Menikmati Romantisme Wisata Watu Layar di Lasem

Taman yang dihiasi payung-payung cantik, yang menjadi salah satu spot foto di area wisata Watu Layar Lasem (Istimewa)

MuriaNewsCom,Rembang – Keberadaan objek wisata Watu Layar di Lasem sebenarnya sudah ada cukup lama. Namun demikian, dulunya tempat ini hanya dihiasi sejumlah pohon saja, dan masih kurang menarik untuk dikunjungi wisatawan.

Tapi kini, Watu Layar sudah disulap menjadi lebih cantik dan bakalan membuat betah bagi wisatawan. Bagi yang suka foto-foto, terdapat beberapa spot yang sangat cocok untuk memuaskan hasil foto kalian. Mulai dari foto di atas jembatan yang eksotis, foto di atas simbol cinta, foto dengan background pemandangan Pantai Binangun dan juga ada spot foto payung yang dijamin kamu ketagihan berfoto di sini.

Sementara itu, buat yang datang bersama pasangan, jangan lupa memasang gembok cinta di tempat ini. Juga ada ayunan, serta tempat duduk yang sengaja diposisikan di bawah pohon yang rindang.

Untuk bisa menjangkau tempat wisata ini, wisatawan tak perlu repot, karena tempatnya dapat dijangkau sangat mudah dari arah mana pun karena di tepi jaluur jalan raya pantura, berdekatan dengan wisata religi Pasujudan Sunan Bonang, atau sekitar 200 meter sebelah selatan dari rest area Pantai Binangun. Dari  arah Rembang atau Jawa Timur, sangat mudah dijangkau dengan kendaraan umum yang beroperasi 24 jam penuh.

Untuk masuk tempat wisata ini, wisatawan dipungut restribusi parkir, untuk kendaraan sepeda motor sebesar Rp 5ribu dan untuk mobil Rp 10ribu.

Di atas jembatan ini juga menjadi salah satu spot foto favorit bagi wisatawan. (Istimewa)

Tarmin, salah satu karyawan KPH Kebonharjo mengatakan, wisata Watu Layar ini sebelumnya sempat tidak aktif selama bertahun-tahun. Namun sekitar setahun terakhir, pihak KPHJ Kebonharjo mulai membenahi seluruh sarana yang ada, termasuk menghias lokasi secantik mungkin.

“Dari uang retribusi karcis yang masuk ini, dipakai untuk menata seluruh sarana yang ada. Sehingga dana yang masuk dan keluar itu berputar,” bebernya.

Akan tetapi, untuk mencapai lokasi ini, para pengunjung  harus bersiap dengan akses jalan yang masih sebagian besar bebatuan. Terlebih saat hujan turun dan membuat jalanan licin.

“Semoga saja kami pihak pengelola bisa segera melengkapi sarana di lokasi, termasuk kamar mandi, lahan parkir pengunjung, juga nanti rencananya agar ada lahan istirahat. Juga nanti akses masuknya akan kami usulkan untuk diperbaiki menggunakan dana karcis,” ucapnya.

Editor : Kholistiono

Bukit Pandang Gunung Kendeng Pati Bakal Dilengkapi Jembatan Goyang dan Flying Fox

Sejumlah pengunjung tengah berada di spot “I Love U” dan rumah pohon di Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Desa Durensawit, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Banyaknya minat wisatawan yang berkunjung di Bukit Pandang Ki Santa Mulya, kawasan Pegunungan Kendeng Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati, membuat pengelola akan menambahkan fasilitas baru. Salah satu yang akan ditambahkan, antara lain jembatan goyang, flying fox dan outbond.

“Sejak kita buka 18 Januari 2017 lalu, pengunjung setiap hari makin banyak. Bahkan, kita hampir kewalahan untuk menempatkan parkir sepeda motor dan mobil. Namun, kita akan tetap gunakan sistem membanjar dan mengutamakan keamanan karena ini kerja bareng dengan pemuda karang taruna,” kata pengelola Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Krisno, Senin (6//3/2017).

Beberapa pengunjung diakui meminta untuk menambah fasilitas berupa kegiatan wisatawan. Karena itu, Krisno rencananya dalam waktu dekat akan menambah fasilitas outbond, jembatan goyang, dan flying fox yang menghubungkan dua bukit gunung.

Namun, Krisno mengaku masih terkendala dua hal, yaitu dana dan pengetahuan untuk membuka fasilitas flying fox dan jembatan goyang. Soal dana, ia masih menunggu dana dari biaya parkir Rp 2 ribu per sepeda motor dan donasi dari berbagai pihak untuk melengkapi fasilitas baru.

Baca juga : Bukit Pandang di Durensawit Pati Dibanjiri Ribuan Wisatawan

Terkait teknis flying fox dan jembatan goyang, ia akan menyekolahkan pemuda karang taruna agar memiliki bekal untuk mengurus teknis penggunaan flying fox dan jembatan goyang. “Ini memang dana pribadi dan dikelola pemuda karang taruna. Jadi, kalau mau menambah fasilitas, kita andalkan pemasukan dari parkir Rp 2 ribu untuk sepeda motor dan Rp 5 ribu untuk mobil,” ucap Krisno.

Tak hanya soal penambahan wahana baru, penambahan fasilitas berupa kamar kecil dan musala juga masih terkendala dana. Sementara dari pemerintah daerah, Krisno mengaku masih belum ada perhatian. Padahal, keberadaan bukit pandang dinilai tidak hanya mendongkrak potensi wisata di Kecamatan Kayen, tetapi juga Kabupaten Pati seluruhnya.

Dia berharap, keberadaan bukit pandang tidak hanya mendongkrak potensi pariwisata di Kabupaten Pati, tetapi juga perekonomian masyarakat setempat. Saat ini saja, sudah ada sekitar sepuluh warung yang berjualan di sepanjang jalan setapak menuju puncak bukit pandang.

Editor : Kholistiono

Bukit Pandang di Durensawit Pati Dibanjiri Ribuan Wisatawan

Pengunjung tengah berfoto di spot “I Love U” Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Desa Durensawit, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati saat ini memiliki destinasi wisata berupa bukit pandang yang elok dipandang. Adalah Bukit Pandang Ki Santa Mulya di kawasan perbukitan Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati yang saat ini dibanjiri ribuan wisatawan, khususnya di hari libur.

Pengelola Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Krisno mengatakan, banyaknya pengunjung yang datang disebabkan adanya penambahan sejumlah fasilitas berupa spot-spot cantik untuk selfie. Salah satunya, spot berbentuk “I Love U” yang terbuat dari bambu dan rumah pohon yang paling sering digunakan untuk selfie.

“Pada saat awal dibuka, memang pengunjungnya baru dari warga sekitar. Setelah ada penambahan fasilitas berupa tempat-tempat yang nyaman untuk menikmati pemandangan hamparan Kabupaten Pati dan pegunungan Kendeng, saat ini dikunjungi rata-rata 500 orang setiap hari. Pada weekend dari Jumat hingga Minggu, pengunjung bisa lebih dari seribu,” ungkap Krisno kepada MuriaNewsCom, Senin (6/3/2017).

Akses jalan untuk menuju kawasan wisata ini sangat mudah. Dari jalan beraspal menuju Desa Durensawit, pengunjung tinggal naik ke kawasan perbukitan Pegunungan Kendeng yang sudah diberikan tangga batu. Butuh waktu sekitar lima menit untuk sampai ke puncak bukit pandang.

Di sana, wisatawan disuguhkan satu panorama Pegunungan Kendeng yang masih sangat hijau dan hamparan tanah Kabupaten Pati pada bagian bawah, serta cakrawala Laut Utara Jawa. Di puncak bukit, ada sekitar tiga gerdu untuk duduk santai menikmati udara segar, serta beberapa tempat duduk terbuat dari kayu.

Pada bagian bawah puncak, ada tiga spot cantik untuk berfoto, yakni tempat duduk dari kayu, spot “I Love U” dan rumah pohon. Sebagian besar pengunjung berasal dari anak-anak muda, beberapa di antaranya pasangan yang sudah berkeluarga.

Tak tanggung-tanggung, beberapa pengunjung berasal dari luar daerah seperti Kudus, Brebes, Boyolali, Semarang, Yogyakarta, dan Tuban. Beberapa mahasiswa yang datang juga berasal dari Medan. Kendati begitu, sebagian besar pengunjung masih berasal dari Kabupaten Pati.

Shinta Kristiani, misalnya. Pelajar asal Desa Karang Gempol, Kayen ini sudah beberapa kali mengunjungi bukit pandang. Dia selalu memilih hari libur dan weekend untuk mengunjungi bukit pandang. Menurutnya, Bukit Pandang Ki Santa Mulya menjadi satu-satunya spot paling menarik untuk selfie.

Editor : Kholistiono

Air Terjun Grojogan Papringan di Kuwawur Pati Berpotensi Jadi Objek Wisata

Seorang anak tengah bermain air di bawah Air Terjun Grojogan Papringan di Desa Kuwawur, Sukolilo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Air terjun di Desa Kuwawur, Kecamatan Sukolilo, Pati berpotensi menjadi destinasi objek wisata yang cukup menarik. Sebagian penduduk setempat menyebut air terjun tersebut dengan nama “Grojogan Papringan.”

Grojogan diambil dari kata bahasa Jawa yang berarti air yang mengalir secara deras, sedangkan papringan berarti bambu. Nama tersebut dipilih warga, karena air terjun di Desa Kuwawur berada di kawasan hutan bambu.

Pegiat pariwisata Pegunungan Kendeng, Krisno mengatakan, pengunjung harus melewati kawasan hutan bambu sebelum sampai ke lokasi Grojogan Papringan. Meski begitu, akses untuk menuju air terjun sangat mudah karena sudah ada jalan khusus bagi pejalan kaki.

“Pemandangannya cukup menarik. Pengunjung disajikan satu panorama tempo dulu, masih klasik dan asri. Air terjun di Desa Kuwawur menjadi salah satu mutiara terpendam di kawasan Pegunungan Kendeng,” ujar Krisno, Selasa (28/2/2017).

Saat ini, air terjun dengan ketinggian 15 meter tersebut sebatas dikunjungi anak-anak, pemuda dan penduduk sekitar. Sebab, tidak banyak orang yang tahu kawasan tersebut, mengingat belum ada kepedulian dari warga untuk melirik air terjun Grojogan Papringan sebagai potensi wisata.

“Maunya nanti anak-anak karang taruna yang mengelolanya. Tapi, belum ada yang mengarahkan. Padahal, potensi wisatanya cukup bagus. Nuansa masih sangat alami sekali. Air terjun di tengah perkebunan bambu,” tambahnya.

Tidak jauh dari air terjun, terdapat sebuah gua. Keberadaan Gua Patung Jaran dinilai akan menambah nilai wisata di Desa Kuwawur. Krisno berharap, dinas terkait bisa mengembangkannya sebagai salah satu destinasi wisata di wilayah Pati Selatan.

Editor : Kholistiono

Grojogan Kalimancur di Lasem yang Oke Jadi Tujuan Wisatamu

Beberapa wisatawan saat menikmati kesejukan air Grojogan Kalimancur di Rembang.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Beberapa wisatawan saat menikmati kesejukan air Grojogan Kalimancur di Rembang.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Rembang, yang terkenal dengan julukan Kota Garam, ternyata juga memiliki potensi wisata alam selain pantai, yang layak menjadi jujugan Anda untuk menghabiskan waktu libur. Salah satunya adalah Air Terjun atau Grojogan Kalimancur.

Kalimancur, merupakan wisata air terjun empat tingkat, yang letaknya di wilayah Dusun Sidorejo, Desa Gowak, Kecamatan Lasem, atau tepatnya berada di kawasan hutan Perhutani KPH Kebonharjo Petak 7 RPH Kajar BKPH Gunung Lasem.

Untuk mencapai tempat ini, pengunjung harus memarkirkan kendaraannya di tempat parkir yang telah disediakan atau di pekarangan rumah warga. Untuk biaya parkir, dikenakan tariff sebesar Rp 3 ribu. Kemudian, pengunjung berjalan kaki sekitar 800 meter dari Desa Gowak untuk menuju Grojogan Kalimancur yang berada di bawah bukit Pegunungan Gowak.

Namun jangan khawatir, dengan berjalan kaki menyusuri hutan lindung selama hampir 20 menit, Anda akan disuguhkan dengan panorama alam berupaka perbukitan dan area persawahan nan hijau yang sangat indah. Begitu sampai, pengunjung akan langsung dibuat kagum dengan air terjun tingkat dua setinggi 20 meter lebih. Kemudian di bawahnya terdapat air terjun tingkat satu yang lebih besar.

Istoyo, salah seorang warga Desa Gowak yang juga mengelola Grojogan Kalimancur mengatakan, jika Grojogan Kalimancur mulai dikenal publik sekitar setahun terakhir. Cukup banyak, wisatawan yang mulai datang untuk menikmati keindahan Grojogan Kalimancur.

“Bahkan, ada juga warga yang kemah di tempat ini. Bukan hanya warga Rembang saja, tapi warga dari Tuban, Jawa Timur, juga pernah berkemah di tempat ini. Kemudian, mereka juga jelajah alam di sini,” ungkapnya.

Menurutnya, dulu, tempat ini cukup sulit untuk diakses, sebab, tidak ada jalan dan masih berupa semak belukar. Setelah ada beberapa warga yang berinisiatif untuk membuatkan jalan setapak, akhirnya, tempat tersebut mulai banyak dikenal, dan kini banyak dikunjungi wisatawan, baik dari Rembang maupun luar Rembang.

Sementara itu, Masudi, salah pengunjung wisatawan Asal Kaliori mengatakan, jika panorama yang terdapat di kawasan Grojogan Kalimancur sangat indah, sehingga, cocok digunakan reefreshing untuk menghilangkan kepenatan kerja.

“Kebetulan ini kan hari libur kerja, jadi kita coba menikmati liburan ke sini. Kita ke sini ramai-ramai, jadi lebih seru. Apalagi melihat Grojogan Kalimancur yang ternyata luar biasa. Ini potensi alam yang harus dikembangkan, biar pengunjung lebih banyak ke sini,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Menikmati Keindahan Waduk Kedung Ombo dari Atas Perahu

 Perahu di Waduk Kedung Ombo sedang bersiap membawa penumpang berkeliling melihat pemandangan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Perahu di Waduk Kedung Ombo sedang bersiap membawa penumpang berkeliling melihat pemandangan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Keindahan objek wisata Waduk Kedung Ombo (WKO) ternyata tidak hanya bisa dilihat dari daratan saja. Tetapi bisa juga dinikmati dari atas perahu mesin yang banyak tersedia di kawasan wisata itu.

Ongkos naik perahu ini boleh dibilang murah. Setiap orang hanya dikenakan Rp 10 ribu saja.  “Dengan biaya sebesar ini, kita antarkan pengunjung berkeliling kawasan waduk selama 30 menit. Dari dermaga sini mengitari pulau-pulau di tengah waduk dan kembali ke dermaga,” kata Yeni Purwanto (21), salah satu tukang perahu di WKO.

Di tengah kawasan WKO memang terlihat ada beberapa pulau. Ada yang ukurannya besar dan kecil. Pada pulau-pulau itu masih terdapat banyak pohon penghijuan dan tanaman hias. 

Dulunya, pulau itu merupakan kawasan pedesaan yang masuk wilayah Boyolali. Seiring dibangunnya waduk untuk keperluan irigasi pertanian, warga di desa-desa itu direlokasi ke tempat lainnya.

Jumlah perahu yang ada di WKO ternyata cukup banyak. Total ada 11 perahu yang hampir semuanya milik warga Bonolayar, Sragen yang letaknya di pinggir timur waduk.

Pemilik perahu ini mencari penumpang bergantian, sesuai antrian. Mirip seperti di pangkalan ojek. Pada hari biasa, tiap perahu hanya dapat muatan satu kali jalan. Tiap muatan, biasanya ada 40 penumpang. Kalau hari Minggu atau hari besar tukang perahu bisa narik dua sampai tiga kali.

“Penumpang perahu paling ramai kalau lebaran. Kalau hari biasa, seperti ini kondisinya,” kata Yeni yang mengaku sudah ikut belajar jadi tukang perahu sejak kelas tiga SD itu.

Beberapa pengunjung yang dimintai komentarnya mengaku cukup senang bisa mengelilingi WKO naik perahu mesin berkapasitas sekitar 50 orang itu. Dengan melihat pemandangan dari perahu bisa membuat pikiran fresh.

“Setiap ke sini sama istri, saya pasti sempatkan naik perahu kalau cuaca tidak hujan. Setelah berkeliling pikiran rasanya jadi segar dan rasa capek bisa hilang. Habis muter-muter naik perahu terus makan ikan bakar jadi tambah semangatnya,” kata Agus Winarno, warga Jajar, Kelurahan Purwodadi.

Editor : Kholistiono

Berwisata di Waduk Kedung Ombo Belum Lengkap Kalau Tidak Bawa Pulang Oleh-oleh Khas yang Satu Ini

Beberapa ikan terlihat sedang dibakar dan siap untuk disajikan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Beberapa ikan terlihat sedang dibakar dan siap untuk disajikan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Hampir di semua lokasi wisata pasti punya oleh-oleh khas yang bisa dibawa pulang pengunjung. Termasuk juga di lokasi wisata Waduk Kedung Ombo (WKO).

Oleh-oleh khas yang ada di sini jenisnya kuliner, tepatnya ikan bakar.“Saya sudah beberapa kali berkunjung ke sini. Setiap pulang, pasti bawa ikan bakar buat oleh-oleh yang di rumah dan tetangga,” kata Rumiyanti, salah satu pengunjung yang mengaku berasal dari Blora itu.

Di sekitar lokasi wisata yang diresmikan Presiden Soeharto tahun 1991 itu memang terdapat banyak warung yang menyediakan menu ikan bakar. Jumlahnya mencapai belasan. 

Sebagian besar, ikan yang tersedia adalah jenis nila. Ada juga jenis ikan mas dan tombro. Terkadang, ada pula yang menyediakan ikan segar hasil tangkapan dari kawasan WKO. Tetapi, jumlahnya tidak begitu banyak dan tidak selalu ada setiap hari.

“Ikan bakar ini dijamin segar karena diambil langsung dari karamba yang ada di sekitar waduk. Di sekitar waduk, banyak warga yang membudidaya ikan di dalam karamba. Selain di dalam obyek wisata, di luar sana juga banyak warung yang menjual ikan bakar,” kata Mbak Sri, salah satu penjual ikan bakar.

Harga ikan bakar di situ boleh dibilang cukup terjangkau. Harga ikan yang sudah dibakar mulai Rp 7.500 sampai Rp 40.000 per ekor. Harga ini tergantung besar kecilnya ikan.

Bagi yang ingin menikmati ikan bakar di tempat, juga disediakan nasi ditambah sambal dan lalapan. Beberapa pengunjung bahkan ada yang hanya beli ikan plus sambal dan lalapan saja. Sementara bekal nasinya sudah bawa dari rumah. 

Biasanya, mereka ini menggelar tikar di pinggiran waduk dan menyantap makanan sambil melihat pemandangan. Di sekitar obyek wisata, banyak sekali tempat-tempat teduh yang biasa dipakai istirahat dan makan.

Lalu bagaima rasa ikan bakar WKO ini? Jangan salah, meski hanya dikasih bumbu sederhana, cita rasa ikan bakar disitu tidak kalah lezat dengan masakan restoran besar. Terlebih, jika makannya rame-rame, menu ikan bakarnya jadi terasa lebih lezat.

“Menu ikan bakar Kedung Ombo memang top. Saya tadi sudah habis dua ikan bakar ukuran besar,” kata Amali, warga Jepara yang mampir kesitu dalam perjalanan menuju Solo.

 Editor : Kholistiono

Embung Mini di Jrahi Pati Jadi Destinasi Wisata Baru

 Sejumlah pengunjung tengah berwisata di Embung Mini Desa Jrahi, Gunungwungkal, Pati, Sabtu (26/11/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah pengunjung tengah berwisata di Embung Mini Desa Jrahi, Gunungwungkal, Pati, Sabtu (26/11/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebuah embung mini buatan yang digunakan sebagai cadangan air di Desa Jrahi, Kecamatan Gunungwungkal, Pati, saat ini dimanfaatkan sebagai destinasi wisata baru. Setiap akhir pekan, embung mini selalu dipadati pengunjung lokal dari berbagai daerah.

Embung dengan kedalaman empat meter, luas 3.200 meter persegi dengan kapasitas 11.300 meter kubik tersebut dibuat untuk keperluan pengairan. Namun, pengunjung lokal memanfaatkannya untuk wisata.

Empat gazebo cantik yang ditaruh di setiap sudut embung membuat pengunjung semakin betah berlama-lama di sini. Norma Risdan, misalnya. Warga Desa Randukuning, Pati Kota ini rela jauh-jauh datang ke embung mini karena penasaran.

“Saya penasaran dengan embung buatan di Desa Jrahi yang saat ini jadi destinasi wisata. Tempatnya asyik dan bagus dengan pemandangan kolam air, pegunungan Muria, dan Vihara Saddhagiri. Lokasinya juga dekat dengan Air Terjun Grenjengan Sewu,” ujar Norma, Sabtu (26/11/2016).

Sayangnya, embung mini masih belum dikelola dengan baik. Keberadaan embung yang saat ini mulai dimanfaatkan menjadi destinasi wisata, masih sebatas berfungsi sebagai cadangan air dan irigasi.

“Memang banyak muda-mudi yang datang untuk berwisata. Tapi, belum dikelola. Tempat parkirnya juga belum ada. Juga tidak ada tiket masuk. Kami tengah melakukan pembahasan bersama sebelum memutuskan untuk mengelola embung mini sebagai destinasi wisata,” kata Juremi, Sekretaris Desa Jrahi.

Editor : Kholistiono

3 Air Terjun di Jepara Ini Bikin Wisatamu Berkesan Selamanya

Wisatawan menikmati pemandangan di Air Terjun Kedung Ombo Jepara. (Istiemewa)

Wisatawan menikmati pemandangan di Air Terjun Kedung Ombo Jepara. (Istiemewa)

MuriaNewsCom, Jepara – Objek wisata di Jepara memang tidak ada habisnya dieksplorasi. Di antaranya adalah objek wisata alam seperti halnya air terjun.

Dikutip dari beberapa sumber yang diolah,sSetidaknya ada tiga objek wisata air terjun di Jepara yang bikin wisatawan betah berlama-lama menikmatinya.

 

  1. Air Terjun Songgo Langit
Suasana objek wisata Air Terjun Songgolangit, Jepara. (Istimewa)

Suasana objek wisata Air Terjun Songgolangit, Jepara. (Istimewa)

Objek wisata ini terletak di Desa Bucu, Kecamatan Kembang 30 km sebelah utara dari Kota Jepara. Air terjun ini mempunyai ketinggian 80 meter dan lebar 2 meter.

Panorama alam di sekitar objek wisata ini begitu indah dan udaranya cukup nyaman, sehingga sangat cocok untuk acara santai atau kegiatan rekreasi lainnya.

Di tempat pula banyak dijumpai kupu-kupu yang beraneka ragam jumlahnya dengan warna-warni yang cukup indah. Untuk mencapai objek wisata tersebut dapat ditempuh dengan kendaraan roda 2 maupun roda 4 dengan kondisi jalan beraspal.

 

  1. Air Terjun Gembong
Sejumlah wisatawan asyik menikmati Air Terjun Gembong, Jepara. (istimewa)

Sejumlah wisatawan asyik menikmati Air Terjun Gembong, Jepara. (istimewa)

Objek wisata Air Terjun Gembong terletak di Dukuh Papasan, Bangsri, Jepara.

Dengan luasnya 49.246 Ha, Sebelah utara berbatasan dengan Desa Srikandang, sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Tanjung, pada sebelah barat berbatasan dengan Desa Kepuk, dan di sebelah timur berbatasan dengan Desa Dudakawu.

Air Terjun Gembong terletak tidak jauh dari Air Terjun Kedung Ombo. Pengunjung bisa berjalan kaki sekitar 30 menit melewati jalan setapak yang telah disediakan. Tidak seperti Kedung Ombo, Air Terjun Gembong dilewati dengan sebuah perjalanan  yang lebih asyik dan menantang. Selain pengunjung tracking, wisatawan juga dapat melakukan olahraga motor trail di area ini karena medannya sangat mendukung dan menantang.

  1. Air Terjun Kedung Ombo
Suasana wisataw di Air Terjun Kedung Ombo, Jepara. (Istimewa)

Suasana wisataw di Air Terjun Kedung Ombo, Jepara. (Istimewa)

Objek  wisata Air Terjun Kedung Ombo terletak di Dukuh Papasan, Bangsri, Jepara.

Terdapat tumpukan bebatuan rapi berbentuk persegi, layaknya buatan manusia. Itu merupakan hasil dari aktivitas alamiah tanpa campur tangan manusia sama sekali.

Jalur trekking menuju Air terjun Kedung Ombo memiliki panjang 2Km dan selama perjalanan akan disuguhkan pemandangan indah yang masih alami. Dengan melewati medan persawahan, hutan dan sungai bebatuan yang masih alami serta udara yang sejuk sehingga membuat perjalanan semakin menyenangkan.

Editor : Akrom Hazami

Tarian Gusjigang Pukau Warga Kudus di Jakarta

Tarian Gusjigang ini membuat kagum masyarakat Kudus yang ada di Jakarta, dalam acara yang digelar di anjungan Jawa Tengah TMII Jakarta, Minggu (16/10/2016).(MuriaNewsCom/Merie)

Tarian Gusjigang ini membuat kagum masyarakat Kudus yang ada di Jakarta, dalam acara yang digelar di anjungan Jawa Tengah TMII Jakarta, Minggu (16/10/2016).(MuriaNewsCom/Merie)

MuriaNewsCom, Jakarta – Warga Kudus yang ada di Jakarta rupanya benar-benar rindu dengan seni, budaya, kuliner, dan aneka produk khas kota tersebut. Mereka sangat antusias dengan berbagai hal itu.

Salah satu buktinya adalah saat ribuan warga Kudus yang datang ke acara Pagelaran Pentas Seni dan Budaya Kudus Ngrembaka Kudus Raharja, yang digelar di anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Minggu (16/10/2016).

Warga Jakarta asal Kudus memanfaatkan kesempatan ini untuk bernostalgia dengan segala bentuk budaya, seni, dan kuliner asal Kudus. Bahkan, mereka tidak beranjak pulang hingga acara tersebut selesai pada siang harinya. Padahal, mereka datang sejak pukul 06.00 WIB.

Termasuk saat Tarian Gusjigang dipertontonkan. Pengunjung antusias dan menikmati setiap gerak gemulai penari, yang menggambarkan tentang spirit atau semangat warga Kudus yang identik dengan Bagus, Ngaji, dan Pinter Dagang itu.

”Tarian tersebut baru kali pertama saya lihat. Makanya saya antusias melihatnya. Dan rupanya memang sangat bagus. Sehingga saya bisa melihat semangat warga Kudus yang memang identik dengan Gusjigang,” terang Halim, warga Slipi, asal Rendeng, Kudus, yang datang dalam acara tersebut.

Ada dua tarian yang dibawakan, dengan tema yang menggambarkan semangat warga Kudus itu. Sehingga masyarakat Jakarta asal Kudus, bisa menikmati tari-tarian tersebut.

Selain dihadiri pejabat Pemkab Kudus seperti Kepala Disbudpar Yuli Kasiyanto, Kepala Kantor Perpusatakaan dan Arsip Daerah Kudus Nanang Usdiarto dan Ketua Komisi B DPRD Kudus Muhtamat. Selain itu, juga hadir masyarakat yang tergabung dalam Forum Komunikasi Masyarakat Kudus (FKMK).

Editor: Merie

Ribuan Orang Datangi Festival Seni Kudus di Taman Mini

Masyarakat Kudus di Jakarta memadati anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dalam pagelaran yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus, Minggu (16/10/2016).(MuriaNewsCom/Merie)

Masyarakat Kudus di Jakarta memadati anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dalam pagelaran yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus, Minggu (16/10/2016).(MuriaNewsCom/Merie)

MuriaNewsCom, Jakarta – Suasana meriah terlihat di anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Minggu (16/10/2016). Sejak pagi, anjungan itu didatangi ribuan masyarakat.

Ya, kedatangan mereka adalah untuk menyaksikan Pagelaran Pentas Seni dan Budaya Kudus Ngrembaka Kudus Raharja, yang digelar di sana. Ribuan masyarakat Jakarta yang kebanyakan berasal dari Kabupaten Kudus, datang untuk bisa menyaksikan pagelaran itu.

Sejak pagi, anjungan sudah ramai didatangi pengunjung. Mereka langsung menyerbu berbagai stand yang ada di sana. Termasuk salah satu yang paling dicari adalah makanan khas Kudus seperti sate kerbau, garangasem, dan lentog.

Ari, (40), warga Kudus yang tinggal di Bekasi, mengatakan dirinya sengaja datang mengajak keluarga ke acara tersebut. Selain kangen dengan kuliner kampung halaman, event tersebut juga menjadi ajang kangen-kangenan dengan warga Kudus lainnya.

“Begitu saya mendapat kabar ada acara ini, apalagi ada menu makanan khas seperti lentog yang dihidangkan di sini, saya memang sudah meniatkan diri untuk datang. Karena saya kangen dengan lentog Tanjung,” katanya.

Rasa kangen Ari akan lentog itu, memang wajar. Pasalnya, kuliner khas Kudus tersebut memang tidak bisa ditemukan di mana-mana. Termasuk juga di Jakarta. ”Kalau soto Kudus bisa didapatkan di Jakarta ini. Tapi kalau lentog memang hanya bisa didapatkan di Kudus. Makanya, saya senang datang ke acara ini,” tuturnya.

Keinginan untuk menikmati lentog ini, juga datang dari ribuan warga Kudus yang ada di Jakarta lainnya. Mereka ramai-ramai menyantap lentog bersama-sama, yang membuat suasana menjadi semakin meriah.

Kegiatan itu sendiri, digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus. Tujuannya jelas, untuk memanjakan masyarakat yang datang, terutama warga Kudus di ibukota.

Di sana juga ada stand yang berisi beraneka penganan dan produk kerajinan Kudus diserbu pengunjung. Ada stand bordir, batik, gebyok, jenang, makanan ringan, jamu, pisau, dan berbagai stand yang menampilkan produk-produk unggulan Kudus, diserbu pengunjung. Pengunjung asyik memilih barang-barang apa saja yang disukai dan bisa dibeli.

Editor: Merie

Daya Tarik Plorotan Semar di Sumbersari Pati Masih Terabaikan

 Sejumlah pengunjung tengah mandi di bawah air terjun Plorotan Semar, Desa Sumbersari, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Sejumlah pengunjung tengah mandi di bawah air terjun Plorotan Semar, Desa Sumbersari, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati yang dikelilingi pegunungan secara sambung-menyambung dari Muria, Pati Ayam hingga Kendeng memberikan daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Sayangnya, daya tarik alam yang potensial tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah.

Di Plorotan Semar, Desa Sumbersari, Kecamatan Kayen, misalnya. Daya tarik air terjun bertingkat tiga tersebut sudah mulai banyak dikunjungi wisatawan lokal. Namun, tidak ada sarana dan prasarana, serta fasilitas untuk mendukung aktivitas wisatawan.

Berbekal spanduk bertuliskan “Obyek Wisata Lorotan Semar”, warga setempat memasangnya pada bagian depan sebelum masuk objek wisata. Tak perlu tiket masuk, pengunjung cukup membayar biaya parkir Rp 2 ribu untuk sepeda motor yang dititipkan warga.

Hal itu mendapatkan perhatian dari Ari Sofyan, salah satu pengunjung yang mandi di air terjun tingkat kedua. “Tempat ini sebetulnya sangat bagus dan berpotensi menjadi kawasan wisata alam di wilayah selatan. Sayangnya, tidak ada perhatian khusus dari pemerintah. Tidak ada fasilitas, sarana-prasarana, atau keamanan,” kata Ari.

Padahal, lanjutnya, sebagian besar pengunjung berasal dari anak-anak hingga remaja. Kondisi itu dikhawatirkan akan membahayakan anak-anak yang tidak tahu medan. Sebab, perlu melewati jalan terjal ke bawah untuk sampai ke lokasi wisata.

Senada dengan Ari, salah satu pengunjung lainnya, Sinarto berharap ada upaya penanganan dari pemda. Selain dunia pariwisata di Pati kian berkembang, penanganan yang serius diharapkan bisa mendongkrak perekonomian warga setempat, termasuk pendapatan asli daerah (PAD).

Editor : Kholistiono

 

Plorotan Semar di Sumbersari Kayen Tawarkan Air Terjun Bertingkat Tiga

 Sejumlah pengunjung tengah mandi di bawah air terjun Plorotan Semar, Sumbersari, Kayen. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Sejumlah pengunjung tengah mandi di bawah air terjun Plorotan Semar, Sumbersari, Kayen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Satu lagi mutiara terpendam yang bisa menjadi objek wisata menawan di kawasan Pegunungan Kendeng. Namanya Plorotan Semar yang berada di Desa Sumbersari, Kecamatan Kayen, Pati.

Tak sekadar air terjun, Plorotan Semar menawarkan satu keunikan air terjun dari sungai dengan tiga tingkat. Masing-masing tingkat berjarak sekitar tiga meter, sehingga pengunjung bisa memilih di tingkat mana ia akan mandi.

Dari Jalan Raya Kayen, Plorotan Semar bisa ditempuh melalui Desa Sumbersari yang berjarak sekitar 6 km. Dari pemukiman warga, air terjun ini hanya berjarak sekitar 20 meter. Kendati belum banyak yang tahu, tetapi sejumlah pengunjung dari sejumlah daerah banyak yang berdatangan di sini.

Sinarto, misalnya. Warga Desa Growong Lor, Kecamatan Juwana ini berkunjung ke Plorotan Semar untuk menghabiskan weekend Sabtu-Minggu. “Air terjunnya berbeda dengan yang lainnya. Punya tiga tingkat air terjun dan suasana masih sangat asri,” ucap Sinarto kepada MuriaNewsCom, Sabtu (13/8/2016).

Selain itu, Plorotan Semar diakui memiliki view yang menarik, berada di antara tebing-tebing dan perkebunan warga. Bebatuan yang ada di Plorotan Semar juga mirip seperti batu yang ada di dalam gua.

“Saya memang suka kawasan wisata air terjun. Hampir semua air terjun di Pati sudah saya kunjungi. Dari beragam keindahan alam yang ditawarkan di Pati, Plorotan Semar menjadi salah satu yang direkomendasikan. Sangat cocok untuk relaksasi, kembali ke alam,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

 

Dari Bisnis Batik Bakaran, Yuliati Kembangkan Wisata Industri Batik

 Sejumlah siswa SD tengah belajar membatik dalam agenda wisata industri batik di rumah Yuliati, Desa Langenharjo, Juwana. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Sejumlah siswa SD tengah belajar membatik dalam agenda wisata industri batik di rumah Yuliati, Desa Langenharjo, Juwana. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Bisnis memang butuh sentuhan inovasi dan kreativitas. Selain itu, bisnis juga butuh sisi lain yang tak hanya berkutat pada “uang”, tetapi juga pengabdian.

Hal itu yang dilakukan Yuliati, pemilik usaha Yuliati Warno Batik. Dari usaha jualan batik Bakaran melalui online, pameran dan galeri, Yuliati kini mengembangkan wisata industri batik di Desa Langenharjo RT 7 RW 3, Kecamatan Juwana.

Wisata industri diakui sebagai upaya bagi Yuliati untuk mengabdi kepada masyarakat. Dalam wisata industri batik, siapapun diperbolehkan untuk berkunjung dan belajar tanpa dipungut biaya, mulai dari kunjungan pribadi, sekolah, kampus atau instansi lainnya.

“Kalau mau wisata industri batik dengan melihat-lihat, proses membuat batik Bakaran itu bagaimana, dan nanya-nanya, tidak dipungut biaya. Kalau praktik membuat batik langsung, dikenakan biaya,” ujar Yuliati kepada MuriaNewsCom.

Namun, Yuli tidak mematok biaya yang mahal. Praktik membuat batik tulis dengan ukuran sapu tangan sampai pewarnaan hanya dikenakan biaya Rp 5 ribu. Bila dilengkapi dengan figura sebagai pajangan dikenakan Rp 15 ribu.

Sebagian besar pengunjung yang datang ke tempat Yuli adalah anak-anak sekolah, mahasiswa yang sedang melakukan riset, kunjungan dari organisasi kemahasiswaan, dan lain sebagainya. Bahkan, rombongan dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pernah mengadakan wisata industri batik di rumah Yuli.

“Rata-rata pengunjung praktik membuat batik sapu tangan. Sebab, prosesnya cepat dan bisa langsung jadi. Beda kalau kain panjang yang akan dijadikan baju, prosesnya memakan waktu yang cukup lama. Misi kami hanya ingin mengajarkan generasi penerus bangsa untuk mencintai dan melestarikan batik sebagai warisan budaya leluhur Indonesia untuk dunia,” pungkasnya.

 Editor : Kholistiono

Memukau Mata dan Hati dengan Kemegahan Ranu Kumbolo

f- iklan wisata

MuriaNewsCom, Kudus – Menyempatkan diri menikmati keindahan Indonesia bisa dengan berbagai cara. Salah satunya dengan membiarkan diri terpukau pada pesona kekayaan alam Indonesia. Apalagi harga tiket pesawat semakin murah. Banyaknya promo yang diadakan maskapai membuka kesempatan kita untuk semakin sering berkeliling Indonesia.

Promo Citilink adalah salah satu yang bisa kita andalkan untuk hal tersebut. Maskapai favorit ini sering sekali mengadakan promo menarik untuk masyarakat Indonesia. Namun bila Anda merupakan orang yang suka mencari promo, maka mencoba layanan web travel akan menjadi pilihan yang tepat. Di Indonesia sendiri terdapat layanan Traveloka yang biasa memberikan promo-promo yang bisa memangkas budget travel Anda.

Penerbangan kali ini cobalah menuju Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang. Dari sana, beralihlah ke Pasar Tumpang, lalu lanjut ke Ranu Pani. Ranu Pani inilah titik awal untuk menemukan kemegahan lain dari Indonesia.

Kemegahan itu datang dari Ranu Kumbolo. Telaga seluas 8 hektar ini merupakan lokasi peristirahatan favorit pada pendaki Gunung Semeru. Di sinilah mata dan hati kita akan terpukau dengan paduan alami yang mungkin belum ada yang menyamainya di Indonesia.

Ranu Kumbolo berada di ketinggian 2.390 meter di atas permukaan laut. Hal tersebut menjadikannya sebagai danau tertinggi di Pulau Jawa. Untuk dapat mencapai danau ini, kita harus menempuh pendakian penuh tanjakan berliku selama kurang lebih 4-5 jam.

Spot matahari terbit paling megah di Indonesia

Jika Anda sangat menyukai pemandangan matahari terbit, maka di sinilah tempat yang paling tepat untuk menikmatinya secara sempurna. Para pendaki kerap sengaja mencapai danau ini pada malam hari. Mereka kemudian mendirikan tenda untuk beristirahat sembari menunggu matahari pagi.

Pemandangan malam memang tertutup kabut tebal. Namun panorama sesungguhnya akan nampak perlahan dengan cantik ketika subuh tiba. Matahari perlahan muncul di antara bukit Semeru. Sinar matahari pelan-pelan menerangi danau dan menyisihkan kabut. Anda akan terpukau ketika kabut dan embun telah habis karena saat itulah kemegahan sesungguhnya Ranu Kumbolo akan terlihat.

Warna kuningan rerumputan berpadu sempurna dengan coklatnya tanah, hijaunya bukit, serta biru kehijauannya air danau. Ditambah lagi dengan latar belakang puncak Mahameru yang sangat jelas. Bunga edelweis yang terkenal sebagai bunga abadi juga tumbuh subur di dekat Ranu Kumbolo. Sesekali Anda akan melihat belibis berkeliaran di sekitar danau. Anda pasti semakin tak tahan untuk segera mengabadikannya dalam kamera.

Sumber air bersih

Danau yang berada dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini merupakan sumber air bersih bagi para pendaki. Air danau ini begitu menyegarkan, bahkan bisa diminum tanpa harus direbus. Kebersihan dan kesegaran ini memang sangat dijaga. Para pendaki sama sekali dilarang untuk berenang, mandi, buang sampah, apalagi buang air di danau ini.

Di sekitar danau juga menjadi tempat penghormatan bagi para pendaki Gunung Semeru yang telah meninggal dunia dalam pendakian. Gunung Semeru memang terkenal sangat menantang dan sulit untuk ditaklukan. Di Ranu Kumbolo lah kita akan menemukan banyak plakat berisi nama dan kata-kata kenangan untuk para pendaki tersebut.

Persiapkan diri dengan matang

Mengingat perjalanan ke Ranu Kumbolo juga sama beratnya dengan pendakian ke puncak Mahameru, maka para pendaki harus benar-benar mempersiapkan diri dengan matang. Sebelum mendaki, kita harus menunjukan surat keterangan sehat dari dokter dan fotokopi kartu identitas kepada petugas di pos pendaftaran Ranu Pani.

Demi keamanan, kita juga bisa menyewa jasa pemandu dari penduduk Tengger (penduduk asli Desa Tengger, Semeru) dengan biaya sekitar Rp100-150 ribu per hari. Mengingat suhu di Ranu Kumbolo bisa mencapai minus 5 derajat celsius pada malam hari, maka peralatan penghangat badan jangan sampai tidak dibawa. Pastikan Anda sudah mengenakan jaket tebal, kaos kaki, dan sarung tangan. Bawalah serta kantung tidur yang berkualitas baik. Untuk memeriahkan suasana saat berkemah di Ranu Kumbolo, Anda bisa saja membawa gitar kecil. (Advetorial)

Editor : Kholistiono

 

Kini Blora Punya Kakang dan Mbakyu Duta Wisata 2016

kakang mbakyu blora

Proses terpilihnya Kakang Mbakyu Duta Wisata Blora 2016, Danu dan Hana di Blora.

 

MuriaNewsCom, Blora – Kini Kabupaten Blora mempunyai Kakang dan Mbakyu Duta Wisata 2016.

Adalah Danu Santo Asmoro dan Hananing Kumalasari. Mereka dinobatkan sebagai Kakang Mbakyu Duta Wisata Blora tahun 2016. Keduanya berhasil memperoleh nilai tertinggi dari total peserta sebanyak 38 orang.

Plt Sekretaris Daerah Blora Sutikno Slamet berharap Kakang Mbakyu Duta Wisata bisa membawa pariwisata di wilayahnya semakin maju. Dari serangkaian masa karantina diharapkan peserta Duta Wisata bertambah wawasan mengenai kepariwisataan yang ada di Blora.

“Saya yakin Duta Wisata Kab Blora mampu mempromosikan pariwisata agar dikenal masyarakat luas,” harapnya dikutip dari halaman www.blorakab.go.id.

Kepala Dinas Perhubungan, Pariwisata, Kebudayaan, Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Blora Slamet Pamuji dalam sambutannya menuturkan penilaian dimulai sejak masa karantina  mulai tes tertulis, wawancara dan penampilan bakat.

Selama masa karantina peserta juga dibekali kemampuan berkomunikasi, kepribadian, etika, table manner, dan kepariwisataan. Peserta juga berkunjung ke Kampung Samin dan sentra kerajinan keramik di Desa Balong, Jepon.

“Bekal yang sudah diajarkan untuk diimplementasikan setelah mengikuti ajang Duta Wisata ini yaitu mengembangkan sektor pariwisata di Blora semakin maju,” pungkasnya.

Adapun peringkat II putra diraih Muhammad Chairul Reza dari SMA N 2 Blora, peringkat III diraih Septian Bagas Prasetyo mahasiswa Unisula Semarang. Sedangkan harapan I, II, III masing-masing diraih Mas Frillian Gerry HA dari SMA N 1 Blora, Fiky Afandriawan dari SMA N 1 Jepon, dan Ersa Baabdullah dari SMA N 2 Cepu.

Sedangkan di kategori putri peringkat II diraih Olivia Ratna Febriyanti dari SMA N 2 Blora, peringkat III diraih Armida Nabilaazmi dari SMA N 1 Cepu. Harapan I, II, III masing-masing diraih Dewi Ramadhani dari SMA N 2 Blora, Ika Audiyah Andriyani mahasiswa Undip Semarang, Jihan Nina Lestari dari SMA N 1 Tunjungan.

Sementara itu Mas Frillian Gerry H. A. terpilih sebagai peserta Kakang Terfavorit, sedangkan Renaningtyas Widi H terpilih sebagai peserta Mbakyu Duta Wisata Terfavorit.

Danu Santo Asmoro merupakan siswa SMA N 1 Blora, sedangkan Hahaning Kumalasari tercatat sebagai mahasiswi STIPRAM Yogyakarta.

Malam Grand Final Kakang Mbakyu Duta Wisata Kab. Blora tahun 2016 digelar di gedung Sasana Bhakti Blora, Jumat (29/7). Acara dihadiri unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Blora dan Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) se-Blora dan tamu undangan lainnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Abdul Hafidz : Rembang Itu Punya Segalanya

 Bupati Rembang Abdul Hafidz (kiri batik) mendampingi Aura Kasih dan Rizal Armada ketika mengunjungi Museum Kartini. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Bupati Rembang Abdul Hafidz (kiri batik) mendampingi Aura Kasih dan Rizal Armada ketika mengunjungi Museum Kartini. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Kabupaten Rembang memiliki potensi wisata yang bagus. Baik itu dari wisata pantainya, wisata sejarah ataupun wisata industri, khususnya sektor batik, yaitu Batik Lasem. Hal ini disampaikan Bupati Rembang Abdul Hafidz, ketika mengenalkan potensi wisata di Rembang kepada artis ibu kota Aura Kasih dan vokalis Band Armada yaitu Rizal.

“Rembang ini punya segalanya. Baik itu wisata pantai di antarnya Pantai Karangjahe, kemudian wisata sejarah di antarnya Museum Kartini, bangunan-bangunan kuno di Lasem, batik dan lain sebagainya,” kata Hafidz.

Dirinya berharap, kedatangan Aura Kasih dan Band Armada di Rembang, bisa melihat potensi wisata yang ada di Rembang, sehingga, nantinya secara tidak langsung, pariwisata di Rembang dapat dikenal secara luas oleh masyarakat.

“Dengan semakin banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Rembang, diharapkan perekonomian di Rembang juga ikut meningkat. Khususnya UMKM, nantinya juga kena imbas untuk bisa berkembang,” ungkapnya.

Dijadwalkan, artis ibu kota ini dijadawalkan akan mengunjungi berbagai tempat wisata di Rembang. Di antaranya. Museum Kartini, Pantai Karangjahe, wisata batik di Lasem dan lainnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto mengutarakan, yang terpenting semua budaya, semua wisata bisa terdongkrak.”Sehingga Kota Rembang bisa selalu jadi jujugan wisatawan yang melintas,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Ayu Rela Keliling Cari Sampah untuk Difoto, Ini Tujuannya

Ayu sedang memfoto sampah (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Ayu sedang memfoto sampah (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Gadis dari Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Rembang ini ternyata memiliki hobi yang berbeda dengan gadis pada umumnya. Adalah Ayu Paramitha (19), yang punya hobi memotret tumpukan sampah, dan kondisi alam di sekitarnya daripada selfie dan berfoto di tempat-tempat wisata.

Tiap kali ia berada di suatu tempat, ia langsung memotret objek-objek yang ada di sekitarnya. Mulai dari tempat sampah, benda-benda di lokasi itu, ataupun lainnya. Meski di lokasi ramai, ia tidak risih dengan hobinya ini.

Bukan tanpa alasan Ayu melakukan hal ini. Memotret sampah dan lainnya merupakan bagian dari latihan untuk mengikuti Lomba Kelompok Sadar Wiasta (Pokdarwis) yang akan berlangsung 29-31 Juli 2016, di Klaten. Bersama dua rekannya, gadis ini akan mewakili Rembang untuk bersaing dengan wakil dari daerah lain dari seluruh Jateng.

“Memfoto lingkungan ini, merupakan bentuk latihan untuk mempresentasikan sebuah sapta pesona. Di mana dalam lomba pokdarwis tersebut nantinya ada tujuh poin Sapta Pesona dan kepariwisataan,” katanya, kepada MuriaNewsCom ketika ditemui di kompleks Museum Kartini Rembang.

Tujuh poin Sapta Pesona itu ialah aman, tertib, sejuk,indah, ramah, tamah dan kenangan. “Seperti contoh saya memfoto tempat sampah ini, lantaran di situ ada poin Sapta Pesona yang berarti tantang keindahan. Selain itu, kita juga harus mendefinisikan tentang itu. Mengapa tempat sampah sampai penuh, letak tempat sampah itu strategis atau bukan, dan mengapa kok sampai penuh hingga berserakan,” ungkapnya.

Selain memfoto tempat sampah, dirinya juga berbincang dengan tukang sapu atau tukang kebersihan yang ada di sekelikingnya.

“Bila kita berbincang dengan orang atau warga yang ada di sekitar wisata, dan bila mereka meresponnya dengan baik, maka tempat itu bisa dikatakan ramah. Namun bila orang yang mengurus wisata itu tidak merespon, maka itu bisa dikatakan kurang ramah,” paparnya.

Dia melanjutkan, latihan ini memang ada berkaitan erat dengan lomba pokdarwis di Klaten mendatang.”Sebab nantinya kita akan disuruh jalan-jalan atau mengamati di tempat wisata. Dengan adanya latihan semacam ini, maka nantinya kita akan bisa tanggap dan respon terhadap kondisi yang ada di tempat wisata Klaten. Yakni bisa mengaplikasikan Sapta Pesona itu dengan kondisi yang ada,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

 

Puluhan Pramuka Saka Wanabakti Grobogan Dilatih Jadi Pemandu Wisata

 

Anggota pramuka Saka Wanabakti Purwodadi sedang mendapat pembekalan jadi pemandu wisata (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Anggota pramuka Saka Wanabakti Purwodadi sedang mendapat pembekalan jadi pemandu wisata (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Puluhan anggota pramuka Saka Wanabakti pangkalan Perum Perhutani KPH Purwodadi, Minggu (17/7/2016) mendapat pelatihan yang berbeda dari biasanya. Mereka mendapat latihan menjadi seorang pemandu wisata.

Acara pelatihan tersebut digelar di Wana Wisata Air Terjun Widuri yang terletak di petak 55 b RPH Tlogomanik, BKPH Pojok, di Desa Kemadohbatur, Kecamatan Tawangharjo. Pelatihan sengaja dilakukan pada hari Minggu karena tiap akhir pekan tempat itu paling ramai pengunjung.

“Kebetulan di wilayah kita punya potensi wisata yang cukup menarik, berupa air terjun. Makanya, sengaja adik-adik kita beri pelatihan jadi pemandu di sini. Total, ada 20 orang yang ikut pelatihan. Kegiatan ini merupakan pendalaman materi Krida Guna Wana Syarat Kecakapan Khusus (SKK) Pemanduan,” kata Ketua II Pimpinan Saka Wanabakti yang juga menjabat Wakil Administratur KPH Purwodadi Ronny Merdyanto.

 Anggota pramuka Saka Wanabakti Purwodadi selfi di depan air terjun usai mendapat pelatihan jadi pemandu wisata (MuriaNewsCom/Dani Agus)


Anggota pramuka Saka Wanabakti Purwodadi selfi di depan air terjun usai mendapat pelatihan jadi pemandu wisata (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sebelum latihan jadi pemandu, para pramuka terlebih dulu mendapat pembekalan pengetahuan umum. Yakni, pehamanan lengkap mengenai tempat wisata. Seperti lokasi, desa, luasan lahan, sejarah serta profil air terjun.

Hal itu dilakukan supaya para pramuka bisa memberikan informasi yang lengkap dan memuaskan jika ada pertanyaan dari pengunjung. Sebab, seringkali pengunjung menanyakan beberapa informasi, tetapi tidak bisa mendapatkan jawaban yang lengkap.

Selanjutnya, para pramuka diajak berkeliling melihat lokasi wana wisata oleh instruktur. Para pramuka mendapatkan pula petunjuk mengenai tempat mana yang aman dan cukup berbahaya untuk didatangi pengunjung.

“Setelah itu, baru mereka kita bekali dengan pengetahuan dasar pemandu wisata. Dalam sesi ini, kita ajarkan bagaimana caranya agar bisa jadi pemandu yang baik bagi pengunjung,” imbuh Ronny didampingi Pamong Saka Wanabakti Agus Winarno.

Editor : Kholistiono

Sampah Berserakan Kotori Objek Wisata Pantai di Jepara

sampah e

Wisatawan tampak mengunjungi salah satu objek wisata pantai di Jepara yang penuh sampah. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Selama libur Lebaran, beberapa tempat wisata pantai di Kabupaten Jepara dipenuhi pengunjung. Akibat wisatawan banyak yang membawa makanan dan minuman, kebersihan di kawasan tempat wisata tak mampu dikontrol. Sampah banyak berserakan di sejumlah sudut.

Menanggapi hal itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara menjamin kondisi bersih akan terjadi mulai pekan depan. Sebab, sampai saat ini dan diprediksi sampai akhir pekan ini pengunjung terus membanjiri tempat wisata.

“Banyak pengunjung yang membuang sampah sembarangan. Objek wisata pantai dimungkinkan kembali bersih setelah pekan ini selesai, ya mulai pekan depan,” ujar Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara Zamroni, Kamis (14/7/2016).

Dia menjelaskan, objek wisata pantai akan kembali bersih seperti semula pada Senin pekan depan. Pedagang musiman masih diberi kesempatan berjualan di area objek wisata di sisa hari pekan ini.

“Termasuk kebersihan sampah sudah kami koordinasikan dengan Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Kebersihan. Petugas kebersihan juga kami tambah,” terangnya.

Dalam laporan yang diterima Pemkab Jepara jumlah wisatawan yang berkunjung menurun dibanding tahun lalu. Penurunan kunjungan wisatawan terjadi di objek wisata Pantai Kartini, Pantai Bandengan, dan Pantai Benteng Portugis. Paling nampak penurunannya di obejk wisata Pantai Bandengan.

Pada perayaan Pekan Syawalan biasanya terjadi lonjakan pengunjung di setiap objek wisata. Dalam sehari, mampu menarik 3.000 wisatawan. Tak pelak, momentum ini kerap dijadikan andalan untuk menarik Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata.

 Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Kunjungan Objek Wisata di Jepara Diklaim Tak Seramai Tahun Lalu

pantai e

Wisatawan menikmati suasana liburannya di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara menilai jumlah wisatawan yang berkunjung menurun dibanding tahun lalu. Penurunan kunjungan wisatawan terjadi di objek wisata Pantai Kartini, Pantai Bandengan, dan Pantai Benteng Portugis. Paling nampak penurunannya di Objek Wisata Pantai Bandengan.

Hal itu seperti yang disampaikan Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara Zamroni. Menurutnya, penurunan kunjungan wisatawan terjadi lantaran perayaan Pekan Syawalan kali ini sudah memasuki masa kerja. Selain itu, objek wisata binaan mulai berkembang pesat.

“Penurunan ini karena wisatawan mulai terpecah. Sekarang objek wisata desa binaan Dinas Pariwisata mulai ramai dikunjungi wisatawan. Itu seperti Pantai Blebak, Pantai Pailus, dan Pantai Empu Rancak,” ujar Zamroni, Kamis (14/7/2016).

Lebih lanjut dia mengemukakan, pada perayaan Pekan Syawalan biasanya terjadi lonjakan pengunjung di setiap objek wisata. Dalam sehari, mampu menarik 3.000 wisatawan. Tak pelak, momentum ini kerap dijadikan andalan untuk menarik Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata.

Meski tahun ini terjadi penurunan kunjungan wisatawan, Zamroni melanjutkan, pihaknya optimistis mampu mencapai PAD yang telah ditargetkan. Target PAD dari sektor pariwisata tahun ini sama dengan tahun lalu, yaitu Rp 2 miliar.

“Tahun lalu mampu setor PAD Rp2,7 miliar. Meski sampai bulan Juni belum ada separuhnya dari PAD kemarin, kami yakin terget PAD itu bisa tercapai karena masih ada musim libur Natal dan akhir tahun. Sedangkan pendapatan saat Pekan Syawalan kali ini belum bisa dihitung sekarang,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

 

Gua Pancur Tawarkan Aneka Wahana Menarik untuk Pengunjung

 Sejumlah pengunjung tampak memadati mulut Gua Pancur di Jimbaran, Kayen. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Sejumlah pengunjung tampak memadati mulut Gua Pancur di Jimbaran, Kayen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Gua Pancur yang dulunya sepi dan terbiarkan, sekarang menjadi destinasi wisata jujugan di Pati. Hal itu terlihat dari jumlah pengunjung yang setiap hari berkisar di angka seribu hingga 1.500 orang.

“Puncak kunjungan pada Minggu (10/7/2016) lalu, mencapai sekitar 2.000 pengunjung. Peningkatan pengunjung karena sudah ada fasilitas yang mendukung aktivitas wisata, seperti taman untuk duduk-duduk, musala, toilet sampai penambahan wisata wahana air di danau buatan depan gua,” ungkap Ahmad Najib, Ketua Kelompok Sadar Wisata Gasong Community.

Saat ini, ada sejumlah wahana yang menarik bagi pengunjung. Salah satunya, bebek kayuh di danau buatan dengan tarif Rp 15 ribu. Satu bebek kayuh bisa ditumpangi hingga empat orang.Tak ayal, pengunjung bisa mengelilingi danau buatan dengan bebek kayuh. Pengunjung juga dapat mandi di genangan air jernih yang mengalir dengan tenang di mulut gua. Untuk ganti baju, pengunjung disediakan kamar mandi.

Selain itu, pengunjung yang ingin menjelajah di perut bumi Gua Pancur disediakan guide yang bersedia mengantar hingga ujung gua. Tarifnya berkisar Rp 20 ribu per orang, sudah termasuk fasilitas helm dan jaket pengaman.

Gua Pancur pun saat ini menjadi destinasi wisata yang menarik bagi pengunjung, bahkan hingga luar kota. Tak butuh biaya mahal untuk bertandang di gua ini. Cukup dengan biaya parkir Rp 3 ribu untuk sepeda motor dan Rp 6 ribu untuk mobil.

 

Editor : Kholistiono

 

 

Libur Lebaran, Gua Pancur Dibanjiri Ribuan Pengunjung

 Pengunjung tampak memadati mulut Gua Pancur di Jimbaran, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Pengunjung tampak memadati mulut Gua Pancur di Jimbaran, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Libur Lebaran, Gua Pancur di Desa Jimbaran, Kayen, Pati dibanjiri pengunjung. Setiap hari, objek wisata yang tak lama dikelola ini berhasil menggaet lebih dari seribu pengunjung.

Hal itu diakui Ketua Kelompok Sadar Wisata Gasong Community, Ahmad Najib. “Ada kenaikan pengunjung sejak Lebaran hingga sekarang, mulai dari keluarga hingga muda-mudi,” ujar Najib, Rabu (13/7/2016).

Dikatakan, Gua Pancur sempat tidak terawat dan sepi pengunjung dalam beberapa tahun terakhir. Setelah dikelola dengan sejumlah fasilitas penunjang, Gua Pancur saat ini menjadi jujugan pengunjung dari berbagai daerah.

“Saat ini, sudah ada fasilitas penunjang seperti musala, toilet, dan wahana air di danau buatan depan gua. Pengunjung hanya membayar biaya parkir Rp 3 ribu untuk sepeda motor dan Rp 6 ribu untuk mobil,” imbuhnya.

Tak hanya pengunjung dari lokal, beberapa pengunjung juga berasal dari luar kota. Hidayat (27), misalnya. Pengunjung asal Jakarta ini mudik bersama istri di Pati dan memutuskan untuk menghabiskan liburan di Gua Pancur.

Sementara itu, Oktavia (16), pengunjung asal Kalimulyo, Jakenan mengaku senang bisa liburan di tempat alam yang masih sangat asri. “Saya masuk sekolah pada Sabtu (16/7/2016), sedangkan adik saya yang masih SD masuk sekolah pada Senin (18/7/2016). Mumpung masih liburan, kami coba datang ke Gua Pancur dan memang bagus,” kata Via.

Saat berkunjung, Via hanya naik bebek kayuh di danau buatan dengan biaya Rp 15 ribu. Beda halnya dengan Adnan, adiknya, lebih memilih mandi di mulut gua. Selama liburan, Via mengaku hanya mengunjungi Gua Pancur. “Saya dari Jakenan bersama ayah, ibu dan adik lewat Winong, Tambakromo, hingga sampai Kayen,” tandasnya.

 Editor : Kholistiono

 

Yang Mau Ikutan Pemilihan Duta Wisata Grobogan, Buruan Daftar

Ajang pemilihan Mas dan Mbak Grobogan tahun 2015 lalu di Pendopo Kabupaten (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ajang pemilihan Mas dan Mbak Grobogan tahun 2015 lalu di Pendopo Kabupaten (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bagi kawula muda yang mau ikutan kontes duta wisata sebaiknya segera mempersiapkan diri. Sebab, pihak panitia pemilihan kontes tahunan ini sudah mulai membuka tahapan pendaftaran peserta. Masa pendaftarannya, sudah dibuka mulai mulai tanggal 1 Juli hingga 13 Agustus mendatang.

“Beberapa hari sebelum Lebaran, tahapan pendaftaran sudah kita mulai dan informasi ini sudah kita sosialisasikan pada masyarakat. Sejauh ini, sudah ada beberapa orang yang mengambil formulir pendaftaran,” kata Kabid Pariwisata Disporabudpar Grobogan Ngadino.

Menurutnya, kendati sudah ada yang mengambil formulir, namun sampai hari ketiga masuk kerja pascalebaran, belum ada peserta yang mendaftarkan diri untuk mengikuti kontes tahunan tersebut. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, biasanya para peminat akan mendaftar pada hari-hari terakhir sebelum masa pendaftaran ditutup.“Dari pengalaman sebelumnya, memang model pendaftarannya selalu seperti ini. Peserta pemilihan duta wisata sebelumnya sekitar 50 orang tiap tahun,” katanya.

Dia menjelaskan, persyaratan bagi peserta duta wisata ini tidak terlalu berat atau hampir sama dengan tahun lalu. Di antaranya, berdomisili di Grobogan dengan usia minimal 17 hingga 25 tahun, pendidikan minimal SLTA atau sedang menempuh pendidikan tingkat SLTA atau perguruan tinggi.

Selain itu, mampu berkomunikasi yang baik dalam Bahasa Jawa, Indonesia dan Inggris. Dengan persyaratan yang cukup mudah itu,katanya, tidak akan menyulitkan mereka yang akan ikut serta dalam kontes tersebut.

“Persyaratan ikut duta wisata ini, saya rasa tidak sulit, sehingga banyak orang yang bisa ikut. Untuk pendaftaran duta wisata ini gratis alias tidak dipungut biaya. Mengenai pelaksanaannya akan dilangsungkan 27 Agustus nanti,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

 

Lomba Dayung Perahu Naga, Cara Warga Lestarikan Tradisi Sedekah Laut

 Sejumlah atlet dayung perahu terlihat antisias mengikuti lomba dayung Silugangga Cup di Desa Kedungpancing, Juwana. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Sejumlah atlet dayung perahu terlihat antisias mengikuti lomba dayung Silugangga Cup di Desa Kedungpancing, Juwana. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Lomba dayung perahu naga yang dihelat di bantaran Sungai Silugangga, Desa Kedungpancing, Juwana, Selasa (12/7/2016) menjadi cara bagi penduduk setempat untuk melestarikan tradisi sedekah laut.

Penduduk setempat bersyukur atas karunia yang diberikan Tuhan melalui sumber daya alam berupa laut yang menghidupi. Karena itu, warga biasanya menggelar beragam acara yang diadakan setiap bulan Syawal untuk sedekah laut.

“Masing-masing daerah di Juwana punya tradisi tersendiri untuk menggelar sedekah laut. Di Desa Kedungpancing, lomba dayung perahu sudah menjadi tradisi setiap tahun. Kali ini, kami juga nanggap kesenian ketoprak,” ujar Kepala Desa Kedungpancing, Didik Narwadi.

Dari tradisi sedekah laut, kata Didik, lomba dayung perahu naga diharapkan bisa menjadi ikon destinasi wisata budaya baru di Juwana. “Kami juga ingin mengenalkan olahraga dayung kepada masyarakat dan pengunjung,” ucapnya.

Setelah berjibaku mengayuh perahu sepanjang 250 meter, akhirnya tiga tim ditetapkan sebagai juara terbaik. Juara pertama diraih Tim Sarkali, peringkat kedua disabet Tim Fajar, dan peringkat tiga diperoleh Tim Garuda Hitam.

Mereka mendapatkan piala dan uang pembinaan, dari juara pertama Rp 2 juta, peringkat dua Rp 1,5 juta, dan peringkat tiga Rp 1 juta. “Uangnya memang tidak seberapa bila dibagi satu tim yang terdiri dari 12 orang, yaitu 10 pendayung, satu pengemudi, dan satu penabuh drum. Namun, kami senang jadi sang juara,” ungkap Eko Sugiarto, salah satu atlet Tim Sarkali.

Ia mengatakan, salah satu kunci sukses untuk menjadi juara dalam olahraga dayung perahu adalah semangat, keyakinan dan kekompakan tim. Berbekal tiga kunci tersebut, Tim Sarkali akhirnya berhasil menyabet piala bergilir lomba dayung Silugangga Cup.

Editor : Kholistiono