Mendesak Dilakukan Penertiban Parkir Liar di Jalur Pantura Kudus-Rembang

Kholistiono cak.kholis@yahoo.co.id

Kholistiono
cak.kholis@yahoo.co.id

ANGKA Kecelakaan di jalur Pantura Kudus-Rembang termasuk tinggi. Trennya terus mengalami peningkatan hampir setiap tahun, baik itu di Kudus, Pati maupun Rembang. Kepadatan arus lalu lintas, menjadi salah satu pemicu kerawanan kecelakaan di jalur tersebut. Apalagi, banyak kendaraan bersumbu dua yang setiap harinya berlalu lalang di jalur Pantura, yang jumlahnya mencapai ribuan.

Bukan persoalan mereka menggunakan jalan di jalur Pantura, karena mereka memiliki hak untuk menggunakan jalan tersebut. Namun, yang menjadi persoalan adalah bagaimana ketika para sopir memarkirkan kendaraan mereka di sembarang tempat, yakni menggunakan bahu jalan.

Sepanjang jalur Pantura, khususnya mulai dari Kudus hingga Rembang, dan lebih khusus lagi di Rembang, sering kita jumpai kendaraan bersumbu dua diparkirkan secara sembarangan di bahu jalan, sehingga memaksa kendaraan lain untuk mengalah ketika berpapasan.

Keberadaan kendaraan truk atau kendaraan lainnya yang parkir di bahu jalan ini, memicu terjadinya kecelakaan. Tak jarang, kasus kecelakaan yang terjadi di jalur Pantura Kudus-Rembang disebabkan karena korban terkejut ada kendaraan yang parkir di bahu jalan atau berupaya menghindari kendaraan tersebut.

Persoalan parkir liar di jalur Pantura ini, pada dasarnya permasalahan klasik yang seolah sudah menjadi penyakit menahun yang akut, dan sulit untuk diobati atau memang “tidak ada kemauan” untuk mengobati dari pihak terkait.

Kita ambil contoh di wilayah Rembang. Banyaknya kendaraan roda empat yang parkir di bahu jalan, seolah sudah lazim kita temui di jalur Pantura Rembang. Meski hal itu sudah seringkali mendapatkan keluhan dari warga ataupun pengguna jalan.

Ketidaktersediaan kantong parkir di wilayah ini, baik itu yang dikelola pemerintah daerah setempat atau swasta, menjadi salah satu faktor penyebab banyaknya kendaraan yang secara mudah terparkir di bahu jalan.

Wacana pemda untuk membuatkan kantong parkir di jalur pantura Rembang bagian barat dan timur, hingga kini juga masih sebatas wacana yang belum terealiasi.

Tidak mudah memang bagi pemerintah daerah untuk merencanakan hal ini, dengan anggaran yang terbatas. Namun, setidaknya perlu keseriusan untuk mengurai angka kecelakaan lalu lintas yang disebabkan karena banyaknya kendaraan yang parkir di bahu jalan.

Jika kita lihat data secara keseluruhan, untuk 2016, kasus angka kecelakaan yang terjadi di Rembang sebanyak 470. Dari angka tersebut, yang meninggal dunia sebanyak 123 orang, luka berat 2 orang dan luka ringan sebanyak 589 orang.

Sedangkan untuk 2015, jumlah angka kecelakaan sebanyak 431 kasus. Rinciannya, 97 orang meninggal dunia, 12 orang luka ringan dan 554 orang mengalami luka ringan.  Di antaranya penyebab kecelakaan itu karena faktor adanya kendaraan yang parkir di bahu jalan.

Untuk itu, perlu segera pemerintah daerah setempat dan pihak terkait untuk mengambil langkah tepat untuk mengurai permasalahan parkir liar di jalur Pantura ini.

Patroli dari pihak Dinas Perhubungan ataupun Satlantas Polres Rembang seyogyanya kembali digalakkan untuk menertibkan kendaraan yang parkir sembarangan di bahu jalan. Memberikan peringatan hingga sanksi tegas kepada sopir yang membandel, patut dilakukan.

Kemudian, sesegera mungkin, pembuatan kantong parkir oleh pemerintah daerah setempat harus direalisasikan. Pemerintah diharapkan serius untuk mengatasi persoalan ini.

Selanjutnya, kesadaran dari sopir untuk tidak memarkirkan kendaraan di bahu jalan, juga harus tumbuh. Karena, yang kalian lakukan memarkirkan kendaraan secara sembarangan di bahu jalan berisiko terhadap terjadinya kecelakaan lalu lintas.

Harapannya, ke depan persoalan parkir liar di jalur Pantura ini bukan lagi menjadi persoalan yang menjadi perbincangan yang setiap tahun terus ada. (*)