Perlu Bahasa Zaman Now Untuk Ajarkan Makna Macapat

MuriaNewsCom, Jepara – Tahu apa itu tembang Macapat (baca: mocopat)? Sebagian masyarakat memahaminya sebagai lagu tradisional berbahasa Jawa. Namun makna yang terkandung di dalamnya jauh lebih luas, ketimbang hanya diartikan sebagai sebuah lagu.

Nah, hal inilah yang coba dikupas dalam pelatihan Dasar dan Bedah Tembang Macapat. Dalono, seorang praktisi bahasa Jawa mengatakan, sebagai sebuah tembang atau lagu macapat memiliki cengkok. Dari sebelas jenis macapat, memiliki nada dan penekanan nada tersendiri.

“Tiap jenis tembang memiliki cengkok berbeda. Di samping itu syair tembang tersebut penuh dengan nasihat luhur,” ujarnya, dihadapan 60 orang peserta yang terdiri dari Guru Bahasa Jawa kegiatan yang diselenggarakan di Padepokan Cakra Latifah Banjaragung, Kecamatan Bangsri, kemarin sore.

Dalono menambahkan, sebelas jenis tembang macapat melambangkan siklus kehidupan manusia. Dimulai dari Maskumambang atau fase manusia dalam kandungan sang ibu, Mijil melambangkan lahirnya manusia ke dunia, Sinom yang berarti masa muda, Kinanthi yang berasal dari kata kanthi atau nuntun yang berarti menuntun manusia ke alam dunia.

Dilanjutkan dengan tembang Asmaradana yang berasal dari dua kata yakni asmara yang berarti cinta dan dahana yang berarti api. Pada fase ini manusia tengah mabuk asmara atau mencari belahan hidupnya. Kemudian Gambuh yang berarti dua insan manusia (laki-laki dan perempuan) bersepakat untuk membina rumah tangga.

Selanjutnya, ada Dhandhanggula yang bila diartikan periuk gula. Dalam fase hidup tersebut manusia tengah mengecap manisnya hidup. Durma yang berasal dari kata darma atau memberi, merupakan fase selanjutnya dalam hidup manusia.Pangkur merupakan tembang ke sembilan, yang melambangkan hidup manusia setelah berkeluarga dan memasuki usia tua harus mungkur atau menyingkir dari keramaian dunia dan beribadah.

Kemudian ada Megatruh yang berasal dari dua katamegat atau pegat yang berarti mengakhiri fase kehidupan dunia dan ruh atau roh. Tembang ini melambangkan roh manusia yang telah berpisah dengan raga. Sementara yang terakhir adalah Pocung yang melambangkan bila seseorang telah meninggal akan dibungukus dengan kain kafan.

Sementara itu, mantan bupati Jepara Hendro Martojo mengungkapkan mengajarkan macapat perlu daya kreatif dari para guru. Lantaran lambang-lambang yang terkandung memerlukan upaya komunikasi kekinian.

“Para guru harus mendapatkan bekal agar mampu mentransfer nilai-nilai luhur tersebut dalam bahasa kekinian yang mudah dipahami oleh para siswa,” tuturnya.

Selain tokoh-tokoh tersebut, hadir pula Romo Suyana Wignya Wibawa yang membedah arti tiga tembang, yakni Mijil, Dhandanggula dan Pocung. Pada akhir acara ditampilkan pula pertunjukan wayang singkat atau pakeliran padat, oleh ki Sholeh Ronggo Warsito, yang mengambil cerita Kresna Malangan Dewa.

Acara ini sendiri terselenggara atas kerjasama Padepokan Cakra Latifah, Yayasan Kartini Indonesia dan Yayasan Damai Bagi Negeri.

Editor: Supriyadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *