Perbaikan Jalan Ratusan Meter di Purwosari Rampung 

Warga menikmati suasana di titik jalan yang baru selesai dibangun di Purwosari, Kudus. (MuriaNewsCom /Faisol Hadi)

Warga menikmati suasana di titik jalan yang baru selesai dibangun di Purwosari, Kudus. (MuriaNewsCom /Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pembangunan jalan dan trotoar di Kelurahan Purwosari, turut Kecamatan Kota telah rampung dikerjakan. Pembangunan jalan dan trotoar menghabiskan waktu sebulan. 

Direktur CV Mawar Merah Andi Raih, rekanan mengatakan kalau pembangunan jalan dibagi dalam dua lokasi. Pertama adalah pada sisi utara jalan sekitar brak PT Djarum. Panjangnya mencapai 600 meter dari tepi jalan raya menuju ke utara. 

“Kalau bagian utara tidak ada pembangunan saluran airnya. Kami hanya mengaspalnya saja sejauh 600an meter dari tepi jalan raya,” katanya kepada MuriaNewsCom. 

Sedangkan, lanjutnya, pada sisi lainnya adalah di bagian selatan jalan raya atau persis di seberang pengaspalan bagian utara. Pada lokasi kedua, jalan yang diaspal sejauh 320 meter dari mulut jalan raya di daerah itu. 

Berbeda pada bagian utara, pada bagian selatan juga dilakukan pembangunan saluran air. Saluran air dibuatkan pada sisi kiri dan kanan jalan, sebelum akhirnya dilapisi dengan aspal sejauh 320 meter.

Untuk saluran air, dikatakan sedalam 50 centimeter dengan lebar 30 centimeter. Saluran air tak dilapisi dengan lantai kerja, yang mana dianggap sesuai dengan kontrak yang harus dikerjakan oleh CV-nya.

Dalam pembangunan jalan serta trotoar, kata dia, menghabiskan biaya senilai Rp 650 juta. Dana tersebut bersumber dari Pemkab Kudus, yang mana diperuntukkan untuk Kelurahan Purwosari, Kota.

“Kami jamin garapan kami bagus, kami juga mematuhi aturan untuk memberikan garansi selama enam bulan dari waktu jadi,” jelas dia.

Berdasarkan pantauan, jalan menjadi akses yang ramai dengan aktivitas masyarakat. Bahkan pada sisi barat, juga digunakan untuk lapak. 

Editor : Akrom Hazami 

Stadion Wergu Wetan Kudus Bakal Dipercantik, Ini Bocorannya 

Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo saat membicarakan soal penataan Stadion Wergu Wetan, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo saat membicarakan soal penataan Stadion Wergu Wetan, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus, tengah mempersiapkan penanganan perbaikan lapangan sepak bola Stadion Wergu Wetan Kudus. Pembenahan dilakukan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) dengan mengusulkan ke provinsi senilai Rp 15,7 miliar.

Hal itu disampaikan Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo. Menurut Joko, usulan sudah diberikan kepada provinsi, guna mendapat dana Bantuan Gubernur (Bangub) di 2017 mendatang. Jika nanti disetujui, maka stadion di Kudus bisa menjadi lebih megah.

“Perkembangan sepak bola di Kudus sudah baik. Untuk itu fasilitas seperti lapangan juga harus dibenahi pula. Makanya kami mengusulkan kepada provinsi untuk mendapatkan bantuan pembenahan,” katanya kepada MuriaNewsCom, di Kudus, Selasa (20/12/2016).

Menurutnya, gambar stadion yang baru juga tengah dirancang. Secara garis besar, beberapa hal jelas akan berubah secara drastis pada wajah stadion. Jika kini hanya terkesan datar dan tertinggal model, nantinya untuk tampak depan akan dibuat semenarik mungkin.

Gerbang masuk juga tidak lagi berada di bagian barat stadion. Namun lebih memanfaatkan bagian utara stadion atau bagian timur. Perubahan itu, jelas sangat berbeda dari kondisi sekarang. Selain itu, nantinya juga dibuat pembenahan untuk ruang konferensi pers dan ruang ganti.

Hal itu dianggap penting, melihat selama ini belum ada ruang tersebut di dalam Stadion Wergu Wetan. “Kami juga menyiapkan parkir pengunjung, yakni di sebelah selatan stadion. Sebab selama ini untuk parkir cukup kesulitan saat kesana menonton pertandingan,” ujarnya.

Ditambahkan, pembenahan dalam lapangan juga akan ditata. Seperti kondisi tribun yang kini hanya bagian barat, ke depan bagian timur juga akan di tribun pula. Sedangkan bagian utara dan selatan, akan ditata untuk tempat duduk penonton, yang bakal mampu menampung lebih banyak. “Jika sekarang hanya mampu menampung 14 ribu, nantinya akan mampu menampung sampai dengan 20 ribu. Jadi pasti akan lebih meriah saat pertandingan,” ungkap dia.

Soal lampu penerangan juga akan ditambah. Meski kini dianggap sudah terang, namun nantinya juga akan ditambah lagi dengan lampu pertandingan, yang dapat digunakan pertandingan malam.

Editor : Akrom Hazami

Ini Dia Pemenang Tender Proyek Pasar Pagi Purwodadi

 

 

Lahan kosong di Jalan Gajah Mada Purwodadi dalam waktu dekat akan dibangun Pasar Pagi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Lahan kosong di Jalan Gajah Mada Purwodadi dalam waktu dekat akan dibangun Pasar Pagi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Setelah sempat tertunda beberapa hari, tahapan akhir proses lelang proyek pembangunan Pasar Pagi Purwodadi, berupa pengumuman pemenang tender akhirnya dilakukan Kamis (4/8/2016). Adapun pemenangnya adalah PT Reka Esti Utama yang berasal dari Semarang.

“Semula pengumuman pemenang lelang akan dilangsungkan 31 Juli kemarin. Namun, hal itu tidak bisa dilakukan karena ada beberapa proses yang masih dilakukan. Setelah semuanya selesai, hari ini kita umumkan pemenangnya,” jelas Kabag Pengendalian Pembangunan Pemkab Grobogan Siswanto.

Menurutnya, mundurnya pengumuman pemenang itu disebabkan tim yang menangani lelang butuh waktu untuk melakukan klarifikasi pada rekanan yang mengajukan penawaran proyek dengan pagu anggaran Rp 10,9 miliar tersebut. Jumlah rekanan yang perlu diklarifikasi ada enam dan semuanya beralamat di luar kota. Beberapa di antaranya ada yang di luar Provinsi Jawa Tengah.

“Selain kita undang ke sini pengurus perusahaannya, dalam proses klarifikasi ini kita harus datang ke lokasi atau alamat rekanan. Jadi, butuh waktu cukup lama terutama untuk rekanan yang jauh. Proses klarifikasi ini harus dilakukan dengan cermat agar tahu persis kondisi rekanan tersebut,” jelasnya.

Siswanto menambahkan, dalam lelang proyek pembangunan Pasar Pagi di Jalan Gajah Mada Purwodadi ada 76 rekanan yang ikut mendaftar. Namun, hingga batas akhir pengajuan penawaran, hanya ada 6 rekanan saja yang ikut menawar. Untuk PT Reka Esti Utama yang jadi pemenang lelang mengajukan penawaran senilai Rp 10,4 miliar.

Setelah diumumkan pemenangnya, tahapan selanjutnya adalah masa sanggah lelang. Durasi waktu untuk melakukan sanggah lelang selama lima hari sejak diumumkan pemenangnya.

Seperti diketahui, pembangunan Pasar Pagi tersebut dilakukan untuk memindahkan pedagang yang berjualan di lahan bekas Stasiun Kereta Api di Jl A Yani Purwodadi. Pembuatan  pasar dilakukan diatas lahan seluas 9.000 meter persegi. Pasar ini nanti akan digunakan untuk memindahkan 900 an pedagang yang ada dilahan milik PT KAI tersebut.

 Editor : Kholistiono

 

Truk Muatan Tak Kapok Melintas di Simpang Tujuh

truk 3

Truk melintas di salah satu sudut kota di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Meski Dilarang, namun kawasan Simpang Tujuh Kudus masih kerap menjadi tempat perlintasan truk. Tidak hanya perlintasan, namun pula tempat parkir kendaraan berat.

Hal itu diakui Kabid LLAJ Dishubkominfo Kudus Putut Sri Kuncoro. Menurutnya, kawasan Simpang Tujuh tidak boleh dilalui kendaraan besar. Namun, hingga kini masih ada truk yang masuk ke kawasan itu.

“Beberapa kali sudah ditemui untuk diperingatkan. Namun lain waktu ketika kami tidak ada maka truk masih juga parkir di kawasan Simpang Tujuh,” katanya

Menurutnya, truk yang melintas juga banyak. Tidak hanya pada jam-jam tertentu, pada pagi hari juga masih bisa ditemui truk.

“Biasanya di toko bagian selatan Simpang Tujuh yang buat parkir. Kalau pas ada petugas, maka kami datang untuk memberitahu. Bahkan tidak jarang pula kami menghubungi pihak lantas untuk menindak,” ujarnya.

Pihak lantas didatangkan, untuk menindak lebih lanjut. Yakni dengan cara menilang kendaraan. Sebab, yang berhak memberikan hukuman adalah Kepolisian.

“Kami mengerti kalau banyak toko yang di tengah kota. Namun tidak jadi alasan harus masuk kota. Dapat disiasati dengan parkir di terminal Cargo Jati. Kemudian barang diambil dengan truk boks,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga Meski Dilarang, Truk Besar Kerap Masuk Perkotaan di Kudus   

Truk Besar Masuk Kota, Pemkab Harus Siapkan Jalur Khusus

 

Petugas memeriksa awak truk di salah satu jalan di Kudus. (MuriaNewsCom)

Petugas memeriksa awak truk di salah satu jalan di Kudus. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Keberadaan jalan di Kabupaten Kudus yang sempit, memang harus menjadi perhatian tersendiri. Tidak seimbangnya volume kendaraan dan jalan, membuat persoalan truk-truk besar yang masuk jalur-jalur tengah kota harus disikapi dengan baik.

Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) Kudus Agung ”Ceguk” Setiadi mengatakan, selain keluhan masyarakat, keberadaan truk-truk besar yang masuk kota, jalanan kota yang sempit, akan menimbulkan kemacetan.

”Apalagi sering sekali even atau kegiatan yang digelar di tengah kota. Dan itu saja sudah macet. Apalagi kemudian banyak truk-truk besar yang melintas di sana,” katanya, Rabu (3/8/2016).

Karena itu, menurut Ceguk, jika memang truk-truk besar itu harus lewat tengah kota, maka Pemkab Kudus harus menyediakan jalur-jalur khusus, yang kemudian tidak menganggu pengendara lainnya.

Jalur khusus itu diperlukan, supaya kendaraan-kendaraan lain seperti mobil dan motor, tidak harus berjibaku dengan truk-truk besar. ”Bukannya dengan adanya jalur khusus itu, kemudian kondisi jalan akan bisa tertib. Tidak campur aduk tidak karuan,” jelasnya.

Hanya saja, sampai saat ini Ceguk tidak melihat adanya niatan dari pemkab untuk membangun jalur khusus itu. Yang ada malah, jalur khusus untuk kendaraan bermotor, yang kemudian dibongkar dan menjadi jalur bebas bagi kendaraan mana saja.

”Pemkab seolah memberi ruang bagi kendaraan mana saja untuk masuk ke sana. Lihat saja Jalan Ahmad Yani dari alun-alun ke selatan itu. Jalur khusus motor yang selama ini ada, justru dibongkar. Tapi kemudian dijadikan apa coba. Malah jadi tempat parkir, kan. Bukan dirancang adanya jalur khusus lain, ini malah buat situasi jalan menjadi tidak karuan,” paparnya.

Ceguk juga melihat adanya ketidakadilan terhadap truk-truk ini. Ada kesenjangan sosial, ketika truk-truk dari perusahaan-perusahaan kecil, seringkali dihukum karena melintasi jalur di tengah kota.

Itu berbeda dengan truk-truk besar dari perusahaan besar. Mereka masih leluasa untuk menggunakan jalur kota yang sempit dan sering macet. ”Ini kami anggap sebagai kesenjangan sosial. Sehingga ketidakadilan muncul. Harusnya pemkab memperhatikan ini dengan benar, karena jalur kota yang sempit dan tidak bisa diperlebar lagi. Kalau tidak, ini akan menjadi masalah di masa datang,” imbuhnya.

Editor: Merie

Baca jugaMeski Dilarang, Truk Besar Kerap Masuk Perkotaan di Kudus   

 

Bupati Grobogan Mendadak Datangi Proyek Revitalisasi Alun-alun

Bupati Grobogan Sri Sumarni meninjau proyek revitalisasi alun-alun (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bupati Grobogan Sri Sumarni meninjau proyek revitalisasi alun-alun (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni meminta agar pihak rekanan yang memenangkan lelang proyek revitalisasi Alun-alun Purwodadi bisa melaksanakan pekerjaan sesuai rencana. Hal itu disampaikan Sri saat melakukan sidak ke lokasi proyek revitalisasi, Rabu (3/8/2016). “Saya minta agar proyek ini bisa selesai tepat waktu. Hasilnya juga harus sesuai dengan perencanaan,” tegasnya.

Sejumlah pejabat ikut mendampingi dalam kunjungan lokasi tersebut. Antara lain, Kapolres AKBP Agusman Gurning, Kajari Abdullah, Ketua DPRD Agus Siswanto dan Sekda Sugiyanto. Terlihat pula, Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Kebersihan (DCTK) M Chanif dan Kabag Humas Ayong Muhtarom.

Kunjungan bupati dan sejumlah pimpinan FKPD itu dilakukan usai menghadiri acara sidang paripurna. Kebetulan lokasi proyek hanya berseberangan dengan Kantor DPRD Grobogan. “Sengaja saya dan pimpinan FKPD menyempatkan waktu untuk melihat pelaksanaan revitalisasi alun-alun. Kebetulan tadi kita sama-sama menghadiri acara sidang paripurna dan setelah selesai langsung meninjau ke sini,” imbuh Sri.

Ia mengatakan, proyek revitalisasi ini memang menjadi salah satu perhatian utama. Sebab, proyek ini sudah dinantikan oleh masyarakat. Selain itu, pelaksanaan revitalisasi alun-alun ini juga sempat tertunda dua tahun. Hal ini terjadi lantaran proyek ini sempat gagal dilelangkan dalam tahun anggaran sebelumnya.

Sementara itu, Kepala DCTK M Chanif menjelaskan, sesuai kontrak, pelaksanaan proyek revitalisasi itu harus diselesaikan dalam waktu 160 hari kalender. Terhitung, sejak 16 Juli sampai 22 Desember ,mendatang. “Pelaksanaan proyek ini sudah berjalan sesuai rencana. Kita harapkan penyelesaiannya bisa tepat waktu,” katanya.

Editor : Kholistiono

Polisi dan Dishub Jangan Biarkan Truk lewat Tengah Kota

 

truk 1

Ketua PRD Kudus Agung Setiadi. (Istimewa)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Masih banyaknya truk-truk besar yang melintasi jalur-jalur tengah Kota Kudus, memang  dikeluhkan masyarakat. Harusnya ada tindakan tegas dari aparat terkait.

Ketua Dewan Partai Rakyat Demokratik (PRD) Kudus Agung Setiadi mengatakan, selama ini pihaknya sering mendengar keluhan dari masyarakat, terkait dengan melajunya truk besar-besar itu di tengah kota.

”Itu bisa membuat jalanan macet, karena jalur kota di Kudus itu sempit-sempit. Kalau sudah ada truk besar, maka jalanan akan semakin sempit. Giliran kendaraan-kendaraan kecil yang kemudian harus menyesuaikan diri,” terangnya, Rabu (3/8/2016).

Agung, atau yang biasa disapa Ceguk ini mengatakan, truk-truk besar yang lewat itu, diyakini adalah milik perusahaan-perusahaan besar. Atau ada afiliasinya dengan perusahaan besar.

Itulah yang kemudian membuat truk-truk itu bebas melaju di jalanan tengah kota. ”Kalau misalnya bukan milik perusahaan besar, atau ada hubungannya dengan perusahaan besar, saya yakin kok mereka tidak berani. Karena saya pernah lihat truk dengan bak yang besar dan panjang, santai saja melaju di tengah kota,” paparnya.

Ceguk mempertanyakan bagaimana aturan yang sebenarnya, sehingga para sopir truk itu berani melintas di tengah kota. Jika kemudian memang sudah diizinkan, bagaimana izin itu bisa keluar dan kepada truk yang berjenis apa saja yang bisa lewat di sana.

”Itu yang harus disosialisasikan kepada masyarakat. Dan ini tugas kepolisian dan Dinas Perhubungan untuk menjelaskan kepada masyarakat. Supaya warga juga paham bahwa truk itu boleh melintas karena sudah diizinkan,” terangnya.

Jika kemudian tidak ada izinnya, Ceguk menegaskan jika polisi dan Dishub juga harus tegas dalam menindak truk-truk tersebut. Sehingga tidak akan merugikan banyak pihak.

”Yang seimbang saja. Kalau misalnya ternyata sudah menyalahi aturan, ya ditindak tegas saja. Jangan dibiarkan begitu saja. Kalau memang sudah ada izinnya, sosialisasikan ke masyarakat. Gampang, kan,” katanya.

Editor: Merie

 

Baca jugaMeski Dilarang, Truk Besar Kerap Masuk Perkotaan di Kudus   

 

 

 

Ini Kekhawatiran Warga Terkait Proyek Revitalisasi Alun-alun Purwodadi

Meski ada proyek revitalisasi alun-alun, warga berharap keberadaan pohon raksasa tetap dilestarikan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Meski ada proyek revitalisasi alun-alun, warga berharap keberadaan pohon raksasa tetap dilestarikan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Pelaksanaan proyek revitalisasi Alun-alun Purwodadi ternyata tidak hanya dinantikan warga saja. Sebagian pihak lainnya ternyata ada yang khawatir dengan adanya proyek revitalisasi senilai Rp 10,6 miliar itu.

Kekhawatiran ini terkait dengan keberadaan sejumlah pohon trembesi berukuran sangat besar yang ada di kawasan alun-alun. Sejumlah pihak ini khawatir jika pohon yang sudah berusia lebih seabad itu ikut ditebang.

“Soal proyek perbaikan alun-alun memang saya setuju dilakukan. Soalnya, kondisinya memang sudah banyak yang rusak. Tetapi, keberadaan pohon itu yang belum dapat kejelasan,” kata Supar, warga yang tinggal di sekitar alun-alun.

Dia berharap agar keberadaan pohon itu perlu dilestarikan. Sebab, keberadaan pohon sebesar itu di kawasan kota sudah sangat sulit dijumpai. Selain itu, pohon raksasa tersebut sudah jadi ikon tersendiri di kawasan alun-alun.

“Banyak yang punya kenangan dengan adanya pohon raksasa itu. Dulu, di atas pohon itu sempat ada rumah-rumahannya dan saya sering tiduran di atas. Tetapi, rumah-rumahan dari kayu itu sudah hilang lantaran rusak terkena angin dan sampai sekarang tidak dibikin lagi,” cetus Setiadi, warga lainnya.

Sementara itu, Kabid Cipta Karya Joni Sarjono ketika dimintai tanggapannya memahami kekhawatiran warga soal keberadaan pohon besar tersebut. Sebab, pohon itu termasuk langka lantaran usianya diperkirakan sudah lebih dari 100 tahun.

Dijelaskan, dalam grand desain yang sudah dibuat, keberadaan pohon besar yang letaknya di tengah trotoar itu akan tetap dipertahankan. Namun, beberapa pohon peneduh lainnya yang berukuran lebih kecil dan ada di pinggir lapangan akan ditebang. “Pohon yang ukurannya besar ini ada enam jumlahnya. Semuanya akan tetap dipertahankan,” katanya.

 Editor : Kholistiono

Masih Ditoleransi Jika Melintasnya Malam Hari

truk 3

Truk melintas di salah satu sudut kota di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Tidak semua warga Kudus menolak adanya kendaraan besar atau truk yang masuk sudut perkotaan. Hanya, tidak selamanya truk boleh melintas, melainkan di waktu tertentu saja

Seperti diungkapkan Indah, warga Kecamatan Kota. Dia tidak keberatan kalau truk masuk kota. Sebab dia menilai mungkin jalur itu lebih cepat dan banyak pula toko yang membutuhkan stok barang partai besar.

“Tidak masalah, namun ya pada tengah malam saja. Sebab kalau pagi pasti memenuhi jalan saja. Sebaliknya kalau malam sepi. Di atas jam 11 malam,” katanya kepada MuriaNewsCom, Selasa (2/8/2016).

Secara pribadi, dia tidak keberatan jika ada yang truk masuk kawasan kota pada tengah malam. Keadaan jalan yang longgar, dinilai tidak mengganggu pengguna jalan yang lain.

“Paling yang terganggu kawasan tepi jalan raya. Sebab, suara yang ditimbulkan pasti bising. Terlebih saat klakson yang dihidupkan,” imbuhnya.

Namun, dia tidak bisa ditoleransi kalau siang hari sampai ada truk yang masuk kota. Sebab bagaimanapun keadaanya pasti menganggu masyarkat, khusunya pengguna jalan umum.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga Meski Dilarang, Truk Besar Kerap Masuk Perkotaan di Kudus   

 

Truk Melanggar Picu Kerusakan Jalan

 

truk 2

Sebuah truk melintas di salah satu jalan perkotaan, di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Truk masuk kota di Kudus tidak hanya menyebabkan kemacetan, tapi juga kerusakan jalan.

Hal itu disampaikan Kabid Bina Marga Kudus Joko Mukti Harso. Menurutnya, banyaknya jalan yang dilalui kendaraan besar bermuatan tonase berat, rusak.

“Kalau umumnya, jalan mampu berusia hingga 20 tahun. Namun dengan adanya truk atau kendaraan besar yang melewati, maka jalan akan rusak dalam waktu lima tahun. Bahkan bisa lebih cepat,” katanya kepada MuriaNewsCom, Selasa (2/8/2016).

Hal itu, kata dia, karena tonase kendaraan yang lebih, sehingga beban jalan juga semakin tinggi. Kalau secara aturan, maksimal beban 10 ton. Jika demikian, maka jalan akan kuat sampai 20 tahun.

Namun, realita yang muncul, adalah kendaraan besar masuk kota. Padahal, kendaraan besar itu, memiliki berat hingga 30 ton. Itu mampu mempercepat kerusakan jalan.

Dia mengungkapkan, kalau di Kudus hanya ada satu jalan yang agak luput dari kendaraan besar. Yakni di jalan R Agil atau arah Simpang Tujuh.

“Karena memang jalan satu arah. Dan ada pos polisi juga, jadi kendaraan besar nyaris tidak ada yang melintas di sana. Sehingga jalan awet,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca jugaMeski Dilarang, Truk Besar Kerap Masuk Perkotaan di Kudus   

 

Polisi Kudus Janji Akan Tilang Sopir

truk 1

Pengguna sepeda motor yang kewalahan saat berusaha menyalip truk besar di jalan Kudus Pati. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah truk yang memasuki perkotaan di wilayah Kudus, ternyata bukan tidak tahu soal rambu. Sebaliknya, mereka para sopir malah sudah tahu kalau daerah tersebut adalah daerah larangan namun masih nekat diterobos.

Hal itu, diungkapkan KBO Satlantas pada Polres Kudus Iptu Anwar. Menurutnya, dari razia yang dilakukan petugas, para sopir mengaku sengaja menerobos rambu dan memasuki daerah larangan.

“Pada dasarnya mereka sudah tahu, namun mereka tetap saja memasuki kawasan perkotaan. Sebab rambu yang terpasang memang sudah jelas,” katanya saat dihubungi MuriaNewsCom.

Menurutnya, para petugas tidak segan melakukan tindakan kepada sopir yang ngawur. Proses tilang, dipastikan akan didapat jika masih dijumpai sopir yang demikian.

Mengenai penertiban juga terus digalakkan. Hal itu dilakukan dengan cara memperbanyak adanya razia. Bahkan kegiatan itu secara rutin dilakukan oleh petugas.

“Beberapa kali dilakukan, dan mereka para sopir harus ditilang karena melanggar lalu lintas. Khususnya melanggar rambu,” ujarnya.

Untuk kawasan yang sangat terlarang, kata dia, adalah kawasan Simpang tujuh dan Jalan A Yani. Sedangkan untuk kawasan lain masih bisa diberikan toleransi.

“Daerah lain juga, di tempat-tempat sekitar sekolah. Jadi pada saat jam pagi mulai 06.00 WIB hingga 07.30 WIB, tidak boleh ada kendaraan yang melintas. Sebab sekolah dilalui para siswa, seperti di kawasan SMA 1 Bae misalnya,” imbuhnya.

Pihaknya menjamin akan melakukan razia dan bertindak tegas, jika sampai ada yang melanggar. Sebab, hal itu sudah menjadi aturan yang harus dilakukan.

Editor : Akrom Hazami

Baca jugaMeski Dilarang, Truk Besar Kerap Masuk Perkotaan di Kudus  

 

Baru Ada 3 PKL yang Jualan di Tempat Relokasi

 

Suasana tempat relokasi masih terlihat sepi karena belum banyak PKL yang berjualan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Suasana tempat relokasi masih terlihat sepi karena belum banyak PKL yang berjualan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Tempat relokasi PKL kawasan Alun-alun Purwodadi ternyata belum sepenuhnya digunakan untuk berjualan. Indikasinya, pada hari pertama, Senin (2/8/2016) tempat relokasi di jalan depan Pegadaian hingga SDN 4 Purwodadi masih terlihat lengang, dari sore hingga malam.

Dari pantauan di lapangan, baru ada tiga PKL yang jualan di tempat relokasi sementara itu. Dua PKL jualan di depan SDN 4 dan satunya lagi di depan Rumah Dinas Ketua DPRD Grobogan.”Hari pertama belum banyak yang buka. Mungkin dua atau tiga hari lagi mulai ramai yang jualan,” kata Rini, salah satu PKL yang sudah buka di tempat relokasi.

Sementara itu, Ketua Paguyuban PKL Nur Wakhid menyatakan,  ada beberapa kendala yang dihadapi ketika harus berjualan di lokasi baru. Yakni, kaveling yang relatif sempit, karena ukurannya hanya 3,5 x 4 meter. Dengan kondisi ini, sebagian PKL harus membuat tenda baru yang disesuaikan dengan lokasi.”Tempat jualan lama di alun-alun, ukurannya lebih luas. Makanya, kami perlu menyiapkan tenda dulu yang ukurannya disesuaikan dengan lokasi sekarang,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga masih mencari solusi guna mendapatkan suplai listrik ke tenda PKL. Sebelumnya, masalah listrik tidak jadi kendala ketika masih jualan di tempat lama.

Editor : Kholistiono

 

JMPPK Bakal Ajukan Kasasi ke MA terkait Putusan PTTUN Surabaya Soal Pabrik Semen

 Gunretno (berbaju hitam) bersama Melanie Subono, artis yang gencar menyuarakan penolakan pabrik semen di Indonesia. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Gunretno (berbaju hitam) bersama Melanie Subono, artis yang gencar menyuarakan penolakan pabrik semen di Indonesia. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Gunretno bakal mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA) terkait dengan putusan PTTUN Surabaya yang memenangkan upaya banding dari Pemkab Pati dan PT Sahabat Mulia sakti (SMS). Hal itu dikatakan Gunretno, Selasa (2/8/2016). “Ya, warga tetap akan berusaha sampai titik darah penghabisan. Warga akan mengajukan kasasi ke MA,” ujar Gunretno.

Tokoh JMPPK ini menilai, ada kejanggalan dalam putusan Majelis Hakim PTTUN Surabaya. Pasalnya, putusan itu bertentangan dengan keputusan dari PTUN Semarang beberapa bulan yang lalu.

“PTTUN Surabaya memang lucu. Saat warga menggugat di PTUN Semarang, keputusan ditetapkan hakim yang memang bersertifikasi lingkungan. Hasilnya, warga menang. Itu memang hakim dengan sertifikat lingkungan benaran,” ungkap Gunretno.

Namun, hakim di PTTUN Surabaya dinilai punya rekam jejak yang buruk. Gunretno menuding, hakim di PTTUN Surabaya memang punya sertifikat lingkungan, tetapi rekam jejaknya pernah diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Ada yang janggal dari keputusan PTTUN Surabaya. Itu tidak sesuai dengan putusan tingkat pertama, di mana para hakim memang sudah teruji dan memiliki sertifikat lingkungan. Warga akan terus berjuang dengan mengajukan kasasi di MA,” pungkasnya.

Baca juga : BREAKING NEWS: Pemkab Pati Menang di PTTUN Surabaya, Pabrik Semen Akan Berdiri

Editor : Kholistiono

 

BREAKING NEWS: Pemkab Pati Menang di PTTUN Surabaya, Pabrik Semen Akan Berdiri

 Pabrik semen PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk yang lama berdiri di Citeureup, Bogor. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Pabrik semen PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk yang lama berdiri di Citeureup, Bogor. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) Surabaya akhirnya mengabulkan permohonan banding yang dilakukan Pemkab Pati dan PT Sahabat Mulia Sakti (SMS) terkait dengan rencana pendirian pabrik semen di pegunungan Kendeng.

Hal itu diungkap Kepala Bagian Hukum Setda Pati Siti Subiati, Selasa (2/8/2016) pagi. “Benar, PTTUN Surabaya mengabulkan upaya banding yang kami lakukan terkait dengan pendirian pabrik semen di Pegunungan Kendeng,” kata Siti kepada MuriaNewsCom.

Siti mengatakan, salinan putusan itu diterima Pemkab Pati pada Senin (1/8/2016). Saat ini, salinan putusan itu akan diserahkan kepada Bupati Pati Haryanto untuk dilakukan pembahasan lebih lanjut. Ditanya soal kemenangan, Siti membenarkannya. “Kalau dibilang kita menang, ya bisa dikatakan begitu karena upaya banding yang kita lakukan dikabulkan,” tuturnya.

Dengan adanya putusan PTTUN Surabaya, pabrik semen PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk melalui anak perusahannya, PT SMS yang selama ini mendapatkan perlawanan dari warga penolak pabrik semen, dimungkinkan akan segera berdiri.

Dari informasi yang dihimpun, Majelis Hakim PTTUN Surabaya mengabulkan upaya banding dari Pemkab Pati dan PT SMS pada 14 Juli 2016 lalu. Surat pemberitahuan putusan banding itu bernomor 70/B/2016/PT.TUN.SBY.

Editor : Kholistiono

 

Truk Besar Diperbolehkan Melintas, Tapi Ada Syaratnya

Truk melintas di salah satu sudut perkotaan di Kabupaten Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Truk melintas di salah satu sudut perkotaan di Kabupaten Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Aturan larangan truk besar masuk kawasan perkotaan di Kudus berlaku di seluruh sudut wilayah tersebut.

Kabid Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) pada Dishubkominfo Kudus Putut Sri Kuncoro mengatakan, sopir truk dapat melalui ruas jalan perkotaan jika mengantongi izin.

“Para sopir dapat mengajukan izin kesini. Jika dilengkapi dengan surat izin, maka tidak ada masalah,” katanya kepada MuriaNewsCom, Senin (1/8/2016).

Menurutnya, meski diperbolehkan namun tak banyak sopir yang memprosesnya. Bahkan, dalam sebulan, belum tentu ada yang mengajukan surat tersebut.

“Jika ada surat itu, mungkin kami beri toleransi lebih. Namun yang terjadi, tidak ada yang membawa surat izin,” ujarnya.

Dia menjelaskan, kalau pengajuan surat izin tetap melalui pihak polres. Barulah datang ke dishub untuk melakukan pengajuan surat izin.

Hanya, meski terdapat yang memiliki surat izin, namun tidak semua wilayah dapat dilalui. Sebab pemkab memiliki daerah larangan keras yang tidak boleh dilalui.

“Untuk kawasan Alun-alun Simpang Tujuh dan Jalan A Yani, bagaimanapun kondisinya tidak boleh dilalui. Bahkan yang menggunakan izin sekali pun,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca jugaMeski Dilarang, Truk Besar Kerap Masuk Perkotaan di Kudus  

Truk Masuk Kota  jadi Biang Macet

Kendaraan besar melintas di kawasan Jember, Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kendaraan besar melintas di kawasan Jember, Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kendaraan besar yang masuk wilayah kota di Kudus, ternyata menuai kritikan masyakat. Sebab, ukuran kendaraan yang besar, berdampak pada tersendatnya arus lalu lintas. Bahkan dapat membuat macet.

Abdul Azis, Warga Kecamatan Kota mengungkapkan adanya kendaraan jenis truk di jalan kota malah membuat jalanan penuh. Padahal, jalan kota di Kudus sebagian besar tak terlalu lebar. Akibatnya, jalan yang sudah sesak menjadi tambah susah untuk dilalui.

“Kendaraan sudah sesak, masih ditambah lagi dengan truk yang masuk kota. Akibatnya ya makin macet,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dia mencontohkan seperti di kawasan jalan Sunan Kudus. Lokasi itu sudah penuh dengan pengguna jalan seperti ojek dan kendaraan peziarah. Namun, sering kali ada truk yang malah berhenti di kawasan tersebut.

Dian Ari, pengguna jalan asal Kecamatan Kaliwungu juga meresahkan kendaraan besar yang lewat perkotaan. Apalagi, kendaraan jenis truk yang menyangkut tanah, sering menganggu pengguna jalan di belakangnya.

“Harusnya bisa itu ada jalur khusus untuk kendaraan pengangkut. Jadi tidak menganggu yang menggunakan motor. Jika mobil truk pengangkut mobil tidak ada penutupnya,” tambahnya.

Dia berharap petugas dapat melakukan tindakan lebih tegas. Agar pengguna jalan tidak terganggu, serta kenyamanan berlalu lintas juga bertambah.

Editor : Akrom Hazami

Baca jugaMeski Dilarang, Truk Besar Kerap Masuk Perkotaan di Kudus 

Hari Ini Semua PKL Alun-alun Purwodadi Harus Pindah ke Tempat Relokasi

 

Sejumlah pekerja tengah sibuk memasang pagar pengaman di sekeliling Alun-alun Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sejumlah pekerja tengah sibuk memasang pagar pengaman di sekeliling Alun-alun Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Proyek revitalisasi Alun-alun Purwodadi senilai Rp 10,6 miliar tampaknya akan dikerjakan lebih intensif mulai minggu ini. Hal ini terlihat dengan sudah dipagarnya sekeliling alun-alun mulai Senin (1/8/2016).

Dari pantauan di lapangan, seharian ini sudah lebih banyak pekerja yang ada di alun-alun dibandingkan beberapa hari lalu. Sebagian pekerja ada yang memasang pagar seng setinggi dua meter. Pemasangan pagar ini dimulai dari sisi sebelah barat.

Sebagian pekerja lainnya tampak melakukan penggalian tempat pembuatan pondasi. Penggalian ini juga dilakukan dari sisi barat alun-alun. Sementara pada pagi harinya, sejumlah truk juga terlihat masuk lokasi alun-alun untuk menurunkan material.

Kepala Dinas Cipta, Karya Tata Ruang dan Kebersihan (DCTK) Grobogan M Chanif menyatakan, mulai awal Agustus ini pihak rekanan memang sudah diberi lampu hijau untuk melakukan pemagaran sekeliling lokasi pekerjaan. Hal ini seiring sudah rampungnya rencana penataan PKL di situ yang akan dipindah ke tempat relokasi sementara. Yakni, di pinggir jalan depan Pegadaian hingga depan SDN 4 Purwodadi.

“Sebenarnya, pihak rekanan bermaksud memasang pagar pengaman pada Minggu lalu. Namun, kami meminta agar pemagaran ditunda dulu sampai PKL yang ada di situ menempati lahan relokasi sementara,” katanya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban PKL Alun-alun Purwodadi Nur Wakhid menyatakan, sesuai kesepakatan sebelumnya, mulai hari ini, semua PKL sudah tidak berjualan lagi di kawasan alun-alun. Mereka nantinya akan pindah ke tempat relokasi yang sudah disiapkan.“Toleransi jualan di sini sampai hari Minggu kemarin. Jadi mulai hari ini, tempat jualan pindah ke lokasi sementara,” katanya.

Meski demikian, pada hari pertama pindah ini belum semua PKL akan berjualan di tempat relokasi. Sebab, masih ada beberapa persiapan yang harus dilakukan.

Seperti membuat tenda jualan yang disesuaikan dengan kapling yang disediakan seluas 3,5 x 4 meter. Kemudian, masalah saluran listrik ke tenda PKL juga sedang dicarikan solusinya.

 Editor : Kholistiono

Meski Dilarang, Truk Besar Kerap Masuk Perkotaan di Kudus

Rambu lalu lintas yang menandakan kendaraan besar dilarang lewat di jalan Kudus-Jepara, di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Rambu lalu lintas yang menandakan kendaraan besar dilarang lewat di jalan Kudus-Jepara, di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Jalan-jalan di Kota Kudus, idealnya diperuntukkan bagi kendaraan pribadi, hingga sepeda motor. Tapi ternyata tidak demikian.

Bahkan, peraturan lalu lintas seperti larangan truk besar memasuki kota, ternyata masih banyak dilanggar. Tidak hanya beberapa kendaraan saja, melainkan banyak kendaraan besar yang memasuki wilayah perkotaan.

Kabid Lalu Lintas Angkutan dan Jalan (LLAJ) Dishubkominfo Kudus Putut Sri Kuncoro mengatakan, daerah perkotaan tidak boleh dilewati kendaraan besar jenis truk maupun mobil boks. Hanya, sopir masih melakukan melanggar aturan.

“Rambu rambu sudah sangat jelas, dan jumlahnya juga sangat banyak. Ternyata masih juga banyak kendaraan besar yang nekat menerobos,” katanya kepada MuriaNewsCom, Senin (1/8/2016)

Berdasarkan pantauan yang dilakukan petugas, daerah yang perkotaan yang kerap dilalui kendaraan besar adalah jalan Johar, jalan Sunan Kudus, jalan Tanjung, Jalan Pramuka dan jalan perkotaan lainnya.

Truk kerap melintas di jam sibuk. Kondisi tersebut menyulitkan sepeda motor, dan kendaraan keluarga untuk melaju bebas. Tidak heran jika arus lalu lintas kerap tersendat.

Dia mencontohkan, untuk jalan Johar kendaraan besar seperti truk dan kendaraan boks pengangkut, kerap kali berhenti. Truk bongkar muat yang parkir di tepi jalan. Akibatnya, arus kendaraan jadi terhambat.

“Begitu pula jalan lainnya, bahkan di Simpang Tujuh, juga beberapa kali ada kendaraan besar yang nekat berhenti. Padahal kawasan Simpang Tujuh jelas-jelas daerah larangan bagi kendaraan tersebut,” ungkapnya.

Mengenai tindakan yang dilakukan, kata Putut, petugas sering melakukan patroli. Ketika menjumpai kendaraan yang parkir sembarangan. Akan langsung ditegur dan diminta geser atau pergi.

“Namun tiap ada petugas mereka mau pergi. Soalnya mereka tahu kalau mereka salah. Hanya esok harinya kesalahan mereka kembali diulang,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Perbaikan Pengairan di Kabupaten Jepara Telan Rp 49,7 Miliar

Alat berat akan melakukan pengerukan di salah satu titik saluran di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Alat berat yang disiapkan untuk melakukan pengerukan di salah satu titik saluran di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara –  Bidang pengairan yang ada di Dinas Bina Marga Pengairan ESDM Kabupaten Jepara, tahun ini mendapatkan alokasi anggaran sekitar Rp 49,7 miliar. Anggaran tersebut mayoritas digunakan untuk perbaikan, terutama saluran irigasi.

Kabid Pengarian pada Dinas Bina Marga, Pengairan dan ESDM Jepara, Sahli mengatakan, anggaran tersebut dialokasikan untuk 125 proyek atau kegiatan. Proyek tersebut digelar merata di semua kecamatan yang ada di Kabupaten Jepara.

“Lokasinya hampir merata di setiap kecamatan di Jepara. Termasuk juga di sungai kawasan kota seperti kali kanal yang saat ini mulai diperbaiki karena aliran sungai yang tidak merata dan tertata,” ujar Sahli kepada MuriaNewsCom, Sabtu (30/7/2016).

Di antara proyek yang dilaksanakan adalah pengerukan lumpur sungai karena dangkal, perapian alur, dan pembangunan kembali beton yang sudah rusak. Selain itu, ada juga perbaikan bendung.

”Untuk perapian lebih hemat karena kami menggunakan klinik. Hanya butuh pengoprasian alat karena alatnya memang sudah ada,” terangnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, untuk perapian atau pembersihan kali sebagian menggunakan dana klinik. Anggaran khusus untuk klinik hanya sebesar Rp 300 juta untuk tahun ini.

Karena keterbatasan anggaran tersebut, tak semua saluran irigasi bisa diperbaiki dengan klinik. ”Untuk klinik kami priotitaskan yang sekiranya perlu perbaikan mendesak,” katanya.

Dia menambahkan, sejumlah saluran irigasi di Jepara mengalami pendangkalan. Jika tak dikeruk dikawatirkan merusak saluran air. Khususnya pada musim hujan. Sebagian proyek sudah dilakukan sejak beberapa waktu yang lalu.

Seperti di sungai Sowan Lor, Sowan Kidul, Jondang dan Surodadi,Kedung. Termasuk pengerukan di kali kanal. Sementara sebagian yang lain masih proses lelang.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Ini Aktivitas Perdana Proyek Revitalisasi Alun-alun Purwodadi

Sejumlah pekerja tengah memasang patok kayu di sekeliling Alun-alun Purwodadi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sejumlah pekerja tengah memasang patok kayu di sekeliling Alun-alun Purwodadi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Setelah mendapat sorotan, proyek revitalisasi Alun-alun Purwodadi akhirnya mulai dikerjakan. Hal ini, terlihat dengan adanya belasan pekerja yang mulai melakukan kegiatan di seputar kawasan alun-alun, Jumat (29/7/2017).

Dari pantauan di lapangan, belasan pekerja tersebut melakukan pemasangan patok kayu di sekeliling alun-alun. Tepatnya, beberapa meter di belakang trotoar yang ada saat ini. Patok tersebut merupakan tanda untuk lokasi penggalian pondasi trotoar yang baru.

Informasi yang didapat, dalam waktu dekat, pihak rekanan akan memasang pagar penutup di lokasi pekerjaan. Tepatnya, di sisi luar trotoar atau di pinggir jalan sekeliling alun-alun. Penutupan ini dilakukan untuk pengamanan material dan peralatan kerja yang akan segera ditempatkan di situ.

Kepala Dinas Cipta, Karya Tata Ruang dan Kebersihan (DCTK) Grobogan M Chanif menyatakan, sebenarnya, pihak rekanan bermaksud memasang pagar pengaman lebih dulu sebelum melakukan kegiatan. Namun, pihaknya meminta agar pemagaran ditunda dulu sampai PKL yang ada di situ menempati lahan relokasi sementara.

“Dalam akhir pekan ini, para PKL kita toleransi masih boleh jualan di alun-alun. Minggu depan, mereka sudah harus pindah ke tempat relokasi yang sudah kita siapkan. Jadi, pekan depan kemungkinan akan dilakukan pemagaran,” ujar Chanif melalui Kabid Cipta Karya Joni Sarjono.

Menurutnya, sesuai kontrak, proyek revitalisasi alun-alun itu sudah harus rampung dalam waktu 160 hari terhitung sejak 16 Juli lalu. Batas akhir penyelesaian proyek senilai Rp 10,6 miliar ini sampai dengan 22 Desember mendatang.

 Editor : Kholistiono

Waspadai Titik Rawan Kemacetan di Grobogan

Kemacetan panjang terjadi di ruas jalan Purwodadi-Solo akibat adanya proyek perbaikan jalan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kemacetan panjang terjadi di ruas jalan Purwodadi-Solo akibat adanya proyek perbaikan jalan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Perhatian bagi pengguna jalan yang melintasi wilayah Grobogan, khususnya menuju Solo dan Blora. Sebab, di ruas jalur tersebut ada beberapa titik kemacetan akibat adanya proyek perbaikan jalan milik Provinsi Jawa Tengah.

Adanya titik macet itu disebabkan arus lalu lintas harus dilakukan bergantian dari kedua arah. Karena jalur tersebut ramai kendaraan, terkadang pengendara kendaraan roda empat atau lebih bisa terjebak macet sampai 2 jam lamanya. “Hari ini tadi saya kejebak macet di Kecamatan Toroh lama sekali. Macetnya parah banget sampai beberapa kilometer,” kata Juliyanto, warga Purwodadi yang baru datang dari Solo.

Beberapa warga menyatakan, kemacetan itu terjadi sejak beberapa hari lalu. Tepatnya, saat proyek perbaikan jalan kembali dilanjutkan setelah berhenti selama momen Lebaran lalu. “Proyek perbaikan jalan ini memang menimbulkan dampak bagi pengguna jalan, yakni adanya kemacetan. Sebab, kendaraan dari kedua arah harus jalan bergantian. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini,” kata Kepala Balai Pelaksana Teknis (BPT) Bina Marga Provinsi Jateng Wilayah Purwodadi Ali Huda.

Menurutnya, perbaikan jalan milik Provinsi Jawa Tengah yang berada di wilayah Grobogan sudah dimulai per 17 Februari lalu. Saat Lebaran lalu, semua proyek dihentikan dan baru dilanjutkan beberapa hari lalu. Sampai saat ini, progres perbaikan jalan sudah mencapai 85 persen. Sesuai kontrak, perbaikan jalan  akan selesai pertengahan Oktober mendatang.

Ali menjelaskan, untuk tahun 2016 ini, ada perbaikan jalan di wilayah Grobogan dengan sistem rigid beton sepanjang 24,4 km yang terbagi dalam 7 paket. Yakni, ruas jalan Geyer-Purwodadi sepanjang 4 km, Purwodadi-Wirosari 3 km, Wirosari-Kunduran 4 km, Wirosari-Sulur 8 km, Kuwu-Galeh 3 km, Jalan A Yani Purwodadi 1,2 km dan Grobogan-batas Pati 1,1 km. Alokasi dana untuk perbaikan jalan ini sekitar Rp 150 miliar.

Ditambahkan, panjang jalan provinsi di Grobogan yang masuk kewenangan BPT Bina Marga Jateng Wilayah Purwodadi sekitar 152 km. Sejak beberapa tahun lalu hingga akhir 2016 nanti, ruas jalan yang selesai diperbaiki panjangnya mencapai 113 km. Sedangkan, sisanya sekitar 39 km akan dituntaskan pada tahun 2017.

 Editor : Kholistiono

PKL di Alun-alun Purwodadi Sepakat Direlokasi

 

Para PKL alun-alun dan warga sekitar mengikuti acara sosialisai soal relokasi sementara (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Para PKL alun-alun dan warga sekitar mengikuti acara sosialisai soal relokasi sementara (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Para pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini berjualan di kawasan Alun-alun Purwodadi mendukung langkah Pemkab Grobogan untuk merelokasi mereka ke tempat sementara. Hal itu terungkap dalam acara sosialisasi relokasi sementara PKL yang dilangsungkan di Aula Kantor Dinas Cipta, Karya Tata Ruang dan Kebersihan (DCTK) Grobogan, Kamis (28/7/2017).

“Seperti kita tahu, dalam waktu dekat, kawasan alun-alun akan direhab. Maka kami juga manut saja ketika diminta pindah sementara ke lokasi baru. Yakni, di pinggir jalan depan Pegadaian hingga depan SDN 4 Purwodadi. Jumlah PKL keseluruhan yang terdata ada 54 orang,” kata Ketua Paguyuban PKL Alun-alun Purwodadi Nur Wakhid.

Selain paguyuban dan para PKL, acara sosialisasi juga dihadiri perwakilan warga yang ada di sekitar kawasan alun-alun. Kemudian, hadir pula dari Satpol PP, Polsek Purwodadi, Dishubkominfo, Pegadaian, Kelurahan Purwodadi, dan Diperindagtamben.

Dalam acara tersebut, perwakilan warga juga menyatakan tidak keberatan adanya relokasi di situ. Hanya saja, para PKL diminta untuk ikut menjaga kebersihan lingkungan. Satu hal lagi, para PKL juga diminta untuk berjualan setelah jam kantor selesai. Mereka diminta untuk membongkar tenda jika sudah selesai jualan.

“Kami tidak masalah jika relokasi dilakukan di depan kantor, karena ini sifatnya hanya sementara. Hanya saja, kami minta PKL selalu menjaga kebersihan,” kata Pimpinan Cabang Pegadaian Purwodadi Amran yang ikut dalam sosialisasi tersebut.

Kabid Cipta Karya Joni Sarjono yang memimpin sosialisasi tersebut mengungkapkan, jalan yang dipakai relokasi nantinya akan dikapling jadi 54 unit. Hal itu disesuaikan dengan banyaknya PKL yang sudah terdata. Masing-masing kapling berukuran 3,5 x 4 meter.

“Denah lokasi relokasi sudah kita siapkan. Besok, rencananya kita lakukan pengukuran dan pengaplingan di lapangan. Untuk teknis pembagiannya nanti dilotre dan itu kita serahkan pada paguyuban PKL,” jelas Joni.

Menurut Joni, dipilihnya tempat relokasi disitu sudah melalui banyak pertimbangan. Dari sekian lokasi hanya disitulah yang dinilai memenuhi persyaratan.

Editor : Kholistiono

 

Belum Ada Aktivitas, Wakil Ketua Dewan Soroti Pelaksanaan Proyek Revitalisasi Alun-alun

 

Meski sudah ada kotrak kerja namun sejauh ini proyek revitalisasi alun-alun belum kunjung dimulai (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Meski sudah ada kotrak kerja namun sejauh ini proyek revitalisasi alun-alun belum kunjung dimulai (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski kontrak proyek revitalisasi Alun-alun Purwodadi sudah dilakukan 16 Juli lalu, namun sampai Kamis (28/7/2016) belum terlihat ada aktivitas yang dilakukan di lokasi pekerjaan. Tak ayal, kondisi ini mendapat sorotan dari beberapa pihak. Salah satunya datang dari Wakil Ketua DPRD Grobogan HM Nurwibowo.

Nurwibowo meminta dinas terkait agar segera mengambil sikap. Yakni, meminta rekanan yang memenangkan lelang agar mulai melakukan pekerjaan. Hal itu perlu dilakukan supaya proyek dengan dana Rp 10,6 miliar itu bisa diselesaikan tepat waktu.

“Sejak penandatanganan kontrak sampai sekarang sudah berlalu 10 hari. Tetapi, sampai kini belum ada kegiatan yang terlihat. Kalau tidak segera dimulai, maka saya khawatir kalau proyek nanti tidak bisa selesai tepat waktu,” tegasnya.

Menurutnya, sorotan terhadap proyek revitalisasi alun-alun itu memang cukup beralasan. Sebab, proyek ini menjadi perhatian dan dinantikan masyarakat. Selain itu, proyek revitalisasi alun-alun sudah direncanakan cukup lama. Yakni, sejak tahun 2014 lalu. Tetapi, dalam dua tahun sebelumnya gagal dikerjakan.

Sementara itu, Kepala Dinas Cipta, Karya Tata Ruang dan Kebersihan (DCTK) Grobogan M Chanif menyatakan, sesuai kontrak, proyek revitalisasi alun-alun itu sudah harus rampung dalam waktu 160 hari. Batas akhir penyelesaian pekerjaan ini sampai 22 Desember 2016.

Pada pekan lalu, sudah ada kegiatan yang dilakukan, yakni uitzet atau peninjauan lapangan. Kegiatan ini dilakukan untuk melaksanakan pengukuran lokasi. “Pada minggu ini, kita jadwalkan akan dilakukan pengedropan material. Pihak rekanan sudah kita minta untuk melaksanakan kegiatan sesuai jadwal, supaya pekerjaan itu bisa selesai tepat waktu,” katanya.

Editor : Kholistiono

 

Pemkab Kudus Targetkan Penghargaan WTN Kali Ketiga

Ucapan selamat datang yang ditujukan untuk Tim Penilai WTN di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Ucapan selamat datang yang ditujukan untuk Tim Penilai WTN di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus kembali mengikuti lomba rutin bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Dalam hal ini adalah Dishubkominfo. Mereka berharap raih penghargaan Wahana Tata Nugraha (WTN).

Kabid LLAJ pada Dishubkominfo Kudus Putut Sri Kuncoro, mengatakan Kudus mendapatkan penghargaan tahunan selama dua tahun berturut turut. Yakni pada 2014 dan 2015. Karenanya, mereka berharap tahun ini bisa meraihnya lagi.

“Kalau yang bidang Lalu lintas,  kami yakin mendapatkannya. Namun kami juga mengincar bidang angkutan jalan, yang mana selama ini belum didapat,” kata Putut kepada MuriaNewsCom, Kamis (28/7/2016).

Menurutnya, penilaian pada tahun ini dilakukan pada 27 dan 28 Juli. Sedangkan pengumuman yang diterima,  pada Agustus hingga September 2016.

“Ini menjadi tantangan buat kami, guna mencapai dua kriteria. Yakni bidang lalu lintas dan bidang angkutan jalan,” ujarnya

Mengenai upaya yang dilakukan, adalah dengan penambahan rambu, dan lain sebagainya termasuk juga dengan marka jalan.

Selain itu, pembenahan tentang tempat pemberhentian angkutan seperti halte dan juga terminal juga dilakukan. Selain masalah keselamatan, juga berkaitan dengan penilaian WTN di bidang angkutan jalan.

“Penilaian yang dilakukan tim juga bersangkutan dengan masyarakat, misalnya saja dengan kepatuhan dalam mentaati aturan rambu. Termasuk juga dengan berhenti di halte,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Alur Aliran Sungai Kanal Jepara Ditata

Aliran air sungai Kanal di Jepara, dalam beberapa waktu terakhir. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Aliran air sungai Kanal di Jepara, dalam beberapa waktu terakhir. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Alur aliran air sungai Kanal, yang berada di samping kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jepara masih tak semrawut.

Sehingga aliran air dirapikan dengan cara dikeruk dan ditambal. Langkah itu dilakukan dengan menggunakan alat berat.

Kabid Pengairan pada Dinas Bina Marga, Pengairan dan ESDM Jepara Sahli mengatakan, banyaknya sedimen di sisi timur sungai Kanal yang berada di sebelah timur gedung DPRD Jepara perlu dirapikan.Perapian alur air ini akan dilakukan selama sebulan.

“Perapian alur air sungai kanal ini hanya akan dilakukan sampai sekitar Jembatan Merah.  Panjangnya sekitar 500 meter yang akan kita tata,” kata Sahli kepada MuriaNewsCom, Rabu (27/7/2016).

Menurutnya, sedimen yang lebih banyak menumpuak di salah sisi sungai, akan dikeruk dan ditempatkan di masing- masing sisi kanan dan kiri, sehingga aliran air akan berada di tengah-tengah. “Harapannya, dengan ditata seperti itu, aliran air tidak dengan mudah menggerus talut sungai,” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengemukakan, untuk anggaran penataan alur sungai itu hanya diambilkan dari anggaran klinik. Sedangkan pengerjaan perapian alur air di sungai Kanal ini terdapat kendala berupa landasan alat berat.

Menurutnya, dengan kondisi sungai yang seperti itu, untuk menggunakan ponton tidak bisa dilakukan karena debit air yang hanya sedikit.

“Sementara jika tidak ada landasan, alat berat akan ambles. Untuk mengatasinya kita nanti akan membuat landasan yang memudahkan pengoperasian alat berat ini,” terangnya.

Ia menambahkan, untuk memperkuat talut di sungai Kanal, tahun depan pihaknya merencanakan untuk membuat krib di titik sungai yang berkelok. Kirab yakni bangunan yang dibuat di sekitar talut sungai ke arah tengah yang digunakan untuk mengatur arus sungai.

Editor : Akrom Hazami