Dawet Mantingan, Kuliner Khas Jepara yang Terjaga Lebih dari Setengah Abad

MuriaNewsCom, Jepara – Jika berkunjung ke Jepara, khususnya Wisata Religi Makam Mantingan, jangan lupa mampir ke Dawet Mantingan. Dawet yang melegenda dari empat generasi ini cukup familier bagi masyarakat Jepara.  Tak hanya rasa yang unik, kuliner tradisional ini juga memiliki rasa segar dan mengenyangkan.

Berbeda dengan dawet pada umumnya yang menyajikan cendol beserta santan ditambah dengan manisnya gula merah cair, di Dawet Mantingan ini kita dapat menemukan cendol yang cukup mungil dicampur dengan bubur pati yang memiliki rasa gurih dan manis.

Dawet Mantingan ini juga menjadi pilihan warga sekitar disaat terik matahari menjelang. Perpaduan rasa khas gula aren dicampur dengan perasan santan ini membuat dawet tersebut makin gurih, manis dan segar.

Farida (50), generasi keempat Dawet Mantingan ini mengaku keluarganya mulai berjualan dawet sejak 1958 atau 60 tahun yang lalu. Awalnya, usaha dawet ini dirintis oleh mbah buyutnya Mbah Sanisih. Kala itu, Mbah Sanisih merintis usaha di depan Makam Mantingan tepatnya di bawah pohon ringin.

Dawet Mantingan kuliner khas Jepara yang sudah terjaga sejak 1958 lalu. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Melihat banyaknya usaha dawet di Jepara, Mbah Sanisih mencoba membuat resep baru. Ia memadukan cendol yang dibuat dari sagu aren (yang hanya ada di Jepara, khususnya daerah Plajan) dengan bubur pati.

Karena sagu aren itulah, gurihnya Dawet Mantingan ini menjadi jujugan banyak orang, termasuk pelancong dari luar kota. Apalagi, rasa dawet tersebut tidak dapat ditemukan di penjual dawet lainya, meski bahan bakunya sama.

Mulai dari sini lah cendol Mantingan mulai dikenal. Mereka yang mencicipi Dawet Mantingan  mulai bercerita ke orang, hingga menjadi cerita dari mulut ke mulut dan kini menjadi kuliner khas Jepara.

Setelah mbah Sanisih tiada, usaha tersebut diturunkan kepada putrinya Hj Sutiyah kemudian turun lagi ke adiknya Misayati. Setelah Misayati tiada, kini usaha tersebut dipegang oleh cicitnya yaitu Rosidah dan Farida.

Sejumlah pelanggan menikmati gurihnya dawet Mantingan, kuliner khas jepara yang melegenda sejak 1958. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Meski sudah lebih dari setengah abad, namun untuk menjaga cita rasa Cendol Mantingan ini, Farida dan Rosidah masih memegang teguh pendirian sang buyut. Salah satunya memasak cendol, bubur, gula hingga santanya pun masih menggunakan kayu bakar.

“Pesan dari mbah dulu, masaknya harus tetap dengan kayu bakar. Dan untuk membuat cendolnya pun dengan menggunakan sagu aren yang hanya ada di Jepara. Sagu tersebut bahanya sama dengan makanan khas Jepara yaitu horog-horog,” jelasnya.

Hingga generasi keempat ini, mereka masih menjunjung tinggi resep turun temurun itu. Hanya saja untuk tempat jualan sudah berpindah. Sejak neneknya Hj Sutiyah selaku generasi kedua mulai menua dan sakit Cendol Mantingan pun pindah di sebelah timur Makam Mantingan.

Sementara itu, Titik (40) warga Panggang mengaku setiap melintas di dearah Mantingan, pasti menyempatkan mampir ke cendol yang melegenda itu. Bahkan setiap hari Jumat, dia bersama teman-temanya menyempatkan untuk menikmati kesegaran dawet tersebut.

“Rasanya khas, manis, gurih dan segarnya itu belum bisa ditemukan di dawet-dawet yang lain. Selain itu harganya cukup terjangkau hanya Rp 3.500 perporsi jadinya sangat terjangkau,” jelasnya.

Dian (22), salah seorang karyawan swasta ini mengaku setiap hari dia membungkus dawet tersebut untuknya dan juga teman-teman di gudang meubelnya. Selain segar, dawet tersebut juga mengenyangkan.

“Rasanya segar, selain itu juga mengenyangkan, harganya juga murah jadi lumayan untuk mengganjal perut,” kata gadis manis ini.

Editor: Supriyadi

Kenalkan Batu Gwi Sa Mun Sok, JM Therapy Jepara Gelar Terapi Gratis

MuriaNewsCom, Jepara – Ingin sembuh dari berbagai macam penyakit namun malas minum obat? Anda bisa mencoba terapi dengan menggunakan batu gwi sa mun sok secara gratis yang disediakan oleh JM Therapy yang ada di Jalan Raya Kalinyamatan, jalur Jepara Kudus, Gotri.

Dengan menggunakan terapi batu asal Korea ini, JM Therapy  bertujuan untuk membuat masyarakat sadar dengan kesehatanya dan lebih menjaga pola makan dan gaya hidup yang lebih sehat.

Kepala Cabang Jepara, Fajarudin mengatakan batu gwi sa mun sok adalah batu murni yang berasal dari pegunungan Korea, sehingga dapat memencarkan sinar infra merah gelombang sejauh 8-11 u yang paling jauh diserap tubuh.

“Karena sinar ini berfungsi 80 kali lebih masuk ke dalam tubuh manusia dan memberikan aktifasi getaran sel suhu tubuh. Sehingga sel-sel yang rusak akan kembali sehat, racun-racun ditubuh kita keluar bersama keringat saat terapi,” jelasnya.

Menurutnya dengan melakukan terapi secara rutin hanya 30 menit sehari, racun-racun dalam tubuh bisa keluar semua dan memperbaiki sel-sel yang rusak, dia yakin berbagai macam penyakit dapat diaembuhkan.

“Setiap penyakit, setiap orang berbeda-beda daya tahan tubuhnya. Ada yang 3 kali datamg sudah enak, ada yang sampai satu bulan terapi baru terasa enak,” jelasnya.

Meski demikian, pihaknya tidak akan memberikan batasan kepada setiap orang yang datang. Dan melayaninya secara gratis. “Selama kami masih buka di sini, kami akan terus memberikan terapy secara gratis, agar semua orang bisa sehat dan bahagia,” ungkapnya.

Udin (34), warga Jepara memgaku sejak awal buka, dia mencoba mengikuti terapi tersebut dan berharap bisa sembuh tanpa harus minum obat secara terus menerus.

“Kolesterol saya tinggi sampai 330 dan asam urat saya sampe 15, tapi saya capek minum obat terus makanya saya ikut terapi ini. Saya baru 2 kali terapi tapi sudah mulai enak dibadan,” ungkapnya.

Sarminah (43), warga Welahan juga mengaku setelah mengikuti terapi tiga kali tangan dan kakinya mulai lemas dan bisa digerakan kembali.

“Sekarang sudah lumayan enak, tapi masih harus kembali lagi agar bisa sembuh total,” ungkap wanita yang memiliki gejala struk ringan sejah satu tahun yang lalu itu.

Editor: Supriyadi

Dibiarkan Rusak Bertahun-tahun, Jalan di Jepara Ini Berubah Jadi Wisata Jeglongan Sewu

MuriaNewsCom, Jepara – Selain terkenal dengan wisata pantai yang sangat indah, di Kabupaten Jepara, tepatnya di Kecamatan Nalumsari ternyata ada wisata jeglongan sewu loooh..

Ya, kata jeglongan sewu muncul dari warga sekitar yang kesal dengan sikap pemerintah daerah yang tidak kunjung memperbaiki jalan yang menghubungkan antara Desa Tunggul Pandean dengan Nalumsari. Jalan tersebut dibiarkan rusak lebih dari tiga tahun hingga membuat kekesalan warga memuncak.

Iin Wulandari (25), warga Tunggul Pandean mengaku sejak tahun 2014 jalan tersebut sudah rusak. Bahkan, kini semakin parah dan kubangan jalan semakin dalam dan lebar.

“Rusaknya semakin parah, tidak ada yang bisa dipilih, hingga membuat kami kesal dan membuat istilah jeglongan sewu,” ungkapnya.

Menurut Iin, selain ditempeli tulisan “selamat datang di wisata jeglongan sewu” jalan rusak sepanjang dua kilometer lebih itu juga ditanami pohon pisang dan pohon2 lainya. “Di jalan itu sampai ditanami pohon pisang, bahkan pisangmya tumbuh subur dan sampai berbuah,” jelasnya.

Dia berharap, ada perhatian dari Pemerintah daerah Kabupaten Jepara untuk segera memperbaiki jalan tersebut sehingga aktivitas warga lancar dan ekonomi kembali pulih.

“Saya berharap pemerintah segera memperbaiki jalanya jadi semua aktifitas warga kembali normal,” pinta guru SMK tersebut.

Seorang warga melintas di jalan rusak di Tunggul Pandean Jepara. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Zainal (27), warga Nalumsari juga mengungkapkan hal yang sama. Sejak jalan tersebut rusak, aktifitas antara dua desa tersebut lumpuh. “Harusnya Desa Tunggul ini dekat dengan Nalumsari, tapi karena jalanya rusak parah jadinya malas lewat jalan tersebut dan akhirnya memutar cukup jauh,” katanya.

Awalnya, tambah Zainal, saat kerusakanya masih sedikit, para warga iuran untuk membeli sertu untuk menguruk dan menutup jalan2 yang berlubang. Namun karena tidak perbaikan dari pemerintah, lama-lama warga kesal dan membiarkan jalan tersebut.

“Saya heran, apa bupati atau anggota DPRD kabupaten Jepara ini tidak pernah dengar? Atau tidak pernah ada aduan dari pemerintah kecamatan kalau ada jalan yang rusaknya sangat parah bertahun-tahun seperti ini,” tanyanya.

Dia berharap pemerintah segera memperbaikinya dan aktifitas warga tidak terganggu. “Kami sangat berharap jalanya segera diperbaiki agar warga tidak terganggu perjalananya. Apalagi saat hujan atai setelah hujan, sering pengendara motor jatuh karena terperosok dikubangan yang cukup dalam itu,” kata Zainal.

Editor: Supriyadi

Tak Ada Berani Nebang, Randu Alas Ratusan Tahun di Jepara Ini Mitosnya Bisa Keluarkan Darah

MuriaNewsCom, Jepara- Pernahkah Anda melihat pohon raksasa berukuran besar berusia ratusan tahun, tanpa ada mitos-mitos penunggu yang menyertainya?.

Jika pun ada, pastinya pohon itu sudah ditebang dijadikan berbagai macam barang furniture, atau bahkan jadi kayu bakar. Apalagi jika pohon tersebut berada di Jepara, yang mayoritas penduduknya adalah perajin mebel.

Hampir sebagian besar keberadaan pohon tua raksasa, selalu diikuti dengan cerita-cerita mistis di seputar pohon tersebut. Seperti yang ada di Kabupaten Jepara.

Di Desa Petekeyan, Kecamatan Tahunan, Jepara terdapat pohon Randu Alas yang berdiri kokoh dan rimbun. Pohon ini menjadi cagar alamnya Desa Petekeyan. Tentu saja ada mitos yang beredar dari mulut ke mulut mengenai keberadaan pohon ini.

Kini semua warga Petekeyan ingin melindungi pohon yang mitosnya menjadi ”rumah” bagi sesepuh mereka yang bernama Mbah Sirah Somasari itu.

Fatkhurraman (55), warga Petekeyan, mengaku sejak dia lahir pohon tersebut sudah sebesar itu, sehingga dia tidak tahu secara pasti usia pohon tersebut.

“Sejak saya lahir bahkan sejak mbah saya kecil, pohon itu sudah ada di sana. Kami tidak ada yang tau pastinya kapan pohon itu mulai tumbuh,” ungkap pengusaha mebel ini.

Menurutnya, pohon yang berdiameter lebih dari 15 meter itu memiliki mitos jika tidak bisa ditebang. Bahkan saat industri mebel di Jepara sedang berkembang pesat, banyak pengusaha yang mengincar pohon yang berada di Pasar Petekeyan tersebut.

“Dulu ada yang ingin menebang pohon itu. Namun pekerja yang mau memotong malah sakit, karena melihat darah yang keluar dari pohon besar itu,” ceritanya.

Bahkan saat mulai dibangun pasar serta toko-toko pada tahun 80an, randu alas ini juga pernah akan ditebang lagi, namun juga muncul keganjilan yang membuat pohon itu gagal ditebang.

“Pas mau dibangun pasar, pohon ini mau ditebang, karena takut kalau roboh atau pakang-pakang-nya (dahan-ranting) jatuh dan merusak kios, atau melukai warga yang sedang beraktivitas di pasar. Namun gagal juga karena mesin pemotongnya meletus,” jelas Fathur saat ditemui di bawah pohon randu alas ini.

Hingga saat ini, tambahnya, tidak ada orang yang berani menebang pohon tersebut. Apalagi banyak muncul cerita-cerita mengerikan bagi orang yang nekat menebang pohon tua tersebut.

“Tidak ada yang berani memotong. Selain mengeluarkan darah, konon ceritanya pohon ini sebagai rumahnya Mbah Sirah Somasari, yang harus kami hormati dan lindungi sebagai sesepuh Desa Petekeyan ini,” ungkapnya.

Pohon randu alas yang rimbun menjadi peneduh pedagang dan pembeli di pasar Desa Petekeyan. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Buaya Putih Penjelmaan Abdi Sunan Ampel

Nasir (35), warga Demangan mengaku juga mendengar banyak cerita dan mitos mengenai pohon itu. Selain cerita pohon yang mengeluarkan darah jika ditebang, ia mengaku melihat hal yang ganjil di bawah itu.

Saat menjelang maghrib, dia mengaku pernah melihat kerumunan warga yang sedang selametan di bawah pohon tersebut. Padahal tak ada satupun orang di sekitar yang melihat aktivitas tersebut.

“Saat itu mau maghrib, saya melihat kerumunan warga ramai di bawah pohon, saya kira memang sedang ada selametan atau apa gitu. Paginya saya tanya teman saya yang tinggal di seberang jalannya, tapi tidak ada acara apa-apa. Bahkan tidak ada yang selametan pada malam itu. Entah itu nyata atau hanya penglihatan saya saja,” kenangnya.

Sementara itu, Mbah Hj Minik (84) sesepuh yang juga istri mantan Petinggi  Desa Petekeyan itu menuturkan, dulunya ada seorang sesepuh yang bernama Mbah Sirah Somasari yang sering tinggal di bawah pohon itu untuk membuat aren.

“Zaman wali songo membangun Masjid Demak, Sunan Ampel mendengar dendangan yang sangat indah yang dibuat oleh Mbah Sirah Somasari saat mencari aren. Suara tersebut terdengar hingga Kerajaan Demak,” ceritanya.

Karena penasaran dengan suara itu, Sunan Ampel mengutus abdinya untuk mencari suara tersebut. ”Hingga akhirnya ketemu mbah Sirah di bawah pohon itu dan membawanya untuk bertemu Sunan Ampel,” jelasnya.

Mbah Sirah disebut mempunyai kesaktian. Namun banyak orang yang mencoba menghasut Sunan Ampel untuk menghukum Mbah Sirah. Hingga akhirnya saat tertidur di depan pintu kamar Sunan Ampel, kepala Mbah Sirah terkena tongkat Sunan Ampel dan meninggal.

“Mbah Sirah meninggal dengan mengeluarkan darah putih yang membuat Sunan Ampel menangis sambil meminta maaf kepada Mbah Sirah, karena dia adalah orang yang jujur dan suci. Sunan Ampel menyuruh abdinya yang disabda menjadi buaya putih untuk mengantar jenazah Somasari hingga ke Desa Petekeyan, namun sampai saat ini jenazah Mbah Somasari tidak sampai di Petekayan namun terdampar di pesisir Desa Semat,” ceritanya.

Belum ada pembuktian atau penelitian secara ilmiah mengenai cerita ini. Namun sebagian besar warga mempercayai mitos ini, sebagai bagian kekhasan budaya desa tersebut.

Editor : Ali Muntoha

Warung di Jepara Ini Minta Ampun Murahnya, Sepuluh Ewu Sak Waregmu

MuriaNewsCom, Jepara- Bagaimana tidak jadi ampiran (tujuan), ketika terpampang baliho besar di pinggir jalan yang bertuliskan Rp 10 ribu sakwaregmu plus free wifi.

Penasaran dengan menu-menunya, akhirnya banyak orang mampir untuk mencicipi masakan “Warung Mbak Ina” yang terletak di Jalan Lingkar Rengging, Pecangaan. Tepatnya di deretan ruko belakang Terminal Pecangaan tersebut.

Ya.. tak sedikit orang yang akhirnya ketagihan setelah merasakan masakan Warung Mbak Ina tersebut. Bahkan warung yang menjajakan berbagai menu masakan ini jadi ampiran sopir-sopir, karyawan dan juga warga yang melintas jalan tersebut.

Fahrudin (35), seorang karyawan di sebuah perusahaan telekomunikasi ini mengaku setiap kali tugas ke luar, dirinya selalu mampir ke warung ini. Selain makanannya yang enak, harga yang murah dan tempat yang bersih menjadi pilihan dia bersama teman-temanya saat jam makan siang.

“Tadinya hanya penasaran dengan tulisan Rp 10 ribu sakwaregmu, tapi setelah mampir ternyata makananya tidak mengecewakan, rasanya enak, seperti masakan rumah, dan harganya sangat bersahabat buat karyawan seperti kami,” ungkap bapak dua anak itu.

Baliho besar di depan warung membuat banyak orang penasaran. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Menurutnya, menu yang paling unggulan di ini yaitu pindang srani dan mangut ikan asap. “Pindang sraninya sangat segar, jooss untuk dimakan di siang-siang yang panas. Apalagi mangut ikan asapnya juga sangat mak nyus,” jelasnya.

Kuswati (40), warga Mlonggo ini juga mengakui menu masakannya bermacam-macam, sehingga banyak pilihan. “Menunya banyak pilihan, kalau saya biasanya suka pecel kadang juga sayur lodehnya enak,” katanya.

Setiap akan pergi ke luar kota, lanjut Kuswati, mampir terlebih dahulu ke warung ini untuk sarapan ataupun makan siang.

“Kalau makan di sini, lumayan bisa hemat, satu keluarga biasanya cuma habis Rp 35 ribu kami semua sudah kenyang,” terang ibu satu anak itu.

Pelanggan tengah menikmati makanan di Warung Mbak Ina Jepara. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Amirotun Nailiyah (24), biasa dipanggil Mbak Ina tersebut mengaku sejak lulus kuliah 2014 lalu, dia mulai merintis warungnya itu bersama dua karyawanya.

“Saya mencoba menyediakan menu masakan rumahan, seperti sayur lodeh, pecel, rames, sop, pindang srani, mangut, pecel lele ataupun ikan goreng,” ungkap alumni Universitas Muria Kudus (UMK) jurusan managemen tersebut.

Untuk pindang srani biasanya ia menggunakan ikan patikoli, karena dinilai paling pas dan enak. Ibu satu anak ini mengaku dengan membuat menu yang serba Rp 10 ribu, dirinya bisa membantu banyak orang.

“Ya kita saling membantu. Saya membantu orang-orang yang sedang lapar dengan banyak menu masakan dengan harga murah, namun tetap menjaga rasa dan kebersihanya. Karena dengan menyediakan tempat yang bersih membuat orang-orang yang sedang menikmati makananya terasa nyaman juga,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Tercatat di MURI, Martabak Super Bang Udin Jepara Ini Bikin Ngiler

MuriaNewsCom, Jepara – Masih bingung cari cemilan super nikmat di malam hari? Apalagi pas musim hujan gini? Tidak usah bingung, Martabak Super Bang Udin jawabanya. Martabak yang pernah masuk rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai martabak telur  terbesar ini selalu jadi pilihan di saat mulut ingin nyemil yang hangat-hangat.

Martabak Super Ada Rasa atau yang lebih dikenal dengan Martabak Super Bang Udin ini adalah martabaknya orang Jepara. Letaknya yang berada di Yos Sudarso dan cabangnya di perempatan Mantingan ini, selalu jadi jujukan untuk memanjakan lidah.

H Muhamad Abidin (62) atau lebih dikenal Bang Udin ini memulai usahanya sejak tahun 1983. Keinginannya untuk bisa sukses di bidang kuliner, laki-laki asal Lebak Siu,;Tegal ini nekat merantau ke Kabupaten Jepara untuk berjualan martabak telur dan juga martabak manis.

”Resep membuat martabaknya memang sudah ada sejak saya kecil, karena keluarga pengusaha martabak telur semua, tapi saya memilih ke Jepara, karena masih jarang orang Lebak Siu yang merantau kesini,” kenang kakek enam cucu itu.

Menurut Abidin, resep yang paling utama untuk martabaknya tersebut adalah menggunakan bahan-bahan pilihan sehingga kualitas rasa tetap terjaga.

”Mulai dari tepung, dagingnya harus daging masih segar, telurnya juga dr bebek angon, dan sayur unclangnya juga benar-benar terjaga kesegaranya. Dengan cara itu rasanya pun tetap tak terlupakan,” ungkapnya.

Kue bandung buatan Bang Udin jadi buruan pencinta kuliner di Jepara. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Dia mengaku dalam semalam dia bisa menghabiskan hingga 500 buah telur untuk dua tempat usahanya itu. Sedangkan untuk martabak manisnya sekitar 200 hingga 300 pack permalam. Untuk martabak telur, harganya pun bervariasi mulai dari Rp 15.000- Rp 55.000 sedangkan untuk martabak manisnya dari Rp 13.000 – Rp 25.000.

”Harganya bervariasi dan cukup terjangkau. Untuk martabak asin yang membedakan telurnya, dan untuk martabak manis yang membedakan harga dari rasanya, mulai dari coklat, kacang, keju, pisang, dan campur-campur juga bisa,”jelasnya.

Wahyu (34), warga Demangan mengaku hampir setiap minggu dirinya dan anak-anaknya tak pernah ketinggalan untuk membeli martabak telur Bang Udin. ”Rasanya selalu ngangenin, jadi setiap habis bayaran atau orang sini bilang kamisan, anak-anak selalu nagih untuk minta martabak,” kata bapak dua anak ini.

Menurut dia, martabak yang biasa dia beli adalah yang harga Rp 25.000. ”Yang harga 25 ribu ini rasanya udah enak, dagingnya juga banyak, dan cukup besar dan tebal, jadi cukup untuk dimakan kami berempat,” ungkapnya.

Sementara itu, Alfiana (19), warga mantingan ini mengaku penggemar martabak manis Bang Udin. Selain rasanya yang legit, martbak manis buatan Bang Udin beda dengan martabak manis lainya.

“Rasanya sangat legit, manisnya pas dan coklatnya itu beda dengan martabak-martabak manis lainya. Coklatnya meleleh dan enak banget pokoknya,” ungkap gadis manis itu.

Editor: Supriyadi

Awas Ketagihan, Ikan Asap Pesajen Jepara Ini Nikmatnya Minta Ampun

MuriaNewsCom, Jepara– Adakah yang tau ikan asap? Ya.. ikan asap adalah ikan laut yang diproses dengan cara pengasapan dengan kayu bakar. Biasanya pengasapan dilakukan hingga dua jam atau matang sampai ke seluruh bagian daging ikan.

Berbeda dengan ikan yang digoreng atau dibakar, hanya dengan asapnya saja ikan-ikan laut yang sudah dibersihkan dan diiris-iris menjadi beberapa bagian ini, tidak merusak vitamin dan protein yang terkandung di dalamnya. Karena itu banyak orang yang ketagihan.

Hal itulah yang membuat sebagian warga kelurahan Pesajen mencoba meraup rupiah lebih banyak. Kelurahan yang posisinya di tengah kota dan dekat dengan Pantai Kartini ini bahkan dikena sebagai pusat pengolahan ikan asap.

Jika anda berwisata ke Pantai Kartini atau jalan-jalan ke Pulau Panjang, sempatkan diri untuk membeli ikan asap ini agar tidak menyesal sudah berkunjung kota Kartini.

Hampir seluruh warga di Pesajen ini merupakan nelayan dan pembuat ikan asap. Sebagai usaha yang sudah turun temurun dari generasi sebelumnya. Kini dengan banyaknya jenis ikan yang diasap semakin banyak orang yang gemar makan ikan. Selain harganya yang murah, ikan ini juga banyak mengandung vitamin dan protein.

Salah seorang pedagang sedang menjajahkan berbagai macam jenis ikan asap di Pesajen, Jepara. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Norma (23), salah seorang penjual ikan asap di Pesajen ini mengaku pengolahan ikan asap itu berasal dari usaha neneknya yang turun ke ibunya hingga ke dirinya. “Saya tinggal meneruskan usaha keluarga saja. Pengasapan ikan ini sudah ada sejak zaman nenek saya”ungkap gadis manis itu.

Menurutnya ikan yang paling banyak menjadi idola pembeli adalah ikan tongkol. Selain harganya yang murah, ikan ini memiliki daging yang tebal dan memiliki rasa yang sangat khas.

“Kalau yang paling banyak dicari ikan tongkol, dan tengiri. Kalau ikan manyung biasanya langsung habis karena sudah dipesan oleh warung-warung makan,” katanya.

Norma menjelaskan biasanya sehari dia bisa membuat ikan asap hingga 50 kg bahkan hingga 80 kg. Harganya pun bervariasi, untuk ikan tongkol perpotong dia jual Rp 2.000 – Rp 3.000. Untuk ikan pari Rp 1.500- Rp 3.000, ikan tengiri Rp 3.000-Rp 3.500 tergantung besar kecilnya.

Sedangkan untuk ikan yang berjenis patikoli, kakap merah atau kakap putih biasanya dibiarkan utuh tanpa diiris.”Kalau ikan yang jenis kakap atau patikoli atau JT biasanya diasap utuh tanpa diiria-iris. Biasanya harganya mulai Rp 10.000- Rp 30.000 tergantung besar kecilnya ikan,” jelasnya.

Sejumlah warga sedang memproses mengasap ikan di Kelurahan Pesajen, Jepara. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Pedangan lain, Uswah (37), mengaku selain warga asli Jepara, kini mulai banyak pembeli dari luar daerah yang datang ke warungnya itu. “Biasanya hanya bakul, atau warga sekitar aja yang membeli kesini, tapi sekarang ini sudah banyak orang-orang dari luar daerah seperti Kudus, Demak, Semarang dan Solo juga pada mampir kesini,” ungkapnya.

Dirinya sangat senang pada akhirnya ikan asap asal Jepara ini mulai dikenal oleh berbagai daerah dan semakin diidolakan banyak orang. “Kami bersyukur kalau ikan asap ini semakin banyak dicari dan digemari oleh banyak orang,” tambahnya.

Dyah (36), pembeli asal Solo ini mengaku dirinya tidak pernah lupa untuk membawa ikan asap ini setiap datang ke Jepara. “Setiap cari barang (meubel) ke Jepara, saya selalu menyempatkan diri membeli ikan asap ini, karena rasanya yang khas dan harganya murah, disimpan lama di kulkas juga awet. Jadi bisa menjadi persediaan makanan di keluarga kami,”jelas ibu dua anak ini.

Editor: Supriyadi

Besok, PLN Jepara Pemadamkan Listrik Selama 7 Jam, Ini Jadwalnya

MuriaNewsCom, Jepara – PT PLN Rayon Jepara, Jumat (9/3/2018) besok, akan melakukan pemadaman listrik bergilir selama tujuh jam. Rencananya, pemadaman akan dilakukan di Desa Krapyak dan sekitarnya mulai pukul 09.00 WIB hingga 16.00 WIB.

Pemberitahuan tersebut tertera dalam surat resmi PLN Rayon Jepara dengan nomor 0048/STH.00.01/R-JPA/2018 yang ditandatangani langsung oleh Manager PT PLN (Persero), RM Dimas Adhi P kepada Kapala Kelurahan/Desa di Jepara, Selasa (6/3/2018).

Berdasarkan surat edaran tersebut, RM Dimas Adhi P menjelaskan, pemadaman listrik disebabkan adanya pemeliharaan jaringan dan potong pohon. Oleh karenanya memerlukan waktu sekitar tujuh jam.

“Pemadaman listrik ini meliputi wilayah Desa Krapyak dan sekitarnya. Wilayah JP4-119 sampai dengan JP4-153. Dari pukul 09.00- 16.00 WIB. Karena ada pemeliharaan jaringan dan pangkas pohon ini, kami mohon maaf atas ketidaknyaman pemadaman listrik tersebut” jelasnya.

Dimas pun meminta pihak pemerintah desa dapat memberitahukan pengumuman tersebut kepada seluruh warga Krapyak dan sekitarnya agar bersiap-siap saat pemadaman terjadi. Termasuk menyiapkan genset untuk keperluan industri ataupun meubel supaya tak terganggu.

“Kami berharap pemerintah desa dapat segera mengumumkan kepada warga semua, sehingga bagi industri2 meubel bisa menyiapkan gensetnya. Dan wargapun tidak terganggau aktivitasnya” terang surat itu.

Editor: Supriyadi

Menengok Pasar Rambutan Jepara, Tempatnya Wisatawan dan Tengkulak Berburu Buah Lokal

MuriaNewsCom, Jepara – Tak hanya buah durian, salah satu buah yang sangat melimpah di Kabupaten Jepara ini adalah rambutan. Bagi kalian yang sedang menikmati liburan di kota sejuta pantai ini, jangan lupa menyempatkan diri untuk mampir di pasar rambutan, tepatnya di area Pasar Baru Ngabul.

Setiap hari, pasar ini selalu ramai lalulalang antara petani rambutan, tengkulak dari berbagai kota hingga wisatawan yang ingin membeli oleh-oleh buah yang keluarnya berbarengan dengan buah durian ini.

Di sini, kita tidak hanya akan menemukan satu jenis saja buah rambutan seperti di kota-kota lainya. Beberapa jenis rambutan di antaranya yaitu rambutan lokal, rambutan tempel, rambutan binjai, rambutan rafia dan juga rambutan kelengkeng.

Untuk rambutan lokal Jepara, rasanya khas. Ada asam manis namun kurang ngelotok. Berbeda dengan rambutan tempel. Ia memiliki rasa asam manis, dagingnya tebal, dan juga ngelotok.

Sementara untuk rambutan binjai memiliki kulit lebih tebal, daging buahnya juga tebal, ngelotok dan rasanya manis.

Sedangkan rambutan yang paling memiliki rasa yang sangat manis adalah rambutan rafia dan rambutan kelengkeng. Banyak orang mengatakan dua jenis rambutan ini sama. Padahal bagi petani rambutan di Jepara, dua jenis rambutan ini berbeda.

Meski keduanya sama-sama sangat manis, namun untuk membedakanya rambutan jenis rafia ini kulitnya memiliki rambut sedikit panjang dan bentuknya agak oval. Sedangkan rambutan jenis kelengkeng ini memiliki bentuk yang bulat, dan kulitnya tipis, rambutnya pendek dan bagian tengahnya memiliki belahan.

Sejumlah pedagang rambutan menjajahkan barang dagangannya di Pasar Ngabul Jepara. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Kamsani (53), salah seorang petani rambutan mengaku, tahun ini musin rambutan di Jepara cukup panjang. Ia memiliki sekitar 20 pohon rambutan, dan mulai dipanen dari bulan November 2017 hingga Maret 2018 ini masih ada buah rambutan yang dipanen.

“Kali ini musimnya lumayan panjang, buahnya juga melimpah, jadi dalam satu pohon kami bisa memanennya hingga beberapa kali” ungkap laki-laki asal Ngabul ini.

Menurut dia, setiap selesai memetik rambutan, dia membawanya ke Pasar Ngabul yang baru untuk dijual kepada konsumen langsung ataupun tengkulak yang datang dari luar kota.

“Kalau tidak hujan, biasanya harganya agak murah, tapi kalo pagi hujan, harga rambutanya bisa naik,” katanya.

Kamsani mengatakan jika pagi turun hujan, hanya sedikit petani yang memetik dan menjualnya ke Pasar Ngabul, sehingga harganya bisa naik. “Karena sedikit yang petik, jadinya harganya bisa sampai Rp 12 ribu pergendel (sekitar 5kg). Tapi jika panas, semua petani memetik dan membawanya ke Ngabul jadinya harganya murah Rp 8- Rp 10 ribu pergendel” jelasnya.

Selain itu, H Imron, tengkulak yang memiliki kios di Pasar Ngabul ini mengaku dirinya mengumpulkan rambutan berjenis binjai dan kelengkeng untuk dikirim ke Jakarta dan Surabaya.

“Para petani langsung setor ke sini. Biasanya permintaan dari Jakarta itu yang jenis binjai dan kelengkeng. Kalau ke Surabaya rambutan tempel dan kelengkeng. Setelah kumpul banyak saya titipkan bus, disana sudah ada yang ambil,” katanya.

Sedangkan Darwati (40), tengkulak asal Wonosobo ini mengaku rambutan asal Jepara ini lebih mudah dijual di daerahnya. Pasalnya buahnya rata-rata manis dan daging buahnya tebal. “Selain itu ngelotok, jadi lebih mudah jualnya dari pada rambutan dari daerah lain” jelasnya.

Setiap dua hari sekali, Darwati dan suaminya datang ke Jepara untuk kulakan rambutan, “Minimal ya satu bak L300 ini harus penuh, sampainya di Wonosobo sudah ditunggu sama pedagang-pedagang buah lainya” kata ibu dua anak ini.

Tak hanya tengkulak, ani (28) wisatawan asal Demak beserta rombonganya ini juga tak mau ketinggalan untuk membeli rambutan sebagai oleh-oleh untuk keluarganya itu.

“Saya tidak menyangka teŕnyata ada pasar khusus rambutan di Jepara. Saat melintas saya pikir hanya pasar biasa, ternyata isinya pedagang rambutan semua. Harganya sangat murah dibandingkan di tempat saya, juga banyak pilihan jadinya saya sangat senang,” ungkapnya.

Editor: Supriyadi