6 Daerah di Jateng Darurat Kekeringan, Pemprov Siapkan 3 Ribu Tangki Air

Warga di Kabupaten Grobogan ngangsu air dari tengah hutan, karena sudah mulai dilanda kekeringan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Semarang – Setidaknya enam daerah di Jawa Tengah telah mengeluarkan status darurat kekeringan, dan belasan lainnya krisis air bersih. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah menyiapkan 3.000 tangki air jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Keenam daerah di Jateng yang menyatakan siaga darurat kekeringan itu, antara lain Boyolali, Temanggung, Kebumen, Banjarnegara, dan Cilacap.

Kepala Pelaksana Harian (Kalahar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jateng, Sarwa Pramana mengatakan, enam kepala daerah itu telah mengeluarkan SK tentang siaga darurat kekeringan. SK tersebut menurutnya juga telah diperkuat dengan SK Gubernur Jateng.

Sarwa mengatakan enam pemerintah kabupaten/kota tersebut telah mengajukan bantuan ke Pemprov Jateng.

“Provinsi masih memiliki 3000 tanki air dan kita juga akan meminta bantuan kepada BNPB. Biasanya ada sih tiap tahun rata-rata Rp 800 miliar hingga Rp 900 miliar,” katanya.

Saat ini menurut dia, ada 12 daerah yang sudah dipasok air bersih. Terdiri dari 22 kecematan dengan 46 desa/kelurahan dengan total 158 tanki air yang sudah dipasok.

Bahkan menurut dia, daerah yang sebelumnya tak pernah dipasok air, tahun ini juga meminta bantuan, yakni Banjarnegara. Dalam melakukan penyaluran air 3000 tanki milik pemprov, terdapat mekanisme yang harus dilalui yakni melalui Pemkab, dan diteruskan ke pihaknya.

“Kita bekerjasama dengan PDAM, dan menggunakan mekanisme harga korporate. Kalau ada permintaan saya langsung transfer dana ke PDAM,” terangnya.

Meski belum ada kejadian gawat darurat bencana, namun sudah ada peristiwa kebakaran yang terjadi di Kabupaten Wonogiri. Di Wonogiri terjadi kebakaran lahan dengan sedkit kebakaran di Gunung Gandul. Kebakaran tersebut diakui Sarwa sudah diatasi secara manual. 

“Yang menjadi sulit ketika kita menangananinya di daerah kebakaran hutan dengan minim air di dalamnya. Kecuali ada aliran sungai atau waduk yang dekat dengan lokasi kebakaran. Gak mungkinlah pakai pesawat,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha