Asyik, Perhutani Cepu Aktifkan Kereta Uap Tua untuk Akses Wisatawan

MuriaNewsCom, Blora – Sebuah terbosan baru dilakukan Perhutani KPH Cepu agar lebih menarik kunjungan wisata ke Kabupaten Blora. Yakni, mengaktifkan lagi kereta uap tua atau Loko Tour buat akses wisatawan.

”Pengaktifan kembali kereta tua diresmikan Bapak Wabup Blora hari Rabu (17/1/2018) kemarin. Wisata kereta sementara dibuka tiap hari Sabtu dan Minggu,” kata Administratur Perhutani KPH Cepu Yuda Suswardanto, Jumat (19/1/2018).

Momen pengaktifan kereta uap juga dilakukan sebagai ajang perpisahan Yuda sebagai Administratur Perhutani KPH Cepu. “Peresmian kemarin sekaligus acara perpisahan saya. Mulai minggu depan, saya sudah pindah tugas ke Purworejo,” katanya.

Dijelaskan, ada dua kereta yang dimiliki. Pertama kereta keluaran tahun 1928 yang menggunakan bahan bakar kayu. Meski sudah tua, namun kereta itu masih bisa berfungsi normal ketika diuji coba.

Untuk kereta uap ini memang bahan bakarnya lebih mahal karena menggunakan kayu. Pengoperasian kereta ini dilakukan dengan model seperti carteran atau sewa. Biaya sewa sekitar Rp 17 juta dengan rute sejauh 26 km.

Para wisatawan nantinya diajak berkeliling di sekitar KPH Cepu, mulai dari Desa Ngelo, Kecamatan Cepu sampai di wilayah Kecamatan Jepon.

Satu lagi adalah kereta produksi tahun 70 an yang benama Ruston. Kereta ini menggunakan bahan bakar yang biaya operasionalnya jauh lebih murah. Kereta inilah yang nantinya akan digunakan reguler untuk melayani para wisatawan.

”Wisatawan bisa naik kereta ini dengan tarif Rp 15 ribu per orang. Adapun rutenya bolak-balik dari garasi sampai TPK Batokan yang jaraknya sekitar 3 km. Minimal berangkat ada 25 orang, sesuai kapasitas satu gerbong,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Kelapa Park, Wahana Wisata Anyar di Jepara 

MuriaNewsCom, Jepara – Jepara punya wahana wisata baru, yakni kelapa park. Berlokasi di Desa Suwawal Timur, Kecamatan Pakis Aji, wana wisata itu menawarkan petualangan ala-ala alam liar dengan menggunakan kendaraan segala medan atau All Terrain Vehicle (ATV), di antara 2.000 pohon kelapa yang tumbuh disana.

Selain itu, adapula fasilitas flying fox dan burma bridge. Untuk track ATV disediakan jalur sepanjang 3,4 kilometer dan dibagi dalam dua kategori, yakni anak-anak dan dewasa.

Direktur utama Perusda Aneka Usaha Rifki Rosdani mengatakan, Kelapa Park merupakan pengembangan dari unit usaha pertanian, yakni budidaya kelapa. Dengan 2000 pohon, ada sekitar 300 butir kelapa siap panen setiap harinya.

“Saat ini di lokasi ini juga telah berdiri resto sederhana berkonsep alam, gardu pandang dan fasilitas yang tersebut diatas. Ini baru awal, nantinya kami kembangkan lagi dengan banyak fasilitas pendukung berupa penginapan,” kata Rifki.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Jepara Sholih menuturkan, wahana baru ini dapat memberikan kontribusi positif bagi daerah. Selain itu, pembangunan Kelapa Park sesuai visi Bupati-Wakil Bupati Jepara yang akan mengembangkan sektor pariwisata dalam lima tahun kedepan.

“Sebagai BUMD, Perusda juga dituntut menambah PAD. Potensi-potensi yang ada di daerah harus terus digali melalui unit usaha yang ada,” tegas Sholih.

Editor: Supriyadi

Bungker yang Instagramable di Solo Ini Gratis untuk Prewedding

MuriaNewsCom, Solo – Bungker kuno peninggalan zaman belanda, yang ditemukan tahun 2012 lalu di Solo, kini kondisinya sudah tertapa apik. Bahkan lokasi itu disebut-sebut sangat instagram-able, sehingga cocok untuk kamu yang suka foto-foto.

Setelah 5 tahun terbengkalai, bungker yang lokasinya berada di kompleks Balai Kota Surakarta itu, kini telah dibuka untuk umum.

Tak hanya itu, Pemerintah Kota Surakarta juga mempersilahkan bagi warga yang berkeinginan untuk melakukan foto prewedding di tempat ini. Yang pasti, Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo memastikan, siapapun yang foto prewedding di bungker ini tak akan ditarik biaya sepeserpun alias gratis.

“Ini untuk pre-wedding juga bagus. Silahkan, gratis. Kalau dipakai yang lain juga bisa, misal untuk pencatatan nikah,” katanya.

Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo menunjukkan lokasi bungker. (Humas Pemkot Surakarta)

Kompleks bungker ini sudah tertata cukup apik, setelah direstorasi oleh Badan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Solo. Restorasi dimulai tahun 2017 lalu dan memakan biaya sebesar Rp 747,8 juta.

Bunker yang awalnya mempunyai  fungsi sebagai tempat penyimpanan benda dan pertahanan pada masa kolonial dulu, kini telah beralih fungsi menjadi tempat yang instagram-able dan cocok untuk ber-swa foto ataupun selfie.

Selain itu bangunan lawas buatan Belanda itu dapat digunakan untuk tempat rekreasi, edukasi, bahkan untuk foto prewedding.

Rudy, sapaan akrab Wali Kota Surakarta juga berencana untuk menambahkan aksesoris dan ornamen lain agar lebih menarik seperti patung tentara Belanda dan Jepang.

Namun, ia juga mewanti-wanti agar pemanfaatan bunker dilakukan dengan bijak. Karena bangunan tersebut masuk sebagai Benda Cagar Budaya (BCB).

“Kalau nanti ada temuan coretan di bunker, satpamnya kita copot langsung. Wong nang Balai Kota kok isa kecolongan dicoret-coret,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Pati Kini Punya Flying Fox Ekstrem Menghubungkan Dua Gunung

Seorang pengunjung tengah menguji adrenalin dengan flying fox di Bukit Pandang Ki Santamulya yang menghubungkan dua gunung. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Potensi pariwisata di Kabupaten Pati terus menggeliat. Bahkan, Pati kini juga punya flying fox ekstrem yang menghubungkan dua bukit gunung.

Flying fox tersebut menjadi bagian dari kawasan objek wisata Bukit Pandang Ki Santamulya di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen. Pertama kali di-launching, wahana baru itu langsung dibanjiri pengunjung.

Pengelola wisata bukit pandang, Krisno mengatakan, flying fox tersebut memiliki lintasan sepanjang 175 meter dengan ketinggian 200 meter. Dengan lintasan itu, pengunjung bisa merasakan sensasi terbang di antara dua Pegunungan Kendeng.

“Kita sudah launching untuk mengangkat wisata bukit pandang. Tujuannya agar potensi pariwisata di Pati terus meningkat,” ujar Krisno.

Dia menjelaskan, flying fox bukit pandang dikelola secara profesional dengan keamanan ganda. Dalam hal itu, pihaknya bekerja sama dengan provider outbond, sehingga instalasi lintasan dilakukan ahli yang tersertifikasi.

Travelers yang ingin mencoba flying fox bukit pandang dengan pemandangan bagai surga itu dikenakan biaya Rp 15 ribu. Sementara anak kecil hanya dikenakan biaya Rp 10 ribu.

Baca : Spot Sayap Burung Hantu jadi Daya Tarik Baru Bukit Pandang Durensawit Pati

Salah satu traveler yang mencoba flying fox bukit pandang untuk pertama kalinya adalah Ari Sulistyowati, warga Tanjunganom, Gabus, Pati.

Dia bersama buah hatinya yang masih berusia empat tahun meluncur di antara dua gunung menggunakan flying fox. “Keren banget Pati punya wahana flying fox seperti ini,” ungkap Ari.

Menurut dia, tiket Rp 15 ribu untuk umum dan Rp 10 ribu untuk anak sangat murah jika dibandingkan flying fox di daerah lain. Biaya yang sangat murah itu diakui tidak sebanding dengan pengalaman melayang di antara dua gunung yang indah.

Karena itu, Ari merekomendasikan wisatawan untuk tidak ragu mencoba flying fox di kawasan wisata Bukit Pandang Ki Santamulya. “Ini pertama kalinya di Pati, keren banget,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Baca : Pengelola Bukit Pandang Pati Suguhkan Pagelaran Wayang Ucul

Taman Bajomulyo Juwana Dikembangkan Jadi Objek Wisata

Taman Bajomulyo yang saat ini mulai dikembangkan sebagai objek wisata di Juwana. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Taman Bajomulyo yang terletak Desa Bajomulyo RT 2 RW 3, Kecamatan Juwana saat ini mulai dikembangkan sebagai objek wisata. Taman tersebut awalnya dibangun sebagai ruang terbuka hijau (RTH).

Sekretaris Desa Bajomulyo Supriyadi mengatakan, pembangunan Taman Bajomulyo mendapatkan kucuran dana dari pemerintah pusat untuk membangun RTH. Pembangunan tersebut diprioritaskan untuk daerah kumuh.

“Desa Bajomulyo termasuk daerah kumuh, sehingga mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat supaya tidak kumuh lagi, termasuk pembangunan ruang terbuka hijau yang kami namakan Taman Bajomulyo,” ujar Supriyadi, Rabu (18/10/2017).

Meski fungsi awalnya sebagai ruang terbuka hijau, tetapi pihaknya akan mengelola sebagai objek wisata. Rencananya, pengelolaan Taman Bajomulyo akan diserahkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Dia optimistis, Taman Bajomulyo bisa menjadi salah satu objek wisata andalan di Juwana. Pasalnya, ada tempat wisata penunjang lainnya seperti Pulau Seprapat dan TPI Juwana.

“Sementara ini baru ada taman bermain anak-anak, jogging track dan tempat nongkrong. Ke depan, kami akan terus kembangkan,” tuturnya.

Erina Septi Wulandari, salah pengunjung mengaku cukup terkejut dengan adanya Taman Bajomulyo. Sebab, Taman Bajomulyo awalnya lahan kosong dengan semak belukar.

“Sangat menarik, karena Bajomulyo yang panas dan semrawut kini punya taman. Saya sudah beberapa kali ke sini untuk santai bareng teman-teman,” ucap Septi.

Editor: Supriyadi

Ini 3 Objek Wisata yang Bakal Disulap Jadi Wisata Unggulan di Pati

Gua Wareh di Desa Kedumulyo, Kecamatan Sukolilo yang rencananya akan dikembangkan Pemkab Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bupati Pati Haryanto berjanji akan mengembangkan sejumlah objek wisata di Kabupaten Pati yang menjadi milik pemerintah daerah (pemda). Upaya pengembangan tersebut akan dimulai pada 2018.

Ada tiga objek wisata yang akan ditangani secara serius, yakni Waduk Gunung Rowo, Agrowisata Jolong, dan Gua Wareh. Ketiga objek wisata tersebut dianggap punya nilai yang layak dikembangkan dan disuguhkan kepada publik.

“Tahun ini, kawasan wisata Jolong dikunjungi lebih dari 9.400 orang dengan penghasilan sekitar Rp 1,2 miliar. Kondisi itu sangat bagus dan akan terus dikembangkan,” ujar Haryanto, Sabtu (7/10/2017).

Menurutnya, kondisi geografis Pati diakui tidak seperti Bali maupun Banyuwangi yang berpeluang menjadi kota wisata bertaraf internasional. Namun, Haryanto optimistis akan bisa mengembangkan Pati sebagai kota wisata.

Karena itu, dia berharap agar semua pihak bisa berpartisipasi dan mendukung agar Pati bisa melebarkan sayapnya menjadi kota wisata. Sejauh ini, Pati dinilai sudah bisa meninggalkan kesan sebagai kota seribu paranormal dan mulai dikenal sebagai kota pertanian, perikanan, serta industri.

“Potensi di Pati sangat banyak sekali. Semuanya akan memberikan manfaat dan dampak yang positif jika dikelola dengan baik, termasuk potensi wisata,” jelasnya.

Sebelumnya, Haryanto sudah mengonsultasikan pengembangan objek wisata di Pati kepada arsitek dari Singapura dan Australia. Upaya itu dilakukan untuk merencanakan pembangunan wisata yang matang dan berkelanjutan di Pati.

Editor: Supriyadi

Tulisan-tulisan Galau di Bukit Ini Bikin Gubernur Ganjar Terpingkal-pingkal

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat tertawa sambil menunjukkan kalimat galau yang ada di Bukit Tangkeban. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ikut mempromosikan tempat-tempat wisata di provinsi ini yang ponya potensi namun belum dikenal luas. Salah satunya adalah Bukit Tangkeban, yang ada di Desa Nyalembeng, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.

Ganjar bahkan terpikat dengan tempat wisata ini, hingga menjulukinya sebagai ‘Bukit Galau’. Ia mempromosikan tempat wisata ini melalui akun FB Fanjar Pranowo, dengan menuliskan keherannya karena tempat wisata indah itu tak bisa ditemukan melalui taglocation.

“Kok bisa ya, tempat wisata seindah ini tidak bisa saya cari di tag location instagram. Ada yang tau ini dimana? Ayo bantu viralkan potensi alam jawa tengah… #Pemalang,” tulis Ganjar.

Bukit yang berada pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut tersebut, memang cukup unik. Pengelolanya pun cukup cerdas dengan memasang berbagai papan dengan ungkapan-ungkapan unik yang mewakili suasana hati.

Ganjar beberapa kali tersenyum saat membaca tulisan-tulisan yang ada di bukit tersebut. Mulai dari ‘Ditinggal Kawin, Jalan Sama Aku, Nikah Dengan Temanku, Kapan Putus?. Ada lagi tulisan Jangan Ingat Mantan, Ingatlah Allah, dan Biarlah Masa Lalu Menjadi Masa Bodo.

“Lha ini cocoknya disebut Bukit Galau, cocok dengan yang sedang putus cinta,” terangnya.

Ganjar menilai Bukit Tangkeban memiliki potensi wisata yang mumpuni, meski masih perlu ada pembenahan di sejumlah hal.

Ganjar Pranowo saat berada di Bukit Tangkepan yang dijulukinya sebagai ’Bukit Galau’. (MuriaNewsCom)

 

Dia menyarankan agar pengelola bekerja sama dengan arsitektur atau perguruan tinggi dalam penataan lokasi agar lebih menarik. “Ini kan ide kreatif anak muda, dengan adanya ahli bisa menyusun landskap dan membuat wahana yang bagus, menarik, tapi aman,” cetusnya.

Jika hal tersebut sudah tertata, lanjut Ganjar, maka yang harus dilakukan selanjutnya yakni dengan menggencarkan promosi. Di era milenial media sosial adalah sarana yang tepat dan murah karena gratis. Pengelola ungkapnya harus bisa memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan tempat ini.

Meski begitu, keasrian dan alaminya tempat ini menurutnya juga tetap harus dijaga dengan baik.

“Tulis segala sesuatu yang menarik. Misal kunjungan yang tepat kala pagi saat Gunung Slamet terlihat jelas, atau testimoni dari tokoh yang bisa memacu kunjungan,” papar Ganjar.

Soal ungkapan-ungkapan galau yang terpampang, Ganjar menilai ‘bahasa-bahasa ngeri’ tersebut adalah bentuk candaan kekinian yang akrab di telinga anak muda.

“Terus saja dipopulerkan, itu kan candaan anak muda yang bahasa gaulnya seperti itu. Malah nanti bisa menjadi hits,” kata politisi PDIP ini.

Pengelola Bukit Tangkeban, Iin Muazis mengatakan lokasi wisata tersebut baru dibuka tiga bulan ini. Pengunjung cukup membayar tiket masuk Rp 3.000 dan parkir Rp 2.000.

“Selain pemandangan dan gardu pandang, di sini ada wisata religi makam dan petilasan Mbah Sulaiman, penyebar agama Islam di daerah sini,” ungkapnya.

Editor : Ali Muntoha

Puncak Termulus, Surga Pati yang Bikin Kamu Betah Berlama-lama

Krisno (tengah) bersama pegiat wisata Pati sampai di Puncak Termulus, Pangonan, Gunungsari, Tlogowungu, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ada satu kawasan di kawasan lereng Pegunungan Muria yang memiliki keindahan bak surga dan belum terjamah manusia. Namanya Puncak Termulus, terletak di Pangonan, Gunungsari, Tlogowungu, Pati.

Gunung itu disebut-sebut masih perawan, karena aneka tumbuhan liar yang langka hidup subur di sana. Beberapa pengunjung yang datang hanya berasal dari kalangan pendaki.

Meski belum populer, Puncak Termulus menyuguhkan satu panorama indah seperti surga. Hal itu diakui pegiat wisata Pati, Krisno saat melakukan ekspedisi ke sana.

“Butuh waktu dua jam untuk sampai di Puncak Termulus dari pedesaan. Awalnya kita disambut pohon-pohon pinus dengan tanaman kopi di bagian bawahnya. Selanjutnya, aneka tumbuhan liar yang masih sangat hijau, teduh dan rimbun menghampar luas seperti di dunia fantasi,” ujar Krisno, Rabu (27/9/2017).

Saat sampai di puncak, Krisno menyaksikan jajaran anak gunung berbalut kabut mirip dengan pegunungan di kawasan Dieng. Salah satu anak gunung yang terlihat, antara lain Puncak Songolikur.

Tak hanya itu, dia juga melihat salah satu situs batu yang bentuknya unik. Diduga, batu tersebut peninggalan pada zaman kerajaan yang tersisa.

Hanya simbol yang tidak jelas maknanya yang ada dalam situs batu tersebut. “Tidak ada prasasti, tapi ada simbol yang terukir unik. Mungkin saja dulu pernah ada peradaban di sini,” ucap Krisno.

Dia menilai, Puncak Termulus sangat cocok dijadikan sebagai destinasi wisata unggulan di Kabupaten Pati. Hanya saja, pengelola harus punya komitmen untuk terus menjaga keperawanan Puncak Termulus, termasuk menjaga situs langka yang ada di sana.

Pasalnya, aura magis diakui sangat terasa kental di sana. Dia khawatir, bila ada aktivitas yang merusak sedikit saja, alam akan memberikan respons negatif akibat kemarahannya.

Editor : Ali Muntoha

Gua Ketinting, Harta Karun Pegunungan Kendeng Pati yang Mulai Dibuka untuk Wisatawan

Sejumlah pengunjung tengah berada di Gua Ketinting dengan sensasi jurang di bagian bawahnya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebuah gua yang menjadi harta karun terpendam di Pegunungan Kendeng, Desa Durensawit, Kecamatan Kayen mulai dibuka untuk wisatawan. Gua itu punya keunikan yang tidak dimiliki gua-gua lainnya di Indonesia.

Lokasinya berada di gunung dengan ketinggian sekitar 200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dari gua, pengunjung bisa melihat hamparan Pati dari atas, sekaligus melihat pegunungan Kendeng lainnya yang berderet indah.

Krisno, penemu gua tersebut memberinya nama “Gua Ketinting.” Kata itu diambil dari nama burung yang dulu kerap bersarang di langit-langit gua.

“Kami sudah buka sebagai destinasi wisata baru. Posisinya sebagai pelengkap dari kawasan wisata Bukit Pandang Ki Santa Mulya. Keduanya berada di gunung yang berbeda karena dipisah jalan, tetapi lokasinya berhadap-hadapan,” ujar dia, Senin (4/9/2017).

Gua Ketinting sangat cocok bagi pengunjung yang suka dengan petualangan. Pasalnya, untuk sampai di lokasi, pengunjung harus berjuang menaiki gunung, menyisir jalan terjal dengan tebing dan jurang di pinggirnya.

Ahmad Sahur (15) merupakan salah satu pengunjung asal Tondomulyo, Jakenan yang pertama kali merasakan sensasi berpetualang menuju gua tersebut. Dia mengaku sangat puas bisa menjelajah dan mengeksplorasi Gua Ketinting.

“Baru kali ini mengunjungi gua yang berada di atas gunung, posisinya di antara tebing dan jurang. Sangat menantang dan bisa memacu adrenalin, karena lokasinya cukup ekstrem,” ungkap Ahmad.

Saat ini, pengelola sebatas menyediakan jalur alami yang sudah terbentuk sehingga pengunjung harus melewati semak belukar. Ke depan, pengelola akan membuat jalur buatan yang lebih aman dan mudah dilalui.

Editor: Supriyadi

Spot Sayap Burung Hantu jadi Daya Tarik Baru Bukit Pandang Durensawit Pati

Salah satu pengunjung berfoto di spot sayap burung hantu, kawasan wisata bukit pandang, Durensawit, Kayen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kawasan wisata bukit pandang di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati, terus berbenah. Selain penambahan spot-spot baru, pengelola melakukan perluasan kawasan wisata.

Salah satu spot yang menjadi daya tarik wisatawan baru-baru ini adalah sayap burung hantu. Banyak wisatawan yang antre untuk berswafoto di dua spot tersebut.

Satu spot berada di pinggiran jurang bukit, sehingga pemandangannya cukup mengesankan. Satu spot lagi berada di perbukitan yang dilalui wisatawan.

Septi Nursanti (16), pengunjung asal Bumiayu, Wedarijaksa mengatakan, spot sayap burung hantu cukup menarik dan unik. Terlebih, dia belum pernah menemukan kawasan wisata yang dilengkapi spot unik untuk berswafoto tersebut.

“Hasilnya di foto cukup mengejutkan. Kita seolah-olah punya sayap. Kalau fotografinya pinter, kesannya kita melayang di atas pegunungan. Konsepnya mirip dengan wisata yang lagi ngetren di Jogja,” kata Septi, Selasa (15/8/2017).

Krisno, pengelola bukit pandang menuturkan, pemasangan dua spot baru berupa sayap burung hantu tidak lepas dari tuntutan pengunjung. Ada sejumlah pengunjung yang menyarankan pemasangan sayap burung.

Setelah dipertimbangkan dan melakukan uji coba, ternyata cukup menarik. Hasilnya, wisatawan saat ini punya banyak pilihan spot untuk berswafoto dan mengunggahnya ke situs jejaring sosial.

“Pengunjung masih didominasi dari pengguna Facebook, disusul Instagram. Kebanyakan pengunjung yang datang juga berasal dari rekomendasi teman atau penasaran, karena lagi booming di sosmed waktu fotonya diunggah,” pungkas Krisno.

Editor : Ali Muntoha

Tak Habis Rp 50 Ribu Bisa Puas Piknik di Pantai Karangjahe Rembang

Salah seorang wisatawan Pantai Karangjahe asal Kudus yang menyempatkan menyewa perahu karet seharga Rp 25 ribu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Pantai Karangjahe di Desa Punjulharo, Rembang, semakin populer. Saat musim libur Lebaran kali ini, ribuan orang dari berbagai daerah memadati pantai berpasir putih ini setiap harinya.

Pantai ini menjadi jujugan karena tempatnya yang luas dan indah, serta cocok untuk berenang, dan bermain pasir. Tak hanya itu, piknik di tempat ini tak perlu menguras isi dompet, karena dengan hanya membawa uang yang sedikit pun sudah bisa puas menikmati keindahan Pantai Karangjahe.

Bahkan uang tak lebih dari Rp 50 ribu, sudah bisa puas piknik bersama keluarga di Pantai Karangjahe. Ini juga yang dialami Farida Hasanah (34), warga Desa Barongan, Kecamatan Kudus, yang menghabiskan libur Lebaran di pantai tersebut.

“Saya berwisata ke Karangjahe ini seusai bersilatirahmi ke keluarga yang ada di Blora dan Rembang. Dan sebelum pulang ke Kudus, kita wisata dulu ke sini,” kata Farida.

Bersama keluarga ia datang mengendarai sebuah mobil. Untuk masuk ke objek wisata ini, pengelola taka menarik tiket masuk, hanya membebani biaya parkir. Untuk parkir mobil tarifnya sebesar Rp 10 ribu.

“Saat masuk kita hanya dipungut biaya Rp 10 ribu per mobil. Ya murah sekali sih. Sebab biayanya hanya dipungut per mobil dan bukan perorangan,” ujarnya.

Setelah masuk, pengunjung bisa dengan bebas bermain. Entah berenang, bermain pasir, atau hanya sekadar duduk-duduk menikmati panorama pantai.

Saat itu Farida memutuskan menyewa perahu karet untuk digunakan bermain di pantai. Tarif sewanya sebesar Rp 25 ribu. Tak ada pembatasan waktu untuk sewa perahu karet ini, sehingga bisa digunakan sampai sepuasnya.

Sampai di sini, biaya yang dikeluarkanya baru Rp 35 ribu, dan sudah bisa piknik dengan nyaman. Jika belum puas dengan hanya bermain menggunakan perahu karet, di lokasi pantai juga disediakan penyewaan ATF atau bisa naik perahu berkeliling. Tentu dengan tarif yang berbeda.

“Di sini kondisinya bersih, pasirnya putih. Terlebih lagi wahana alat pemainannya juga sangat terjangkau,” paparnya.

Hanya satu hal yang membuat Farida ada yang kurang. Yakni menu makanan yang dijajakan para pedagang di kompleks pantai. Ia menyebut, menunya hanya sekadarnya saja dan tak banyak pilihan.

“Kalau bisa menu-menu seperti makanan khas Rembang bisa dijajakan. Supaya bisa banyak pilihan. Kalau masalah harga ya setidaknya bisa diseragamkan. Supaya penjual satu dengan lainnya bisa seragam,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Memagut Mentari ke Peraduan di Pantai Bondo

Suasana matahari tenggelam di Pantai Bondo Jepara yang begitu memikat hati. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Bila berbicara wisata Jepara, pasti yang terbersit adalah pantai. Tentu saja, Kabupaten di utara Pulau Jawa ini memiliki deretan pantai yang menawan, dengan pasir putih dan ombak yang tenang. 

Oh iya, satu yang tak boleh terlewat adalah momen tenggelamnya matahari atau sunset. Satu tempat yang bisa menjadi pilihan untuk menikmatinya, adalah Pantai Bondo atau pantai Ombak Mati, yang terletak di Desa Bondo, Kecamatan Bangsri.

Pantai berpasir putih itu, bisa ditempuh dengan berkendara motor atau mobil. Bagi yang belum pernah ke lokasi itu, jangan takut karena sign board telah terpasang. Pantai Bondo sendiri berada di deretan obyek wisata serupa, yakni Pantai Pailus dan Pantai Empurancak.

Sebelum ke obyek wisata, pelancong akan dimanja pemandangan pedesaan, lengkap dengan sawah padi yang menghijau. Ketika hendak memasuki lokasi, pengunjung akan diminta membeli karcis masuk sebesar Rp 2500, per orang.

Saat Lebaran seperti ini, pantai ini tentu saja dipadati pelancong. Namun tenang, banyak spot untuk menatap sunset di ufuk barat. 

Pengunjung Pantai Bondo asyik bermain dan berenang saat matahari mulai tenggelam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Bila mentari belum ke peraduan, pelancong bisa menyewa kano, ban atau menunggang kuda. Untuk tarifnya lumayan terjangkau, sewa ban hanya dengan Rp 5000. Untuk berkano pelancong cukup merogoh Rp 50.000 untuk durasi sejam, sementara untuk 30 menit ditawarkan Rp 30 ribu. 

Bila hendak berkuda, sekali putaran dikenai tarif Rp 30.000. Jika lapar atau haus, namun tak membawa bekal silakan mampir di warung-warung yang tersedia. Tapi ingat, jangan segan untuk bertanya berapa harga jajanan sebelum membeli.

Kalau itu tak cukup, tentu saja pengunjung bisa menceburkan diri di laut. Airnya tak terlalu dalam, namun tentu saja harus berhati-hati. Pengelola tempat telah menetapkan batas aman dengan bendera merah.

Pengunjung bisa menikmati jasa berkuda saat berlibur di Pantai Bondo. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Waktu yang tepat jika ingin ber-sunset adalah sore hari. Lokasi pantai bisa ditempuh sekitar 60 menit hingga 1,5 jam perjalanan dari pusat Kota Jepara, bergantung pada kepadatan lalulintas. 

Catat waktunya, matahari mulai terbenam di Pantai Bondo mulai pukul 17.00. Di waktu tersebut, bolehlah sekadar duduk memandang ke ufuk, atau berswafoto. 

Seperti yang dilakukan oleh Andi, warga Tahunan-Jepara. Sepulang kerja, ia mengaku menyempatkan diri ke lokasi itu. Menenteng sebuah kamera digital, ia banyak mengabadikan foto-foto berlatar matahari yang tenggelam.

“Sengaja menyempatkan waktu datang ke sini setelah bekerja,” katanya, Kamis (29/6//2017) sore.

Di liburan Lebaran seperti ini, pantai tersebut kerap kali menjadi spot yang menarik untuk dikunjungi. Bahkan hingga malam pukul 21.00. 

“Hari pertama Lebaran, sore harinya sudah mulai meningkat kunjungannya. Perkiraannya nanti hingga kupatan pasti akan ramai,” ucap seorang penjaga parkir di lokasi tersebut. 

Yang perlu diingat, ketika mengunjungi pantai tersebut adalah tak menyampah dan tetap mendampingi keselamatan putra-putri yang dibawa.

Editor : Ali Muntoha

 

Libur Lebaran, Bukit Pandang Disesaki Ribuan Wisatawan

Sejumlah pengunjung tengah berfoto selfie di kawasan puncak bukit pandang Pati dengan latar pegunungan Kendeng, Rabu (28/6/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Objek wisata Bukit Pandang Ki Santamulya yang terletak di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen dikunjungi ribuan wisatawan dari berbagai kota pada musim libur Lebaran.

Mereka mulai memadati kawasan wisata bukit pandang sejak Senin (26/6/2017) dan diperkirakan masih ramai dikunjungi wisatawan hingga Minggu (2/7/2017) mendatang. Selama libur Lebaran, sebagian besar pengunjung dari wisatawan yang tengah mudik.

Tantri Tyas Oktaviani (21) adalah satu di antara pengunjung asal luar kota yang tengah mudik di Pati. Mahasiswi asal Tangerang ini mengetahui bukit pandang dari Instagram.

Dia bersama keempat temannya lantas mengunjungi bukit pandang untuk menghabiskan liburannya pada Jumat (30/6/2017), setelah sebelumnya mengunjungi Waduk Gunung Rowo di Desa Sitiluhur, Gembong. “Mudik di rumah simbah sambil berlibur di Pati aja,” kata Tyas.

Meski baru pertama kali mengunjungi bukit pandang, Tyas mengaku tidak kebingungan mencari rutenya. Pasalnya, dia mengandalkan aplikasi Google Map untuk sampai di lokasi yang jaraknya sekitar 3 km dari RSUD Kayen tersebut.

Sementara itu, Redita Apriliani (20), pengunjung asal Pati Kota mengaku terkesan dengan panorama keindahan yang ditawarkan bukit pandang. Spot menarik dengan view hamparan Pegunungan Kendeng dan daratan Kabupaten Pati menjadi daya tarik tersendiri bagi Dita.

Dia tidak menyangka bila objek wisata tersebut seramai saat ini. “Mikirnya biasa aja, nggak ramai. Tapi di luar dugaan, sampai-sampai macet juga tadi. Sampai kesulitan parkirnya,” ucap Dita.

Pengelola bukit pandang, Krisno mengatakan, pengunjung bukit pandang mencapai sekitar 7.500 orang setiap harinya selama libur Lebaran. Wisatawan mulai memasuki kawasan bukit pandang dari jam 09.00 WIB sampai 17.00 WIB.

Jumlah pengunjung tersebut tidak termasuk anak-anak, karena mereka tidak dikenakan tiket masuk. “Jumlah pengunjung dihitung berdasarkan tiket, sedangkan anak-anak gratis dari biaya tiket. Jumlah pengunjung termasuk anak-anak bisa lebih dari 7.500 orang setiap hari selama libur Lebaran,” tuturnya.

Untuk masuk di kawasan wisata bukit pandang, wisatawan dewasa dikenakan biaya Rp 3.000, sedangkan anak-anak gratis. Adapun biaya parkir sepeda motor Rp 2.000 dan mobil Rp 5.000.

Editor : Ali Muntoha

Destinasi Wisata di Pati yang Bisa Kamu Kunjungi Selama Liburan Lebaran

Seorang pengunjung tengah berjalan di salah satu spot kawasan wisata Bukit Pandang Ki Santamulya, Durensawit, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati punya sejumlah destinasi wisata menarik yang bisa dikunjungi selama liburan Lebaran, baik wisata alam, religi maupun buatan.

Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Pati Sigit Hartoko mengatakan, tempat wisata di Pati bukan hanya menyuguhkan satu destinasi yang menarik, tetapi juga sangat terjangkau.

Karena itu, dia menyarankan kepada warga Pati maupun perantauan yang tengah pulang ke Pati untuk mengagendakan liburan di Pati. Ada beragam objek wisata yang bisa dinikmati di Pati.

Waduk Gunungrowo
Makan ikan bersama lalapan ditemani es kelapa muda di pinggiran waduk menjadi agenda paling digemari di Waduk Gunungrowo. Dengan view gunung Muria dan danau buatan yang indah membuat Anda takjub.

Pengendara sepeda motor dikenai tiket masuk Rp 2.000, sedangkan pengemudi mobil Rp 5.000. Kawasan ini sudah buka sekitar pukul 07.30 WIB sampai pukul 17.30 WIB.

Waduk Seloromo

Kawasan wisata yang terletak di Desa Gembong ini cocok bagi backpacker yang ingin menikmati indahnya waduk buatan pemerintah Hindia-Belanda.

Selain gratis dan tidak ada tiket masuk, kawasan ini buka kapan saja. Meski demikian, kunjungan pada malam hari tidak direkomendasikan.

Juwana Water Fantasy
Terletak di Jalan Juwana-Rembang Km 7, destinasi wisata yang akrab disebut JWF ini sangat direkomendasikan bagi keluarga yang ingin berwisata dengan sensasi wahaha air di Pati.

Buka dari jam 08.00 WIB sampai 17.00 WIB, tiket JWF bisa diperoleh dengan harga Rp 25 ribu untuk tiket biasa dan Rp 45 ribu untuk tiket terusan. Ini berlaku untuk hari biasa.

Sementara untuk Sabtu, Minggu dan tanggal merah, Anda harus merogoh kocek Rp 30 ribu untuk tiket biasa dan Rp 50 ribu untuk tiket terusan. Sangat terjangkau, bukan?

Gua Pancur
Ada beragam wahana yang bisa dinikmati pengunjung di Gua Pancur yang terletak di Jimbaran, Kayen ini. Anda bisa menjelajah gua sepanjang hampir satu kilometer di perut bumi dengan biaya Rp 20 ribu per orang.

Pengunjung juga bisa sekadar menikmati indahnya danau mini buatan dengan menyewa jasa bebek kayuh. Keluarga yang ingin outbond sederhana juga ada di kawasan ini.

Anda cukup membayar biaya parkir kendaraan Rp 3 ribu untuk sepeda motor dan Rp 6 ribu untuk mobil. Adapun tiket masuk masih gratis. Berminat berkunjung ke sini? Jam buka sekitar pukul 07.00 WIB sampai 17.00 WIB.

Bukit Pandang Ki Santamulya

Ada belasan spot menarik yang bisa dinikmati pengunjung di objek wisata yang terletak di Desa Durensawit, Kayen. Saksikan panorama paling indah dari bukit Gunung Kendeng di sini.

Lokasinya sekitar 10 menit sebelah timur RSUD Kayen. Buka mulai pukul 07.00 WIB sampai 17.30 WIB, pengunjung cuma merogoh kocek Rp 3 ribu sebagai tiket masuk untuk dewasa dan gratis untuk anak-anak.

Sementara biaya parkir Rp 2 ribu untuk sepeda motor dan Rp 5 ribu untuk mobil. Beragam spot yang bisa dinikmati di sana, antara lain rumah pohon, spot cinta, sarang burung raksasa, jembatan cinta, kupu-kupu, bunga matahari dan beragam spot menarik lainnya.

Kawasan pemancingan Talun
Di Desa Talun, Kayen, ada kawasan pemancingan ikan yang cukup populer. Buka dari pukul 08.00 WIB sampai 17.30 WIB, tempat ini menyuguhkan sensasi berburu kuliner ikan tawar dengan memancing.

Tiket masuk gratis dan pengunjung cukup pesan aneka masakan khas ikan tawar di sini. Bila ingin memancing, ada tarif khusus untuk per kilogram ikan yang didapatkan.

Editor : Kholistiono

Nikmati Liburan Lebaran Kamu dengan Berwisata di Jepara

Pantai Kartini bisa menjadi salah satu destinasi wisata di Jepara yang bisa menjadi rekomendasi liburan lebaran kamu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Pada Hari Raya Idul Fitri atau lebaran ini, sebagian masyarakat Indonesia, terutama yang merantau pulang kampung alias mudik. Nah, baik yang merantau maupun yang tidak, pasti ingin menikmati libur panjang lebaran dengan berwisata bersama keluarga. Tidak ada salahnya, untuk libur lebaran tahun ini dihabiskan di kota ukir, Jepara, Jawa Tengah.

Di kota yang juga terkenal sebagai Bumi Kartini, Jepara memiliki banyak objek wisata yang menawarkan sejuta keindahan. Tidak hanya wisata pantai yang memesona, tetapi juga wisata pegunungan, wisata buatan, bahkan wisata pendidikan maupun sejarah. Kalian pasti tak akan nyesel kalau bisa ke Jepara dan menyinggahi objek wisata sebanyak-banyaknya di Jepara.

Ketika kamu datang ke Jepara, akan lebih mudah ketika kamu memilih objek wisata pantai. Sebab, letak objek wisata pantai lebih strategis dari jalur transportasi utama. Hanya tinggal masuk di wilayah kota Jepara, maka kamu akan mengetahui beberapa petunjuk jalan yang mengarahkan kamu menuju objek wisata pantai, seperti Bandengan dengan keindahan pasir putihnya dan pantai Kartini dengan tawaran wahana bermain dan pemandangan lautnya.

Kamu tak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk menikmati indahnya alam di salah satu spot pesisir pantai utara pulau Jawa ini. Jarak yang tak terlalu jauh dari kota tetangga baik Demak, Kudus maupun Pati, tentu tak membutuhkan biaya transportasi yang besar. Selain itu, tiket masuk juga cukup terjangkau.

Di Pantai Bandengan atau yang juga terkenal dengan nama Tirta Samudra misalnya, tiket masuk ketika hari libur termasuk hari lebaran hanya sekitar Rp 7 ribu – Rp 10 ribu saja untuk orang dewasa. Sedangkan untuk anak-anak tentu lebih murah, berkisar antara Rp 3 ribu – Rp 7 ribu saja. Demikian juga dengan di Pantai Kartini, harga tiket sangat terjangkau untuk semua kalangan.

Khusus di pantai Bandengan, kamu bisa menikmati keseruan bermain di air laut banyak fasilitas mainan seperti banana boat, dan yang lainnya. Sedangkan di pantai Kartini, selain banyak wahana bermain yang bisa kamu nikmati. Bahkan, di pantai yang satu ini juga terdapat aquarium yang berbentuk kura-kura raksasa.

Dari kedua pantai ini, kamu bisa menikmati fasilitas naik perahu menuju pulau panjang. Biaya transportasi lautnya juga cukup terjangkau, hanya sekitar Rp 15 ribu saja. Jika kamu masih belum puas dengan masih ada waktu, kamu bisa melanjutkan perjalanan ke beberapa tempat wisata lain. Misalnya, kamu bisa ke beberapa pantai lain seperti pantai Blebak, pantai Empurancak.

 Nah, jika kamu ingin cari sensasi berwisata dengan nuansa selain pantai, maka kamu bisa datang ke Jepara Ocean Park (JOP). Tempat wisata buatan yang diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah ini menawarkan banyak sekali wahana bermain khususnya air 

Di JOP ini, yang menjadi unggulan di tempat wisata ini nantinya adalah adanya menara center yang tingginya mencapai 26 meter, bisa melihat pemandangan semua wahana bermain dan melihat pemandangan laut Jepara. Tentu saja tidak hanya itu, ada wahana lain yaitu kolam dengan 2 ember tumpah, kolam arus 400 meter, dan replika kapal dengan air mancur. Wahana seru untuk anak-anak ada di titik Kiddy Play antara lain flying elephant, kora-kora, mini train, komedi putar, bianglala, dan bombom car, bahkan arena gokart.

Ada juga dua studio keren yaitu theater 6 dimensi dengan kapasitas 48 orang dan 60 orang. Bagi yang hobi menembak, ada juga arena paint ball yang bisa dinikmati beramai-ramai. Wisatawan juga bisa meluncur dari ketinggian 20 meter dengan fasilitas flying fox. Banyak wahana lain yang bisa dinikmati wisatawan di sana dan mungkin seharian tidak akan cukup untuk menjelajahi semua.

Selain tempat wisata itu, masih ada banyak sekali objek wisata yang bisa kamu nikmati. Misalnya, di Kepulauan Karimunjawa yang menawarkan keindahan tak tertandingi di pulau Jawa. Kemudian benteng portugis yang berada di wilayah utara kota Jepara, serta banyak lagi yang lainnya. Dijamin, kalau kamu menikmati hari libur di kota ukir dan menikmati banyak tempat wisata, tak akan nyesel deh.

Editor : Kholistiono

Romantisme Langit Eropa

Mirabell Palace, Austria (club-europe.co.uk)

MuriaNewsCom – Tak bisa dimungkiri jika Eropa tetap menjadi negara impian untuk melakukan traveling, apalagi berbulan madu. Terkenal dengan negara-negaranya yang romantis, membuat turis asal Indonesia jumlahnya semakin meningkat, ditahun 2014 saja terdapat 8,9 juta turis asal Indonesia yang berkunjung kesana.

Hal ini menjadi peluang bagi Garuda Indonesia untuk bisa mengantarkan para wisatawan menjajaki indahnya negara-negara di Eropa. Memiliki empat musim dan keunikan lanskapnya, ditambah dengan bangunan-bangunan tua nan eksotis menambah daya tarik negara-negara ini. Bahkan, tak jarang kesuksesan seseorang akan semakin diakui jika ia sudah berhasil berfoto di beberapa landmark terkenal di Eropa.

Cinque Terre, Italia (lonelyplanet.com)

Untuk Anda yang merencanakan akan pergi berlibur ke sana, ada beberapa hal yang harus disiapkan. Seperti paspor dan pengajuan visa. Mengajukan Visa schengen pun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, salah satunya adalah asuransi perjalanan.

Hanya dengan Visa Schengen, Anda sudah bisa mengunjungi negara-negara di Eropa. Maka, jangan sia-siakan kesempatan saat visa Schengen sudah di tangan. Silakan berkeliling Eropa dan manfaatkan kesempatan yang Ada.

Beberapa dokumen yang harus dilengkapi saat Anda mengajukan visa Schengen adalah, sebagai berikut:

  1. Passport
  2. Pas foto berwarna ukuran 3,5 cm x 4,5 cm dengan latar belakang putih dua buah.
  3. Biaya untuk pembuatan Visa, dibayarkan dalam rupiah dan cash. Biaya pembuatannya adalah 60 euro/orang untuk usia 12 tahun keatas, dan 35 euro untuk anak 6-12 tahun. Dan di bawah 6 tahun, tidak dikenakan biaya.
  4. Mendownload formulir dari website resmi kedutaan yang dituju, isi selengkap mungkin dan print out dokumen tersebut lalu bawa saat pendaftaran.
  5. Asuransi perjalanan
  6. Bukti keuangan, berupa rekening Koran selama 3 bulan, dan dana mengendap minimal 34 euro dikalikan lama tinggal di Eropa.
  7. Bukti booking pesawat. Untuk memudahkan, Anda bisa memesan tiket pesawat Garuda Indonesia di Traveloka karena buktinya akan langsung di kirim via email. Klik untuk detil selengkapnya.
  8. Bukti pemesanan penginapan.
  9. Surat keterangan kerja dan itinerary perjalanan selama di Eropa.

Asuransi perjalanan pada dasarnya akan sangat membantu dan perjalanan Anda akan semakin tenang, setiap perusahaan asuransi memiliki benefit-benefit masing-masing. Meski Garuda Indonesia selalu mengutamakan kenyamanan dan keamanan penumpang, namun dengan adanya asuransi perjalanan selain syarat untuk membuat visa namun juga Anda akan lebih merasa nyaman.

Garuda First Class (flightfox.com)

Penerbangan belasan jam dengan menggunakan Garuda Indonesia menyisir setiap jengkal langit menuju Eropa tak akan membuat Anda terlalu lelah, karena banyak fasilitas yang disediakan untuk menemani perjalanan Anda. Terlebih jika Anda menggunakan layanan first class. “The journey begins even before take off “. Anda akan dijemput dari titik penjemputan dan fasilitas ekslusif lainnya, di Bandara, Anda tak perlu melakukan check in. Karena semua diurus oleh assistant pribadi Anda.

Namun, tak hanya first class, di kelas Ekonomi pun Anda akan dimanjakan dengan fasilitas terbaik dari Garuda Indonesia, para awak kabin yang terkenal ramah siap membantu Anda selama di perjalanan. Jarak kursi yang cukup lega dan memungkinkan Anda untuk bisa mengistirahatkan kaki. Fasilitas hiburan selama di atas langitpun tak akan membuat Anda bosan. Dan hal ini telah diakui oleh dunia terbukti dengan diraihnya penghargaan oleh Garuda Indonesia untuk kategori Economy Class offers comfort and convenience like no other dari SkyTrax tahun 2013.

Sudah siap terbang menjelajah langit Eropa dengan Garuda Indonesia?

Editor : Akrom Hazami

Travelers Pati yang Ngabuburit di Sini Dijamin Betah

Seorang pengunjung tengah menikmati suasana Ramadan di rumah pohon Bukit Pandang Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto) 

MuriaNewsCom, Pati – Salah satu tempat ngabuburit di Kabupaten Pati yang paling asyik, antara lain kawasan wisata Bukit Pandang Ki Santamulya. Terletak di bukit Gunung Kendeng, Desa Durensawit, Kayen, kawasan wisata ini banyak dimanfaatkan untuk ngabuburit.

Tia Sisca Herawati, Duta Wisata Kabupaten Pati 2016 adalah satu di antara pengunjung yang sempat menghabiskan waktu ngabuburit di sana. Dia bersama temannya menghabiskan waktu selama tiga jam untuk mengelilingi dan nongkrong di berbagai spot yang ditawarkan.

Mahasiswi Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini berangkat dari rumahnya, Kelurahan Parenggan, Pati Kota sekitar pukul 14.00 WIB. Dengan berkendara sepeda motor, dia menghabiskan waktu sekitar 30 menit dari Pati Kota hingga Bukit Pandang.

Sampai di kawasan wisata pukul 14.30 WIB, dia langsung menjelajah ke berbagai spot yang ditawarkan. “Saya lebih suka rumah pohon bertingkat. Suasananya teduh, pemandangan indah, tempatnya cukup ekstrem karena di bawah merupakan jurang,” ucap Sisca.

Setelah memasuki pukul 17.00 WIB, Sisca memutuskan untuk pulang, setelah sebelumnya salat Ashar di musala setempat yang disediakan pengelola wisata. Menurutnya, kawasan Bukit Pandang menjadi lokasi paling tepat untuk ngabuburit.

Sementara itu, pengelola bukit pandang, Krisno mengatakan, ada penurunan pengunjung yang cukup drastis selama Ramadan. Dari pengunjung yang semula berkisar 500 sampai 700 orang di luar hari libur, saat ini hanya 200 sampai 300 pengunjung.

“Pengunjung reguler rata-rata 200 sampai 300 orang selama Ramadan. Tapi pada hari libur, pengunjung bisa lebih dari seribu selama Ramadan. Waktu paling banyak dikunjungi, antara pukul 13.00 sampai 17.00 WIB,” kata Krisno.

Pengunjung diperkirakan akan membeludak dari H-7 sampai H+7 Lebaran. Karena itu, dia sudah mempersiapkan sejumlah spot baru, seperti jembatan cinta dan penambahan gazebo-gazebo yang dipasang di berbagai titik.

Editor : Kholistiono

Liburan Jelang Ramadan, Bukit Pandang Pati Diserbu Ribuan Pengunjung

Seorang pengunjung tengah naik di puncak bukit untuk mengabadikan momen dengan berfoto. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ribuan pengunjung memadati kawasan objek wisata Bukit Pandang Ki Santamulya, Desa Durensawit, Kayen, Kamis (25/5/2017). Pengunjung mulai memadati area wisata sejak pukul 08.30 WIB.

Sebagian besar pengunjung berasal dari pelajar SMP dan SMA, serta keluarga. Mereka terlihat antre untuk naik di puncak bukit, melihat pemandangan alam berupa hamparan pegunungan Kendeng dan dataran Kabupaten Pati, serta mengabadikan momen dengan selfie.

Satu rombongan yang berjumlah enam sampai delapan orang diberikan waktu tiga menit untuk mengambil foto di puncak bukit. Pasalnya, puluhan pengunjung yang berada di bawah terlihat antre.

Riana Yuli Asmara (15), pelajar asal Godo, Winong adalah satu di antara pengunjung yang antre untuk mengambil foto di puncak bukit. Dia sengaja menghabiskan liburan menjelang Ramadan bersama dua temannya di Bukit Pandang Ki Santamulya.

“Baru pertama kali datang ke sini. Tahu lokasi ini dari teman dan Instagram. Sabtu sudah puasa. Mumpung belum puasa dan kebetulan liburan, akhirnya saya pilih tempat ini untuk menghabiskan waktu liburan,” ucap Riana.

Hingga pukul 12.30 WIB, pengunjung sudah mencapai 1.320 orang. Pada hari libur, pengunjung biasanya membeludak memadati kawasan wisata dari pukul 10.30 WIB sampai 15.00 WIB.

“Kalau hari libur, pengunjung saat ini berkisar di angka 2.500 sampai 4.000 pengunjung. Berbeda pada hari biasa, pengunjungnya berkisar 400 sampai 700 orang,” kata pengelola wisata Bukit Pandang, Krisno.

Saat ini, pengelola sudah menerapkan tiket masuk sebesar Rp 3.000 per orang, tidak termasuk anak kecil. Sementara biaya keamanan parkir dikenakan Rp 2.000 untuk sepeda motor dan Rp 5.000 untuk mobil.

Sejumlah spot baru yang ditambahkan, antara lain dua sarang burung Gogik raksasa, bunga matahari, dan spot cinta dengan ajakan “Kapan Kita Nikah”. Pekan ini, pengelola memastikan akan ada wahana baru berupa jembatan goyang.

“Asyik juga di sini. Saat berada di spot cinta, ternyata ada tulisan kapan kita nikah. Mak jleb, sakit. Soalnya masih jomblo,” kata Hilal, pengunjung asal Margorejo, Wedarijaksa.

Editor : Kholistiono

Pengembangan Wisata Waduk Kletek Pati Dikelola BUMDes

Suasana peresmian Waduk Kletek, Pucakwangi sebagai destinasi wisata, baru-baru ini. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebuah wacana menunjukkan, objek wisata tidak akan berkembang di tangan pemerintah. Sebaliknya, objek wisata akan maju bila dikelola swasta.

Namun, hal itu tidak berlaku di Desa Kletek, Kecamatan Pucakwangi. Di sana, sebuah waduk yang dibuka sebagai destinasi wisata dikelola oleh pemerintah desa menggunakan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Sekretaris Desa Kletek Samuri mengatakan, Waduk Kletek dikelola BUMDes Ngundi Makmur yang dianggarkan pemdes dari dana desa 2016. Pengembangan usaha di bidang pariwisata itu diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pendapatan yang dikelola BUMDes.

“Embung ini awalnya sebatas berfungsi sebagai irigasi. Namun, setelah dilihat punya pemandangan yang cukup bagus, kami akhirnya memutuskan untuk mengembangkan sebagai objek wisata,” kata Samuri, Senin (15/5/2017).

Hasil dari pengelolaan wisata akan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan memiliki peluang bagus dalam pemberdayaan masyarakat. Mereka bisa membuka warung di sekitar objek wisata dan mendapatkan penghasilan dari sana.

Manajer BUMDes Ngundi Makmur Rusgianto menambahkan, pengembangan wisata Waduk Kletek didesain supaya bisa dikunjungi semua kalangan, baik anak-anak, remaja, dewasa dan orangtua. Spot cinta, payung yang menggelantung di pepohonan dan hammock menjadi target pengunjung dari remaja.

Sementara wisata air ditargetkan bisa menyasar semua kalangan. Ke depan, pihaknya juga akan menambah sejumlah fasilitas seperti flying fox dan gembok cinta untuk menjawab kebutuhan pengunjung. Dia berharap, Waduk Kletek bisa meningkatkan dunia pariwisata di Kabupaten Pati.

Editor : Kholistiono

Waduk Kletek jadi Destinasi Wisata Baru di Pati

Pengunjung berfoto selfie di spot cinta Waduk Kletek, Pucakwangi, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebuah waduk kecil yang terletak di Desa Kletek, Kecamatan Pucakwangi, saat ini menjadi destinasi wisata baru di Kabupaten Pati. Setiap hari, ratusan wisatawan lokal mengunjungi kawasan tersebut.

Kendati berada di sebuah daerah terpencil dari kota, tetapi pesonanya membuat banyak muda-mudi bertandang ke Waduk Kletek. Tak sekadar menyuguhkan pemandangan alam, pengelola menawarkan beragam spot menarik untuk selfie.

Pratiwi (20), pengunjung asal Jaken mengaku penasaran dengan daerah tersebut. Dia tahu Waduk Kletek dibuka sebagai objek wisata melalui cerita dari teman dan media sosial, seperti Facebook dan Instagram.

“Saya tahu dari cerita teman, Facebook dan Instagram. Sebagian besar teman-teman mengunggahnya di Instagram. Penasaran dan akhirnya datang ke sana,” ujar Pratiwi.

Menurutnya, ada sejumlah spot yang menarik. Salah satunya, spot cinta dengan pemandangan danau. Ada pula hammock, payung, dan wahana air yang cocok dikunjungi bagi pasangan muda-mudi maupun keluarga saat menghabiskan waktu libur.

Pengelola Waduk Kletek Rusgianto mengungkapkan, kawasan tersebut dibuka sebagai destinasi wisata karena punya potensi yang bagus. Terbukti, banyak pengunjung yang datang setelah dibuka sebagai objek wisata dengan penambahan fasilitas-fasilitas baru.

Dalam waktu dekat, pengelola berencana akan menambahkan sejumlah fasilitas seperti gembok cinta dan flying fox. Pihaknya juga akan mengupayakan perbaikan infrastruktur jalan supaya akses menuju lokasi mudah dilewati.

Editor : Kholistiono

Wisata Bukit Kendeng Pati Dilengkapi Hammock Warna-warni

Sejumlah pengunjung tengah berfoto di hammock warna-warni, spot baru bukit pandang Ki Santa Mulya, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Satu lagi fasilitas yang ditambahkan di objek wisata perbukitan Gunung Kendeng Ki Santa Mulya, Desa Durensawit, Kayen, Pati. Yaitu hammock warna-warni yang cocok dijadikan ajang untuk selfie.

Empat hammock dengan warna berbeda disusun dari atas ke bawah, dikaitkan dua pohon jati. Beberapa hari setelah dipasang, fasilitas hammock ramai jadi rebutan pengunjung yang ingin mengabadikan gambar di atas hammock.

Pengelola destinasi Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Krisno, mengungkapkan, penambahan fasilitas hammock warna-warna bermula dari gagasan pengunjung luar daerah. Dirasa cukup bagus, masukan dari pengunjung tersebut direalisasikan.

“Kita selalu terbuka dengan ide, gagasan, saran dan masukan. Kalau memang dirasa cocok, kami akan upayakan. Ini dalam rangka mengembangkan kawasan wisata bukit pandang, ternyata di sini ada semua fasilitas yang lagi digemari traveler muda,” ucap Krisno.

Fasilitas hammock warna-warni di kawasan objek wisata diakui menjadi satu-satunya dan pertama kali ada di Kabupaten Pati. Dia berharap, fasilitas yang lengkap membuat traveler asal Pati tidak perlu jauh-jauh berkunjung ke luar daerah, karena di Pati sendiri sudah ada.

“Awalnya, kami ingin membuat 15 hummock yang tersusun dari bawah ke atas. Namun, atas pertimbangan keselamatan, kami akhirnya memutuskan empat saja cukup. Nggak usah jauh-jauh ke luar daerah, di Pati saja sudah sangat lengkap,” tuturnya.

Tercatat, ada banyak spot yang ditawarkan pengelola bukit pandang. Mulai dari spot kupu-kupu raksasa, sarang burung Gogik, rumah pohon, spot Cinta, hammock, dan gazebo di atas bukit dengan panorama perbukitan Gunung Kendeng yang hijau menghampar begitu luas.

Jumi, salah satu pengunjung asal Jaken mengaku terkesan dengan destinasi wisata tersebut. Kendati masih sederhana, tetapi konsep pengembangan wisatanya disebut sangat bagus karena memadukan kelestarian alam dan spot wisata kekinian.

Terlebih, akses jalan menuju kawasan wisata sangat mudah dengan kondisi jalan yang bagus. “Saya panasaran dengan objek ini, karena tersebar viral di media sosial. Ini kedua kalinya saya berkunjung, ternyata ada penambahan fasilitas-fasilitas baru,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Pengelola Bukit Pandang Pati Suguhkan Pagelaran Wayang Ucul

Pagelaran wayang ucul dipentaskan di kawasan wisata Bukit Pandang Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pengelola objek wisata Bukit Pandang Ki Santa Mulya di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati terus mengembangkan inovasi untuk menyuguhkan satu destinasi wisata yang lengkap tanpa meninggalkan unsur alam dan budaya.

Tak hanya menawarkan sejumlah spot yang menarik untuk selfie, kini pengelola menyuguhkan pagelaran wayang ucul dengan lakon petruk angon laler. Wayang itu diperankan oleh pengelola bukit pandang.

Uniknya, pagelaran wayang ucul mengisahkan sebuah bukit yang ramai dikunjungi pengunjung. Bukit pandang diibaratkan sebagai bangkai ikan. Kendati ikan sudah mati dan menjadi bangkai, tetapi tetap disukai manusia.

“Pengunjung dikiaskan sebagai lalat. Petruk angon laler, artinya Petruk memelihara lalat. Wayang ucul berkisah tentang bagaimana pengelola sebagai petruk bertugas memelihara bukit agar selalu dikunjungi lalat atau wisatawan,” ucap penggagas Bukit Pandang Pati, Krisno, Selasa (18/4/2017).

Menurutnya, pagelaran wayang ucul menjadi salah satu upaya untuk melestarikan tradisi dan budaya Jawa di tengah destinasi wisata alam berkonsep kekinian. Wayang digelar di batu gedek yang lokasinya berada di kawasan bukit pandang.

Saat dilaunching, pementasan wayang ucul melibatkan sejumlah mahasiswa Passa Unissula, IMP Unnes, Kompi yang meliputi Undip, Polines dan Politekes, KMPP UIN Walisongo Semarang, Kommpas Unwahas dan Pampa Upgris. Mereka ikut mendukung upaya pelestarian budaya di tengah destinasi wisata alam di Pegunungan Kendeng.

“Rencananya, pagelaran wayang ucul kami gelar setiap hari. Jadi, pengunjung tidak cuma foto selfie dan menikmati pemandangan alam yang indah di Pegunungan Kendeng, tetapi juga bisa menikmati wayang ucul,” imbuhnya.

Saat ini, kawasan wisata Bukit Pandang tak hanya dikunjungi wisatawan lokal, tetapi juga luar daerah seperti Gresik, Lumajang, Surabaya, Pemalang, hingga Bandung. Pengunjung dari luar kota biasanya mengaku sebagai backpacker, sekadar ingin menyaksikan salah satu pesona alam di Kabupaten Pati.

Editor : Kholistiono

Sarang Burung Raksasa jadi Spot Selfie Baru di Pati

Dua orang pengunjung tengah berfoto di spot sarang burung Gogik di kawasan wisata Bukit Pandang, Durensawit, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sarang burung raksasa saat ini menjadi salah satu spot menarik untuk selfie di kawasan wisata Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati. Spot itu baru ditambahkan dan mulai digunakan pada Selasa (18/4/2017).

Pengelola bukit pandang, Krisno mengatakan, sarang burung yang bisa menampung dua hingga tiga orang tersebut dinamakan sarang burung Gogik. Pemberian nama itu tidak lepas dari sebuah legenda keberadaan burung raksasa di Pegunungan Kendeng pada zaman itu.

“Kami akan terus berinovasi untuk mengenalkan eksotisme Pegunungan Kendeng sebagai destinasi wisata. Sarang burung Gogik menjadi salah satu inovasi kami untuk menarik minat pengunjung dari kalangan anak muda,” ujar Krisno, Rabu (19/4/2017).

Sarang burung sendiri dibuat dari ranting kayu yang disusun secara melingkar dengan kerangka dari besi. Ranting-ranting kayu yang diambil dari hutan setempat itu membentuk lingkaran mirip sarang burung, menjadi spot yang paling banyak diburu.

Pengelola menyarankan kepada pengunjung untuk bergantian menggunakan spot baru itu untuk berfoto. Pasalnya, pengunjung wisata bukit pandang saat ini mencapai lebih dari 500 orang setiap harinya, lebih dari 2.000 orang pada Weekend dan hari libur.

Krisno mengaku, spot semacam sarang burung baru pertama kali ada di Pati. Karenanya, dia tidak heran bila spot baru itu menjadi rebutan pengunjung untuk berfoto selfie. “Ini satu-satunya dan baru pertama kali di Pati ada semacam ini,” ucap Krisno.

Wida, salah satu pengunjung asal Pati kota mengaku takjub dengan kawasan wisata tersebut. Dia menyebut pengelola cukup kreatif memanfaatkan potensi pemandangan alam yang indah dengan sesuatu yang kekinian.

“Sarang burung semacam ini sepertinya sudah pernah saya lihat di Instagram. Kalau di Pati ada seperti ini, sangat bagus. Cocok buat selfie dengan latar belakang perbukitan Gunung Kendeng yang hijau,” jelas Wida.
Editor : Kholistiono

River Tubing Seru di Panohan Rembang yang Semakin Diminati Wisatawan

Bupati Rembang Abdul Hafidz (kanan) saat menikmati river rubing di Sungai Panohan beberapa waktu lalu.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Sejak dibuka secara resmi oleh Bupati Rembang Abdul Hafidz pada Minggu (2/4/2017) lalu, wisata river tubing di sungai Desa Panohan, Kecamatan Gunem, Rembang, kini semakin diminati wisatawan.

Muhammad Soleh, Ketua Karang Taruna Bina Remaja mengatakan, jika sebelum diresmikan oleh bupati, wisatawan hanya berjumlah belasan orang saja setiap harinya, kini, meningkat sekitar 50 wisatawan per harinya.

“Kini semakin banyak wisatawan yang datang untuk menikmati wisata river tubing di Sungai Panohan ini. Mereka penasaran untuk bisa menikmati keseruan wisata baru yang ada di Remban ini. Mereka tidak hanya datang dari Rembang saja, dari dari luar daerah juga banyak,” ungkapnya.

Meski demikian, katanya, untuk peralatan river tubing, yang tersedia saat ini masih cukup sedikit, yakni 13 unit. Peralatan tersebut, terdiri dari ban, body protector atau rompi, pelampung, pelindung lutut dan helm.

Sedangkan untuk biaya perawatan alat atau lainnya, pihak pengelola, katanya, masih mengandalkan dari pendapatan sewa peralatan dari wisatawan. Sejauh ini, menurutnya pendapatan dari jasa persewaan alat tersebut masih mencukupi untuk melakukan perawatan alat.

Terkait dengan persewaan alat, pengelola saat ini juga menaikkan tarif. Dari yang semula Rp 15 ribu, kini naik menjadi Rp 20 ribu.

Editor : Kholistiono

 

Spot Kupu-kupu Percantik Kawasan Wisata Bukit Pandang Pati

Seorang pengunjung tengah mengambil foto di spot kupu-kupu, kawasan wisata Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Durensawit, Kayen, Pati, Senin (27/3/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kawasan wisata Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati saat ini terus menambahkan sejumlah fasilitas untuk memanjakan pengunjung. Sejumlah spot foto menarik ditambahkan untuk menarik minat pengunjung.

Salah satunya, spot kupu-kupu warna biru yang berada di kawasan puncak, sebelah atas spot I Love U dan rumah pohon. Terbukti, spot kupu-kupu yang baru, ramai dijadikan ajang foto selfie pengunjung.

Pengelola Bukit Pandang Ki Santa Mulya, Krisno mengungkapkan, spot I Love U saat ini kalah popularitas dengan spot kupu-kupu. Namun, kedua spot tersebut diakui paling sering digunakan sebagai tempat untuk berfoto.

“Spot kupu-kupu dibuat agar lebih selaras dengan alam. Kita desain seperti itu, pengunjung yang berfoto di tengah spot seolah-olah seperti kupu-kupu beneran yang punya sayap. Dari pantauan pengelola, spot itu paling banyak digunakan setelah I Love U dan rumah pohon,” ujar Krisno, Senin (27/3/2017).

Selain penambahan spot selfie baru, pengelola juga menambah sejumlah fasilitas seperti rumah pohon baru dengan view hamparan pegunungan Kendeng yang hijau. Satu gazebo juga ditambahkan, mengingat banyaknya pengunjung yang berdatangan setiap hari.

Kini, pengelola sudah membangun dua fasilitas baru yang akan semakin memanjakan pengunjung, yaitu toilet dan kolam renang. “Ini akan menjadi kolam renang yang unik, karena berada di ketinggian perbukitan Gunung Kendeng yang asri dan hijau,” imbuhnya.

Sementara itu, penambahan wahana baru seperti flying fox, jembatan goyang dan outbond sudah direncanakan. Hanya saja, pihaknya butuh waktu untuk mempersiapkan dana yang dihimpun dari tiket masuk dan parkir, termasuk persiapan keterampilan outbond.

Editor : Kholistiono