Puluhan Kuliner dan Jajanan Kuno di Pati Bakal Dipamerkan Akhir Tahun

Sejumlah jurnalis melakukan rapat persiapan Festival Kuliner Pati Tempo Doeloe di Omah Kuno 1868, Jalan Diponegoro Nomor 115, Pati, Senin (26/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah jurnalis melakukan rapat persiapan Festival Kuliner Pati Tempo Doeloe di Omah Kuno 1868, Jalan Diponegoro Nomor 115, Pati, Senin (26/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Puluhan kuliner dan jajanan kuno di Pati bakal dipamerkan dalam “Festival Kuliner Pati Tempo Doeloe” di Omah Kuno 1868, Jalan Diponegoro Nomor 115, Pati, 29-31 Desember 2016. Ada beragam masakan dan jajanan klasik yang bisa dinikmati di sana.

Kuliner dan jajanan kuno yang akan dipamerkan, antara lain sego jagung, semur kutuk, sego tewel, sego menir, pedoyo, kue moho, gulali, gemblong, carang madu, tape ketan ireng, gulo kacang, gulo klopo, gandos, cetot, gerontol, kelepon, rangin, sagon, getuk khas Runting, lopis, urap brayo, hingga getuk ireng.

Ada pula gayam, lerut, ganyong, gembili, uwi, kacang godog, jagung bakar, tiwul, cengkaruk, getuk goreng, siwalan, dawet siwalan, dumbek, kolak, bubul cenil, urap intil, pepes tutus, dan jungkruk telo. Beragam minuman tradisional yang akan disajikan, di antaranya wedang coro, cemuai, gempol, pleret, jamu, legen, dan jahe.

Ketua Panitia Festival Kuliner Tempo Doeloe, Alman Eko Darmo mengatakan, kegiatan yang digagas komunitas anak muda yang berprofesi sebagai jurnalis tersebut merupakan refleksi budaya peradaban masa lalu. Kuliner dan jajanan tradisional dianggap pernah menyumbang satu kelangsungan generasi masa lalu.

Karena itu, festival kuliner tempo doeloe diharapkan bisa mengingatkan kembali akan ragam jenis kuliner dan jajanan leluhur yang menyehatkan. “Kuliner tempo dulu tidak ada rekayasa makanan, ini yang mulai hilang dari ingatan anak-anak  generasi sekarang. Tahunya mereka, hidup dalam zaman serba instan, kuliner sekarang juga banyak yang instan. Padahal, itu mengandung risiko, seperti penyakit,” ujar Alman, Senin (26/12/2016).

Dari aspek budaya, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk menggali kembali kekayaan makanan tradisional khas Pati yang mulai hilang dari tungku dapur ibu-ibu di Kabupaten Pati. Geliat makanan tradisional diharapkan kembali populer dan digemari masyarakat Pati.

Selain puluhan kuliner, jajanan dan minuman tradisional, sejumlah pertunjukkan juga digelar. Salah satunya, tari gambyong, lomba fashion, tarian Sanggar Tondonegoro, fashion show dari paguyuban duta wisata Pati, hingga Tari Roro Mendut khas Kabupaten Pati.

Editor : Kholistiono