Obok-obok Banjarejo, Tim PurbakalaSangiran Temukan Ratusan Fosil

Tim Ahli Purbakala BPSMP Sangiran melakukan penelitian di Banjarejo dan berhasil memukan ratusan fosil hewan purba. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski sudah banyak ditemukan, koleksi benda purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus belum habis. Buktinya, dalam sepekan terakhir, berhasil ditemukan ratusan potongan fosil hewan purba di berbagai lokasi.

Benda purbakala ini bukan ditemukan warga setempat, seperti biasanya. Tetapi, didapatkan Tim ahli purbakala dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran yang melangsungkan penelitian di Desa Banjarejo, sejak seminggu lalu.

“Selama seminggu sudah banyak potongan fosil yang ditemukan tim ahli BPSMP Sangiran. Kira-kira ada 250 potongan fosil hewan purba,” jelas Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Senin (13/2/2017).

Ratusan fosil yang ditemukan itu terdiri dari berbagai ukuran. Mulai sebesar ibu jari sampai sebesar lengan orang dewasa. Saat ini, fosil yang ditemukan masih dikumpulkan dan nantinya akan diidentifikasi.

Untuk lokasi penemuan potongan fosil tersebut berada di banyak tempat. Mulai dari pinggiran Sungai Lusi di sebelah utara Desa Banjarejo hingga di dusun Ngrunut dan Medang.

“Sudah banyak titik yang digali oleh tim ahli. Rencananya, mereka disini hingga 18 Februari mendatang,” kataTaufik.

Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi menyatakan, tim peneliti yang ditugaskan ke Banjarejo berjumlah sekitar 12 orang yang terdiri dari berbagai latar belakang keahlian. Penelitian ini merupakan tindaklanjut dari kegiatan serupa yang dilakukan bulan Maret 2016 lalu.

Kegiatan penelitian nanti hampir sama dengan yang dilakukan tahun lalu. Yakni, melakukan penelitian, pengkajian dan mengungkap nilai-nilai penting dari penemuan benda purbakala terbaru yang ada di Banjarejo. Misalnya, soal struktur tanah, dan titik penemuan benda purbakala. Kemudian tim akan melakukan upaya konservasi, registrasi, dan identifikasi penemuan benda purbakala terbaru

“Kegiatannya hampir sama dengan tahun 2016. Namun, areal penelitian akan diperluas lagi. Hal itu untuk menentukan zona perlindungan situsnya,” kata Sukron.

Editor : Akrom Hazami