Anggota DPR Bongkar Penyebab Garam Langka, Pelakunya Diduga Kartel

Anggota DPR RI Firman Soebagyo menjelaskan penyebab garam langka, seusai mengisi sosialisasi empat pilar MPR RI di Karaban, Gabus, Pati, Sabtu (12/8/2017) malam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Anggota DPR RI Firman Soebagyo membongkar penyebab garam langka yang sempat membuat masyarakat resah. Pelakunya diduga adalah kartel di kawasan Jawa Timur yang melakukan aksi borong garam.

“Kemarin kita sinyalir adanya tengkulak-tengkulak di Jawa Timur yang melakukan aksi borong terhadap garam produksi nasional. Garam itu tidak langsung dijual, tapi distok,” ungkap Firman, seusai mengisi sosialisasi empat pilar MPR RI di Desa Karaban, Gabus, Pati, Sabtu (12/8/2017) malam.

Hanya saja, sumber yang ia dapatkan tidak berani membuka siapa pelaku yang berperan menjadi kartel untuk memonopoli distribusi garam nasional. Karena itu, Firman meminta kepada Satgas Pangan untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut.

Pasalnya, apa yang dilakukan kartel hingga membuat garam langka, masuk dalam kategori pelanggaran tindak pidana ekonomi yang harus ditindak tegas. “Saya sudah meminta Satgas Pangan untuk menelusuri, saya yakin pelakunya ketemu,” tuturnya.

Firman menjelaskan, pola kartelisasi yang dilakukan tengkulak dengan cara memborong garam produksi nasional untuk ditimbun dan sengaja membuat garam langka. Dengan demikian, tengkulak bisa mengambil keuntungan saat harga melonjak tinggi.

Peran kartel juga ikut menentukan harga di pasaran, karena suplai dan kompetisi sudah dibatasi melalui aksi borong. Firman berharap, pemerintah bisa membuat regulasi untuk mengatur strategi pergaraman nasional agar petani dan masyarakat tidak dirugikan.

“Saya bersama Satgas Pangan baru saja dari Jepang untuk mempelajari bagaimana mengatasi perilaku para kartel. Di sana, undang-undang sudah rapi sehingga perusahaan nakal bisa ditindak tegas. Di Jepang, impor dikendalikan melalui pasar grosir sehingga terkontrol dengan baik,” imbuhnya.

Di Indonesia, produksi garam terbesar adalah Nusa Tenggara Timur, disusul Madura dan Pati. Tingkat kebutuhan garam nasional juga terus meningkat dan garam menjadi persoalan yang serius, sehingga pihaknya akan terus berupaya memperjuangkan nasib petani dan rakyat.

Editor : Akrom Hazami