Rumah di Eks Lokalisasi Dorokandang Bakal Dijadikan Homestay

Rumah di Desa Dorokandang, Kecamatan Lasem yang merupakan bekas tempat lokalisasi dan rencananya akan dijadikan homestay. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Lokalisasi yang berada di Desa Dorokandang, Kecamatan Lasem, Rembang, resmi ditutup, Rabu (26/7/2017). Kemudian terkait keberadaan 15 rumah bekas kamar atau tempat tidur para PSK, rencananya bakal dijadikan penginapan (homestay).

Hal tersebut diutarakan Kepala Desa Dorokandang Suwito kepada MuriaNewsCom.”Penutupan ini seharusnya pada 27 Juni setelah Lebaran. Namun berhubung ada beberapa kendala, maka penutupan itu resmi pada Rabu (26/7/2017). Dan bekas kamar atau rumah tersebut akan kita jadikan penginapan atau juga kos-kosan,” kata Suwito.

Ia menilai, difungsikannya rumah bekas PSK tersebut untuk penginapan atau kos, akan bisa membuat pemilik rumah dapat penghasilan tambahan.

“Saat ini rumah bekas PSK itu ada sebanyak 15 unit. Dan itupun satu unitnya pastinya ada beberapa kamar. Nah jika itu dapat dimanfaatkan untuk penginapan, maka akan bisa memberikan penghasilan. Terlebih belasan rumah itu juga miliknya mucikari tersebut,” ungkapnya.

Dari informasi yang dihimpun di lapangan, kini pihak desa sudah melakukan perbandingan harga di wilayah Lasem.”Kita selaku pemdes juga sudah melihat-lihat harga. Baik di wilayah Babagan atau lainnya. Sebab di wilayah Babagan, itu banyak homestay wisatawan. Dan tentunya harganya akan di bawah homestay yang ada di wilayah Lasem,” paparnya.

Sementara itu saat disinggung mengenai penanganan homestay tersebut, kedepannya pihak desa akan selalu memantau.

“Tentunya kita akan selalu memantau. Supaya rumah bekas PSK yang akan dijadikan homestay itu memang benar-benar dijadikan homestay, indekos dan bisa menambah penghasilan yang manfaat, halal,” ucapnya.

Dia menambahkan, untuk saat ini, sekitar 50 PSK sudah pulang. Dan para mucikari ada yang sudah ikut pengusaha batik, membuat usaha rumahan dan lainnya.

Editor : Kholistiono

Banyak Info Lowongan di Bursa Kerja, Warga Grobogan Bingung Tentukan Pilihan

Sekretaris Daerah Grobogan Moh Sumarsono berbincang dengan salah satu penjaga stand pameran bursa kerja di gedung Wisuda Budaya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Acara job fair atau pameran bursa kerja yang diselenggarakan Dinsosnakertrans Grobogan di Gedung Wisuda Budaya ternyata mendapat perhatian cukup besar dari para pencari kerja. Indikasinya ada ratusan orang yang datang untuk mencari pekerjaan pascaacara pembukaan pameran, Rabu (26/7/2017).

Sebagian besar pengunjung terlihat cukup serius untuk mendapatkan pekerjaan. Hal ini bisa dilihat dengan berkas lamaran yang sudah disiapkan dari rumah.

Meski demikian, banyak pencari kerja yang mengaku pusing saat datang ke acara ini. Pasalnya, mereka ini ternyata bingung untuk memilih lowongan kerja (loker) mana yang akan dipilih.

“Jadi saya malah bingung mau melamar yang mana. Soalnya, lowongan kerjanya banyak sekali,” kata Meilani, salah seorang pengunjung job fair.

Kepala Disnakertrans Grobogan Nurwanto menyatakan, jumlah peserta job fair ada 30 perusahaan. Sebanyak 13 perusahaan dari Grobogan dan 17 lainnya dari luar daerah. Ada ribuan lowongan kerja yang tersedia untuk 46 jenis jabatan.

Acara job fair dibuka Sekretaris Daerah Grobogan Moh Sumarsono. Sejumlah perwakilan FKPD dan pejabat terkait terlihat hadir dalam pembukaan. Rencananya, bursa kerja akan dilangsungkan hingga Kamis besok.

Sumarsono berharap dalam job fair nanti banyak pencari kerja yang bisa tertampung. Dengan demikian, jumlah pengangguran secara tidak langsung juga akan turun.

“Jumlah pencari kerja tahun 2016 berkisar 10 ribu orang. Dari jumlah ini, baru sekitar 62 persen yang terserap. Jadi, adanya job fair ini kita harapkan bisa menekan angka pengangguran,” katanya.

 

Editor : Akrom Hazami

Mayatnya Ditemukan di Hutan Grobogan, Ternyata Semula Mau Ziarah, tapi Malah Meninggal

Petugas mengevakuasi mayat yang ditemukan di hutan Desa Juworo, Kecamatan Geyer, Grobogan, Rabu (26/7/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Sosok mayat perempuan ditemukan di Desa Juworo, Kecamatan Geyer, Grobogan, tepatnya di kawasan hutan KPH Gundih, Rabu (26/7/2017). Mayat perempuan itu ditemukan petugas KPH Gundih saat berpatroli di kawasan hutan jati.

Saat melintas, petugas mencium bau menyengat. Setelah ditelusuri, bau itu berasal dari sosok mayat perempuan yang masih mengenakan pakaian lengkap dan memakai jilbab. Penemuan mayat tersebut selanjutnya dilaporkan pada pihak kepolisian.

Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Suwasana menyatakan, dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan adanya tanda-tanda penganiayaan. Setelah ditelusuri, identitas mayat berhasil diketahui.

Identitasnya adalah Salem (70), warga Dusun Kukunrejo, Desa Gumantar, Kecamatan Mondokan, Sragen. Ciri-ciri mayat juga banyak kecocokan dengan keterangan pihak keluarga yang sudah 10 hari terakhir mencari keberadaan korban.

“Setelah kita identifikasi, jenazah kita serahkan pada pihak keluarga. Ciri-ciri yang disampaikan keluarga banyak kecocokan,” jelasnya.

Dari hasil keterangan pihak keluarga, korban saat itu sedang pamit pergi ke pemakaman orang tuanya yang lokasinya di tengah hutan pada hari Minggu (16/7/2017). Saat berangkat, korban naik ojek hingga pinggir jalan raya menuju makam.

Dari jalan raya, korban berjalan kaki menuju pemakaman yang jaraknya masih sekitar dua kilometer.

“Sejak pamit mau ziarah itu, korban tidak kembali lagi ke rumah. Keluarga juga sempat mencari ke berbagai tempat dan menyebarkan foto korban. Tapi hasilnya nihil,” jelasnya.

Suwasana menambahkan, korban diduga terpeleset dalam perjalanan ke pemakaman. Saat ditemukan, posisinya telungkup pada sebuah tebing.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Tak Mudah Memberlakukan Full Day School

 

Farid Jaelani
Mahasiswa STAIN Kudus, Jurusan Tarbiyah, Prodi Bahasa Arab

TAHUN pelajaran baru 2017-2018 setingkat sekolah dasar dan  menengah  sudah mulai berjalan beberapa hari yang lalu. Hal ini menandakan mata pelajaran yang akan disampaikan kepada  peserta didik  sudah mulai dipersoalkan dan dibahas sesuai dengan kurikulum yang dipakai oleh sekolah tersebut.

Tak hanya segi kurikulum yang dibahas tapi soal metode-metode pengajarannya hingga infrastrukturnya  pun juga ikut dibahas dalam rapat tahunan guru. Beberapa waktu lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Dr Muhadjir Effendy menggagas dan meluncurkan program full day school (FDS) atau sekolah sehari penuh. Program tersebut digadang-gadang dapat menciptakan karakter seorang siswa yang baru-baru ini dianggap mulai luntur.

Program tersebut memang baik jika diimplementasikan dengan benar dan tepat pada sasarannya. Tapi malah sebaliknya, program tersebut masih menuai pro kontra dari semua lapisan. Pasalnnya program tersebut dirasa terlalu cepat untuk diluncurkan dan diterapkan ke berbagai sekolah atau madrasah.              

FDS yang diluncurkan oleh mendikbud memang secara harfiah pembentukan karakterlah yang diutamakan. Namun , program tersebut cendurung seperti program pengawasan anak dalam sehari. Hal ini menandakan seolah-olah orang tua tidak percaya tentang tanggung jawab yang dimiliki oleh buah hatinya. Di kota misalnya, berbagai masalah yang sering  orang tua lakukan adalah lengahnya pengawasan.

Akibatnya timbul kegiatan negatif, seperti pelecehan seksual, penculikan dan lain-lain. Problem tersebutlah yang menjadi titik permasalahan terbitnya sekolah 5 hari oleh mendikbud. Belajar terus-menerus  memang dibolehkan dan dianjurkan , dan tentunya itu jauh lebih baik  dari pada sepulang sekolah peserta didik tidak punya kegiatan. Parahnya lagi mereka lepas pengawasan dari orang tua.

 Penawaran  FDS memang jauh lebih baik dari pada peserta didik lepas pengawasan dari  orang tuanya. Namun dalam penyelenggaraka program tersebut dalam sekolah atau madrasah tentunya ada penawaran harga yang lebih dibanding dengan penyelenggaraan pembelajaran reguler. Hal itu menandakan hanya siswa beruanglah  yang mampu mengakses program tersebut. Otomotis siswa yang kurang mampu tentunya tetap istiqomah dalam pembelajaran regulernya.

Keadaan Pendidikan di Indonesia                                                                                                           

Pendidikan di Indonesia dirasa masih ketinggalan jauh sama negara tetangga lainnya. Faktor yang mempengaruhi di antaranya adalah kurikulum pembelajaran serta sarana dan prasarana yang masih minim yang dianggarkan pemerintah. Apalagi yang sekarang digadang – gadang akan meluncurkan sekolah 5 hari yang notabenenya membutuhkan sarana dan prasarana yang lengkap dan memadai.

Berdasarkan data pada Raker Komisi X DPR RI dengan Mendikbud 21 Juli 2016, dari 1.833.323 ruang kelas, hanya  466.180 yang dalam kondisi  baik, sisanya              1.367.143 ruang kelas rusak dengan rincian 930.501 atau 51% rusak ringan, 283.232 atau 15% rusak sedang, 78.974 atau 4 % rusak berat dan 74.436 atau 4 % rusak total.                                                                                                                       

Tak hanya itu, kesiapan dalam menjalankan sekolah  sehari penuh juga harus menggunakan sarana dan prasarana yang layak. Jika disurvei  dari 217.781 sekolah, terdapat 104.081 yang belum memiliki peralatan pendidikan. Dijenjang SD dari 151.586 sekolah, baru 86.058 yang sudah memiliki alat pendidikan, sisanya 65.528 sekolah belum memilikinya. Di SMP dari total 39.787 sekolah, baru 25.559 yang sudah , baru 25.559 yang sudah memilikinya, akan tetapi 14.228 belum memiliki alat pendidikan. Padahal fasilitas adalah alat penunjang keberhasilan dalam kegiatan belajar mengajar.

Sudah sepatutnya pemerintah tidak terburu-buru dalam merubah mekanisme pendidika. Memang benar           pemerintah sigap dalam mengambil keputusan dalam memperbaiki pendidikan negeri ini. Akan tetapi , dilihat dari kesiapan dalam berbagai sekolah masih relatif lemah. Tak hanya fasilitas yang sering dibahas yang notabenya masih kurang lengkap.      

Guru, kata yang sering muncul dalam dunia pendidikan . Jika memang benar  full day school ini akan diterapkan serentak di Indonesia, maka  guru swasta yang kemungkinan  akan terkuras habis tenaga, waktu dan pemikirannya.

Bahkan waktu untuk bekerja sampingan pun akan tersita hanya untuk program FDS ini. Semua orang tahu  bahwa gaji guru swasta itu tidak seberapa, jika dibandingkan dengan guru PNS. Bahkan guru swasta yang mengajar madrasah ibtidaiyyah kadang masih ada yang menerima gaji  Rp 300.000 per bulan. Dan untuk  menambah penghasilan lain, mereka bekerja sampingan setelah mengajar

Menurut  Khofifah Indah Parawansa, menteri sosial, wacana sekolah sehari penuh belum bisa diterapkan di seluruh sekolah atau madrasah di Indonesia. Mengingat, persoalan  di daerah dan metode pembelajaran yang efektif sangat bergantung dengan situasi di daerah masing-masing. Sekolah sehari penuh ini sekiranya mungkin cocok diterapkan di daerah perkotaan yang rata-rata orang  tua mereka sibuk dengan pekerjaannya. Juga sangat cocok,  jika diterapkan di penitipan anak, yang kegiatannya super padat. Dan itupun,  harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang lengkap dan memadai.

Madrasah  Diniyah Terancam                                                                                                    

Madrasah diniyyah merupakan  suatu lembaga pendidikan yang berbasis pada keagamaan yang ranahnya pada jalur luar sekolah dengan meneruskan pendidikan agama Islam. Adapun cara pembelajaraanya memakai sistem klasikal. Lembaga pendidikan tersebut juga mempunyai beberapa tingkatan layaknya seperti sekolah umum lainnya, di antaranya tingkatan awaliyah, wustho , dan ulya.

Sejarah adanya lembaga agama ini memang sudah ada sejak jaman  penjajahan  dulu. Hal ini dibuktikan dengan umur rata-rata madrasah diniyah di Indonesia yang sudah mencapai puluhan tahun, bahkan ada yang mencapai 1 abad. Lembaga inilah yang memberi kontribusi terhadap nilai karakter dengan pendidikan agama  yang dapat melahirkan generasi penerus bangsa yang berbudi luhur.        

Namun sejak diluncurkannya program sekolah sehari penuh, seolah –olah mengagetkan beberapa pengurus madrasah ini. Hal ini dirasa kurang etis, karena madrasah ini biasanya mulai pembelajarannya pukul 14.00 sampai 16.00 WIB. Secara otomatis madrasah ini akan gulung tikar jika peserta didiknya masih berada di sekolah mengikuti sekolah sehari penuh  ini.                                                                

Lembaga  ini seharusnya diperhatikan karena sudah ikut andil dalam mencerdasakan anak bangsa. Perlu diketahui. Jika memang sekolah sehari penuh memang diterapkan, otomatis pendidikan di Indonesia ini mengkhususkan atau mendominasi mata pelajaran umum saja . Padahal mata pelajaran agamalah yang sering digunakan dalam bersosialisasi tertutama dalam akhlak karimahnya.

Apa jadinya nanti ketika Indonesia lepas tanpa adanya akhlak karimah. Sudah barang tentu kejadian kriminal berpeluang lebih terbuka lebar dilakukan anak-anak. Tawuran mudah terjadi, dan kriminal lainnya.

Tercatat pada tahun 2008, bahwa jumlah madrasah diniyah seluruh Indonesia adalah 37.102 unit. Mereka mendidik santri sebanyak 3.557.713 orang, dengan jumlah guru 270.151 orang. Angka tersebut bukanlah angka sedikit.  Tentunya jumlah guru yang begitu banyak yang ikhlas dalam mengajar, bahkan mereka tidak dapat tunjangan sertifikasi, namun mereka rela demi membentuk karakter seorang anak didik.

Oleh karena itu, sekolah sehari penuh atau full day school ini sebaiknya jangan terburu – buru diluncurkan supaya tidak menimbulkan persoalan –persoalan baru nantinya. Sebab program tersebut tidak hanya membutuhkan waktu belajar, tetapi fasilitas dan tenaga guru yang ekstra pun juga harus dibutuhkan. 

Dalam istilah kaidah ushul fiqih “ dar’ul mafasid muqoddamun ‘ala  jalibil  mashalih”  yang maksudnya menghindari atau mencegah kerusakan hendaknya didahulukan dibanding melakukan inovasi yang tak teruji.  Wallahu a’lam bishshowwab.

(Farid Jaelani, Warga Undaan, Kabupaten Kudus. Artikel ini dimuat MuriaNewsCom, Rabu 26 Juli 2017)

 

 

 

Tokoh Pati Firman Soebagyo Ditetapkan sebagai Anggota DPR RI Terbaik 2017

Anggota DPR RI Firman Soebagyo saat bertemu dengan konstituennya di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Tokoh asal Desa Kedalon, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, Firman Soebagyo ditetapkan sebagai anggota DPR RI terbaik 2017 di urutan pertama bersama sembilan anggota DPR lainnya. Penetapan itu dilakukan lembaga independen Panggung Indonesia (PI), baru-baru ini.

Ada sejumlah kriteria yang menjadi syarat untuk mendapatkan penghargaan tersebut. Salah satunya, anggota DPR tidak terlibat korupsi, tidak kontroversi, kehadiran rapat tinggi, dan aspiratif turun ke konstituen.

“Ada banyak pertimbangan sebagai bahan penilaian. Kami merasa perlu memberikan penghargaan kepada wakil rakyat yang berprestasi karena pengabdiannya kepada masyarakat Indonesia,” ujar CEO PI, Ichwanudin Siregar, Rabu (26/7/2017).

Saat dikonfirmasi, Firman mengaku terkejut dengan penghargaan tersebut. Sebab, sejak menjadi anggota DPR RI, ia hanya berpikir dan memperjuangkan nasib rakyat tanpa harus berharap pada penghargaan.

Meski begitu, dia mengucapkan terima kasih kepada lembaga yang memberinya penghargaan. Apresiasi tersebut menjadi pemacu semangat agar lebih baik memperjuangkan hak-hak rakyat.

“Doakan kami agar konsisten menjalankan tugas sebagai wakil rakyat, tetap berada di jalur yang benar, peduli dengan nasib rakyat di tengah ancaman asing dari bidang pangan hingga industri teknologi informasi (TI),” kata Firman.

Menurutnya, berpolitik yang baik dan benar mesti mengedepankan asas rasionalitas, etika dan sopan santun. Di mata Firman, keberhasilan partai politik diukur dari perannya dalam meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

Asal tahu, Firman yang lahir di Pati, 2 April 1953 merupakan anak dari seorang petani dan pedagang palawija. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga yang sederhana.

Tahu akan beban keluarga, Firman muda memutuskan untuk mengadu nasib ke luar daerah. Sejak itu, Firman pernah menjadi seorang pembantu hingga pedagang rokok. Semua dilakukan untuk membiayai sekolahnya.

Dia tidak pernah bermimpi menjadi seorang politisi, karena harapannya menjadi seorang hakim atau jaksa. Namun, ia sadar bila hidup hanya Tuhan yang menentukan.

Proses perjalanan hidup yang cukup berat itu membuat Firman tahu akan kondisi masyarakat bawah. Pada akhirnya, pengalaman hidup tersebut menjadi spirit untuk selalu dekat dan memperjuangkan nasib rakyat selama menjadi anggota DPR RI.

Selain Firman, sembilan wakil rakyat yang mendapatkan predikat anggota DPR terbaik 2017, di antaranya Lukman Edy, Taufik Kurniawan, Ahmad Basarah, Herman Kheron, Zulkieflimansyah, Martin Hutabarat, Nurdin Tampubolon, Reni Marlinawati, dan Jonny G Plate.

Editor : Kholistiono

Maryati Senang, Sekarang Jalan Menuju ke Makam Semakin Dekat

Personel TNI dan warga bergotong-royong membangun jalan dalam program TMMD yang digelar Kodim 0733 Semarang. (Kodim 0733 Semarang)

SEMARANG – Pembuatan jalan tembus Makam di RT 1 RW II sepanjang 180 x 3 meter persegi yang merupakan program dari TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) membantu warga sekitar lebih dekat menuju makam umum tersebut. Jika sebelumnya warga harus memutar sedikit jauh, namun saat ini mereka tidak perlu capek untuk menuju makam.

“Mau kemakam si mbah jadi tidak memutar. kemarin ada bapak-baoak Tentara bangun jalur alternatif ke makam, jadi lumayan deket sekarang,” ungkap Maryati (37) warga sekitar, Rabu, (26/07).

Ia menceritakan dengan pembuatan jalan tembus ini warga sekitar sangat terbantu. Apalagi sebelumnya jalan menuju makan hanya ada satu akses. “Alhamudilillah membantu warga RT 1 yg mau ke makam,”imbuhnya.

Kordinator lapangan TMMD Kodim 0733 Semarang Kapten Inf Suradi menuturkan pembuatan jalur tembus menuju makam ini merupakan usulan dari warga sekitar ketika melakukan survei di RW II. “Kami dibantu warga diarahkan. kebetulan warga ingin TMMD juga diarahkan di makam ini dengan jalan tembus,” terang Suradi. (NAP)

MELAWAN MAUT, Siswa Ngombak dan Kentengsari Kecamatan Kedungjati Grobogan Seberangi Sungai untuk Sekolah

Sejumlah warga menyeberangi Sungai Tuntang yang menghubungkan Desa Kentengsari dan Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah warga di Desa Kentengsari dan Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati, Grobogan mengharapkan adanya bangunan jembatan yang menghubungkan kedua wilayah.

Sebab, tidak adanya jembatan menyebabkan warga setempat harus menempuh bahaya untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Yakni, menyeberangi sungai Tuntang yang membelah kedua desa tersebut.

“Akses terdekat memang dengan menyeberangi sungai Tuntang. Kalau mau memutar juga bisa sebenarnya. Tapi jarak tempuhnya bisa sampai lima kilometer,” ujar Sugiyono, warga Dusun Ngawuran, Desa Kentengsari.

Untuk melakukan berbagai aktivitas dengan menyeberangi sungai selebar 50 meter itu bisa lebih mudah ditempuh jika kondisi air dangkal. Seperti saat musim kemarau seperti ini. Saat ini, kedalaman air berkisar 1-2 meter.

Sebagai pengaman, warga memasang tambang berukuran cukup besar yang dikaitkan di kedua sisi sungai. Saat menyeberang, salah satu tangan warga berpegangan pada tambang.

Saat anak sekolah berangkat dan pulang, aktivitas warga di lokasi tersebut terlihat lebih ramai. Para orang tua menggendong anaknya menyeberangi sungai supaya pakaiannya tidak basah.

Jika orang tuanya tidak sempat mengantar, sejumlah bocah bersama menyeberangi sungai. Biasanya, mereka melepas pakaian sekolah dan sepatunya dan mengenakan kaos dan celana biasa.

Ketika sudah sampai seberang sungai, mereka mengenakan lagi seragamnya. Sedangkan, kaos dan celana pendek yang basah dilepas dan dimasukkan tas plastik.

“Melakukan aktivitas dengan menyeberangi sungai sudah jadi rutinitas sehari-hari kalau debit sungai turun. Kalau sungai penuh air, terpaksa kita lewat jalur memutar,” imbuh Hartejo, warga lainnya.

Kepala Desa Ngombak Kartini mengatakan, setiap hari terdapat ratusan orang yang memanfaatkan jalur sungai untuk beraktivitas. Baik anak sekolah, petani dan pedagang.

Terkait dengan kondisi itu, memang sempat muncul usulan untuk membangun sebuah jembatan gantung.

“Untuk saat ini pihak desa belum memungkinkan untuk membuat jembatan. Kami butuh dukungan dari Pemkab, provinsi atau pusat untuk merealisasikan usulan warga,” jelasnya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

 

Gaun Bikinan Siswi SMKN 1 Purwodadi Raih Peringkat III Tingkat Jawa Tengah

Siswa SMKN 1 Purwodadi Noriana Pratiwi berhasil raih peringkat III dalam ajang seleksi daerah calon competitor Asean Skills Competition XII yang diselenggarakan Disnakertrans Provinsi Jawa Tengah, akhir pekan lalu.(MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Daftar nama siswa SMKN 1 Purwodadi yang berhasil jadi juara bertambah lagi. Terbaru, ada siswi yang meraih titel peringkat III dalam ajang seleksi daerah calon kompetitor Asean Skills Competition XII yang diselenggarakan Disnakertrans Provinsi Jawa Tengah, akhir pekan lalu. Pelaksanaan seleksi ini dilangsungkan di LPK Alwine Semarang.

Siswi yang meraih prestasi berprestasi adalah Noriana Pratiwi. Saat ini, Noriana tercatat sebagai siswi kelas XII jurusan tata busana.

Dalam ajang tersebut, puluhan peserta dari berbagai SMK diharuskan membuat sebuah gaun. Proses pembuatan dimulai dari membikin desain, pola hingga menjahit gaun sampai jadi.

“Untuk pembuatan gaun dari awal sampai selesai disediakan waktu totalnya 9 jam. Semua bahan dan peralatan sudah disediakan panitia,” jelas Noriana yang ditemui di sekolahannya, Selasa (25/7/2017).

Dalam lomba tersebut, siswi asal Desa Pakis, Kecamatan Kradenan itu tidak menyangka jika hasil karyanya bisa dinobatkan meraih peringkat III. Sebab, hasil karya pesaingnya dinilai juga cukup bagus. Terlebih, itu adalah keikutsertaannya mengikuti lomba untuk pertama kalinya.

Guru pembimbing yang mendampingi lomba Khunayah menambahkan, sebelum tampil mengikuti even tersebut, pihaknya sudah membekali Noriana dengan persiapan khusus. Termasuk, melatihnya membuat belasan gaun pesta berbagai model.

“Menghadapi even itu, kami memang melakukan persiapan serius. Alhamdulillah, bisa dapat juara III,” kata guru yang tinggal di Desa Klitikan, Kecamatan Kedungjati itu.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMKN 1 Purwodadi Sukamto menyatakan, selain penghargaan, setiap siswa yang dapat prestasi akan dikasih reward. Besar kecilnya reward ini kita sesuaikan dengan level juara yang didapatkan.

“Pemberian reward ini sudah kita lakukan sejak lama. Hal ini kita terapkan sesuai dengan slogan kami bahwa SMKN 1 Purwodadi adalah ‘Sekolahnya para Juara’,” ungkapnya.

Ia menambahkan, selama ini, pihak sekolah selalu mendukung setiap kegiatan positif yang ingin dilakukan para siswa. Baik kegiatan dalam bidang akademisi maupun ekstrakurikuler, termasuk olahraga dan ketrampilan.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan di SMK AKN Marzuqi Paling Diminati, Ini Alasannya

Seorang guru SMK AKN Marzuqi mengajarkan komputer pada siswa di laboratorium komputer. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Satu dari tiga jurusan di SMK Telkom Terpadu yang paling diminati adalah teknik komputer dan jaringan (TKJ). Lebih dari 50 persen siswa di sana mengambil jurusan tersebut.

Salah satunya, Luluk Ihda Azizah (16), siswi asal Desa Cengkalsewu, Sukolilo. Ada sejumlah alasan yang membuatnya memilih jurusan TKJ.

“Dunia siber dan teknologi sekarang bukan lagi menjadi tren, tetapi sudah menjadi kebutuhan. Artinya, peluang kerja di bidang komputer dan jaringan terbuka lebar,” ujar Luluk, siswi yang pernah meraih peringkat dua di kelasnya.

Selain itu, SMK Telkom Terpadu AKN Marzuqi disebut memiliki jaringan dengan sejumlah perusahaan terkemuka di bidangnya. Salah satunya, PT Telkom Akses yang konsen di bidang maintenance jaringan dan PT Proxy Indonesia Solutions.

Beberapa rekanan penyerap alumni juga siap menampung lulusan SMK AKN Marzuqi. Misalnya, PT Astra, perusahaan garmen dan masih banyak lagi lainnya.

“Saya diminta orang tua untuk mondok dan sekolah di sini. Setelah lulus nanti, pengen langsung kerja di jaringan perusahaan sekolah. Terlebih, jurusan TKJ yang saya ambil peluang kerjanya banyak,” ucap Luluk.

Kendati TKJ menjadi jurusan yang diminati, Kepala SMK AKN Marzuqi Ali Ihsan memastikan bila dua jurusan lainnya, rekayasa perangkat lunak dan teknik kendaraan ringan juga punya peluang kerja yang tinggi. Beberapa perusahaan diakui sudah bersiap menyerap tenaga kerja dari alumni.

Saat ini, sekolah yang berdiri pada 2004 tersebut memiliki lebih dari 400 siswa. Sebanyak 60 persen lulusannya bekerja sesuai dengan bidang jurusannya, sedangkan 40 persen lainnya melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Editor : Kholistiono

Persiku Kudus Junior Juarai Liga Soeratin Zona Jateng

Tim Persiku saat dinobatkan menjadi juara Liga Soeratin 2017 di Stadion Wergu Wetan Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Persiku Kudus berhasil menjadi juara Liga Soeratin 2017. Persiku junior memenangkan pertandingan dalam zona Jateng dengan mengalahkan PSCS Cilacap di Stadion Wergu Wetan Kudus, Selasa (25/7/2017).

Kemenangan Persiku benar-benar mantap. Persiku meraih kemenangan atas PSCS dengan skor 3-0. Dengan demikian, Persiku memastikan akan melaju ke tingkat nasional.

Ketua KONI Kudus M Ridhwan mengatakan, kemenangan Persiku telah diprediksi. Karena melihat tim Persiku tampak kuat dan solid. Sudah sepatutnya Persiku menjadi juara.

“Masih ada pertandingan lainya di tingkat nasional. Kami masih berharap Persiku selalu menang dan mrmbawa Kudus lebih baik dalam hal sepak bola,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Selama pertandingan, Persiku memang terlihat mendominasi pertandingan. Meskipun beberapa kali serangan lawan kerap mengancam gawang Persiku, namun berhasil diantisipasi.

Editor : Akrom Hazami

JPU Tolak Pledoi Terdakwa Kasus Dugaan Kekerasan Terhadap Wartawan

Sidang kasus dugaan kekerasan terhadap wartawan di Pengadilan Negeri Rembang, beberapa waktu lalu.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Jaksa Penuntut Umum (JPU) menolak pledoi atau pembelaan Suryono (30) terdakwa kasus dugaan kekerasan terhadap wartawan yang telah dibacakan beberapa waktu lalu.

Penolakan tersebut disampaikan oleh JPU Wakhid Adrian, dalam sidang lanjutan dengan agenda tanggapan jaksa atas pembelaan terdakwa, di Pengadilan Negeri Rembang, Selasa (25/7/2017).

Dalam sidang tersebut, Wakhid Adrian membeberkan, terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindakan yang dapat menghambat serta menghalangi kerja wartawan.

Sedangkan dalam tuntutannya, jaksa telah menuntut terdakwa dengan hukuman 7 bulan penjara.

Sementara itu, dalam pembacaan tanggapan dari jaksa atas pembelaan terdakwa, ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Rembang, Antyo Harri Susetyo menyampaikan, sidang akan dilanjutkan hari Kamis, (27/7/ 2017) mendatang dengan agenda penasehat hukum terdakwa menanggapi pendapat jaksa.

Seperti pemberitaan sebelumnya, pada tanggal 18 Agustus 2016 lalu, terjadi kecelakaan kerja di PLTU Sluke, yang mengakibatkan 2 orang meninggal dunia dan 2 korban lainnya menderita luka bakar cukup parah.

Dari insiden kecelakaan kerja tersebut, korban menjalani perawatan di rumah sakit dr. R Soetrasno Rembang. Dalam hal ini ada oknum dari PLTU  melarang wartawan meliput kejadian tersebut.Selain itu juga ada sekumpulan massa menyuarakan kata-kata untuk mengeroyok wartawan.

Sedangkan file foto di dalam HP  hasil liputan wartawan Radar Kudus Jawa Pos, Wisnu Aji dihapus. Selain itu, Wartawan Cakra Semarang TV, Sarman Wibowo yang dikejar – kejar masa, keesokan harinya harus masuk ke rumah sakit di Semarang, untuk memeriksakan kondisi penyakit jantungnya. Terkati hal ini  PWI Kabupaten Rembang memilih menempuh jalur hukum, lantaran mengancam kemerdekaan pers.

Editor : Kholistiono

Baju Adat Kudus Terancam Punah, Ini Solusi Penanganannya

Salah satu kegiatan yang memperlihatkan baju adat Kudus, beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus menuturkan jika baju adat kota setempat terancam punah. Selain akibat berkurangnya perajin baju adat Kudus, juga minat warga yang kurang.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Yuli Kasianto mengatakan, jika saat ini baju adat Kudus mulai jarang ditemui.

“Ini mengkhawatirkan, tengok saja perajin tutup kepala adat Kudus yang kini hanya tinggal satu orang saja. Itupun, sudah sangat tua dan tak ada regenerasi lagi,” ujar Yuli mencontohkan, Selasa (25/7/2017).

Menurut Yuli, minimnya perajin baju adat karena minat warga yang rendah. Akhirnya baju adat pun tak laku. Imbasnya, perajin pun berhenti memproduksi.

Ditambah lagi, baju adat Kudus susah dalam perawatan. Termasuk juga, dalam perawatannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Pihaknya menyatakan butuh penanganan khusus agar baju adat Kudus tak lagi terancam punah. Di antaranya, penanaganan antara Dinas Pendidikan, dan Dinas Perindustrian.

“Siswa SMK bisa diajak membuatnya, minimal dengan memanfaatkan ekstrakurikuler. Kemudian Dinas Perindustrian bisa membantu mengadakan pelatihan pembuatan baju adat Kudus,” ucapnya.

 

Editor : Akrom Hazami

Dua Perwira Remaja TNI AL Asal Jepara Diambil Sumpahnya oleh Presiden Jokowi

Letda Laut (E) Novan Arya Wiguna (kiri). (Istimewa)

MuriaNewsCom, Jepara – Hari ini dua perwira remaja TNI Angkatan Laut asal Jepara diambil sumpahnya, Selasa (25/7/2017). Mereka mengikuti sumpah perwira (Praspa) TNI/Polri di hadapan Presiden Indonesia Joko Widodo di Jakarta. 

Kedua perwira remaja TNI Angkatan Laut itu adalah Letda Laut (E) Novan Arya Wiguna dan Letda Laut (P/W) Sulistianah. 

Ada cerita unik dari Letda Laut (E) Novan Arya Wiguna, warga Mayong Lor, Kecamatan Mayong, Jepara itu menyebut sempat ditolak ketika masuk di akademi angkatan laut. “Baru pada pendaftaran yang kedua saya diterima sebagai taruna AAL,” katanya. 

Meskipun tak langsung diterima sebagai taruna pada awalnya, ia mengaku hal itu sebagai ujian bagi cita-citanya. Menurutnya untuk meraih kesuksesan dibutuhkan niat dan semangat yang tinggi. “Maju terus pantang mundur,” kata Novan, yang lulusan SMAN I Pecangaan itu. 

Sementara itu  Letda Laut (P/W) Sulistianah merupakan putri asli Jepara dari pasangan dari Mubasir dan Almarhum Karsipah. Hampir serupa dengan sejawatnya, warga Desa Kendeng Sidialit, Welahan, itu punya pesan bagi pemudi-pemudi Bumi Kartini. 

“Jadilah Kartini masa depan, dengan tetap berkarier dan berkeluarga tanpa melupakan kodratnya sebagai perempuan,” ucap dia. 

Editor : Kholistiono

Cuaca Tak Menentu, Petani Garam di Rembang Gelisah

Salah satu petani garam sedang menggarap lahannya untuk membuat garam.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Meski telah memasuki musim kemarau sejak awal bulan Juni lalu. Namun saat ini  petani garam di Rembang masih belum bisa memanen hasilnya.

Pasalnya, proses produksi garam hingga pertengahan Juli ini belum membuahkan hasil. Hanya ada beberapa petani yang berhasil panen garam, itupun dengan jumlah dan kualitas yang jauh di bawah standar.

Jika cuaca dalam kondisi normal, biasanya petani garam sudah bisa panen sebanyak tiga kali. Namun, lantaran anomali cuaca yang masih belum menentu, sebagian besar petani masih belum bisa memproduksi garam.

Salah satu petani garam, Jasman, warga Desa Waru, Kecamatan Rembang mengaku sejak awal proses penggarapan tambak garam miliknya pada awal bulan Juni lalu, pihaknya baru berhasil memanen garam satu kali. Itupun hanya mampu menghasilkan 20 karung garam atau sekira 1 ton garam dari tiga petak tambak miliknya.

“Harusnya sudah tiga kali panen, tapi kemarin masih saja ada hujan, sehingga harus mengulang lagi dari awal proses penggarapan tambak. Selama 1,5 bulan, baru sekali panen, itupun jumlahnya jauh dari harapan. Selain itu kualitasnya juga tidak sebaik jika kondisi cuaca normal,” ungkapnya.

Hal serupa juga diungkapkan Wakijan, warga Desa Banggi,Kecamatan Kaliori. Ia mengeluhkan, meskipun pihaknya telah menggunakan metode plastik dalam produksi garam, namun selama masuk musim kemarau ini selalu gagal dalam produksi.

“Harusnya sudah empat kali panen, tapi selama ini saya selalu gagal karena hujan. Tiap turun hujan, proses penambakan harus mulai kembali dari awal, mulai nylender untuk meratakan tanah sampai tuang air lagi,” ujarnya.

Ia mengaku hampir putus asa terkait kondisi cuaca yang tidak menentu. Kini pihaknya memaksakan untuk menggarap satu petak tambak garam, meskipun airnya masih tercampur dengan air hujan.

Hal ini, ternyata juga berimbas pada kenaikan harga yang cukup signifikan. Dari harga normal rata-rata petani hanya berkisar tak lebih dari Rp 1.000 per kilo, kini melonjak empat kali lipat. Harga berkisar Rp 3.500 sampai Rp 4.500 per kilogram. 

Editor : Kholistiono

Keren, Guru Multimedia SMKN 1 Purwodadi ini Raih Peringkat II Tingkat Nasional

Guru multimedia SMKN 1 Purwodadi Vivi Nur Azizah berhasil menggapai juara II dalam lomba keahlian guru produktif (LKGP) tingkat nasional akhir pekan lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan –  Prestasi tingkat nasional diraih guru SMKN 1 Purwodadi, baru-baru ini. Guru multimedia Vivi Nur Azizah berhasil menduduki peringkat II dalam lomba keahlian guru produktif (LKGP) tingkat nasional akhir pekan lalu.

Pelaksanaan lomba yang diikuti guru SMK dari berbagai daerah dilangsungkan di kampus Universitas Negeri Yogyakarta. Meski belum berhasil menjadi yang terbaik namun prestasi itu dinilai sudah membanggakan.

“Terus terang, saya tidak menyangka bisa dapat juara II. Soalnya, saingan dalam lomba ini cukup berat karena levelnya nasional,” ujar Vivi, Selasa (25/7/2017).

Menurutnya, LKGP tersebut sudah dilangsungkan dua kali. Tahun lalu, ia sempat ikut berpartisipasi. Namun, prestasi akhir hanya dapat urutan keenam.

Belajar dari pengalaman perdana, Vivi kembali ikut LKGP tahun 2017. Hasilnya, prestasinya naik bisa jadi peringkat II.

Untuk bisa mengikuti final LKGP tersebut butuh proses panjang. Sebab, peserta terlebih dulu harus menjalani tahapan seleksi online. Yakni, membuat perangkat pembelajaran berikut hasil video berdurasi 20 menit. Hasil pembuatan video disimpan dalam keping DVD dan diberi label yang sesuai dengan tema.

“Peserta yang ikut seleksi sekitar 330 an. Setelah diseleksi terpilih 50 finalis dari berbagai jurusan. Khusus jurusan multimedia terjaring 10 finalis,” ungkap guru asal Gemolong, Sragen yang sudah 6 tahun mengajar di SMKN 1 Purwodadi itu.

Lulusan Desain Komunikasi Visual UNS Surakarta itu menyatakan, semua peserta diwajibkan menjalani empat tahapan dalam final. Yakni, tes kognitif tertulis, tes kompetensi dengan praktik bikin video berdurasi 10 menit, paparan prestasi terbaik dan praktik mengajar.

Sementara itu, Kepala SMKN 1 Purwodadi Sukamto menyatakan, prestasi yang diraih salah satu gurunya tersebut memang di luar prediksi. Meski memintanya untuk berupaya keras, namun tidak ada target yang dibebankan dalam LKGP tersebut.

“Apa yang diraih ibu Vivi ini memang membanggakan. Semoga ini bisa melecut semangat guru lainnya untuk meraih prestasi,” katanya. (nap)

 

Editor : Akrom Hazami

 

Seniman Pati Sajikan Pertunjukan Seni Dolanan Anak dan Tari Tradisional

Pentas seni tari Padang Bulan dari Sanggar Arimbi yang dipentaskan di kawasan Pasar Gabus, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah seniman di Pati menyajikan pertunjukan seni dolanan anak dan tari tradisional dalam pentas seni tahunan Widyas Budaya yang dihelat di kawasan Pasar Gabus, Pati, baru-baru ini.

Dalam pertunjukan tersebut, beragam jenis seni dolanan anak ditampilkan, mulai dari lompat tali, dakon, cublak-cublak suweng, sunda manda, gundu, pecle atau engklek, dan masih banyak lagi lainnya. Selama bermain, mereka mengenakan busaha tradisional.

Aneka jenis tari tradisional anak-anak juga dipentaskan. Salah satunya, tari Padang Bulan dan Pitik Walik yang dipentaskan anak-anak dari Sanggar Tari Arimbi dengan rias busana dari Pandu Wedding Studio.

Mereka mengenakan kemben tradisional dari jarik bermotif batik klasik dengan kalung dan mahkota bernuansa zaman kerajaan. Ratusan penonton memadati kawasan Pasar Gabus untuk menyaksikan pagelaran seni tersebut.

Pemilik Pandu Wedding Studio Evi Septimardianti mengungkapkan, busana itu dibuat secara khusus untuk mengingatkan kepada para penonton akan keindahan pakaian orang Jawa zaman dulu. Busana seperti itu biasanya digunakan dayang saat mendampingi puteri kerajaan.

“Busana semacam itu sudah jarang digunakan pada zaman globalisasi sekarang ini. Makanya, kami suguhkan dalam pentas tahunan untuk mengingatkan bahwa seorang perempuan terlihat sangat cantik dan anggun menggunakan busana trasional,” ucap Evi.

Sementara itu, Pengasuh Sanggar Tari Arimbi Novi Iskandar mengatakan, Tari Padang Bulan dipentaskan untuk memberikan pesan edukatif kepada anak-anak zaman sekarang yang lebih suka bermain gadget ketimbang bersosial.

Tari Padang Bulan mengajarkan kepada anak-anak untuk tidak tidur terlalu sore, mengajak anak-anak bermain bersama menyaksikan keindahan bulan. “Ada pesan bagi anak-anak untuk bersosial dalam lagu itu, juga pesan religius untuk bersyukur menikmati pemandangan bulan yang indah,” pungkas Novi.

Editor : Kholistiono

Satpol PP Jepara Kembali Pergoki Tujuh Pelajar yang Membolos di Kafe Teluk Awur

Tujuh pelajar mendapatkan hukuman dari Satpol PP karena ketahuan membolos di sebuah Kafe di Teluk Awur. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Satpol PP Jepara kembali menemukan siswa yang bolos di Pantai Teluk Awur, Selasa (25/7/2017).  Masih berseragam sekolah, tujuh siswa SMP dan SMA ketahuan sedang nongkrong di sebuah kafe yang ada di pantai tersebut. 

Peristiwa itu bukan kali pertama terjadi. Pada hari Kamis (20/7/2017) lalu ada sembilan pelajar yang sedang asyik indehoi di areal Teluk Awur. Mereka lantas dibawa menuju markas Satpol PP Jepara yang ada di Kompleks Pemkab Jepara, dan dihukum menyanyikan lagu Indonesia Raya dan melafalkan sila Pancasila. 

Kali ini, tujuh pelajar tersebut diamankan dari dua kafe yang ada di Teluk Awur dan Tegal Sambi. Mereka adalah MJ (kelas VII) dan RF (kelas IX), serta dua siswa kelas IX berinisial RF dan AI. Keempatnya merupakan pelajar di salah satu SMP Negeri di Kecamatan Welahan.  Adapun pelajar lain yang terjaring yakni MYT (kelas XII), M (kelas XII) dan MA (XI) yang merupakan pelajar dari salah satu SMK swasta di Kecamatan Jepara Kota. 

Kepada petugas, mereka berdalih terlambat masuk sekolah. Bukannya menyadari perbuatan mereka, ketujuh siswa itu justru memanfaatkan keadaan. “Sekalian saja saya tidak masuk, wong saya terlambat masuk sekolah,” tutur MYT. 

Kepala Satpol PP dan Pemadam Kebakaran Jepara Trisno Santoso berujar, pelajar itu terjaring saat ada operasi rutin. Namun demikian, banyak laporan yang masuk ke mejanya terkait banyaknya siswa-siswi yang membolos di wilayah tersebut. 

“Kami sering menerima laporan dari masyarakat terkait siswa yang membolos. Ada beberapa tempat yang dijadikan tempat tongkrongan, semisal di Makam Pahlawan. Namun yang paling banyak diketemukan di Pantai Teluk Awur,” tuturnya. 

Dirinya mengatakan, akan memberikan surat peringatan kepada pemilik kafe, agar tak melayani murid yang bolos. Sementara itu, pelajar yang kedapatan membolos tadi, disuruh membuat surat pernyataan agar tak mengulangi perbuatannya. 

Editor : Kholistiono

Zumrotul Lutfiah asal Rembang Sabet Juara 1 pada STQ Nasional

Zumrotul Lutfiah dari Kecamatan Sedan berhasil mencatatkan namanya sebagai juara 1  Seleksi Tilawatil Quran (STQ) tingkat nasional.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Zumrotul Lutfiah dari Kecamatan Sedan berhasil mencatatkan namanya sebagai juara 1  Seleksi Tilawatil Quran (STQ) tingkat nasional ke-24, di Tarakan , Kalimantan Utara,  pada 13-21 Juli 2017.

Dalam event bergengsi dua tahunan tersebut, Zumrotul tergabung dalam kontingen Provinsi Jawa Tengah. Ia ikut menyumbang satu emas di kategori Tahfidz 20 juz putri.

Sekretaris 1 Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kabupaten Rembang, Arif Ramadhan mengatakan, Jawa Tengah sendiri menjadi juara umum ketiga dengan dua emas. Satu emas lagi disumbangkan oleh perwakilan dari Kabupaten Pati untuk kategori Tilawah.

Sebelumnya, Zumrotul juga pernah mengikuti ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat nasional di Lombok tahun 2016. Namun dalam ajang tersebut baru mampu meraih juara harapan 1.

“Sistemnya juri membacakan ayat- ayat Alquran, kemudian dia meneruskan. Alhamdulillah kemarin Zumrotul mulus,” ujarnya.

Atas prestasinya tersebut, Bupati Rembang Abdul Hafidz sangat bangga, karena putra daerah bisa mengharumkan nama Kabupaten Rembang. Pemerintah kabupaten rencananya akan memberikan penghargaan kepada Zumrotul saat resepsi HUT Republik Indonesia yang ke-72 tanggal 17 Agustus 2017.

“Kami bangga karena pretasi itu bisa mengangkat harkat dan martabat Kabupaten Rembang. Kami akan memberikan penghargaan berupa uang untuk umroh,” pungkasnya.

Dari hasil STQ ke-24, kontingen DKI Jakarta berhasil menjadi juara umum, disusul Kepulauan Riau di posisi kedua. Sedangkan Provinsi Kalimantan Utara selaku tuan rumah di peringkat ketujuh bersama dengan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Editor : Kholistiono

Kodim 0733 Semarang Ajak Warga Gunungpati Iku Perangi Masalah Sosial

Warga Kelurahan Kalisegoro, Kecamatan Gunungpati Semarang diajak memahami mengenai fungsi dan tugas lembaga masyarakat di lingkungan desanya.
(Kodim 0733 Semarang)

SEMARANG – Sosialisasi kepada masyarakat tentang tugas pokok dan fungsi atau tupoksi lembaga masyarakat di lingkungan desa menjadi salah satu program yang diusung dalam pelaksanaan TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) Kodim 0733 Semarang. Seperti yang dilaksanakan Selasa (25/7) di TMMD Kelurahan Kalisegoro, setidaknya 50 warga mengikuti sosialisasi pengenalan kelembagaan masyarakat yang menitik beratkan pada peran-perannya.

Dijelaskan Kabag Tata Pemerintahan Pemkot Semarang Djaka Sukawijana, ada beberapa lembaga masyarakat seperti Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa atau Kelurahan (LPMD/LPMK), Lembaga
Ketahanan Masyarakat Desa atau Kelurahan (LKMDILKMK) atau sebutan nama lain mempunyai tugas menyusun rencana pembangunan secara partisipatif, menggerakkan swadaya gotong royong masyarakat, melaksanakan dan mengendalikan pembangunan.

“Ada pula Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW), Tim penggerak PKK yang bermita dalam mengembangkan dan memberdayakan keluarga,”ujarnya.

Selain itu, juga ada karang taruna yang mempunyai tugas menanggulangi berbagai masalah kesejahteraan sosial terutama yang dihadapi generasi muda. Baik yang bersifat preventif, rehabilitatif, maupun pengembangan potensi generasi muda di lingkungannya.

Dengan pemahaman ini, masyarakat diminta untuk lebih paham dan mengerti fungsi-fungsi dari kelembagaan masyarakat yang ada disetiap ke lurahan. “Penekanan pada gejala sosial anak-anak remaja, biasanya kami (Pemkot Semarang) sering menggandeng karang taruna dalam pendekatannya,”imbuh Djaka.

Kaur Komsos Kapten Infantri Bahrudin berharap, agar masyarakat dapat lebih mengetahui peran dari masing-masing kelembagaan masyarakat. ”Dengan mengetahui pera dari masing-masing kelembagaan masyarakat, maka warga bisa ikut serta mengontrol dan ikut serta dalam pembangunan,” ujarnya. (NAP)

3 Calon Haji Grobogan Meninggal Menjelang Keberangkatan

Bupati Grobogan Sri Sumarni saat melepas keberangkatan jemaah haji di pendapa kabupaten setempat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Rombongan calon haji Grobogan berkurang jumlahnya. Hal ini menyusul adanya tiga orang calhaj yang meninggal dunia. Hal itu disampaikan Plt Kasi Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umroh Kemenag Grobogan Ali Ichwan, di sela-sela acara pamitan haji di pendapa kabupaten, Selasa (25/7/2017).

Ali menjelaskan, rombongan jemaah keseluruhan sebelumnya ada 980 orang. Terdiri 974 jemaah dan 6 petugas haji.

“Beberapa waktu lalu, ada tiga jemaah kita yang meninggal. Jadi jumlah rombongan keseluruhan nantinya ada 977 orang,” jelasnya.

Menurut Ali, keberangkatan jemaah haji Grobogan perdana akan dilangsungkan 1 Agustus mendatang, yakni untuk kloter 17. Kemudian, kloter 64 pada 15 Agustus. Sementara kloter 65 dan 66 berangkat pada hari yang sama, yakni 16 Agustus.

“Jumlah kloternya ada empat. Pemberangkatan perdana dilangsungkan pukul 05.00 WIB atau habis subuh,” katanya.

Ditambahkan, jemaah haji kloter 17 dan 65 diisi sebanyak 355 orang yang seluruhnya dari Grobogan. Kemudian, ada 136 orang masuk kloter 64 dan 221 orang ikut kloter 66. Untuk kloter 64 bergabung dengan jamaah Kabupaten Semarang dan kloter 66 gabung Kota Semarang.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Ruas Jl Ki Mangun Sarkoro Tersendat, Ini Yang Dilakukan Dishub Jepara

Ruas Jl. Ki Mangun Sarkoro, Kelurahan Panggang,Jepara selalu saja padat, terutama bila jam masuk dan pulang sekolah. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Ruas Jl. Ki Mangun Sarkoro, Kelurahan Panggang,Jepara selalu saja padat, terutama bila jam masuk dan pulang sekolah. Selain aktivitas antar jemput, di ruas tersebut pun terdapat perkantoran pemerintah dan beberapa tempat makan yang menjadikan sisi kanan kiri jalan dijadikan tempat parkir darurat. 

Hal itu tentu menimbulkan ketidaknyaman bagi pemakai jalan. Seperti yang dialami oleh Toto, ia mengaku kepadatan arus di ruas tersebut memang kerap terjadi. 

“Ya kalau jam segini (12.30 WIB) selalu padat, sehingga agak tersendat bila melalui arus ini,” tutur dia, Selasa (25/7/2017). 

Perlu diketahui, selain SDN Panggang 01, di sana juga terdapat kompleks perkantoran seperti Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, BPBD Jepara dan instansi lain yang bertugas melayani warga. 

Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Jepara Soleh Sudarsono mengungkapkan, pada ruas tersebut memang kerap terjadi kepadatan ketika jam sekolah. Upaya pengendalian pun telah dilakukan, dengan memasang rambu peringatan. 

“Untuk rambu anak sekolah dan marka sudah kami pasang di sana. Di ruas tersebut, kami juga memberlakukan satu arah, untuk kendaraan dari perempatan rumah makan rengkot buyut, tak boleh ke barat,” ujarnya. 

Menanggapi masih banyaknya kendaraan yang nekat melewati jalur tersebut (dari timur ke barat) ia mengaku sudah berkoordinasi dengan polisi. Soleh menyebut sudah ada rapat koordinasi dengan pihak berwenang. 

“Kalau ada pelanggaran rambu, kami minta petugas kepolisian melakukan penindakan. Hal itu agar di masyarakat tercipta budaya tertib,” tambahnya. 

Menurut dia, bukan hanya ruas Jl Ki Mangun Sarkoro yang mendapatkan sorotan. Pada simpang Jl Sutomo dengan Jl Veteran dan Jl A.R. Hakim tepatnya di SD Kanisius Jepara, juga terjadi hal serupa. Guna mengatasi hal tersebut, pihak Dishub Jepara berncana memasang lampu lalulintas. 

“Pada perempatan Kanisius juga dalam taraf pemasangan lampu lalu lintas. Di sana juga saat jam sibuk agak tersendat, namun selepas itu kembali normal. Hal itu menjawab permintaan masyarakat, walaupun sebenarnya pada kondisi tertentu ya lengang-lengang saja disitu,” jelas Soleh.

Disinggung mengenai kemungkinan pemberlakuan jalan searah mengingat kepadatan lalu lintas, Soleh menjelaskan melihat kebutuhan yang ada. Di samping itu, pihaknya akan melihat masukan dari masyarakat. 

Editor : Kholistiono

Biar Ibadah Lancar, Bupati Grobogan Minta Jemaah Haji Patuhi Jadwal

Bupati Grobogan Sri Sumarni saat melepas keberangkatan jemaah haji di pendapa kabupaten setempat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Ratusan calon haji melangsungkan acara pamitan dengan Bupati Grobogan Sri Sumarni beserta jajaran FKPD di pendapa kabupaten, Selasa (25/7/2017). Acara pamitan juga dihadiri Kepala Kemenag Grobogan Hambali serta para petugas yang akan mendampingi para jemaah.

Dalam kesempatan itu, Sri Sumarni meminta para jemaah supaya mematuhi aturan dan jadwal pelaksanaan ibadah yang sudah ditetapkan. Sebab, adanya jadwal tersebut bertujuan supaya pelaksanaan ibadah berjalan lancar.

“Seperti diketahui, orang yang melaksanakan ibadah haji ini jumlahnya jutaan. Maka harus diatur supaya ibadah bisa aman dan lancar. Hal ini hendaknya benar-benar diperhatikan,” jelasnya.

Sri juga meminta para jemaah haji agar menjaga kondisi kesehatan. Sebab, waktu keberangkatan menuju tanah suci sudah cukup dekat. Yakni mulai awal Agustus nanti.

Kepada para petugas haji, Sri juga meminta agar mereka bisa mengemban tugas dengan amanah. Yakni, dengan memberikan pelayanan maksimal pada jemaah selama berada di tanah suci.

“Tugas pendamping ini sangat berat. Untuk itu, saya minta agar para petugas ini bisa bersikap sabar dan amanah selama menjalankan tugas,” pesannya.

Editor : Akrom Hazami

 

Siswa SMK Telkom AKN Marzuqi Diajari Ilmu Nahwu Shorof

Kiai Toha menajarkan ilmu nahwu shorof di kelas SMK Telkom AKN Marzuqi dengan mengenakan sarung, batik dan peci. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ada yang menarik dari kebiasaan akademik di SMK Telkom Terpadu AKN Marzuki yang terletak di kawasan pesisir laut utara Jawa, Selempung, Dukuhseti, Pati.

Selain diajarkan ilmu pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan jurusan masing-masing, semua siswa mendapatkan ilmu agama Islam. Salah satunya, ilmu tata bahasa Arab yang dikenal dengan nahwu shorof.

Uniknya, pelajaran nahwu shorof diampu seorang kiai dari Ngemplak, Margoyoso yang tetap mengenakan sarung di kelas. Dia adalah KH Ahmad Thoha Islamil, ketua yayasan yang ikut membidani lahirnya SMK Telkom AKN Marzuqi.

“Ilmu agama yang diajarkan di sini disebut takhasus.Siswa diajarkan bahasa Arab, tauhid, fikih, hafalan Juz Amma, Yasin, Tahlil sampai hafalan Alquran Juz 30 seperti madrasah pada umumnya,” ujar Kiai Thoha.

Dengan adanya pelajaran takhasus, murid akan mendapatkan dua rapor, yaitu rapor umum dan takhasus. Rapor umum berupa penilaian murid seperti sekolah menengah kejuruan (SMK) pada umumnya, sedangkan rapor takhasus berupa penilaian ilmu-ilmu agama yang diajarkan.

SMK Telkom AKN Marzuqi sendiri memiliki tiga jurusan, yakni Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), dan Teknik Kendaraan Ringan (TKR). Mereka disiapkan untuk bekerja di sejumlah perusahaan besar pascalulus.

Sofia Nafika, misalnya. Santriwati yang juga siswa SMK Telkom AKN Marzuqi itu jauh-jauh belajar dari Ujungwatu, Jepara. Selain ingin belajar agama, Sofia ingin ditempatkan di perusahaan ternama setelah lulus.

“Banyak tetangga yang setelah lulus dari sini langsung ditempatkan ke perusahaan besar. Saya ingin ikut jejak mereka. Alih-alih bisa nyantri untuk belajar agama di sini, saya berharap bisa langsung kerja setelah lulus,” tandas Sofia.

Editor : Kholistiono

Ketua RT harus “Kepo” dengan Warga Baru

Warga Kelurahan Kalisegoro, Gunungpati, Semarang mengikuti sosialisasi tentang Kamtibnas yang dilaksanakan Kodim 0733 Semarang. (Kodim 0733 Semarang)

SEMARANG – Penyuluhan/Sosialisasi tentang Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas), Selasa (25/7) dilaksanakan Kodim 0733 Kota Semarang di Kelurahan Kalisegoro Kecamatan Gunungpati. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ini diikuti 50 warga setempat.

Dalam pemaparannya, Kapolsek Gunungpati Kompol Bagiyo Prayi menyebutkan setiap warga harus saling memiliki sikap peduli terutama terkait kamtibmas. Hal ini sebagai langkah antisipasi merebaknya faham radikal dikalangan masyarakat.

Peran Ketua RT dinilai memiliki peranan penting karena menjadi ujung tombak dalam mengantisipasi merebaknya penyebaran faham radikal dan terorisme. 

“Warga harus saling cari tau atau Kepo ketika ada warga baru tinggal dipemukiman. Ini sangat penting buat diantisipasi,”ujarnya.

Tidak hanya itu, Kapolsek juga meminta warga untuk tetap melaksanakan sistem keamanan lingkungan atau siskampling pada malam hari. 

Selain menjaga keamanan lingkungan, dengan berkumpulnya warga juga dapat menambah keguyuban dari masing-masing warga.

“Kan kalau pagi sampai sore kerja, nah pas malam bisa kumpul sebentar dengan tetangga melalui siskampling. Pokok intinya yakni sesama warga saling memiliki rasa tanggung jawab,”imbuhnya.

Sementara itu, Kaur Komsos Kapten Infantri Bahrudin menambahkan jika mendapati adanya tindakan yang mengancam kamtibmas, masyarakat diminta segera melapor ke pihak berwajib, baik ke polsek maupun ke Bintara pembina desa atau babinsa.

“Ingat, jangan melakukan aksi main hakim sendiri, laporkan saja ke Kami. jika menangkap maling atau sesuatu yang mencurigakan lainnya. kita negara hukum jadi biar hukum yang berproses,”ujar Bahrudin. (NAP)

 

Catat! Ini Janji yang Akan Dilakukan Anggota Dewan Jepara Setelah Gaji Mereka Naik

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Naiknya gaji anggota DPRD Jepara akan membuahkan konsekuensi tugas yang berat. Hal itu diungkapkan Ketua DPRD Jepara Junarso.Menurutnya, pihaknya akan lebih fokus menerapkan fungsi kontrol terhadap pemerintah daerah, khususnya di bidang pelayanan. 

“Kita bersyukur akan kenaikan gaji yang akan kita terima. Semoga hal itu dapat meningkatkan kinerja kita. Kita ingin tingkatkan koordinasi dengan pemkab, riilnya pada fungsi kontrol, bukan berarti menomorduakan fungsi lainnya. Namun kita ingin fungsi kontrol yang dilakukan oleh DPRD betul-betul bisa dilaksanakan sebagai sinergitas eksekutif dan legislatif,” ucapnya, Senin (24/7/2017).

Lebih lanjut ia mengataka, fungsi kontrol itu terkait dengan pelayanan pemerintah kepada publik. Menurutnya, ia ingin Pemkab Jepara menerapkan slogan “Jepara Melayani”. 

“Kita ingin mengawal betul supaya pemkab melayani publik, dan bagaimana eksekutif meningkatkan kinerja,” imbuhnya. 

Disinggung mengenai pelayanan masyarakat yang masih kurang maksimal, seperti RSUD Kartini dan Disdukcapil, Junarso tak menampiknya. “Berkaitan dengan kependudukan (Disdukcapil) itu bukan semata kesalahan dari kita, namun ada keterlambatan blangko,” tutur dia. 

Junarso menggarisbawahi beberapa hal yang wajib dilakukan oleh Pemkab Jepara, untuk meningkatkan kinerja pelayanan mereka terhadap publik. “Kami ingin pemerintah harus hadir memberikan kepastian hukum, pemerintah harus selalu hadir dalam permasalahan sosial di Jepara, layanan sosial bukanlah beban tapi tanggung jawab yang harus dipenuhi. Selain itu pasar rakyat harus menjadi skala prioritas, karena itulah wajah rakyat,” pungkas Ketua DPRD Jepara itu. 

Editor : Kholistiono