Santri Penghafal Alquran Diprioritaskan dalam Penerimaan Anggota Polri

MuriaNewsCom, Kebumen – Polri tahun 2018 ini kembali membuka seleksi untuk menjaring calon polisi baru. Kuota yang disiapkan cukup banyak, ribuan kursi disiapkan baik untuk tamtama, bintara maupun Akademi Kepolisian (Akpol).

Pendaftaran penerimaan anggota Polri sudah dimulai 26 Maret 2018 dan akan berakhir pada 11 April 2018. Dalam pelaksanaan penerimaan kali ini Polri memastikan tak akan ada KKN dan prosesnya akan dilaksanakan secara transparan.

Tak hanya itu, Polri juga akan memberi prioritas bagi para hafidz atau santri penghafal Alquran. Pendaftar yang bisa menunjukkan kemampuan menghafal Alquran akan mempunyai nilai khusus.

Hal ini ditegaskan Kapolres Kebumen AKBP Arief Bahtiar melalui Kanit Binmas Aiptu Marina, saat menyosialisasikan penerimaan Polri tahun 2018.

“Bagi yang anaknya hafal Alquran, bisa ikut seleksi. Karena saat ini penghafal Alquran tengah menjadi prioritas tersendiri saat seleksi penerimaan Polri, dengan syarat dan ketentuan berlaku,” katanya.

Meski mendapat prioritas, namun para hafidz yang mendaftar tetap harus mengikuti tahapan dan proses secara umum. Bedanya mereka mempunyai nilai khusus, yang menjadi pertimbangan panitia dalam menentukan peserta yang lolos.

Tak hanya hafidz Alquran, calon peserta seleksi yang memiliki prestasi baik akademik, olahraga, maupun paskibra juga termasuk dalam kriteria ini.

Sebelumnya, Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono memastikan proses seleksi penerimaan anggota Polri tahun 2018 ini akan berlangsung secara bersih dan transparan. Pihaknya tak akan menolerir aksi titip atau sogok untuk bisa masuk menjadi anggota polisi.

Baca juga : 

Menurutnya, seluruh panitia yang terlibat dalam seleksi penerimaan anggota Polri tahun 2018 di tingkat Polda Jateng, telah menyatakan ikrar untuk bersih, transparan, akuntabel dan humanis.

Menurut dia, untuk mendapatkan calon polisi yang berintegritas dan berkualitas, maka proses seleksinya harus bersih dan transparan. “Tidak ada lagi titip menitip,” katanya.

Ia memastikan, dalam proses penerimaan calon anggota Polri baik Bintara maupun Akpol tidak ada istilah titip menitip atau membayar karena dipastikan prosesnya gratis. “Rekruitmen calon anggota polri tidak dipungut biaya, tidak ada katabelece atau titip menitip,” kata Condro.

Bahkan menurut dia, jika ada panitia yang melakukan kecurangan maka akan langsung dipecat. Ia pun meminta warga yang mengetahui ada panitia curang untuk langsung melaporkan.

“Siapa yang masuk bintara polisi bayar, bayar ke siapa, laporkan ke saya. Kalau terbukti langsung saya pecat,” tegasnya.

Editor : Ali Muntoha

Pabrik Susu Etawa Aumom di Tegal Digerebek, Ini Penyebabnya

MuriaNewsCom, Tegal – Pabrik susu kambing etawa bermerk Aumom, digerebek tim gabungan Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Ditreskrimsus Polda Jateng. Susu merek Aumom itu diketahui belum memiliki izin edar.

Bahkan diindikasi produk susu yang dijual secara online itu, kode produksi yang tertera dalam kemasan susu kambing yang ternyata merupakan kode produksi susu merek lain.

Penggerebekan dilakukan di sebuah rumah tempat produksi susu itu, di Desa Wangandawa, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, Rabu (28/3/2018) petang. Dari penggerebekan itu, petugas mengamankan 2.800 kotak susu etawa siap edar.

Kepala BPOM Semarang, Endang Pudjiwati mengatakan, meski sekala rumahan namun produksinya cukup besar.

”Untuk skala produksi bisa mencapai 20.000 kotak. Yang diamankan di sarana produksi ada 2.800 kotak alat produksi dan kemasan pembungkus. Nilai totalnya Rp 105 juta,” ujar Endang, Kamis (29/3/2018).

Menurut dia, selain tanpa izin edar, sarana produksi juga tidak memenuhi persyaratan sanitasi dan higienitas. Sehingga dikhawatirkan berbahaya jika dikomsumsi.

Apalagi susu kemasan itu dianjurkan untuk ibu hamil dan menyusui. Padahal kondisi ibu hamil dan menyusui rentan akan mengalami keracunan jika susu tersebut tercemar bakteri.

“Coba perhatikan tempat produksinya hanya seperti ini tidak memenuhi persyaratan sanitasi. Padahal susunya adalah untuk ibu hamil. Ibu hamil sangat rentan bila ada bakteri mudah terkena keracunan. Kasihan ibu hamilnya,” terangnya.

Ia menyebut, produsen susu ibu hamil inimenggunakan nomor nomor izin produk lain dalam kemasannya. Nomor MD milik produk lain dicantumkan pada kemasan susu merek Aumom ini untuk meyakinkan calon konsumen. Sejumlah artis terkenal pun dicatut untuk mempromosikan produk ini.

“Pemasaran susu ini, dilakukan melalui media online dan melibatkan artis-artis terkenal. Itu mungkin yang membuat orang menjadi percaya, apalagi sudah ada nomor MD meskipun milik produk lain,” ungkap Endang.

Penyidik BBPOM Semarang, Firman Erry Probo menambahkan, meski tak berizin edar, susu sudah menyebar ke sejumlah daerah hingga Jawa Timur.

”Di Tegal dan Brebes juga banyak ditemukan. Di Brebes gudang penyimpanan, produksinya di Tegal,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

Derita Bocah 5 Tahun di Batang yang Wajahnya Dimakan Kanker dan Tumor

MuriaNewsCom, Batang – Bocah berumur 5 tahun bernama Huda Nur Arrosyid harus menderita penyakit yang cukup parah. Bocah yang tinggal di Desa Denasri Kulon RT 02 RW 04, Kabupaten Batang ini, setiap hari harus menahan sakit karena kanker kulit dan tumor yang menyerang wajah dan sebagian tubuhnya.

Wajah anak pasangan Ruslan Abdulgani dan Fatimah ini muncul luka bekas garukan karena gatal akibat kanker. Tak hanya itu saja, bocah malang ini juga harus menderita sakit karena matanya ditumbuhi tumor.

Kanker yang menyerang kulit wajah bocah ini muncul sejak Huda berumur 4 bulan. Sementara tumor baru terdeteksi pada 2016 silam.

Orang tuan Huda menyebut, penyakit yang menyerang anaknya bermula dari luka kecil di bagian pipi. Namun lama kelamaan luka tersebut terus menyebar di wajah hingga ke bagian leher.

“Lalu terus menjalar, hingga kini hampir semua wajah. Empat bulan terakhir ini semakin parah,” kata Ruslan.

Pengobatan, kata dia, terus dilakukan, mulai dari Puskesmas dan Rumah Sakit di Batang. Hanya saja di RS daerah tidak sanggup, sehingga dirujuk di RS Kariadi, Semarang.

“Kita sudah ke RS Kariadi sebanyak 5 kali. Memang baru rawat jalan terus. Katanya akan dioperasi, tapi belum pasti,” ujarnya.

Saat ini berat badan Huda sendiri kurang dari 9 kg. Utuk membeli susu anaknya agar bisa menambah berat badan, dirasa berat oleh orangtuanya. Fatimah, ibu Huda tidak bisa bekerja. Selain harus menunggu Huda di rumah, ia juga tunawicara.

Kondisi Huda memang memprihatinkan. Dua penyakitnya membuat Huda tampak kesakitan dan kerap menangis. Tidak sedikit warga berkunjung ke keluarga ini untuk meberikan dukungan juga bantuan ala kadarnya. Orangtua Huda kini hanya bisa pasrah sembari menunggu dilakukan operasi pada anak semata wayangnya.

Derita yang menimpa Huda juga menarik perhatian Calon Wakil Gubernur Jateng, Ida Fauziyah, yang hari Minggu (25/3/2018) kemarin menjenguk bocah ini di rumahnya. Ida menjanjikan akan membantu agar tindakan operasi dan penyembuhan Huda segera dilakukan.

“Nanti ada teman-teman dari Batang dan Semarang yang akan berkoordinasi membantu pengobatannya,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Ganjar Tewas Ditusuk Saat Duel dengan Napi Lain di Lapas Brebes

MuriaNewsCom, Brebes – Dua orang narapidana di Lapas Kelas IIB Brebes duel hingga salah satunya tewas. Korban tewas diketahui bernama Ganjar Slamet yang merupakan napi kasus pembunuhan.

Sementara pelaku bernama Yandi, yang merupakan kasus narkoba. Kedua napi yang berduel ini merupakan napi pindahan dari LP Cipinang Jakarta. Di Lapas Brebes keduanya ditempatkan di sel yang sama yakni kamar nomor 16.

Aksi duel ini terjadi pada Jumat (23/3/2018) sore. Ganjar ditusuk di bagian dada menggunakan gunting. Ganjar sempat dilarikan ke RS Dedy Jaya Brebes, namun nyawanya tidak tertolong.

Motif duel itu diperkirakan karena kedua napi itu bercanda saling ejek yang terjadi pada Kamis (22/3/2018) malam. Ejekan itu berujung pada perkelahian yang terjadi pada Jumat sore.

Duel terjadi saat pintu kamar dibuka untuk istirahat. Keduanya langsung dueal, dan Yandi menusukkan gunting ke dada kiri korban, hingga korban tak berdaya.

”Setiap sore, kamar dibuka untuk memberi kesmepatan napi mandi. Rupanya kesempatan itu digunakan untuk balas dendam, setelah saling ejek pada malam sebelumnya,” kata Kepala Lapas Kelas IIB Brebes, Maliki kepada wartawan.

Ganjar sempat dilarikan ke rumah sakit namun nyawannya tak tertolong. Sementara pelaku langsung diamankan dan disderahkan ke Polres Brebes. Barang bukti gunting yang digunakan untuk menusuk korban juga diamankan.

Wakapolres Brebes Kompol Wahyudi saat dikonfirmasi membenarkan terhadap kejadian tersebut. Menurutnya, hingga kini anggotanya masih melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut. Sedangkan pelaku sudah diamankan, termasuk juga mengamankan sejumlah barang bukti.

Dikuti dari detik.com, Kasat Reskrim Polres Brebes, AKP Arwansa  menyebut jika hasil pemeriksaan sementara kejadian tersebut berawal ketika penghuni kamar saling bercanda. Entah sengaja atau tidak, saat Ganjar berbicara, air liurnya muncrat dan mengenai pelaku.

“Rupanya pelaku tersinggung karena saat bercanda air liur Ganjar muncrat dan mengenai Yandi. Sebenarnya sempat didamaikan saat itu juga oleh penghuni lainnya,” terang Kasat Reskrim.

Editor : Ali Muntoha

Aksi Blokir Akses Jalan Tol Pemalang-Batang Meluas

MuriaNewsCom, Batang – Aksi pemblokiran akses jalan menuju jalan Tol Pemalang-Batang di Desa Cepagan, Kabupaten Batang, yang dilakukan warga sejak kemarin, Jumat (23/2/2018) hari ini meluas hingga Desa Sidorejo.

Diulansir antarajateng.com, aksi pemblokiran akses jalan Tol Batang-Pemalang tersebut dipicu adanya kekecewaan warga terhadap PT Waskita. Kontraktor pengembang proyek jalan tol itu dinilai tidak merespons tuntutan warga terhadap perbaikan jalan yang rusak. yang diakibatkan oleh truk pengangkut material milik perusahaan itu.

Kemarahan warga desa makin bertambah, dengan adanya kasus kecelakaan yang menimpa seorang sepeda motor hingga meninggal dunia karena kondisi jalan yang rusak parah, beberapa waktu lalu.

Akibat pemblokiran akses jalur Tol Batang-Pemalang, truk pengangkut material untuk pengurukan proyek tol berhenti total. Pasalnya, jalan dipenuhi dengan bebatuan dan palangan yang terbuat dari kayu.

Warga Desa Sidorejo, Tasurun mengatakan, kerusakan jalan yang tidak kunjung diperbaiki oleh PT Waskita ini mengakibatkan warga merasa kesal, sehingga mereka melakukan aksi blokir.

“Kami sudah lama menahan kecewa dan kesal terhadap itikat PT Waskita untuk memperbaiki jalan yang rusak yang disebabkan oleh truk pengangkut material. Kondisi jalan yang tidak seimbang menahan beban berat truk pengangkut material mengakibatkan jalan rusak parah,” katanya.

Ia mengatakan, warga tidak mempermasalahkan adanya pembangunan tol Pemalang-Batang, karena proyek itu untuk kemanfaatan kepentingan umum. Kendati demikian, warga menginginkan adanya tanggung jawab PT Waskita selaku pengembang proyek jalan tol memperbaiki jalan yang kini sudah rusak parah.

Bupati Batang Wihaji mengatakan, sesuai kesepakatan PT Waskita dengan Pemkab Batang, menyebutkan pengelola proyek Tol Pemalang-Batang harus sudah memulai pengecoran jalan itu pada 17 Februari 2018.

Akan tetapi, kata dia, hingga Maret 2018 perbaikan jalan yang rusak itu belum sepenuhnya dikerjakan bahkan cenderung terabaikan.

“Kami mendukung program pembangunan Tol Pemalang-Batang yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi. Akan tetapi PT Waskita juga harus bertanggung jawab terhadap kerusakan jalan lintasan tol yang digunakan untuk sarana lalu lintas truk pengangkut material PT Waskita,” ujarnya.

Ia memperingatkan pada PT Waskita secepatnya memperbaiki jalan lintasan tol itu agar masyarakat tidak mengambil tindakan sendiri.

“Tolong cepat diperbaiki jalan lintasan tol itu, agar masyarakat tidak menjadi korban kecelakaan akibat rusaknya jalan. Saya tidak ingin rakyat saya marah,” katanya.

Kepala Teknik PT. Waskita Proyek Jalan Tol Pemalang-Batang Paket 4, Nasrullah, mengatakan bahwa PT Waskita sudah mematuhi apa yang menjadi kesepakatan dengan Pemerintah Kabupaten Batang.

“Saat ini, kami konsentrasi melakukan perbaikan jalan Nganjir, Desa Kalibeluk, Warungasem hingga ruas jalan titik selatan Desa Cepagan hingga Pandansari,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Superblock 80 Hektare Bakal Ubah Wajah Kabupaten Batang

MuriaNewsCom, Batang – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang bakal membangun proyek besar untuk mengubah ‘wajah’ koota dan identitas Batang. Bakal dibangun superblock dengan luas mencapai 80 hektare.

Namun dana untuk pembangunan superblock ini mencapai ratusan miliar. Sementara untuk mengandalkan dana anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) dinilai tidak memungkinkan. Sehingga pemkab mengundang investor untuk membangun superblock ini.

“Dana untuk membangun `Batang Superblock` ini bisa mencapai ratusan miliar. Oleh karena, kita perlu menggandeng investor untuk mewujudkan program tersebut,” kata Bupati Btang, Wihaji, Selasa (20/3/2018).

Meski demikian, menurut dia pemkab tetap menganggarkan dana di atas Rp 50 miliar untuk menopang pembangunan itu. Ia memastikan, rencana pembangunan Batang Superblock itu sudah masuk dalam RPPJMD dan ditarget tahun 2020 atau 2021 sudah mulai dibangun.

Rencananya Batang Superblock di dalamnya akan dibangun Sport Center, Mall, taman kota, dan pusat hiburan. Pembangunan tersebut akan berlokasi di eks pasar darurat yang berada di Jalan Dr Sutomo.

Lokasi itu merupakan aset pemkab dengan luas tanah 8 hektare, dari Hutan Kota Rajawali hingga persawahan. “Khusus untuk sport centernya GOR Indoor tahun ini Detail Engeneering Desainnya (DED) sudah jadi,” ujarnya.

Wihaji menyatakan, pemkab masih mencari sistem yang terbaik dan tidak melanggar peraturan dalam upaya menata wajah Kabupaten Batang. Pembangunan Batang Superblock, kata dia, memang masih dalam perencanaan dan butuh telaah serta kajian mendalam.

“Kita telah memiliki tanahnya yang siap untuk dibangun kawasan `Batang Superblock` itu dan tinggal mencari sistemnya agar tidak melanggar aturan. Kami memang harus hati-hati agar semua pihak tidak merasa ada yang dirugikan,” terangnya.

Saat ini menurut dia, sudah banyak investor yang mendaftarkan diri sebagai pelaksana proyek pembangunan itu. Namun pemkab masih melihat sistemnya apakah `build, operate, and transfer` yaitu membangun, mengelola, dan menyerahkan.

Sejauh ini menurutnya, pemkab masih mengaji secara detil sistem yang ditawarkan para investor tersebut.

Editor : Ali Muntoha

Mengerikan! Mayat Bayi di Pekalongan Kocar-kacir Dimakan Biawak

MuriaNewsCom, Pekalongan – Warga Pantai Slamaran, Kelurahan Krapyak, Kota Pekalongan, Rabu (14/3/2018) dini hari tadi digegerkan dengan penemuan mayat bayi di sekitar areal kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Pekalongan.

Yang membuat heboh, mayat berjenis kelamin perempuan itu ditemukan dengan tubuh yang sudah terkoyak dan tak utuh. Mayat bayi itu dipergoki warga tengah dimangsa binatang biawak.

Saat dicabik biawak, mayat bayi itu terbungkus plastik warna merah, yang sebelumnya terkubur di tanah. Binatang itu mencabik-cabik tangan kanan bayi malang tersebut.

Jasad bayi ini awalnya ditemukan oleh warga yang bertugas sebagai penjaga malam di kampus tersebut. Warga awalnya melihat seekor biawak yang sedang memakan sesuatu. Namun setelah didekati, ternyata hewan rawa tersebut tengah memakan potongan tangan dari jasad bayi itu.

“Saya lagi berkeliling jaga malam. Saya lihat sesuatu dikebun,ternyata ada biawak yang tengah mengorek-ngorek lubang tanah. Di situ ada bungkusan warna merah,” kata Dakirin penjaga malam setempat.

Binatang biawak saat mendekati potongan mayat bayi. (istimewa)

Ia mengaku sempat mengusir binatang itu, karena tengah mencakar-cakar tangan bayi.

Melihat kejadian tersebut, warga kemudian melaporkan kepada pihak kepolisian, hingga akhirnya diketahui ada bagian tubuh lain yang dikubur sedalam dua puluh sentimeter di pematang tambak.

“Setelah di TKP ternyata ada bagian dari mayat bayi yang dibungkus kain merah yang di kubur di TKP. Dan saat ditemukan hanya tinggal tangan kanan mayat bayi,” kata Kapolsek Pekalongan Utara Kompol Agus Riyanto kepada wartawan.

Aparat kepolisian bersama tim medis dan Inafis langsung mengevakuasi mayat bayi tersebut dan dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Polisi juga menduga, tak utuhnya jasad bayi tersebut karena sudah dimakan biawak.

“Nampaknya (jasad bayi ini) sudah beberapa hari, makanya nanti dipastikan di rumah sakit. Mungkin sudah dimakan biawak. Karena memang daerah ini kan banyak biawak. Tadi juga didapat karena ada biawak,” kata Kompol Agus Riyanto, Kapolsek Pekalongan Utara.

Dari hasil visum yang dilakukan di kamar jenazah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bendan diketahui, jasad bayi malang tersebut berjenis kelamin perempuan. Kondisi bayi sudah membusuk, dan diperkirakan sudah lebih dari tiga hari dikubur di lokasi tersebut.

Polisi hingga kini masih melakukan pendalaman terhadap kasus ini guna mencari pelaku pembuangan bayi malang tersebut. Polisi sudah mengantongi petunjuk sebuah kemeja warna merah muda yang digunakan untuk membungkus jenazah yang bayi.

Editor : Ali Muntoha

5 Preman Tukang Palak Sopir Truk di Pantura Dibekuk Polisi

MuriaNewsCom, Tegal – Kawanan preman yang sering memalak sopir truk di jalur pantura Kota Tegal berhasil diamankan polisi. Empat orang berhasil diamankan tim Saber Pungli bersama Sat Sabhara Polres Tegal saat mereka tengah beraksi.

Empat orang yang diamankan yakni YA (30), AL (24), BS (29) dan AD (29) warga Kota Tegal, serta JH (38) warga Kabupaten Pemalang. Kawanan ini trtangkap basah saat memalak sopir yang melewati Jalur Pantura dan jalan protokol Kota Tegal.

Wakapolres Tegal Kota selaku Kasatgas Saber Pungli Kota Tegal, Kompol Pri Haryadi mengungkapkan,modus pelaku dengan cara meminta uang pada para sopir saat berhenti di traffic light.

“Mereka diamankan dari 3 lokasi, yakni lampu merah terminal, Jalan AR Hakim dan Jalan Pangeran Diponegoro, Rabu (07/3/2018) dinihari, ” ujarnya.

Ia menyebut, penangkapan ini berasal dari informasi masyarakat yang resah dari aksi pra preman ini. Pasalnya, tak sedikit sopir yang menjadi korban para pemuda pengangguran tersebut.

Menurutnya dari informasi tersebut, Pokja penindakan dibackup personel Sabhara langsung melakukan penyelidikan, dan mendapati ada beberapa orang yang sedang melakukan aksi pungli.

Sementara dari hasil penangkapan terhadap para pelaku, tim pokja penindakan Saber Pungli mengamankan barang-bukti sejumlah uang tunai sebesar Rp 120.000. “Atas perbuatan kelima tersangka tersebut akan dikenakan pasal 504 KUH Pidana, yakni meminta-minta di tempat umum,” tuturnya.

Editor : Ali Muntoha

Mau Salat Subuh, Saeful Justru Temukan Mayat di Depan Musala

MuriaNewsCom, Brebes – Saeful (37), warga Desa Pasarbatang, Brebes, Kamis (8/3/2018) sangat terkejut sat mendapati seseorang tergeletak di depan musala di dekat rumahnya. Ia yang hendak mengaji sebelum salat subuh itu langsung memeriksa, dan betapa kagetnya ternyata pria tersebut sudah tak bernyawa.

Laki-laki tanapa identitas itu ditemukan sudah tak bernyawa di depan Musala Baitul Muhtadin, Kelurahan Pasarbatang, Brebes, sekitar pukul 03.30 WIB. Pria itu tergeletak di pinggir jalan dalam kondisi telungkup menghadap ke timur.

Petugas Polres Brebes yang mendapat laporan langsung mendatangi lokasi tersebut selang beberapa menit kemudian.

Kapolres Brebes AKBP Sugiarto melalui PJS Kapolsek Brebes AKP Sapari menyatakan, petugas langsung mendatangi TKP setelah ada laporan dari warga. ”Tim gabungan dari Identifikasi Polres Brebes dan Sat Reskrim Polsek langsung melakukan olah TKP di tempat tersebut,” ujar Sapari.

Dari hasil pemeriksaan sementara tidak ada indikasi korban mengalami luka ataupun tanda-tanda penganiayaan.

Saat ini jenazah telah berada di RSUD Brebes untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Petugas di lapangan juga mengamankan beberapa barang bukti. Di antaranya pakaian yang korban kenakan dan sarung warna cokelat termasuk beberapa batang dalam bungkus rokok dan sejumlah uang.

Editor : Ali Muntoha

Sindikat Penipu Taksi Online Dijebak Polisi, Ratusan HP Diamankan

MuriaNewsCom, Pemalang – Aksi sindikat yang sering melakukan penipuan terhadap angkutan online dengan modus order fiktif berhasil dibongkar jajaran Polres Pemalang. Tujuh orang anggota sindikat berhasil diamankan bersama ratusan unit HP yang digunakan untuk beraksi.

Penangkapan para pelaku dilakukan di kawasan SPBU Sugihwaras, Pemalang, Rabu (7/3/2018) petang. Para pelaku dibekuk, setelah terperangkap jebakan yang dilakukan polisi.

Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP Akhwan Nadzirin mengatakan, pihaknya mendapatkan laporan dari salah satu driver Grab tentang banyaknya pesanan fiktif. Laporan itu ditindaklanjuti dengan memancing pelaku dengan cara memesan melalui aplikasi.

Para pelaku yang tidak mengetahui hal tersebut akhirnya menjalankan modusnya untuk mengelabui aplikasi dan berhasil ditangkap saat berada di SPBU wilayah Sugihwaras.

“Saat penangkapan berhasil diamankan tujuh pelaku yang menggunakan tiga unit kendaraan roda empat, dan 169 unit telepon genggam sebagai alat operasi mereka,” katanya.

Para pelaku diduga menjalankan aplikasi, tetapi tanpa mengangkut penumpang (order fiktif). Rata-rata mereka mengincar pesanan untuk jarak-jarak yang dekat.

Sebab setiap 15 kali menarik penumpang maka pengemudi atau mitra akan mendapatkan bonus dari penyedia jasa, di mana bonus tersebut akan langsung masuk ke rekening yang sudah ada.

Untuk mengembangkan kasus tersebut, pihaknya akan berkoordinasi dengan operator aplikasi angkutan online serta para ahli IT.

Diduga kawanan ini beraksi berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, dan menurut pengakuan pelaku mereka beraksi di wilayah Kabupaten Pemalang sudah sejak tanggal 17 Februari yang lalu.

Ade Mustafa, Manager Grab Pemalang, mengatakan para driver taksi online kerap mendapatkan pesanan fiktif. Berangkat dari hal itu pihaknya melaporkan ke pada kepolisian.

“Beberapa kali ada pesanan fiktif. Saat driver berniat untuk menjemput pesanan, yang berlokasi di sekitaran terminal induk Pemalang, namun ternyata pesanan fiktif,” jelas Ade Mustofa.

Editor : Ali Muntoha

Sekeluarga di Pekalongan Keracunan Jamur, 1 Orang Tewas

MuriaNewsCom, Pekalongan – Satu keluarga di Dukuh Gutomo, Desa Gutomo, Kecamatan Karanganyar, Pekalongan, keracunan jamur jenis siung kidang. Akibatnya, satu orang meninggal dunia dan tiga korban harus menjalani perawatan intensif di RSUD Kajen.

Korban meninggal dunia yakni Kuat (75). Sementara tiga korban yang selamat dan dirawat di RSUD Kajen, Daryani (45), Ponisa (41) dan M Ristan Alfaro (2). Peristiwa ini terjadi pada Selasa (27/2/2018)kemarin.

Dari informasi yang diperoleh dari Polres Pekalogan, peristiwa ini bermula saat sekitar pukul 06.00 WIB, satu keluarga itu sarapan dengan lauk jamur siung kidang. Usai sarapan, Kuat pergi ke hutan untuk mencari rumput.

Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 10.00 WIB, korban ditemukan warga sudah tergeletak dan kejang-kejang. Korban pun langsung dibawa ke rumahnya. Saat sampai di rumah, warga mendapati tiga anggota keluarga lainnya merasa pusing hingga akhirnya bersama-sama mereka dibawa ke RSUD Kajen.

Namun nyawa Kuat tak berhasil diselamatkan. Sekitar pukul 11.00 WIBm kakek tersebut menghembuskan nafas terakhir, karena keracunan jamur.

Semenutara tiga korban lain, langsung mendapat penanganan khusus dan kini keadaanya mulai membaik.

Kasubbag Humas Polres Pekalongan AKP M Dahyar menyatakan, korban dimakamkan di Desa Gutomo, Karanganyar. “Adapun sempel Jamur telah diamankan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan, dan kasus ini masih dalam pemeriksaan pihak kepolisian,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Dukun Tua Cabuli 4 Gadis Remaja di Pekalongan

MuriaNewsCom, Pekalongan – Seorang dukun berinisial AT (56) warga Desa Semut, Kecamatan Wonokerto, Pekalongan, diduga melakukan pencabulan terhadap empat orang pelajar. Kini dukun itu sudah dibekuk aparat kepolisian dan tengah dilakukan penyidikan.

Aksi ini terungkap saat salah satu korban mengadu kepada orang tuanya atas aksi tak senonoh yang dilakukan kakek tersebut. Orang tua korban langsung melaporkan kasus ini ke polisi dan dilakukan penangkapan.

Dari keterangan yang diambil polisi diketahui jika aksi yang dilakukan dukun ini sudah berlangsung sejak Oktober 2017. Modusnya mengajak para korban tinggal di rumahnya dan saat ada kesempatan langsung dicabuli.

Aksi pencabulan itu dilakukan saat istri dan anak pelaku sedang tidak ada di rumah. Pelaku juga mengancam para korban agar tidak mengadu. Korban diancam akan kena azab atau musibah jika berani mengadu.

“Awalnya pelaku membujuk korban pertama agar ikut bertempat tinggal dengannya. Setelah tinggal bersama tersebut, korban dicabuli oleh pelaku di dapur rumah pelaku,” Akata AKP M Dahyar, Kasubag Humas Polres Pekalongan, Jumat (23/2/2018).

Sebelum mencabuli para korban, pelaku biasanya meminta korban untuk membuatkan kopi dan diiming-imingi akan diberi sejumlah uang. Saat berada di dapur, aksi bejat itu dilakukannya.

AT sendiri mengakui telah melakukan aksi tak bermoral tersebut. Ia juga menceritakan bagaimana cara meyakinkan para korban agar mau tinggal dengannya.

Dukun itu juga mengaku mengancam para korban agar tidak memberitahu siapapun. Namun ada satu korban yang akhirnya berani melapor pada orang tuanya.

“Setiap kali usai melakukan itu (cabul), saya pesan pada mereka (korban) agar tidak menceritakan peristiwa tersebut kepada siapapun, sebab akan mendapat azab / musibah,” kata AT kepada polisi di Mapolres Pekalongan.

Kini polisi masih mengembangkan kasus tersebut untuk mengetahui ada tidaknya korban lain. Dukun itu sudah ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat dengan Undang-undang Perlindungan Anak.

Editor : Ali Muntoha

18 Korban Longsor Salem Brebes Masih Tertimbun, Polda Kirim Brimob dan Anjing K9

MuriaNewsCom, Brebes – Proses pencarian korban tertimbun longsor yang terjadi di Pegunungan Lio, Desa Pasir Panjang, Kecamatan Salem, Brebes, hingga Jumat (23/2/2018) terus dilakukan tim gabungan. Sejak peristiwa longsor itu terjadi Kamis (22/2/2018) kemarin, baru enam jenazah korban yang ditemukan.

Sementara dari pendataan, diperkirakan masih ada belasan korban yang masih tertimbun. Untuk melakukan pencarian ini, tim SAR gabungan dari berbagai instansi dikerahkan. Bahkan Polda Jateng juga mengirimkan pasukan Brimob dan anjing pelacak K9.

Kapolda Jateng, Irjen Pol Condro Kirono mengatakan, pasukan Brimob yang diterjunkan mempunyai kualifikasi SAR. Selain itu juga menurunkan pasukan K9 dan anjing pelacak untuk mendeteksi mayat.

“Kami terjunkan pasukan Brimob untuk membantu proses evakuasi para korban dan pasukan K9 Ditsabhara dengan anjing pelacak mayat, untuk melacak para Korban yang diduga masih tertimbun material longsoran,” katanya.

Selain perkuatan dari Pasukan Brimob dan K9 Sabhara Polda Jawa Tengah, pihaknya juga menerjunkan Tim DVI dari Biddokkes Polda Jateng. Tim DVI ini nantinya akan melakukan identifikasi para korban longsor.

“Selain perkuatan dari Polda Jateng, proses evakuasi ini juga akan melibatkan perkuatan dari Polres Pemalang, Polres Pekalongan dan Polres Pokalongan Kota. Pasukan perkuatan ini akan dibekali dengan peralatan dan perlengkapan SAR,” ujarnya.

Seluruh pasukan perbantuan sudah diberangkatkan menuju Polres Brebes dan akan segera melaksanakan evakuasi.

”Evakuasi longsor ini rencana akan dilaksanakan selama 6 hari mulai tanggal 22 Februari sampai dengan tanggal 27 Februari 2018. Ini merupakan keprihatinan bagi kita semua, mohon doanya semoga proses evakuasi ini berjalan lancar,” pungkas Kapolda Jateng.

Sementara itu, dari proses pencarian yang dimulai pagi tadi ditemukan potongan dua kaki korban. Namun diketahui potongan kaki ini merupakan milik korban bernama Casto yang jenazahnya ditemukan, Kamis kemarin.

Baca : Puluhan Petani di Salem Brebes Tertimbun Longsor, Masih Ada yang Hilang

Kedua kaki ini ditemukan warga dalam kondisi terbenam dalam lumpur yang berjarak 2 km dari lokasi bencana. Sepasang kaki ini juga ditemukan di tempat terpisah. Yakni di daerah aliran sungai Cipangurudan Pasirpanjang.

“Kemungkinan besar milik Casto, karena pada saat dievakuasi, jenazah Casto tidak lengkap, hanya badan dan kepala. Jadi baru 5 jenazah yang sudah dievakuasi. Ini masih terus melakukan pencarian,” ujar dr Nani Yulia, Kepala Urusan Kesehatan Polres Brebes.

Dengan begitu sebanyak 18 orang masih dilaporkan hilang. Sedangkan 6 orang sudah ditemukan dalam kondisi tewas, Kamis (22/2). Sebanyak 14 korban lainnya mengalami luka.

Camat Salem, Apriyanto Sudarmoko nengatakan, korban yang ditemukan meninggal dan telah teridentfikasi masing masing Hj Karsini (56) alamat Desa Pasirpanjang, Wati (65) Pasirpanjang, Karto Pasirpanjang, Radam (50) Pasirpanjang dan Siswan (40) warga Pasirpanjang.

Satu orang yang sebelumnya ditemukan masih bernyawa, atas nama Caski (50) juga akhirnya meninggal setelah dirawat di RSUD Majenang. Sehingga total korban meninggal dunia sebanyak enam orang

“Yang selamat dan luka luka ada 14 dan hilang ada 18 orang. Kami masih terus melakukan pencarian,” kata Apriyanto.

Editor : Ali Muntoha

Puluhan Petani di Salem Brebes Tertimbun Longsor, Masih Ada yang Hilang

MuriaNewsCom, Brebes – Bencana tanah longsor terjadi di Pegunungan Lio, Desa Pasir Panjang, Kecamatan Salem, Brebes, Kamis (22/2/2019). Longsor terjadi pada pagi hari saat petani tengah beraktivitas di sawah.

Akibatnya, puluhan petani tertimbun material longsor. Laporan sementara ada 21 warga yang tertimbun longsor. Dari jumlah itu, belasan orang berhasil dievakuasi dan dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka-luka, sementara korban lainnya masih belum ditemukan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Brebes, Eko Andalas, memastikan ada korban jiwa dalam kejadian itu. Namun pihaknya belum bisa memastikan berapa jumlahnya.

“Ada korban jiwa, namun jumlahnya belum dipastikan karena ini sedang pendataan. Ini kami mau ke lokasi,” ucap Eko kepada wartawan.

Longsor di daerah perbukitan itu terjadi sekitar pukul 10.00 WIB. Berdasarkan data sementara, ada 14 orang yang terluka yang saat ini dirawat di Puskesmas Bentar Salem.

Lokasi longsoran yang menimbun puluhan warga di Kecamatan Salem, Brebes. (istimewa)

Camat Salem, Apriyanto Sudarmoko juga membenarkan ada 17 warga yang dirawat di puskesmas. Selain itu, ada tujuh wrga lain yang dirawat di rumah penduduk setelah berhasil ke luar dari longsoran.

“Tanah perbukitan di Pasirpanjang longsor tadi pagi. Sebelah timur menimbun persawahan dan sebelah barat menimbun jalan utama Gunung Lio,” kata Apriyanto Sudarmoko.

Menurut dia, material longsoran selain menumbun petani juga menimbun dua pengendara motor yang tengah melintas. Dua pengendara itu berhasil diselamatkan dan dirujuk ke Rumah Sakit Majenang.

Jalan yang tertimbun longsor merupakan jalur utama dari Brebes menuju Majenang Cilacap melalui Kecamatan Banjarharjo dan Salem.

Ia juga menyebut, pihaknya belum bisa mendata secara pasti jumlah korban dalam peristiwa itu. Karena menurutnya, personel masih sibuk melakukan pencarian warga yang masih tertimbun.

“Kemungkinan ada yang masih tertimbun, ini kami masih mendata semua. Terakhir ada 11 yang belum diketemukan. Para relawan juga belum bisa terjun ke lokasi karena masih ada pergerakan tanah,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Ratusan Warga Brebes Blokade Tol Brexit-Pejagan

MuriaNewsCom, Brebes – Ratusan warga dari berbagai desa di Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Rabu (21/2/2018) memblokade jalan tol Brebes Timur (Brexit). Aksi ini membuat pengelola tol terpaksa menutup jalan tol itu, dan mengalihkan ke pintu tol Brebes Barat dan Pejagan.

Aksi demo ini berlangsung cukup lama, dari pagi hingga siang hari. Demo dimulai sekitar pukul 09.00 WIB. Warga langsung berkumpul di tengah-tengah jalan tol Trans Jawa tersebut.

Mulai dari anak-anak, pemuda desa, orang dewasa dan ibu – ibu juga mengikuti aksi demo tersebut. Aksi semakin riuh saat beberapa warga berteriak menyuarakan tuntutanya. Apalagi musik kentongan menambah semangat warga.

Mereka juga membawa sejumlah poster bertuliskan tuntutan mereka kepada PT Waskita Karya terkait keberadaan jalan tol. Mereka menganggap jalan tol menjadi penyebab banjir yang melanda ratusan rumah warga setempat.

Ia menyebut, warga sebenarnya sudah agak menerima banjir melanda wilayah persawahan. Namun saat ini banjir meluas hingga menggenangi permukiman warga.

Mereka meminta pihak tol melebarkan jalan air agar air tak melimpas ke pemukiman warga jika terjadi genangan banjir.

Aksi demo berakhir pada pukul 11.00 WIB. Adapun pembahasan soal tuntutan warga dilanjutkan di Pendapa Kabupaten Brebes. Sejumlah perwakilan warga menemui Bupati Brebes Idza Priyanti dan PT Waskita.

Sementara itu, Jalan Tol Brebes-Pejagan yang sebelumnya ditutup usai demo, ini sudah mulai dibuka lagi.

Editor : Ali Muntoha

Seorang Nenek di Pekalongan Tewas Terpanggang di Rumah Dokter

MuriaNewsCom, Pekalongan – Seorang nenek bernama Sri Purwatiningsih (70), tewas terpanggang di rumah yang juga menjadi tempat praktik dokter di Dukuh Wora Wari Kidul, Desa Kebonsari, Kecamatan Karangdadap, Pekalongan, Senin (19/2/2018) malam.

Rumah yang terbakar tersebut merupakan milik dr Choirul Hadi, yang merupakan anak dari korban. Saat kejadian, korban tinggal sendirian di dalam rumah, sementara dr Choirul sedang ke luar.

Dalam peristiwa tersebut ada dua rumah yang terbakar, yakni rumah milik dokter dan pengusaha rias pengantin. Kebakaran terjadi sekitar pukul 18.30 WIB dan baru bisa dipadamkan pada pukul 20.30 WIB, setelah sejumlah unit mobil pemadam dikerahkan.

Kasubbag Humas Bag Ops Polres Pekalongan AKP M.Dahyar mengatakan, untuk memadamkan api pihaknya bekerjasama petugas kebakaran dengan mengerahkan tiga unit mobil pemadam. Pihak keamanan sempat kesulitan memadamkan api, lantaran banyaknya masyarakat ingin melihat langsung peristiwa yang terjadi.

”Ada satu korban yang terjebak dan meninggal sudah kami evakuasi. Kami meminta keterangan sejumlah saksi untuk mengetahui penyebab kebakaran ini,” katanya.

Api membakar rumah praktik dokter di Pekalongan dan menyebabkan seorang nenek terbakar. (Polres Pekalongan)

Kebakaran hebat yang terjadi usai Maghrib itu ditengarai akibat hubungan arus pendek (korsleting) listrik. Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, api kali pertama muncul dari bagain atas rumah.

Banyaknya bahan-bahan yang mudah terbakar, menyebabkan api dengan cepat membesar dan merembet ke rumah yang ada di sebelahnya. Korban yang saat itu tengah tidur di dalam rumah, terjebak api hingga akhirnya tewas terpanggang.

“Malam itu warga berusaha memadamkan namun kewalahan karena kobaran api yang cepat membesar,” ucap Huda tetangga korban.

Setelah tim pemadam datang ke loaksi dan menjinakkan api, tubuh korban yang terbakar baru bisa dievakuasi. Tubuh korban kemudian dibawa ke RSI Pekajan untuk dilakukan pemeriksaan.

Setelah proses rampung, Selasa (20/2/2018) hari ini jenazah korban langsung dimakamkan.

Sementara pihak kepolisian masih mendalami kasus ini. Termasuk memastikan penyebab kebakaran dengan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). “Penyebabnya masih kami dalami lagi, untuk korban meninggal satu orang,” ucap Kasatreskrim Polres Pekalongan, AKP Agung Ariyanto.

Selain menyebabkan satu orang meninggal dunia, kebakaran itu juga menimbulkan kerugian yang ditaksir mencapai Rp 200 juta. Karena seluruh isi rumah termasuk alat-alat praktik kedokteran ikut hangus.

Editor : Ali Muntoha

Sering Dimarahi dan Dihina Jadi Motif Tarmuji Bunuh Istri dan Gorok Bayinya

MuriaNewsCom, Brebes – Aksi pembunuhan keji yang dilakukan Tarmuji (35) warga Desa Luwungragi, Kecamatan Bulukamba, Brebes, kepada istri dan bayinya yang berumur 1 tahun ternyata hanya disebabkan masalah sepele. Tarmuji kalap karena sering dimarahi dan diejek oleh istrinya.

Pengakuannya, pelaku yang hanya bekerja serabutan sering diumpat dengan kata-kata kotor oleh istrinya. Penyebabnya, karena tersangka tak punya pekerjaan tetap. Sementara Koniti (35) istri yang dihabisi nyawanya oleh tersangka bekerja sebagai buruh pemelihara bawang.

”Motifnya lantaran permasalahan ekonomi keluarga. Mereka sering cekcok (adu mulut). Tak jarang pelaku sering dimarahai dan diejek oleh istri karena masalah yang tidak punya pekerjaan tetap. Pelaku merupakan buruh serabutan,” kata Kapolres Brebes AKBP Sugiarto.

Ia menyatakan, pelaku diamankan oleh polisi pada Selasa (13/2/2018) usai membunuh istri dan bayinya. Tarmuji diamankan di rumah orang tuanya di Desa Glonggong, Kecamatan Wanasari, Brebes.

Kapolres Brebes AKBP Sugiarto memberi keterangan soal motif pelaku pembunuhan

Dalam pemeriksaan polisi, Tarmuji juga mengakui membunuh istrinya dengan menghantamkan cobek ke kepala korban. Saat dibunuh korban dalam kondisi tertidur. Ia juga mengakui membunuh bayinya yang masih berumur 12 bulan dengan menyayat lehernya.

Bayi yang dibunuh baru diketahui tiga jam setelah penemuan tubuh ibunya. Bayi tersebut ditemukan di tempat pembuangan sampah di belakang rumah, dengan kondisi mengenaskan. Tubuh bayi itu juga ditutup dengan batang pohon pisang.

“Pelaku saat ini masih dalam pemeriksaan intensif petugas. Kami juga dengan mendatangkan psikiater untuk memeriksa kejiwaannya,” terangnya.

Diberitakan sebelumnya, kasus pembunuhan ibu dan bayinya di Desa Luwungragi, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Selasa (13/2/2018) bikin geger warga. Pasalnya, pelaku pembunuhan ibu dan bayi tersebut adalah suami korban.

Baca juga : 

Tarmuji (35) yang sehari-hari bekerja serabutan dengan sadis membunuh istrinya Koniti (35) dengan cara menghantam kepalanya menggunakan batu cobek. Tak hanya itu, bayi mereka yang masih berumur satu tahun juga ikut dibunuh.

Bayi laki-laki bernama Dimas itu ditemukan dengan kondisi mengenaskan. Lehernya nyaris putus diduga digorok bapaknya. Bayi malang itu ditemukan dengan bersimbah darah di tempat sampah belakang rumah. Tubuh bayi itu ditutup dengan gedebog (pohon pisang).

Tubuh bayi Dimas ditemukan saat polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan Koniti. Awalnya, polisi tak menduga jika korban pembunuhan dua orang. Namun saat memeriksa lokasi kejadian diketahui jika bayi korban juga ikut jadi korban.

Kapolsek Bulakamba, AKP Harti, menyebut korban Dimas ditemukan saat tim olah TKP sedang memeriksa bagian dapur rumah. Karena kondisi ruangan cukup gelap, polisi berinisiatif membuka pintu belakang agar ada cahaya masuk.

“Saat melihat keluar, ada mayat anak kecil bersimbah darah yang ditutupi pohon pisang,” katanya pada wartawan.

Diduga mayat bayi ini sengaja ditutup batang pohon pisang agar tidak diketahui orang. Bayi ini ditemukan berselang tiga jam setelah penemuan jasad Koniti.

Saat pemeriksaan lokasi kejadian, polisi juga menemukan pecahan cobek dan pisau dapur. Sementara di dalam kamar, petugas menemukan lagi bagian cobek lainnya.

Editor : Ali Muntoha

Awas! Kerupuk Berbahaya Mengandung Auramin Masih Beredar

MuriaNewsCom, Tegal – Kerupuk yang mengandung bahan kimia berbahaya auramin masih beredar luas di pasaran. Hal ini dijumpai di Kabupaten Tegal, di mana banyak produsen yang masih menggunakan bahan kimia ini untuk membuat kerupuk.

Dalam sidak yang dilakukan tim gabungan Dinas Kesehatan, BPOM, Dinas Perdagangan, Satpol PP dan Polisi menemukan kerupuk berbahaya ini dari sejumlah produsen kerupuk di Desa Harjosari Lor, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal. Rata-rata kerupuk yang menggunakan bahan ini yakni kerupuk mie kuning.

Sidak itu dilakukan pada 10 produsen kerupuk. Dari jumlah itu, tiga di antaranya masih positif kedapatan menggunakan zat berbahaya auramin.

Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, Edi Toufik, menjelaskan pihaknya sudah melakukan penyuluhan beberapa waktu lalu terkait makanan aman.

“Kami sudah mengadakan sosialisasi dan mereka berkomitmen untuk beralih dari penggunaan bahan berbahaya ke bahan makanan yang aman,” katanya dikutip dari tribunjateng.com, Rabu (14/2/2018).

Ia menyebut, kerupuk yang terbukti mengandung bahan kimia berbahaya langsung disita. Selain itu, tiga produsesn kerupuk nakal itu juga diminta menulis surat pernyataan bermaterai. Isi surat pernyataan itu berisi bahwa dirinya siap mengganti bahan berbahaya dengan bahan yang aman.

Apabila di kemudian hari kedapatan melakukan hal serupa maka produsen tersebut siap ditindak tegas sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Kepala Seksi Layanan Informasi Konsumen BPOM Semarang, Novi Eko Rini, mengatakan jika zat auramin ini sangat berbahaya bagi kesehatan.

“Bahan tersebut merupakan karsinogen atau penyebab kanker, sehingga tidak boleh digunakan sebagai bahan campuran dalam makanan apapun termasuk kerupuk,” terangnya.

Menurutnya, dampak yang ditimbulkan tidak bisa terlihat secara langsung tapi efek jangka panjangnya sangat berbahaya. Novi menambahkan jika makanan atau kerupuk yang mengandung zat berbahaya itu, walaupun sedikit tetap terlihat. Ciri- cirinya warna kuning di makanan biasanya menyala dan muncul warna kehijau- hijauan.

Editor : Ali Muntoha

Bayi yang Digorok Bapaknya Dibuang di Tempat Sampah Ditutup Gedebog Pisang

MuriaNewsCom, Brebes – Kasus pembunuhan ibu dan bayinya di Desa Luwungragi, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Selasa (13/2/2018) bikin geger warga. Pasalnya, pelaku pembunuhan ibu dan bayi tersebut adalah suami korban.

Tarmuji (35) yang sehari-hari bekerja serabutan dengan sadis membunuh istrinya Koniti (35) dengan cara menghantam kepalanya menggunakan batu cobek. Tak hanya itu, bayi mereka yang masih berumur satu tahun juga ikut dibunuh.

Bayi laki-laki bernama Dimas itu ditemukan dengan kondisi mengenaskan. Lehernya nyaris putus diduga digorok bapaknya. Bayi malang itu ditemukan dengan bersimbah darah di tempat sampah belakang rumah. Tubuh bayi itu ditutup dengan gedebog (pohon pisang).

Tubuh bayi Dimas ditemukan saat polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan Koniti. Awalnya, polisi tak menduga jika korban pembunuhan dua orang. Namun saat memeriksa lokasi kejadian diketahui jika bayi korban juga ikut jadi korban.

Kapolsek Bulakamba, AKP Harti, menyebut korban Dimas ditemukan saat tim olah TKP sedang memeriksa bagian dapur rumah. Karena kondisi ruangan cukup gelap, polisi berinisiatif membuka pintu belakang agar ada cahaya masuk.

“Saat melihat keluar, ada mayat anak kecil bersimbah darah yang ditutupi pohon pisang,” katanya pada wartawan.

Diduga mayat bayi ini sengaja ditutup batang pohon pisang agar tidak diketahui orang. Bayi ini ditemukan berselang tiga jam setelah penemuan jasad Koniti.

Saat pemeriksaan lokasi kejadian, polisi juga menemukan pecahan cobek dan pisau dapur. Sementara di dalam kamar, petugas menemukan lagi bagian cobek lainnya.

“Dengan melihat kondisi korban yang mengalami luka memar di bagian kepala sampai menghitam, kemungkinan Koniti dipukul pakai cobek itu sampai meninggal,” terangnya.

Baca : SADIS! Suami di Brebes Bunuh Istri dengan Cobek, Bayinya Juga Digorok

Dilansir dari detik.com, tetangga korban mengaku tidak menduga Tarmuji bakal setega itu. Sukanto, salah satu tetangga, mengaku sekitar pukul 06.00 WIB melihat Tarmuji ke luar rumah. Bahkan dia sempat terlibat pembicaraan ringan.

Sukanto juga mengatakan semasa hidupnya, Koniti pernah menikah dua kali. Pertama menikah dengan Wiryo dikaruniai seorang anak bernama Parto dan Dwi Anjeli. Setelah bercerai dia menikah dengan Tarmuji dan dikaruniai satu anak bernama Dimas.

Dwi Anjeli lah yang kali pertama memergoki kasus pembunuhan itu. Saat hendak berangkat sekolah setelah menginap di rumah neneknya, Anjeli masuk ke kamar ibunya dan melihat ibunya sudah tidak bernyawa. Dia kemudian meminta tolong pada warga.

Sekitar pukul 05.30 WIB, Dwi Anjeli pulang dan mendapati ibunya telentang di tempat tidur dengan wajah tertutup bantal.

“Saya kira ibu masih tidur tertutup bantal, setelah saya buka ternyata ibu meninghal,” kata Anjeli,” yang tak bisa menghentikan tangisnya.

Editor : Ali Muntoha

SADIS! Suami di Brebes Bunuh Istri dengan Cobek, Bayinya Juga Digorok

MuriaNewsCom, Brebes – Tindakan sadis dilakukan seorang suami bernama Tarmuji (35), warga Desa Luwungragi, Kecamatan Bulukamba, Kabupaten Brebes, Selasa (13/2/2018). Seperti kesetanan, pria ini tega membunuh istri dan bayinya yang masih berumur satu tahun.

Istrinya bernama Koniti (35), dibunuh dengan luka menganga di bagian kepala yang diduga dihantam pelaku menggunakan batu cobek. Tak hanya membunuh istrinya, pria ini juga membunuh sang bayi dengan cara digorok.

Bayi tak berdosa itu ditemukan tergeletak di belakang rumah. Jasad bayi mungil ini ditemukan tiga jam berselang setelah jasad Koniti ditemukan. Diperkirakan, dua korban dihabisi pelaku pada dini hari.

Kasus ini terungkap saat anak pertama korban, Dwi Anjeli (11) mau berangkat sekolah, setelah menginap di rumah neneknya. Sekitar pukul 05.30 WIB, Dwi Anjeli pulang dan mendapati ibunya telentang di tempat tidur dengan wajah tertutup bantal.

“Saya kira ibu masih tidur tertutup bantal, setelah saya buka ternyata ibu meninghal,” kata Anjeli, yang tak bisa menghentikan tangisnya.

Mengetahui ibunya sudah tak bernyawa, Ajeli syok dan histeris. Ia berlari ke luar rumah dan memanggil tetangganya. Warga yang kaget juga langsung berlarian mendatangi rumah korban.

Polisi memasang police line saat olah TKP untuk menghalangi warga masuk ke lokasi kejadian. (kumparan)

Salah satunya Sutikno (44). Mendengar teriakan dari Anjeli, Sutikno langsung bergegas lari ke dalam rumah dan melihat Koniti sudah tak bernyawa.

Sutikno bersama warga lain langsung melaporkan kasus ini ke perangkat desa dan Polsek bulukamba. Aparat kepolisian yang datang langsung mengamankan pelaku dan mengevakuasi korban.

Dalam proses olah tempat kejadian perkara (TKP) warga kembali dikejutkan dengan penemuan bayi yang sudah meninggal di belakang rumah. Bayi yang merupakan anak pelaku dan korban itu meninggal dengan sejumlah luka. Yakni luka sayatan pada bagian leher, yang diduga digorok oleh pelaku.

Baca : Bayi yang Digorok Bapaknya Dibuang di Tempat Sampah Ditutup Gedebog Pisang

Kapolsek Bulukamba, AKP Harti membenarkan peristiwa ini. Ia menyatakan, peristiwa pembunuhan diperkirakan terjadi pada pukul 02.00 WIB. ”Namun baru diketahui oleh anaknya sekitar pukul 05.30 WIB,” katanya pada wartawan.

AKP Harti menjelaskan, korban menghembuskan napas terakhirnya setelah dihantam dengan benda tumpul di bagian jidat. “Diduga dibunuh dengan cobek. Dihantamkan di bagian jidat. Di lokasi juga ditemukan cobek terbelah dua,” ucapnya.

Diduga, motif pembunuhan itu dilatarbelakangi masalah ekonomi. Namun untuk memastikannya, pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan.

Tim Inafis Polres Brebes juga menggali bukti-bukti di lokasi kejadian untuk mengungkap kasus ini. Selama proses olah TKP lokasi pembunuhan dipadati ratusan warga yang penasaran dengan kejadian ini.

Editor : Ali Muntoha

Dua Warga Brebes Tewas Terseret Banjir, Ribuan Rumah Terendam

MuriaNewsCom, Brebes – Banjir yang melanda di beberapa kecamatan di Kabupaten Brebes, menimbulkan korban jiwa. Dua warga dilaporkan tewas setelah tenggelam dan terseret arus akibat jebolnya tanggul Sungai Pemali Brebes.

Dilaporkan kompas.com, dua warga yang meninggal yakni, Pendi warga Tengki, Brebes. Korban meninggal saat melakukan perbaikan tanggul dan terperosok masuk ke dalam gorong-gorong.

Selain Pendi, di Jatibarang tim SAR juga menemukan mayat wanita berumur 12 tahun warga Dukuh Bayur, Desa Bojong,Kecamatan Jatibarang. Subagyo, Plt Camat Brebes mengatakan, korban saat itu bermain di samping rumah. Korban kemudian tergelincir masuk selokan. “Karena tidak bisa berenang, korban akhirnya meninggal,” katanya.

Banjir melanda tiga kecamatan, akibat hujan yang turun sejak Minggu (11/2/2018) hingga Senin (12/2/2018) kemarin. Tiga kecamatan yang terendam banjir yakni wilayah Jatibarang, Wanasari dan Brebes.

Menurut warga, air mulai masuk pada Senin pukul 05.00 WIB. Luapan air sungai menggenangi daerah Desa Buaran dan Kedungtukang Jatibarang.

Tidak lama, dua titik tanggul di Desa Terlangu Kecamatan Brebes, tidak kuat menahan derasnya air sungai. Tanggul ini jebol dan mengalir ke arah timur menggenangi rumah warga.

“Dari pagi air sudah masuk ke rumah. Ini malah tambah tinggi permukaan airnya karena ada yang jebol,” kata Jaya, warga Desa Terlangu.

Warga yang rumahnya terendam terpaksa menempati tanggul sebagai pengungsian darurat. Karena belum tertangani, warga berharap pemerintah segera turun tangan termasuk memberikan bantuan logistik.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Brebes melaporkan, ribuan rumah terendam di tiga kecamatan tersebut dengan ketinggian air mencapai 1 meter lebih.

Selain merendam rumah, jalur transportasi Brebes Jatibarang terputus akibat terendam banjir setinggi kira kira 70 cm. Polisi mengalihkan arus lalin bagi kendaraan roda dua dan mobil kecil yang akan menuju Jatibarang atau sebaliknya.

Banjir juga menyebabkan gangguan pada perjalanan kereta api. Manager Humas PT KAI Daop IV Semarang, Suprapto menuturkan banjir merendam jalur rel pada Daop III yang terletak di KM 155+4/9. Banjir sekitar pukul 10.00 WIB dan rel dapat digunakan sekitar Pukul 17.00.

Dikatakanya, pada pukul 14.15 WIB terdapat lima kereta api yang diberlakukan pola operasi jalan memutar melalui wilayah Prupuk.

Editor : Ali Muntoha

Ibu Muda di Batang Tega Cekik Bayinya Hingga Tewas, Alasannya Ada Bisikan Gaib

MuriaNewsCom, Batang – Seorang ibu muda Nur Saskiawati (17) warga Desa Gondang, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, tega membunuh anaknya sendiri yang masih berumur 2,5 tahun. Balita berjenis kelami laki-laki itu dibunuh sang ibu dengan cara dicekik dan dibekap dengan bantal.

Balita malang itu dibunuh di dalam kamar usai korban dimandikan dan disuapi makan oleh pelaku, pada Minggu (11/2/2018) sore. Alhasil kejadian ini membuat heboh warga kampung.

Apalagi alasan yang diberikan pelaku mencekik anaknya hingga tewas di luar nalar. Saat diinterogasi polisi, ibu muda itu mengaku mencekik anaknya karena mendapat bisikan gaib.

”Setelah masuk kamar (pelaku) merasa ada yang membisiki/membayang-bayangi untuk menghilangkan nyawa anaknya,” kata Kapolres Batang, AKBP Edi S Sinulingga.

Ia menjelaskan, kasus terungkap berawal dari kecurigaan dari ibu mertua pelaku. Karena pada saat itu, pelaku terlihat berusaha untuk mencari korban ke rumah saudara dan tetangga tetapi tidak menemukan anaknya.

Ibu mertua pelaku lantas pulang ke rumah bersama pelaku. Saat itu ia mendapati pintuk kamar pelaku dalam kondisi terkunci dari luar. Karena semakin curiga, pintu kamar itu didobrak dan mendapati balita bernama Ahmad Adiya Surya itu sudah tergolek tak bernyawa.

”Saksi bersama langsung melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Subah. Dan pelaku sudah kami amankan,” ujarnya.

Kapolres menjelaskan, aparat kepolisian yang datang ke lokasi menemukan ada tanda-tanda penganiayaan di tubuh korban. Keadaan balita tersebut luka memar di kepala, terdapat cakaran di sekujur tubuh dan tenggorokan patah akibat cekikan.

Meski demikian, untuk memastikan penyebab kematian korban, Polres Batang meminta tim DVI Polda Jateng untuk melakukan pemeriksaan.

Sementara itu, pelaku saat diinterogasi polisi mengakui jika telah menghabisi nyawa anaknya. Pengakuannya, aksi kejam itu dilakukan dengan membekak wajah anaknya menggunakan bantal. Aksi itu dilakukan usai pelaku mengambil tanah untuk menanam bunga di belakang rumah.

“Setelah membuat lubang di belakang rumah dan tanahnya diambil untuk menanam bunga, pelaku dan anaknya masuk ke rumah. Setelah itu mereka mandi dan makan. Setelah masuk kamar, pelaku merasa ada yang membisiki untuk menghilangkan nyawa anaknya,” terangnya.

Hingga saat ini polisi masih terus melakukan penyidikan kasus ini, dengan melibatkan Unit Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Batang.

Editor : Ali Muntoha

Lagi Cari Rumput, Pak RT di Pekalongan Tewas Tertimbun Longsor

MuriaNewsCom, Pekalongan – Nasib nahas menimpa Rali (45), warga Dukuh Gondang, Desa Tenogo, Kabupaten Pekalongan. Pria yang juga menjabat sebagai ketua RT 01 RW 05 itu ditemukan tak bernyawa tertimbun longsor saat mencari rumput.

Korban tertimbun longsor selama dua hari satu semalam, di wilayah petak 54 blok Siranda milik Perhutani. Korban diketahui tertimbun longsor sejak Rabu (7/2/2018) pagi dan baru ditemukan Kamis (9/2/2018).

Tubuh pak RT itu ditemukan setelah tim SAR gabungan melakukan pencarian dan penyisiran lokasi longsor. Bahkan beberapa tim SAR sempat tertimbun longsor hingga se-dada saat melakukan pencarian.

Upaya pencarian sempat dihentikan pada Rabu sore karena terkendala cuaca dan baru dilanjutkan Kamis pagi.

“Korban tertimbun longsor berhasil ditemukan di lokasi kejadian dalam keadaan meninggal dunia, selanjutnya jenazah korban dibawa ke rumah duka,” kata Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Jateng, Agung Hari Prabowo.

Kronologi tertinbun longsornya korban bermula saar Rali pergi mencari rumput pada Rabu sekitar pukul 05.30 WIB. Menurut keterangan keluarga, biasanya pukul 07.00 WIB, Rali sudah pulang, namun hingga pukul 08.00 WIB belum juga pulang, sehingga keluarga membuat laporan kehilangan.

Apalagi saat itu ada kabar terjadi longsor. Kemudian pukul 09.00 WIB keluarga  beserta warga mulai mencari korban dan hanya menemukan jejak kaki di area sekitar longsoran di tepi sungai.

Warga telah mencari di sekitar bawah area longsor hingga melakukan susur sungai Jurang Jero yang tepat berada di bawah longsoran, namun belum membuahkan hasil.

Area pencarian cukup berbahaya mengingat hujan yang masih turun dan bahkan sempat terjadi longsoran kecil di lereng bekas longsoran yang memiliki ketinggian 30 meter tersebut.

“Tiga orang tim pencari sempat tertimbun longsor se dada saat melakukan pencarian, dan pencarian oleh warga serta teman-teman dari PMI. Pekalongan serta SAR Pekalongan dihentikan pada pukul 3 sore karena hujan mulai turun,” ungkap Agung.

Tubuh korban baru ditemukan pada hari berikutnya setelah tim gabungan kembali melakukan pencarian. Setelah korban korban ditemukan, operasi pencarian dihentikan dan personel dikembalikan ke satuan masing-masing.

Editor : Ali Muntoha

Pasangan Suami Istri di Tegal Nekat Edarkan Uang Palsu, Kapok Setelah Dikecrek Polisi

MuriaNewsCom, Tegal – Sepasang suami istri Turiah dan Acmad Sodikin, warga Kecamatan Grinsing, Kabupaten Batang, dibekuk aparat Polres Tegal Kota karena mengedarkan uang palsu. Mereka ditangkap dari hasil pengembangan penangkapan tiga orang pengedar uang palsu, yang lebih dulu dibekuk polisi.

Pasangan suami istri ini ditangkap polisi saat berada di wilayah Purbalingga. Kapolres Tegal Kota, AKBP Jon Wesly Arianto mengatakan, pasangan suami istri ini ditangkap Selasa (6/2/2018) sore, setelah pagi harinya berhasil menangkap tiga pelaku.

Tiga pengedar upal yang pertama kali ditangkap yakni Suryani, warga Jalan Bawal, Kelurahan Tegalsari, Kota Tegal, Ahmad Suko Basuki dan Nurman Hakim, warga Bumiayu, Kabupaten Brebes.

”Ketiganya ditangkap saat melintas di Jalan Lingkar Utara (Jalingkut) daerah Tegalsari, Kota Tegal, Selasa pagi, dan sore harinya menangkap dua pengedar lain,” katanya.

Menurutnya, pengungkapan kasus uang palsu ini terungkap berdasarkan laporan masyarakat, yang selanjutnya segera melakukan penyelidikan hingga akhirnya dapat menangkap pelaku. Dalam pengungkapan kasus ini, pihaknya juga bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) untuk mengidentikasi sejumlah uang palsu.

Kapolres menjelaskan, modus operandi yang dilakukan pelaku, yakni membeli uang palsu senilai Rp 3 juta, dengan harga Rp 1 juta. Dari hasil penangkapan lima pelaku, polisi berhasil mengamankan uang palsu pecahan 100 ribu senilai Rp 72.300.000.

Selain itu, juga mengamankan uang asli hasil kejahatan sebanyak Rp 1.098.000, tiga buah tas dan 5 buah Handphone serta 1 unit Toyota Agya warna putih Nopol G-8807-BJ.

Salah satu pelaku, Suryani diketahui sebagai residivis kasus yang sama. Bahkan ia belum lama ini baru keluar dari penjara, dan nekat kembali mengedarkan uang palsu.

”Saya dapat keuntungan Rp 1,5 juta dari mengedarkan uang palsu senilai Rp 10 juta, yang saya beli dengan harga Rp 3 juta,” akunya.

Akibat perbuatan tersebut para pelaku bakal dijerat dengan pasal 36 ayat 2 dan 3 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang juncto pasal 245 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Hingga saat ini aparat kepolisian masih mengembangkan kasus ini. Terutama untuk memburu bandar besar jaringan pengedar upal ini.

Sementara itu, Kepala Unit Pengelolaan Uang Rupiah Kantor Perwakilan BI Tegal, Suyatno memastikan, bahwa barang bukti yang telah diamankan merupakan uang yang tidak asli dan disalahgunakan. Masuk kategori palsu dan tidak bernilai.

Lebih lanjut Suyatno menyampaikan, selama kurun waktu tahun 2017, di wilayah Kota Tegal telah diamankan kurang lebih 4.000 lembar uang palsu yang beredar.

”Jenis pecahan dimoninasi nominal besar antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu karena disebabkan nilai ekonomis tinggi,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Polisi di Brebes Dipecat Karena Asusila dan Penipuan

MuriaNewsCom, Brebes – Kepolisian kembali mengambil tindakan tegas kepada anggotanya yang terlibat kejahatan dan pelanggaran kode etik. Seorang polisi berpangkat Briptu di Polres Brebes, dipecat dengan tidak hormat setelah sebelumnya terlibat kasus asusila dan penipuan.

Polisi yang dipecat diketahui bernama Dika Yusniawan (32). Proses pemecatan dilakukan dengan upacara penanggalan seragam polisi yang dipimpin Kapolres Brebes AKBP Sugiarto, di halaman Mapolres Brebes, Rabu (31/1/2018).

Pemecatan ini tertuang dalam surat keputusan Polda Jateng Kep/2777/XII/2017. Dalam SK itu, Briptu Dika Yusniawan ditetapkan untuk di PTDH (pemberhentian tidak dengan hormat) terhitung mulai 29 Desember 2017.

Kaporles menjelaskan, anggota ini diberhentikan karena melanggar pasal 12 ayat (1) huruf a PPRI no 1 th 2003 jo pasal 21 ayat (3) a dan i Perkap 14 th 2011 tentang KKEP. “Sudah sering melakukan tindakan indisipliner, jadi saya laksanakan perintah dari Polda ini,” katanya.

Ia berharap pemecatan dengan tidak hormat kali ini menjadi yang terakhir. Ia juga mengingatkan kepada jajarannya untuk menjadikannya sebagai evaluasi. “Ini untuk instrospeksi kita semua, supaya melaksanakan tupoksi kita sebagai anggota Polri,” ujarnya.

Baca : Polda Jateng Pecat 50 Polisi Secara Tak Hormat, 4 Perwira Juga Kena

Ditambahkan, pihaknya selain memberikan punisment juga memberikan reward. Bagi anggota yang melanggar kode etik dan profesi Polri maupun pidana akan ditindak dengan punisment. ”Sedangkan yang berprestasi tentunya akan kami berikan penghargaan (reward),” imbuhnya.

Sementara itu kepada anggota yang diberhentikan, Kapolres Berharap tetap menjaga nama baik institusi kepolisian. “Kepada Pak Dika, semoga moment pagi ini menjadi titik balik, supaya bisa mengubah sikap di masyarakat dan tetap menunjukkan nama baik Polri,” pesannya.

Sebelum dipecat Dika bertugas di Kesatuan Sabhara Polres Brebes. Dika diketahui telah beberapa kali melanggar kode etik, termasuk terlibat kasus asusila dan penipuan.

Sebelumnya Dika telah melalui proses sidang kode etik, dan beberapa kali menjalani hukuman tahanan, hingga akhirnya dipecat dengan tidak hormat.

Editor : Ali Muntoha