Begini Tanggapan Perhutani KPH Purwodadi Soal Banjir Bandang yang Melanda Klambu

 

Administratur Perhutani KPH Purwodadi Damanhuri (paling kiri) saat meninjau kawasan hutan di BKPH Penganten pasca musibah banjir bandang. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Administratur Perhutani KPH Purwodadi Damanhuri (paling kiri) saat meninjau kawasan hutan di BKPH Penganten pasca musibah banjir bandang. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah pihak meminta supaya pihak Perhutani melakukan upaya lebih serius untuk mencegah terjadinya banjir bandang di wilayah Kecamatan Klambu. Permintaan itu disampaikan karena penyebab banjir bandang tersebut berasal dari air yang mengguyur dari kawasan hutan di Pegunungan Kendeng Utara.

Permintaan warga tersebut barangkali cukup beralasan. Sebab, banjir bandang bukan terjadi kali ini saja. Pada pertengahan Desember 2015 lalu, banjir bandang juga melanda wilayah tersebut.  Proses kejadian dan desa yang terkena dampak banjir hampir sama dengan peristiwa pada Minggu (5/2/2017) malam.

Administratur Perhutani KPH Purwodadi Damanhuri ketika dimintai tanggapannya menyatakan, banjir yang terjadi di Klambu disebabkan adanya hujan deras yang berlangsung dari pukul 18.00-22.00 WIB. Berdasarkan pengamatan pada SPL curah  hujan di BKPH Penganten, kapasitasnya tercatat sampai 750 ml.

Banyaknya air hujan tersebut akhirnya menyebabkan banjir bandang yang menimpa perkampungan penduduk, perkantoran dan sekolahan. Terutama, di Desa Penganten, dan Desa Klambu.

“Dari pengamatan yang kita lakukan, air yang menyebabkan banjir tersebut diperkirakan berasal dari petak 24, 25, 26, 27, 28, 29 dan petak 30 di BKPH Penganten. Di kawasan itu, rata-rata didominasi tanaman dengan tegakan Kelas Umur Muda,” jelasnya pada wartawan, Senin (6/2/2017).

Damanhuri menjelaskan, jauh sebelum terjadi banjir, pihaknya telah melakukan banyak pohon di kawasan tersebut. Namun, sebagian besar tanaman yang sudah tumbuh tinggi itu telah dirusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Kemudian, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan beberapa instansi lainnya untuk menangani penggarapan liar di kawasan hutan. Yakni, adanya lahan terlarang milik Perhutani yang ditanami jagung oleh masyarakat.

“Kami akan berkoordinasi lebih intensif dengan jajaran Pemkab Grobogan, Polres Grobogan, Polres Kudus dan Pati untuk pengamanan hutan dan menangani masalah penggarapan liar. Untuk diketahui, petak hutan yang kita perkirakan jadi penyebab bencana itu berada di tiga wilayah kecamatan di tiga kabupaten. Yakni, Kecamatan Undaan (Kudus), Klambu (Grobogan) dan Sukolilo (Pati). Kami bersama berbagai instansi terkait lainnya akan berupaya keras untuk mencegah terulangnya musibah banjir bandang ini,” tegas mantan Administatur KPH Bondowoso itu.

 

Editor : Akrom Hazami