Soal Pengembangan Sektor Pariwisata, Begini Rencana Pemkab Grobogan ke Depan

Warga menikmati Sendang Coyo di Kabupaten Grobogan, akhir pekan lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga menikmati Sendang Coyo di Kabupaten Grobogan, akhir pekan lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Selain perbaikan sarana dan prasarana umum, sektor pariwisata juga sudah mulai mendapat perhatian dari Pemkab Grobogan. Hal itu dilakukan karena dari sektor ini bisa mendatangkan pendapatan yang tidak sedikit jika dikelola dengan baik.

Di samping itu, berkembangnya sektor pariwisata akan membawa dampak langsung bagi perekonomian sekitar. Yang mana, akan muncul usaha besar maupun kecil dengan adanya objek wisata yang bisa mengundang daya tarik banyak orang.

“Di beberapa daerah, kontribusi dari sektor pariwisata ini cukup besar. Nah, hal ini akan coba kita tiru agar sektor pariwisata di Grobogan semakin maju dan mambawa dampak positif bagi banyak pihak,” kata Bupati Grobogan Sri Sumarni.

Upaya terbaru yang dilakukan untuk mengembangkan sektor pariwisata adalah menetapkan beberapa desa sebagai desa wisata. Seperti Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus dan Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo. Kedua desa ini memiliki potensi yang layak dikembangkan jadi destinasi wisata.

Sebelum penetapan desa wisata, terlebih dahulu sudah diawali dengan membuat sebuah peraturan. Yakni, menyiapkan sebuah peraturan bupati (Perbup) sebagai acuan khusus untuk memaksimalkan potensi pariwisata yang dimiliki.

“Sebelum mengembangkan pariwisata lebih lanjut, pedomannya harus kita siapkan dulu. Dengan adanya pedoman berupa Perbup maka upaya pengembangan destinasi pariwisata akan bisa lebih mudah dilakukan,” terang mantan Ketua DPRD Grobogan itu.

Dia menyadari, untuk mengembangkan sektor pariwisata ini bukan pekerjaan mudah. Di samping juga butuh dukungan anggaran yang tidak sedikit.

Khususnya, untuk perbaikan sarana jalan menuju lokasi wisata tersebut. Oleh sebab itu, skala prioritas utama dalam tahun 2017 adalah perbaikan akses jalan. Khususnya, jalan desa yang terhubung dengan jalan kabupaten. Untuk tahun depan, anggaran perbaikan jalan sudah dialokasikan lebih dari Rp 200 miliar melalui APBD 2017.

“Akses jalan harus kita benahi dulu. Setelah itu, baru menangani objek wisatanya,” cetus Sri.

Kendala berikutnya yang dihadapi adalah status lahan obyek wisata. Sebagian besar objek wisata yang ada di Grobogan statusnya bukan milik desa atau pemkab.

Kebanyakan, obyek wisata alam yang ada tempatnya berada di lahan milik Perhutani. Seperti air terjun gulingan dan widuri serta Sendang Coyo.

Kemudian, ada juga objek wisata yang milik Keraton Surakarta. Yakni, kawasan Makam Ki Ageng Selo dan Ki Ageng Tarub.

“Karena statusnya bukan milik pemkab maka kita tidak bisa begitu saja menangani potensi wisata itu. Oleh sebab itu, dinas terkait sudah saya perintahkan untuk koordinasi lebih lanjut dengan para pemilik lahan objek wisata supaya bisa dikembangkan bersama,” sambungnya.

Sementara itu, Kabid Pariwisata Disporabudpar Grobogan Ngadino menyatakan, tahun depan pihaknya memang sedang menyiapkan upaya kerja sama dengan pemilik lahan yang ada objek wisatanya. Terutama dengan pihak Perhutani, baik KPH Gundih maupun Purwodadi. Sebab, di lahan hutan itu banyak potensi wisata yang mulai dilirik pengunjung. Termasuk objek wisata Sendang Coyo di Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon yang berada di kawasan hutan KPH Gundih.

“Pengelolaan sektor pariwisata akan kita persiapan lebih baik. Tahun depan, kami mau bikin MoU dengan pemilik kawasan,” katanya.

Menurutnya, sejauh ini kontribusi dari sektor pariwisata selama ini masih belum menggembirakan. Tiap tahun pendapatan yang diraup sekitar Rp 50 juta. Dijelaskan, dari objek wisata yang ada hanya ada dua lokasi yang menyumbang pendapatan. Yakni, obyek wisata Bledug Kuwu di Kecamatan Kradenan, serta Gua Macan dan Gua Lawa yang tempatnya jadi satu lokasi di Desa Sedayu, Kecamatan Grobogan.

“Untuk objek wisata Waduk Kedungombo dan Api Abadi Mrapen sekarang pengelolaannya masuk ke Pemprov Jateng. Yang dikelola pemkab hanya dua objek wisata itu,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami