Ternyata Bangku Zaman Pak Harto SD Masih Ada Hingga Saat Ini, Begini Wujudnya

MuriaNewsCom, Wonogiri – Nama Presiden RI kedua, Soeharto akhir-akhir ini kembali dibincangkan, terkait kasus Yayasan Supersemar. Yayasan Supersemar di mana Soeharto sebagai ketua yayasan itu, baru mengembalikan Rp 241 miliar dari Rp 4,4 triliun ke negara.

Kasus ini disebut-sebut menutup pintu Soeharto untuk mendapat gelar sebagai pahlawan. Terlepas dari itu, kisah Soeharto selama menjabat dan masa kecilnya tetap menjadi cerita yang menarik di masyarakat.

Salah satunya kisah Soeharto saat menempuh pendidikan di sekolah rakyat (SR). Semasa kecil, Pak Harto menempuh pendidikan di SR Wuryantoro, yang sekarang berubah menjadi SD Wuryantoro 1, Wonogiri. Bekas peninggalan Soeharto di sekolah ini pun hingga saat ini masih ada.

Peningglan tersebut yakni kursi dan meja yang dulu menjadi bangku yang digunakan Pak Harto selama sekolah di SR. Bangku berbahan kayu dengan bobot yang cukup berat itu hingga kini masih tersimpan dan terawat dengan baik.

Bangku sekolah Pak Harto ini saat ini disimpan di Museum Wayang Pak Bei Tani, yang berada di Kecamatan Wuryantoro, Wonogiri. Museum yang diresmikan pada 1 September 2004 oleh Presiden Indonesia Ke-5, Megawati Soekarnoputri, tersebut memiliki koleksi sekitar 400 wayang dari berbagai jenis.

Seluruh koleksi wayang tersebut terdiri atas Wayang Kulit Purwa, Wayang Beber, Wayang Golek, Wayang Bali, Wayang Klithik, Wayang Suket, Wayang Kumpeni, Wayang Topeng, dan Wayang Wahyu. Koleksi tertua milik Museum Wayang Indonesia adalah wayang Semar buatan 1716.

Bangku sekolah Pak Harto yang tersimpan di Museum Tani Pak Bei Wonogiri. (joglosemarnews.com)

Selain berbagai jenis wayang, museum ini memang menyimpan bangku yang pernah digunakan Pak Harto. Bangku tersebut terbuat dari kayu jati dengan goresan-goresan dari benda tajam di atasnya. Museum tersebut kental dengan nuansa masa kecil Soeharto.

Konstruksinya masih bergaya lawas. Antara meja dengan tempat duduknya menjadi satu dan bisa dipakai sekitar 2 sampai 3 orang anak. Bagian atas meja berbentuk miring sehingga memudahkan murid untuk menulis atau membaca di atasnya.

Sementara di sisi depan atas meja terdapat cekungan memanjang dan satu lubang tepat di tengah sebagai wadah tinta. Tempat duduk dilengkapi sandaran panjang.

Dilansir dari joglosemarnews.com, Kamis (22/3/2018), penjaga Museum Wayang Pak Bei Tani, Rakino mengatakan, museum ini dibangun di keduaman dari keluarga Ngabehi Prawirowihardjo. Ia adalah seorang mantri tani, oleh karenanya ia kerap disapa Pak Bei Tani. Istri Pak Bei Tani merupakan bibi Pak Harto.

Pak Harto ikut keluarga Prawirowihardjo sejak usia 6 atau 7 tahun. Masa kecil Pak Harto dihabiskan di Wuryantoro.

Setelah Pak Harto menjadi presiden, pada sekitar tahun 1969 beliau membeli kembali rumah ini berikut pekarangan di sekitarnya. Selanjutnya dirombak dan diserahkan ke Pemerintah Kabupaten Wonogiri sebagai bangunan cagar budaya.

Selang berjalannya waktu, Bupati Wonogiri kala itu, Begug Poernomosidi berinisiatif membangunnya menjadi museum wayang setelah mendapatkan izin dari keluarga Pak Harto.

Editor : Ali Muntoha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *