Gubernur Dapat Penjelasan Cara Pembuatan Garam di Jono Grobogan

Kades Jono Eka Winarna (baju putih) menerangkan proses pembuatan garam pada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bersama Bupati Grobogan Sri Sumarni saat mengunjungi desanya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Saat berkeliling, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di Grobogan sempat mendapat penjelasan singkat proses pembuatan garam dari Kades Jono Eka Winarna, Rabu (2/8/2017).

Dalam proses pembuatan garam itu ada beberapa tahapan. Sebelum memulai pembuatan garam, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan lebih dulu.

Pertama, mengisi bak penampungan air terlebih dahulu sampai penuh. Bak penampungan ini letaknya di bawah gubuk yang ada di sentra pembuatan garam.

Bak penampungan ini dibuat dengan cara menggali tanah di bawah gubuk tersebut. Ukurannya sekitar 2 x 3 meter dengan kedalaman sekitar 2,5 meter.  

Bak ini diisi air dari sumber utama yang ada di sebelah timur sentra pembuatan garam. Dari sumber utama, air dialirkan lewat pipa ke bak penampungan. Dengan sudah adanya pipa ini, para petanigaram bisa mengisi bak penampungan tiap saat.

Setelah bak penampungan terisi, persiapan lain yang dilakukan adalah membuat sarana pembuatan garam. Kebutuhan utama adalah membuat klakah (bambu yang dibelah) sebagai media pembuatan garam. Klakah ini rata-rata panjangnya 2 meter.

Proses pembuatan garam diawali dengan menata klakah diatas bak penampungan. Klakah ini disusun berjajar dan bertumpuk tetapi tidak sampai menutup seluruh bak. Masih terlihat ada sedikit celah yang digunakan untuk mengambil air dengan gayung.

Setelah tertata rapi, klakah pada tumpukan paling atas, satu persatu diisi air dari bak penampungan hingga penuh. Selanjutnya, tumpukan klakah paling atas dipindahkan ke lahan penjemuran di depan atau di belakang gubuk.

Untuk memindahkan klakah yang sudah terisi air ke lahan penjemuran harus dilakukan dua orang. Masing-masing mengangkat ujung klakah dan membawanya dengan hati-hati ke lahan penjemuran. “Untuk mindah klakah ke lokasi jemur sulit dilakukan satu orang saja. Soalnya, klakah harus dijaga jangan sampai airnya tumpah,” jelas Eka.

Proses pengisian air dan pemindahan ke lahan penjemuran ini terus diulang sampai tumpukan klakah habis. Setiap produksi, rata-rata ada 300-400 klakah yang disiapkan.

Pengisian air ke dalam klakah hingga memindahkan ke lahan penjemuran sepanjang 20 meter ini memerlukan waktu 3-4 jam. Lamanya waktu ini tergantung berapa banyaknya klakah yang akan diisi. Proses pengisian klakah ini biasanya dilakukan pagi-pagi. Tujuannya, supaya klakah yang sudah diisi air bisa dapat sinar matahari secepat mungkin.

Setelah seharian terkena panas matahari, klakah tersebut kemudian dipindahkan lagi ke dalam gubuk satu persatu dan ditata seperti semula. Saat memindahkan ini, klakah juga dicek kondisinya. Jika ada ruas klakah yang airnya berkurang langsung diisi lagi sampai penuh.

Keesokan harinya, klakah ini dipindahkan lagi ke lokasi penjemuran dan sore hari kembali dimasukkan ke tempat semula. Proses ini diulang-ulang hingga beberapa hari. Saat musim kemarau, proses pembuatan garam ini butuh waktu sekitar lima hari. Tetapi saat musim hujan, prosesnya jadi lebih lama, bisa makan waktu 10-15 hari.

“Cepat atau lamanya pembuatan garam tergantung sinar matahari. Kalau cuaca panas bisa cepat dan sebaliknya kalau sering mendung atau hujan maka pembuatan garam lebih lama,” katanya.

Masa panen garam dilakukan setelah kondisi klakah terlihat penuh butiran berwarna putih. Garam yang sudah terlihat pada klakah ini kemudian dikeruk berikut air yang tersisa dan dimasukkan dalam ember.

Garam yang sudah dipanen kemudian dimasukkan dalam karung yang sudah disiapkan sebelumnya. Sedangkan sisa air dalam klakah yang tidak ikut mengkristal jadi garam, tidak dibuang tetapi juga ditaruh dalam jeriken maupun gentong plastik atau tanah liat.

Oleh petani garam dan warga setempat, sisa air yang tidak jadi garam ini dinamakan bleng. “Jadi hasil panen di sini ada dua macam. Yakni, garam dan bleng yang biasa dipakai untuk bahan membuat kerupuk,” jelas Eka.

Dari tiap lahan, para petani bisa menghasilkan garam sekitar 10 kg dan bleng sekitar dua jeriken bleng (40 liter). Harga jual garam saat ini Rp 10.000 per kilogram. Sedangkan cairan bleng laku Rp 17 ribu per jeriken kapasitas 20 liter.

Garam dan bleng yang dihasilkan di situ biasanya dibeli warga setempat dan warga desa sekitar. Jika masih ada sisa, biasanya disetorkan pada pengepul yang jadi langganan petani garam. “Wah, proses pembuatannya ternyata butuh waktu lama. Tetapi, sentra garam di sini memang sangat menarik dan unik,” kata Ganjar, sebelum meninggalkan lokasi.

Editor : Akrom Hazami