Festival Kuliner Tempo Dulu Bakal Diadopsi untuk Hari Jadi Pati

Salah seorang pengunjung tengah membeli getuk ireng di salah satu pojok stand kuliner Pati tempo dulu, Kamis (29/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Salah seorang pengunjung tengah membeli getuk ireng di salah satu pojok stand kuliner Pati tempo dulu, Kamis (29/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Festival Kuliner Pati Tempo Doeloe yang digelar di Omah Kuno 1868, Jalan Diponegoro Nomor 115, Pati, mulai dibuka, Kamis (29/12/2016), pukul 16.00 WIB. Sebelum dibuka, ratusan pengunjung dari berbagai daerah sudah memadati stand kuliner, jajanan dan minuman klasik khas Pati.

Ketua Panitia, Alman Eko Darmo mengatakan, sedikitnya ada 42 jenis kuliner yang disajikan dalam festival. Salah satunya, sego jagung, sego tewel, sego menir, carang madu, cetot, gerontol, gayam, kelepon, rangin, getuk Runting, lopis, urap brayo, getuk ireng, tiwul, uwi, gembili, siwalan, wedang coro, cemuai, gempol, pleret, legen, hingga jamu tradisional.

Pengunjung yang ingin berburu kue moho gratis sudah disediakan panitia, tinggal petik di berbagai tempat. Pengunjung yang ingin menikmati sensasi minum air putih dalam kendi, tempat air minum terbuat dari tanah, juga sudah disediakan di berbagai sudut ruangan.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Pati Enny Sulistyowati saat membuka acara, mengaku terkejut ada event yang menghadirkan suasana Pati tempo dulu di tengah hingar-bingar kehidupan yang serba modern. Dia memberikan saran agar ragam kuliner yang disuguhkan diklasifikasikan sesuai dengan tempat asal makanan tersebut.

“Kami dari pemerintah sangat mengapresiasi kepada panitia yang terdiri dari sejumlah jurnalis, pengusaha dan anak-anak muda lintas profesi yang berani membuat gebrakan baru, menyuguhkan puluhan jenis kuliner khas Pati tempo dulu. Ini event pertama kali yang digelar di Pati. Kalau memungkinkan, kami akan menggelar festival serupa pada Hari Jadi Kabupaten Pati,” kata Enny.

Sukarmini (40), salah satu pengunjung asal Desa Kudukeras, Juwana yang datang bersama suami langsung membeli gayam dan wedang cemue khas Pati. Dia memilih gayam, karena makanan yang banyak dikonsumsi pada masa-masa tempo dulu tersebut sudah mulai langka dan sulit dicari.

Editor : Kholistiono