Parah! Belum Digunakan, Atap Tenda Tempat Jualan PKL Alun-alun Purwodadi Robek

Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) Grobogan Adi Sucipto menunjukkan atap tenda yang robek. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) Grobogan Adi Sucipto menunjukkan atap tenda yang robek. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Untuk kesekian kalinya, proyek revitalisasi Alun-alun Purwodadi senilai Rp 10,3 miliar mendapat sorotan warga. Kali ini, sorotan ditujukan pada kualitas pengerjaannya.

Sorotan itu dilontarkan terkait sudah robeknya atap tenda yang rencananya akan dipakai untuk berjualan PKL alun-alun.

“Saya tadi sempat ngecek lokasi untuk jualan rekan-rekan. Ternyata ada beberapa atap tenda yang sudah robek,” kata Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) Grobogan Adi Sucipto saat ditemui di lokasi, Rabu (3/1/2017).

Pria yang lebih dikenal dengan nama Yanto Bakso itu menyatakan, adanya atap tenda yang robek itu diketahui secara kebetulan. Ceritanya, siang tadi, dia bersama beberapa pengurus paguyuban PKL alun-alun sedang membahas persiapan relokasi ke tempat jualan yang baru jadi tersebut.

Rapat kecil nonformal itu dilangsungkan lesehan di trotoar depan kantor Perhutani KPH Purwodadi atau seberang timur tenda tempat tenda PKL.

“Saat ngobrol-ngobrol tiba-tiba pagar seng pengaman ada yang roboh saat ada angin kencang tadi. Selanjutnya, saya dan teman-teman masuk kesana untuk melihat lokasi PKL dari dekat, lewat pagar seng yang roboh tadi. Sebelumnya kami sempat mau masuk tetapi tidak bisa karena ada pagar dan pintu masuk di sebelah utara terkunci rapat,” katanya.

Saat melihat lokasi itulah, Yanto dan beberapa PKL sempat dibikin kaget. Soalnya, mereka mendapati atas tenda jualan PKL yang terbuat dari sejenis bahan digital printing, ada yang sudah robek. Bahkan, di salah satu atas tenda, robeknya cukup lebar.

“Saya tidak tahu, robeknya atap ini ada hubungannya dengan angin kencang tadi atau memang sudah rusak sebelumnya. Soalnya, saya juga baru kali ini lihat dari dekat lokasi jualan PKL ini,” katanya.

Yanto berharap supaya robeknya atap tenda segera ditangani. Sebab, robeknya atap akan mengganggu pedagang yang akan jualan di bawahnya. Soalnya, jika hujan air langsung masuk ke lokasi jualan.

Sementara itu, dalam kesempatan sebelumnya, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman yang sebelumnya bernama Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Kebersihan M Chanief ketika dimintai komentarnya menyatakan, meski proyek sudah rampung namun pihak rekanan masih punya tanggung jawab pemeliharaan pekerjaan.

Masa pemeliharaannya selama enam bulan ke depan. Dalam masa pemeliharaan ini, kalau terjadi kerusakan masih jadi tanggung jawab pihak rekanan.

Menurut Chanif, proyek revitalisasi alun-alun terhitung akhir Desember 2016 sudah rampung 100 persen. Meski begitu, pihak rekanan tetap terkena denda akibat keterlambatan menyelesaikan pekerjaan sesuai batas waktu yang ditentukan.

“Sesuai kontrak proyek harus selesai 22 Desember. Tetapi karena pada batas waktu yang ditentukan belum selesai maka pihak rekanan terkena denda. Nilai denda sekitar Rp 10 juta per hari,” katanya.

Soal masih dipasangnya pagar pengaman, terang Chanif, hal itu dilakukan karena beton untuk beberapa kantong parkir belum kering. Oleh sebab itu, pagar sekeliling tetap dipasang sampai umur beton memenuhi persyaratan.

“Jadi pagar pengaman masih akan terpasang sekitar 20 hari, sampai beton kantong parkir kering. Sebelum akhir bulan Januari, pagar pengaman kita targetkan sudah dibuka,” katanya.

Editor : Akrom Hazami