Jangan Harap Kebagian Jika Tak Bikin Janji, Lontong Opor Bu Pangat Cepu Ini Larisnya Kebangetan

MuriaNewsCom, Blora – Segala cara dilakukan banyak orang untuk mendapatkan sesuatu. Tidak terkecuali untuk mengisi perut dengan makanan. Di Blora, tepatnya di daerah Kapuan, terdapat lontong opor Bu Pangat.

Untuk mencapai warung ini, kita harus melewati hutan jati yang jaraknya dari Kecamatan Cepu lumayan jauh. Namun, perjuangan yang panjang itu berakhir dengan segarnya kuah lontong opor Bu Pangat menghangatkan tenggorokan.

Warung ini berada di daerah Ngloram, Desa Kapuan, Kecamatan Cepu. Di warung ini beraneka keunikan bisa kita lihat. Seperti rasa kecele ketika sudah jauh-jauh sampai ke Kapuan tapi lontong opor sudah ludes.

Seperti dialami Giyanto, warga Semarang yang hendak mencicipi lontong opor ini. Bersama keluarganya harus gigit jari karena lontong opor Bu Pangat ini sudah habis.

Gonduk aslinya. Sudah sampai sini malah habis. Saya dari Surabaya sengaja pulang lewat Bojonegoro terus mampir ke sini untuk makan karena rekomendasi teman, ternyata sudah habis, ya sudah makan di Blora saja,” katanya, kecewa.

Kekecewaan Giyanto akhirnya teredam dengan penjelasan karyawan Bu Pangat. “Kalau ke sini pesan dulu, Pak. Ini kartu namanya,” katanya.

Menurut para pelanggan setia Bu Pangat, mereka harus pesan dulu sebelum berangkat ke sana jika tidak ingin gigit jari seperti yang dialami Giyanto. “Pernah kami lupa pesan dulu, sampai sini sudah habis. Padahal jauh-jauh dari Blora,” ujar Lista, pengunjung lain.

Bu Pangat meracik lontong opor dengan bumbu rahasia. Namun, kelezatan dan cita rasa masakannya juga tercipta pada kayu jati sebagai alat pengganti kompor untuk memasaknya.

“Saya memasaknya dengan kayu jati yang kering dan kayu jati tidak menimbulkan asap sama sekali. Rasa makanan jadi lebih alami tidak bercampur asap,” cerita Bu Pangat saat dikunjungi Sudirman Said, cagub Jateng beberapa waktu lalu.

Calon Gubernur Jateng, Sudirman Said menikmati opor lontong Bu Pangat yang sudah dikenal kelezatannya. (MuriaNewsCom/Hana Widya)

Habiskan 50 Ekor Ayam Setiap Hari

Setiap hari Bu Pangat menyediakan 50 ekor ayam dere’ atau ayam muda yang besar dan dagingnya tidak alot. Proses pemotongan ayam dilakukan setelah subuh dan memulai masak opor pukul 08.00. “Kalau ada pesanan bisa potong ayam sampai 70 ekor,” tambah Bu Pangat.

Untuk lontong, Bu Pangat membuat sendiri. Proses memasaknya butuh waktu delapan jam dimulai dari pukul 00.00 dinihari. Berbeda dengan lontong opor lainnya, Bu Pangat menyajikan tekstur kuah lontong yang gurih dan daging ayam yang lunak dan sedikit pedas menyatu dengan kuah lontong opor ini.

Di rumah makan yang bernuansa jati dengan dinding berwarna serba hijau ini, Bu Pangat melayani para pembeli dengan cekatan. Warung ini buka sejak pukul 08.00. Sebelum pukul 12.30 sudah dipastikan lontong opor ini habis.

Sementara, pelanggannya berjubel setiap hari. Dari warga sekitar sampai masyarakat luar Blora sudah merasakan lontong opor ayam bikinan bu Pangat ini. Bahkan tokoh-tokoh ternama juga pernah mencicipinya. Terutama Sudirman Said beberapa waktu lalu.

“Ini Lontong opor yang luar biasa,pedes tapi bikin ketagihan,” kata Sudirman Said saat dimintai komentarnya usai mencicipi segarnya kuah lontong opor tersebut.

Cukup dengan Rp 10.000,- kita bisa dapat seporsi lontong opor. Untuk minumnya, kita bisa minum bir tekek. Bukan bir dalam arti sebenarnya. Orang Blora menyebut bir tekek yaitu minum air putih dari kendi tanah liat yakni menuangkan air putih dengan  kendi. Bagian leher kendi dipegang dan kita minum air dari ujung kendinya, seperti ditekek bukan?

Editor: Supriyadi

Mengenal Si Denok, Jati Keramat di Blora Berusia 300 Tahun 

MuriaNewsCom, Blora – Denok sejatinya adalah nama panggilan untuk anak perempuan. Namun, di Blora nama ini dipergunakan untuk sebutan pohon jati tertua.  Pohon jati ini dapat kita temui di RPH Temetes BKPH Temanjang, Kecamatan Banjarejo. Di area hutan milik Perhutani ini, Denok berdiri sudah sekitar 300 tahun.

Masyarakat setempat mempercayai keberadaan Denok ini sebagai tempat yang keramat. Karena itu, Denok kini menyandang status situs budaya dan tempat ritual bagi masyarakat. Heri, warga Blora mengatakan banyak orang ngalap berkah dengan melakukan ritual di pohon denok itu.

Jati Denok  sendiri memiliki diameter berukuran tiga meter dan bentuknya menyerupai fosil. Konon, pohon ini dinamakan Denok karena pangkal pohon terdapat blendong atau gembol yang oleh masyarakat dinamakan denok.

Heri menambahkan, selain karena ada blendong tadi juga dikaitkan dengan cerita legenda di masa lalu. “Konon di masa itu Jati Denok merupakan tempat pemandian Putri Jonggrang Prayungan. Tempat itu diinjak seorang pangeran dan bekas injakan itu menggelembung. Jadi itu asal-usul Jati Denok jika dikaitkan dengan ceritera legenda,” ujar Heri yang mendampingi MuriaNewsCom selama di Blora.

Untuk mencapai lokasi memang harus membutuhkan persiapan khusus karena jalur menuju RPH Termetes BKPH Temanjang ini sangat ekstrem. Meski dinilai ekstrem, tidak menciutkan nyali para wisatawan untuk datang ke lokasi itu. Ratman misalnya. Warga Purwodadi  datang ke lokasi pohon jati denok ini karena disertai rasa penasaran.

“Penasaran, Mbak. Jati kok namanya Denok. Setelah tahu asal usulnya ternyata memang bagus dan bersih,” katanya.

Ratman beserta wisatawan lainnya baik dari dalam maupun luar Blora pun langsung mengabadikan diri lewat swafoto dengan background Jati Denok ini. “Bahkan, ada yang datang ke sini dengan segala harapan. Mereka percaya harapan itu akan terkabul,” pungkas Heri.

Editor: Supriyadi

Komunitas Blokir, Wadahnya Para Pencinta RX King di Blora

MuriaNewsCom, Blora – Kata blokir dalam bahasa pemrograman komputer berarti menutup jaringan yang berupa sampah. Namun di Blora, kata Blokir ini digunakan sebagai nama sebuah komunitas motor.

Sukardi, ketua komunitas ini mengatakan, Blokir merupakan sebuah singkatan dari Blora King Riders yang merupakan perkumpulan pepara pengendara motor Yamaha RX King.

Komunitas ini kali pertama ada di Blora pada tahun 2010 dan secara resmi di Yamaha RX King Indonesia (YRKI) dengan nomor registrasi anggota 013 pada tahun 2011.

”Sebelum namanya menjadi Blokir komunitas ini bernama Blora King Mania (BKM) dan baru berganti nama pada 2016 menjadi Blokir ini,” kata Sukardi kepada MuriaNewsCom.

Sukardi mengatakan komunitas ini didirikan dengan dasar sebagai ajang silaturahmi dan persaudaraan antarsesama pecinta motor RX King di Kabupaten Blora. Meski RX King ini merupakan motor legendaris, bukan berarti jumlah anggota komunitas ini sedikit.

”Jumlahnya saat ini sesuai dengan data kami mencapai 66 orang,” papar Sukardi.

Dikatakan Sukardi, hampir semua anggota komunitas ini tertarik menggunakan motor yang terkenal dengan suara khas knalpotnya ini. ”Tarikannya enteng, enak buat jalan, dan responsif,” tambahnya.

Para anggota Blora King Riders (Blokir) saat melakukan bakti sosial di masjid, belum lama ini. (Blokir)

Komunitas ini biuasa melakukan kopi darat di dua tempat yang ada di Kabupaten Blora. Satu tempat dijadikan pusat kopdar yakni depan toko Lancar aluminium (ruko sebelah SMA Katolik Blora).

”Ini untuk kordinator wilayah bagian timur. Sedangkan untuk wilayah bagian barat, kami melakukan kopi darat di warnet pos yang ada di desa Gagaan kecamatan Kunduran,” tambah Sukardi.

Untuk intensitas waktu kopdar, Sukardi tidak bisa memastikan kapan para anggotanya bisa kopdar. Beberapa di antaranya karena banyak anggota komunitas ini berprinsip mengutamakan pekerjaan dan keluarga tanpa meninggalkan hobi mereka.

”Saya sendiri sebagai ketua mengatakan pada prinsipnya Blokir ini mengutamakan keluarga dan pekerjaan. Selain itu juga, kami merupakan komunitas yang tertib jadi kopdar saat ada hal-hal yang paling penting saja. Ini juga membantu mengurangi hal-hal yang dapat terjadi dan takut mengganggu masyarakat setempat,” tegasnya.

Komunitas ini sudah berjalan hampir delapan tahun dan diterima baik oleh masyarakat. Berbagai kegiatan positif seperti peduli antaranggota, kegiatan bakti sosial, atau touring bersama telah dilakukan komunitas ini.

”Kita juga ikut berpartisipasi dalam program yang dicanangkan Polri yakni safety riding. Semua anggota diwajibkan safety baik kendaraan maupun atribut yang dipakai selama berkendara, misalnya sepatu, jaket, dan sarung tangan. Untuk semua anggota Blokir, Insyaallah semua kendaraan tertib karena sudah tertuang pada AD?ART Klub Blokir ini dan setiap anggota sudah menulis surat pernyataan bermeterai. Kalau ada anggota yang tidak tertib, kami blokir dari komunitas ini,” pungkas Sukardi.

Editor: Supriyadi

Menengok Pataba, Perpustakaan Pribadi Toer Bersaudara di Blora yang Kaya Akan Sejarah

MuriaNewsCom, Blora – Siapa yang tidak mengenal sosok Pramoedya Ananta Toer. Pria yang akrab disapa Pram itu merupakan sastrawan angkatan 66 yang pernah menjadi tahanan politik di rezim Orba.

Pram sendiri lahir di sebuah kota kecil, yakni Blora. Ia lahir dari ayah yang bernama Mastoer Imam Badjoeri dan ibu bernama Saidah. Tahun 2006 lalu, Pram meninggal dunia. Meski telah meninggal, karya-karyanya tetap dikenang oleh masyarakat pecinta sastra.

Tak hanya itu, sang adik, Soesilo Toer mendirikan perpustakaan kecil bernama PATABA. PATABA didirikan di rumah masa kecil mereka di Jalan Sumbawa, kelurahan Jetis, Kota Blora.

Perpustakaan pribadi ini berisi banyak buku karya Pramoedya Ananta Toer serta barang-barang milik Pram di masa muda. Selain buku karya Pram, terdapat juga buku-buku yang ditulis Soesilo Toer. Meski tak setenar sang kakak, Soesilo Toer juga dikenal sebagai penulis.

Diceritakan Soesilo Toer, perpustakaan ini merupakan perpustakan nirlaba yang berasal donasi tiga bersaudara, Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer dan juga Soesilo Toer. PATABA sendiri merupakan akronim dari Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa.

”Selamat datang di perpustakaan pribadi PATABA ini. Di sini Anda bisa membaca dan berdiskusi,” sapa Soesilo Toer.

Perpustakaan ini memang tidak sebesar perpustakaan umum atau perpustakaan pribadi lainnya. Namun, koleksi buku yang ada di perpustakaan ini mencapai 5.000 buah. Beberapa buku di antaranya berbahasa Rusia.

Soesilo Toer di depan rumahnya yang lokasinya satu kompleks dengan perpustakaan. (MuriaNewsCom/Hana Widya)

Diceritakan Soesilo Toer, kefasihannya berbahasa Rusia karena ia lulusan Plekhanov Russian University of Economics, Rusia. Begitu pula dua kakaknya yang juga mempelajari aneka ragam bahasa.

Dengan adanya perpustakaan kecil PATABA ini, Soesilo mengaku senang karena banyak yang berkunjung ke tempatnya. “Rata-rata mahasiswa yang mencari buku referensi tentang Pramoedya Ananta Toer,” katanya.

Sebuah meja kecil dan bangku berbahan kayu, di situlah Soesilo Toer menghabiskan waktunya untuk menulis. Sesekali, ia menerima tamu yang akan membaca referensi buku. Sebuah buku tamu disiapkan untuk mengetahui siapa saja yang datang ke perpustakaan ini.

”Jika Anda menulis buku tamu ini, Anda harus membayar satu juta senyuman,” katanya yang diiringi tawa tamunya.

Untuk mempertahankan eksistensi perpustakaan ini, Soesilo Toer mengandalkan dari penjualan buku. Baik dari karya Pram maupun karyanya sendiri. Jika para tamu yang berkunjung ke perpustakaan ini memang punya selera baca yang tinggi, tidak akan menyesal akan merogoh kocek mulai dari Rp 35.000,- sampai ratusan ribu. Jati, pengunjung dari Solo sangat mengagumi karya Pram ini.

”Kebetulan ada urusan bisnis. Dan kebetulan lagi urusan bisnisnya di dekat sini. Karena dapat info ada perpustakaan Pramoedya Ananta Toer ini, saya mampir dan ternyata tidak mengecewakan,” kata Jati.

Soesilo Toer sendiri meskipun berpendidikan doktoral ekonomi, ia tidak bekerja layaknya profesor di berbagai universitas. Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, Toer tidak malu memulung barang bekas. Meski begitu, ia bangga dengan pekerjaannya menjadi pemulung yang menurutnya dapat menghasilkan sesuatu yang bernilai.

Editor: Supriyadi