Ternyata Volume Sampah Cukup Besar

Warga melakukan aktivitas pemilahan sampah di TPA Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga melakukan aktivitas pemilahan sampah di TPA Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Penghargaan bidang kebersihan berupa Piala Adipura gagal diraih Pemkab Grobogan dalam penilaian tahun 2014, 2015, dan 2016. Dalam penilaian yang dilakukan tiga tahun tersebut, Kota Purwodadi yang jadi ibukota Kabupaten Grobogan hanya menempati urutan papan tengah dari 35 kabupaten atau kota di Jawa Tengah.

Sebelumnya, piala Adipura sudah pernah diraih empat kali. Masing-masing, pada tahun 2009, 2010, 2012 dan 2013. Keberhasilan meraih prestasi itu bahkan sudah diabadikan dalam bentuk tugu Adipura di jalan A Yani Purwodadi, tepatnya di perempatan Nglejok, Kelurahan Kuripan.

Namun, setelah ada beberapa perubahan dalam metode penilaian tahun 2014, piala Adipura belum berhasil didapatkan lagi. Salah satu penyebab utama kegagalan meraih piala Adipura ini adalah soal sampah. Padahal, masalah sampah ternyata punya poin terbesar dalam penilaian Adipura itu. Penilaian masalah sampah ini juga cukup beragam itemnya. Mulai kebersihan kawasan kota, pemukiman, ketersediaan tempat sampah, pengangkutan hingga kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi.

Untuk mengatasi persoalan sampah tampaknya bukan persoalan sederhana. Selain kerja sama dengan berbagai komponen masyarakat, penanganan sampah juga butuh dukungan dana yang tidak sedikit. Sebagai gambaran, volume sampah yang ada di wilayah Grobogan berkisar 160 meter kubik per hari. Dari jumlah ini, sekitar 100 meter kubik merupakan volume sampah di Kota Purwodadi.

Sampah dari kawasan kota ini setiap harinya diambil petugas dan dikumpulkan di tempat penampungan sampah sementara (TPS) terdekat yang sudah disiapkan di beberapa titik. Biasanya, pengambilan sampah dari tempat pemukiman dilakukan pagi hari.

Kasi Penanganan Sampah pada Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Grobogan Noer Rochman menyatakan, ada beberapa TPS yang ada di kawasan kota. Antara lain, di sejumlah pasar, seperti Pasar Induk, Pasar Nglejok, Pasar Danyang, dan Pasar Agro. Kemudian, ada juga di bekas terminal bus dan jalan Soponyono III. “Jumlah TPS ini sudah lumayan banyak. Dari sini, sampah yang diangkut petugas dari berbagai tempat dimasukkan dalam kontainer dan selanjutnya dipindahkan ke TPA,” katanya.

Mengingat banyaknya volume sampah di kawasan kota, pengambilannya dari TPS menuju TPA biasanya dilakukan dua kali, pagi dan sore. Hal itu guna menekan sisa sampah yang bisa mengganggu lingkungan sekitar. Sebab, lokasi TPS ada yang berdekatan dengan pemukiman penduduk. Untuk mengatasi sampah di kawasan kota, ada cukup banyak petugas kebersihan yang terlibat. Yakni, 57 penyapu jalan, 57 pengambil sampah dengan armada becak dan kendaraan roda tiga. Kemudian, ada pula dukungan tenaga khusus yang menggunakan beberapa armada truk.

Meski sudah banyak tenaga yang terlibat namun, volume sampah tidak bisa terangkut semuanya ke TPA. Penyebabnya, terkadang masih ada petugas maupun masyarakat yang membawa sampah ke TPS setelah jadwal pengambilan dilakukan. Khususnya, setelah pengambilan dari TPS pada sore hari. Namun, volume sampahnya tidak besar. Tidak mencapai satu kontainer. Selain di wilayah kota, sejauh ini sudah ada dua TPS lagi yang dimiliki. Yakni, di Desa Mojorebo, Kecamatan Wirosari dan di Kecamatan Godong.

Keberadaan TPS ini untuk menampung sampah di sekitar wilayah tersebut. “Sampah di TPS di luar Purwodadi juga rutin diambil tiap hari. Satu lokasi TPS lagi sedang kita siapkan di Kecamatan Gubug. Keberadaan TPS di situ akan bisa menampung sampah-sampah di wilayah barat,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami