,” ungkap Endang.

Menurutnya, pagar temboknya dibangun sejak 20 tahun yang lalu dengan ketinggian tiga meter  dengan panjang 20 meter.

Sementara itu, Jumirah (50), pemilik dapur rumah yang tertimpa pagar rumah mengaku masih beruntung karena tidak berada di dapur saat pagar rumah tetangga menimpa dapurnya. Namun, ia berharap agar kerugian material akibat dapurnya rusak bisa diganti.

“Kondisi rumah saya lebih rendah dari rumah Endang. Saat itu hujan deras, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Dapur rumah saya tertimpa pagar tembok yang runtuh,” tutur Jumirah.

Kapolres Pati AKBP Ari Wibowo mengatakan, peristiwa bencana longsor tersebut dilaporkan kepada petugas Polsek Gembong pada pukul 16.30 WIB. “Ibu Jumirah mengalami kerugian material sekitar Rp 30 juta. Setelah dimediasi, pemilik pagar bersedia memperbaiki kerusakan pada dapur rumah yang tertimpa reruntuhan pagar tembok,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Daging Gelonggongan Masuk Grobogan

Petugas dari Disnakan memeriksa bawaan pedagang dari luar daerah yang akan berjualan di Pasar Pagi Purwodadi, Kamis dini hari. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Petugas dari Disnakan memeriksa bawaan pedagang dari luar daerah yang akan berjualan di Pasar Pagi Purwodadi, Kamis dini hari. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Menjelang Lebaran, petugas dari Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Grobogan menaruh perhatian serius pada kemungkinan masuknya daging gelonggongan di wilayah tersebut.

Bahkan, sebagai langkah antisipasi, petugas dari Disnakkan sempat ngepos di perbatasan kota untuk mencegat masuknya daging gelonggongan dari luar daerah.

Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Disnakkan Nur Ahmad Wardiyanto menyatakan, selama puasa, pihaknya sudah beberapa kali melakukan kegiatan untuk mengantisipasi adanya peredaran daging gelonggongan.

“Selama ini, daging gelonggongan ini selalu dipasok dari luar daerah. Dalam kegiatan ini, kita melibatkan Polres, Dinkes dan Satpol PP,” ujarnya.

Menurutnya, selama melangsungkan kegiatan, pihaknya belum menemukan adanya pemasok daging gelonggongan di sejumlah pasar di kawasan kota. Namun, sempat ada pedagang jeroan sapi yang diminta tidak menjual barang bawaannya. Sebab, kondisi jeroannya sangat berair dan mulai tercium bau busuk.

Saat petugas meminta surat-surat kelengkapan dari bagian hewan yang dijual itu, pedagang yang mengguanan motor tidak bisa menunjukannya. Akhirnya, petugas meminta pedagang itu untuk kembali dan tidak menjual jeroan yang dibawanya tersebut.

“Kalau jeroan itu diambil dari rumah potoh hewan (RPH), pasti pedagang ini bisa menunjukan surat keterangan dari tempat itu. Karena tidak ada surat dan kondisi dagangannya tidak bagus maka kami minta untuk balik kanan. Kami mengimbau kepada masyarakat agar lebih teliti ketika membeli daging dipasar,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Ini Masalah yang Menimpa Adam Sebelum Meninggal

Jpeg

Jenazah Adam Hermawan (38) warga Kedung Paso RT 1 RW 2 Demangan, Kota, Kudus dibawa ke RSU dr Loekmono Hadi Kudus. (MuriaNewsCom/ Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Adam Hermawan (38) warga Kedung Paso, RT  1 RW 2, Demangan, Kudus ditemukan meninggal secara misterius, di rumahya, Kamis (30/6/2016).

Mertuanya, Sabar mengatakan, korban dikenal sebagai pribadi yang pendiam. “Kami juga tidak tahu penyebab meninggalnya apa. Saat  diperiksa dokter puskesmas, juga tidaka ada tanda tanda bunuh diri maupun kekerasan,” kata Sabar, saat diwawancarai MuriaNewsCom di area Kamar Jenazah RSU dr Loekmono Hadi Kudus, Kamis (30/6/2016).

Kemungkinan, Adam meninggal karena penyakit yang dideritanya. “Kemungkinan ya jantung, bila tidak jantung ya tekanan darah tinggi atau penyakit lainnya,” ujarnya.

Selain itu, dirinya juga menduga ada masalah yang bisa membuat tekanan penyakit itu bisa kambuh hingga menyebabkan meninggal.

“Setahu saya, Adam itu akan menjual tanah yang ada di rumahnya tersebut. Namun tanah itu ditawar pakdenya dengan harga yang tidak disetujui Adam. Nah, setelah itu, tanah itu dijual ke orang lain, dan pakdenya padu (marah) dengan adam. Itu setahu saya lho. Ya bisa jadi,  masalah jual beli tanah (duit) bisa membuat penyakit Adam kambuh,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami